Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2022

Pengertian dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manajemen pendidikan islam, mungkin merupakan kata yang sering kita kenal, kita dengar bahkan kita kerjakan, akan tetapi banyak dari kita yang mungkin belum paham sepenuhnya makna dari definisi manajemen pendidikan islam tersebut. Maka dari itu kita harus lihat apa sesungguhnya makna atau definisi dari  manajemen pendidikan islam. Ada bermacam-macam pendapat yang mengemukakan tentang definisi manajemen pendidikan islam, oleh karena itu kita memerlukan kesepakatan terlebih dahulu apa yang di maksud dengan manajemen pendidikan islam.

Sejalan dengan perubahan zaman modern ini tentang pengetahuan manajemen yang harus kita ketahui, maka dari itu kita harus mengetahui apa sesungguhnya definisi dari manajemen itu sendiri, Manajemen pendidikan islam berkaitan erat dengan masalah pengelolaan dalam sebuah lembaga pendidikan, terutama pendidikan islam, di dalam dunia pendidikan tentunya di butuhkan sebuah  prngelolaan yang baik, karena maju berkembangnya dalam sebuah lembaga pendidikan tergantung dari sistem pengelolaanmanajemennya.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dan nilai pendidikan islam?

2.      Bagaimana paradigm dan wilayah kajian manajemen pendidikan islam?

3.      Bagaimana konsep manajemen sekolah?

4.      Apa perlunya kerja sama dalam manajemen pendidikan islam?


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian dan Nilai Pendidikan Islam

1.      Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Agama islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.[1]

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Islam sangat beragam, hal ini terlihat dari definisi pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pe Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal.

 Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Agama islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.

2.      Nilai Pendidikan Islam

Istilah nilai sering kita jumpai serta banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik secara lisan ataupun tertulis, seperti nilai religius, nilai moral, nilai keindahan ataupun nilai kebudayaan. Istilah tersebut seperti sudah dimengerti baik betuk ataupun maknanya. Namun jika kita kaji lebih dalam apa makna nilai itu, akan kita temukan arti yang lebih dalam pula dari makna kata tersebut. Banyak para ahli yang menafsirkan makna dari nilai itu sendiri menurut sudut pandang yang mereka anut, karena sifat nilai itu sendiri adalah riil atau abstrak, sehingga sulit menentukan dan mengetahui nilai itu dari pribadi yang lain. Keluasan, keabstrakan nilai merupakan standar kebenaran yang harus dimiliki, diinginkan dan layak untuk dihormati.

Nilai dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia berarti harga, ukuran, angka yang mewakili prestasi, sifat- sifat yang penting yang berguna bagi manusia dalam menjalani hidupnya (Kamisa, 1997: 376). Nilai mengacu pada sesuatu yang oleh manusia ataupun masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengertian tentang nilai- nilai pendidikan Islam di atas bahwa nilai menunjukan sesuatu yang terpenting dalam keberadaan manusia atau suatu yang paling berharga atau asasi bagi manusia, oleh karena itu bila dilihat dari pendidikan Islam nilai merupakan jalan hidup yang berproses pada wilayah ritual dan berdimensi eskatologis diajarkan perlunya penghayatan nilai- nilai ketuhanan. Disinilah manusia memberlukan bimbingan serta tata cara ibadah yang baik, berdoa yang benar, berperilaku yang baik dan sebagainya.

Tahap-tahap proses pembentukan nilai menurut Karthwohl sebagaimana dikutip oleh Mawardi Lubis ( 2011: 19 ), lebih banyak banyak ditentukan dari arah mana dan bagaimana seseorang menerima nilai-nilai dari luar kemudian menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam dirinya. Menurut Karthwohl proses pembentukan nilai pada anak dapat dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu :

a.       Tahap receiving ( menyimak ). Pada tahap ini seseorang secara aktif dan sensitif menerima stimulus dan menghadapi fenomena-fenomena, sedia menerima secara aktif dan selektif dalam memilih fenomena.

b.      Tahap responding ( menanggapi ). Pada tahap ini seseorang sudah dalam bentuk respons yang nyata.

c.        Tahap valuing ( memberi nilai ). Jika tahap pertama dan kedua lebih bersifat aktvitas fisik biologis dalam menerima dan menanggapi nilai, maka pada tahap ini seseorang sudah mampu menangkap stimulus itu atas dasar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan mulai mampu menyusun persepsi tentang objek.

d.      Tahap mengorganisasikan nilai ( organization ), yaitu satu tahap yang lebih kompleks dari tahap ketiga di atas. Seseorang mulai mengatur sebuah sistem nilai yang ia dari luar untuk diorganisasikan (didata) dalam dirinya sehingga sistem nilai itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dirinya.

e.       Tahap karakterisasi nilai ( characterization ), yang ditandai dengan ketidakpuasan seseorang untuk mengorganisir sistem nilaiyang diyakininya dalam kehidupan secara mapan, ajek dan konsisten.

Karakterisasi nilai dapat dibentuk melalui berbagai kriteria nilai pendidikan yang harus dipahami, sebagaimana diungkap oleh Djunaidi yang dikutip oleh Siti Aminaul Mu’minah ( 2011 : 21 ) antara lain :

a.       Fakta yang menyokong bahwa pertimbangan itu mesti benar atau baik pada tempatnya.

b.       Fakta itu harus ada hubungannya dengan keasliannya dan harus mempunyai nilai yang nyata bagi orang yang mempertimbangkan.

c.        Akan sama dengan ssesuatu yang lain, bila hubungan lalpangannya itu lebih luas terhadap kenyataan yang diambil berdasarkan perhitungan,pertimbangan yang lebih.

d.      Prinsip nilai yang tercantum lewat pertimbangan harus dapat diterima oleh yang membuat pertimbangan itu sendiri.

 

B.     Paradigma dan Wilayah Kajian Manajemen Pendidikan Islam

 

1.      Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam

Paradigma manajemen pendidikan islam pada kedaratan keilmuan adalah menyatukan ilmu manajemen pendidikan dengan wahyu dan di tampilkan dalam ontology yang mendudukkan wahyu Al quraan dan An sunnah.sebagai acuan, dan sumber konsultasi pengembangan manajemen pendidikan islam secara ontologis dan epistimologis pada dataran pembuat tafsir dan mengiji nya kedalam dataran emperis untuk di temukan teori-teori nya.

Ibnu Thaimiyah menyebutkan sebagai Manhaj Jam’baim Al-Qira’atain, yakni memadukan antara qiraah wahyu (membaca, memahami, merenungkan, dan menelaah wahyu) dengan qiraah fenomena kauni (membaca, menelaah meneliti, dan mengkaji fenomena alam semesta), termasuk di dalamnya fenomena social dan pendidikan di dunia empiris. Dalam membaca dan memahami wahyu hendaknya dengan melibatkan pemahaman tentang realitas dan teori-teori alam, social dan sebagainya. Sebaliknya dalam membaca, memahami, mengkaji, fenomena alam, social, dan sebagainya hendaknya di landasi dengan roh aatu spiritual.

Upaya pengembangan teori manajemen pendidikan islam selalu di uji koherensinya pada moral religius (islam). Moral relgius ini merupakan dimensi aksiologinya, yang terkait dengan pahala dan siksa, sebagai konsekuensi dari fungsi dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu ilmu manajemen pendidikan islam bukan untuk profit making semata, sebagaimana konsep materialisme, tetapi untuk mengagungkan asma Allah (Al-Khalik) dan menyayangi makhuknya, sedangkan profit merupakan efek langsung atau pengiring dari upaya tersendiri. Dalam konteks HAM, justru lebih mendahulukan kewajibannya selanjutnya memperoleh dan menerima haknya. Pekerja memanage institusi pendidikan islam dengan cara:

1.    Tidak sembrono atau tidak bersikap seenaknya dan acuh tak acuh,

2.    Komitmen terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu atau sebaik mungkin,

3.    Bekerja secara efisien dan efektif atau mempunyai daya guna yang setiggi-tingginya,

4.    Sungguh-sungguh dan teliti,

5.    Memiliki dinamika yang tinggi,

6.    Komitmen terhadap masa depan,

7.    Memiliki kepekaan terhadap perkembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bersikap istiqomah adalah sebagai perwujudan dari upaya mengagunggkan asma Allah.

