Sabtu, 21 Mei 2022

Susunan Ilmu Pengetahuan

 


A.      Susunan Ilmu Pengetahuan

Sebelum membahas menganai cara kerja ilmu sosial-humaniora, ilmu alam dan ilmu agama, penulis akan sedikit memaparkan mengenai metode keilmuan secara umum. Gaston Bachelard menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu produk pemikiran manusia yang sekaligus menyesuaikan antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Dengan kata lain, ilmu penegtahuan mengandung dua aspek, yaitu subjektif dan objektif.[1]

Dapat dikatan sebagai ilmu pengetahuan apabila mencakup enam unsur, yaitu[2]:

1.        Adanya masalah (problem); Disebut masalah yang ilmiah jika masalah tersebut dihadapi dengan sikap dan metode ilmiah dan berhubungan dengan masalah dan solusi ilmiah lain secara sistematis.

2.        Adanya sikap, dalam arti sikap ilmiah.

3.        Menggunakan metode ilmiah.

4.        Adanya aktivitas atau riset ilmiah.

5.        Adanya kesimpulan, yaitu pemahaman yang dicapai sebagai hasil pemecahan masalah.

6.        Adanya pengaruh. Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban.

Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban. Ilmu pengatahuan dikembangkan melalui metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, langkah dan cara teknis untuk


[1]Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001), hlm.139

[2] Archie J. Bahm, “What is science“, dalam Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004) hal 46.

memperoleh pengetahuan atau mengembangkan pengetahuan yang ada. Metode ilmiah tersebut terangkum dalam enam tahap berikut[1]:

1.        Perumusan masalah: dirumuskan secara tepat dan jelas dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan memiliki jalan untuk mngetahui fakta-fakta apa saja yang harus dikumpulkan.

2.        Pengamatan dan pengumpulan data atau observasi: penyelidikan dalam tahap ini memiliki corak empiris dan induktif yang diarahakan pada pengumpulan data.

3.        Pengamatan dan klasifikasi data: ditekankan pada penyusunan fakta-fakta dalam kelompok, jenis dan kelas tertentu berdasarkan sifat yang sama.

4.        Perumusan pengetahuan (definisi): ilmuwan mengadakan analisis dan sintesis sacara induktif. Melalui analisis dan sintesis ilmuwan mengadakan generalisasi (kesimpulan umum). Dalam tahap ini teori telah terbentuk.

5.        Tahap ramalan (prediksi): teori yang sudah terbentuk diturunkan dalam bentuk hipotesis

6.        Pengujian hipotesis atau verivikasi: jika fakta tidak mendukung hipotesis, maka hipotesis harus diubah, dibongkar dan diganti dengan hipotesis lain dan semua kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan. Data empiris penentu benar tidaknya hipotesis.



[1] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007) hlm.71-72. 

Jumat, 20 Mei 2022

Bunga Majemuk

 

A.   BUNGA MAJEMUK

1.      Pengertian dan Konsep Bunga Majemuk

Jika kita menyimpan modal berupa uang di bank selama periode bunga tertentu, misalnya satu tahun maka setelah satu tahun kita akan mendapatkan bunga sebesar p % kali modal yang kita bungakan. Jika bunga itu tidak kita ambil, tetapi ditambahkan pada modal awal untuk dibungakan lagi pada periode berikutnya, sehingga besarnya bunga pada setiap periode berikutnya berbeda jumlahnya (menjadi bunga berbunga), maka dikatakan modal tersebut dibungakan atas dasar bunga majemuk.

2.      Perbedaan Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk

Bunga tunggal dihitung berdasarkan modal yang sama setiap periode sedangkan bunga majemuk dihitung berdasarkan modal awal yang sudah ditambahkan dengan bunga.

3.      Perhitungan Nilai Akhir Modal

a.      Dengan menggunakan rumus

Jika modal sebesar M dibungakan atas dasar bunga majemuk sebesar p % setahun selama n tahun, maka besarnya modal setelah n tahun adalah:

·         Setelah satu tahun


Setelah n tahun

 

 Contoh: = 

b.      Dengan masa bunga pecahan

Untuk menghitung nilai akhir modal dengan masa bunga pecahan, digunakan langkah sebagai berikut:

1.      Hitunglah dulu nilai akhir dari modal berdasarkan masa bunga majemuk yang terdekat

2.    Sisa masa bunga yang belum dihitung, digunakan untuk menghitung bunga berdasarkan bunga tunggal dari nilai akhir pada 1

 

4.      Perhitungan nilai tunai modal

a.      Rumus nilai tunai

Rumus nilai akhir bunga majemuk adalah , 

rumus tersebut dapat diubah menjadi: 

M = modal mula-mula atau nilai tunai (NT)

Mn = modal setelah n jangka waktu, selanjutnya ditulis M

sehingga, 

Jadi, 


b.     Nilai tunai modal dengan daftar bunga


 

c.      Nilai tunai modal dengan masa bunga pecahan

Dari rumus nilai akhir modal dengan masa bunga pecahan, dapat dibentuk rumus nilai tunai modal dengan masa bunga pecahan sebagai berikut:

Diubah menjadi: 



Jika M = nilai tunai yang ditulis NT dan   


= modal setelah 


 periode yang ditulis M, maka rumus di atas berubah menjadi:


 

LATIHAN 2

1.      Carilah nilai akhir modal besarnya Rp 200.000,- yang diperbungakan dengan bunga majemuk 10 % tiap semester selama 1 tahun 3 bulan.

2.      Hitunglah nilai tunai dari Rp 16.900,- yang harus dibayar 2 tahun kemudian dengan bunga majemuk 30 % setahun.

3.      Uang sebesar Rp 100.000 diperbungakan dengan bunga majemuk 3 ½ % setiap triwulan. Setelah berapa lamakah uang itu diperbungakan,  agar supaya uang itu jumlahnya menjadi Rp 198.978,88.

4.      Modal sebesar Rp 50.000,- disimpan dengan bunga majemuk 10 % tiap catur wulan. Hitunglah nilai akhir modal itu setelah satu tahun.

5.      Hitung nilai akhir modal yang besarnya Rp 20.000,- diperbungakan selama 1 tahun 3 bulan atas dasar bunga majemuk 20 % tiap setengah tahun.

6.      Hitunglah nilai tunai dari Rp 185.900,- yang harus dibayarkan 2 tahun 4 bulan kemudian, dengan bunga majemuk 30 % setahun.

7.      Hitung nilai tunai uang Rp 200.000,- yang harus dibayar 8 tahun 2 bulan kemudian, apabila dasar bunga majemuk 4 % setiap semester.

8.      Carilah nilai tunai dari Rp 250.000,- yang harus dibayar 5 tahun 2 bulan kemudian dengan bunga majemuk 2 1/2 % tiap triwulan.

 

 

 

                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 19 Mei 2022

Sistem Nilai dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam

 

A.    Pendahuluan

Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan untuk membentuk manusia muslim sesuai dengan cita-cita Islam. Pendidikan Islam       memiliki komponen- komponen yang secara keseluruhan mendukung     terwujudnya pembentukan muslim yang ideal. Oleh karena itu, kepribadian muslim merupakan esensi sosok manusia yang hendak dicapai.

Di Lingkungan Masyarakat primitive (berbudaya asli ), pendidikan dilakukan oleh dan atas tanggungjawab kedua orang tua terhadap anak-anak mereka. Manusia yang hidup di hutan misalnya, akan membimbing dan melatih anak mereka  sesuai keadaan lingkungannya mengenali kehidupan hutan seperti mengenal makanan yang layak makan, menangkap    binatang, dan sebagainya. Pendidikan akan dianggap selesai bila mereka sudah menginjak dewasa, dan mampu mandiri setelah menguasai sejumlah ketrampilan praktis sesuai dengan kebutuhan hidup lingkunganya. Tujuan utamanya adalah untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan bertahan hidup di lingkunganya, sehingga generasi mereka akan berlanjut.

Dari ilustrasi di  atas, pendidikan memberikan peranan penting dan sangat urgen sekali dalam kehidupan manusia. Ini menunjukan, bahwa pendidikan memiliki nilai-nilai tersendiri, ketika nilai-nilai            tersebut diinternalisasikan kepada peserta didik, maka outputnya pun minimal sesuai dengan harapan dan kapasitas   nilai-nilai                     yang terkandung                     di         dalamnya. Permaslahan ini sangat penting untuk diuraikan secara holistik, bagaimana Sistem nilai dan relasinya dengan pendidikan. Sehingga, pendidikan yang diinternalisasikan tidak bebas nilai dan memiliki tujuan dan prinsip yang jelas.

 

B.     Ringkasan

Nilai artinya sifat-sifat yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.1 Maksudnya ialah kualitas            yang                memang membangkitkan penghargaan.2 Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia serta melembaga secara objektif di dalam masyarakat.

Menurut Sidi Gazalba, nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan ideal. Nilai  bukan benda konkret, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menurut pembuktian secara empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki

Sumber nilai dalam kehidupan

Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pendidikan Islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah SWT menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia, yang mana

Bentuk-bentuk nilai

Guna membedakan berdasarkan posisi dan kegunaannya, nilai secara universal dapat dibagi menjadi dua, yaitu nilai ilahiyah dan nilai insaniyah. Nilai ilahiyah berkaitan dengan nilai ketuhanan, sedangkan nilai insaniyah berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, Keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia. Tetapi, nilai-nilai yang dimaksud di sini ialah konsep yang berupa ajaran Islam, dimana ajaran Islam itu sendiri merupakan seluruh ajaran Allah yang bersumber dari Alquran dan Assunnah yang pemahamannya tidak terlepas dari pendapat para ahli yang telah lebih memahami dan menggali ajaran Islam.8

Tata nilai Islam sebagai tata nilai rabbani, bersumber dari wahyu dan hadits. Rumusan naql membentk syariat, sumber nilai akal membentuk etika. Etika ialah teori tentang perbuatan manusia, dipandang baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.9 Dengan demikian dapatlah diambil intisarinya dari dialektika naql dan

Nilai Pendidikan Keimanan (I’tiqadiyah)

Iman adalah kepercayaan yang terhujam kedalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak     (ragu-ragu)  serta mempengaruhi        orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian.

 

Nilai    Pendidikan     Akhlak (Khuluqiyah )

Nilai pendidikan         akhlak berkaitan dengan pendidikan etika yang                     bertujuanuntuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al- Ahzab ayat 21 yang berbunyi: Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. Al- Ahzab: 21).

Nilai Pendidikan Amaliah

Pendidikan amaliah berkaitan dengan tingkah laku manusia dengan tuhan maupun dengan            alam     sekitarnya. Pendidikan ini berkaitan dengan kesehatan, ibadah, dan seks.

Pendidikan kesehatan

Kesehatan adalah masalah penting dalam kehidupan manusia, terkadang kesehatan dipandang sebagai sesuatu yang biasa dalam dirinya. Orang baru sadar akan pentingnya kesehatan bila suatu saat dirinya atau keluarganya jatuh sakit. Dengan kata lain arti kesehatan bukan hanya terbatas pada pokok persoalan sakit kemudian dicari obatnya.

Nilai Pendidikan Ibadah

Ibadah semacam  kepatuhan dan sampai batas  penghabisan, yang bergerak dari perasaan hati untuk mengagungkan kepada yang disembah. Kepatuhan yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengabdikan diri pada Allah SWT.

c. Nilai Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah penerangan yang bertujuan untuk membimbing serta mengasuh tiaplaki-laki adan perempuan sejak dari anak-anak sampai dewasa, perihal kelamin umumnya dan kehidupan seks khususnya agar mereka     dapat   melakukan sebagaimmana mestinya sehingga kehidupan       berkelamin itu mendatangkan kebahagian dan kesejahteraan manusia.

Interaksi sistem nilai dalam proses pendidikan Islam

Sistem nilai atau sistem moral yang dijadikan kerangka acuan dan menjadi rujukan cara berperilaku lahiriah dan rohaniah manusia muslim ialah nilai dan moralitas yang diajarkan oleh agama Islam

sebagai wahyu. Nilai dan moralitas Islami bersifat menyeluruh, bulat, dan terpadu serta tidak terpecah- pecah menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Suatu nilai dan moralitas itulah yang mengandung aspek normatif (kaidah dan pedoman) dan operatif (menjadi landasan perbuatan).

C.    Relevansinya

Saat ini kita sedang menghadapi persoalan yang amat pelik berupa adanya gejala semakin merosotnya moralitas dalam praktik berbangsa dan bernegara. Memin-jam istilah Bertens (1996) bahwa dewasa ini dunia menghadapi fenomena baru yakni pluralisme moral, yang sering disebut sebagai salah satu ciri khas zaman kita. Fenomena baru itu bisa timbul karena pendekatan moral yang kian dominan adalah pemikiran hak. Manakala ternyata seseorang itu berhak, maka sesuatu perbuatan atau keadaan bisa dibenarkan secara moral. Hak makin diterima sebagai justifikasi moral yang utama. Hal semacam ini tentu saja akan membuat tatanan moral menjadi kacau balau karena hukum kodrat telah dijungkirbalikkan dengan semena-mena.

Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan remaja, problem sosial moral itu antara lain berwujud semakin meningkatnya hubungan seks pranikah, meningkatnya perkelahian antar pelajar (tawuran), meningkatnya penyalah-gunaan narkoba, merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orang tua, rendahnya kepedulian sosial. Munculnya perilaku yang meyimpang dikalangan remaja (juvenile deliquence) yang membahayakan ini, ternyata juga dilakukan oleh orang dewasa yang sebenarnya justru lebih membahayakan, tindakan pencurian dan perampokan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin, namun banyak pula dilakukan oleh orang kaya (korupsi), kolusi, nepotisme, tindak kekerasan, terror, yang semuanya itu menggambarkan indikasi kegagalan tercapainya tujuan pendidikan.

Pendidikan Islam adalah Harahapan

Sementara itu Al-Ghazali seperti yang dikutip oleh Abidin Ibnu Rusn dalam bukunya Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan merumuskan pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahun yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggungjawab orang tua dan masyarakat menu-ju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna (Ibnu Rusn, 1998).

Dari beberapa pendapat di atas tentang pendidikan dapatlah dimengerti bahwa pendidikan meliputi semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.

Dengan system Nilai yang diterapkan tanpa adanya unsur kecurangan akan membantu dan mempercepat proses pendidikan terutama pendidikan Islam. Walaupun dalam islam pada Hakikatnya bukanlah Nilai yang menjadi patokan. Akan tetapi menjadi salah satu rujukan untuk melihat apakah pendidikan dalam Islam itu berhasil atau tidak.

D.    Kesimpulan

Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka yang dimaksud  dengan hakikat dan makna nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang. Nilai bersifat abstrak, berada dibalik fakta, memunculkan tindakan, terdapat dalam moral seseorang, muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang kearah yang lebih kompleks.

Senada dengan Alquran sebagai sumber nilai dalam kehidupan manusia, Alquran memuat nilai normatif  yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri dari tiga pilar, yaitu: (1) nilai pendidikan keimanan (I’tiqadiah) (2) Nilai         pendidikan      akhlak (khuluqiyah)   (3)   nilai   pendidikan amal (amaliyah). Ketiganya menjadi kerangka nilai yang holistik dan menaungi seluruh nilai-nilai yang mengelilingi setiap kehidupan manusia.

 

 

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...