Senin, 23 Mei 2022

Guru Sebagai Agen Budaya dan Moral

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Menurut pandangan tradisional, guru adalah seorang yang berdiridi depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, menurut guru-guru Amerika Serikat, guru adalah semua petugas yang terlibat dalam tugas kependidikan. Menurut Blnadi Sutadipura guru adalah orang yang layak digugu dan ditiru

Pendidik (Guru) merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan. Dipundaknya terdapat tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Menurud Ahmad Tafsir, pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik, mereka harus harus dapat mengupayakan perkembangan peserta didik, baik kognitif, efektif, maupun potensi psikomotor. Potensi-potensi ini sedemikian rupa dikembangkan secara seimbang sampai mencapai tngkat yang optimal.

Didalam meningkatkan perkembangan peserta didik, guru harus berperan secara efektif dan efesien. Selain itu guru juga harus memperhatikan mutu belajar siswa, karena apabila mutu belajar siswa kurang baik maka tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai sesuai apa yang dituju, didalam meningkatkan mutu belajar siswa peranan guru sangat penting, karena apabila seorang guru tidak memiliki kecakapan dalam mengajar, maka PBM pun tidak akan sesuai apa yang diharapkan oleh pendidikan.


 

BAB II

PEMBAHASAN

GURU SEBAGAI AGEN BUDAYA DAN MORAL

 

A.      Guru Sebagai Agen Budaya

Guru sebagai agen kebudayaan juga harus banyak dibekali mata pelajaran geografi, kewilayahan, dan bahasa asing. Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, suku, dan seterusnya, tidak dipahami oleh para guru mata pelajaran apa saja? Bagaimana mungkin kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan medium menghadapi tantangan global kalau hanya untuk menunjukkan letak Bunaken atau Raja Ampat saja, 80% guru tidak tahu apalagi siswanya? Belum lagi menjelaskan keunikan budaya-budaya lokal lainnya.[1]

Bagaimana mungkin para guru akan menjadi agen kebudayaan jika mereka juga tidak menguasai ilmu kependidikan yang khas pula? Sampai seberapa jauh para dosen universitas eks IKIP sanggup mengembangkan psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan dan seterusnya, di samping administrasi pendidikan dan kurikulum (misalnya)? Kalau hal-hal yang saya sebutkan tadi tidak dikembangkan, nama kementerian ini tidak dapat dihidupkan rohnya.

Soal kebudayaan bukan hanya soal kesenian, keindahan, atau pariwisata saja, namun termasuk kompleksitas pola pikir dan pola tingkah laku yang mengarah kepada hasil karya dari pendayagunaan seluruh akal budi. Kebudayaan dalam bahasa Sansekerta adalah buddhayah yang berarti akal budi. Guru sebagai agen kebudayaan semakin mustahil jika guru juga akan dituntut kuantitas mengajarnya yakni 27 jam per minggu, belum lagi tugas-tugas administratif lainnya seperti menjadi bendahara BOS dan aktivitas non-akademis lainnya.[2]

Kini wajar jika konsep “pendidikan” dan “pengajaran” makin kabur saja. Pendidikan tentu saja tidak hanya berhenti pada tataran sekolah formal namun juga nonformal maupun informal. Sekolah formal hanya beberapa jam, selebihnya siswa banyak bergaul di masyarakat dan keluarga.[3]

Karena itu, jika niat mengganti nama kementerian itu kian mantap, maka apa yang saya paparkan di atas semestinya menjadi perhatian serius kementerian ini. Di sela-sela kritik yang tajam dari masyarakat, wakil menteri bidang kebudayaan harus mampu menjawab tantangan ini.

Guru sebagai agen kebudayaan juga hanya dapat diwujudkan jika para calon guru juga diajarkan hal-hal tentang pengetahuan umum yang memadai. Kebudayaan adalah persoalan yang maha kompleks. Guru fisika atau IPA, juga mesti paham soal-soal humaniora, demikian pula sebaliknya. Keangkuhan intelektual harus dihapuskan sebagaimana pernah dialami pada masa lalu di Inggris.

 

B.       Guru Sebagai Agen Moral

Guru bertindak sebagai agen moral masyarakat karena fungsinya mendidik masyarakat agar melek huruf, pandai berhitung, dan memiliki berbagai keterampilan kognitif lainnya. Keterampilan- keterampilan itu di pandang sebagai bagian dari proses pendidikan moral, karena masyarakat yang telah pandai membaca  dan pengetahuan akan berusaha menghindarkan dirinya dari tindakan – tindakan kriminal, dan penyimpangan dari ukuran masyarakat. Guru juga merupakan gambaran sekaligus berperan sebagai agen politik. Guru menyampaikan sikap kultur dan tindakan politik masyarakat kepada generasi muda. Kemauan- kemauan politik masyarakat, disampaikan dalam proses pengajaran dalam kelas.[4]

 

C.      Guru Sebagai Agen Budaya Dan Moral

Guru di dalam sekolah tidak hanya mentransferkan pengetahuan kepada siswa-siswa. Guru juga sebagai pelopor untuk menciptakan orang-orang berbudaya, berbudi, dan ben-noral. Pada zaman dahulu bangsa-bangsa lain seperti; Belanda, Amerika, Arab, Jepang, Africa, Spanyol, Portugis, dan lain-lain mengenal bangsa Indonesia memiliki budaya dan moral yang tinggi, memiliki adat istiadat dan berpegang teguh dengan adat istiadatnya, ramah, dan sopan. Nilai-nilai ini selalu dikembangkan menjadi khasanah keindonesiaan.[5]

Daerah-daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ciri khas budaya sendiri, mulai dari masyarakat Aceh paling ujung sampai masyarakat Irian Jaya ujung timur, memiliki budaya yang kental, sehinggabanyak bangsa lain berdecak kaguni dengan i'uilai-nilai ash budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Di samping itu memiliki ,thin yang elok, indah dan mempesona. Pakaian ulos masayakat batak, balti kurung masyarakat minang, kebaya bagi masyarakat jawa, baju hodo masyarakat sulawesi, dan lain-lain memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakatnya rukun, damai, suka tolong menolong, jujur, pemimpinnya adil. Namun demikian catatan di atas hampirmenjadi kenangan untuk anak cucu kita. Arus perubahan sangat deras akibat perkembangan kemajuan teknologi di dunia yang berimbas pada nilai-nilai budaya dan moral, sehingga terjadinya pergesaran budaya asli ke budaya nyata.

Pergeseran nilai-nilai budaya sudah tidak terelakkan lagi, sang guru tidak mampu bekerja sendiri dalam mengembangkan nilai budaya dan moral, teori-teori yang diajar di sekolah bertentangan denganpraktik di lapangan. Guru menganjurkan anak muridnya untuk berbuat baik, dan menjauhi perbuatan yang terlarang. Kenyataan di lapangan (lingkungan luar sekolah) sangat banyak mempengaruhi sikap, perilaku para siswa. Konflik dalam kebudayaan menurut Kneller contoh pantang, orang dirangsang dengan gaga berpakalan, bergaul bebas, reklame, film-film di televisi, gambar pomo di media cetak, untuk mencari kepuasaan, kenikmatan lantaran masa depan yang tidak pasti[6].

Kasus-kasus yang melanda bangsa Indonesia saat ini, seperti korupsi, menipulasi, pemerkosaan, narkoba mencorengkan nilai-nilai moral yang diajar di bangku sekolah, hal ini dilakukan tidak saja oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi juga orang-orang yang berpendidikan. Orang mencuri bukan lagi untuk mencari sesuap nasi, tetapi aktomya adalah orang-orang akademisi, para pengayom masyarakat, dan orang-orang kaya (kleptomania) sudah merupakan kehobian dan penyakit.

George F. Kneller perilaku budaya dan moral yang menyimpang seperti disebut Durkem-anomi, atau keadaan tanpa norma, yaitu bila norma-norma resmi tidak lagi membimbing realita hidup dalam kebudayaan tersebut.[7]


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Guru sebagai agen kebudayaan juga harus banyak dibekali mata pelajaran geografi, kewilayahan, dan bahasa asing. Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, suku, dan seterusnya, tidak dipahami oleh para guru mata pelajaran apa saja? Bagaimana mungkin kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan medium menghadapi tantangan global kalau hanya untuk menunjukkan letak Bunaken atau Raja Ampat saja, 80% guru tidak tahu apalagi siswanya? Belum lagi menjelaskan keunikan budaya-budaya lokal lainnya.

Daerah-daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ciri khas budaya sendiri, mulai dari masyarakat Aceh paling ujung sampai masyarakat Irian Jaya ujung timur, memiliki budaya yang kental, sehinggabanyak bangsa lain berdecak kaguni dengan i'uilai-nilai ash budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Di samping itu memiliki ,thin yang elok, indah dan mempesona. Pakaian ulos masayakat batak, balti kurung masyarakat minang, kebaya bagi masyarakat jawa, baju hodo masyarakat sulawesi, dan lain-lain memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakatnya rukun, damai, suka tolong menolong, jujur, pemimpinnya adil. Namun demikian catatan di atas hampirmenjadi kenangan untuk anak cucu kita. Arus perubahan sangat deras akibat perkembangan kemajuan teknologi di dunia yang berimbas pada nilai-nilai budaya dan moral, sehingga terjadinya pergesaran budaya asli ke budaya nyata

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djamarah Bahri Syaiful, guru dan anak didik dalam interaksi edukatif,  Jakarta : PT. Rineka cipta, 2005

 

Hamalik Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, Jakarta :  PT. Bumi Aksara, 2008

 

Nurdin Syafruddin & Usman Basyiruddin M, Guru Profesional , Jakarta : Ciputat Pres,  2003

 

Sardiman, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta :  PT. rajawali persada, 2008

 

Sholeh Ni’am Asrorun, Membangun profesionalitas guru, Jakarta : eLSAS Jakarta, 2006

 

Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta :  Ar-Ruzz, 2006

 



[1] Djamarah Bahri Syaiful, guru dan anak didik dalam interaksi edukatif,  Jakarta : PT. Rineka cipta, 2005., hal 22

[2] Hamalik Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, Jakarta :  PT. Bumi Aksara, 2008., hal 12

[3] Ibid., hal 16

[4] Nurdin Syafruddin & Usman Basyiruddin M, Guru Profesional , Jakarta : Ciputat Pres,  2003., hal 19

[5] Sardiman, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta :  PT. rajawali persada, 2008., hal 22

[6] Sholeh Ni’am Asrorun, Membangun profesionalitas guru, Jakarta : eLSAS Jakarta, 2006., hal 12

[7] Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta :  Ar-Ruzz, 2006., hal 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...