PROJECT BASED LEARNING
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya Nomor 65 tahun 2013 tentang
Standar Proses dinyatakan bahwa karakteristik Pembelajaran pada setiap satuan
pendidikan terkait erat pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi.
Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran
pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual
tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat
kompetensi dan ruang lingkup materi. Sasaran pembelajaran mencakup pengembangan
ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan
pendidikan.
Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual
baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan
pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis proyek (Project Based Learning).
Sehubungan dengan itu, maka perlu pemahaman tentang konsep atau definisi
model pembelajaran berbasis proyek, ciri-ciri atau karakteristik model
pembelajaran berbasis proyek, langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek
serta kelebihan dan penerapan model berbasis proyek.
Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan
pada proses memberi pengalaman kepada
siswa dalam memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan.
Pengetahuan awal siswa yang diperoleh dari pengalaman mengamati
fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal
memberikan latar belakang dalam membangun pengetahuan awal siswa. Setiap siswa tentu mempunyai tafsiran yang
berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran
di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep
baru yang sesuai dengan
konsep ilmuwan.
Guru hendaknya merancang
pembelajaran yang efektif
dengan memperhatikan
karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang
pembelajaran dengan memilih
pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang
utuh antara pendekatan, strategi,
metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah
model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan
bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran.
Mencermati upaya reformasi
pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan
model pembelajaran,
sebagaimana yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah
memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan
model pembelajaran diharapkan
dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
Kurikulum
2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan
model pembelajaran yang sesuai
dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning
(PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery
learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada
siswa dan memberikan pengalaman
belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.
Makalah ini hanya akan membahas
pembelajaran berbasis proyek (project based learning = PjBL) diantara
banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil
belajar kognitif(Baran dan Maskan, 2010) , membentuk sikap dan prilaku
peduli terhadap lingkungan (Kilinc, 2013, pp.224) , keterampilan proses sains (Özer dan Özkan, 2012), dan pembelajaran yang efektif (Cook, 2012) . Pembelajaran berbasis proyek lebih cocok untuk
pengajaran interdisipliner karena secara alami
melibatkan banyak keterampilan akademik yang berbeda,
seperti membaca, menulis, dan matematika dan cocok untuk
membangun pemahaman konseptual melalui asimilasi mata pelajaran yang berbeda (Capcaro, 2013, pp.52) (Capraro, et al, 2013, hlm. 52).
Selain model project based learning, pembelajaran saat ini perlu mengikuti
perkembangan zaman di era globalisasi dengan mengintegrasikan Science,
Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dalam membangun keterampilan abad 21. Several benefits
of STEM education include making students better problem solvers,
innovators, inventors, self-reliant, logical thinkers, and
technologically literate) (Morrison, 2012, pp.29) . Sehingga PjBL terintegrasi STEM perlu dibahas dan dituangkan dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
A.
Definisi Project Based Learning
Project based learning adalah model pembelajaran yang mengorganisasi kelas dalam sebuah proyek (Thomas, 2000, hlm. 1). Menurut
NYC Departement of Education (2009),
PjBL merupakan strategi pembelajaran dimana siswa harus membangun pengetahuan konten mereka sendiri
dan mendemonstrasikan pemahaman
baru melalui berbagai
bentuk representasi (hlm. 8). Sedangkan
George Lucas Educational Foundation (2005) mendefinisikan pendekatan
pembelajaran yang dinamis di mana siswa
secara aktif mengeksplorasi masalah di dunia
nyata, memberikan tantangan, dan
memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (hlm. 1). Berdasarkan beberapa definisi para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa PjBL adalah model
pembelajaran yang terpusat pada siswa untuk membangun
dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan mengeksplorasi dan memecahkan masalah
di dunia nyata secara mandiri.
Kemandirian siswa dalam belajar
untuk menyelesaikan tugas yang dihadapinya merupakan tujuan dari PjBL. Namun kemandirian dalam belajar perlu dilatih oleh guru kepada siswa
agar terbiasa dalam belajar bila menggunakan
PjBL. Siswa SD maupun SMP masih perlu dibimbing dalam menyelesaikan
tugas proyek bahkan siswa SMA.
Bimbingan guru diperlukan untuk mengarahkan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan
alur pembelajaran.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan
model belajar yang menggunakan masalah
sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Melalui
PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun (a guiding question)
dan membimbing siswa dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha siswa (Kemendikbud, 2014, pp.33) .
Johnson & Lamb (2007) menyatakan bahwa : project
based learning focuses on creating a
product or an artifact by using problem-based and inquiry- based learning depending
on the depth of the driving question. Terdapat keterkaitan antara problem based learning
(PBL) dan inquiry based learning (IBL) dalam PjBL. PBL berfokus pada solving real-world, dan pembelajaran inquiry berfokus pada problem-solving skills, sedangkan PjBl berfokus pada penciptaan proyek atau produk dalam membangun konsep.
Persamaan antara PjBL dan PBL yang
menurut George Lucas Educational Foundation (2014) dan Williams &
Williams(dalam Mills et al, 2003) dirangkum dan diilustrasikan sebagai berikut:
PBL PjBL Persamaan: -
Dimulai dengan mengidentifikasi masalah atau situasi yang mengarahkan ke konteks studi -
Penekanan
aplikasi otentik pada konten dan keterampilan -
Membangun keterampilan abad ke-21 -
Menekankan
kemandirian siswa dan inkuiri -
Memerlukan waktu lama dibandingkan pembelajaran tradisional
Gambar 1
Persamaan PBL dan PjBL
PjBL dan PBL merupakan pembelajaran yang
berpusat pada siswa, guru sebagai
fasilitator, dan siswa bekerja dalam kelompok. Selain itu, terdapat pula perbedaan antara PBL dan PjBL. Perrenet,
et al(Mils, 2003, pp.8) mengungkapkan perbedaan PjBL dan PBL
adalah:
1.
Proyek yang dikerjakan siswa relatif
membutuhkan waktu yang lama untuk selesai dibanding pelaksanaan PBL.
2.
PjBL menekankan pada application pengetahuan, sedangkan pada PBL siswa ditekankan untuk acquisition pengetahuan.
3.
PjBL biasanya memadukan
beberapa disiplin ilmu (mata pelajaran), sedangkan PBL lebih sering pada satu mata pelajaran atau bisa
juga beberapa disiplin ilmu.
4.
Manajemen waktu dan pengelolaan dalam
mendapatkan sumber informasi pada PjBL jauh
lebih penting dibanding pada PBL
5.
Self-direction pada
PjBL pun lebih
menonjol dibanding pada PBL.
B.
Pembelajaran
PjBL
Tahapan
PjBL dikembangkan oleh dua ahli, The
George Lucas Education Foundation dan Dopplet. Sintaks PjBL(Kemendikbut, 2014, pp.34)
yaitu :
Fase 1 : Penentuan pertanyaan mendasar (start with essential question)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan
esensial, yaitu pertanyaan yang dapat
memberi penugasan siswa dalam melakukan suatu
aktivitas. Pertanyaan disusun
dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai
dengan sebuah investigasi mendalam. Pertanyaan yang disusun hendaknya tidak mudah untuk dijawab
dan dapat mengarahkan siswa untuk membuat
proyek. Pertanyaan seperti
itu pada umumnya
bersifat terbuka (divergen), provokatif, menantang,
membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi
(high order thinking), dan terkait
dengan kehidupan siswa. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para siswa.
Fase 2: Menyusun
perencanaan proyek (design project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif
antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut.
Perencanaan berisi tentang
aturan main, pemilihan
kegiatan yang dapat mendukung
dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai
materi yang mungkin,
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
Fase 3: Menyusun
jadwal (create schedule)
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan
dalam menyelesaikan proyek.
Aktivitas pada tahap ini antara lain: membuat
jadwal untuk menyelesaikan proyek, (2) menentukan waktu akhir penyelesaian proyek,
(3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4)
membimbing siswa ketika mereka
membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan
(alasan) tentang cara pemilihan waktu. Jadwal
yang telah disepakati harus disetujui bersama agar guru dapat melakukan monitoring kemajuan belajar dan pengerjaan proyek di luar kelas.
Fase 4: Memantau
siswa dan kemajuan
proyek (monitoring the students
and progress of project)
Guru bertanggung jawab untuk memantau
kegiatan siswa selama menyelesaikan
proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses. Dengan kata lain guru
berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa.
Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam
keseluruhan kegiatan yang penting.
Fase 5: Penilaian hasil (assess the outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru
dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang
tingkat pemahaman yang sudah dicapai
siswa, membantu guru dalam
menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
Fase 6: Evaluasi
Pengalaman (evaluation
the experience)
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi
terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun
kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek.
Guru dan siswa mengembangkan diskusi
dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga
pada akhirnya ditemukan
suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan
yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran.
Menurut Doppelt ( 2005) (2005), PjBL yang berkaitan
dengan kehidupan nyata siswa memungkinkan pembelajaran sains dan teknologi kepada siswa dari berbagai latar belakang. Doppelt
(2005) dalam hasil penelitiannya lebih menekankan pada Creative Design Prosess
(CDP). CDP ini memilki enam tahapan, yaitu:
Tahap 1: Merancang tujuan (Design Purpose)
Langkah pertama dalam merancang
proses adalah menentukan rancangan masalah. Tiga langkah
penting dalam langkah pertama ini adalah
:
a. The Problem
and The Need, siswa mendeskripsikan alasan yang
memotivasi mereka untuk
memilih proyek. Mereka
juga menetapkan masalah
dan menentukan kebutuhan untuk mendapatkan solusi masalah.
b.
The Target Clientele
and Restrictions, siswa mendeskripsikan target clientele
dan menetapkan pembatasan yang mereka ambil dalam pertimbangan.
c. The design
goals, siswa menetapkan permintaan kebutuhan yang mereka harapkan.
Tahap 2: Mengajukan pertanyaan/ inquiry (Field of
Inquiry)
Langkah kedua dalam proses desain adalah untuk menentukan bidang penyelidikan di
mana masalah berada. Berdasarkan definisi masalah dan tujuan dari langkah pertama. Siswa harus meneliti dan menganalisis
sistem yang ada yang mirip dengan
apa dikembangkan. Langkah
pada tahap 2 termasuk dalam:
a.
Information Sources
b.
Identification of Engineering, Scientific, and Societal
Aspects
c.
Organization of the Information and its
Assessment
Tahap 3: Mengajukan alternatif solusi (Solution Alternatives)
Mempertimbangkan solusi alternatif
untuk rancangan masalah. Langkah ini memungkinkan
siswa untuk membuat keputusan berbagai macam kemungkinan atau ide kreatif yang tak pernah dicoba sebelumnya. Siswa
diberikan saran dan petunjuk dalam:
a.
Ideas Documentation
b.
Consider All Factors
c.
Consequence and Sequel
d.
Other People’s View
Tahap 4: Memilih solusi
(Choosing the Preferred Solution)
Memilih salah satu solusi alternatif
yang dibuat, pilihan dilakukan dengan mempertimbangkan gagasan
yang didokumentasikan dalam tahap mengajukan solusi alternatif.
Solusi yang dipilih mengikuti
kriteria:
a. Mempunyai lebih banyak
poin positif dan sedikit poin negatif.
b. Berdasarkan banyak faktor dan pandangan
yang mungkin
c. Terlihat solusi yang baik di antara solusi
yang lain
d. Memenuhi persyaratan dalam
menyelesaikan masalah.
Tahap 5: Melaksanakan kegiatan (Operation
Steps)
e. Merencanakan metode untuk
implementasi solusi yang dipilih misalnya
jadwal, ketersediaan bahan,
komponen, bahan, alat dan menciptakan prototype.
f. Tahap 6: Evaluasi (Evaluation)
g. Tahap evaluasi terjadi
pada akhir proses kegiatan, tujuannya
untuk refleksi kegiatan berikutnya.
C. PjBL Terintegrasi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)
Project based learning (PjBL) merupakan
model pembelajaran yang disarankan
dalam kurikulum 2013, sedangkan STEM lebih pada sebuah strategi besar. Pembelajaran PjBL memiliki
langkah-langkah tersendiri, berbeda dengan langkah-langkah PjBL terintegrasi STEM (selanjutnya digunakan
istilah PjBL STEM). Karakteristik PjBL dengan PjBL STEM
terdapat persamaan, namun PjBL STEM lebih menekankan pada proses mendesain. Design process
adalah pendekatan
sistematis dalam mengembangkan solusi dari masalah dengan well- define outcome(Capcaro, 2013, pp.29)
Proses pembelajaran PjBL STEM dalam
membimbing siswa terdiri dari lima
langkah, setiap langkah bertujuan untuk mencapai proses secara spesifik. Berikut ini tahapan dalam proses
pembelajaran PjBL STEM yang efektif (Laboy-Rush, 2010, pp.5) .
Tahap 1: Reflection
Tujuan
dari tahap pertama
untuk membawa siswa ke dalam konteks masalah
dan memberikan inspirasi
kepada siswa agar dapat segera mulai menyelidiki/investigasi. Fase ini juga
dimaksudkan untuk menghubungkan apa yang diketahui dan apa yang perlu
dipelajari.
Tahap 2: Research
Tahap
kedua adalah bentuk penelitian siswa. Guru memberikan pembelajaran sains, memilih
bacaan, atau metode lain untuk mengumpulkan sumber informasi yang relevan. Proses
belajar lebih banyak terjadi selama tahap ini,
kemajuan belajar siswa mengkonkritkan pemahaman abstrak dari masalah. Selama fase research, guru lebih sering membimbing diskusi untuk menentukan apakah siswa telah mengembangkan pemahaman
konseptual dan relevan
berdasarkan proyek.
Tahap 3: Discovery
Tahap penemuan umumnya melibatkan proses
menjembatani research dan informasi yang diketahui dalam
penyusunan proyek. Ketika siswa mulai belajar
mandiri dan menentukan apa yang masih belum diketahui. Beberapa model
dari STEM PjBL membagi siswa menjadi
kelompok kecil untuk menyajikan solusi yang
mungkin untuk masalah, berkolaborasi, dan membangun kerjasama antar teman dalam kelompok.
Model lainnya menggunakan langkah ini dalam
mengembangkan kemampuan siswa dalam membangun habit of mind dari proses merancang untuk mendesain.
Tahap 4: Application
Pada tahap aplikasi
tujuannya untuk menguji
produk/solusi dalam memecahkan masalah. Dalam beberapa kasus,
siswa menguji produk yang dibuat dari
ketentuan yang ditetapkan sebelumnya, hasil yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki langkah sebelumnya. Di model
lain, pada tahapan ini siswa belajar konteks
yang lebih luas di luar STEM atau menghubungkan antara disiplin bidang STEM.
Tahap 5: Communication
Tahap akhir dalam setiap proyek dalam
membuat produk/solusi dengan mengkomunikasikan
antar teman maupun lingkup kelas. Presentasi merupakan langkah penting dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan
keterampilan komunikasi dan kolaborasi maupun kemampuan untuk menerima dan menerapkan
umpan balik yang konstruktif. Seringkali penilaian dilakukan
berdasarkan penyelesaian langkah akhir dari fase ini.
PjBL menurut ketiga ahli (Lucas, Doppelt, dan
Laboy-Rush) dirangkum pada tabel berikut.
Tabel 2. Perbedaan Tahap PjBL Lucas, CDP Doppelt
dan PjBL STEM Laboy-Rush
|
Tahapan |
Ahli |
||
|
PjBL Lucas |
CDP Doppelt |
PjBL STEM Laboy-Rush |
|
|
Pertama |
Start with essential question |
Design purpose |
Reflection |
|
Kedua |
Design project |
Field of inquiry |
Research |
|
Ketiga |
Create schedule |
Solution alternatives |
Discovery |
|
Keempat |
Monitoring the students and progress of project |
Choosing the
preferred solution |
Application |
|
Kelima |
Assess the outcome |
Operation steps |
Communication |
|
Keenam |
Evaluation the experience |
Evaluation |
|
PjBL Lucas dan Laboy-Rush tidak
menjelaskan secara spesifik langkah- langkah dalam rancangan proyek,
sedangkan Doppelt menekankan alternatif pemecahan
masalah dengan memilih prioritas utama dalam menentukan proyek dan memunculkan kreativitas siswa. Lucas membahas PjBL secara umum, Doppelt mengkaitkan PjBL dengan sains dan
teknologi, dan Laboy-Rush mengintegrasikan science,
technology, engineering, and
mathematics dalam PjBL.
D.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) merupakan model pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan
kerja proyek(Made Wena, 2011, pp.144) .
Melalui pembelajaran berbasis proyek, proses inquiry dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek
kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai materi dalam kurikulum. Pada saat
pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai
elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang
dikajinya.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan investigasi
mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi usaha
peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya
belajar yang berbeda, maka pembelajaran
berbasis proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali
materi dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya serta
melakukan eksperimen secara kolaboratif.
“Kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleks
berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan (problem) yang sangat menantang,
dan menuntut siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan,
melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerja secara mandiri (Thomas, dkk, 1999) (Thomas et all, 1999) . Tujuannya adalah
agar siswa mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya.”
2.2 Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek merupakan model
pembelajaran yang inovatif dan lebih menekankan pada belajar kontekstual
melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pembelajaran berbasis proyek memiliki
potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan
bermakna bagi siswa.
“Sedangkan
menurut Buck Institute for Education
(1999) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut :
a.
Siswa membuat kepuutusan dan membuat kerangka
kerja
b.
Terdapat masalah yang pemecahannya tidak
ditentukan sebelumnya
c.
Siswa merancang proses untuk mencapai hasil
d.
Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan
mengelola informasi yang dikumpulkan
e.
Siswa melakukan evaluasi secara kontinu
f.
Siswa secara teratur melihat kembali apa yang
mereka kerjakan
g.
Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi
kualitasnya
h.
Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi
kesalahan dan perubahan”[1]
E.
Prinsip-prinsip Pembelajaran
Berbasis Proyek
Sebagai sebuah model pembelajaran, pembelajaran
berbasis proyek mempunyai beberapa prinsip, yaitu :
1.
Prinsip sentralistis
Prinsip
ini menegaskan bahwa kerja proyek merupakan esensi dari kurikulum. Model ini
merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama dari
suatu pengetahuan melalui kerja proyek.
2.
Prinsip pertanyaan pendorong
Prinsip
ini menegaskan bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan”
yang dapat mendorong siswa untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama
suatu bidang tertentu.
3.
Prinsip investigasi konstruktif
Perinsip
investigasi konstruktif merupakan proses yang mengarah kepada pencapaian
tujuan, yang mengandung kegiatan inkuiri, pembangunan konsep dan resolusi.
4.
Prinsip otonomi
Prinsip
otonomi dalam pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian
siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya
sendiri, bekerja dengan minimal supervisi dan bertanggung jawab.
5.
Prinsip realistis
Prinsip
realistis berarti bahwa proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti di
sekolah.
F.
Pedoman Pembimbingan Pembelajaran
Berbasis Proyek
Dalam membimbing siswa dalam pembelajaran berbasis
proyek ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pijakan tindakan.
Adapun pedoman pembimbingan tersebut antara lain :
1.
Keautentikan
Keautentikan
dapat dilakukan dengan beberapa strategi, yaitu dengan mendorong dan membimbing
siswa untuk memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan, meranncang tugas
siswa sesuai dengan kemampuannya sehingga ia mampu menyelesaikannya tepat
waktu, dan mendorong serta membimbing siswa agar mampu menghasilkan sesuatu
dari tugas yang dikerjakannya.
2.
Ketaatan terhadap nilai-nilai akademik
Hal
ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi yaitu dengan mendorong dan
mengarahkan siswa agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan dalam
menyelesaikan tugas yang dikerjakan, merancang dan mengembangkan tugas-tugas
yang dapat memberi tantangan pada siswa untuk menggunakan berbagai metode dalam
pemecahan masalah serta mendorong dan membimbing siswa untuk mampu berpikir
tingkat tinggi dalam memecahkan masalah.
3.
Belajar pada dunia nyata
Hal
ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut, yaitu mendorong dan
membimbing siswa untuk mampu bekerja pada konteks permasalahan yang nyata yang
ada di masyarakat, mendorong dan mengarahkan agar siswa mampu bekerja dalam
situasi organisasi yang menggunakan teknologi tinggi, dan mendorong serta
mengarahkan siswa agar mampu mengelola kemampuan keterampilan pribadinya.
4.
Aktif meneliti
Hal
ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa agar dapat
menyelesaikan tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya, mendorong dan
mengarahkan siswa untuk melakukan penelitian dengan berbagai macam metode, serta mendorong
dan mengarahkan siswa agar mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik melalui
presentasi ataupun media lain.
5.
Hubungan dengan ahli
Hal
ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa untuk mampu belajar
dari orang lain yang memiliki pengetahuan yang relevan, mendorong dan
mengarahkan siswa berdiskusi dengan orang lain dalam memecahkan masalah, serta
mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk terlibat dalam
menilai unjuk kerjanya.
6.
Penilaian
Hal
ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi yaitu mendorong dan mengarahkan
siswa agar mampu melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya dalam mengerjakan
tugasnya, mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk
terlibat mengembangkan standar kerja yang terkait dengan tugasnya serta
mendorong dan mengarahkan siswa untuk menilai kerjanya.
G.
Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran
Berbasis Proyek
Menurut Moursund (1997) beberapa keuntungan dari
pembelajaran berbasis proyek antara lain :
1.
Meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.
Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, membuat siswa lebih aktif dan
berhasil memecahkan problem-problem yang bersifat kompleks.
3.
Keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi akan meningkat.
4.
Siswa mampu kerja kelompok dalam proyek dan mempraktikkan keterampilan
komunikasi.
5.
Siswa mampu mempraktikkan keterampilan dalam mengorganisasi proyek, dan membuat
alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan
tugas.
“Menurut The Back Institute For Education, model pembelajaran ini mempunyai
keuntungan penting bagi siswa masa kini, antara lain:
a) Model pembelajaran berbasis
proyek mengintegrasikan wilayah hidup kurikulum.
b) Membangun pengembangan
kebiasaan berfikir yang di hubungkan dengan belajar seumur hidup, tanggung
jawab sipil, dan kesuksesan karir atau pribadi.
c) Menguasai dikotomi atau
pengetahuan dan berfikir dapat menolong siswa baik untuk “to know” mapun “to
do”.
d) Mendorong munculnya tanggung
jawab, penetapan tujuan dan memperbaiki tampilan.
e) Dapat melibatkan memotivasi
siswa yang bosan dan tidak peduli.
f) Mendukung siswa dalam belajar
dan mempraktekkan keterampilan dalam penyelesaian masalah, komunikasi dan
pengendalian diri.
g) Menciptakan komunikasi
positif dan hubungan kolaboratif diantara kelompok siswa yang berbeda-beda.
h) Dapat memenuhi kebutuhan
siswa dengan tingkat keterampilan dan gaya belajar yang beragam. (Sagala Syaiful, 2003 ,
pp.224) ”
Selain
keuntungan, pembelajaran berbasis proyek juga memiliki kelemahan, diantaranya :
1.
Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2.
Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3.
Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas
tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.
4.
Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5.
Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
6.
Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja
kelompok.
7.
Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok
berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan.
H. Keunggulan dan Keterbatasan PjBL
Dibandingkan dengan model lain, PjBL
mampu meningkatkan kualitas pembelajaran siswa dalam materi tertentu dan menjadikan siswa mampu mengaplikasikan satu pengetahuan tertentu
dalam konteks tertentu
(Doppelt, 2005, pp.10) . Siswa harus terlibat secara kognitif dalam proyek selama waktu tertentu. Keterlibatan dalam tugas yang
kompleks adalah salah satu komponen penting
pembelajaran karena kita berasumsi bahwa siswa akan termotivasi untuk menguji ide mereka dan kedalamana
pemahaman pada saat menghadapi masalah autentik.
PjBL pun melibatkan proses inquiry dan dapat memotivasi siswa
secara kuat karena adanya pameran.
PjBL dapat meningkatkan semangat untuk belajar
antara siswa dan para pengajar. Juga memunculkan banyak keterampilan
(seperti manajemen waktu,
berkolaborasi dan pemecahan
masalah). Siswa pun belajar
untuk menyesuaikan dengan berbagai macam kemampuan siswa
dan kebutuhan belajar.
Moursund (dalam Wena, 1997, pp.147) dan Kemdikbud (Kemendikbud, 2014, pp.33) menyebutkan beberapa kelebihan penggunaan PjBL adalah:
1.
Increased motivation. Meningkatkan motivasi
siswa untuk belajar
dan mendorong mereka untuk
melakukan pekerjaan penting. Siswa tekun bekerja dan berusaha keras untuk belajar lebih mendalam dan mencari
jawaban atas keingintahuan dan dalam menyelesaikan proyek.
2.
Increased problem-solving ability. Lingkungan belajar PjBL membuat siswa menjadi lebih aktif memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Siswa
mempunyai pilihan untuk menyelidiki topik-topik yang berkaitan dengan masalah dunia nyata, saling bertukar pendapat
antara kelompok yang membahas
topik yang berbeda, mempresentasikan proyek atau hasil diskusi mereka.
Hal tersebut juga mengembangkan keterampilan tingkat tinggi siswa.
3.
Increased collaborative. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikan keterampilan berkomunikasi.
4.
Improved library
research skills. Karena PjBL mensyaratkan siswa harus mampu secara cepat memperoleh informasi melalui sumber-sumber informasi, sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk
mencari dan mendapatkan informasi.
5.
Increased resource-management skills. Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek,
mengalokasikan waktu, dan mengelola sumber daya seperti alat dan bahan menyelesaikan tugas. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka belajar untuk mempelajari keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat
kesepakatan tentang tugas yang akan
dikerjakan, siapa yang akan bertanggungjawab untuk setiap tugas,
dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.
6.
Memberikan
kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia
nyata
I.
Kesimpulan
Project Based Learning atau biasa
disebut Pembelajaran Berbasis Proyek yaitu pendekatan pembelajaran yang
menghasilkan suatu karya berbasis proyek, untuk mendorong kemampuan peserta
didik menghasilkan karya kontekstual baik individual maupun kelompok.
Karakteristik pembelajaran berbasis proyek salah satunya memiliki hasil akhir
berupa produk. Prinsipnya supaya peserta didik dapat mandiri dalam melaksanakan
proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya sendiri, bekerja dengan
minimal supervisi dan bertanggung jawab. Pedoman dalam pembelajaran ini dapat
membuat peserta didik memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan,
mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya sehingga peserta didik mampu
menyelesaikan tugas tepat waktu, mengarahkan peserta didik untuk melakukan
penelitian dan mampu berkomunikasi dengan orang lain. Keuntungan dari
pembelajaran berbasis proyek peserta didik mampu mempraktikkan keterampilan
dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Sagala syaiful, M.Pd. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Wena, M. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer.
Jakarta : Bumi Aksara.
Baran, M. & Maskan, A. (2010). The Effect of
Project-Based Learning On Pre- Service
Physics Teachers’ Electrostatic Achievements. Cypriot Journal of Educational Sciences
vol 5 : 243-257
Becker, K. & Park, K. (2011). Effects of integrative
approaches among science, technology,
engineering, and mathematics (STEM) subjects on students’ learning: A preliminary meta-analysis. Journal of STEM Education, 12 (5 & 6),
hlm. 23-37.
Bell, S. (2010). Project Based Learning for the 21th Century: Skills for the Future.
The Clearing
House, 83: 39-43
Capraro, et al. (2013). STEM Project-Based Learning : An Integrated Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Approach (second ed). Rotterdam :
Sense Publishers
Cook, et al. (2012). Preparing Biology Teachers to Teach
Evolution in a Project- Based Approach.
Winter vol. 21 no. 2 :
18-30
Doppelt, Y. (2005).
Assessment of project
based learning in a mechatronics context. Journal of
Technology Education. Vol 16 no.2:
7-24
George Lucas Educational Foundation. (2005). Instructional module
project based learning.
[Online]. Diakses dari http://www.edutopia.org/modules/ pbl/project-based-learning
George Lucas Educational Foundation. (2014). Project Based Learning
vs. Problem-Based Learning
vs. X-BL [Online]. Diakses dari http://www.edutopia.org/Project-Based Learning
vs. Problem-Based Learning
vs. X-BL_edutopia.html
Johnson, L., & Lamb, A. (2007). Project, Problem,
and Inquiry-Based Learning.
[Online]. Diakses dari http://eduscape.com/tap/topic43.htm
Kılınç, A. (2010). Can Project-Based Learning Close the Gap? Turkish Student Teachers
and Proenvironmental Behaviours. International Journal of Environmental
& Science Education vol 5 : 495-509
Kemdikbud. (2014). Materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013 tahun ajaran 2014/2015: Mata pelajaran IPA
SMP/MTs. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar