Minggu, 05 Juni 2022

Pembelajaran matematika model PBL (Problem Based Learning) Pada Mata pelajaran matematika

 

PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

 

A.    PENDAHULUAN

Setiap manusia dalam kehidupannya tentu melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan dimana saja tidak harus di sekolah sebagai lembaga formal, melainkan bisa juga bersifat informal. Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal, untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu.

Belajar dapat didefinisikan Winkel (dalam Suprihatiningrum, 2013, pp. 15) sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang  berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan nilai sikap. Kunci keberhasilan belajar berada pada dalam diri individu. Semakin kuat keinginan untuk belajar, maka keberhasilan belajar akan tercapai. Di dalam interaksi belajar, individu pasti mengalami kesukaran. Kesukaran tersebut merupakan sebagai akibat kurangnya belajar. Hasil belajar selalu sesuai dengan proses belajar yang dialami oleh seorang individu.

Hasil belajar sendiri didefinisikan (Sudjana, 2011, pp. 22)  sebagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar tiap individu berbeda-beda, tergantung kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Hasil belajar dapat dinilai salah satunya yakni dengan cara tes dan bukan tes. Bentuk penilaian tes yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan bukan tes yaitu dengan alat kuesioner dan wawancara, skala (skala penilaian, skala sikap, skala minat), observasi atau pengamatan, studi kasus, sosiometri. Perubahan perilaku siswa sebagai hasil belajar, sangat tergantung dari pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Agar siswa mencapai hasil belajar sesuai yang diharapkan, guru dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan, dan menggunakan metode pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menghendaki situasi belajar yang alamiah, yaitu siswa belajar dengan sungguh- sungguh dengan cara mengalami dan menemukan sendiri pengalaman belajarnya. Berbagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa Sekolah Dasar untuk dapat menguasai kompetensi hingga mencapai standar kompetensi kelulusan. Salah satu pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa adalah mata pelajaran Matematika. Matematika bagi siswa Sekolah Dasar berguna untuk kehidupan sehari-hari di lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kemudian. Kegunaan atau manfaat matematika bagi para siswa Sekolah Dasar adalah sesuatu yang jelas dan tidak perlu dipersoalkan lagi, lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Namun, pelajaran Matematika ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi peserta didik. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik, namun hasilnya juga kurang maksimal.

Oleh karena itu, penguasaan terhadap matematika mutlak diperlukan dan konsep- konsep matematika harus benar-benar difahami sejak dini. Sepintas lalu konsep matematika yang diberikan kepada siswa SD sangatlah mudah dan sederhana, tetapi sebenarnya materi matematika SD memuat konsep-konsep mendasar dan penting serta tidak boleh dipandang sepele. Diperlukan kecermatan dalam menyajikan konsep-konsep tersebut agar siswa mampu memahami secara benar, sebab kesan dan pandangan yang diterima siswa terhadap suatu konsep di SD  akan terus dibawa pada masa-masa selanjutnya.

Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan pada proses memberi pengalaman kepada siswa dalam memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan. Pengetahuan awal siswa yang diperoleh dari pengalaman mengamati fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal memberikan latar belakang dalam membangun pengetahuan awal siswa. Setiap siswa tentu mempunyai tafsiran yang berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep baru yang sesuai dengan konsep ilmuwan.

Guru hendaknya merancang pembelajaran yang efektif dengan memperhatikan karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang pembelajaran dengan memilih pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang utuh antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, sebagaimana yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan model pembelajaran diharapkan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Kurikulum 2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning (PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.

Makalah ini hanya akan membahas pembelajaran berbasis proyek (project based learning = PjBL) diantara banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil belajar kognitif (Baran dan Maskan, 2010), membentuk sikap dan prilaku peduli terhadap lingkungan (Kılınç, 2010;

 

B.     PEMBAHASAN

1.      PENYEBAB RENDAHNYA NILAI MATEMATIKA SISWA

(Rukmini, 2014, pp. 2)menyatakan beberapa alasan rendahnya minat belajar siswa adalah metode pembelajaran yang kurang efektif dan efisien menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang monoton dari waktu ke waktu sehingga siswa merasa bosan dan kurang berminat. Metode pembelajaran matematika yang umumnya digunakan oleh guru matematika adalah metode konvensional yang mengandalkan ceramah dan alat bantu utama papan tulis, sehingga siswa cenderung pasif dan kurang dilibatkan dalam pembelajaran di kelas. Ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran matematika dapat menghambat pencapaian hasil belajar matematika. Faktor lain penyebab rendahnya minat siswa untuk belajar matematika adalah lingkungan, kelas yang tidak kondusif dapat menghambat proses pembelajaran matematika. Guru kurang mampu mengkondisikan kelas, sehingga siswa membicarakan hal lain di luar topik pelajaran yang disampaikan oleh guru, lingkungan yang gaduh membuat pembelajaran kurang efektif dan efisien. Hal tersebut berdampak terhadap hasil belajar matematika yang tidak optimal. Proses pembelajaran khususnya pembelajaran matematika akan lebih efektif dan bermakna apabila siswa berpartisipasi aktif.

2.      BAGAIMANAKAN PEMBELAJARAN YANG BAIK

Pembelajaran dikatakan baik apabila seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut saling  mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Faktor- faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut antara lain guru, model, metode, sarana dan prasarana. Keberhasilan belajar matematika siswa tidak terlepas dari kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kualitas pengajaran yang dilakukan pengajaran yang dimaksud adalah efektif tidaknya proses pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila siswa terlibat secara aktif menemukan dan membangun serta mengembangkan sendiri pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kata lain siswa secara aktif dilibatkan dalam mengorganisasikan dan menemukan sendiri hubungan informasi yang diperoleh.

Pembelajaran Matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah atau mengajukan masalah riil atau nyata, yaitu pembelajaran yang mengaitkan dengan  kehidupan sehari-hari siswa, kemudian siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep Matematika dengan melibatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Ketika siswa belajar matematika, maka yang dipelajari adalah penerapan matematika yang dekat dengan kehidupan siswa. Situasi pembelajaran sebaiknya dapat menyajikan fenomena dunia nyata, masalah yang autentik dan bermakna, dapat menantang siswa untuk memecahkannya. Guru harus dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Guru yang baik dan bijaksana mampu menggunakan model pembelajaran yang berkaitan dengan cara memecahkan masalah (problem  solving). Salah satu model pembelajaran yang diterapkan adalah pengajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Learning (PBL).

Menurut Tan(dalam Rusman, 2012, pp.229) Model PBL (Problem Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan. Beberapa masalah dalam dunia nyata yaitu tentang pengukuran seperti menghitung luas rumah, menghitung jumlah teman, tinggi badan, berat badan, pecahan, operasi bilangan, dan penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari.

Pokok bahasan luas bidang merupakan suatu materi yang sangat dekat dengan kehidupan nyata. Banyak peristiwa yang kita jumpai sehari-hari menggunakan pengukuran luas bidang. Sebagai contoh, menghitung suatu ruangan, halaman, dan lain-lain merupakan penerapan dari luas bidang. Dengan demikian, materi luas bidang sesuai apabila dalam penyampaiannya menggunakan model Problem Based Learning (PBL).

 

3.      SALAH SATU SOLUSI MENINGKATKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING

Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009, pp. 90) (dalam Trianto, 2009:90) Belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan ini secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya yang baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan dan materi guna memperoleh pengertian serta bisa dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya.

Pada kesempatan lain, Ratumanan (dalam Trianto, 2009:92) mengatakan pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pembelajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memperoleh informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.

Menurut Arends (dalam Trianto, 2009:92) pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. Lain lagi dengan Moffit, (dalam Rusman, 2012:241) pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata bagi siswa untuk belajar berfikir kritis dan keterampilan pemecahkan masalah.

Menurut Tan (dalam Rusman, 2012:229) pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berfikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.

Jadi model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu proses dimana siswa dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan masalah yang ada sehingga siswa mampu berfikir kritis yang dapat mengembangkan keterampilan berfikirnya.

4.      PENGERTIAN PROBLEM BASED LEARNING

Problem Based Learning atau PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa dan guru untuk memecahkan masalah secara bersama-sama.Siswa mempelajari materi tersebut dan harus terampil mengatasi masalah yang terlibat di berbagai situasi seperti di kehidupan nyata, sedangkan guru perannya adalah menyodorkan berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan mendukung pembelajaran siswa.

Problem Based Learning merupakan salah satu cara yang harus banyak digunakan dalam pembelajaran karena metode pemecahan masalah merupakan metode mengajar yang banyakmengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Metode pemecahan masalah sering juga digunakan dalam implementasi pembelajaran terpadu maupun kontekstual karena pebelajaran ini dikembangkan secara integritas antara kemampuan siswa dengan topik bahasan maupun lingkungan.[1]

Ada pula beberapa para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai metode pembelajaran “Problem Based Learning”, diantaranya :

1.      Jonassen

Mendesain model lingkungan belajar konstruktivistik yang memuat komponen esensial yang meliputi pertanyaan kasus, masalah, atau proyek, kasus-kasus yang saling berkaitan satu sama lain, sumber-sumber informasi kognitif tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dukungan kontekstual atau social.[2]

1.      Duch

Problem-Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995)[3]

2.      Finkle dan Torp (1995)

PBM merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara simultan strategi pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.[4]

 

5.      Karakteristik PBM

1.      Dimulai dengan satu masalah

Dalam metode pembelajaran “Problem Based Learning” suatu permasalahan adalah unsur utama dalam kegiatan belajar.Permasalahan diberikan oleh guru atau dari pengalaman siswa.

2.      Masalah berhubungan dengan dunia nyata

Masalah yang diberikan harus masalah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

3.      Tujuan pembelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu.

Jadi tujuan pembelajaran dibatasi sesuai masalah yang diajukan tidak utuh sesuai materi pembelajaran seharusnya.

4.      Memberikan tanggung jawab untuk membentuk dan menjalankan proses belajar mereka.

Proses belajar diserahkan kepada siswa untuk berkelompok dan berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan, sedangkan guru hanya mendampingi dan membantu untuk menjelaskan setelah siswa memaparkan hasil diskusinya

5.      Pembahasan masalah dilakukan dalam diskusi kelompok

Pembahasan masalah dilakukan berkelompok supaya anak bisa bertukar pikiran dan aktif mengemukakan pendapat serta pengetahuannya yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.

6.      Memaparkan masalah tersebut dalam bentuk hasil yang telah didiskusikan sebelumnya.

Setelah berdiskusi dengan kelompok dan mencari informasi tambahan dari berbagai referensi yang berhubungan dengan permasalahan tersebut, siswa memaparkan hasil diskusi yaitu solusi untuk permasalahan yang diberikan.

6.      Merencanakan Pembelajaran PBM

1.      Memutuskan sasaran dan tujuan

Salah satu cara untuk membantu mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan, intelektual, dan investigative, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa untuk menjadi pelajar yang mandiri. Akan tetapi, kemungkinan yang lebih besar adalah guru hanya akan menekankan pada satu atau dua tujuan dalam pembelajaran tertentu.

 

2.      Merancang Situasi bermasalah yang tepat

Kenyataannya bahwa situasi bermasalah yang membingungkan atau tidak jelas akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa, sehingga membuat mereka tertarik untuk menyelidiki. Sebuah situasi bermasalah yang baik harus memenuhi 5 kriteria penting, yaitu :

a.       Situasi pemasalahannya autentik. Hal ini berarti bahwa masalahnya harus dikaitkan dengan pengalaman real siswa dan bukan dengan prinsip-prinsip disiplin akademis tertentu.

b.      Masalah itu seharusnya tidak jelas sehingga menciptakan misteri atau teka-teki, hal ini tidak dapat diselesaikan dengan jawaban sederhana dan membuktikan solusi-solusi alternatif. Sehingga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dan berdebat.

c.       Masalah itu seharusnya bermakna bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Dalam permasalahan tersebut harus terdapat ilmu yang dapat dipelajari siswa secara tidak langsung dan permasalahan tidak jauh dari kehidupan nyata peserta didik.

d.      Masalah itu seharusnya cukup luas.

Hal ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memenuhi tujuan instruksionalnya, tetapi tetap dalam batasan-batasan yang fisibel bagi pelajarannya dilihat dari segi waktu, ruang, dan keterbatasan sumber daya.

e.       Masalah yang baik harus mendapatkan manfaat dari usaha kelompok bukan justru dihalanginya.

3.      Mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan logistic

Dalam hal ini guru sebagai penanggungjawab meyediakan bahan-bahan dan sumber daya lainnya yang akan digunakan oleh peserta didik.

 

 

 

7.      Pelaksanaan PBL

1.      Guru

Fase

Perilaku guru

1.      Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa

 

 

2.      Mengorgasisasikan siswa untuk meneliti

 

3.      Membantu investigasi mandiri dan kelompok

 

4.      Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit.

 

5.      Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

-          Guru membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistic penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.

-          Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya.

-          Guru mendorong siswa untuk mendapatkkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen dan dan mencari penjelasan dan solusi.

-          Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan membantu mereka untuk menyampaikan kepada orang lain.

-          Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang digunakan.[5]

2.      Peserta Didik

a.       Guru memberikan sebuah permasalahan kepada siswa.

b.      Kemudian siswa berdiskusi dalam sebuah kelompok untuk mengidentifikasikan masalah tersebut dengan beberapa cara :

1)      Mengklasifikasi masalah

2)      Membuat kerangka masalah

3)      Bertukar pikiran dengan sesama  anggota

4)      Menyusun hipotesis dari masalah tersebut

c.       Mengkaji dan mencari data seputar permasalahn tersebut dengan berbagai media seperti buku, internet, surat kabar, dan lain-lain

d.      Kemudian mendiskusikan kembali hasil yang telah didapat dari hasil pengkajian dan pencarian data sebelumnya dan membandingkan hasilnya dengan hipotesis yang ada.

e.       Mengemukakan solusi yang didapat dari diskusi.

f.       Kemudian hasil yang didapat dievaluasi bersama guru sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

8.      Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Pemecahan Masalah

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari model pembelajaran “Problem Based Learning” tentu ada beberapa hal yang harus dipenuhi, baik dari sisi guru maupun dari sisi peserta didik. Hal-hal yang harus dipenuhi diantaranya, yaitu :

1.      Guru

·         Mampu membimbing siswa dari merumuskan hipotesis sampai pada pembuktian dan kesimpulan serta membuat pemecahan masalah.

·         Menguasai konsep dari permasalahan yang akan dipecahkan.

·         Mampu mengelola kelas.

·         Mampu menciptakan kondisi pembelajaran pemecahan masalah secara efektif.

·         Mampu memberikan penilaian secara proses.[6]

2.      Peserta Didik

·         Memiliki motivasi , perhatian, dan minat belajar melalui pemecahan masalah.

·         Memeliki kemampuan pelaksanaan pemecahan masalah.

·         Memiliki sikap yang tekun, teliti, dan kerja keras.

·         Mampu menulis, membaca, dan menyimak dengan baik.[7]

 

 

 

9.      Kelebihan dan Kekurangan

1.      Kelebihan

a.       Membuat siswa lebih aktif

b.      Potensi siswa lebih berkembangan.

c.       Siswa dapat mengaplikasikan materi yang dia dapat dengan permasalahan dikehidupan nyata

d.             Siswa memahami dan mendapat manfaat  dari apa yang dipelajari

2.      Kekurangan

a.       Tidak semua sekolah dapat melaksanakan sistem pembelajaran berbasis masalah karena menyebabkan kelas menjadi tidak kondusif.

b.      Pelaksanaan PBL butuh waktu yang lama sehingga dianggap kurang efisien

c.       Siswa tidak mendapat pengetahuan dasar secara utuh.

 

10.  Teori Yang Melandasi Model Problem Based Learning

a.      Beberapa Teori yang Melandasi Model PBL yaitu :

(1)           Teori Belajar Bermakna dari David Ausubel

Ausubel (dalam Rusman, 2012:224) membedakan antara belajar bermakna (meaningfull learning) dengan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Belajar menghafal, diperlukan bila seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Kaitan dengan PBL dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.

(2)      Teori Belajar Vygotsky

Perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian membangun pengertian baru. Menurut Ibrahim dalam (dalam Rusman, 2012:244) Vygotsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitan dengan PBL dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam interaksi sosial dengan teman lain.

(3)      Teori Belajar Jerome S. Bruner

Metode penemuan merupakan metode  di mana siswa menemukan kembali, bukan menemukan yang sama sekali benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (dalam Rusman, 2012:245).

Bruner juga menggunakan konsep Scaffolding dan interaksi sosial di kelas maupun di luar kelas. Scaffolding adalah suatu proses untuk membantu siswa menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan guru, teman atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.

Pelaksanaan Model PBL

(1)      Tugas-tugas Perencanaan

Menurut Trianto (2009:98) karena hakekat interaktifnya, model PBL membutuhkan banyak perencanaan, seperti halnya model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.

(a)      Penetapan Tujuan

Model PBL dirancang untuk mencapai tujuan- tujuan seperti keterampilan menyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri.

(b)      Merancang Situasi Masalah

Beberapa guru dalam PBL lebih suka memberi kesempatan dan keleluasaan kepada siswa untuk memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi siswa.

(c)                       Organisasi Sumber Daya dan Rencana Logistik

Dalam PBL, siswa dimungkinkan bekerja dengan beragam material dan peralatan.

Pelaksanaannya bisa dilakukan di dalam kelas, di perpustakaan, atau laboratorium, bahkan dapat pula dilakukan di luar sekolah.

(2)      Tugas Interaktif

(a)      Mengarahkan siswa pada masalah

Siswa perlu memahami bahwa tujuan PBL adalah tidak untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah penting dan untuk menjadi pelajar yang mandiri. Cara yang baik dalam menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dalam PBL adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri sehingga membangkitkan minat dan keinginan untuk menyelesaikan masalah- masalah yang dihadapi.

(b)      Mengorganisasikan siswa untuk belajar Pada model PBL dibutuhkan pengembangan keterampilan kerja sama di antara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara  bersama.          Berkenaan dengan            hal tersebut, siswa memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas- tugas pelaporan.

(c)                                 Membantu     penyelidikan            mandiri            dan kelompok

·      Guru                    membantu       siswa   dalam pengumpulan informasi dari berbagai

sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.

·      Guru mendorong pertukaran ide gagasan secara bebas dan penerimaan sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam hal penyelidikan model PBL. Selama dalam tahap penyelidikan guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu aktivitas siswa.

·      Puncak tugas-tugas PBL adalah penciptaan dan peragaan hasil karya seperti laporan, poster, model-model fisik, dan videotape.

(d)                       Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

Tugas guru pada tahap akhir PBL adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

(3)                       Lingkungan Belajar dan Tugas-tugas Manajemen

Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa guru perlu memiliki seperangkat aturan yang jelas agar pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan, dapat menangani perilaku siswa yang menyimpang secara cepat dan tepat, juga perlu memiliki panduan mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.

Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru dalam pengelolaan kelas, yang menggunakan model PBL adalah bagaimana mengenai siswa baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal maupun yang terlambat. Dengan kata lain, kecepatan penyelesaian tugas tiap individu maupun kelompok berbeda-beda. Pada model PBL siswa dimungkinkan untuk mengerjakan tugas multi (rangkap), dan waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut dapat berbeda-beda. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengelolaan dan pemantauan kerja siswa yang rumit.

Dalam model PBL, guru sering menggunakan sejumlah bahan dan peralatan, dan hal ini biasanya dapat merepotkan guru dalam pengelolaannya. Oleh karena itu, untuk efektivitas kerja guru harus memiliki aturan dan prosedur yang jelas dalam pengelolaan, penyimpanan, dan pendistribusian bahan.

Selain itu juga tidak kalah pentingnya, guru harus menyampaikan aturan, tata krama, dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan penyelidikan di masyarakat.

(4)          Penilaian (Assesment) dan Evaluasi Seperti halnya dalam model

pembelajaran kooperatif, dalam model PBL fokus perhatian, pembelajaran tidak pada perolehan pengetahuan deklaratif. Oleh karena itu, tugas penilaian tidak cukup bila penilaiannya hanya dengan tes tertulis. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model PBL adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil penyelidikan mereka. Evaluasi yang sesuai untuk model PBL terutama adalah menemukan prosedur penilaian alternatif yang akan digunakan untuk mengukur pekerjaan siswa. Misalnya, dengan penilaian kinerja dan peragaan hasil. Penilaian kinerja dapat berupa penilaian     melakukan       pengamatan, merumuskan pertanyaan, merumuskan sebuah hipotesa dan sebagainya.

11.  Sintaks Model PBL

Fase

Perilaku Guru

 

Fase 1: Mengarahkan siswa pada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik (bahan dan alat) yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.

Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru      membantu      siswa      mendefinisikan              dan mengorganisasikan     tugas  belajar              yang          berhubungan

dengan masalah yang akan dipecahkan.

 

Fase 3: Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah yang

dihadapi siswa.

 

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya nyata yang sesuai seperti: laporan, video, dan model, serta membantu mereka untuk berbagi

tugas dengan temannya.

 

Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil penyelidikan mereka dan proses- proses pembelajaran yang mereka gunakan berupa langkah-langkah pemecahan masalah dari masalah yang

muncul dan dihadapi oleh siswa.

Tabel 1. Sintaks Model PBL Menurut Suyanto, (2013:155)

Kelebihan dan Kekurangan Model PBL

a.  Kelebihan Model Problem Based Learning

(PBL)

1.    Realistik dengan kehidupan siswa.

2.    Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa.

3.    Memupuk sifat inquiry siswa.

4.    Retensi konsep jadi kuat.

5.    Memupuk      kemampuan      Problem Solving.

b.    Kekurangan    Model    Problem    Based Learning (PBL)

1.    Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks.

2.    Sulitnya mencari problem yang relevan.

3.    Sering terjadi miss-konsepsi.

4.    Konsumsi waktu, di mana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.

Kelebihan model Problem Based Learning yaitu pembelajaran berdasarkan situasi nyata yang dihadapi siswa dilingkungannya, masalah yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa misalnya siswa

mampu mengitung luas kamar, melibatkan siswa dalam proses penyelidikan, kemampuan untuk mengingat materi yang telah dipelajari menjadi kuat, dan dapat menambah kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang ada. Sedangkan kekurangan dari model Problem Based Learning yaitu persiapan pembelajaran memerlukan alat, sarana dan prasana yang tidak semua sekolah memilikinya, sulit mencari masalah yang pas dengan materi yang akan digunakan saat proses pembelajaran, model PBL tidak mencakup semua informasi atau pengetahuan dasar, sehingga siswa tidak dapat memperoleh pemahaman materi secara keseluruhan, dan pelaksanaan PBL memerlukan waktu yang cukup lama, standar 35-50 menit untuk satu jam pelajaran yang banyak dijumpai di berbagai sekolah tidak mencukupi standar waktu pelaksanaan PBL yang melibatkan aktivitas peserta didik di luar sekolah.

Solusi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), yaitu melakukan pengorganisasian   dalam                                    persiapan pembelajaran, menyajikan bahan belajar yang kreatif dan menarik supaya siswa termotivasi agar berhasil dalam belajar, selain itu sebaiknya memberikan petunjuk yang jelas pada LKS supaya meminalisir siswa untuk bertanya sehingga siswa lebih terbiasa mandiri.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharmisi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Perdana, Mayang Putri. 2014. Pengaruh Metode Problem Solving Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII MTs. Assyafi’iyah Gondang Pada Materi Hubungan Sudut Pusat, Panjang Busur, Dan Luas Juring Dalam Pemecahan Masalah. Tulungagung. [repo.iain- tulungagung.ac.id/314/3/SKRIPSI%20S AYA.pdf. Di akses 23 Juni 2016]

Rukmini, Mimin. 2014. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Probing Prompting Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas III Sekolah Dasar Negeri Bandung Kulon Kec. Astana Anyar Kota Bandung. Bandung. Di akses      20        Mei      2016.

[repository.upi.edu/6542/4/S_PGSD_09 05311_Chapter1.pdf]

Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran.

Depok: PT Rajagrafindo Persada.

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Suprihatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran: Teori & Aplikasi. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Suyanto. 2013. Menjadi Guru Profesional – Strategi Meningkatkan Kualifikasi Dan Kualitas Guru Di Era Global. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Trianto, M.PD. 2009. Mendesain Model Pembelajaran                   Inovatif-Progresif, Konsep,     Landasan,                         Dan

Implementasinya                         Pada KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana.



[1]Sri Anitah W. dkk.,2008, Strategi Pembelajaran, Jakarta, Penerbit Universitas Terbuka,hlm,5.31

[2] http:buanatiwi.wordpress.com/2013/04/09/model-pembelajaran-problem-based-learning/

[3]http://gayahidupalami.wordpress.com/pendidikan/problem-based-learning/

[4]http://gayahidupalami.wordpress.com/pendidikan/problem-based-learning/

[6]Opcit, hlm.5.32

[7]Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...