Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2022

Filsafat Akhlak

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Filsafat memang sedikit membingungkan. Namun dari filsafat itulah kita dapat mengetahui esensi suatu hal. Hingga kini menjadi pertanyaan. Filsafat masih saja menjadi kajian wajib diberbagai ajang pendidikan. Di Universitas Negeri maupun swasta. Dalam islam juga ada filsafat Islam, filsafat yang mengupas tentang keberadaan Islam itu sendiri.

Salah satu pengembangnya adalah ilmu akhlak, bagaimana keterkaitan filsafat dengan ilmu akhlak. Dimana ilmu akhlak membahasa tentang manusia dan filsafatpun membahas tentang segala yang ada. Artinya manusiapun dibahas oleh filsafat. Contoh para filosof muslim, diantaranya Ibn Sina dan Al-Ghazali, mereka memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana pemikirannya tentang jiwa.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat Akhlak ?

2.      Bagaimana Kedudukan Filsfat Akhlak?

3.      Bagaimana Isu-Isu Filsafat Akhlak ?

4.      Apa Pengertian Ilmu Akhlak ?

5.      Bagaimana hubungan filsafat dan Ilmu Akhlak?

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Filsafat Akhlak

1.      Pengertian Filsafat

Dilihat dari arti praktisnya filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. berfilsafat adalah berpikir. Langeveld, dalam bukunya “Pengantar pada pemikira filsafat” (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah perbincangan mengenai suatu hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekuensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya.[1]

2.      Pengertian Akhlak

Secara linguistic, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaqa, yukhliqu, dan ikhlaqan serta sesuai pula dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang mempunyai makna al-sajiyah (Perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-’adat (kebiasaan,kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).

Secara Istilah, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan perencanaan pemikiran dan pertimbangan.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa, akhlak itu adalah suatu perbuatan manusia baik itu budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, dan segala sesuatu yang telah menjadi tabi’at dalam kehidupan tanpa memerlukan perencanaan dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu.

Berbicara masalah akhlak yang Islami, bahwa fokus akhlak Islami yang sejati adalah kemuliaan dan keagungan diri. Artinya, kemuliaan diri banyak sekali memenuhi halaman akhlak Islami dan kemuliaan diri banyak menekankan pada manusia untuk menghidupkan akhlak insani dan mendorongnya agar berlaku etis.

Ibn Miskawaih (w. 412 H/1030 M) dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu, secara singkat mengakatan, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[2]

3.      Akhlak Sebagai Filsafat

Di antara obyek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan Ilmu Akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (9980-1037M.) dan Al-ghazali ( 1059-1111 M) memiliki pemikiran tentang manusia seperti terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya menyatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindera yang lima dan daya-daya batin dari jiwa biatanglah yang seperti indera bersam, estimasi dan rekoleksi yang menolong jiwa manusia untuk memperoloh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya.[3]

Pemikiran filsafat tentang yang dikemukakan Ibn Sina tersebut memberi petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep Ilmu Akhlak.

Pemikiraan tentang manusia dapat pula kita jumpai pada Ibn Khaldun. Dalam melihat manusia Ibn Khaldun mendasarkan diri pada asumsi-asumsi kemanusiaan yang sebelumnya lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Ia melihat manusia sebagai makhluk berpikir. Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu pengetahua dan ternologi. Manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.[4]

Tatapi kesempurnaan manusia tidak lahir begitu saja, melainkan malalui suatu proses tertentu. Khaldun menghubungkan kejadian manusia (sempurna) dalam perkembangan dan pertumbuhan alam semesta. Dalam pemikirannya tersebut tampak bahwa manusia adalah makhluk budaya yang kesempurnaanya baru akan terwujud jika ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya pembinaan manusia, termasuk dalam pembinaan akhlaknya.

 

B.     Kedudukan Filsafat Akhlak

Tidak syak lagi, bahwa akhlak dan pembinaan jiwa adalah sangat penting. Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagian dunia dan akherat adalah akhlak mulia, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan berusaha menyandang sifat-sifat terpuji. Dalam Islam, Akhlak merupakan permaslahan terpenting setelah Tauhid dan Nubuwwah. Melalaikan Akhlak acapkali memberangus dasar-dasar keyakinan seseorang. Dalam sebagian ayat, Al-qur’an menerangkan adanya sejumlah kebiasaan dan sifat buruk yang menjadi kendala besar untuk beriman kepada Tuhan. dalam kaitannya dengan kaum Nasrani Najran, rasulullah saww berkata: bukan karena mereka itu tidak tahu akan kebenaran Islam, tetapi hanya karemna kesuakaan mereka pada minuman keras dan daging babi. Disini tampak jelas hubungan erat antaera akhlak dan akidah . Berapa banyak akhlak yang baik yang dapat menunjukkan pelakunya kepada kebenaran, juga tidak sedikit akhlak yang buruk yang menyesatkannya pelakunya dari hidayah.

Akhlak dalam Islam adalah ilmu yang sangat mulia. Al-qur’an menyatakan bahwa pembinaan akhlak dan menyucian jiwa merupakan salah satu tujuan diutusnya para rasul dan nabi . Nabi Muhammmad saww dalam sebuah hadis yang amat populer menegaskan bahwa tujuan kenabiannnya adalah untuk menyempurnakan kemulian-kemulaian akhlak.

Menurut Islam, akhlak adalah salah satu ajaran fundamental disamping akidah dan syariat (hukum-hukum fikih). Ia adalah jalan hidup (way of life) dan arah gerak yang lurus menuju kesempurnmaan sejati. Ia yang membimbing manusia untuk selalu berhubungan dnegan Tuhan. oleh sebab ini, para ulama dan pemikir islam mencurahkan perhatian mereka secara lebih khusus kepada akhlak. Di dalam setiap masyarakat muslim selalu ada ulama-ulama yang membina anggota-anggotanya dengan menerapkan ritual-ritual yang membuat akhlak tetap hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka menuangkan ajaran dan arahan itu dalam karya-karya seperti: rasail ikhwanussh-shafa wa khillanul wafa’, as-sa’adah wal is’ad fil sirah insaniyah, tahdzibul akhlaq wa tathirul a’raq, ihya ulumud-din, al-muraqobat fi a’malis-sunnah, jamius-sa’adat, dan lain sebagainnya.

Kendati demikian, kajian-kajian yang berkaitan dengan akhlak kurang berkembang dibandingkan dengan kajian-kajian di bidang teologi, fikih atau di bidang-bidang ilmu keislaman lainnya. Berbagai faktor dan kendala sosial, psikologis, teologis, sebagaiamana yang dilaporkan Ghazali tentang situasi jamannya , turut mengisolir total pembahasan-pembahasn/studi-studi akhlak dari kaum muslimin.

Yang pasti, sedikit sekali upaya-upaya yang curahkan pada studi-studi yang berkaitan dengan Filsasafat akhlak, sehingga jarang sekali ditemukan pandangan-pandangan ulama dan pemikir akhlak Islam. Padahal secara logis, persoalan-persoalan Filsafat Akhlak, sebagai disiplin ilmu yang membahas dasar-dasar ilmu akhlak, mesti ditelaah tebih dahulu sebelum masuk pada tema-tema Ilmu Akhlak.

Sebaliknya di negara-negara Barat. meski nilai-nilai aklak di sana rapuh dan redup, namun banyak karya-karya yang ditulis berkenaan dengan akhlak, khususnya Filsafat akhlak yang merebut panyak peminat dari kalangan akademis. banyak kajian-kajian penting dan luas yang telah mereka lakukan, walaupun ada banyak kerancuan dalam meneliti beberapa masalah falsafat akhlak. Munculnya aliran-aliran akhlak yang beragam menegaskan bahwa pemikir-pemikir akhlak di sana masih belum menemukan landasan yang kuat dalam memecahkan permasalahn-permasalahn di bidang ini.

 

C.    Isu-Isu Filsafat Akhlak

Melengkapi pengenalan kita akan batas-batas dan cakupan pembahsan filsafat akhlak, di sini kita perlu mengisyaratkan isu-isu terpenting yang dibahas di dalamnya;

1.      Bagaimana proses kemunculan konsep-konsep moral? Bagaimana mental manusia menagkap konsep-konsep itu? bagaimana membedakan penggunaan istilah-istilah seperti; benar, salah, harus, tidak boleh, tugas, tanggung jawab dalam studi moral dari penggunaannya dalam studi-studi non-moral? Apakah pengertian dari konsep-konsep yang digunakan dalam studi-studi akhlak seperti; intusi, kehendak bebas (free will), ingin, motifasi, tanggungjawab, akal? Apakah esensi dan fungsi hukum-hukum yang terkandung dalam istilah-istilah dan konsep-konsep moral?

2.      Apakah dasar-dasar kemunculan hukum dan pesan moral? Apakah hukum-hukum moral itu bersumber dari alam natural? Ataukah dari akal budi manusia? Ataukah dari kontrak sosial? Ataukah dari kehendak dan perundang-undangan Tuhan? apakah pembuktian atas validitas keharusan-keharusan dan hukum-hukum moral mesti bertumpu pada satu keharusan prinsipal ilahi?

3.      Isu deklaratifitas dan imperatifitas statemen-statemen moral merupakan bagian terpenting dalam pembahsan Filsafat Akhlak. Kendati statemen-statemen moral bisa dituangkan ke dalam bentuk deklaratif seperti; “Keadilan adalah baik”, juga ke dalam bentuk imperatif seperti; “harus berbuat adil!”, permasalahannya menjadi demikian serius tatkala kajian di sini mempertanyakan manakah yang prinsipiil di antara dua bentuk statemen moral tersebut?

4.      Apakah posisi dan peran niat atau maksud pelaku dalam tindakan-tindakan moral? Apakah statemen “kejujuran itu baik” sudah bisa dinilai kebenarannya hanya karena kesesuaiannya dengan fakta di luar? Ataukah perlu dilampirkan pula motifasi subjektif di dalam penilaian tersebut? Lebih cermat lagi, apakah hukum-hukum moral itu dilandasai oleh nilai baik buruknya tindakan saja, ataukah juga oleh baik buruknya si pelaku?

5.      Apakah unsur “keharusan” adalah bagian dari karakter dasar pesan-pesan dan hukum-hukum moral? Jika demikian, lalu bagaimana kaitan unsur keharusan itu dengan kepemilihan bebas manusia yang merupakan unsur lain dalam karakter dasar pesan dan hukum moral?

6.      Apakah hubungan antara tindakan moral dan ganjaran/balasan? Apakah mesti ada ganjaran baik di balik tindakan yang baik dan ganjaran buruk di balik tindakan yang bhbruak? Jika demikian, apakah pelaku mesti concern terhadap ganjaran di saat ia melakukan tindakannya, atau malah perhatiannya inilah yang menempatkan dirinya dalam kerangka transaksi/kontraksi, sehingga berdampak negatif pada moralitas tindakannya?

7.      Permaslahan Filsafat Akhlak yang tidak kurang pentingnya adalah apakah dasar-dasar suatu hukum moral? Atas dasar apa statemen-statemen moral itu dirumuskan dan dinyatakan? Bagaimana menjelaskan arti harus dalam hukum moral? Apakah metode pembuktian atas hokum-hukum moral? Mengapa harus bersikap jujur, harus berbuat adil, tidak boleh menganiaya? Apakah standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan? Apakah kepuasan subjektif? Ataukah kepuasan kolektif? Apakah klaim Durkheim itu benar bahwa maysarakat adalah hakim yang memutuskan baik buruknya suatu tindakan? Ataukah sama sekali standar itu tidak ada kaitannya dengan kepuasan kolektif dan selera subjektif, tetapi brkaitan erat dnegan kesempurnaan hakiki dan kebahagian abadi manusia?

8.      Apakah hukum-hukum moral disa diverifikasi? Jika demikian, apakah verifikasi itu berlaku pada seluruh hukum-hukum moral, baik yang bersifat fundamental (basic judgement) ataupun yang bersifat turunan (derivative judgement)? Apakah benar hukum-hukum fundamental akhlak tidak perlu verifikasi dan pembuktian, sebagaiman dalam klaim Intusionisme? Adakah perbedaan di antara pembuktian dalam akhlak dan pembuktian di luar akhlak? Apakah jenis pembuktian dalam akhlak? Apakah berupa demonstrasi, dialektika atau selainnya?

9.       Apakah setiap masyarakat mesti menganut sistem nilai yang khas bagi dirinya, ataukah semauanya hanya punya satu sistem nilai dan satu rangkaian hukum moral? Apakah moralitas masyarakat feodal mesti berbeda dengan moralitas maysarakat borjuis? Apakah hukum-hukum moral sebuah komunitas itu stabil atau berubah-ubah seiring dengan jatuh bangun riwayat perjalanannya? Artinya, apakah nilai-nilai noral iru absolut ataukah relatif?

10.  Salah satu pembahsan terpenting dalam Filsafat Akhlak adalah relasi Akhlak dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya seperti: sains, hukum, agama, dan kontrak-kontrak sosial. Apakah akhak terpisah dari agama? Mungkinkah sistem nilai itu tegak kokoh tanpa agama? Apakah relasi antara sains dan akhlak? Bisakah niali-nilai dan hukum-hukum akhlak dibetot dari data-data sains? Apakah keduanya sama sekali berbeda, sehingga tidak ada satu hukum moral pun yang bisa diverifikasi oleh seribu satu pembuktian ilmiah? Apakah relasi antara akhlak dengan hukum positif dan perundang-undangan, kontrak-kontrak sosial dan konsensus-konsensus politik? Adakah kesamaan dan perbedaan di antara mereka?

 

D.    Pengertian Ilmu Akhlak

Banyak definisi yang ditawarkan untuk ilmu Akhlak. Sebagian ulama menekankan unsur pengetahuan, dan menyatakan bahwa ilmu Akhlak adalah pengenalan terhadap kemulaiaan akhlak dan kebejatannya. Muhaqqiq Thusi mengatakan bahwa ilmu Akhlak yaitu pengetahuan tentang bagaimana jiwa manusia menyandang suatu karakter yang memuliakan seluruh tindakan yang dilakukan atas dasar kehendak

Sebelum kita berbicara lebih jauh lagi, hendaklah kita mengetahui dahulu mengenai yang dimaksud filsafat. Pada asal katanya filsafat berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta kepada kebenaran, juga ada  yang berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah. I.R Poedjawijatna, filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.

Berpikir filsafat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain harus sistematis, harus konsepsional, harus koheren, harus rasional, harus sinoptik(menyeluruh) harus mengarah kepada pandangan dunia. Jadi dalam berpikir filsafat yang dibahas ialah hakikat segala sesuatu, dan sifatnya menyeluruh juga radikal.

Diantara obyek filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Ghazali memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sungguhpun jiwa manusia tak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan wujudnya, badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindra dan daya-daya jiwa yang lain yang menolong jiwa untuk memperoleh konsep dan ide dari alam sekelilingnya. Jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka selamanya ia berada dalam kesenangan, jika ia berpisah ia tidak sempurna, karena ketika bersatu dengan badan ia dipengaruhi hawa nafsu badan, maka ia akan menyesal selamanya. Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan atau sumber yang dapat dikembangkan  lebih lanjut menjadi sebuah konsep akhlak.

Al-Ghazali membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Kaum pilihan (khavas; elect) yang akalnya tajam dan berpikir secara mendalam. Kaum ahli debat (ahl al-jadl). Pembagian ini didasarkan pada berbeda-bedanya sifat-sifat mereka.

Pemikiran Al Ghazali ini memberi petunjuk adanya perbedaan cara dan pendekatan dalam menghadapi orang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang demikian akan membantu dalam merumuskan metode, cara, dan pendekatan yang tepat dalam mengajarkan akhlak.

Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis itu akan memberika masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.

Selain itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan cara berhubungan dengan Tuhan dan makhluk lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, tehadap manusia, alam dan makhluk Tuhan lainnya.

Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar  atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak  atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,  adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.[5]

Ilmu pengetahuan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.

Praktek ilmu pengetahuan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek ilmu pengetahuan dapat berupa pengelolaan ilmu pengetahuan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan ilmu pengetahuan (bimbingan, pengajaran dan atau latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan ilmu pengetahuan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak  dalam rangka praktek ilmu pengetahuan dan atau  studi pendidikan.

 

E.     Hubungan ILmu Akhlak dan Filsafat Akhlak.

Pengertiann Ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuattu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan  pikian. Filsafat memiliki bidang-bidang kajiannya mencakup berbagai disiplin ilmu antara lain:

a.       Metafisika: penyelidikan di balik alam nyata

b.      Kosmologo: penyelidikan tentang alam(filsafat alam)

c.       Logika: pembahasan tentang cara berfikir cepat dan  tepat

d.      Etika: pembahasan tentang tingkah laku manusia

e.       Theodica: pembahasan tentang ke-Tuhanan

f.       Antopolog:pembahasan tentang manusia

Dengan demikian, jelaslah bahwa etika/akhlak tiu termasuk salah atu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang yang akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika/akhlak, dalam proses perkembanganya , sekalipun masih diakui sebagian dalam ilmu pembahasan filsafat, kini telah menjadi ilmu yang mempunyai identitas sendiri.

Selain itu filsafat juga membahas Tuhan, alam dan makhluknya. Daripembhasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian akan duwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan , terhadap manusia, dan makhluk Tuhan lainnya. Jadi kesimplannya hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat adalah di dalam ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan denganetika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Dan setelah mempelajari ilmu-ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.
BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Filsafat ialah berpikir ke akar-akarnya untuk menemukan hakekat kebenaran, sedangkan Akhlak ialah kebiasaan seseorang atau perilahu seseorang yang dilakukan tanpa mempertimbangannya terlebih dahulu.

Filsafat dan ilmu Akhlak memang sangat erak hubungannya, karena filsafat membahas tentang manusia, dan manusia mempunyai jiwa yang menimbulkan perilaku. Perilaku tersebut disebut akhlak. Pemikiran filsafat tentang manusia dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu Akhlak.




DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III

M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987)

Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006



[1] Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006, hlm. 9-10

[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996, hlm. 2

[3] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III, hlm.38.

[4] M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987), hlm. 151.

 

[5] Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

 

Rabu, 08 Juni 2022

Alat Peraga Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak dan Implementsinya

 Alat Peraga Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran alat/media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Namun, meskipun begitu pentingnya alat/media bagi tercapainya tujuan pendidikan, masih banyak dijumpai lembaga-lembaga pendidikan yang kurang mementingkan suatu alat/media tersebut.

Terbukti banyak ditemukan kasus pendidik yang tidak mempergunakan media sesuai dengan bahan yang diajarkan contoh dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, peserta didik mengalami banyak kesulitan dalam menyerap dan memahami pelajaran yang disampaikan, pendidik kesulitan menyampaikan bahan pelajaran, banyak peserta didik yang merasa bosan terhadap pelajaran pendidikan agama Islam. Hal ini dapat diidentifikasikan sebagai masalah kurangnya pemahaman pendidik dalam pengaplikasian media dalam pembelajaran tersebut.

B.   Rumusan Masalah

1.    Apa saja macam-macam media dalam pembelajaran ?

2.    Apa saja prinsip penggunaan media dalam pembelajaran?

3.    Bagaimana aplikasi media dalam pembelajaran Akidah Akhlak ?

C.       Tujuan Pembahasan

1.    Untuk mengetahui macam-macam media dalam pembelajaran ?

2.    Untuk mengetahui prinsip-prinsip penggunaan media dalam pembelajaran ?

3.    Untuk mengetahui bagaimana aplikasi media dalam pembelajaran Akidah Akhlak?

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Media dalam Pembelajaran

Proses pembelajaran adalah proses komunikasi antara guru dan siswa melalui bahasa verbal sebagai media utama penyampaian materi pembelajaran. Dalam kondisi semacam ini, proses pembelajaran sangat tergantung kepada guru sebagai sumber belajar.

Namun demikian, pada kenyataannya tidak semua bahan pelajaran dapat disajikan oleh guru secara langsung. Untuk mempelajari bagaimana kehidupan makhluk hidup di dasar laut, tidak mungkin guru membimbing siswa langsung menyelam ke dasar lautan, atau membelah dada manusia hanya untuk mempelajari cara kerja organ tubuh manusia. Akan tetapi guru dapat menggunakan berbagai macam alat bantu dalam menyampaikan pengejaran. Alat bantu belajar inilah yang dimaksud dengan media atau alat peraga pembelajaran.[1]

Terkait dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, maka media yang digunakan juga bermacam-macam. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya tidak lain dengan menggunakan media yang tepat berupa media contoh/teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun Khasanah). Istilah  “Uswatun Khasanah” dalam dunia pendidikan dapat diidentifikasikan dengan istilah “demonstrasi” yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya, misalnya dalam mempraktekkan sholat dan lain-lain.

Selanjutnya, melalui suri tauladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik, maka guru agama akan dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap anak didik.

Oleh sebab itu, media Pendidikan Agama Islam dapat diartikan semua aktifitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama Islam, baik yang berupa alat yang dapat diperagakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.[2]

B.  Macam-macam Media dalam Pembelajaran PAI

Media pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh sumber atau penyalurnya yaitu pendidik, kepada sasaran atau penerima pesan, yakni peserta didik yang belajar pendidikan agama Islam.[3] Tujuan penggunaan media pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut adalah supaya proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berlangsung dengan baik. Dari jenisnya, media pembelajaran pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni media yang bersifat materi (benda) dan media yang bersifat non materi (bukan benda).

    1.    Media yang Bersifat Materi

Media pembelajaran yang bersifat materi ialah media yang berupa benda mati yang dapat mendukung proses kegiatan belajar-mengajar yang disebut juga dengan media peraga, seperti ruang kelas, perlengkapan belajar, dan lain sebagainya. Media ini mempunyai cakupan yang sangat luas, di antaranya adalah:

    a.    Media Audio

Media audio ialah media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses belajar. Media audio berkaitan dengan indra pendengar, dimana pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal ( kedalam kata-kata atau bahasa lisan ) maupun non verbal.

Hubungan media audio ini dengan tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam sangat erat. Dari sisi kognitif media audio ini dapat dipergunakan untuk mengajarkan berbagai aturan dan prinsip. Dari segi afektif media audio ini dapat menciptakan suasana pembelajaran dan segi psikomotor, media audio ini untuk mengajarkan media ketrampilan verbal. Sebagai media yang bersifat auditif, maka media ini berhubungan erat dengan radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam, atau mungkin laboratorium bahasa.[4]

Beberapa kelebihan yang dapat diambil dengan menggunakan media ini diantaranya:

1)   Dengan menggunakan alat perekam, program audio dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pendengar/pemakai.

2)   Media audio dapat melatih siswa untuk mengembangkan daya imajinasi yang abstrak.

3)   Media audio dapat merangsnag partisipasi aktif para pendengar. Misalnya sambil mendengar siaran, siswa dapat melakukan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang terhadap pencapaian tujuan.

