PENGERTIAN WAWANCARA
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Perlukan
sebagai pihak yang akan mewawancarai melakukan persiapan diri dalam melakukan
wawancara? Jawabannya adalah perlu. Wawancara biasanya digunakan oleh
perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan guna mengetahui keahlian
pelamar dan posisi yang akan diberikan perekrut kepada calon karyawan tersebut.
Serta wawancara juga di lakukan dalam bidang Jurnalistik guna memperoleh
informasi. Selengkapnya penulis akan menjelaskan tentang Wawancara pada makalah
ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari wawancara?
2. Apa sajakah langkah-langkah pada sat
melakukan wawancara?
3. Apa sajakah macam-macam wawancara?
4. Apa yang didapatkan dari kegiatan
wawancara?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Wawancara
Wawancara
merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara yang
mewawancarai dan yang diwawancarai. Wawancara yang dalam istilah lain dikenal
dengan interview merupakan suatu metode pengumpulan berita, data, atau fakta di
lapangan. Prosesnya bisa dilakukan dengan bertatap muka langsung (face to face)
dengan narasumber maupun secara tidak langsung seperti melalui telepon,
internet atau surat (wawancara tertulis). Tujuan utama wawancara yaitu
memperoleh informasi yang lebih mendetail mengenai pribadi interview maupun hal
yang diketahuinya.
B.
Macam-Macam
Wawancara
1.
Wawancara
Tidak Terstruktur/Tidak Terpimpin
Yakni wawancara tidak ada kesengajaan pada pihak pewawancara untuk
mengarahkan tanya jawab ke pokok-pokok persoalan yang menjadi titik focus dari
kegiatan penyelidikan. Dalam wawancara ini menggunakan pertanyaan terbuka,
memungkinkan jawaban yang lebih luas dan bervariasi. tujuan dari wawancara
adalah untuk memahami, bukan hanya menjelaskan, sehingga hubungan antar manusia
menjadi sangat penting.
2.
Wawancara Terstruktur/Wawancara Terpimpin
Dalam wawancara ini, pewawancara terikat oleh suatu fungsi, bukan saja
sebagai pengumpul data melalui tanya jawab, melainkan sebagai pengumpul data
relevan terhadap maksud-maksud penyelidikan yang telah dipersiapkan dengan
masak, sebelum kegiatan wawancara yang sebenarnya dijalankan.
Dalam
wawancara terpimpin ada hipotesis yang dibawa ke lapangan untuk dibuktikan
benar tidaknya, ada kerangka pokok-pokok persoalan yang hendak ditanyakan
sehubungan dengan hipotesis yang hendak dibuktikan itu.
3.
Focused/semi
structured interviews/Wawancara Bebas Terpimpin
Di
sini pewawancara menggunakan pedomaan wawancara yang dibuat berupa daftar
pertanyaan, tetapi tidak berupa kalimat-kalimat yang permanen (mengikat).
4.
Wawancara
Pribadi
Dalam
wawancara pribadi ini, seorang pewawancara dan seorang yang diwawancarai dengan
berhadapan muka (face to face). Wawancara pribadi biasanya digunakan untuk
tujuan klinis dan terapi pasien.
5.
Wawancara
Kelompok
Dalam
wawancara kelompok, seoarng pewawancara sekaligus menghadapi dua orang yang diwawancarai
atau lebih. Wawancara kelompok sangat berguna sebagai alat pengumpulan data
yang sekaligus difungsikan sebagai proses cek data.
6.
Man
In The Street Interview
Suatu
cara untuk menanyai orang yang berada dijalanan dengan jalan menghentikan setiap
orang yang berada di jalan raya untuk diajukan beberapa pertanyaan terhadapnya.
Cara ini biasanya dilakukan bila kita ingin mengetahui bagaimana pendapat umum.
7.
Wawancara
Berulang
Suatu
wawancara terhadap responden atau sejumlah responden yang sama yang dilaksanakan
lebih dari satu kali dalam waktu dan situasi yang berbeda. Wawancara berulang
biasanya digunakan untuk menelusur perkembangan khusus dalam proses psikologis
atau proses sosial.
8.
Wawancara
Buta
Suatu
hasil wawancara tanpa identitas responden yang diwawancarai. Dalam
persuratkabaran biasanya disebut “sumber yang bisa dapat dipercaya”, “pejabat
yang berwenang” dan sebagainya.
9.
Telephone
Interview/Interview yang menggunakan telepon
Sering
terjadi macam wawancara ini untuk menanyakan yang menyangkut keadaan lokal
terhadap orang yang juga berada di kota itu.
10.
Wawancara
Riset
Suatu
wawancara yang berperan sebagai metode untuk melengkapi atau menyempurnakan
data penelitian.
C.
Langkah-Langkah
Melakukan Wawancara
1.
Menentukan tema atau topik wawancara
2.
Menyiapkan peralatan wawancara
3.
Menentukan narasumber
4.
Membuat daftar pertanyaan
5.
Melakukan perjanjian dengan narasumber untuk menentukan waktu dan tempat
wawancara
6.
Melakukan kegiatan wawancara
7.
Membuat ringkasan hasil wawancara
8.
Menyusun hasil wawancara
D.
Peralatan
Wawancara
1.
Alat perekam suara (tape recorder)
2.
Buku catatan dan pena
3.
Alat perekam audio visual (handycam)
E.
Sikap-sikap
yang harus dimiliki pewawancara
Saat
melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak
kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk
itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai
berikut:
Netral; artinya, pewawancara tidak
berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh
responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden,
baik yang menyenangkan atau tidak.
Ramah; artinya pewawancara menciptakan
suasana yang mampu menarik minat si responden.
Adil; artinya pewawancara harus bisa
memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan
sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
Hindari
ketegangan;
artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai
responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak
membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan
hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar
terarah.
F.
Wawancara
dalam bidang Jurnalistik
Dalam
bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan
informasi bahan berita. Wawancara biasanya dilakukan oleh satu atau dua
orang wartawan dengan seseorang atau
sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan
atau keinginan wartawan yang bersangkutan.
Sedangkan
dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara biasanya dilaksanakan
atas kehendak sumber berita.
G.
Bentuk
wawancara dalam bidang Jurnalistik
Bentuk-bentuk wawancara antara lain:
1.
Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
2.
Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
3.
Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
4.
Wawancara pribadi.
5.
Wawancara dengan banyak orang.
6.
Wawancara dadakan / mendesak.
7.
Wawancara kelompok dimana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat,
seniman, olahragawan dan sebagainya.
Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan
oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, penampilan, dan sikap
wartawan. Sikap yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana
wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif. Wawancara yang komunikatif
dan hidup ikut ditentukan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar
materi topik pembicaraan baik oleh nara sumber maupun wartawan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan tentang wawancara di atas, wawancara
tmerupakan percakapan antara 2 orang atau lebih, selain itu dalam wawancara
untuk mendapatkan suatu data ini perlu mempersiapkan peralatan wawancara serta
pembahasan apa saja yang akan dibahas pada wawancara tersebut.
B.
Saran
Persiapkan
langkah-langkah serta sikap dalam melakukan wawancara agar wawancara dapat
berlangsung akrab atau komunikatif. Ketahuilah macam-macam wawancara apa yanga
akan dilangsungkan agar tidak terjadi hambatan pada saat mewawancarai.
Kelancarakn wawancara berjalan lancer tergantung dari wartawan atau pihak yang
mewawancarai menciptakan suasana yang komunikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Yulianti
Setyorini, Wahono, B. Indoneisa (Untuk SD/MI), Jakarta:Puat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional, 2008
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul " PEMBELAJARA MATERI WAWANCARA KELAS 5 SD/MI " dengan
sebaik-baiknya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi
Muhammad SAW yang telah memuliakan derajat kaum perempuan sejajar dengan kaum
laki-laki (kesetaraan gender).
Adapun tujuan penyusunan makalah ini
adalah untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti mata kuliah. Dengan kerendahan
hati semoga apa yang tertulis dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Sangat disadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik yang kontruktif sangat
diharapkan dari para sahabat dan sahabati demi terciptanya suatu pembangunan
peradaban Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar