Sabtu, 21 Mei 2022

cara Bekerja Ilmu

 Dalam sejarah perkembangan ilmu, ilmu-ilmu alam berkembang lebih awal dan pesat. Sebelum filsafat muncul,  ilmu fisika, metematika, kimia dan astronomi telah lam menjadi perbincangan. Hal ini wajar jika dilihat dari segi kedektan hubungan manusia dengan dunia yang sifatnya fisikal dan material yang mudah diamati dan memberikan manfaat yang bersifat praktis dan langsung bisa dirasakan. Ilmu alam sangat penting bagi kehidupan manusia terutama untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material dan praktis manusia. Dilihat dari sifat

objeknya,  cara kerja ilmu alam bisa dirangkum dalam prinsip-prinsip seperti berikut ini[1]:

1.        Gejala Alam Bersifat Fisik-Statis

Ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejal alam. Ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yaitu gejala yang bersifat fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberapa variabel dalam jumlah yang relatif kecil yang dapat diukur secara tepat.[2]  Dari gejala yang sifatnya fisikal, terukur dan teramati, gejala-gejala alam memiliki sifat statis dari waktu ke waktu. Karena statis jumlah variabel dari gejala alam  sebagai objek yang diamati juga relatif lebih sederhana dan sedikit.

2.        Objek Penelitian Bisa Berulang

Ilmu alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Karena sifat gejala alam fisikal-statis, objek penelitian dalam ilmu alam tidak mengalami perubahan atau tetap. Dengan begitu, ahli ilmu alam dapat mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan mengamati kejadian tertentu secara langsung. Dan dari pengamatannya pun akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum dan tidak akan mengubah karakteristik obyek yang ditelaah. 

3.        Pengamatan Relatif Mudah dan Simpel

Pengamatan dalam ilmu alam relatif lebih mudah karena dapat dilakukan secara langsung dan dapat diulang. Pengamatn yang dimaksud disini lebih luas dari pengamatan langsung menggunakan panca indera yang lingkup kemampuannya terbatas. Banyak gejala alam yang dapat teramati hanya dengan menggunakan alat bantu, misalnya mikroskop dll. .Jika seseorang menemukan gejala alam yang baru, maka ia perlu memberitahukan tentang lingkungan, peralatan, serta cara pengamatan yang digunakan sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali.[3]

4.        Peneliti Lebih Sebagai Penonton



[1] Bachri Gazali, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. 2005) hlm.142.

[2] Deobold B. Van Dalen,”Ilmu-ilmu alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan, dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.134.

[3] B. Suprapto, “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, dalam dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.129.

Prinsip pengamatan dalam ilmu alam adalaha prinsip objektif, artinya kebenaran disimpulkan berdasarkan objek yang diamati. Pengamat tidak terlibat atau tidak berpengaruh terhadap objek yang diamati. Ilmuawan alam adalah penonton alam, dia hanya mengamati alam dan kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya tanpa sedikit pun melibatkan subjektivitasnya dan tidak terlibat pula secara emosional.

Ahli ilmu alam menyelidiki proses alam dan menyusun hukum yang bersifat umum mengenai suatu proses. Dia juga tidak bermaksud untuk mengubah alam atau harus setuju dan tidak setuju. Ahli ilmu alamhanya berharap bahwa pengetahuan mengenai gejala fisik dari alam akan memungkinkan manusia untuk memanfaatkan proses tersebut.

1.        Daya Prediktif yang Relatif Lebih Mudah Dipahami

Ilmu-ilmu alam tidak hanya sebata mengumpulkan gejala dan merumuskan teori, melainkan gejala  yang diketahui dan rumusan teori tersebut digunakan untuk memprediksikan kejadian yang mungkin akan timbul dari gejala tersebut. ilmu yang hanya saggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya akan berupa ilmu yang pasif. Untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar tidak hanya sanggup menguraikan gejala yang telah diketahui tetapi sanggup meramalkan gejala alam lain yang belum dikenal, sebagai konsekuesi logis dari pola penalaran yang digunakan. Gejala ramalan ini juga harus dalam bentuk operasional sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen.

Susunan Ilmu Pengetahuan

 


A.      Susunan Ilmu Pengetahuan

Sebelum membahas menganai cara kerja ilmu sosial-humaniora, ilmu alam dan ilmu agama, penulis akan sedikit memaparkan mengenai metode keilmuan secara umum. Gaston Bachelard menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu produk pemikiran manusia yang sekaligus menyesuaikan antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Dengan kata lain, ilmu penegtahuan mengandung dua aspek, yaitu subjektif dan objektif.[1]

Dapat dikatan sebagai ilmu pengetahuan apabila mencakup enam unsur, yaitu[2]:

1.        Adanya masalah (problem); Disebut masalah yang ilmiah jika masalah tersebut dihadapi dengan sikap dan metode ilmiah dan berhubungan dengan masalah dan solusi ilmiah lain secara sistematis.

2.        Adanya sikap, dalam arti sikap ilmiah.

3.        Menggunakan metode ilmiah.

4.        Adanya aktivitas atau riset ilmiah.

5.        Adanya kesimpulan, yaitu pemahaman yang dicapai sebagai hasil pemecahan masalah.

6.        Adanya pengaruh. Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban.

Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban. Ilmu pengatahuan dikembangkan melalui metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, langkah dan cara teknis untuk


[1]Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001), hlm.139

[2] Archie J. Bahm, “What is science“, dalam Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004) hal 46.

memperoleh pengetahuan atau mengembangkan pengetahuan yang ada. Metode ilmiah tersebut terangkum dalam enam tahap berikut[1]:

1.        Perumusan masalah: dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan memiliki jalan untuk mngetahui fakta-fakta apa saja yang harus dikumpulkan.

2.        Pengamatan dan pengumpulan data atau observasi: penyelidikan dalam tahap ini memiliki corak empiris dan induktif yang diarahakan pada pengumpulan data.

3.        Pengamatan dan klasifikasi data: ditekankan pada penyusunan fakta-fakta dalam kelompok, jenis dan kelas tertentu berdasarkan sifat yang sama.

4.        Perumusan pengetahuan (definisi): ilmuwan mengadakan analisis dan sintesis sacara induktif. Melalui analisis dan sintesis ilmuwan mengadakan generalisasi (kesimpulan umum). Dalam tahap ini teori telah terbentuk.

5.        Tahap ramalan (prediksi): teori yang sudah terbentuk diturunkan dalam bentuk hipotesis

6.        Pengujian hipotesis atau verivikasi: jika fakta tidak mendukung hipotesis, maka hipotesis harus diubah, dibongkar dan diganti dengan hipotesis lain dan semua kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan. Data empiris penentu benar tidaknya hipotesis.



[1] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007) hlm.71-72. 

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...