Jumat, 03 Juni 2022

metode pembelajaran project Based Learning

 

PROJECT BASED LEARNING

 

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses dinyatakan bahwa karakteristik Pembelajaran pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi. Sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.

Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis proyek (Project Based Learning).

Sehubungan dengan itu, maka perlu pemahaman tentang konsep atau definisi model pembelajaran berbasis proyek, ciri-ciri atau karakteristik model pembelajaran berbasis proyek, langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek serta kelebihan dan penerapan model berbasis proyek.

Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan pada proses memberi pengalaman kepada siswa dalam memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan. Pengetahuan awal siswa yang diperoleh dari pengalaman mengamati fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal memberikan latar belakang dalam membangun pengetahuan awal siswa. Setiap siswa tentu mempunyai tafsiran yang berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep baru yang sesuai dengan konsep ilmuwan.

Guru hendaknya merancang pembelajaran yang efektif dengan memperhatikan karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang pembelajaran dengan memilih pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang utuh antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, sebagaimana yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan model pembelajaran diharapkan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Kurikulum 2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning (PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.

Makalah ini hanya akan membahas pembelajaran berbasis proyek (project based learning = PjBL) diantara banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil belajar kognitif(Baran dan Maskan, 2010) , membentuk sikap dan prilaku peduli terhadap lingkungan (Kilinc, 2013, pp.224) , keterampilan proses sains (Özer dan Özkan, 2012), dan pembelajaran yang efektif (Cook, 2012) . Pembelajaran berbasis proyek lebih cocok untuk pengajaran interdisipliner karena secara alami melibatkan banyak keterampilan akademik yang berbeda, seperti membaca, menulis, dan matematika dan cocok untuk membangun pemahaman konseptual melalui asimilasi mata pelajaran yang berbeda (Capcaro, 2013, pp.52)  (Capraro, et al, 2013, hlm. 52).

Selain model project based learning, pembelajaran saat ini perlu mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi dengan mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dalam membangun keterampilan abad 21. Several benefits of STEM education include making students better problem solvers, innovators, inventors, self-reliant, logical thinkers, and technologically literate) (Morrison, 2012, pp.29) . Sehingga PjBL terintegrasi STEM perlu dibahas dan dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

 

A.    Definisi Project Based Learning

Project based learning adalah model pembelajaran yang mengorganisasi kelas dalam sebuah proyek (Thomas, 2000, hlm. 1). Menurut NYC Departement of Education (2009), PjBL merupakan strategi pembelajaran dimana siswa harus membangun pengetahuan konten mereka sendiri dan mendemonstrasikan pemahaman baru melalui berbagai bentuk representasi (hlm. 8). Sedangkan George Lucas Educational Foundation (2005) mendefinisikan pendekatan

 

pembelajaran yang dinamis di mana siswa secara aktif mengeksplorasi masalah di dunia nyata, memberikan tantangan, dan memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (hlm. 1). Berdasarkan beberapa definisi para ahli, dapat ditarik kesimpulan bahwa PjBL adalah model pembelajaran yang terpusat pada siswa untuk membangun dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan mengeksplorasi dan memecahkan masalah di dunia nyata secara mandiri.

Kemandirian siswa dalam belajar untuk menyelesaikan tugas yang dihadapinya merupakan tujuan dari PjBL. Namun kemandirian dalam belajar perlu dilatih oleh guru kepada siswa agar terbiasa dalam belajar bila menggunakan PjBL. Siswa SD maupun SMP masih perlu dibimbing dalam menyelesaikan tugas proyek bahkan siswa SMA. Bimbingan guru diperlukan untuk mengarahkan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan alur pembelajaran.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing siswa dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha siswa (Kemendikbud, 2014, pp.33) .

Johnson & Lamb (2007) menyatakan bahwa : project based learning focuses on creating a product or an artifact by using problem-based and inquiry- based learning depending on the depth of the driving question. Terdapat keterkaitan antara problem based learning (PBL) dan inquiry based learning (IBL) dalam PjBL. PBL berfokus pada solving real-world, dan pembelajaran inquiry berfokus pada problem-solving skills, sedangkan PjBl berfokus pada penciptaan proyek atau produk dalam membangun konsep.

Persamaan antara PjBL dan PBL yang menurut George Lucas Educational Foundation (2014) dan Williams & Williams(dalam Mills et al, 2003)  dirangkum dan diilustrasikan sebagai berikut:

 

PBL

PjBL

Persamaan:

-  Dimulai dengan mengidentifikasi masalah atau situasi yang mengarahkan ke konteks studi

-  Penekanan aplikasi otentik pada konten dan keterampilan

-  Membangun keterampilan abad ke-21

-  Menekankan kemandirian siswa dan inkuiri

-  Memerlukan waktu lama dibandingkan pembelajaran tradisional


Gambar 1 Persamaan PBL dan PjBL

PjBL dan PBL merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru sebagai fasilitator, dan siswa bekerja dalam kelompok. Selain itu, terdapat pula perbedaan antara PBL dan PjBL. Perrenet, et al(Mils, 2003, pp.8)  mengungkapkan perbedaan PjBL dan PBL adalah:

 

1.         Proyek yang dikerjakan siswa relatif membutuhkan waktu yang lama untuk selesai dibanding pelaksanaan PBL.

2.         PjBL menekankan pada application pengetahuan, sedangkan pada PBL siswa ditekankan untuk acquisition pengetahuan.

3.         PjBL biasanya memadukan beberapa disiplin ilmu (mata pelajaran), sedangkan PBL lebih sering pada satu mata pelajaran atau bisa juga beberapa disiplin ilmu.

4.         Manajemen waktu dan pengelolaan dalam mendapatkan sumber informasi pada PjBL jauh lebih penting dibanding pada PBL

5.         Self-direction pada PjBL pun lebih menonjol dibanding pada PBL.

 

B.        Pembelajaran PjBL

Tahapan PjBL dikembangkan oleh dua ahli, The George Lucas Education Foundation dan Dopplet. Sintaks PjBL(Kemendikbut, 2014, pp.34)  yaitu :

 

Fase 1 : Penentuan pertanyaan mendasar (start with essential question)

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pertanyaan yang disusun hendaknya tidak mudah untuk dijawab dan dapat mengarahkan siswa untuk membuat proyek. Pertanyaan seperti itu pada umumnya bersifat terbuka (divergen), provokatif, menantang, membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking), dan terkait dengan kehidupan siswa. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para siswa.

 

Fase 2: Menyusun perencanaan proyek (design project)

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

 

Fase 3: Menyusun jadwal (create schedule)

Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: membuat jadwal untuk menyelesaikan proyek, (2) menentukan waktu akhir penyelesaian proyek,

(3) membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang cara pemilihan waktu. Jadwal yang telah disepakati harus disetujui bersama agar guru dapat melakukan monitoring kemajuan belajar dan pengerjaan proyek di luar kelas.

 

Fase 4: Memantau siswa dan kemajuan proyek (monitoring the students  and progress of project)

Guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan siswa selama menyelesaikan proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.

Fase 5: Penilaian hasil (assess the outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

 

Fase 6: Evaluasi Pengalaman (evaluation the experience)

Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan siswa mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Menurut Doppelt ( 2005)  (2005), PjBL yang berkaitan dengan kehidupan nyata siswa memungkinkan pembelajaran sains dan teknologi kepada siswa dari berbagai latar belakang. Doppelt (2005) dalam hasil penelitiannya lebih menekankan pada Creative Design Prosess (CDP). CDP ini memilki enam tahapan, yaitu:

 

Tahap 1: Merancang tujuan (Design Purpose)

Langkah pertama dalam merancang proses adalah menentukan rancangan masalah. Tiga langkah penting dalam langkah pertama ini adalah :

a.    The Problem and The Need, siswa mendeskripsikan alasan yang memotivasi mereka untuk memilih proyek. Mereka juga menetapkan masalah dan menentukan kebutuhan untuk mendapatkan solusi masalah.

b.    The Target Clientele and Restrictions, siswa mendeskripsikan target clientele

dan menetapkan pembatasan yang mereka ambil dalam pertimbangan.

c.    The design goals, siswa menetapkan permintaan kebutuhan yang mereka harapkan.

 

Tahap 2: Mengajukan pertanyaan/ inquiry (Field of Inquiry)

Langkah kedua dalam proses desain adalah untuk menentukan bidang penyelidikan di mana masalah berada. Berdasarkan definisi masalah dan tujuan dari langkah pertama. Siswa harus meneliti dan menganalisis sistem yang ada yang mirip dengan apa dikembangkan. Langkah pada tahap 2 termasuk dalam:

a.    Information Sources

b.    Identification of Engineering, Scientific, and Societal Aspects

c.    Organization of the Information and its Assessment

 

Tahap 3: Mengajukan alternatif solusi (Solution Alternatives)

Mempertimbangkan solusi alternatif untuk rancangan masalah. Langkah ini memungkinkan siswa untuk membuat keputusan berbagai macam kemungkinan atau ide kreatif yang tak pernah dicoba sebelumnya. Siswa diberikan saran dan petunjuk dalam:

a.    Ideas Documentation

b.    Consider All Factors

c.    Consequence and Sequel

d.    Other People’s View

 

Tahap 4: Memilih solusi (Choosing the Preferred Solution)

Memilih salah satu solusi alternatif yang dibuat, pilihan dilakukan dengan mempertimbangkan gagasan yang didokumentasikan dalam tahap mengajukan solusi alternatif. Solusi yang dipilih mengikuti kriteria:

a.    Mempunyai lebih banyak poin positif dan sedikit poin negatif.

b.    Berdasarkan banyak faktor dan pandangan yang mungkin

c.    Terlihat solusi yang baik di antara solusi yang lain

d.   Memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan masalah.

 

Tahap 5: Melaksanakan kegiatan (Operation Steps)

e.    Merencanakan metode untuk implementasi solusi yang dipilih misalnya jadwal, ketersediaan bahan, komponen, bahan, alat dan menciptakan prototype.

f.     Tahap 6: Evaluasi (Evaluation)

g.    Tahap evaluasi terjadi pada akhir proses kegiatan, tujuannya untuk refleksi kegiatan berikutnya.

 

C.       PjBL Terintegrasi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)

Project based learning (PjBL) merupakan model pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum 2013, sedangkan STEM lebih pada sebuah strategi besar. Pembelajaran PjBL memiliki langkah-langkah tersendiri, berbeda dengan langkah-langkah PjBL terintegrasi STEM (selanjutnya digunakan istilah PjBL STEM). Karakteristik PjBL dengan PjBL STEM terdapat persamaan, namun PjBL STEM lebih menekankan pada proses mendesain. Design process adalah pendekatan sistematis dalam mengembangkan solusi dari masalah dengan well- define outcome(Capcaro, 2013, pp.29)  

Proses pembelajaran PjBL STEM dalam membimbing siswa terdiri dari lima langkah, setiap langkah bertujuan untuk mencapai proses secara spesifik. Berikut ini tahapan dalam proses pembelajaran PjBL STEM yang efektif (Laboy-Rush, 2010, pp.5) .

 

Tahap 1: Reflection

Tujuan dari tahap pertama untuk membawa siswa ke dalam konteks masalah dan memberikan inspirasi kepada siswa agar dapat segera mulai menyelidiki/investigasi. Fase ini juga dimaksudkan untuk menghubungkan apa yang diketahui dan apa yang perlu dipelajari.

Tahap 2: Research

Tahap kedua adalah bentuk penelitian siswa. Guru memberikan pembelajaran sains, memilih bacaan, atau metode lain untuk mengumpulkan sumber informasi yang relevan. Proses belajar lebih banyak terjadi selama tahap ini, kemajuan belajar siswa mengkonkritkan pemahaman abstrak dari masalah. Selama fase research, guru lebih sering membimbing diskusi untuk menentukan apakah siswa telah mengembangkan pemahaman konseptual dan relevan berdasarkan proyek.

 

Tahap 3: Discovery

Tahap penemuan umumnya melibatkan proses menjembatani research dan informasi yang diketahui dalam penyusunan proyek. Ketika siswa mulai belajar mandiri dan menentukan apa yang masih belum diketahui. Beberapa model dari STEM PjBL membagi siswa menjadi kelompok kecil untuk menyajikan solusi yang mungkin untuk masalah, berkolaborasi, dan membangun kerjasama antar teman dalam kelompok. Model lainnya menggunakan langkah ini dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam membangun habit of mind dari proses merancang untuk mendesain.

 

Tahap 4: Application

Pada tahap aplikasi tujuannya untuk menguji produk/solusi dalam memecahkan masalah. Dalam beberapa kasus, siswa menguji produk yang dibuat dari ketentuan yang ditetapkan sebelumnya, hasil yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki langkah sebelumnya. Di model lain, pada tahapan ini siswa belajar konteks yang lebih luas di luar STEM atau menghubungkan antara disiplin bidang   STEM.

 

Tahap 5: Communication

Tahap akhir dalam setiap proyek dalam membuat produk/solusi dengan mengkomunikasikan antar teman maupun lingkup kelas. Presentasi merupakan langkah penting dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi maupun kemampuan untuk menerima dan menerapkan

umpan balik yang konstruktif. Seringkali penilaian dilakukan berdasarkan penyelesaian langkah akhir dari fase ini.

 

PjBL menurut ketiga ahli (Lucas, Doppelt, dan Laboy-Rush)  dirangkum pada tabel berikut.

 

Tabel 2. Perbedaan Tahap PjBL Lucas, CDP Doppelt dan PjBL STEM Laboy-Rush

 

 

Tahapan

Ahli

PjBL Lucas

CDP Doppelt

PjBL STEM

Laboy-Rush

Pertama

Start with essential

question

Design purpose

Reflection

Kedua

Design project

Field of inquiry

Research

Ketiga

Create schedule

Solution alternatives

Discovery

Keempat

Monitoring the students

and progress of project

Choosing the preferred

solution

Application

Kelima

Assess the outcome

Operation steps

Communication

Keenam

Evaluation the

experience

Evaluation

 

 

PjBL Lucas dan Laboy-Rush tidak menjelaskan secara spesifik langkah- langkah dalam rancangan proyek, sedangkan Doppelt menekankan alternatif pemecahan masalah dengan memilih prioritas utama dalam menentukan proyek dan memunculkan kreativitas siswa. Lucas membahas PjBL secara umum, Doppelt mengkaitkan PjBL dengan sains dan teknologi, dan Laboy-Rush mengintegrasikan science, technology, engineering, and mathematics dalam PjBL.

 

D.       Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek(Made Wena, 2011, pp.144) .

Melalui pembelajaran berbasis proyek, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai materi dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya.

Pembelajaran berbasis proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali materi dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya serta melakukan eksperimen secara kolaboratif.

“Kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan (problem) yang sangat menantang, dan menuntut siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara mandiri (Thomas, dkk, 1999) (Thomas et all, 1999) . Tujuannya adalah agar siswa mempunyai kemandirian dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya.”

2.2 Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang inovatif dan lebih menekankan pada belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa.

“Sedangkan menurut Buck Institute for Education (1999) belajar berbasis proyek memiliki karakteristik berikut :

a.         Siswa membuat kepuutusan dan membuat kerangka kerja

b.         Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya

c.         Siswa merancang proses untuk mencapai hasil

d.        Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan

e.         Siswa melakukan evaluasi secara kontinu

f.          Siswa secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan

g.         Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya

h.         Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan”[1]

 

E.        Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek

Sebagai sebuah model pembelajaran, pembelajaran berbasis proyek mempunyai beberapa prinsip, yaitu :

1.         Prinsip sentralistis

Prinsip ini menegaskan bahwa kerja proyek merupakan esensi dari kurikulum. Model ini merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana siswa belajar konsep utama dari suatu pengetahuan melalui kerja proyek.

2.         Prinsip pertanyaan pendorong

Prinsip ini menegaskan bahwa kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan” yang dapat mendorong siswa untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu.

3.         Prinsip investigasi konstruktif

Perinsip investigasi konstruktif merupakan proses yang mengarah kepada pencapaian tujuan, yang mengandung kegiatan inkuiri, pembangunan konsep dan resolusi.

4.         Prinsip otonomi

Prinsip otonomi dalam pembelajaran berbasis proyek dapat diartikan sebagai kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal supervisi dan bertanggung jawab.

5.         Prinsip realistis

Prinsip realistis berarti bahwa proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti di sekolah.

 

F.        Pedoman Pembimbingan Pembelajaran Berbasis Proyek

Dalam membimbing siswa dalam pembelajaran berbasis proyek ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pijakan tindakan. Adapun pedoman pembimbingan tersebut antara lain :

1.         Keautentikan

Keautentikan dapat dilakukan dengan beberapa strategi, yaitu dengan mendorong dan membimbing siswa untuk memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan, meranncang tugas siswa sesuai dengan kemampuannya sehingga ia mampu menyelesaikannya tepat waktu, dan mendorong serta membimbing siswa agar mampu menghasilkan sesuatu dari tugas yang dikerjakannya.

2.         Ketaatan terhadap nilai-nilai akademik

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi yaitu dengan mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan dalam menyelesaikan tugas yang dikerjakan, merancang dan mengembangkan tugas-tugas yang dapat memberi tantangan pada siswa untuk menggunakan berbagai metode dalam pemecahan masalah serta mendorong dan membimbing siswa untuk mampu berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah.

3.         Belajar pada dunia nyata

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut, yaitu mendorong dan membimbing siswa untuk mampu bekerja pada konteks permasalahan yang nyata yang ada di masyarakat, mendorong dan mengarahkan agar siswa mampu bekerja dalam situasi organisasi yang menggunakan teknologi tinggi, dan mendorong serta mengarahkan siswa agar mampu mengelola kemampuan keterampilan pribadinya.

4.         Aktif meneliti

Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya, mendorong dan mengarahkan siswa untuk melakukan penelitian  dengan berbagai macam metode, serta mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik melalui presentasi ataupun media lain.

5.         Hubungan dengan ahli

Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mengarahkan siswa untuk mampu belajar dari orang lain yang memiliki pengetahuan yang relevan, mendorong dan mengarahkan siswa berdiskusi dengan orang lain dalam memecahkan masalah, serta mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk terlibat dalam menilai unjuk kerjanya.

6.         Penilaian

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi yaitu mendorong dan mengarahkan siswa agar mampu melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya dalam mengerjakan tugasnya, mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajak pihak luar untuk terlibat mengembangkan standar kerja yang terkait dengan tugasnya serta mendorong dan mengarahkan siswa untuk menilai kerjanya.

 

 

 

G.       Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek

Menurut Moursund (1997) beberapa keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek antara lain :

1.         Meningkatkan motivasi belajar siswa.

2.         Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, membuat siswa lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang bersifat kompleks.

3.         Keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi akan meningkat.

4.         Siswa mampu kerja kelompok dalam proyek dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.

5.         Siswa mampu mempraktikkan keterampilan dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

“Menurut The Back Institute For Education, model pembelajaran ini mempunyai keuntungan penting bagi siswa masa kini, antara lain:

a)      Model pembelajaran berbasis proyek mengintegrasikan wilayah hidup kurikulum.

b)      Membangun pengembangan kebiasaan berfikir yang di hubungkan dengan belajar seumur hidup, tanggung jawab sipil, dan kesuksesan karir atau pribadi.

c)      Menguasai dikotomi atau pengetahuan dan berfikir dapat menolong siswa baik untuk “to know” mapun “to do”.

d)     Mendorong munculnya tanggung jawab, penetapan tujuan dan memperbaiki tampilan.

e)      Dapat melibatkan memotivasi siswa yang bosan dan tidak peduli.

f)       Mendukung siswa dalam belajar dan mempraktekkan keterampilan dalam penyelesaian masalah, komunikasi dan pengendalian diri.

g)      Menciptakan komunikasi positif dan hubungan kolaboratif diantara kelompok siswa yang berbeda-beda.

h)      Dapat memenuhi kebutuhan siswa dengan tingkat keterampilan dan gaya belajar yang beragam. (Sagala Syaiful, 2003 , pp.224)

 

Selain keuntungan, pembelajaran berbasis proyek juga memiliki kelemahan, diantaranya :

1.         Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.

2.         Membutuhkan biaya yang cukup banyak.

3.         Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas.

4.         Banyaknya peralatan yang harus disediakan.

5.         Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.

6.         Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.

7.         Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.

H.       Keunggulan dan Keterbatasan PjBL

Dibandingkan dengan model lain, PjBL mampu meningkatkan kualitas pembelajaran siswa dalam materi tertentu dan menjadikan siswa mampu mengaplikasikan satu pengetahuan tertentu dalam konteks tertentu (Doppelt, 2005, pp.10) . Siswa harus terlibat secara kognitif dalam proyek selama waktu tertentu. Keterlibatan dalam tugas yang kompleks adalah salah satu komponen penting pembelajaran karena kita berasumsi bahwa siswa akan termotivasi untuk menguji ide mereka dan kedalamana pemahaman pada saat menghadapi masalah autentik.

PjBL pun melibatkan proses inquiry dan dapat memotivasi siswa secara kuat karena adanya pameran. PjBL dapat meningkatkan semangat untuk belajar antara siswa dan para pengajar. Juga memunculkan banyak keterampilan (seperti manajemen waktu, berkolaborasi dan pemecahan masalah). Siswa pun belajar

untuk menyesuaikan dengan berbagai macam kemampuan siswa dan kebutuhan belajar.

Moursund (dalam Wena, 1997, pp.147)  dan Kemdikbud  (Kemendikbud, 2014, pp.33)  menyebutkan beberapa kelebihan penggunaan PjBL adalah:

1.         Increased motivation. Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting. Siswa tekun bekerja dan berusaha keras untuk belajar lebih mendalam dan mencari jawaban atas keingintahuan dan dalam menyelesaikan proyek.

2.         Increased problem-solving ability. Lingkungan belajar PjBL membuat siswa menjadi lebih aktif memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Siswa mempunyai pilihan untuk menyelidiki topik-topik yang berkaitan dengan masalah dunia nyata, saling bertukar pendapat antara kelompok yang membahas topik yang berbeda, mempresentasikan proyek atau hasil diskusi mereka. Hal tersebut juga mengembangkan keterampilan tingkat tinggi siswa.

3.         Increased collaborative. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikan keterampilan berkomunikasi.

4.         Improved library research skills. Karena PjBL mensyaratkan siswa harus mampu secara cepat memperoleh informasi melalui sumber-sumber informasi, sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk mencari dan mendapatkan informasi.

5.         Increased resource-management skills. Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasikan waktu, dan mengelola sumber daya seperti alat dan bahan menyelesaikan tugas. Ketika siswa bekerja dalam kelompok, mereka belajar untuk mempelajari keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat kesepakatan tentang tugas yang akan dikerjakan, siapa yang akan bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.

6.         Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata

 

I.          Kesimpulan

     Project Based Learning atau biasa disebut Pembelajaran Berbasis Proyek yaitu pendekatan pembelajaran yang menghasilkan suatu karya berbasis proyek, untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual baik individual maupun kelompok. Karakteristik pembelajaran berbasis proyek salah satunya memiliki hasil akhir berupa produk. Prinsipnya supaya peserta didik dapat mandiri dalam melaksanakan proses pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal supervisi dan bertanggung jawab. Pedoman dalam pembelajaran ini dapat membuat peserta didik memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan, mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya sehingga peserta didik mampu menyelesaikan tugas tepat waktu, mengarahkan peserta didik untuk melakukan penelitian dan mampu berkomunikasi dengan orang lain. Keuntungan dari pembelajaran berbasis proyek peserta didik mampu mempraktikkan keterampilan dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu.


DAFTAR PUSTAKA

 

Sagala syaiful, M.Pd. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Wena, M. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi Aksara.

Baran, M. & Maskan, A. (2010). The Effect of Project-Based Learning On Pre- Service Physics Teachers’ Electrostatic Achievements. Cypriot Journal of Educational Sciences vol 5 : 243-257

 

Becker, K. & Park, K. (2011). Effects of integrative approaches among science, technology, engineering, and mathematics (STEM) subjects on students’ learning: A preliminary meta-analysis. Journal of STEM Education, 12 (5 & 6), hlm. 23-37.

 

Bell, S. (2010). Project Based Learning for the 21th Century: Skills for the Future.

The Clearing House, 83: 39-43

 

Capraro, et al. (2013). STEM Project-Based Learning : An Integrated Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Approach (second ed). Rotterdam : Sense Publishers

 

Cook, et al. (2012). Preparing Biology Teachers to Teach Evolution in a Project- Based Approach. Winter vol. 21 no. 2 : 18-30

 

Doppelt, Y. (2005). Assessment of project based learning in a mechatronics context. Journal of Technology Education. Vol 16 no.2: 7-24

 

George Lucas Educational Foundation. (2005). Instructional module project based learning. [Online]. Diakses dari http://www.edutopia.org/modules/ pbl/project-based-learning

 

George Lucas Educational Foundation. (2014). Project Based Learning vs. Problem-Based Learning vs. X-BL [Online]. Diakses dari http://www.edutopia.org/Project-Based Learning vs. Problem-Based Learning vs. X-BL_edutopia.html

Johnson, L., & Lamb, A. (2007). Project, Problem, and Inquiry-Based Learning.

[Online]. Diakses dari http://eduscape.com/tap/topic43.htm

 

Kılınç, A. (2010). Can Project-Based Learning Close the Gap? Turkish Student Teachers and Proenvironmental Behaviours. International Journal of Environmental & Science Education vol 5 : 495-509

 

Kemdikbud. (2014). Materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013 tahun ajaran 2014/2015: Mata pelajaran IPA SMP/MTs. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Ibid., h. 145.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...