Di sisi lain manajemen pendidikan islam dapat bertolak dari dunia emperis, sebagaiman terwujud dalam fenomena praktik dan operasional manajemen pendidikan islam melalui penggalian terhadap fenomena tersebut dan di analisis secara kritis, serta di diskusikan dengan teori-teori yang berkembang dalam manajemen pendidikan pada umumnya, maka akan dapat di tarik dan di temukan kontrukteotritisnya, untuk selanjutnya di konsultasikan pada ajaran dan nila-nila mendasar sebagaimana terkandung dama wahyu (Al-qur’an dan al sunnah), yang dibangun dari telaah ternatik terhadap wahyu tersebut. Dari situ akan melahirkan konsep dan atau teorimanajemen pendidikan yang berperspektif, telaah tematik terhadap wahyu tersebut perlu di garus bawahi, agar tidak terjebak ke dalam cara kerja yang bersifat pragmatis, yakni mengembangkan pemikiran rasional, dan pengalaman emiris manajemen pendidikan untuk selanjutnya pada titik tertentu berusaha menjadikan nash-nash sebagai alat justifikasi konsep pemikiran dan pengalaman empiris tersebut.

2.      Wilayah Kajian Manajemen Pendidikan Islam

 

Bertolak dari paradigm keilmuan tersebut, maka wilayah kajian atau penelitian manajemen pendidikan islam yang dapat dikembangkan mencakup:

a.       Masalah-masalah fondasional (foundational problems), terutama menyangkut landasan filosofis, sosiologis, antripologis, psikologis, dan lain-lain.

b.      Masalah-masalah structural (structural problems), yang meliputi dimensi-dimensi struktur kelembagaannya, masyarakat, jenjang pendidikan, tingkat ekonomi dan lain-lain.

c.       Masalah-masalah operasional (operational problems), terutama yang menyangkut praktik manajemen pendidikan islam pada lingkupjenis-jenis pendidikan islampada aspek kelembagaan maupun programnya, serta segala komponen pendidikan yang  dijiwai dan semangati oleh ajaran dan nilai-nilai islam sebagaimana uraian tersebut diatas.

d.      Dengan demikian, kegiatan penelitian manajemen pendidikan islam akan dapt melahirkan dan mengembangkan teori-teori sebagai berikut:

1.    Teori manajemen pendidikan agama islam di rumah tangga karier,

2.    Teori manajemen pendidikan agama islam untuk lembaga-lembaga pemasyarakatan,

3.    Teori manajemen pendidikan islam di taman kanak-kanak,

4.    Teori manajemen pendidikan madrasah ibtidaiyah,

5.    Teori manajemen pendidikan madrasah tsanawiyah,

6.    Teori manajemen pendidikan madrsah aliyah,

7.    Teori manajemen pendidikan agama islam dan di perguruan tinggi,

8.    Teori manajemen pendidikan madrasah perkotaan,

9.    Teori manajemen pendidikan madrasah pedesaan,

10.  Teori manajemen kepala sekolah dalam porspektif islam.[2]

 

 

 

C.    Konsep Manajemen Sekolah

Konsep Manajemen Sekolah/Madrasah Sekolah/madrasah perlu membuat tujuan strategis, tujuan strategis merupakan upaya sekolah/madrasah untuk menata berbagai prioritas yang harus dikerjakan dalam mencapai visi yang telah dicanangkan. Dengan ditatanya berbagai prioritas tersebut akan memudahkan seluruh komponen organisasi sekolah/madrasah dalam mengimplementasikannya pada pekerjaan sehari-hari.Dengan telah ditentukannya tujuan strategis tersebut, maka sekolah/madrasah dituntut untuk memformulasikan strategi lembaga untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan strategis berkaitan dengan pernyataan hal-hal apa saja yang harus dikerjakan oleh sekolah/madrasah untuk mencapai visinya termasuk prioritas yang harus dikerjakan. Sedangkan strategi lembaga berkaitan dengan bagaimana upaya lembaga dalam mengerjakan berbagai prioritas tersebut. Mendasarkan pada formula strategi lembaga yang dikembangkan oleh sekolah/madrasah, kemudian sekolah/madrasah mulai memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan dikerjakan dalam upaya mencapai visi lembaga.

Namun tahapan-tahapan teknis perencanaan manajemen disekolah/madrasah tersebut dapat berjaan ditempat atau bahkan tidak jalan sama sekali jika berbagai kondisi penting dalam lembaga belum terbentuk dengan baik. Kondisi tersebut meliputi:

1.Kepemimpinan sekolah/madrasah, dan 6 Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat.

2.Budaya sekolah/madrasah. Dengan kepemimpinan dan budaya yang baik tersebut, maka pemimpin dapat mengelola perubahan yang akan dialaminya dan risiko yang akan ditanggung sebagai akibat dari perubahan tersebut.

     Di sisi lain, dewasa ini pengelolaan sekolah/madrasah harus memerhatikan standar-standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah melali PP No. 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam PP tersebut disebutkan 8 standar yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan di Indonesia yang meliputi:

1. Standar isi

 2. Standar proses

 3. Standar kompetensi lulusan

 4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan

 5. Standar sarana prasarana

 6. Standar pengelolaan

7. Standar pembiayaan

 8. Standar penilaian pendidikan.

     Karena itu, pembahasan tentang rencana kerja sekolah/madrasah merupakan upaya untuk memenuhi dan melampaui kedelapan standar diatas.[3]

 

D.     Perlunya Kerja Sama dalam Manajemen Pendidikan Islam

      Prof. Dr. Mohammad Abdus Salam, salah seorang ilmua muslim dari pakistan yang telah meraih Nobel, juga menyatakan: ‘tidak diragukan lagi bahwa dari seluruh peradaban di palnet ini, sains menempati posisi yang paling lemah dan benar-benar memprihatinkan dunia islam. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kelemahan ini berbahaya karena kelangsungan hidup suatu masyarakat pada abad ini secara langsung tergantung pada penguasanya atas sains dan teknologi’. Selanjutnya ia menyatakan bahwa: ‘...ortodoksi agama dan semangat intoleransi merupakan dua faktor utama yang bertanggung jawab atas lemanya lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya dalam islam’.

      Statement di atas menggaris bawahi perlunya kepedulian para pengembang dan pengelola lembaga pendidikan islam untuk selalu mencari jawaban atas tantangan yang di hadapi oleh dunia islam dewasa ini, terutama menyangkut lemahnya sistem pendidikan islam yang produknya dianggap belum banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi.

      Perkembangan iptek dan juga budaya hingga saat ini justru lebih banyak didominasi oleh dan masih berada di tangan para ilmuwan, teknologi dan budayawan yang berasaal dari negara-negara barat, seadangkan sistem pendidikan islam lebih banyak berada pada posisi marginal, perifer,  dan bahkan sebagai konsumen belaka.

      Rendahnya kualitas pendidikan islam yang berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia yang mampu berkopetensi di dunia global, dan sekaligus akan berdampak pula pada rendahnya produktivitas dan pendapatan para warga negaranya. Pengembangan iptek di dunia islam pada era globalisasi juga merupakan kebutuhan vital untuk menjembatani kesenjangan yang mencolok antara idealitas ajaran dan nilai-nilai islam(Al-Quran dan Al-Sunnah) dengan realitas pesatnya kemajuan iptek dan akselerasi perubahan sosial- budaya yang notabene digagas dan didominasi oleh para ilmuan dan teknologi nonmuslim.

      Respon dan antisipasi terhadap berbagai problem tersebut agaknya sangat lamban bilamana lembaga pendidikan islam di-manage seadanya dengan sumber daya yang dimilikinya, tanpa adanya uapay kebersamaaan, persatuan, dan kerja sama yang saling menguntungkan antarsatu lembaga pendidikan islam dengan lainya baik di dalam negeri maupun dengan negara-negara di dunia islam dan negara maju pada umumnya.

      Atas dasar itulah, maka keberadaan lemabaga pendidikan islam indonesia yang menjalin kerja sama dengan lemabag pendidikan yang terkenal di dunia islam dan di negara-negara maju pada umumnya, sebagai perwujudan kerja sama antara negar-negara ASEAN atau negara-negara maju di dunia, adalah sangat diperlukan adanya sebagai upaya pemberdayaan dan pencerahan sistem pendidikan islam. Peberdayaan dan pencerahan ini tentunya diarahkan pada pembenahan dan perbaikan sistem pendidikan islam selaras dengan trend perkembangan kontemporer, sehingga menjadi suatu model pendidikan islam, yang mampu membangun SDM yang berkualitas, sekalipun meningkatkan kualitas produktivitas dan pendapatan para warga negara.

      Ciri-ciri kualitas SDM tersebut antara lain ditunjukkan oleh indikator-indikator tampilnya lulusan pendidikan islam yang memiliki kekuatan akidah dan spiritual, keunggulan moral, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguasaan keahlian dan kematangan profesional sesuai dengan standar nasional dan internasional, yang didukung oleh jasmani yang sehat, dan mampu berkompetensi dengan para lulusan dari negara-negara lain.

      Untuk membangun ciri-ciri tersebut, maka lemabaga pendidikan islam serta perguruan tinggi islam dengan berbagai program studinya di-manage dengan tujuan untuk memperkukuh eksistensi lulusannya agar tidak hanya berwawasan regional (Asia)dan global (Dunia). Lembaga pendidikan islam indonesia dengan demikian perlu secara aktif berperan mempersiapkan calon tenaga kerja agar mampu bersaing dengan rekan mereka dari negara lain. Hal ini sejalan dengan dengan semangat AFTA (Asean Free Trade Area) dan ALFA (Asean Free Labour Area), dan berarti persaingan tenaga kerja akan menjadi terbuka. Konsekuensinya, tenaga kerja indonesia harus mampu bersaing secara terbuka dengan tenaga kerja asing dari berbagai negara.

      Dengan berkembangnya era globalisasi tidak bisa dipungkiri akan munculnya berbagai Multi-Nasional Enterprise (MNE), yang pada gilirannya akan merambah padaMulti-National Hinger Educational Enterprise (MNHEE). Bertolak dari pemikiran tersebut, maka pengembangan lembaga pendidikan islam, termasuk perguruan tingginya perlu mengantisipasi hal-hal berikut:

1.      Perlunya internasional pendidikan islam,

2.      Perlunya manajemen pendidikan islam yang berdasarkan kebutuhan pasar keraj,

3.       Perlunya manajemen pendidikan islam secara terpadu antara pendidikan formal dan nonformal, keterpaduan anatara riset, pengajaran, dan pelayanan,

4.      Perlunya pengembangan keterampilan terjual, dalam arti mampu menciptakan dan menawarkan jenis pelatihan dan konsultasi yang sangat diperlukan oleh institusi-institusi terkait,

5.      Perlunay komersialisasi riset, dalam arti untuk menghimpun sumber daya yang ada guna kepentingan masyarakat, maka lembaga pendidikan islam terutama perguruan tingginya harus mampu memilih dan menawarkan riset apa saja ke masyarakat,

6.       Agar lemabaga pendidikan islam mampu memacu dan memasuki abad persaingan yang semakin ketat, maka perlu pengembangan program khusus/spesifik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[4]


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Manajemen pendidikan islam adalah suatu proses penataan/pengelolaan lembaga pendidikan islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan non manusia dalam menggerakannya untuk mencapai tujuan pendidikan islam secra efektif dan efisien.Itu berarti dalam suatu lembaga pendidikan islam di perlukannya manajemen yang baik sesuai dengan kaidah aturan dan ajaran yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits, adapun proses manajemen pendidikan islam meliputi planning manajemen pendidikan islam, organizing manajemen pendidikan islam, actuating manajemen pendidikan islam dan controlling manajemen pendidikan islam. Selain itu dalam manajemen pendidikan islam terdapat prinsip-prinsip manajemen pendidikan islam yaitu, ikhlas, jujur, adil, amanah dan tanggungjawab.

B.        Saran

Demikian makalah yang dapat penulis sampaikan, tentunya dalam penyusunan makalah ini masih banyak kata-kata atau penyampaian yang kurang jelas ataupun dalam penyajiannya yang kurang lengkap, pastinya makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kritik dan saran sangatlah penulis harapkan untuk menjadikan pelajaran pada masa mendatang.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budinnata, Filsafat Pendidikan Islam,(bandung: pustaka setia,2004

Bukhari Umar. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009

Muhaimin, Manajemen pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009

Nur ubiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (bandung: Pustaka Setia,1997



[1] Abudinnata, Filsafat Pendidikan Islam,(bandung: pustaka setia,2004) hlm. 101

 

[2] Bukhari Umar. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksar,2009) hlm. 26

                          

[3] Muhaimin, Manajemen pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009) hlm. 26-28

 

[4] Nur ubiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (bandung: Pustaka Setia,1997), hlm.15-17

Kamis, 19 Mei 2022

Sistem Nilai dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam

 

A.    Pendahuluan

Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan untuk membentuk manusia muslim sesuai dengan cita-cita Islam. Pendidikan Islam       memiliki komponen- komponen yang secara keseluruhan mendukung     terwujudnya pembentukan muslim yang ideal. Oleh karena itu, kepribadian muslim merupakan esensi sosok manusia yang hendak dicapai.

Di Lingkungan Masyarakat primitive (berbudaya asli ), pendidikan dilakukan oleh dan atas tanggungjawab kedua orang tua terhadap anak-anak mereka. Manusia yang hidup di hutan misalnya, akan membimbing dan melatih anak mereka  sesuai keadaan lingkungannya mengenali kehidupan hutan seperti mengenal makanan yang layak makan, menangkap    binatang, dan sebagainya. Pendidikan akan dianggap selesai bila mereka sudah menginjak dewasa, dan mampu mandiri setelah menguasai sejumlah ketrampilan praktis sesuai dengan kebutuhan hidup lingkunganya. Tujuan utamanya adalah untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan bertahan hidup di lingkunganya, sehingga generasi mereka akan berlanjut.

Dari ilustrasi di  atas, pendidikan memberikan peranan penting dan sangat urgen sekali dalam kehidupan manusia. Ini menunjukan, bahwa pendidikan memiliki nilai-nilai tersendiri, ketika nilai-nilai            tersebut diinternalisasikan kepada peserta didik, maka outputnya pun minimal sesuai dengan harapan dan kapasitas   nilai-nilai                     yang terkandung                     di         dalamnya. Permaslahan ini sangat penting untuk diuraikan secara holistik, bagaimana Sistem nilai dan relasinya dengan pendidikan. Sehingga, pendidikan yang diinternalisasikan tidak bebas nilai dan memiliki tujuan dan prinsip yang jelas.

 

B.     Ringkasan

Nilai artinya sifat-sifat yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.1 Maksudnya ialah kualitas            yang                memang membangkitkan penghargaan.2 Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia serta melembaga secara objektif di dalam masyarakat.

Menurut Sidi Gazalba, nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan ideal. Nilai  bukan benda konkret, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menurut pembuktian secara empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki

Sumber nilai dalam kehidupan

Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah SWT menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia, yang mana

Bentuk-bentuk nilai

Guna membedakan berdasarkan posisi dan kegunaannya, nilai secara universal dapat dibagi menjadi dua, yaitu nilai ilahiyah dan nilai insaniyah. Nilai ilahiyah berkaitan dengan nilai ketuhanan, sedangkan nilai insaniyah berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, Keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia. Tetapi, nilai-nilai yang dimaksud di sini ialah konsep yang berupa ajaran Islam, dimana ajaran Islam itu sendiri merupakan seluruh ajaran Allah yang bersumber dari Alquran dan Assunnah yang pemahamannya tidak terlepas dari pendapat para ahli yang telah lebih memahami dan menggali ajaran Islam.8

Tata nilai Islam sebagai tata nilai rabbani, bersumber dari wahyu dan hadits. Rumusan naql membentk syariat, sumber nilai akal membentuk etika. Etika ialah teori tentang perbuatan manusia, dipandang baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.9 Dengan demikian dapatlah diambil intisarinya dari dialektika naql dan

Nilai Pendidikan Keimanan (I’tiqadiyah)

Iman adalah kepercayaan yang terhujam kedalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak     (ragu-ragu)  serta mempengaruhi        orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian.

 

Nilai    Pendidikan     Akhlak (Khuluqiyah )

Nilai pendidikan         akhlak berkaitan dengan pendidikan etika yang                     bertujuanuntuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al- Ahzab ayat 21 yang berbunyi: Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. Al- Ahzab: 21).

Nilai Pendidikan Amaliah

Pendidikan amaliah berkaitan dengan tingkah laku manusia dengan tuhan maupun dengan            alam     sekitarnya. Pendidikan ini berkaitan dengan kesehatan, ibadah, dan seks.

Pendidikan kesehatan

Kesehatan adalah masalah penting dalam kehidupan manusia, terkadang kesehatan dipandang sebagai sesuatu yang biasa dalam dirinya. Orang baru sadar akan pentingnya kesehatan bila suatu saat dirinya atau keluarganya jatuh sakit. Dengan kata lain arti kesehatan bukan hanya terbatas pada pokok persoalan sakit kemudian dicari obatnya.

Nilai Pendidikan Ibadah

Ibadah semacam  kepatuhan dan sampai batas  penghabisan, yang bergerak dari perasaan hati untuk mengagungkan kepada yang disembah. Kepatuhan yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengabdikan diri pada Allah SWT.

c. Nilai Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah penerangan yang bertujuan untuk membimbing serta mengasuh tiaplaki-laki adan perempuan sejak dari anak-anak sampai dewasa, perihal kelamin umumnya dan kehidupan seks khususnya agar mereka     dapat   melakukan sebagaimmana mestinya sehingga kehidupan       berkelamin itu mendatangkan kebahagian dan kesejahteraan manusia.

Interaksi sistem nilai dalam proses pendidikan Islam

Sistem nilai atau sistem moral yang dijadikan kerangka acuan dan menjadi rujukan cara berperilaku lahiriah dan rohaniah manusia muslim ialah nilai dan moralitas yang diajarkan oleh agama Islam

sebagai wahyu. Nilai dan moralitas Islami bersifat menyeluruh, bulat, dan terpadu serta tidak terpecah- pecah menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Suatu nilai dan moralitas itulah yang mengandung aspek normatif (kaidah dan pedoman) dan operatif (menjadi landasan perbuatan).

C.    Relevansinya

Saat ini kita sedang menghadapi persoalan yang amat pelik berupa adanya gejala semakin merosotnya moralitas dalam praktik berbangsa dan bernegara. Memin-jam istilah Bertens (1996) bahwa dewasa ini dunia menghadapi fenomena baru yakni pluralisme moral, yang sering disebut sebagai salah satu ciri khas zaman kita. Fenomena baru itu bisa timbul karena pendekatan moral yang kian dominan adalah pemikiran hak. Manakala ternyata seseorang itu berhak, maka sesuatu perbuatan atau keadaan bisa dibenarkan secara moral. Hak makin diterima sebagai justifikasi moral yang utama. Hal semacam ini tentu saja akan membuat tatanan moral menjadi kacau balau karena hukum kodrat telah dijungkirbalikkan dengan semena-mena.

Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan remaja, problem sosial moral itu antara lain berwujud semakin meningkatnya hubungan seks pranikah, meningkatnya perkelahian antar pelajar (tawuran), meningkatnya penyalah-gunaan narkoba, merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orang tua, rendahnya kepedulian sosial. Munculnya perilaku yang meyimpang dikalangan remaja (juvenile deliquence) yang membahayakan ini, ternyata juga dilakukan oleh orang dewasa yang sebenarnya justru lebih membahayakan, tindakan pencurian dan perampokan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin, namun banyak pula dilakukan oleh orang kaya (korupsi), kolusi, nepotisme, tindak kekerasan, terror, yang semuanya itu menggambarkan indikasi kegagalan tercapainya tujuan pendidikan.

Pendidikan Islam adalah Harahapan

Sementara itu Al-Ghazali seperti yang dikutip oleh Abidin Ibnu Rusn dalam bukunya Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan merumuskan pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahun yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggungjawab orang tua dan masyarakat menu-ju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna (Ibnu Rusn, 1998).

Dari beberapa pendapat di atas tentang pendidikan dapatlah dimengerti bahwa pendidikan meliputi semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.

Dengan system Nilai yang diterapkan tanpa adanya unsur kecurangan akan membantu dan mempercepat proses pendidikan terutama pendidikan Islam. Walaupun dalam islam pada Hakikatnya bukanlah Nilai yang menjadi patokan. Akan tetapi menjadi salah satu rujukan untuk melihat apakah pendidikan dalam Islam itu berhasil atau tidak.

D.    Kesimpulan

Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka yang dimaksud  dengan hakikat dan makna nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang. Nilai bersifat abstrak, berada dibalik fakta, memunculkan tindakan, terdapat dalam moral seseorang, muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang kearah yang lebih kompleks.

Senada dengan Alquran sebagai sumber nilai dalam kehidupan manusia, Alquran memuat nilai normatif  yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri dari tiga pilar, yaitu: (1) nilai pendidikan keimanan (I’tiqadiah) (2) Nilai         pendidikan      akhlak (khuluqiyah)   (3)   nilai   pendidikan amal (amaliyah). Ketiganya menjadi kerangka nilai yang holistik dan menaungi seluruh nilai-nilai yang mengelilingi setiap kehidupan manusia.

 

 

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...