Fungsi Dan Teori Dalam Bimbingan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Konseling
merupakan sebuah penemuan abad ke 20
yang muncul berdasarkan atas tuntutan kompleksitas kehidupan masyarakat.
Dalam proses perjalanan hidup, individu dapat mengalami peristiwa dan situasi
yang menimbulkan masalah yang tidak mungkin dapat diatasinya. Alternatif yang
pada umumnya digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi individu adalah
membicarakannya dengan keluarga, teman, guru dan ahli agama. Namun, tidak semua
orang yang dijadikan tempat berbagi dan diminta bantuan untuk mengatasi masalah
individu dapat membantu menyelesaikannya sesuai dengan keinginan individu.
Berdasarkan kondisi tersebut konseling merupakan pilihan yang efektif untuk
mengatasi masalah individu.
Di Indonesia,
perkembangan profesi konselor sekolah atau guru bimbingan dan konseling telah
diawali sejak tahun 1960-an. Bimbingan konseling masuk ke dalam kuriulum
sekolah sejak tahun 1965 yang mencantumkan, bahwa pelayanan bimbingan dan
konseling merupakan layanan yang tidak terpisahkan dari keseluruhan system
pendidikan di sekolah.
Sejak konseling
mulai diperkenalkan sebagai sebuah layanan dan pekerjaan, terdapat banyak
sekali definisi dan konsep dasar konseling yang telah dikemukakan oleh para
ahli. Menurut Burks dan Stefflre (1976), konseling merupakan hubungan
professional antara konselor terlatih dan konseli. Konseling didesain untuk
menolong konseli untuk memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap
kehidupaan, dan untuk membantu mencapai tujuan penetuan diri (self
determination).
Dalam pemberian bimbingan konseling diperlukan dasar - dasar yang
dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pemberian bimbingan. Prinsip-prinsip
yang digunakan untuk mengambil langkah dengan memperhatikan masalah dari
berbagai prespektif atau sudut pandang tertentu yang biasa disebut dengan
teori-teori bimbingan konseling. Oleh karena itu,dalam makalah ini yang akan
dibahas adalah mengenai teori-teori konseling
B.
Rumusan
masalah
1.
Apakah
pengertian, sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling?
2.
Apa
saja macam – macam teori dalam bidang konseling?
C.
Tujuan
penulisan
1.
Agar
kita mengetahui pengertian, sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling
2.
Agar
kita mengetahui Apa saja macam – macam teori dalam bidang konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A.
pengertian,
sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling
Teori konseling
ialah konseptualisasi atau kerangka acuan berpikir tentang bagaimana proses konseling berlangsung.Teori juga dapat
diartikan sebagai prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan
sebagai kerangka untuk pelaksanaan penelitian; sejumlah proposisi yang
terintegrasi secara sintaktik (mengikuti aturan tertentu) dan digunakan untuk
memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati dan pada umumnya
diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data
untuk menjelaskan suatu fenomena.[1]
Teori yang baik
adalah teori yang memiliki sifat jelas, komprehensif, parsimious atau dapat
menjelaskan data secara sederhana dan jelas, serta dapat menghasilkan
penelitian yang bermanfaat.
Teori memiliki
beberapa fungsi, yaitu memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik,
menjadikan hal-hal yang bersifat kompleks menjadi sederhana, menyusun
pengalaman-pengalaman sebelumnya, mensistematikkan penemuan-penemuan,
melahirkan hipotesis-hipotesis, membuat prediksi, dan memberi penjelasan.
B.
Macam-macam
teori dalam bidang konseling
Teori dapat
diartikan sebagai prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan
sebagai kerangka untuk pelaksanaan penelitian; sejumlah proposisi yang
terintegrasi secara sintaktik (mengikuti aturan tertentu) dan digunakan untuk
memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati dan pada umumnya
diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data
untuk menjelaskan suatu fenomena.
Pendekatan
Konseling (counceling Aproach) disebut juga teori konseling, merupakan dasar
bagi suatu praktek konseling. Pendekatan itu dirasakan penting karena jika
dapat dipahami berbagai pendekatan atau teori-teori konseling, akan memudahkan
dalam menentukan arah proses konseling. Akan tetapi untuk kondisi Indonesia
memilih satu pendekatan teori secara fanatic dan kaku adalah kurang bijaksana.
Hal ini disebabkan satu teori konseling biasanya dilator belakangi oleh paham
filsafat tertentu yang mungkin saja tidak sesuai dengan filsafat di Indonesia.
