Rabu, 01 Juni 2022

ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS RENDAH MI SD

 

ANALISIS MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS RENDAH  MI/SD








 

PENDAHULUAN

Penyebaran wabah COVID-19 yang begitu cepat dan masif mengemparkan dunia yang menyebabkan puluhan juta orang terinfeksi dan menyebar di ratusan negara di dunia. Penyebaran COVID-19 telah mempengaruhi berbagai bidang diseluruh dunia, khususnya bidang pendidikan di Indonesia (Fauzy & Nurfauziah, 2021). Penyebaran Covid-19 menyebabkan kegiatan pembelajaran di Indonesia mengalami perubahan dalam proses pelaksanaannya. Agar dunia pendidikan bisa berjalan dengan baik pemerintah memberikan aturan system pelaksanaan pembelajaran yaitu psysical distanting ditengah pandemi covid-19 dengan belajar dilaksanakan di rumah.

Pembelajaran yang dilakukan secara daring dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media untuk pelaksanaan pembelajaran. Pemanfaatan teknologi harus menjadi acuan bagi guru untuk mampu menghadirkan proses pembelajaran yang efektif sehingga memberikan ruang gerak bagi siswa untuk mampu bereksplorasi, memudahkan interaksi serta kolaborasi antar siswa maupun siswa dengan guru utamanya dalam pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar. Akan tetapi dengan adanya perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi sistem pembelajaran daring yang dilakukan secara tiba-tiba akibat adanya penyebaran virus covid-19 mengakibatkan tidak jarang membuat guru (pendidik), peserta didik, maupun orangtua menjadi terkejut. Adanya perubahan ini mengharuskan pendidik merespon dengan sikap dan tindakan untuk mau belajar hal-hal baru. Tentunya dengan adanya perubahan proses pelaksanaan sistem Pendidikan, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kesiapan baik guru maupun siswa dalam menjalankan proses pembelajaran diluar kebiasaan yang dilakukan sebelum adanya pandemic. Hal ini menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan mengingat pembelajaran matematika yang yang memiliki objek kajian abstrak.

Pembelajaran daring ialah sebuah pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh berbantuan media internet dan perangkat bantu lainnya seperti telepon seluler, laptop dan computer (Putria et al 2019, p. 208). Artinya, bahwa pelaksanaan pembelajaran daring memakai unsur teknologi sebagai sarana dan internet sebagai system (Fitriyani et al 2020).. Menurut (Falah et al 2021,) mengatakan bahwa pembelajaran daring merupakaan proses pembelajaran yang menggunakan media berbasis elektronik. Media yang dapat digunakan bisa berupa komputer atau smartphone. Sedangkan (Permana Putry et al 2021). Pembelajaran daring adalah proses pembelajaran memanfaatkan jaringan internet sehingga terjadinya interaksi dalam pembelajaran. Pembelajaran daring dapat disimpulkan adalah sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan jaringan internet untuk berkomunikasiataupun berinteraksi dengan siswa meskipun terpisahkan jarak dan tempat. Penggunaan internet sebagai media untuk pembelajaran secara daring tidak memberikan dampak baik bagi semua peserta didik. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kesuksesan siswa dalam melaksanakan pembelajaran secara daring yaitu lingkungan dan karakteristik siswa yaitu semangat serta antusias siswa dalam mengikuti proses belajar. Dalam pelaksanaan pembelajaran daring tidak bisa semaksimal pembelajaran dikelas, terutama pada pelajaran matematika. Akan tetapi menurut Setyorini(Sulistiani, , 2020) menjelaskan keuntungan dari pembelajaran daring adalah waktu tidak terbatas, masih banyak waktu luang dan menghemat biaya transportasi.

Matematika merupakan ilmu yang wajib dipelajari untuk semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pembelajaran matematika pada sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki keterampilan dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. (Puadi, 2017) menjelaskan diantara tujuan pendidikan matematika adalah pengetahuan dan keterampilan. Untuk pengetahuan, diharapkan siswa memiliki pengertian dan pengetahuan matematika baik untuk menghadapi studi lebih lanjut, maupun untuk pemakaian praktis dalam mata pelajaran lain, dan dalam kehidupan sehari- hari, serta siswa memahami hubungan bagian bagian matematika. Untuk keterampilan sendiri siswa diharapkan: 1) memiliki keterampilan menyelesaikan soal-soal matematika, baik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, bidang studi lain, maupun dalam matematika sendiri. 2) siswa terampil menggunakan pengetahuan matematika guna menunjang mata pelajaran lain. 3) Siswa memiliki kemampuan membuat analisis, sintesa, dan membuat kesimpulan. 4) Siswa memiliki keterampilan menggunakan alat-alat ukur, alat- alat hitung, dan tabel-tabel.

Selama masa pandemic covid-19 siswa diwajibkan belajar dirumah masing-masing dan dibimbing orang tua tidak terkecuali pembelajaran matematika, selama proses pembelajaran daring siswa menggunakan aplikasi whatsaap dan zoom. Berdasarkan hasil obesrvasi yang dilakukan peneliti menemukan beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam proses pembelajaran matematika khususnya matematika kelas rendah diantaranya tidak semua siswa memilki handphone dan jaringan akses internet yang kurang memadai. Faktor tersebut menjadi penyebab utama pembelajaran daring tidak terlaksana dengan baik sehingga siswa kesulitan memahami materi, kesulitan mengakses materi dan kesulitan dalam pengumpulan tugas. Pada pengematan yang lain peneliti juga menemukan beberapa permasalahan seperti masih terdapat beberapa siswa kesulitan belajar matematika, yaitu seperti sulit dalam hal berhitung, penggunaan rumus, serta sulit dalam menyelesaikan soal matematika. Hal ini berkaitan dengan ketidakmampuan dalam belajar siswa seperti gangguan belajar (dyscalculia) yaitu gangguan belajar matematika. Siswa yang mengalami gangguan belajar matematika dapat mengalami permasalahan dalam pemahaman konsep matematika, seperti konsep bilangan angka, berhitung dan kurangnya pemahaman sebuah angka, dan mempunyai permasalahan belajar dalam berhitung. Kesulitan belajar adalah gangguan pada anak yang terkait dengan tugas umum ataupun khusus yang menyebabkan anak kesulitan belajar dengan hasil yang menunjukkan prestasi belajar yang rendah (Hasibuan, 2018). Proses pembelajaran yang dilakukan secara daring guru menggunakan fasilitas yang sangat terbatas disebabkan jaringan yang kurang bagus, Guru hanya menggunakan aplikasi whatshaap dalam mengirim tugas kepada peserta didik (Astini 2020).

Guru merupakan komponen penting untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, oleh karena itu guru harus memahami penerapan metode pembelajaran yang tepat dapat membantu proses pembelajaran berlangsung dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode yang dipilih guru haruslah sesuai dengan kesulitan yang dihadapi siswa. Peran guru harus mampu membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa pada saat pembelajaran matematika. Sebagai motivator, guru harus membangun motivasi siswa untuk berusaha belajar keras, apabila dari awal pembelajaran siswa tidak termotivasi mengakibatkan siswa malas dan materi yang disampaikan kurang jelas. Untuk dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar matematika, guru perlu mengupayakan adanya situasi dan kondisi yang menyenangkan. Suasana belajar dapat membangun pemahaman serta ketertarikan dalam belajar matematika sehingga meningkatkan hasil belajar siswa dan ntuk membelajarkan matematika di sekolah guru harus menguasai konsep matematika dengan benar dan mampu menyajikan secara menarik serta bervariasi. Berdasarkan uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan belajar matematika siswa kelas rendah dimasa pandemic coid-19. Analisis dalam tulisan ini fakus pada pembelajaran matematika yang dilaksanakan selama masa pandemi. Dipilihnya pembelajaran matematika karena dalam pembelajaran matematika membutuhkan penjelasan yang detail dari guru mengenai langkah-langkah dalam menyelesaikan tugas atau soal-soal yang diberikan. Tanpa adanya pertemua tatap muka peneliti beranggapan penyelesaian masalah pembelajaran matematika tidak dapat dipahami murid secara maksimal.

 

 

 

PANDEMI MENYEBABKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS RENDAH SEMAKIN SULIT

Selama masa pandemic covid-19, pembelajaran di sekolah dasar kabupaten Buton dilakukan secara daring dan guru menggunakan aplikasi whatsaap dan bentuk dalam suatu group belajar yang didalamnya tergabung semua peserta didik. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, menemukan kendala yang dialami siswa maupun guru dan sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini terjadi karena peralihan kegiatan belajar mengajar yang mendadakdari pembelajaran ofline ke pembelajaran online atau daring. Dalam mengantisipasi permasalahan Sehingga guru seharusnya melakukan persiapan yang maksimal dalam menyusun dan menyajikan materi pembelajaran.

Hasil pengamatan yang diapatkan peneliti, dalam penyampaian materi dan menyajikan materi pelajaran dengan guru membagikan rangkuman materi yang akan dipelajari siswa melalui grup wahtsapp, selanjutnya guru meminta siswa untuk mempelajari materi tersebut secara mandiri dengan bantuan berbagai sumber. Selanjutnya guru membuka sesi diskusi dengan meminta siswa menyampaikan hal-hal yang belum dimengerti siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada guru dan siswa kelas rendah sekolah dasar berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika dimasa pandemi seperti saat ini, siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi pembelajaran matematika dan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran matematika yang dilakukan secara daring. Berikut adalah beberapa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa pada saat pembelajaran matematika di masa pandemi :

 

1.      Kesulitan dalam mengakses materi pelajaran matematika

Berdasarkan hasil angket yang dapat kesulitan yang paling menonjol untuk ditampilkan adalah lemahnya sinyal internet pada saat mereka mengikuti pembelajaran daring. 65% responden mengatakan sinyalnya sedang, 25% responden merasa sinyalnya masih kurang dan 10% responden yang menganggap sinyal internetnya kuat. Sesuai dengan pendapat (Anugrahana, 2020) hambatan dalam pembelajaran daring adalah keterbatasan koneksi internet, beberapa siswa tidak mempunyai HP dan jaringan internet yang tidak baik. Instrument yang dibagikan kepada responden yakni siswa dan guru dapat disimpulkan bahwa jaringan internet menjadi kendala utama pada pelajaran daring karena lokasi tempat tinggal siswa yang jauh dari jangkauan jaringan internet sehingga siswa menagalami kesulitan dalam mengakses materi pelajaran. Tanpa adanya jaringan intrnet yang baik, pembelajaran yang dilakukan tidak akan berjalan maksimal. Selain itu penggunaan kuota jaringan internet yang cepat habis menjadi salah satu penyebab samping kemampuan finansial orang tua siswa yang masih ada dibawah rata-rata tidak mampu selalu menyediakan kuota dan siswa hanya kebanyakan menggunakan kuota bantuan dari pemerintah karena sekolah tidak menyediakan bantuan kuota belajar. Kesulitan lain adalah kondisi handphone yang tidak mendukung dan kemampuan penguasaan teknologi menjadi penyebab kesulitan siswa dalam mengakses materi pelajaran matematika.

2.      Kesulitan dalam memahami materi pelajaran matematika

Pada butir angket ini terlihat kesulitan siswa dalam memahami materi pelajaran matematika dimasa pandemic covid-19. Menurut data dapat diketahui bahwa 86 % siswa merasa sangat kesulitan dan 13% menjawab merasa kesulitan. Sedangkan hanya 1% siswa menjawab tidak merasa kesulitan memahami materi pelajaran. Sesuai dengan pendapat (Rezeki & Muanifah, n.d.) siswa kesulitan dalam memecahkan masalah , penanman konsep, serta keterampilan berhitung. Beberapa kesulitan yang dialami siswa yang ditemukan adalah materi pelajaran matematika menggunakan rumus dan tidak ada pendampingan guru selama proses pembelajaran sehingga siswa kesulitan memahami materi dan mengerjakan soal-soal yang diberikan guru. Acuan mereka disini adalah hanya menghafal rumus, sehingga mereka kesulitan saat menjawab pertnyaan. Terbatasnya ruang interaksi guru dan siswa selama pembelajaran daring menjadi penyebab kesulitan siswa karena siswa kelas rendah disekolah dasar masih sangat membutuhkan pendampingan berbeda dengan siswa kelas tinggi ataupun tingkatan diatasnya yang bisa mandiri untuk belajar. Solusi yang bias dilakukan dalam mengatasi permasalahn ini adalah guru harus berupaya dengan baik untuk menyajikan materi yang menarik, kreatif, dan menyenangkan sehingga siswa bersemangat belajar meskipun mandiri. Selain itu guru harus memaksimalkan fasilitas teknologi yang sudah ada, sehingga pembelajaran daring dapat dilakukan maksimal.