4)   Program audio dapat menggugah rasa ingin tahu siswa tentang sesuatu, sehingga dapat merangsang kreatifitas.

5)   Media audio dapat menanamkan nilai-nilai dan sikap positif terhadap para pendengar yang sulit dicapai dengan media lain.

Disamping beberapa kelebihan, media ini juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:

1)   Sifat komunikasi satu arah (one way communication). Dengan demikian, sulit bagi pendengar untuk mendiskusikan hal-hal yang sulit dipahami.

2)   Media audio yang lebih banyak menggunakan suara atau bahasa verbal, hanya mungkin dapat dipahami oleh pendengar yang mempunyai tingkat penguasaan kata dan bahasa yang baik.

3)   Media audio hanya akan mampu melayani secara baik untuk mereka yang sudah mampu berpikir abstrak.

4)   Penyajian materi melalui media audio dapat menimbulkan verbalisme bagi pendengar.

5)   Media audio yang menggunakan program siaran radio, biasanya dilaksanakan serempak dan terpusat, sehingga sulit untuk melakukan pengontrolan.[5]

b.    Media Cetak

Dalam proses pembelajaran, media cetak merupakan media yang paling banyak dan paling sering digunakan. Media ini berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pemberi ke penerima pesan (dari guru kepada siswa). Secara sederhana, media cetak dapat diartikan sebagai media yang mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar, dan simbol-simbol yang mengandung arti.

Hubungan media cetak ini untuk tujuan kognitif dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi yang bersifat nyata. Untuk tujuan afektif media cetak ini dapat menunjang suatu materi dalam hubungannya dengan perubahan sikap dan tingkah laku. Untuk tujuan psikomotor media cetak ini dapat menunjukkan posisi sesuatu yang sedang terjadi dan mengajarkan berbagai langkah dan prinsip dalam proses pembelajaran.[6] Macam-macam media cetak diantaranya: gambar/foto, diagram, bagan, poster, grafik, buku.

1)   Gambar/foto

Gambar atau foto merupakan salah satu media cetak paling umum digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena gambar atau foto memiliki beberapa kelebihan, yakni sifatnya konkret, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal; dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja; murah harganya dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam menyampaikannya. Namun demikian, di samping kelebihan, gambar dan foto memiliki kelemahan di antaranya yakni hanya menekankan persepsi indera mata dan ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.

2)   Diagram

Diagram adalah gambar yang sederhana yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol untuk menunjukkan hubungan antara komponen atau menggambarkan suatu proses tertentu. Dengan menggunakan diagram pesan yang bersifat kompleks akan lebih sederhana, sehingga pesan dapat lebih mudah ditangkap dan dipahami.

3)   Bagan

Bagan atau sering disebut chart adalah media cetak yang didesain untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas dari suatu proses yang penting. Agar pesan yang disampaikan melalui bagan dapat dimengerti dan mudah dipahami, maka biasanya dalam bagan disertai dengan media lainnya, seperti gambar, foto, atau lambang-lambang verbal lainnya. suatu bagan dianggap baik jika berbentuk sederhana, tidak rumit dan berbelit-belit.

4)   Poster

Poster adalah media yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi, saran, atau ide tertentu, sehingga dapat merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut. Misalnya poster tentang keluarga berencana, poster tentang kebersihan, dan lain sebaiknya. Suatu poster yang baik harus mudah diingat, mudah dibaca, dan mudah untuk ditempelkan dimana saja.

5)   Grafik

Grafik adalah media cetak yang berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau berkembangan sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif. Melalui grafik, siswa dapat menangkap gambaran secara lebih mudah tentang data-data statistik.[7]

c.    Media Elektronik

Media ini diciptakan untuk menyampaikan informasi pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara umum, baik di kalangan pendidikan maupun masyarakat secara luas. Beberapa media elektronik yang di maksud antara lain:

1)   Slide dan film strip

Merupakan gambar yang diproyeksikan dan dapat dilihat, serta dapat dioprasikan secara mudah. Media ini berfungsi untuk memeudahkan penyajian seperangkat materi tertentu, membangkitkan minat anak dan menjangkau semua bidang pelajaran , termasuk pendidikan agama Islam.

2)   Film

Media ini mempunyai nilai tertentu, seperti dapat melengkapi berbagai pengalaman yang dimiliki peserta didik, dapat memancing inspirasi baru, menarik perhatian, serta dapat memperlihatkan perlakuan objek yang sebenarnya.

3)   Televisi

Penggunaan media ini dapat dilakukan dengan alternatif dari melihat siaran televisi. Dengan menggunakan media ini materi pembelajaran yang diberikan dapat bersifat langsung dan nyata, jangkauannya luas, dan memungkinkan penyajian aneka ragam peristiwa.

4)   Radio

Radio selain sebagai media audio juga merupakan media elektronik. Melalui media ini peserta didik dapat mendengarkan siaran dari berbagai penjuru dan berbagai peristiwa. Media ini dapat memberikan berbagai berita yang sesuai dengan pembelajaran, menarik minat, jangkauannya luas, dapat mendorong timbulnya kreatifitas dan mempunyai nilai-nilai yang rekreatif.[8]

5)   Komputer

Komputer merupakan jenis media elektronik yang mampu menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai dengan kebutuhan. Teknologi komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu.

Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentik suatu jaringan (network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoelh informasi dan ilmu pengetahuan  yang aktual dalam berbagai bidang studi. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.[9][9]

2.    Media yang Bersifat Non-Materi

Media pendidikan yang bersifat non materi memiliki sifat yang abstrak dan hanya dapat diwujudkan melalui perbuatan dan tingkah laku seorang pendidik terhadap anak didiknya. Diantara media yang termasuk dalam kategori ini adalah: keteladanan, perintah, tingkah laku, ganjaran dan hukuman.

a.    Keteladanan

Pada umumnya, manusia memerlukan figure (sosok) identifikasi yang dapat membimbing manusia ke arah kebenaran. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Allah mengutus Muhammad menjadi tauladan bagi manusia dan wajib diikuti oleh umatnya. Untuk menjadi sosok yang ditauladani, Allah memerintahkan manusia termasuk pendidik selaku khalifah fi al-ardh untuk mengerjakan perintah Allah dan Rasul-Nya sebelum mengajarkannya kepada orang yang akan dipimpin.

b.    Perintah dan Larangan

Seorang muslim diberi oleh Allah tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan “Amar ma’ruf nahi munkar”. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan media dalam pendidikan. Perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat atau melaksanakan sesuatu. Suatu perintah akan mudah ditaati oleh peserta didik jika pendidik sendiri menaati peraturan tersebut, atau apa yang dilakukan si pendidik sudah dimiliki atau menjadi pedoman pula bagi hidup si pendidik.

Sementara larangan dikeluarkan apabila si peserta didik melakukan sesuatu yang tidak baik atau membahayakan dirinya. Larangan sebenarnya sama dengan perintah. Kalau perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, maka larangan adalah keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan.

c.    Ganjaran dan Hukuman

Ganjaran dalam konteks ini adalah memberikan sesuatu yang menyenangkan (penghargaan) dan dijadikan sebuah hadiah bagi peserta didik yang berprestasi, baik dalam belajar maupun sikap prilaku.

Selain ganjaran, hukuman juga merupakan media pendidikan. Dalam Islam hukuman disebut dengan iqab. Sejak dahulu, hukuman dianggap sebagai media yang istimewa kedudukannya, sehingga hukuman itu diterapkan tidak hanya dibidang pengadilan saja, tetapi juga diterapkan pada semua bidang, termasuk bidang pendidikan.[10][10]

C.  Prinsip-prinsip Penggunaan Media dalam Pembelajaran PAI

Apabila umat Islam mau mempelajari pelaksanaan pendidikan Islam sejak zaman silam sampai sekarang, tentunya para pendidik itu telah mempergunakan media pendidikan Islam yang bermacam-macam, walaupun diakui media yang digunakan ada kekurangannya. Oleh karena itu, media pendidikan ini harus searah dengan Al-Qur’an dan as-sunnah, tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-sunnah. Prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan atau penggalian kesejahteraan manusia di dunia yaitu:[11]

Sabda Rasul yang artinya;

“Mudahkanlah, jangan engkau persuli, berilah kabar-kabar yang menggembirakan dan jangan sekali-kali engkau memberikan kabar-kabar yang menyusahkan sehingga mereka lari menjauhkan diri darimu, saling ta’atlah kamu dan jangan berselisih yang dapat merenggangkan kamu”. ( Al-Hadits ).

Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam menyelenggarakan kegiatan untuk kesejahteraan hidup manusia, yang termasuk didalamnya penyelenggaraan media pendidikan Islam harus mendasarkan kepada dua prinsip, yaitu:

1.   Memudahkan dan tidak mempersulit.

2.   Menggembirakan dan tidak menyusahkan.

D.   Aplikasi Media dalam Pembelajaran Akidah Akhlak dan Relevansinya

Sebelum pendidik mengajarkan pokok bahasan pembelajaran terlebih dahulu harus menyiapkan dan memperhitungkan alat bantu/media apa saja yang dapat dipakai dari berbagai kegiatan pembelajaran yang mungkin dilakukannya sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan. Dalam menerapkan media pembelajaran pendidikan agama Islam harus dilakukan cara yang tepat dan praktis yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga dalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Selain hal tersebut pemilihan metode mengajar yang sesuai dengan media pembelajaran juga sangat penting karena akan berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran.

Media pembelajaran yang diterapkan oleh guru pendidikan agama Islam harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Demikian juga halnya dengan penyesuaian antara media pembelajaran yang dipakai dengan kebutuhan peserta didik yang banyak dan bermacam-macam, namun secara garis besarnya pemilihan media pembelajaran tersebut harus sesuai dengan kebutuhan kebanyakan peserta didik.

Berikut adalah penerapan media pembelajaran sesuai mata pelajaran pendidikan agama Islam:

1.    Media pembelajaran akhlak

Media pembelajaran akhlak mencakup nilai suatu perbuatan, sifat-sifat terpuji dan tercela menurut ajaran agama Islam, membicarakan berbagai hal yang langsung ikut mempengaruhi pembentukan sifat-sifat pada diri seseorang, maka ada beberapa media pembelajaran yang dapat membantu pencapaian pembelajaran akhlak, antara lain:

a.    Melalui bahan bacaan atau bahan cetak.

Melalui bahan ini peserta didik akan memperoleh pengalaman dengan membaca. Yang termasuk media ini buku teks akhlak, buku teks agama pelengkap, bahan bacaan umum seperti, majalah, koran dan sebagainya.

b.   Melalui alat-alat audio visual (AVA).

Melaui media ini peserta didik akan memperoleh pengalaman secara langsung dan mendekati kenyataan, misalnya dengan alat dua atau tiga dimensi, maupun dengan alat-alat teknologi modern seperti televisi, internet, dan lain sebagainya.

c.    Melalui contoh-contoh kelakuan.

Melalui profil pendidik yang baik, dalam menyampaikan bahan pembelajaran diharapkan peserta didik bisa meniru tingkah laku pendidik, misalnya mimik, berbagai gerakan badan dan anggota badan, dramatisasi, suara dan perilaku sehari-hari.

d.   Melalui media masyarakat dan alam sekitar.

Untuk memperoleh suatu pemahaman dan pengalaman yang komprehensif, pendidik dapat membawa anak ke luar kelas untuk memperoleh pengalaman langsung dan masyarakat maupun alam sekitar.[12]

Hendaknya pendidik menyiapkan bermacam-macam alat peraga dan menggunakannya demi pemahaman anak didik. Dalam menguraikan peristiwa hijrah Nabi misalnya pendidik dapat menggunakan slide atau film yang tersedia, memperdengarkan rekaman tentang drama yang sering diputar dari pemancar radio pada hari-hari besar seperti Maulid, Hijrah Nabi ataupun Isra’ Mi’raj.[13]


 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Media Pendidikan Agama Islam dapat diartikan semua aktifitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama Islam, baik yang berupa alat yang dapat diperagakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tujuan penggunaan media pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut adalah supaya proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berlangsung dengan baik. Media pembelajaran pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yakni media yang bersifat materi dan media yang bersifat non-materi. Penyelenggaraan media pendidikan Islam harus mendasarkan kepada dua prinsip, yaitu: (1) Memudahkan dan tidak mempersulit, dan (2) Menggembirakan dan tidak menyusahkan.

Dalam menerapkan media pembelajaran pendidikan agama Islam harus dilakukan cara yang tepat dan praktis yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga dalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Selain hal tersebut pemilihan metode mengajar yang sesuai dengan media pembelajaran juga sangat penting karena akan berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran.

 

 



 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta : Kalam Mulia, 2002.

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997.

Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran Jakarta: Ciputat Pers. 2002.

Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003.

Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran Jakarta: Kencana, 2009.

Sudjarwo S, Teknologi Pendidikan Jakarta: Erlangga, 1988.

Chabib Thoha, dkk., Metodologi Pembelajaran Agama Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

 



[1]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011), h. 199.

[2]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h. 107.

[3]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), h. 199.

[4]Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran ( Jakarta: Ciputat Pers. 2002 ), h. 101.

[5] Wina Sanjaya, Perencanaan, h. 216-217.

[6]  Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003), h. 105.

[7] Wina Sanjaya, Perencanaan, h. 214-215.

[8] Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009), h. 299-300.

[9] Sudjarwo S, Teknologi Pendidikan (Jakarta: Erlangga, 1988), h. 76.

[10] Abuddin Nata, Perspektif, h. 286.

[11]Ibid., h. 283.

[12] Chabib Thoha, dkk., Metodologi Pembelajaran Agama (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 133 – 134

[13]Chabib Thoha, dkk., Metodologi, h. 222-223.


 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...