Kamis, 23 Juni 2022

majaz lughawi

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Majaz Lughawi

Majaz lughawi adalah lafaz yang digunakan dalam makna yang bukan seharusnya karena adanya hubungan disertai karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki. Hubungan antara makna hakiki dan makna majazi itu kadang-kadang karena adanya keserupaan.

B.  Konsep Majaz

Secara leksikal majaz bermakna “Melewati”. Majaz adalah suatu perkataan yang dipakai bukan pada makna aslinya karena ada hubungan serta adanya qarinah yang melarang penggunaan makna asal.Majaz (Konotatif) merupakan kebalikan dari haqiqi (denotatif). Makna haqiqi adalah makna asal dari suatu lafal atau ungkapan yang pengertiannya dipahami orang pada umumnya. Lafal atau ungkapan itu lahir untuk makna itu sendiri. Sedangkan makna majazi adalah perubahan makna dari makna asal ke mana kedua. Makna ini lahir bukan untuk pengertian pada umumnya. Dalam makna ini ada proses perubahan makna. Muradif atau munasabah tidak dikatakan memiliki makna majazi karena didalamnya tidak ada perubahan dari makna asal kepada makna baru.

Suatu ungkapan atau teks bisa dinilai mengandung makna haqiqi jika si pengucap atau penulisnya menyatakan secara jelas bahwa maksud sesuai dengan makna asalnya, atau juga tidak ada qarinah-qarinah (indikator) yang menunjukkan bahwa ungkapan dari teks tersebut mempunyai makna majazi. Akan tetapi jika ada qarinah-qarinah yang menunjukkan bahwa lafal atau ungkapan tersebut tidak boleh dimaknai secara haqiqi, maka kita harus memaknainya secara majazi.[1]

Lafazh atau ungkapan majaz muncul disebabkan dua hal, yaitu sabab lafzhi dan sabab tarkibi (isnadi).[2]

1. Sabab lafzhi, yaitu bahwa lafal-lafal tersebut tidak bisa dan tidak boleh dimaknai secara haqiqi. Jika lafal-lafal tersebut dimaknai secara haqiqi, maka akan muncul pengertian yang salah. Qarinah pada ungkapan majaz jenis ini bersifat lafzhi pula.

خَطَبَ الْأَسَدُ أَمَامَ النَّاسِ

Artinya :“Singa berfidato didepan orang-orang”.

2. Sabab tarkibi, yaitu bahwa ungkapan majaz terjadi bukan karena lafazh-lafazhnya yang tidak bisa dipahami secara haqiqi, akan tetapi dari segi penisbatan. Penisbatan fi’il kepada fa’il nya tidak bisa diterima secara rasional dan keyakinan. Contoh firman Allah SWT :

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أضثْقَالَهَا ( الزلزلة : 2 )

 

Artinya :“Dan bumi mengeluarkan beban-bebannya”.( QS. al-Zalzalah : 2 )

Tidak bisa menisbatkan “أَخْرَجَتِ” kepada “الْأَرْضُ” karena yang mengeluarkan benda-benda itu pada hakikanya adalah Allah SWT.Didalam bahasa Arab sering terjadi penggunaan suatu lafal atau jumlah (kalimat) bukan untuk makna yang seharusnya dengan tujuan memperindah pengukapan. pengukapan ide dan perasaan dengan tujuan tersebut dilakukan dengan cara taudhih al-ma’na, (memperjelas makna), mubalaghah (hiperbola), tamtsili (eksposisi), dan lain-lain. Objek bahasan yang dikaji dan dibahas dalam majaz hanyalah pada tataran lafal. Sedangkan penggunaan suatu jumlah (kalimat) bukan untuk makna yang seharusnya menjadi bahasan tersendiri dalam ilmu ma’ani.

Suatu ungkapan dinamakan majaz apabila memenuhi beberapa syarat, yaitu :[3]

a.       Harus mengandung makna majazi.

b.      Mempunyai qarinah.

c.       Memindahkan makna haqiqi pada makna majazi.

C.  Contoh-contoh Majaz Lughawi

1.      Ibnul-‘Amid berkata:

 

قَمَتْ تُظَلِّلُنِى مِنَ الشَّمسِ  *  نَفْسٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِى

قَامَتْ تُظَلِّلُنِى وَمِنْ عَجَبٍ  *  شَمْسٌ تُظَلِّلُنِى مِنَ الشَّمسِ

Artinya :Telah berdiri menaungiku dari teriknya matahari, seseorang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri. Ia telah menaungiku, amatlah mengherankan, bila ada matahari menaungiku dari terik matahari.

Perhatikanlah baris  terakhir dari bait di atas, maka akan kita jumpai kata asy-syamsu yang dipakai dengan dua makna; pertama adalah makna hakiki sebagaimana yang kita kenal, dan makna yang kedua adalah orang yang bercahaya wajahnya, yang menyerupai kecemerlangan matahari. Makna kedua ini bukanlah makna hakiki. Bila kita perhatikan, maka akan kita temukan kaitan antara makna pertama yang hakiki dan makna kedua yang bukan hakiki. Kaitan dan hubungan kedua makna ini disebut dengan musyabahah (saling menyerupai/keserupaan) karena seseorang yang bercahaya wajahnya itu menyerupai matahari dalam memancarkan cahaya, dan hal ini tidak mungkin menimbulkan ketidakjelasan yang membawa pemahaman bahwa kata syamsun tuzhalliluni adalah menunjukkan makna yang hakiki karena matahari yang hakiki itu tidaklah akan menaungi.[4]

2.      Al-Buhturi berkata dalam menyifati duel antara Fath bin Khaqan dengan seekor singa:

فَلَمْ أَرَضِرْغَامَيْنِ أَصْدَقَ مِنْكُمَا  *  عِرَاكًا إِذَا الْهَيَّابَةُ النِّكْسُ كَذَّبَا

هِزَبْرٌ مَشَى يَبْغِى هِزَبْرًا وَأَغْلَبٌ  *  مِنَ الْقَوْمِ يَغْشَى بَاسِلَ الْوَجْهِ أَغْلَبَا

Artinya :Aku belum pernah melihat perkelahian dua singa yang lebih sungguh-sungguh daripada kamu berdua (Fath dan singa) ketika orang-orang penakut dan lemah itu tidak berani menghadapinya. Singa lawan singa, yaitu singa (pemberani) dari kaum bertarung melawan singa sungguhan, dan ia dapat mengalahkannya.

Bila kita perhatikan bait kedua dari syair Al-Buhturi di atas, maka akan kita temukan kata hizabrun yang kedua, dimaksudkan untuk menunjukkan makna hakiki,  yakni singa. Sedangkan makna kata hizabrun yang pertama adalah orang pemberani yang dipuji, jadi bukan makna hakiki. Hubungan kedua makna itu adalah keserupaan dalam keberanian, sedangkan karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki adalah bahwa susunan kalimat menghendaki pemberian makna baru yang bukan hakiki. Demikian pula halnya pada kata aghlabun minal-qaum dan basil al-wajhi aghlaba. Kata-kata kedua menunjukkan makna asli, yakni singa. Sedangkan kata-kata yang pertama menunjukkan makna yang lain, yakni laki-laki yang pemberani. Hubungan kedua makna itu adalah keserupaan dalam keberanian. Karinah yang menghalangi pemberian makna hakiki terhadap kata-kata pertama adalah lafaz minal qaum.

 



[1] Mamat Zaenuddin dan Yayan Nurbayan, Pengantar Ilmu Balaghah, (Bandung : PT Refika Aditama, 2007) Cet I, hal. 31.

[2]Ibid., hal. 32.

[3]Ibid., hal. 32

[4]Ali Al-Jarim & Musthafa Amin, Op. Cit., hal. 92-94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...