3.      Ketepatan dalam menyelesaikan tugas

Pada butir angket ini terlihat ketepatan siswa dalam menyelesaikan atau mengumpulkan tugas yang diberikan guru. Responden yang memberikan jawaban sangat tepat waktu ada 10% dan tepat waktu ada 13,7% jika ditotalkan menjadi 23,7%. Sedangkan responden menjawab tidak tepat waktu 76%. Artinya bahwa lebih banyak siswa yang tidak tepat waktu dalam mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru. Factor yang menyebabkan adalah masih banyak siswa yang tidak memiliki handphone ataupun masih terdapat siswa yang tidak mengetahui penggunakan teknologi. Sedangkan masalah lain adalah susahnya siswa memehami tugas yang diberikan guru yang

 

 

 

 

 

 

 

 

dikrimkan menggunakan aplikasi. (Utomo et al., 2021) berpendapat tidak semua siswa sarana (HP) yang mendukung dalam kegiatan belajarnya. Solusi yang bisa diberikan guru dalam menyelesaikan adalah memberikan keringan kepada siswa ya ng memiliki keterbasan sarana dan prasarana dengan memberikan tugas secara ofline sehingga siswa tersebut bisa mengerjakan tugas.

4.      Kesiapan guru dalam mengajar

Pada butir angket ini terlihat kesipan guru dalam mengajar matematiika dikelas rendah. Berdasarkan angket yang dibagikan, responden mememinta harapan kepada guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi terkhusus adalah materi pelajaran matematika. Siswa mengharapkan guru dapat menggunakan aplikasi atau media yang lebih beragam. 26%, 60% meminta adanya video pembelajaran dan 14% mengharapkan ditambahkan animasi pembelajaran. Menurut (Prabowo et al, 2020) Faktor yang mempengaruhi kesiapan guru dilapangan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring adalah guru merasa belum percaya diri dalam mengekspresikan berbagai emosi dalam media virtual. Dapat diperhatikan bahwa siswa menganggap guru tidak terlalu siap dan hanya mengandalkan whatsaap.


Hakikat pendidikan di jenjang sekolah dasar berguna untuk mengembangkan bakat setiap peserta didik. Tujuan operasional di jenjang sekolah dasar adalah memberikan bekal dasar kemampuan menulis, membaca, dan menghitung pada peserta didik. Esensi pendidikan yang dialami manusia pada masa ini lebih ditekankan pada fakta dan objek realitas di alam semesta.

Upaya untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan dasar tersebut mesti didukung dengan penguasaan bermacam disiplin ilmu. Dalam pembelajaran di tingkat sekolah dasar saat ini, sebagian mata pelajaran yang dulunya diberikan secara parsial, kini mata pelajaran tersebut diberikan secara terpadu. Menurut Mulyadin, pembelajaran terpadu dipilih karena memiliki ciri khas yang menarik untuk pengembangan pembelajaran peserta didik.3

Pembelajaran tematik merupakan mata pelajaran terpadu dengan cara mengaitkan beberapa mata pelajaran menjadi satu tema tertentu sehingga dapat mendorong pengalaman bermakna kepada siswa.4 Dengan adanya pembelajaran tematik, diharapkan mampu memberikan pengetahuan yang mudah dipahami oleh siswa secara optimal.5

Menurut Sutirjo dan Mamik Sri Istuti, pembelajaran tematik adalah sebuah usaha untuk mengintegrasikan ke-empat aspek, yakni keterampilan, pengetahuan, sikap, dan pemikiran yang kreatif dengan

menggunakan tema.6 Narti, dkk. mengungkapkan bahwa “Thematic is defined as a learning that designed based on a particular theme”.7 Trianto juga menjelaskan pembelajaran tematik yaitu pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema. Maksudnya yaitu dengan mengaitkan beberapa pelajaran menjadi satu tema tertentu.

Sedangkan menurut Majid, pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang memungkinkan siswa baik secara individu maupun kelompok untuk secara aktif menggali dan menemukan konsep dan pengetahuan secara holistik dan bermakna.9 Pembelajaran tematik mendorong siswa untuk aktif mencari, melakukan, dan memperoleh pengalaman dalam kegiatan pembelajaran secara kontekstual.

Pembelajaran tematik di sekolah dasar dibedakan berdasarkan kelas rendah dan kelas tinggi. Sesuai dengan kurikulum 2013 yang diterapkan di SD dan MI, tidak semua mata pelajaran diintegrasikan ke dalam pembelajaran tematik terpadu ini.11 Oleh sebab itu, secara garis besar tingkatan kelas di sekolah dasar terbagi menjadi 2 bagian, yaitu (1) kelas rendah, yang terdiri dari kelas I, II, dan III dan (2) kelas tinggi, yang terdiri dari kelas IV, V, dan VI.

Usia siswa pada kelompok kelas rendah yaitu 6 sampai 9 tahun. Sedangkan rentang usia siswa kelas tinggi kisaran 10 sampai 12 tahun. Pada usia tersebut, siswa tergolong ke dalam rentangan anak usia dini. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6-12 tahun sangatlah

pesat.12 Seluruh potensi anak pada usia tersebut hendaknya didorong dengan baik agar mampu berkembang secara optimal.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di kelas rendah dan sekaligus menjadi fokus pada penelitian kali ini adalah matematika. Mata pelajaran matematika kerap kali dinilai menjadi mata pelajaran yang menyulitkan.14 Menurut sebagian peserta didik, matematika dianggap sebagai momok dikarenakan materinya yang sangat menyeramkan, sehingga banyak dari mereka yang kurang antusias untuk mempelajarinya.

Matematika memiliki akar kata mathema yang berarti pengetahuan, serta mathanein berarti belajar.16 Matematika merupakan ilmu yang mengkaji objek abstrak dan mengutamakan penalaran deduktif.17 Matematika merupakan sebuah instrumen yang digunakan untuk mengembangkan kualitas berfikir siswa dalam kehidupan sehari-hari, jadi mata pelajaran ini sangatlah penting untuk dibekalkan kepada siswa sejak dini.

Penelitian yang dilakukan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) pada tahun 2003, Indonesia menduduki peringkat ke-34 dari 45 negara dalam program matematika (Data

UNESCO). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian tahun 2006 oleh Programme of International Student Assessment (PISA) yang menyatakan bahwa Indonesia Kembali menduduki peringkat 61 dari 65 negara di kategori literatur matematika.

Pembelajaran matematika berguna untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berhitung, mengukur, dan menggunakan rumus matematika ke dalam kehidupan sehari-hari.20 Bidang studi matematika di sekolah dasar saat ini mencakup tiga cabang, yaitu aritmatika, geometri, dan aljabar. Menurut Suyanto, konsep matematika untuk anak usia dini secara umum meliputi: (1) menghitung; (2) memilih, mengurutkan, membandingkan; (3) mengukur; (4) problem solving, seperti perkalian dan pembagian.

Pembelajaran matematika berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Matematika saat ini cukup mendapat perhatian khusus dikarenakan masih banyaknya siswa yang belum dapat memahami konsep dasar matematika dengan baik sehingga mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran ini. Dalam pembelajaran di kelas, siswa lebih banyak mendengarkan guru yang masih menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional yang didominasi oleh ceramah23 sehingga membuat siswa mempelajari matematika dengan metode yang kurang berarti.

Agar dapat membantu siswa dalam memahami konsep dasar operasi hitung matematika, seorang pendidik haruslah mengenal

kesalahan dan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika tersebut. Adapun beberapa kesalahan siswa diantaranya adalah pemahaman simbol, nilai tempat, perhitungan, dan proses yang masih keliru serta tulisan yang tidak dapat terbaca.

Salah satu konsep dasar dalam matematika yang harus dikuasai siswa SD/MI adalah perkalian. Namun, hingga saat ini masih banyak siswa yang merasa kesulitan saat mempelajari materi ini. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai konsep dasar dalam perkalian.

Latar belakang diadakannya penelitian ini dikarenakan kurangnya pemahaman siswa sekolah dasar mengenai materi perkalian. Melalui penelitian ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan pemahaman seputar perkalian agar dapat berguna dan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian serupa yang membahas mengenai perkalian yaitu milik Ejen Jenal Mutaqin yang berjudul “Analisis Learning Trajectory Matematis dalam Konsep Perkalian Bilangan Cacah di Kelas Rendah Sekolah Dasar”. Hasil penelitan menunjukkan bahwa: (1) beberapa siswa masih kesulitan dalam mengerjakan soal perkalian, dan (2) beberapa siswa masih kebingungan dalam memahami konsep perkalian.

            Metode Yang Tepat Untuk Menganalisis Materi Matematika

Penulis menggunakan metode penelitian eksperimen. Metode ini dilakukan dengan percobaan guna mengetahui pengaruh treatment atau perlakuan terhadap hasil yang diperoleh. Metode eksperimen juga merupakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Disebut dengan metode kuantitatif karena data penelitian berkaitan dengan angka dan analisis menggunakan statistik. 27

Dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, peneliti tidak dapat melakukan tindakan kelas di salah satu sekolah dasar. Peneliti hanya mengambil 15 sampel siswa kelas rendah (I, II, dan III) sekolah dasar yang beralamatkan di sekitar rumah peneliti di Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15-20 Juni 2021 dengan cara mendatangi tiap-tiap rumah siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan kuisioner. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan teknik analisis kuantitatif sederhana. Pendekatan ini dipilih guna mendapatkan hasil gambaran yang jelas terkait fakta-fakta dari setiap data. Instrumen penelitian berupa test yang telah dipersiapkan oleh peneliti.

Test atau kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden, dalam hal ini respondennya yaitu siswa kelas rendah sekolah dasar. Test berupa soal konsep dasar perkalian untuk jenjang sekolah dasar. Test yang diberikan terdiri dari 10 butir soal yang berupa pemahaman, penalaran, dan penerapan konsep dasar perkalian untuk tingkat kelas rendah sekolah dasar. Sumber data didapatkan dari hasil tes yang telah dikerjakan oleh siswa.

Setelah data terkumpul, maka data tersebut dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Analisis data bersifat induktif dan didasarkan pada fakta-fakta yang ditemukan di lapangan untuk selanjutnya dikontruksikan menjadi hipotesis atau teori. Analisis data dilakukan dengan menghitung skor atau nilai yang diperoleh siswa kemudian dijabarkan sesuai dengan klasifikasi nilai siswa dan persentase perolehan nilai masing-masing siswa.

materi yang esensial dan wajib dikuasai oleh siswa, terutama di jenjang sekolah dasar. Pada umumnya, siswa hanya menghafal informasi yang diperolehnya sehingga konsep dasar perkalian tersebut kurang begitu kuat tertanam.28

Menurut Sutawidjaja, perkalian merupakan penjumlahan berganda dengan melibatkan suku-suku yang sama.29 Lambang dari operasi hitung perkalian adalah “×”. Prinsip perkalian hampir sama dengan penjumlahan, karena perkalian merupakan penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Oleh karenanya, sebelum siswa diajarkan materi perkalian, siswa harus terlebih dulu menguasai materi penjumlahan.

Sesuai uraian diatas, perkalian merupakan penjumlahan berulang dengan suku-suku yang sama. Sebagai contoh yaitu 2+2+2+2+2. Disini, terdapat lima suku yang sama yaitu 2. Penjumlahan diatas dapat disajikan pula dalam bentuk perkalian yaitu dengan menuliskan “5 x 2” atau dibaca dengan 5 dikali 2. Konsep yang dapat kita terima yaitu, misal bilangannya diinisialkan dengan “a” dan “b”, maka “a x b” adalah penjumlahan berulang yang mempunyai “a” suku, dan tiap-tiap suku sama dengan “b”, dapat ditulis dengan rumus:

Kesulitan yang dialami siswa dalam konsep perkalian ini dikarenakan metode guru dalam mengajar yang masih menggunakan teknik menghafal, dan tanpa melibatkan alat penunjang untuk mempelajarinya. Sehingga keterlibatan siswa dalam memecahkan masalah secara langsung menjadi kurang dan nantinya berakibat pada kemampuan matematis siswa yang tidak berkembang dengan baik.

Oleh karena itu, penelitian ini dianggap penting oleh penulis dengan harapan dapat menambah wawasan siswa dalam mempelajari konsep dasar perkalian. Subjek penelitian ini adalah 15 siswa kelas rendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang saat ini tengah menduduki kelas rendah (I, II, dan III) jenjang sekolah dasar. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, peneliti mempersiapkan instrumen penelitian berupa soal tes mengenai konsep dasar perkalian. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu dengan memanfaatkan fitur google form dalam pembuatan angket soal untuk selanjutnya dibagikan kepada siswa. Google form dibagikan setelah siswa selesai memperhatikan materi yang dijelaskan oleh penulis. Setiap siswa wajib untuk mengerjakan soal tes tersebut guna mengetahui sejauh mana pemahamannya mengenai materi konsep dasar perkalian.

Berdasarkan tes tersebut, peneliti kemudian menganalisis

hasilnya menggunakan analisis kuantitatif sederhana.31 Data disajikan dalam bentuk nilai tes siswa dan dikategorikan berdasarkan tabel klasifikasi nilai siswa.

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa, siswa yang mendapatkan nilai di rentang 90-100 sebanyak 26,7%, siswa yang mendapatkan nilai di rentang 80-89 sebanyak 13,3%, siswa yang mendapatkan nilai di rentang 70-79 sebanyak 6,7%, siswa yang mendapatkan nilai di rentang 60-69 sebanyak 20,0%, dan siswa yang mendapatkan nilai di rentang 0-59 sebayak 33,3%.

Hasil nilai siswa tersebut juga dapat dilihat ke dalam bentuk tabel rata-rata perolehan nilai setiap tingkatan kelas, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Kelas

Jumlah Siswa

Rata-Rata

I

5

54%

II

5

70%

III

5

78%

Total Rata-Rata Nilai 15 Siswa

67,33%

 

 

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa rata- rata nilai siswa kelas I sebesar 54%, rata-rata nilai siswa kelas II sebesar 70%, dan rata-rata siswa kelas III sebesar 78%. Sehingga, diperoleh rata-rata total dari seluruh jumlah siswa sebesar 67,33%. Data tersebut juga dapat dilihat dari diagram batang di bawah ini.


Berdasarkan penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa akan konsep dasar perkalian masih sangat rendah. Beberapa siswa masih kebingungan dalam menyelesaikan soal konsep perkalian. Beberapa siswa lainnya juga masih terbalik dalam menuliskan konsep perkalian dalam bentuk gambar.

Sebelum diadakannya penelitian ini, peneliti menemukan sebuah fakta di lapangan bahwa siswa kelas rendah kurang memahami bagaimana bentuk konsep perkalian yang benar. Namun, setelah diadakannya penelitian ini, siswa menjadi memahami konsep perkalian yang benar dan sesuai dengan aturan matematika.

Penulis merasa penelitian ini penting karena untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa akan konsep dasar perkalian. Mengingat perkalian merupakan hal dasar dalam matematika dan kedepannya pasti akan dibutuhkan dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Selain menganalisis kemampuan siswa akan konsep dasar perkalian, penulis juga membimbing siswa dalam memahami konsep dasar perkalian. Hal ini diharapkan dapat membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi tersebut.


 

Kesimpulan

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran tertentu menjadi satu tema khusus yang sama. Materi perkalian merupakan materi yang esensial dan wajib dikuasai oleh siswa, terutama di jenjang sekolah dasar. Namun, hingga saat ini masih banyak siswa yang belum memahami dengan baik mengenai materi tersebut.

Penelitian ini dilakukan oleh penulis guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa dalam memahami konsep dasar perkalian terutama di kelas rendah jenjang sekolah dasar. Penelitian diatas dapat mengungkapkan beberapa permasalahan yang timbul mengenai konsep dasar perkalian, diantaranya: (1) penanaman konsep dasar operasi hitung perkalian tidak dilakukan sejak dini; (2) keterampilan memahami konsep dasar perkalian siswa masih kurang; (3) prestasi dan dorongan siswa dalam belajar pada operasi perkalian rendah.

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat dijabarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika dikelas rendah sekolah dasar, yaitu : (1) Kesulitan dalam mengakses materi pelajaran, (2) kesulitan dalam memahami materi pelajaran (3) Ketepatan dalam menyelesaikan tugas (4) Kesipan guru dalam mengajar. Pada kesempatan ini penulis menyarankan pada peneliti lain untuk dapat mengeksplor lebih jauh terkait kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa sekolah dasar baik dalam pembelajaran daring atau pembelajaran lainnya pada masa pandemic covid-19.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Anugrahana, A. (2020). Hambatan, Solusi Dan Harapan: Pembelajaran DaringSelama Masa Pandemi Covid-19 Oleh Guru Sekolah Dasar. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(3), 282–289. Https://Doi.Org/10.24246/J.Js.2020.V10.I3.P282-289

Astini, Sari, N. K. (2020). Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Pembelajaran Tingkat Sekolah Dasar Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Lembaga Penjaminan Mutu Stkip Agama Hindu Amlapura, 11(2), 13–25.

Falah, H., Agustiani, N., & Nurcahyono, N. A. (2021). Analisis Kesulitan Belajar Matematika Siswa Smp Berdasarkan Motivasi Pada Pembelajaran Daring. Jurnal Peka (Pendidikan Matematika), 5(1), 8–17. Https://Doi.Org/10.37150/Jp.V5i1.1253

Fauzy, A., & Nurfauziah, P. (2021). Kesulitan Pembelajaran Daring Matematika Pada Masa Pandemi Covid- 19 Di Smp Muslimin Cililin. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 5(1), 551–561. Https://Doi.Org/10.31004/Cendekia.V5i1.514

Fitriyani, Y., Fauzi, I., & Sari, M. Z. (2020). Motivasi Belajar Mahasiswa Pada Pembelajaran Daring Selama Pandemik          Covid-19.        Profesi Pendidikan      Dasar, 7(1),     121–132. Https://Doi.Org/10.23917/Ppd.V7i1.10973

Hasibuan, E. K. (2018). Analisis Kesulitan Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Di Smp Negeri 12 Bandung. Axiom : Jurnal Pendidikan Dan Matematika, 7(1), 18–30. Https://Doi.Org/10.30821/Axiom.V7i1.1766

Permana Putry, K., Panjaitan, E., Pendidikan Matematika Stkip Budidaya Binjai, M., & Stkip Budidaya Binjai, D. (2021). Efektivitas Pembelajaran Matematika Secara Daring Di Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa Sekolah Dasar. In Jurnal Serunai Matematika (Vol. 13, Issue 1).

Prabowo, A. S., Conia, P. D. D., Afiati, E., & Handoyo, A. W. (2020). Kesiapan Guru Dalam Melaksanakan Pembelajaran Daring. Jurnal Penelitian Bimbingan Dan Konseling, 5(2), 9–12.

Puadi, E. F. W. (2017). Analisis Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Mahasiswa Ptik Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. 5.

Putria, H., Maula, L. H., & Uswatun, D. A. (2020). Analisis Proses Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) Masa Pandemi Covid- 19 Pada Guru Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(4), 861–870. Https://Doi.Org/10.31004/Basicedu.V4i4.460

Rezeki, Y. D., & Muanifah, M. T. (N.D.). Covid-19 Siswa Kelas Iv Sd Negeri 2 Bumirejo.

Sulistiani, I. R. (2020). This Work Is Licensed Under Creative Commons Attribution Non Commercial 4.0 International License Available Online On: Http://Riset.Unisma.Ac.Id/Index.Php/Fai/Index. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Islam, 2, 40–49.

Utomo, K. D., Soegeng, A. Y., & ... (2021). Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar Siswa Pada Masa Pandemi Covid-19.                  

Ananda, Rizki, dan Fadhilaturrahmi. “Analisis Kemampuan Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Pembelajaran Tematik di SD.” Jurnal Basicedu: Research & Learning in Elementary Education 2, no. 2, 2018.

Desyandri, Desyandri, Muhammadi Muhammadi, Mansurdin Mansurdin, dan Rijal Fahmi. “Development of Integrated Thematic Teaching Material Used Discovery Learning Model in Grade V Elementary School.” Jurnal Konseling dan Pendidikan IICET Indonesian Institute for Counseling, Education, and Theraphy 7, no. 1, 2019.

Husna, Asmaul. “The Training Use Of Jarimatika Method To Inculcate The Easy Way Of Calculating Skill Of Elementary School Students in RW. 01 Kibing Area.” Minda Baharu E-ISSN 2614-5944 1, 2017

Jarmita, Nida. “Kesulitan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas Awal Sekolah Dasar.” PIONIR: Jurnal Pendidikan 4, no. 2, 2015.

Kawuryan, Sekar Purbarini. “Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Pembelajarannya,”  n.d. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132313274/pengabdian/Karak teristik+Dan+Cara+Belajar+Siswa+SD+Kelas+Rendah.pdf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...