Sabtu, 04 Juni 2022

Pembelajaran Matematika Model PBL (Problem Based learning) Pada Mata Pelajaran Matematika

 

PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA


Setiap Manusia dalam kehidupannya tentu melakukan Kegiatan belajar.  Kegiatan Belajar dapat dilakukan dimana saja tidak harus sekolah sebagai lembaga formal, melainkan bisa juga bersifat informal. Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal, untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. 

Belajar dapat didefinisikan Winkel (dalam Suprihatiningrum, 2013, pp. 15) sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang  berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan nilai sikap. Kunci keberhasilan belajar berada pada dalam diri individu. Semakin kuat keinginan untuk belajar, maka keberhasilan belajar akan tercapai. Di dalam interaksi belajar, individu pasti mengalami kesukaran. Kesukaran tersebut merupakan sebagai akibat kurangnya belajar. Hasil belajar selalu sesuai dengan proses belajar yang dialami oleh seorang individu.

Hasil belajar sendiri didefinisikan (Sudjana, 2011, pp. 22)  sebagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar tiap individu berbeda-beda, tergantung kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Hasil belajar dapat dinilai salah satunya yakni dengan cara tes dan bukan tes. Bentuk penilaian tes yaitu tes uraian dan tes objektif. Sedangkan bukan tes yaitu dengan alat kuesioner dan wawancara, skala (skala penilaian, skala sikap, skala minat), observasi atau pengamatan, studi kasus, sosiometri. Perubahan perilaku siswa sebagai hasil belajar, sangat tergantung dari pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Agar siswa mencapai hasil belajar sesuai yang diharapkan, guru dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan, dan menggunakan metode pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menghendaki situasi belajar yang alamiah, yaitu siswa belajar dengan sungguh- sungguh dengan cara mengalami dan menemukan sendiri pengalaman belajarnya. Berbagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa Sekolah Dasar untuk dapat menguasai kompetensi hingga mencapai standar kompetensi kelulusan. Salah satu pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa adalah mata pelajaran Matematika. Matematika bagi siswa Sekolah Dasar berguna untuk kehidupan sehari-hari di lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang kemudian. Kegunaan atau manfaat matematika bagi para siswa Sekolah Dasar adalah sesuatu yang jelas dan tidak perlu dipersoalkan lagi, lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini. Namun, pelajaran Matematika ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi peserta didik. Banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik, namun hasilnya juga kurang maksimal.

Oleh karena itu, penguasaan terhadap matematika mutlak diperlukan dan konsep- konsep matematika harus benar-benar difahami sejak dini. Sepintas lalu konsep matematika yang diberikan kepada siswa SD sangatlah mudah dan sederhana, tetapi sebenarnya materi matematika SD memuat konsep-konsep mendasar dan penting serta tidak boleh dipandang sepele. Diperlukan kecermatan dalam menyajikan konsep-konsep tersebut agar siswa mampu memahami secara benar, sebab kesan dan pandangan yang diterima siswa terhadap suatu konsep di SD  akan terus dibawa pada masa-masa selanjutnya.

Pembelajaran sains diajarkan dengan menekankan pada proses memberi pengalaman kepada siswa dalam memadukan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan yang sesuai konsep ilmuwan. Pengetahuan awal siswa yang diperoleh dari pengalaman mengamati fenomena-fenomena di lingkungan tempat tinggal memberikan latar belakang dalam membangun pengetahuan awal siswa. Setiap siswa tentu mempunyai tafsiran yang berbeda terhadap pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa berada dalam proses pembelajaran di kelas, guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran agar terbentuk konsep baru yang sesuai dengan konsep ilmuwan.

Guru hendaknya merancang pembelajaran yang efektif dengan memperhatikan karakteristik materi pembelajaran yang diajarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangan guru dalam merancang pembelajaran dengan memilih pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Kesatuan yang utuh antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran akan terbentuk sebuah model pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bingkai dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang dikembangkan di Indonesia, para guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, sebagaimana yang disyaratkan dalam kurikulum nasional. Jika guru telah memahami karakteristik materi ajar dan siswa, pemilihan model pembelajaran diharapkan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Kurikulum 2013 telah memberikan acuan dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang dimaksud meliputi : project based learning (PjBL), problem based learning (PBL), atau discovery learning. Pemilihan model pembelajaran diserahkan kepada guru dengan menyesuaikan dengan karakteristik materi ajar. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.

Makalah ini hanya akan membahas pembelajaran berbasis proyek (project based learning = PjBL) diantara banyak model pembelajaran yang lain.. Penerapan project based learning (PjBL) dalam pembelajaran sains dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil belajar kognitif (Baran dan Maskan, 2010), membentuk sikap dan prilaku peduli terhadap lingkungan (Kılınç, 2010;



Pengertian dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manajemen pendidikan islam, mungkin merupakan kata yang sering kita kenal, kita dengar bahkan kita kerjakan, akan tetapi banyak dari kita yang mungkin belum paham sepenuhnya makna dari definisi manajemen pendidikan islam tersebut. Maka dari itu kita harus lihat apa sesungguhnya makna atau definisi dari  manajemen pendidikan islam. Ada bermacam-macam pendapat yang mengemukakan tentang definisi manajemen pendidikan islam, oleh karena itu kita memerlukan kesepakatan terlebih dahulu apa yang di maksud dengan manajemen pendidikan islam.

Sejalan dengan perubahan zaman modern ini tentang pengetahuan manajemen yang harus kita ketahui, maka dari itu kita harus mengetahui apa sesungguhnya definisi dari manajemen itu sendiri, Manajemen pendidikan islam berkaitan erat dengan masalah pengelolaan dalam sebuah lembaga pendidikan, terutama pendidikan islam, di dalam dunia pendidikan tentunya di butuhkan sebuah  prngelolaan yang baik, karena maju berkembangnya dalam sebuah lembaga pendidikan tergantung dari sistem pengelolaanmanajemennya.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dan nilai pendidikan islam?

2.      Bagaimana paradigm dan wilayah kajian manajemen pendidikan islam?

3.      Bagaimana konsep manajemen sekolah?

4.      Apa perlunya kerja sama dalam manajemen pendidikan islam?


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian dan Nilai Pendidikan Islam

1.      Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Agama islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.[1]

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Islam sangat beragam, hal ini terlihat dari definisi pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pe Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal.

 Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad saw, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Agama islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.

2.      Nilai Pendidikan Islam

Istilah nilai sering kita jumpai serta banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik secara lisan ataupun tertulis, seperti nilai religius, nilai moral, nilai keindahan ataupun nilai kebudayaan. Istilah tersebut seperti sudah dimengerti baik betuk ataupun maknanya. Namun jika kita kaji lebih dalam apa makna nilai itu, akan kita temukan arti yang lebih dalam pula dari makna kata tersebut. Banyak para ahli yang menafsirkan makna dari nilai itu sendiri menurut sudut pandang yang mereka anut, karena sifat nilai itu sendiri adalah riil atau abstrak, sehingga sulit menentukan dan mengetahui nilai itu dari pribadi yang lain. Keluasan, keabstrakan nilai merupakan standar kebenaran yang harus dimiliki, diinginkan dan layak untuk dihormati.

Nilai dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia berarti harga, ukuran, angka yang mewakili prestasi, sifat- sifat yang penting yang berguna bagi manusia dalam menjalani hidupnya (Kamisa, 1997: 376). Nilai mengacu pada sesuatu yang oleh manusia ataupun masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengertian tentang nilai- nilai pendidikan Islam di atas bahwa nilai menunjukan sesuatu yang terpenting dalam keberadaan manusia atau suatu yang paling berharga atau asasi bagi manusia, oleh karena itu bila dilihat dari pendidikan Islam nilai merupakan jalan hidup yang berproses pada wilayah ritual dan berdimensi eskatologis diajarkan perlunya penghayatan nilai- nilai ketuhanan. Disinilah manusia memberlukan bimbingan serta tata cara ibadah yang baik, berdoa yang benar, berperilaku yang baik dan sebagainya.

Tahap-tahap proses pembentukan nilai menurut Karthwohl sebagaimana dikutip oleh Mawardi Lubis ( 2011: 19 ), lebih banyak banyak ditentukan dari arah mana dan bagaimana seseorang menerima nilai-nilai dari luar kemudian menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam dirinya. Menurut Karthwohl proses pembentukan nilai pada anak dapat dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu :

a.       Tahap receiving ( menyimak ). Pada tahap ini seseorang secara aktif dan sensitif menerima stimulus dan menghadapi fenomena-fenomena, sedia menerima secara aktif dan selektif dalam memilih fenomena.

b.      Tahap responding ( menanggapi ). Pada tahap ini seseorang sudah dalam bentuk respons yang nyata.

c.        Tahap valuing ( memberi nilai ). Jika tahap pertama dan kedua lebih bersifat aktvitas fisik biologis dalam menerima dan menanggapi nilai, maka pada tahap ini seseorang sudah mampu menangkap stimulus itu atas dasar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan mulai mampu menyusun persepsi tentang objek.

d.      Tahap mengorganisasikan nilai ( organization ), yaitu satu tahap yang lebih kompleks dari tahap ketiga di atas. Seseorang mulai mengatur sebuah sistem nilai yang ia dari luar untuk diorganisasikan (didata) dalam dirinya sehingga sistem nilai itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dirinya.

e.       Tahap karakterisasi nilai ( characterization ), yang ditandai dengan ketidakpuasan seseorang untuk mengorganisir sistem nilaiyang diyakininya dalam kehidupan secara mapan, ajek dan konsisten.

Karakterisasi nilai dapat dibentuk melalui berbagai kriteria nilai pendidikan yang harus dipahami, sebagaimana diungkap oleh Djunaidi yang dikutip oleh Siti Aminaul Mu’minah ( 2011 : 21 ) antara lain :

a.       Fakta yang menyokong bahwa pertimbangan itu mesti benar atau baik pada tempatnya.

b.       Fakta itu harus ada hubungannya dengan keasliannya dan harus mempunyai nilai yang nyata bagi orang yang mempertimbangkan.

c.        Akan sama dengan ssesuatu yang lain, bila hubungan lalpangannya itu lebih luas terhadap kenyataan yang diambil berdasarkan perhitungan,pertimbangan yang lebih.

d.      Prinsip nilai yang tercantum lewat pertimbangan harus dapat diterima oleh yang membuat pertimbangan itu sendiri.

 

B.     Paradigma dan Wilayah Kajian Manajemen Pendidikan Islam

 

1.      Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam

Paradigma manajemen pendidikan islam pada kedaratan keilmuan adalah menyatukan ilmu manajemen pendidikan dengan wahyu dan di tampilkan dalam ontology yang mendudukkan wahyu Al quraan dan An sunnah.sebagai acuan, dan sumber konsultasi pengembangan manajemen pendidikan islam secara ontologis dan epistimologis pada dataran pembuat tafsir dan mengiji nya kedalam dataran emperis untuk di temukan teori-teori nya.

Ibnu Thaimiyah menyebutkan sebagai Manhaj Jam’baim Al-Qira’atain, yakni memadukan antara qiraah wahyu (membaca, memahami, merenungkan, dan menelaah wahyu) dengan qiraah fenomena kauni (membaca, menelaah meneliti, dan mengkaji fenomena alam semesta), termasuk di dalamnya fenomena social dan pendidikan di dunia empiris. Dalam membaca dan memahami wahyu hendaknya dengan melibatkan pemahaman tentang realitas dan teori-teori alam, social dan sebagainya. Sebaliknya dalam membaca, memahami, mengkaji, fenomena alam, social, dan sebagainya hendaknya di landasi dengan roh aatu spiritual.

Upaya pengembangan teori manajemen pendidikan islam selalu di uji koherensinya pada moral religius (islam). Moral relgius ini merupakan dimensi aksiologinya, yang terkait dengan pahala dan siksa, sebagai konsekuensi dari fungsi dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu ilmu manajemen pendidikan islam bukan untuk profit making semata, sebagaimana konsep materialisme, tetapi untuk mengagungkan asma Allah (Al-Khalik) dan menyayangi makhuknya, sedangkan profit merupakan efek langsung atau pengiring dari upaya tersendiri. Dalam konteks HAM, justru lebih mendahulukan kewajibannya selanjutnya memperoleh dan menerima haknya. Pekerja memanage institusi pendidikan islam dengan cara:

1.    Tidak sembrono atau tidak bersikap seenaknya dan acuh tak acuh,

2.    Komitmen terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu atau sebaik mungkin,

3.    Bekerja secara efisien dan efektif atau mempunyai daya guna yang setiggi-tingginya,

4.    Sungguh-sungguh dan teliti,

5.    Memiliki dinamika yang tinggi,

6.    Komitmen terhadap masa depan,

7.    Memiliki kepekaan terhadap perkembangan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bersikap istiqomah adalah sebagai perwujudan dari upaya mengagunggkan asma Allah.

Di sisi lain manajemen pendidikan islam dapat bertolak dari dunia emperis, sebagaiman terwujud dalam fenomena praktik dan operasional manajemen pendidikan islam melalui penggalian terhadap fenomena tersebut dan di analisis secara kritis, serta di diskusikan dengan teori-teori yang berkembang dalam manajemen pendidikan pada umumnya, maka akan dapat di tarik dan di temukan kontrukteotritisnya, untuk selanjutnya di konsultasikan pada ajaran dan nila-nila mendasar sebagaimana terkandung dama wahyu (Al-qur’an dan al sunnah), yang dibangun dari telaah ternatik terhadap wahyu tersebut. Dari situ akan melahirkan konsep dan atau teorimanajemen pendidikan yang berperspektif, telaah tematik terhadap wahyu tersebut perlu di garus bawahi, agar tidak terjebak ke dalam cara kerja yang bersifat pragmatis, yakni mengembangkan pemikiran rasional, dan pengalaman emiris manajemen pendidikan untuk selanjutnya pada titik tertentu berusaha menjadikan nash-nash sebagai alat justifikasi konsep pemikiran dan pengalaman empiris tersebut.

2.      Wilayah Kajian Manajemen Pendidikan Islam

 

Bertolak dari paradigm keilmuan tersebut, maka wilayah kajian atau penelitian manajemen pendidikan islam yang dapat dikembangkan mencakup:

a.       Masalah-masalah fondasional (foundational problems), terutama menyangkut landasan filosofis, sosiologis, antripologis, psikologis, dan lain-lain.

b.      Masalah-masalah structural (structural problems), yang meliputi dimensi-dimensi struktur kelembagaannya, masyarakat, jenjang pendidikan, tingkat ekonomi dan lain-lain.

c.       Masalah-masalah operasional (operational problems), terutama yang menyangkut praktik manajemen pendidikan islam pada lingkupjenis-jenis pendidikan islampada aspek kelembagaan maupun programnya, serta segala komponen pendidikan yang  dijiwai dan semangati oleh ajaran dan nilai-nilai islam sebagaimana uraian tersebut diatas.

d.      Dengan demikian, kegiatan penelitian manajemen pendidikan islam akan dapt melahirkan dan mengembangkan teori-teori sebagai berikut:

1.    Teori manajemen pendidikan agama islam di rumah tangga karier,

2.    Teori manajemen pendidikan agama islam untuk lembaga-lembaga pemasyarakatan,

3.    Teori manajemen pendidikan islam di taman kanak-kanak,

4.    Teori manajemen pendidikan madrasah ibtidaiyah,

5.    Teori manajemen pendidikan madrasah tsanawiyah,

6.    Teori manajemen pendidikan madrsah aliyah,

7.    Teori manajemen pendidikan agama islam dan di perguruan tinggi,

8.    Teori manajemen pendidikan madrasah perkotaan,

9.    Teori manajemen pendidikan madrasah pedesaan,

10.  Teori manajemen kepala sekolah dalam porspektif islam.[2]

 

 

 

C.    Konsep Manajemen Sekolah

Konsep Manajemen Sekolah/Madrasah Sekolah/madrasah perlu membuat tujuan strategis, tujuan strategis merupakan upaya sekolah/madrasah untuk menata berbagai prioritas yang harus dikerjakan dalam mencapai visi yang telah dicanangkan. Dengan ditatanya berbagai prioritas tersebut akan memudahkan seluruh komponen organisasi sekolah/madrasah dalam mengimplementasikannya pada pekerjaan sehari-hari.Dengan telah ditentukannya tujuan strategis tersebut, maka sekolah/madrasah dituntut untuk memformulasikan strategi lembaga untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan strategis berkaitan dengan pernyataan hal-hal apa saja yang harus dikerjakan oleh sekolah/madrasah untuk mencapai visinya termasuk prioritas yang harus dikerjakan. Sedangkan strategi lembaga berkaitan dengan bagaimana upaya lembaga dalam mengerjakan berbagai prioritas tersebut. Mendasarkan pada formula strategi lembaga yang dikembangkan oleh sekolah/madrasah, kemudian sekolah/madrasah mulai memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan dikerjakan dalam upaya mencapai visi lembaga.

Namun tahapan-tahapan teknis perencanaan manajemen disekolah/madrasah tersebut dapat berjaan ditempat atau bahkan tidak jalan sama sekali jika berbagai kondisi penting dalam lembaga belum terbentuk dengan baik. Kondisi tersebut meliputi:

1.Kepemimpinan sekolah/madrasah, dan 6 Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat.

2.Budaya sekolah/madrasah. Dengan kepemimpinan dan budaya yang baik tersebut, maka pemimpin dapat mengelola perubahan yang akan dialaminya dan risiko yang akan ditanggung sebagai akibat dari perubahan tersebut.

     Di sisi lain, dewasa ini pengelolaan sekolah/madrasah harus memerhatikan standar-standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah melali PP No. 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam PP tersebut disebutkan 8 standar yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidikan di Indonesia yang meliputi:

1. Standar isi

 2. Standar proses

 3. Standar kompetensi lulusan

 4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan

 5. Standar sarana prasarana

 6. Standar pengelolaan

7. Standar pembiayaan

 8. Standar penilaian pendidikan.

     Karena itu, pembahasan tentang rencana kerja sekolah/madrasah merupakan upaya untuk memenuhi dan melampaui kedelapan standar diatas.[3]

 

D.     Perlunya Kerja Sama dalam Manajemen Pendidikan Islam

      Prof. Dr. Mohammad Abdus Salam, salah seorang ilmua muslim dari pakistan yang telah meraih Nobel, juga menyatakan: ‘tidak diragukan lagi bahwa dari seluruh peradaban di palnet ini, sains menempati posisi yang paling lemah dan benar-benar memprihatinkan dunia islam. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa kelemahan ini berbahaya karena kelangsungan hidup suatu masyarakat pada abad ini secara langsung tergantung pada penguasanya atas sains dan teknologi’. Selanjutnya ia menyatakan bahwa: ‘...ortodoksi agama dan semangat intoleransi merupakan dua faktor utama yang bertanggung jawab atas lemanya lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya dalam islam’.

      Statement di atas menggaris bawahi perlunya kepedulian para pengembang dan pengelola lembaga pendidikan islam untuk selalu mencari jawaban atas tantangan yang di hadapi oleh dunia islam dewasa ini, terutama menyangkut lemahnya sistem pendidikan islam yang produknya dianggap belum banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi.

      Perkembangan iptek dan juga budaya hingga saat ini justru lebih banyak didominasi oleh dan masih berada di tangan para ilmuwan, teknologi dan budayawan yang berasaal dari negara-negara barat, seadangkan sistem pendidikan islam lebih banyak berada pada posisi marginal, perifer,  dan bahkan sebagai konsumen belaka.

      Rendahnya kualitas pendidikan islam yang berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia yang mampu berkopetensi di dunia global, dan sekaligus akan berdampak pula pada rendahnya produktivitas dan pendapatan para warga negaranya. Pengembangan iptek di dunia islam pada era globalisasi juga merupakan kebutuhan vital untuk menjembatani kesenjangan yang mencolok antara idealitas ajaran dan nilai-nilai islam(Al-Quran dan Al-Sunnah) dengan realitas pesatnya kemajuan iptek dan akselerasi perubahan sosial- budaya yang notabene digagas dan didominasi oleh para ilmuan dan teknologi nonmuslim.

      Respon dan antisipasi terhadap berbagai problem tersebut agaknya sangat lamban bilamana lembaga pendidikan islam di-manage seadanya dengan sumber daya yang dimilikinya, tanpa adanya uapay kebersamaaan, persatuan, dan kerja sama yang saling menguntungkan antarsatu lembaga pendidikan islam dengan lainya baik di dalam negeri maupun dengan negara-negara di dunia islam dan negara maju pada umumnya.

      Atas dasar itulah, maka keberadaan lemabaga pendidikan islam indonesia yang menjalin kerja sama dengan lemabag pendidikan yang terkenal di dunia islam dan di negara-negara maju pada umumnya, sebagai perwujudan kerja sama antara negar-negara ASEAN atau negara-negara maju di dunia, adalah sangat diperlukan adanya sebagai upaya pemberdayaan dan pencerahan sistem pendidikan islam. Peberdayaan dan pencerahan ini tentunya diarahkan pada pembenahan dan perbaikan sistem pendidikan islam selaras dengan trend perkembangan kontemporer, sehingga menjadi suatu model pendidikan islam, yang mampu membangun SDM yang berkualitas, sekalipun meningkatkan kualitas produktivitas dan pendapatan para warga negara.

      Ciri-ciri kualitas SDM tersebut antara lain ditunjukkan oleh indikator-indikator tampilnya lulusan pendidikan islam yang memiliki kekuatan akidah dan spiritual, keunggulan moral, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguasaan keahlian dan kematangan profesional sesuai dengan standar nasional dan internasional, yang didukung oleh jasmani yang sehat, dan mampu berkompetensi dengan para lulusan dari negara-negara lain.

      Untuk membangun ciri-ciri tersebut, maka lemabaga pendidikan islam serta perguruan tinggi islam dengan berbagai program studinya di-manage dengan tujuan untuk memperkukuh eksistensi lulusannya agar tidak hanya berwawasan regional (Asia)dan global (Dunia). Lembaga pendidikan islam indonesia dengan demikian perlu secara aktif berperan mempersiapkan calon tenaga kerja agar mampu bersaing dengan rekan mereka dari negara lain. Hal ini sejalan dengan dengan semangat AFTA (Asean Free Trade Area) dan ALFA (Asean Free Labour Area), dan berarti persaingan tenaga kerja akan menjadi terbuka. Konsekuensinya, tenaga kerja indonesia harus mampu bersaing secara terbuka dengan tenaga kerja asing dari berbagai negara.

      Dengan berkembangnya era globalisasi tidak bisa dipungkiri akan munculnya berbagai Multi-Nasional Enterprise (MNE), yang pada gilirannya akan merambah padaMulti-National Hinger Educational Enterprise (MNHEE). Bertolak dari pemikiran tersebut, maka pengembangan lembaga pendidikan islam, termasuk perguruan tingginya perlu mengantisipasi hal-hal berikut:

1.      Perlunya internasional pendidikan islam,

2.      Perlunya manajemen pendidikan islam yang berdasarkan kebutuhan pasar keraj,

3.       Perlunya manajemen pendidikan islam secara terpadu antara pendidikan formal dan nonformal, keterpaduan anatara riset, pengajaran, dan pelayanan,

4.      Perlunya pengembangan keterampilan terjual, dalam arti mampu menciptakan dan menawarkan jenis pelatihan dan konsultasi yang sangat diperlukan oleh institusi-institusi terkait,

5.      Perlunay komersialisasi riset, dalam arti untuk menghimpun sumber daya yang ada guna kepentingan masyarakat, maka lembaga pendidikan islam terutama perguruan tingginya harus mampu memilih dan menawarkan riset apa saja ke masyarakat,

6.       Agar lemabaga pendidikan islam mampu memacu dan memasuki abad persaingan yang semakin ketat, maka perlu pengembangan program khusus/spesifik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[4]


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Manajemen pendidikan islam adalah suatu proses penataan/pengelolaan lembaga pendidikan islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan non manusia dalam menggerakannya untuk mencapai tujuan pendidikan islam secra efektif dan efisien.Itu berarti dalam suatu lembaga pendidikan islam di perlukannya manajemen yang baik sesuai dengan kaidah aturan dan ajaran yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits, adapun proses manajemen pendidikan islam meliputi planning manajemen pendidikan islam, organizing manajemen pendidikan islam, actuating manajemen pendidikan islam dan controlling manajemen pendidikan islam. Selain itu dalam manajemen pendidikan islam terdapat prinsip-prinsip manajemen pendidikan islam yaitu, ikhlas, jujur, adil, amanah dan tanggungjawab.

B.        Saran

Demikian makalah yang dapat penulis sampaikan, tentunya dalam penyusunan makalah ini masih banyak kata-kata atau penyampaian yang kurang jelas ataupun dalam penyajiannya yang kurang lengkap, pastinya makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kritik dan saran sangatlah penulis harapkan untuk menjadikan pelajaran pada masa mendatang.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budinnata, Filsafat Pendidikan Islam,(bandung: pustaka setia,2004

Bukhari Umar. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009

Muhaimin, Manajemen pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009

Nur ubiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (bandung: Pustaka Setia,1997



[1] Abudinnata, Filsafat Pendidikan Islam,(bandung: pustaka setia,2004) hlm. 101

 

[2] Bukhari Umar. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksar,2009) hlm. 26

                          

[3] Muhaimin, Manajemen pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2009) hlm. 26-28

 

[4] Nur ubiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (bandung: Pustaka Setia,1997), hlm.15-17

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...