PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
Setiap Manusia dalam kehidupannya tentu melakukan Kegiatan belajar. Kegiatan Belajar dapat dilakukan dimana saja tidak harus sekolah sebagai lembaga formal, melainkan bisa juga bersifat informal. Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal, untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu.
Belajar dapat didefinisikan Winkel (dalam
Suprihatiningrum, 2013, pp. 15) sebagai suatu aktivitas mental/psikis,
yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampilan-keterampilan
dan nilai sikap. Kunci keberhasilan belajar berada pada dalam diri individu.
Semakin kuat keinginan untuk belajar, maka keberhasilan belajar akan tercapai.
Di dalam interaksi belajar, individu pasti mengalami kesukaran. Kesukaran
tersebut merupakan sebagai akibat kurangnya belajar. Hasil belajar selalu
sesuai dengan proses belajar yang dialami oleh seorang individu.
Hasil belajar sendiri didefinisikan (Sudjana,
2011, pp. 22) sebagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar tiap individu
berbeda-beda, tergantung kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Hasil belajar dapat dinilai salah satunya yakni dengan cara tes dan bukan tes.
Bentuk penilaian tes yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan bukan tes
yaitu dengan alat kuesioner dan wawancara, skala (skala penilaian, skala sikap,
skala minat), observasi atau pengamatan, studi kasus, sosiometri. Perubahan
perilaku siswa sebagai hasil belajar, sangat tergantung dari pendekatan
pembelajaran yang digunakan guru. Agar siswa mencapai hasil belajar sesuai yang
diharapkan, guru dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip pembelajaran,
pemilihan, dan menggunakan metode pembelajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
menghendaki situasi belajar yang alamiah, yaitu siswa belajar dengan sungguh-
sungguh dengan cara mengalami dan menemukan sendiri pengalaman belajarnya.
Berbagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa Sekolah Dasar untuk dapat
menguasai kompetensi hingga mencapai standar kompetensi kelulusan. Salah satu
pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa adalah mata pelajaran Matematika.
Matematika bagi siswa Sekolah Dasar berguna untuk kehidupan sehari-hari di
lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari
ilmu-ilmu yang kemudian. Kegunaan atau manfaat matematika bagi para siswa
Sekolah Dasar adalah sesuatu yang jelas dan tidak perlu dipersoalkan lagi,
lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.
Namun, pelajaran Matematika ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi
bagi peserta didik. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah untuk
meningkatkan prestasi belajar peserta didik, namun hasilnya juga kurang
maksimal.
Oleh karena itu, penguasaan terhadap matematika
mutlak diperlukan dan konsep- konsep matematika harus benar-benar difahami
sejak dini. Sepintas lalu konsep matematika yang diberikan kepada siswa SD
sangatlah mudah dan sederhana, tetapi sebenarnya materi matematika SD memuat
konsep-konsep mendasar dan penting serta tidak boleh dipandang sepele.
Diperlukan kecermatan dalam menyajikan konsep-konsep tersebut agar siswa mampu
memahami secara benar, sebab kesan dan pandangan yang diterima siswa terhadap
suatu konsep di SD akan terus dibawa pada masa-masa selanjutnya.
Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan pada proses
memberi pengalaman kepada siswa dalam
memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan. Pengetahuan awal siswa yang diperoleh
dari pengalaman mengamati fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal memberikan latar belakang dalam
membangun pengetahuan awal siswa. Setiap
siswa tentu mempunyai tafsiran yang berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh
dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran
di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep
baru yang sesuai dengan
konsep ilmuwan.
Guru hendaknya merancang
pembelajaran yang efektif
dengan memperhatikan
karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang
pembelajaran dengan memilih
pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang
utuh antara pendekatan, strategi,
metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah
model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan
bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran.
Mencermati upaya reformasi
pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan
model pembelajaran, sebagaimana
yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan
model pembelajaran diharapkan
dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Kurikulum 2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan
model pembelajaran yang sesuai
dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning
(PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery
learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada
siswa dan memberikan pengalaman
belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.
Makalah ini hanya akan membahas pembelajaran berbasis
proyek (project based learning = PjBL) diantara
banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil
belajar kognitif (Baran dan Maskan, 2010), membentuk
sikap dan prilaku peduli terhadap lingkungan (Kılınç, 2010;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar