PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATA
PELAJARAN MATEMATIKA
A. PENDAHULUAN
Setiap manusia dalam kehidupannya tentu
melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan dimana saja tidak
harus di sekolah sebagai lembaga formal, melainkan bisa juga bersifat informal.
Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal,
untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu.
Belajar dapat didefinisikan Winkel (dalam
Suprihatiningrum, 2013, pp. 15) sebagai suatu aktivitas mental/psikis,
yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampilan-keterampilan
dan nilai sikap. Kunci keberhasilan belajar berada pada dalam diri individu.
Semakin kuat keinginan untuk belajar, maka keberhasilan belajar akan tercapai.
Di dalam interaksi belajar, individu pasti mengalami kesukaran. Kesukaran
tersebut merupakan sebagai akibat kurangnya belajar. Hasil belajar selalu
sesuai dengan proses belajar yang dialami oleh seorang individu.
Hasil belajar sendiri didefinisikan (Sudjana,
2011, pp. 22) sebagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar tiap individu
berbeda-beda, tergantung kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Hasil belajar dapat dinilai salah satunya yakni dengan cara tes dan bukan tes.
Bentuk penilaian tes yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan bukan tes
yaitu dengan alat kuesioner dan wawancara, skala (skala penilaian, skala sikap,
skala minat), observasi atau pengamatan, studi kasus, sosiometri. Perubahan
perilaku siswa sebagai hasil belajar, sangat tergantung dari pendekatan
pembelajaran yang digunakan guru. Agar siswa mencapai hasil belajar sesuai yang
diharapkan, guru dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip pembelajaran,
pemilihan, dan menggunakan metode pembelajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
menghendaki situasi belajar yang alamiah, yaitu siswa belajar dengan sungguh-
sungguh dengan cara mengalami dan menemukan sendiri pengalaman belajarnya.
Berbagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa Sekolah Dasar untuk dapat
menguasai kompetensi hingga mencapai standar kompetensi kelulusan. Salah satu
pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa adalah mata pelajaran Matematika.
Matematika bagi siswa Sekolah Dasar berguna untuk kehidupan sehari-hari di
lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari
ilmu-ilmu yang kemudian. Kegunaan atau manfaat matematika bagi para siswa
Sekolah Dasar adalah sesuatu yang jelas dan tidak perlu dipersoalkan lagi,
lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.
Namun, pelajaran Matematika ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi
bagi peserta didik. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didik, namun hasilnya juga kurang
maksimal.
Oleh karena itu, penguasaan terhadap matematika
mutlak diperlukan dan konsep- konsep matematika harus benar-benar difahami
sejak dini. Sepintas lalu konsep matematika yang diberikan kepada siswa SD
sangatlah mudah dan sederhana, tetapi sebenarnya materi matematika SD memuat
konsep-konsep mendasar dan penting serta tidak boleh dipandang sepele.
Diperlukan kecermatan dalam menyajikan konsep-konsep tersebut agar siswa mampu
memahami secara benar, sebab kesan dan pandangan yang diterima siswa terhadap
suatu konsep di SD akan terus dibawa pada masa-masa selanjutnya.
Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan pada proses
memberi pengalaman kepada siswa dalam
memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan. Pengetahuan awal siswa yang diperoleh
dari pengalaman mengamati fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal memberikan latar belakang dalam
membangun pengetahuan awal siswa. Setiap
siswa tentu mempunyai tafsiran yang berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh
dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran
di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep
baru yang sesuai dengan
konsep ilmuwan.
Guru hendaknya merancang
pembelajaran yang efektif
dengan memperhatikan
karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang
pembelajaran dengan memilih
pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang
utuh antara pendekatan, strategi,
metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah
model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan
bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran.
Mencermati upaya reformasi
pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan
model pembelajaran, sebagaimana
yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan
model pembelajaran diharapkan
dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Kurikulum 2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan
model pembelajaran yang sesuai
dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning
(PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery
learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada
siswa dan memberikan pengalaman
belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.
Makalah ini hanya akan membahas pembelajaran berbasis
proyek (project based learning = PjBL) diantara
banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil
belajar kognitif (Baran dan Maskan, 2010), membentuk
sikap dan prilaku peduli terhadap lingkungan (Kılınç, 2010;
B. PEMBAHASAN
1. PENYEBAB RENDAHNYA NILAI MATEMATIKA SISWA
(Rukmini,
2014, pp. 2)menyatakan
beberapa alasan rendahnya minat belajar siswa adalah metode pembelajaran yang
kurang efektif dan efisien menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang monoton dari waktu ke
waktu sehingga siswa merasa bosan dan kurang berminat. Metode pembelajaran
matematika yang umumnya digunakan oleh guru matematika adalah metode
konvensional yang mengandalkan ceramah dan alat bantu utama papan tulis,
sehingga siswa cenderung pasif dan kurang dilibatkan dalam pembelajaran di kelas.
Ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran
matematika dapat menghambat pencapaian hasil belajar matematika. Faktor lain
penyebab rendahnya minat siswa untuk belajar matematika adalah lingkungan,
kelas yang tidak kondusif dapat menghambat proses pembelajaran matematika. Guru
kurang mampu mengkondisikan kelas, sehingga siswa membicarakan hal lain di luar
topik pelajaran yang disampaikan oleh guru, lingkungan yang gaduh membuat
pembelajaran kurang efektif dan efisien. Hal tersebut berdampak terhadap hasil
belajar matematika yang tidak optimal. Proses pembelajaran khususnya
pembelajaran matematika akan lebih efektif dan bermakna apabila siswa
berpartisipasi aktif.
2. BAGAIMANAKAN PEMBELAJARAN YANG BAIK
Pembelajaran dikatakan baik apabila seluruh
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut saling mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Faktor- faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut antara lain guru, model,
metode, sarana dan prasarana. Keberhasilan belajar matematika siswa tidak
terlepas dari kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kualitas
pengajaran yang dilakukan pengajaran yang dimaksud adalah efektif tidaknya
proses pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila siswa
terlibat secara aktif menemukan dan membangun serta mengembangkan sendiri
pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kata lain siswa secara aktif dilibatkan
dalam mengorganisasikan dan menemukan sendiri hubungan informasi yang diperoleh.
Pembelajaran Matematika hendaknya dimulai
dengan pengenalan masalah atau mengajukan masalah riil atau nyata, yaitu
pembelajaran yang mengaitkan dengan kehidupan
sehari-hari siswa, kemudian siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai
konsep Matematika dengan melibatkan peran aktif siswa dalam proses
pembelajaran. Ketika siswa belajar matematika, maka yang dipelajari adalah
penerapan matematika yang dekat dengan kehidupan siswa. Situasi pembelajaran
sebaiknya dapat menyajikan fenomena dunia nyata, masalah yang autentik dan
bermakna, dapat menantang siswa untuk memecahkannya. Guru harus dapat membuka
wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga dapat mempelajari
berbagai konsep dan cara mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Guru yang baik
dan bijaksana mampu menggunakan model pembelajaran yang berkaitan dengan cara
memecahkan masalah (problem solving). Salah satu model pembelajaran
yang diterapkan adalah pengajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Learning (PBL).
Menurut Tan(dalam
Rusman, 2012, pp.229) Model PBL (Problem
Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran
karena dalam PBL kemampuan berpikir
siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang
sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan
mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan. Beberapa masalah
dalam dunia nyata yaitu tentang pengukuran seperti menghitung luas rumah,
menghitung jumlah teman, tinggi badan, berat badan, pecahan, operasi bilangan,
dan penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari.
Pokok bahasan luas bidang merupakan suatu materi yang sangat dekat
dengan kehidupan nyata. Banyak peristiwa yang kita jumpai sehari-hari
menggunakan pengukuran luas bidang. Sebagai contoh, menghitung suatu ruangan,
halaman, dan lain-lain merupakan penerapan dari luas bidang. Dengan demikian,
materi luas bidang sesuai apabila dalam penyampaiannya menggunakan model Problem
Based Learning (PBL).
3. SALAH SATU SOLUSI MENINGKATKAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal
sejak zaman John Dewey, yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara
umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi
masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka
untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Menurut Dewey (dalam
Trianto, 2009, pp. 90) (dalam Trianto, 2009:90) Belajar berdasarkan
masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, hubungan antara dua
arah belajar dan lingkungan.
Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan
sistem saraf otak berfungsi menafsirkan
bantuan ini secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki,
dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya yang baik. Pengalaman siswa yang
diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan dan materi guna
memperoleh pengertian serta bisa dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya.
Pada kesempatan lain, Ratumanan (dalam Trianto,
2009:92) mengatakan pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang
efektif untuk pembelajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini
membantu siswa untuk memperoleh informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan
menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.
Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan
dasar maupun kompleks.
Menurut Arends (dalam Trianto, 2009:92)
pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana
siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri. Lain lagi dengan Moffit, (dalam Rusman, 2012:241)
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah nyata bagi siswa untuk belajar berfikir kritis dan
keterampilan pemecahkan masalah.
Menurut Tan (dalam Rusman, 2012:229)
pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berfikir siswa betul-betul
dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis,
sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah,
menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
Jadi model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu
proses dimana siswa dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan masalah yang ada
sehingga siswa mampu berfikir kritis yang dapat mengembangkan keterampilan
berfikirnya.
4.
PENGERTIAN PROBLEM BASED
LEARNING
Problem
Based Learning atau PBL atau pembelajaran berbasis masalah adalah metode
pembelajaran yang melibatkan siswa dan guru untuk memecahkan masalah secara
bersama-sama.Siswa mempelajari materi tersebut dan harus terampil mengatasi
masalah yang terlibat di berbagai situasi seperti di kehidupan nyata, sedangkan
guru perannya adalah menyodorkan berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan
mendukung pembelajaran siswa.
Problem
Based Learning merupakan salah satu cara yang harus banyak digunakan dalam
pembelajaran karena metode pemecahan masalah merupakan metode mengajar yang
banyakmengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Metode pemecahan masalah
sering juga digunakan dalam implementasi pembelajaran terpadu maupun
kontekstual karena pebelajaran ini dikembangkan secara integritas antara
kemampuan siswa dengan topik bahasan maupun lingkungan.[1]
Ada
pula beberapa para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai metode
pembelajaran “Problem Based Learning”, diantaranya :
1. Jonassen
Mendesain model
lingkungan belajar konstruktivistik yang memuat komponen esensial yang meliputi
pertanyaan kasus, masalah, atau proyek, kasus-kasus yang saling berkaitan satu
sama lain, sumber-sumber informasi kognitif tools, pemodelan yang dinamis,
percakapan dan kolaborasi, dukungan kontekstual atau social.[2]
1.
Duch
Problem-Based
Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah
metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks
untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan
masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch, 1995)[3]
2. Finkle dan
Torp (1995)
PBM
merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan
secara simultan strategi pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan
keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai
pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.[4]
1. Dimulai dengan satu masalah
Dalam
metode pembelajaran “Problem Based Learning” suatu permasalahan adalah unsur
utama dalam kegiatan belajar.Permasalahan diberikan oleh guru atau dari
pengalaman siswa.
2. Masalah berhubungan dengan
dunia nyata
Masalah
yang diberikan harus masalah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
3. Tujuan pembelajaran seputar
masalah, bukan disiplin ilmu.
Jadi
tujuan pembelajaran dibatasi sesuai masalah yang diajukan tidak utuh sesuai
materi pembelajaran seharusnya.
4. Memberikan tanggung jawab
untuk membentuk dan menjalankan proses belajar mereka.
Proses
belajar diserahkan kepada siswa untuk berkelompok dan berdiskusi untuk
menyelesaikan permasalahan, sedangkan guru hanya mendampingi dan membantu untuk
menjelaskan setelah siswa memaparkan hasil diskusinya
5. Pembahasan masalah dilakukan
dalam diskusi kelompok
Pembahasan
masalah dilakukan berkelompok supaya anak bisa bertukar pikiran dan aktif
mengemukakan pendapat serta pengetahuannya yang berhubungan dengan permasalahan
tersebut.
6. Memaparkan masalah tersebut
dalam bentuk hasil yang telah didiskusikan sebelumnya.
Setelah
berdiskusi dengan kelompok dan mencari informasi tambahan dari berbagai
referensi yang berhubungan dengan permasalahan tersebut, siswa memaparkan hasil
diskusi yaitu solusi untuk permasalahan yang diberikan.
6. Merencanakan Pembelajaran PBM
1. Memutuskan sasaran dan tujuan
Salah
satu cara untuk membantu mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan
keterampilan, intelektual, dan investigative, memahami peran orang dewasa, dan
membantu siswa untuk menjadi pelajar yang mandiri. Akan tetapi, kemungkinan
yang lebih besar adalah guru hanya akan menekankan pada satu atau dua tujuan
dalam pembelajaran tertentu.
2. Merancang Situasi bermasalah
yang tepat
Kenyataannya
bahwa situasi bermasalah yang membingungkan atau tidak jelas akan membangkitkan
rasa ingin tahu siswa, sehingga membuat mereka tertarik untuk menyelidiki.
Sebuah situasi bermasalah yang baik harus memenuhi 5 kriteria penting, yaitu :
a. Situasi pemasalahannya
autentik. Hal ini berarti bahwa masalahnya harus dikaitkan dengan pengalaman
real siswa dan bukan dengan prinsip-prinsip disiplin akademis tertentu.
b. Masalah itu seharusnya tidak
jelas sehingga menciptakan misteri atau teka-teki, hal ini tidak dapat
diselesaikan dengan jawaban sederhana dan membuktikan solusi-solusi alternatif.
Sehingga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dan berdebat.
c. Masalah itu seharusnya
bermakna bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
Dalam permasalahan tersebut harus terdapat ilmu yang dapat dipelajari siswa
secara tidak langsung dan permasalahan tidak jauh dari kehidupan nyata peserta
didik.
d. Masalah itu seharusnya cukup
luas.
Hal ini memberikan kesempatan
kepada guru untuk memenuhi tujuan instruksionalnya, tetapi tetap dalam
batasan-batasan yang fisibel bagi pelajarannya dilihat dari segi waktu, ruang,
dan keterbatasan sumber daya.
e. Masalah yang baik harus
mendapatkan manfaat dari usaha kelompok bukan justru dihalanginya.
3. Mengorganisasikan sumber daya
dan merencanakan logistic
Dalam
hal ini guru sebagai penanggungjawab meyediakan bahan-bahan dan sumber daya
lainnya yang akan digunakan oleh peserta didik.
1. Guru
|
Fase |
Perilaku guru |
|
1. Memberikan
orientasi tentang permasalahannya kepada siswa 2. Mengorgasisasikan
siswa untuk meneliti 3. Membantu
investigasi mandiri dan kelompok 4. Mengembangkan dan mempresentasikan
artefak dan exhibit. 5. Menganalisis dan
mengevaluasi proses mengatasi masalah |
-
Guru membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan
logistic penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi
masalah. -
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas
belajar yang terkait dengan permasalahannya. -
Guru mendorong siswa untuk mendapatkkan informasi yang tepat, melaksanakan
eksperimen dan dan mencari penjelasan dan solusi. -
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkkan artefak-artefak yang
tepat, seperti laporan, rekaman video, dan membantu mereka untuk menyampaikan
kepada orang lain. -
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan
proses-proses yang digunakan.[5] |
2. Peserta Didik
a. Guru memberikan sebuah
permasalahan kepada siswa.
b. Kemudian siswa berdiskusi
dalam sebuah kelompok untuk mengidentifikasikan masalah tersebut dengan
beberapa cara :
1) Mengklasifikasi masalah
2) Membuat kerangka masalah
3) Bertukar pikiran dengan
sesama anggota
4) Menyusun hipotesis dari
masalah tersebut
c. Mengkaji dan mencari data
seputar permasalahn tersebut dengan berbagai media seperti buku, internet,
surat kabar, dan lain-lain
d. Kemudian mendiskusikan
kembali hasil yang telah didapat dari hasil pengkajian dan pencarian data
sebelumnya dan membandingkan hasilnya dengan hipotesis yang ada.
e. Mengemukakan solusi yang
didapat dari diskusi.
f. Kemudian hasil yang didapat
dievaluasi bersama guru sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.
8. Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Pemecahan Masalah
Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dari model pembelajaran “Problem
Based Learning” tentu ada beberapa hal yang harus dipenuhi, baik dari sisi
guru maupun dari sisi peserta didik. Hal-hal yang harus dipenuhi diantaranya,
yaitu :
1. Guru
·
Mampu membimbing siswa dari merumuskan hipotesis sampai pada
pembuktian dan kesimpulan serta membuat pemecahan masalah.
·
Menguasai konsep dari permasalahan yang akan dipecahkan.
·
Mampu mengelola kelas.
·
Mampu menciptakan kondisi pembelajaran pemecahan masalah
secara efektif.
·
Mampu memberikan penilaian secara proses.[6]
2. Peserta Didik
·
Memiliki motivasi , perhatian, dan minat belajar melalui
pemecahan masalah.
·
Memeliki kemampuan pelaksanaan pemecahan masalah.
·
Memiliki sikap yang tekun, teliti, dan kerja keras.
·
Mampu menulis, membaca, dan menyimak dengan baik.[7]
1. Kelebihan
a. Membuat siswa lebih aktif
b. Potensi siswa lebih
berkembangan.
c. Siswa dapat mengaplikasikan
materi yang dia dapat dengan permasalahan dikehidupan nyata
d.
Siswa memahami dan mendapat manfaat dari apa yang dipelajari
2. Kekurangan
a. Tidak semua sekolah dapat
melaksanakan sistem pembelajaran berbasis masalah karena menyebabkan kelas menjadi
tidak kondusif.
b. Pelaksanaan PBL butuh waktu
yang lama sehingga dianggap kurang efisien
c. Siswa tidak mendapat
pengetahuan dasar secara utuh.
10. Teori Yang Melandasi Model Problem Based
Learning
a. Beberapa Teori yang Melandasi Model PBL yaitu :
(1)
Teori Belajar
Bermakna dari David Ausubel
Ausubel (dalam Rusman, 2012:224) membedakan
antara belajar bermakna (meaningfull
learning) dengan belajar menghafal (rote
learning). Belajar bermakna merupakan proses belajar di mana informasi baru
dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang
sedang belajar. Belajar menghafal, diperlukan bila seseorang memperoleh
informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang
telah diketahuinya. Kaitan dengan PBL dalam
hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh
siswa.
(2)
Teori
Belajar Vygotsky
Perkembangan intelektual terjadi pada saat
individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka
berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan
pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian
membangun pengertian baru. Menurut Ibrahim dalam (dalam Rusman, 2012:244)
Vygotsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya
ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitan dengan PBL dalam hal mengaitkan informasi baru
dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan
belajar dalam interaksi sosial dengan teman lain.
(3)
Teori
Belajar Jerome S. Bruner
Metode penemuan merupakan metode di
mana siswa menemukan kembali, bukan menemukan yang sama sekali benar-benar
baru. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
manusia, dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri
mencari pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang menyertainya,
serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (dalam Rusman, 2012:245).
Bruner juga menggunakan konsep Scaffolding dan interaksi sosial di
kelas maupun di luar kelas. Scaffolding adalah
suatu proses untuk membantu siswa menuntaskan masalah tertentu melampaui
kapasitas perkembangannya melalui bantuan guru, teman atau orang lain yang
memiliki kemampuan lebih.
Pelaksanaan Model PBL
(1)
Tugas-tugas Perencanaan
Menurut Trianto (2009:98) karena hakekat
interaktifnya, model PBL membutuhkan
banyak perencanaan, seperti halnya model-model pembelajaran yang berpusat pada
siswa lainnya.
(a)
Penetapan Tujuan
Model PBL
dirancang untuk mencapai tujuan- tujuan seperti keterampilan menyelidiki,
memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri.
(b)
Merancang
Situasi Masalah
Beberapa guru dalam PBL lebih suka memberi kesempatan dan keleluasaan kepada siswa
untuk memilih masalah yang akan diselidiki, karena cara ini dapat meningkatkan
motivasi siswa.
(c)
Organisasi
Sumber Daya dan Rencana Logistik
Dalam PBL,
siswa dimungkinkan bekerja dengan beragam material dan peralatan.
Pelaksanaannya bisa dilakukan di dalam kelas,
di perpustakaan, atau laboratorium, bahkan dapat pula dilakukan di luar
sekolah.
(2)
Tugas Interaktif
(a)
Mengarahkan
siswa pada masalah
Siswa perlu memahami bahwa tujuan PBL adalah tidak untuk memperoleh
informasi baru dalam jumlah besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan terhadap
masalah-masalah penting dan untuk menjadi pelajar yang mandiri. Cara yang baik
dalam menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dalam PBL adalah dengan menggunakan kejadian
yang mencengangkan dan menimbulkan misteri sehingga membangkitkan minat dan
keinginan untuk menyelesaikan masalah- masalah yang dihadapi.
(b)
Mengorganisasikan
siswa untuk belajar Pada model PBL dibutuhkan
pengembangan keterampilan kerja sama di antara siswa dan saling membantu untuk
menyelidiki masalah secara bersama. Berkenaan dengan hal tersebut, siswa memerlukan bantuan guru
untuk merencanakan penyelidikan dan tugas- tugas pelaporan.
(c)
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
·
Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai
sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat
mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk
memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan
untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang
sesuai untuk masalah yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.
·
Guru
mendorong pertukaran ide gagasan secara bebas dan penerimaan sepenuhnya
gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam hal
penyelidikan model PBL. Selama dalam
tahap penyelidikan guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa
mengganggu aktivitas siswa.
·
Puncak
tugas-tugas PBL adalah penciptaan dan
peragaan hasil karya seperti laporan, poster, model-model fisik, dan videotape.
(d)
Analisis
dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah
Tugas guru pada tahap akhir PBL adalah membantu siswa menganalisis
dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan
yang mereka gunakan.
(3)
Lingkungan
Belajar dan Tugas-tugas Manajemen
Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa
guru perlu memiliki seperangkat aturan yang jelas agar pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan,
dapat menangani perilaku siswa yang menyimpang secara cepat dan tepat, juga
perlu memiliki panduan mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.
Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru
dalam pengelolaan kelas, yang menggunakan model PBL adalah bagaimana mengenai
siswa baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih
awal maupun yang terlambat. Dengan kata lain, kecepatan penyelesaian tugas tiap
individu maupun kelompok berbeda-beda. Pada model PBL siswa dimungkinkan untuk mengerjakan tugas multi (rangkap), dan
waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut dapat berbeda-beda. Hal tersebut
mengakibatkan diperlukannya pengelolaan dan pemantauan kerja siswa yang rumit.
Dalam model PBL,
guru sering menggunakan sejumlah bahan dan peralatan, dan hal ini biasanya
dapat merepotkan guru dalam pengelolaannya. Oleh karena itu, untuk efektivitas
kerja guru harus memiliki aturan dan prosedur yang jelas dalam pengelolaan,
penyimpanan, dan pendistribusian bahan.
Selain itu juga tidak kalah pentingnya, guru
harus menyampaikan aturan, tata krama, dan sopan santun yang jelas untuk
mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar
kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan penyelidikan di masyarakat.
(4)
Penilaian
(Assesment) dan Evaluasi Seperti
halnya dalam model
pembelajaran kooperatif, dalam model PBL fokus perhatian, pembelajaran tidak
pada perolehan pengetahuan deklaratif. Oleh karena itu, tugas penilaian tidak
cukup bila penilaiannya hanya dengan tes tertulis. Penilaian dan evaluasi yang
sesuai dengan model PBL adalah
menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil penyelidikan
mereka. Evaluasi yang sesuai untuk model PBL
terutama adalah menemukan prosedur penilaian alternatif yang akan digunakan
untuk mengukur pekerjaan siswa. Misalnya, dengan penilaian kinerja dan peragaan
hasil. Penilaian kinerja dapat berupa penilaian melakukan pengamatan,
merumuskan pertanyaan, merumuskan sebuah hipotesa dan sebagainya.
11. Sintaks Model PBL
|
Fase |
Perilaku Guru |
|
Fase
1: Mengarahkan siswa pada masalah |
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistik (bahan dan alat) yang dibutuhkan, memotivasi siswa
terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. |
|
Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar |
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan. |
|
Fase 3: Membimbing penyelidikan individual
maupun kelompok |
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah yang dihadapi
siswa. |
|
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil
karya |
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan karya nyata yang sesuai seperti: laporan, video, dan model, serta
membantu mereka untuk berbagi tugas
dengan temannya. |
|
Fase
5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah |
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
atau evaluasi terhadap hasil penyelidikan mereka dan proses- proses
pembelajaran yang mereka gunakan berupa langkah-langkah pemecahan masalah
dari masalah yang muncul
dan dihadapi oleh siswa. |
Tabel 1. Sintaks Model PBL Menurut Suyanto,
(2013:155)
Kelebihan dan Kekurangan Model PBL
a.
Kelebihan
Model Problem Based Learning
(PBL)
1.
Realistik
dengan kehidupan siswa.
2.
Konsep
sesuai dengan kebutuhan siswa.
3.
Memupuk
sifat inquiry siswa.
4.
Retensi konsep
jadi kuat.
5.
Memupuk kemampuan Problem Solving.
b.
Kekurangan Model Problem Based Learning (PBL)
1. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep)
yang kompleks.
2.
Sulitnya
mencari problem yang relevan.
3.
Sering
terjadi miss-konsepsi.
4.
Konsumsi
waktu, di mana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.
Kelebihan model Problem Based Learning yaitu pembelajaran berdasarkan situasi nyata
yang dihadapi siswa dilingkungannya, masalah yang diajarkan sesuai dengan
kebutuhan siswa misalnya siswa
mampu mengitung luas kamar, melibatkan siswa
dalam proses penyelidikan, kemampuan untuk mengingat materi yang telah
dipelajari menjadi kuat, dan dapat menambah kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah yang ada. Sedangkan kekurangan dari model Problem Based Learning yaitu persiapan
pembelajaran memerlukan alat, sarana dan prasana yang tidak semua sekolah
memilikinya, sulit mencari masalah yang pas dengan materi yang akan digunakan
saat proses pembelajaran, model PBL tidak
mencakup semua informasi atau pengetahuan dasar, sehingga siswa tidak dapat
memperoleh pemahaman materi secara keseluruhan, dan pelaksanaan PBL memerlukan
waktu yang cukup lama, standar 35-50 menit untuk satu jam pelajaran yang banyak
dijumpai di berbagai sekolah tidak mencukupi standar waktu pelaksanaan PBL yang
melibatkan aktivitas peserta didik di luar sekolah.
Solusi
model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL), yaitu melakukan
pengorganisasian dalam persiapan pembelajaran, menyajikan bahan
belajar yang kreatif dan menarik supaya siswa termotivasi agar berhasil dalam
belajar, selain itu sebaiknya memberikan petunjuk yang jelas pada LKS supaya
meminalisir siswa untuk bertanya sehingga siswa lebih terbiasa mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharmisi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Perdana,
Mayang Putri. 2014. Pengaruh Metode Problem Solving Terhadap
Hasil Belajar Siswa Kelas VIII MTs. Assyafi’iyah Gondang Pada Materi Hubungan
Sudut Pusat, Panjang Busur, Dan Luas Juring Dalam Pemecahan Masalah.
Tulungagung. [repo.iain- tulungagung.ac.id/314/3/SKRIPSI%20S AYA.pdf. Di akses
23 Juni 2016]
Rukmini, Mimin. 2014. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran
Probing Prompting Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas III Sekolah Dasar
Negeri Bandung Kulon Kec. Astana Anyar Kota Bandung. Bandung. Di akses 20 Mei 2016.
[repository.upi.edu/6542/4/S_PGSD_09
05311_Chapter1.pdf]
Rusman.
2012. Model-Model Pembelajaran.
Depok:
PT Rajagrafindo Persada.
Sudjana,
Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suprihatiningrum,
Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran: Teori
& Aplikasi. Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Suyanto.
2013. Menjadi Guru Profesional – Strategi
Meningkatkan Kualifikasi Dan Kualitas Guru Di Era Global. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Trianto, M.PD. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep, Landasan, Dan
Implementasinya Pada KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana.
[1]Sri Anitah W. dkk.,2008, Strategi
Pembelajaran, Jakarta, Penerbit Universitas Terbuka,hlm,5.31
[2]
http:buanatiwi.wordpress.com/2013/04/09/model-pembelajaran-problem-based-learning/
[3]http://gayahidupalami.wordpress.com/pendidikan/problem-based-learning/
[4]http://gayahidupalami.wordpress.com/pendidikan/problem-based-learning/
[6]Opcit, hlm.5.32
[7]Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar