Jumat, 03 Juni 2022

Makalah Hakikat Pembelajaran Matematika

 

HAKIKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 

 

A.     Berbagai Definisi Matematika

 

Mathematike (Yunani), relating to learning/ berhubungan dengan belajar. Mathematike asal kata dari mathema (pengetahuan), Mathematike sama dengan Mathanein (belajar berfikir). Berdasarkan Etimologi (Elea Tinggih, 1972 :5). Perkataan Matematika Berarti “Ilmu Pengetahuan Yang Diperoleh Dengan Bernalar”.

Kline (1973) : Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Matematika adalah permainan di atas kertas yang menggunakan kaidah-kaidah sederhana dan lambang yang berarti.(D. Hilbert)

Sedangkan menurut ensiklopedi Indonesia mengatakan bahwa matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang berasal dari penelitian tentang bilangan dan ruangan. Matematika berkembang sebagai pengetahuan abstrak dan deduktif dimana kesimpulan tidak ditarik berdasar pada pengalaman observasional, melainkan ditarik berdasarkan kaidah-kaidah secara deduktif.

Menurut Setiyani, S.Pd dari Universitas Swadaya Gunung Djati ( UNSWAGATI) dalam ppt nya:

1.             Matematika sebagai Ilmu Deduktif

Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif. Meskipun demikian untuk membantu pemikiran, pada tahap-tahap permulaan seringkali kita memerlukan bantuan contoh-contoh khusus. Dalam matematika, suatu generalisasi, teori, atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif.

2.             Matematika Adalah Ratunya Ilmu Dan Sekaligus Menjadi Pelayannya

Matematika sebagai sumber ilmu dari ilmu yang lain, matematika tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu juga untuk melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam pengembangan dan operasionalnya.

3.             Matematika Sebagai Ilmu yang Terstrukur

Matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur- unsur yang tidak didefinisikan (undefined terms, basic terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma/postulat, dan akhirnya pada teorema/dalil. (Ruseffendi, 1980:50)

Sedangkan dalam buku dasar-dasar proses belajar mengajar oleh Muslimin Ibrahim, dkk:

1.      Matematika adalah ilmu tentang struktur

Unsur-unsur pembentuk matematika dimulai dari unsur yang tidak didefinisikan unsur yang didefinisikan aksioma/postulat

dalil-dalil/teorema.

2.      Matematika adalah ratunya ilmu, karena matematika menggunakan simbol yang tidak bergantung pada ilmu yang menggunakannya, melainkan ilmu pengguna itulah yang harus tunduk kepada simbol simbol dan kaidah kaidah matematika.

3.      Matematika adalah seni

Seni menonjolkan segi segi keindahan, keteraturan, dan keterurutan. Demikian pula matematika, matematika dapat menunjukkan keindahan, keteraturan, dan keterurutan. Salah satu objek matematika adalah fungsi dan grup.

4.      Matematika adalah bahasa

Matematika dapat digunakan untuk berkomunikasi diseluruh dunia, karena menggunakan lambang atau simbol yang sama. Bahasa menggunakan simbol sebagai alat komunikasi. Jadi matematika juga bahasa. Matematika adalah bahasa internasional.

5.      Matematika adalah ilmu deduktif, karena matematika tidak menerima generalisasi dari contoh – contoh, eksperimen, tetapi generalisasi didasarkan pada pembuktian deduktif.

6.   Matematika adalah ilmu tentang pola dan hubungan. Matematika disebut ilmu tentang pola dan hubungan karena didalam matematika orang sering mencari keseragaman supaya generalisasinya dapat dibuat. Dalam mencari pola dan hubungan biasanya kita mencari keteraturan, keterurutan, dan keterkaitan, kecenderungan sehingga kita dapatkan pola atau model dari konsep matematika tersebut.

Dari berbagai pendapat-pendapat yang ada dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan raja sekaligus pelayan ilmu mengandung pengertian matematika diperlukan di dalam pengembangan ilmu dan menentukan pengembangan suatu ilmu. Matematika adalah seni, bahasa, sekaligus ilmu tentang struktur.

2.      Ciri-ciri Matematika

Meskipun terdapat pendapat yang nampak berlainan, namun dapat ditarik ciri-ciri yang sama. Menurut, Masriyah (2014) matematika memiliki ciri-ciri antara lain :

a.       Matematika memiliki objek kajian yang abstrak.

b.      Matematika memiliki struktur deduktif-aksiomatik.

c.       Matematika memiliki simbol-simbol yang kosong arti.

d.      Matematika memiliki tumpuan kesepakatan.

e.       Matematika memiliki aneka semesta.

f.       Matematika dijiwai kebenaran konsisten.

 

3.      Objek Dasar Matematika

 

a)      Fakta

 

Fakta merupakan suatu konvensi yang merupakan suatu cara khas untuk menyajikan ide-ide matematika dalam bentuk kata atau simbol. Dengan demikian fakta dalam matematika adalah

segala sesuatu yang telah disepakati, dan dapat berupa simbol atau lambang dan dapat pula berupa kata-kata.

b)      Konsep

 

Konsep merupakan ide abstrak tentang klasifikasi objek atau kejadian. Seseorang yang memahami suatu konsep akan dapat menyatakan apakah sesuatu termasuk dalam konsep yang dipahami atau tidak. Dengan memahami suatu konsep, sesorang juga akan dapat memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep yang dimaksud. Jadi, konsep dalam matematika merupakan suatu ide abstrak yang digunakan untuk melakukan klasifikasi atau penggolongan atau pengelompokan terhadap objek.

 

 

c)      Relasi-Operasi

 

Relasi merupakan suatu aturan untuk mengawankan anggota suatu himpunan dengan himpunan lain, yang dapat sama dengan himpunan semula. Operasi adalah aturan untuk mendapat elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui. Elemen yang diketahui disebut elemen yang dioperasikan.

d)      Prinsip

Prinsip adalah objek matematika yang paling kompleks. Kekompleksan tersebut dikarenakan adanya sekelompok konsep yang dikombinasikan dengan suatu relasi. Jadi prinsip merupakan hubungan antara 2 atau lebih objek maematika.

4.      Struktur Matematika

 

a)      Unsur-unsur yang tidak didefinisikan

Misal : titik, garis, lengkungan, bidang, bilangan dll.

 

b)      Unsur-unsur yang didefinisikan

Dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan maka terbentuk unsur- unsur yang didefinisikan.

Misal : sudut, persegi panjang, segitiga, balok, lengkungan tertutup sederhana, bilangan ganjil, pecahan desimal, FPB dan KPK dll.

c)      Aksioma dan postulat

Dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan dan unsur-unsur yang didefinisikan dapat dibuat asumsi-asumsi yang dikenal dengan aksioma atau postulat.

Misal :

~ Melalui 2 titik sembarang hanya dapat dibuat sebuah garis.

~ Semua sudut siku-siku satu dengan lainnya sama besar.

~ Melalui sebuah titik hanya dapat dibuat sebuah garis yang tegak lurus ke sebuah garis yang lain.

~ Sebuah segitiga tumpul hanya mempunyai sebuah sudut yang lebih besar dari 900.

Aksioma tidak perlu dibuktikan kebenarannya tetapi dapat diterima kebenarannya berdasarkan pemikiran yang logis.

d)      Dalil atau Teorema

Dari unsur-unsur yangtidak didefinisikan dan aksioma maka disusun teorema-teorema atau dalil-dalil yang kebenarannya harus dibuktikan dengan cara deduktif.

Misal :

~ Jumlah 2 bilangan ganjil adalah genap

~ Jumlah ketiga sudut pada sebuah segitiga sama dengan 1800

~ Jumlah kuadrat sisi siku-siku pada sebuah segitiga siku-siku sama dengan Kuadrat sisi miringnya.

5.      Pola Pikir Matematika

 

a)      Pola Pikir Induktif

Seseorang dapat menggunakan penalaran induktif jika orang tersebut berpikir dari hal-hal yang bersifat khusus ke yang bersifat umum

b)      Pola Pikir Deduktif

Seseorang mengadakan pola pikir deduktif jika orang tersebut berpikir dari hal-hal bersifat umum ke hal-hal bersifat khusus. Pola pikir deduktif harus diperhatikan bahwa kebenaran suatu pernyataan haruslah didasarkan pada kebenaran pernyataan- pernyataan lain.

 

 

B.      Nama Lain Matematika

1.      Matematika Adalah Ilmu Deduktif

Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi) dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lain. Metode pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak dapat dengan cara induktif. Pada ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif dan eksperimen.

Walaupun dalam matematika mencari kebenaran itu dapat dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus dapat dibuktikan dengan cara deduktif. Dalam matematika suatu generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya sesudah dibuktikan secara deduktif.

Contoh dalam ilmu fisika, bila seorang melakukan percobaan (eksperimen) sebatang logam dipanaskan maka memuai dan dilanjutkan dengan logam-logam yang lainnya, dipanaskan ternyata memuai juga, maka ia dapat membuat kesimpulan (generalisasi) bahwa setiap logam yang dipanaskan itu dapat memuai. Generalisasi yang dibuat secara induktif tersebut dalam ilmu fisika dapat dibenarkan contoh dalam ilmu fisika di atas , pada matematika contoh-contoh seperti itu baru dianggap sebagai generalisasi jika kebenarannya dapat dibuktikan secara deduktif.

Berikut adalah beberapa contoh pembuktian dalil atau generalisasi pada matematika. Dalil atau generalisasi berikut dibenarkan dalam matematika karena sudah dapat dibuktikan secara deduktif.

 

Contoh 1

Bilangan ganjil ditambah bilangan ganjil adalah bilangan genap.

Misalnya kita ambil beberapa buah bilangan ganjil, baik ganjil positif, atau ganjil negatif yaitu 1, 3, -5, 7.

 

 

+

1

3

-5

7

1

2

4

-4

6

3

4

6

-2

10

-5

-4

-2

-10

2

7

8

10

2

14

Dari tabel di atas, terlihat bahwa untuk setiap dua bilangan ganjil jika dijumlahkan hasilnya selalu genap. Dalam matematika hasil di atas belum dianggap sebagai suatu generalisasi,walaupun anak membuat contoh-contoh dengan bilangan yang lebih banyak lagi. Pembuktian denganc ara induktif ini harus dibuktikan lagi dengan cara deduktif.

 

Pembuktian secara deduktif sebagai berikut :

Misalkan : a dan b adalah sembarang bilangan bulat, maka 2a bilangan genap dan 2b bilangan genap genap, maka 2a +1 bilangna ganjil dan 2b + 1 bilangan ganjil.

2.      Matematika Adalah Ilmu Terstruktur

Matematika merupakan ilmu terstruktur yang terorganisasikan. Hal ini karena matematika dimulai dari unsur yang tidak didefinisikan, kemudian unsur yang didefinisikan ke aksioma / postulat dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep amtematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis, dan sistimatis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Oleh karena itu untuk mempelajari matematika, konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat, harus benar-benar dikuasai agar dapat memahami topik atau konsep selanjutnya.

Dalam pembelajaran matematika guru seharusnya menyiapkan kondisi siswanya agar mampu menguasai konsep-konsep yang akan dipelajari mulai dari yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

Contoh seorang siswa yang akan mempelajari sebuah volume kerucut haruslah mempelajari mulai dari lingkaran, luas lingkaran, bangun ruang dan akhirnya volume kerucut. Untuk dapat mempelajari topik volume balok, maka siswa harus mempelajari rusuk / garis, titik sudut, sudut, bidang datar persegi dan persegi panjang, luas persegi dan persegi panjang, dan akhirnya volume balok.

 

3.      Matematika Adalah Ilmu Tentang Pola dan Hubungan

Matematika disebut sebagai ilmu tentang pola karena pada matematika sering dicari keseragaman seperti keterurutan, keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep tertentu atau model yang merupkan representasinya untuk membuat generalisasi.

 

4.      Matematika Adalah Bahasa Simbol

Matematika yang terdiri dari simbol-simbol yang sangat padat arti dan bersifat internasional. Padat arti berarti simbol-simbol matematika ditulis dengan cara singkat tetapi mempunyai arti yang luas.

 

5.      Matematika sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu

Matematika sebagai ratu ilmu artinya matematika sebagai alat dan pelayan ilmu yang lain.

 

C.     Definisi Belajar Dan Pembelajaran

Belajar menurut para ahli :

a.    Menurut Lindgren belajar sebagai proses perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan perubahan tersebut disebabkan adanya interaksi individu yang bersangkutan dengan lingkungannya.

b.    Heinich (1999) mengatakan bahwa belajar adalah proses aktivitas pengembangan pengetahuan, keterampilan atau sikap sebagai interaksi seseorang dengan informasi dan lingkungannya sehingga dalam proses belajar diperlukan pemilihan, penyusunan dan penyampaian informasi dalam lingkungan yang sesuai dan melalui interaksi pemelajar dengan lingkungannya.

c.    Gagne & Briggs (2008) menjelaskan belajar adalah hasil pasangan stimulus dan respon yang kemudian diadakan penguatan kembali (reinforcement) yang terus menerus. Reinforcement ini dimaksudkan untuk menguatkan tingkah laku yang diinternalisasikan dalam proses belajar.

Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja oleh setiap individu, sehingga terjadi perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, tidak bisa membaca menjadi bisa membaca dan sebagainya. Belajar adalah suatu proses perubahan individu yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya ke arah yang baik maupun tidak baik.

Jadi, Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.

Pembelajaran menurut para ahli :

a.       Dick dan Carey menjelaskan komponen dalam sistem pembelajaran adalah pemelajar, instruktur (guru), bahan pembelajaran dan lingkungan pembelajaran. Dengan kata lain komponen dalam pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi (lingkungan eksternal) yang konduktif agar terjadi proses belajar (kondisi internal) pada diri siswa (pebelajar).

b.      Menurut Reigeluth dalam menunjang proses pembelajaran ada tiga variabel pembelajaran yaitu variabel kondisi pembelajaran, metode dan variabel hasil pembelajaran.

Pembelajaran itu sendiri merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.

 

D.  Prinsip Pembelajaran dan Karakteristik Matematika Sekolah (SMP/SMA)

Menurut NCTM (2000), ada 6 (enam) prinsip dasar untuk mencapai pendidikan matematika yang berkualitas tinggi meliputi:

a.         Kesetaraan/ Keadilan/ Pemerataan,

b.         Kurikulum,

c.         Pengajaran/Pembelajaran,

d.        Belajar,

e.         Penilaian, dan

f.          Teknologi.

 

Dalam prinsip pemerataan, prestasi matematika yang tinggi diharapkan tidak hanya pada siswa- siswa tertentu tetapi untuk semua siswa. Prinsip kurikulum bahwa harus disusun kurikulum yang tidak hanya sekumpulan aktifitas tetapi harus koheren, difokuskan pada matematika yang penting dan berkaitan secara jelas antar tingkatan. Prinsip pembelajaran, menekankan bahwa tugas guru adalah mendorong siswannya untuk berpikir, bertanya, menyelesaikan masalah, mendiskusikan ide-ide, strategi dan hasil penyelesaian masalah dari siswa. Prinsip belajar menekankan bahwa siswa harus belajar matematika dengan pemahaman/penalaran, secara aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya.

Belajar matematika tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berhitung, tetapi perlu kecakapan berpikir dan bernalar secara matematis dalam menyelesaikan soal-soal baru dan mempelajari ideide baru yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Prinsip penilaian, menjelaskan bahwa penilaian harus dilakukan secara terus-menerus untuk memperoleh gambaran kemajuan belajar siswa, untuk mendorong belajar siswa, dan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Prinsip teknologi, menjelaskan bahwa teknologi penting untuk pembelajaran matematika karena memungkinkan untuk melakukan eksplorasi lebih luas dan memperbaiki penyajian ide-ide matematika.

Karakteristik Matematika Sekolah, pembelajaran matematika di sekolah diarahkan pada pencapaian standar kompetensi dasar oleh siswa. Kegiatan pembelajaran matematika tidak berorientasi pada penguasaan materi matematika semata, tetapi materi matematika diposisikan sebagai alat dan sarana siswa untuk mencapai kompetensi. Oleh karena itu, ruang lingkup mata pelajaran matematika yang dipelajari di sekolah disesuaikan dengan kompetensi yang harus dicapai siswa.

Standar kompetensi matematika merupakan seperangkat kompetensi matematika yang dibakukan dan harus ditunjukkan oleh siswa sebagai hasil belajarnya dalam mata pelajaran matematika. Standar ini dirinci dalam kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok, untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan menurut kemahiran atau kecakapan yang hendak ingin di capai.

Merujuk pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai siswa maka ruang lingkup materi matematika adalah aljabar, pengukuran dan geomerti, peluang dan statistik, trigonometri, serta kalkulus.

1.            Kompetensi aljabar ditekankan pada kemampuan melakukan dan menggunakan operasi hitung pada persamaan, pertidaksamaan dan fungsi.

2.            Pengukuran dan geometri ditekankan pada kemampuan menggunakan sifat dan aturan dalam menentukan porsi, jarak, sudut, volum, dan tranfrormasi.

3.            Peluang dan statistika ditekankan pada menyajikan dan meringkas data dengan berbagai cara.

4.            Trigonometri ditekankan pada menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri.

5.            Kalkulus ditekankan pada mengunakam konsep limit laju perubahan fungsi.

 

E.      Tujuan Pembelajaran Matematika

Matematika diajarkan di sekolah membawa misi yang sangat penting, yaitu mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Secara umum tujuan pendidikan matematika di sekolah dapat digolongkan menjadi :

1.            Tujuan yang bersifat formal, menekankan kepada menata penalaran dan membentuk kepribadian siswa.

2.            Tujuan yang bersifat material menekankan kepada kemampuan memecahkan masalah dan menerapkan matematika.

 

Secara lebih terinci, tujuan pembelajaran matematika dipaparkan pada buku standar kompetensi mata pelajaran matematika sebagai berikut:

 

a.             Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi.

b.            Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

c.             Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

d.            Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

 

F.      Hakekat Matematika

      Hakikat matematika artinya menguraikan apa sebenarnya matematika itu, baik ditinjau dari arti kata matematika, karakteristik matematika sebagai suatu ilmu, maupun peran dan kedudukan matematika diantara cabang ilmu pengetahuan serta manfaatnya. Berikut penjelasan hakekat matematika tentang:

1.      Matematika Adalah Ilmu Deduktif

Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena proses mencari kebenaran (generalisasi) dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan yang lain. Metode pencarian kebenaran yang dipakai adalah metode deduktif, tidak dapat dengan cara induktif. Dalam matematika suatu generalisasi dari sifat, teori atau dalil itu dapat diterima kebenarannya sesudah dibuktikan secara deduktif.

2.      Matematika Adalah Ilmu Terstruktur

Matematika merupakan ilmu terstruktur yang terorganisasikan. Hal ini karena matematika dimulai dari unsur yang tidak didefinisikan, kemudian unsur yang didefinisikan ke aksioma/postulat dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep amtematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis, dan sistimatis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam pembelajaran matematika guru seharusnya menyiapkan kondisi siswanya agar mampu menguasai konsep-konsep yang akan dipelajari mulai dari yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

c.       Matematika Adalah Ilmu Tentang Pola dan Hubungan

Matematika disebut sebagai ilmu tentang pola karena pada matematika sering dicari keseragaman seperti keterurutan, keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep tertentu atau model yang merupkan representasinya untuk membuat generalisasi.

 

d.      Matematika Adalah Bahasa Simbol Matematika yang terdiri dari simbol-simbol yang sangat padat arti dan bersifat internasional. Padat arti berarti simbol-simbol matematika ditulis dengan cara singkat tetapi mempunyai arti yang luas.

 

G.  HAKEKAT Pembelajaran Matematika

Pembelajaran matematika sangat diperlukan, karena matematika adalah ilmu yang sering kita gunakan di kehidupan sehari-hari. Untuk matematika kita memerlukan kegiatan belajar mengajar untuk merealisasikan proses pembelajaran matematika. Berikut menurut Ebbutt dan Straker 1995 (Marsigit, 2003 : 2-3) tentang pedoman guru untuk siswa berdasarkan kepada anggapan tentang hakikat matematika terhadap pembelajaran matematika :

1.      Matematika adalah kegiatan penelusuran pola dan hubungan

             Dalam pembelajaran matematika, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola dan untuk menentukan hubungan. Kegiatan dapat dilakukan melalui percobaan untuk menemukan urutan, perbedaan, perbandingan, pengelompokan, dan sebagainya serta memberi kesempatan siswa untuk menemukan hubungan antara pengertian satu dengan yang lainnya.

2.      Matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi

              intuisi dan penemuan Dalam pembelajaran matematika, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir berbeda menggunakan pola pikir mereka sendiri sehingga menghasilkan penemuan mereka sendiri. Guru juga meyakinkan siswa bahwa penemuan mereka bermanfaat walaupun terkadang kurang tepat dan siswa diberi pengertian untuk selalu menghargai penemuan dan hasil kerja orang lain.

3.      Matematika adalah kegiatan problem solving

             Guru berupaya mengembangkan pembelajaran sehingga menimbulkan masalah matematika yang harus dipecahkan oleh siswa dengan menggunakan cara mereka sendiri.

4.      Matematika merupakan alat berkomunikasi

Guru harus berusaha menjadikan kegiatan pembelajaran matematika yang memfasilitasi siswa mengenal dan dapat menjelaskan sifat-sifat matematika. Guru juga diharapkan dapat menstimulasi siswa untuk dapat menjadikan matematika sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

 

H.                Ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik

1.     Ranah Kognitif

Ranah ini meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari, yang berkenaan dengan kemampuan berpikir, kompetensi memperoleh pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran. Tujuan pembelajaran dalam ranah kognitif (intelektual) atau yang menurut Bloom merupakan segala aktivitas yang menyangkut otak dibagi menjadi 6 tingkatan yang dilambangkan dengan C (Cognitive) yaitu:

a.    C1 (Pengetahuan/Knowledge)

Pada jenjang ini menekankan pada kemampuan dalam mengingat kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang istilah, fakta khusus, konvensi, kecenderungan dan urutan, klasifikasi dan kategori, kriteria serta metodologi.

b.    C2 (Pemahaman/Comprehension)

Pada jenjang ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Kemampuan-kemampuan tersebut yaitu :

1)      Translasi (kemampuan mengubah simbol dari satu bentuk ke bentuk lain).

2)      Interpretasi (kemampuan menjelaskan materi).

Ekstrapolasi (kemampuan memperluas arti).

 

c.    C3 (Penerapan/Application)

Pada jenjang ini, aplikasi diartikan sebagai kemampuan menerapkan informasi pada situasi nyata, dimana peserta didik mampu menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata. Di jenjang ini, peserta didik dituntut untuk dapat menerapkan konsep dan prinsip yang ia miliki pada situasi baru yang belum pernah diberikan sebelumnya.

d.   C4 (Analisis/Analysis)

              Pada jenjang ini, dapat dikatakan bahwa analisis adalah kemampuan menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas. Kemampuan ini dapat berupa :

1)      Analisis elemen/unsur (analisis bagian-bagian materi).

2)      Analisis hubungan ( identifikasi hubungan).

3)      Analisis        pengorganisasian         prinsip/prinsip-prinsip  organisasi        (identifikasi organisasi).

e.    C5 (Sintesis/Synthesis)

Pada jenjang ini, sintesis dimaknai sebagai kemampuan memproduksi dan mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik. Kemampuan ini dapat berupa memproduksi komunikasi yang unik, rencana atau kegiatan yang utuh, dan seperangkat hubungan abstrak.

f.     C6 (Evaluasi/Evaluation)

Pada jenjang ini, evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai manfaat suatu hal untuk tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Kegiatan ini berkenaan dengan nilai suatu ide, kreasi, cara atau metode.

2.      Ranah Afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, emosi serta derajat penerimaan atau penolakan suatu obyek dlam kegiatan belajar mengajar. Kartwohl & Bloom (Dimyati & Mudjiono, 1994; Syambasri Munaf, 2001) membagi ranah afektif menjadi 5 kategori yaitu :

a.       Receiving/Attending/Penerimaan

         Kategori ini merupakan tingkat afektif yang terendah yang meliputi penerimaan masalah, situasi, gejala, nilai dan keyakinan secara pasif.Penerimaan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsanagn atau stimulasi dari luar yang datang pada diri peserta didik. Hal ini dapat dicontohkan dengan sikap peserta didik ketika mendengarkan penjelasan pendidik dengan seksama dimana mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka danmereka memiliki kemauan untuk menggabungkan diri atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.

b.      Responding/Menanggapi

         Kategori ini berkenaan dengan jawaban dan kesenangan menanggapi atau merealisasikan sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Atau dapat pula dikatakan bahwa menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif untuk mengikutsertakan dirinya dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini dapat dicontohkan dengan menyerahkan laporan tugas tepat pada waktunya.

c.       Valuing/Penilaian

         Kategori ini berkenaan dengan memberikan nilai, penghargaan dan kepercayaan terhadap suatu gejala atau stimulus tertentu. Peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan akan tetapi berkemampuan pula untuk menilai fenomena itu baik atau buruk. Hal ini dapat dicontohkan dengan bersikap jujur dalam kegiatan belajar mengajar serta bertanggungjawab terhadap segala hal selama proses pembelajaran.

d.      Organization/Organisasi/Mengelola

         Kategori ini meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi sistem nilai, serta pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimiliki. Hal ini dapat dicontohkan dengan kemampuan menimbang akibat positif dan negatif dari suatu kemajuan sains terhadap kehidupan manusia.

e.       Characterization/Karakteristik

         Kategori ini berkenaan dengan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisais nilai menempati urutan tertinggi dalam hierarki nilai. Hal ini dicontohkan dengan bersedianya mengubah pendapat jika ada bukti yang tidak mendukung pendapatnya.

 

3.                  Ranah Psikomotor

Ranah ini meliputi kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan serta kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik (motorik) yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, ketepatan, keterampilan kompleks, serta ekspresif dan interperatif. Kategori yang termasuk dalam ranah ini adalah:

a.       Meniru

Kategori meniru ini merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan contoh yang diamatinya walaupun belum dimengerti makna ataupun hakikatnya dari keterampilan itu.

b.      Memanipulasi

Kategori ini merupakan kemampuan dalam melakukan suatu tindakan serta memilih apa yang diperlukan dari apa yang diajarkan.

c.       Pengalamiahan

Kategori ini merupakan suatu penampilan tindakan dimana hal yang diajarkan dan dijadikan sebagai contoh telah menjadi suatu kebiasaan dan gerakan-gerakan yang ditampilkan lebih meyakinkan.

d.      Artikulasi

Kategori ini merupakan suatu tahap dimana seseorang dapat melakukan suatu keterampilan yang lebih kompleks terutama yang berhubungan dengan gerakan interpretatif.

 


 

KESIMPULAN

 

 

Matematika dapat diartikan sebagai studi deduktif, sebagai bahasa, sebagai ratu dan pelayan ilmu, sebagai seni, dan sebagai aktivitas manusia. Dan tentu saja ada orang yang berpendapat lain bahwa matematika itu adalah alat, misalnya. Untuk apa kita, guru dan dosen calon guru mengetahui hakikat matematika? Manfaatnya tentunya banyak. pembelajaran matematika untuk anak tentunya akan berbeda dengan pembelajaran matematika bagi orang dewasa. Selain itu, bila kita berpendapat bahwa matematika itu sebagai studi deduktif, maka pada akhirnya setiap orang yang mendalami matematika itu harus bisa memahaminya secara deduktif.

Untuk meningkatkan pendidikan matematika sekolah dibutuhkan prinsip dan standar. Prinsip pendidikan matematika meliputi: kesetaraan, kurikulum, pembelajaran, belajar, penilaian, dan teknologi. Standar pendidikan matematika terdiri dari standar isi dan standar proses. Standar isi matematika di sekolah mencakup: bilangan dan operasinya, aljabar, geometri, pengukuran, analisis data dan probabilitas. Untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran matematika sekolah, dibutuhkan standar proses pembelajaran. Standar proses mencakup: pemecahan masalah, penalaran dan bukti, komunikasi, koneksi, dan representasi. Dalam praktiknya pembelajaran matematika dipengaruhi oleh pandangan terhadap matematika. Terdapat dua pandangan berbeda terhadap matematika: (1) matematika adalah kumpulan aturan-aturan yang harus dimengerti, perhitungan- perhitungan aritmatika, persamaan aljabar yang misterius, dan bukti-bukti geometris; dan (2). matematika dipandang sebagai ilmu tentang pola keteraturan dan urutan yang logis. Konsekuensinya, pandangan bahwa matematika sebagai kumpulan aturan lebih cocok bila matematika diajarkan dengan mengacu kepada behaviorisme. Sedangkan pandangan bahwa matematika sebagai suatu keteraturan dan urutan logis, lebih cocok bila ajarkan dengan mengacu kepada konstruktivisme.


DAFTAR PUSTAKA

 

Andi Hakim, N. (1980). Landasan Matematika, Jakarta : Bharata Aksara.

Bandung : Tarsito.

 

Erman, S dan Winataputra, U.S. (1993). Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jakarta : Universitas Terbuka.

 

Herman, H. (1990). Strategi Belajar Matematika, Malang : IKIP Malang. Lisnawaty, S. (1992). Metode Mengajar Matematika 1, Jakarta : PT. Rineka Cipta

Ibrahim, Muslimin. dkk. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.

Masriyah. 2014. Pengantar Dasar Matematika. Surabaya: Unesa University Press.

Nur, Moch. 2000. Buku Panduan Ketrampilan Proses dan Hakekat Sains.

Ramli,  kamrianti.2013.           Keterampilan   Sians.  [Online].https://kamriantiramli.wordpress.com/2011/03/21/keterampilan- proses-sains/. . [09 September 2015].

Rosana, Dadan. 2014. Alat Ukur dan Besaran Fisis. [Online]. Tersedia hstaff.uny.ac.id/sites/default/files/.../dadan.../makalah-alat-ukur- ipa.pdf. [09 September 2015].

 

Ruseffendi, E.T, dkk. (1992), Pendidikan Matematika 3, Jakarta Depdikbud. Wragg, E.C. (1997). Keterampilan Mengajar Di Sekolah Dasar, Jakarta : Gramedia

Ruseffendi, E.T. (1988). Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini Untuk Guru dan SPG,

Ruseffendi, E.T. (1988). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA, Bandung : Tarsito.

Setiyani.          _    .     Hakikat            matematika      dan      Manfaatnya.   [Online].ngulikmatematika.wibly.com/uploads/1/1/9/5/11951233/matematika_ hakikat   dan_manfaatnya.pptx. [09 September 2015].

Surabaya: Unesa University Press.

Surabaya: UnesaUniversity Press.

Widowati,       Asri.    2008.   Diktat  Pendidikan      sains.   [Online].   Tersediastaff.uny.ac.id/sites/default/files/diktat%20Pendidikan%20Sains.pdf. [09 September 2015].

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...