Untuk mengatasi hal tersebut maka pendekatan yang dilakukan dalam
konseling bukanlah pendekatan atau teori tunggal (single theory). Akan tetapi
memilih bagian-bagian dari bebrapa pendekatan yang relevan, kemudian secara
sintesis-analitik diterapkan kepada kasus yang dihadapi. Pendekatan seperti itu
dinamakan Creative-Synthesis-Analytic (CSA). Allen E.Ivey (1980) menyebut
pendekatan ini dengan nama Electic Approach yaitu memilih secara selektif
bagian-bagian teori yang berbeda sesuai kebutuhan konselor.
Adapun macam-macam teori bimbingan konseling itu amatlah banyak, antara
lain[2]
1.
Teori
Psikoanalisis (Freudian)
a.
Pengertian
Psychonalysis Teraphy
Terapi
Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis
dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisa ialah Sigmund
Freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam
kepribadiaan. Konsep-konsep psikoanalisa banyak memberikan pengaruh terhadap
perkembangan konseling.a mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan
manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidak sadaran. Sedangkan alam
kesadarannya dapat di umpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut.
Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkannya alam ketidak sadaran
manusia.
Pendekatan
psikoanalisis menganggap bahwa tingkah laku abnormal di sebabkan oleh
faktor-faktor intropsikis (konflik tidak sadar, represi, mekanisme defensif)
yang menggangu penyesuaian diri. menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan
terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang
tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Freud beranggapan bahwa gangguan jiwa pada
orang dewasa, pada umumnya berasal dari pengalaman pada masa kanak-kanak. Dari
penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan psychonalysis teraphy adalah
teknik atau metode pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali
permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta
memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini.
2.
Teori
Psikologi Individu ( Adlerian)
a.
Konsep
dasar
Psikologi
individu sering disebut terapi adlerian karena pencipta awalnya adalah Alfred
Adler, salah satu kolega freud yang awalnya termasuk lingkaran gerakan
psikoanalisis,namun keluar karena tidak menyetujui beberapa bagian teori
tersebut. Kerja dan riset Adler mempengaruhi banyak psikolog dan terafis besar
yang kemudian mengikuti jejaknya seperti Albert Ellis, victor Frankl, Rudolf
Dreikurs, Rollo Maydan wiliam Glaser.
Psikologi
individu melihat pribadi secara menyeluruh dan berfokus pada keunikannya.
Pandangan adler tentang manusia menawarkan sebuah focus alternative yang
positif dan menyegarkan bagi teori psikoanalisis Freud. Diinti teorinya
terdapat sebuah keyakinan kalau manusia memiliki dorongan bawaan untuk
mengatasi kelemahan yang disadarinya, untuk kemudian mengembangkan potensinya
sendiri menuju aktualisasi diri. Apalagi jika ditaruh di dalam lingkungan
positif, pertumbuhan tersebut pasti akan terjadi.
Kalau
begitu, apakah yang menahan seseorang untuk bergerak secara cepat dan mudah
menuju realisasi diri? Menurut Adler, jawabnya ialah perasaan inferior.
Seseorang biasanya mengalami perasaan tersebut lewat tiga sumber yaitu:
1)
ketergantungan
biologis dan ketergantungan umumnya layaknya bayi;
2)
gambar
diri yang dianggap kecil ketika dibandingkan dengan sesuatu yang agung, mulia
atau besar; dan
3)
inferioritas organ tubuh ( bahasa awamnya
lemah, minder, dan cacat). Namun, dorongan dalam diri sendiri umumnya
memampukan subjek, mengkompensasikan perasaan-perasan ini untuk berjuang meraih
superioritas dan kesempurnaan.
Teori adlerian kadang disebut
perspektif sosioteologis ketika membahas perjuangan konstan individu menjcapai
tujuan mereka. Adler juga menekankan pentingnya pengembangan minat sosial klien
untuk kemudian mendidik lembali mereka agar mampu hidup di tengah-tengah
masyarakat sebagai pribadi yang sanggup memberikan sesuatu bagi masyarakat,
jadi bukan Cuma menerima dan menuntut.
Ketika seseorang datang untuk
menjalani terapi, diasumsikan ia tengah mengalami ketidakkongruenan dan
ketidaknyamanan di dalam :kerja, persahabatan, atau cinta. Proses konseling
kemudian dilihat sebagai cara terapis dank lien bekerja sama untuk membantu
klien mengembangkan kesadaran, sikap dan perilaku yang lebih sehat sehingga sanggup
berfungsi lebih penuh di masyarakat. Pengembangan minat social dianggap
variable paling mencolok dari kesehatan mental seseorang.
b.
Proses
Konseling
Proses
konseling Adlerian melibatkan empat tahap:
1)
Membangun
relasi
Di
sesi pertama konselor menetapkan sebuah relasi dengan klien lewat interview
subjektif/objektif yang di dalamnya klien dibantu merasa nyaman, diterima,
dihargai dan diperhatikan. Melalui komponen objektif interview, klien
diharapkan mengerti apa yang dibutuhkan secara spesifik dari proses konseling.
Klien di minta mendiskusikan bagaimana hal-hal tertentu berlangsung di setiap
wilayah tugas hidupnya.
2)
Mendiagnostik
Tahap
diagnostic meliputi interview gaya hidup, prosedur asesmen formal yang melihat
hal-hal seperti konstelasi keluarga, persepsi orang tua, rekoleksi tentang
periode awal hidupnya, dan mimpi yang terus berulang.
3)
Fase
interpretasi
Yaitu
waktu ketika konselor dank lien mengembangkan pemahaman dari interview gaya
hidupnya tentang kekeliruan dasar klien dengan menganalisis dan mendiskusikan
keyakinan, tujuan dan gerakan yang dikembangkan klien pada awal kehidupan, dan
menjamin pola dan sikap pikiran, emosi dan perilaku.[3]
3.
Teori
Person Centered (Rogerian)
a.
Konsep
teori Person Centerd
Menurut
Rogers, konstruk inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri
dan konsep menjadi diri atau perwujudan diri. Dikatakan bahwa konsep diri atau
struktur diri dapat dipandang sebagai konfigurasi konsepsi yang
terorganisasikan tentang diri yang membawa kesadaran.
Teori
kepribadian Rogers yang disebut sebagai “the self theory” yaitu:
1)
Tiap
individu berada di dalam dunia pengalaman yang terus menerus berubah, dan
dirinya menjadi pusat.
2)
Individu
mereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan apa yang dialami dan
ditanggapinya.
3)
Individu
memiliki satu kecendrungan atau dorongan utama yang selalu diperjuangkannya,
yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan memperluas pengalamannya.
4)
Individu
mereaksi terhadap gejala kehidupan dengan cara keseluruhan yang teratur.
5)
Tingkah laku atau tindakan itu pada dasarnya
adalah suatu usaha mahluk hidup yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan yang
dialami dan dirasakan.
6)
Emosi
yang menyertai tindakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sesungguhnya
merupakan suatu yang memperkuat usaha individu mencari sesuatu ataupun
memuaskan kebutuhannya untuk memelihara dan mengembangkan dirinya.
7)
Cara yang terbaik untuk memahami tingkah laku
seseorang ialah dengan jalan memandang dari segi pandangan individu-individu
itu sendiri.
b.
Tujuan
konseling[4]
Terapi
terpusat pada klien yang dikembangkan oleh cars R. Rogers pada 1942 bertujuan
untuk membina kepribadian klien secara Integral, berdiri sendiri, dan mempunyai
kemampuan memcahkan masalah sendiri.
Kepribadian
yang Integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai
antara gambaran tentang diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri
sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang berdiri sendiri adalah yang mampu
menentukan pilihan sendiri atas dasar tanggungjawab dan kemampuan. Tidak
tergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus
memahami dirinya (kekuatan dan kelemahan diri), dan kemudian keadaan diri
tersebut harus ia terima.
Untuk
mencapai tujuan itu diperlukan beberapa syarat yakni:
1)
kemampuan
dan keterampilan teknik konselor;
2)
kesiapan
klien untuk untuk menerima bimbingan;
3)
taraf
intelegensi klien memadai.
c.
Proses
Konseling
Pendekatan
yang berpusat pada klien menggunakan sedikit tekhnik, akan tetapi menekankan
sikap konselor. Tehknik dasar adalah mencakup, mendengar, dan menyimak secara
aktif, refleksi, klariflkasi, “being here” bagi klien. Konseling berpusat pada
klien tidak menggunakan tes diagnostik, interpretasi, studi kasus, dan
kuesioner untuk memperoleh informasi. Tekhnik-tekhnik itu dilaksanakan dengan
jalan wawancara, terapi permainan, dan terapi kelompok, baik langsung atau
tidak langsung. Keberhasilan terapi tergantung kepada faktor-faktor tingkat
gangguan psikis, struktur biologis klien, lingkungan hidup klien, dan ikatan
emosional.[5]
4.
Behavior
Setiap
dari kita memiliki pola-pola perilaku unik, dan sebagian besar dari kita
bersikap dengan cara tertentu bahkan kenapa orang lain berperilaku tertentu.
Meskipun kita memiliki hanya bukti anekdot dan bukannya buku ilmiah, namun kita
dapat mengembangkan, seperti dilakukan banyak orang pada umumnya, teori
kepribadian kita sendiri mengenai perilaku.
Riset
dan publikasi penting pendekatan klasik dari teori ini dilakukan oleh watson, Thordike dan teoritis awal lainnya,
namun pada B.F. Skinner pendekatan behavioral dikembangkan. Menurut teori
behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya
interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu
apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain,belajar
merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus
dan respons.
Menurut
teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan
keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara
stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa
diamati.
a.
Tujuan
Konseling
Tujuan
konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang respon-respon yang
lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih
sehat. Terapi ini berbeda dengan terapi lain, dan pendekatan ini ditandai:
1)
Fokusnya
pada perilaku yang tampak dan spesifik
2)
Kecermatan
dan penguraian tujuan-tujuan treatmen (perlakuan)
3)
Formulasi
prosedur treatment khusus sesuai dengan masalah khusus
4)
Penilaian
objektif mengenai hasil konseling
b.
Proses
Konseling
1)
Konselor
harus memahami dan menerima klien
2)
Keduanya
harus bekerja sama, klien harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling,
ia harus memiliki motivasi untuk berubah.
3)
Konselor
memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan klien
Faktor lain yang juga dianggap
penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement)
penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila
penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat.
Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respons pun akan
tetap dikuatkan.
5.
Gestalt
Pandangan
Gestalt tentang manusia berakar pada filsafat eksistensial dan fenomenologi. Ia
menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab
pribadi, kesatuan pribadi, dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran.
Terapi di arahkan bukan pada analisis, melainkan pada integrasi yang berjalan
selangkah demi selangkah dalam terapi sampai klien menjadi cukup kuat untuk
menunjang pertumbuhan pribadinya sendiri.
Perls
memandang manusia dalam keterlibatannya untuk mencapai keseimbangan, bilamana
kehidupannya terganggu oleh kebutuhan dunia, gangguan ini akan menimbulkan
ketegangan dan diperlukan keseimbangan untuk mengurangi dan menghilangkan
ketegangan tersebut. Dalam keadaan sehat seseorang akan mampu menerima dan
bereaksi terhadap keadaan dunia. Tetapi kalau keadaannya menjadi tidak
seimbang, maka akan timbul ketakutan dan menghindar untuk mengetahui menyadari.
Jadi aktivitas yang menandai ciri-ciri seimbang dan sehat tidak ada maka perlu
penyadaran ulang agar keseimbangan tercapai. Untuk itu diperlukan teknik agar
seseorang membukakan diri secara langsung terhadap pengalaman yang berkaitan
dengan pikiran, perasaan dan tindakan sekarang ini.
Pandangan
teori dan terapi Gestalt terhadap manusia, sama halnya dengan pandangan
eksistensialistik-humanistik, ialah positif bahwa manusia memiliki kemampuan
untuk menjadi sesuatu dan manusia adalah makhluk yang mampu mengurus diri
sendiri. Manusia dilihat sebagai keseluruhan.
BAB III
PENUTUPAN
A.
Kesimpulan
Ada banyak
teori bimbingan konseling, pemakaian satu teori secara mutlak tidak lah satu
keharusan tergantung kepada permasalahan yang di hadapi oleh klien. Masalah
yang sama juga bias dipecahkan menggunakan teori pendekatan yang berbeda sesuai
dengan kondisi di lapangan yang bias saja dipengaruhi soial budaya dari pada
klien. Contoh pada sekolah klien nya tentulah peserta didik. Sama-sama memiliki
gangguan belajar maka tetapi karena factor penyebabnya beragam maka penanganan
dari konselingnya juga harus berbeda.
Teori teori yang terkenal di dunia antara lain, teori
Pskikoanalisis, teori pskikologi individu, teori behavior, teori Client
centered, teori Gestalt dan lain sebagainya.
B.
Saran
Sebagai penyusun merasa masih ada kakurangan dalam pembuatan
makalah ini. Oleh sebab itu, saya mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar
penulis dapat memperbaiki makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammda dan Mohammad Asrori. Psikologi
Remaja.2005. Jakarta: Bumi Aksara
Sarwono, Sarlito Wirawan. Teori-Teori
Psikologi Sosial. 2011. Jakarta: PT Raja grafindo persada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar