Kamis, 30 Juni 2022

Biografi Hasan Al-Basri

 

   BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Tasawuf Sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan aspek hakekat dan syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada Allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat.

Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan drii dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang  dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.

Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah yang  melanda para ulama’ fiqh dan tasawwuf lebih-lebih pada abad  kelima hijriah aliran Syi’ah Al-Islamiyah yang berusaha untuk mengembalikan kepemimpinan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Dimana syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa Imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar Waliyullah, dipihak lain para sufi banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang memunculkan corak pemikiran Tasawwuf Falsafi yang tentunya sangat bertentangan dengan kehidupan para sahabat dan tabi’in. dengan ketegangan inilah munculah sang pemadu syari’at dan hakekat yaitu Imam Ghazali.

Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Diantara sufi yang berpengaruh dari aliran-aliran tasawuf sunni adalah pokok dari pembahasan makalah kami ini yakni Hasan al-Basri.

 

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kami tetapkan dalam makalah kami adalah sebagai berikut :

 

1.      Siapakah Hasan Al-Bashri itu ?

2.      Bagaimana isi ajaran daripada Imam Hasan Al-Bashri itu?

                                                        

C.    Tujuan Penulisan

Setiap penulisan suatu karya ilmiah pasti memiliki tujuan yang akan dicapai, dan tujuan yang kami rangkai adalah:

1.      Mengetahui biografi Hasan Al-Bashri.

2.      Mendeskripsiskan tentang ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri.

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Biografi Hasan Al-Basri

Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun 21 H di kota Madinah setahun setelah perang shiffin,[1] ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab. Khoiroh adalah bekas pembantu dari Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rosullullah Saw. Sejak kecil Hasan Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya. Para ahli sejarah menguraikan bahwa Ummu Salamah paling luas pengetahuannya diantara para istri-istri Rosullah Saw lainnya. Seiring semakin akrabnya hubungan Hasan Al-Basri dengan keluarga Nabi, berkesempatan untuk bersuri tauladan kepada keluarga Rosullulahdan menimba ilmu bersama sahabat di masjid Nabawy.

Dan ketika menginjak 14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basrah terkenal dengan kota ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in yang singgah di kota ini. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang pendengar.

Kemudian pada tahun 110 H, tepatnya pada malam jum’at diawal bulan Rajab beliau kembali ke rahmatullah pada usianya yang ke 80 tahunBanyak dari penduduk Basrah yang mengantarkan sampai ke pemakaman beliau. Mereka merasa sedih serta kehilangan ulama besar, yang berbudi tinggi, soleh serta fasih lidahnya.[2]

 

B.     Pemikiran Tasawufnya

Dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman, sehinggan ajaran itu melekat pada dirinya sikap maupun perilaku pada kehidupan sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud. Dengan gigih dan gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan kemudian muncullah kehidupan sufistik.

Dasar pendirian yang paling utama adalah Zuhud terhadap kehidupan dunia, sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan dunia.

Hasan Al Basri mangumpamakna dunia ini seperti ular, terasa mulus kalau disentuh tangan, tetapi racunnya dapat mematikan. Oleh sebab itu, dunia ini harus dijauhi dan kemegahan serta kenikmatan dunia harus ditolak. Karena dunia bisa membuat kita berpaling dari kebenaran dan membuat kita selalu memikirkannya.

Prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. Merasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah. Dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motivasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar pengabdian kepada Allah dan sikap daja’ ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-Nya. Oleh karena itu prinsip-prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan muhasabah agar selalu mamikirkan kehidupan yang hakiki dan abad i.

 

 

C.    Corak Pemikiran Tasawufnya

Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakt khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. [3]Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni.

 

D.    Ajaran-Ajaran Tasawufnya

Ajaran-ajaran Hasan Al-Bashri adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya Lebih jauh lagi, Hamka mengemukakan bahwa ajaran tasawuf Hasan yaitu:

1.      Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari pada rasa tentran yang menimbulkan perasaan takut.

2.      Dunia adalah negeri tempat beramal.barang siapa bertemu dunia dengan perasaanbenci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun,barang siapa yang bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya bertambal dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak akan ditanggungnya.”

3.       “tafakur membawa kita pada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita bermaksud untuk tidak mengulanginya lagi. Sesuatu yang fana’ betapapun banyakya tidak akan menyamai sesuatu yang baqa betapapun sedikitnya. Waspadalah terhadap negeri yang cepat ating dan pergi serta penuh tipuan.”

4.        “dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.”

5.       “orang yang beriman akan senantiasa berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan takut ; takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam.”

6.      “hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan kiamat yang hendak menagih janjinya.”Banyak duka cita didunia memperteguh semangat amal saleh.”

 

Sikap tasawuf Hasan Al-Bashri senada dengan sabda Nabi yang berbunyi: 

“Orang yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana yang orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya”.

 

E.     Keteladanan Hasan –Basri

Hasan basri adalah seorang ulama Tabi’in  yang sangat mementingkan kehidupan akhirat. Yang patut kita teladani dari kehidupan dari Hasan Basri adalah kezuhudtannya, ia pernah ditanyai tentang masalah pakaian.

Pakaian apa yang paling kamu sukai? Tanya orang-orang   ” yang paling tebal, yang paling kasar, yang paling hina menurut pandangan manusia” jawab hasan basri . Dari perkataan inilah dapat kita pahami bahwa hasan basri sangat enggan dari dunia kemewahan apalagi kenyamanan dan tingkah lakunya sangat menjauhkan dari pujian manusia.

Hasan Basri tidak pernah memerintah, memberikan nasihat dan anjuran sebelum ia sendiri melakukan dengan ketulusan hatinya, karena selayaknya seorang yang yang berdakwah dijalan tuhan harus menjadi panutan sesama. Dan ia juga tidak pernah melakukan larangan sebelum ia sendiri menjauhkan terlebih dahulu. Hal tersebut menujukkan bahwa hasan memang penuh ke strategis dalam berdakwah.

Lebih dari itu Hasan Basri adalah adalah orang yang penyabar  dan penuh dengan kebijaksanaan. Hasan basri mempunyai seorang tetangga yang beragama nasrani, diatas rumah Hasan basri oleh oleh tetangga tersebut didirikan kamar kecil, karena rumah Hasan Basri dengannya jadi satu atap. Setiap membuang air kecil selalu menetes ke ruang kamar   Hasan Basri, kejadian ini  berlangsung bukan hanya berjalan satu bulan atau satu tahun, melainkan 20 tahun. Akan tetapi hasan basri tidak pernah marah-marah dan mempermasalahkannya. hasan basri tidak mau membuat kecewa tetangganya . Karena hasan basri mengamalkan Sabda Nabi  ” barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka muliakannah tetanggnya”. Bahkan Hasan Basri menyuruh kepada istinya untuk meletakkan wadah di kamarnya supaya air kencingnya tertampung dan tidak berceceran.

Ketika hasan basri sakit, salah satu tetangganya mengunjungi beliau ternyata  di dalam rumahnya ada wadah yang digunakan untuk  menampung kencing, setelah diperiksa wadah yang ada di dalam kamar hasan tersebut,  ternyata runtuhan air kencing yang  berasal dari atas  kamar kecil yang berada di atas rumahnya.

Setelah ditanya. Sejak kapan engkau bersabar dengan tetesan air kencing ini? Tannya  sitetangga tadi. Hasan Basrti  diam saja tidak menjawab, mungkin hasan basri tidak mau membuat tetangganya tidak enak.

Hasan katakanlah dengan jujur  sejak kapan engkau bersabar  dengan air kencing ini? Jika kau diam saja dan tidak mau berterus terang aku akan merasa tidak  enak,  Tanya teangga nasrani tadi, akhirnya dengan penuh pemaksaan, hasan basri mau menjawab juga; selama 20 tahun ; jawab hasan basri

Mengapa engkau kok diam saja dan tidak mempermasalahkan hal ini? Tanya tetangga tadi . akan tetapi hasan Hasan menjawab ” aku tidak ingin mengecewakan tetangga aku, karena Nabi Muahammad Saw  bersabda “barang siapa yang berimana kepada allah dan hari akhir maka mulikanlah tetangganya”

Ketika itu pulalah ia masuk  islam berbondong-bondong bersama keluarganya. Ternyata  hasan basri penuh dengan keteladanan, ia tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk islam, akan tetapi yang paling dianjurkan oleh baliau, sikap ramah, lemah lembut, penuh dengan pengertian dan kebijaksanaan  yang bisa mengantarkan ketertarikan kepada  orang yang diluar islam untuk mengikuti agama islam.

 

F.     Karamah Hasan Basri

Dikisahkan pada suatu hari ada seorang ulama ahli tafsir yang berkenamaan abu Amr sedang memberikan pengajiannya, tiba-tiba  ada seorang pemuda yang  datang untuk mengikuti pengajiann Tersebut, Abu Amr sangat terpesona dengan wajah pemuda tadi. Pada saat itulah apa yang dimilki oleh abu amr  yaitu ilmu Al-Qur’an telah hilang dari ingatannya Abu amr dengan penuh gelisah dan penyesalan mengadu kepada kepada sang imam hasan  ” setiap kata dan hurufAl-Qur’an telah hilang dari ingtanku”  hasan berkata ” sekarang ini musim haji, pergilah ketanah suci dan tunaikanlah ibadah haji. Setelah itu pergilah ke masjid khaif. Disana akan ada seorang yang sangat tua, janganlah engkau langsung menemuinya, tapi tunggulah sampai keasyikan ibadahnya selesai, setelah itu barulah engkau mohon do’a padanya.[4]

Abu amr menuruti perkataan Hasan Basri, setelah berhaji ditanah suci ia pergi ke khaif. ternyata disana ada seorang lelaki tua beserta beberapa orang yang sedang mengelilinginya. tak berjarak beberapa kian muncullah seseorang yang berbaju putih bersih datang kepada sekumpulan orang tersebut, dan berbincang-bincang. Setalah beberapa kemudian pergilah mereka semua, hanya tinggallah orang tua yang hanya sendirian.

Kemuadian Abu Amr menemuinya dan mengucapkan salam. ” dengan nama allah, tolonglah diriku ini, kata abu amr sambil mengangis, kemudian Abu Amr menerangkan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Seketika itu ia menengadahkan dan menundukkan kepalanya untuk mendo’akan Abu Amr.

Abu Amr berkata; “semua kata dan huruf Al-Qur’an telah kuingat kembali lalu sujud terima kasih kepadanya”

Siapakah yang menyuruhmu untuk datang kepadaku?” tutur orang tua tadi.  Abu Amr menjawab;  Hasan basri”. 

Kalau  orang-orang  sudah mempunyai imam seperti  hasan mengapa masih mencari imam seperti aku? Turur orang tua tadi. Ternyata Hasan telah membuka selubung tentang diriku, sekarang aku akan membuka siapa Hasan basri sebenarnya.

Seorang laki-laki yang berbaju putih  yang telah datang kemari setelah shalat ashar tadi, dan orang yang pertama meninggalkan tempat ini, ia adalah Hasan Basri. Setiap hari sesudah shalat  ashar ia datang kemari untuk berbincang-bincang denganku, setelah selesai berbincang-bincang denganku ia segera pergi ke Basrah untuk menunaikan shalat maghrib disana. Kalau sudah mempunyai imam seperti hasan basri mengapa masih mencari imam seperti diriku.

 

G.    Karya-karyanya

Banyak dari buku atau kitab para ulama-ulama yang membahas tentang kebajikan, kesuhudan serta berbagai hal yang mengarah kepada kebesaran nama Hasan Al Basri. Yang mana berkat perjuangan beliau berdampak kepada perubahan masyarakat Islam kepada suatu hal yang lebih baik. Dan juga menjadi tongkat estafet bagi ulam-ulama setelah beliau dalm menerapkan mendefinisikan sehingga sebagai pembuka jalan generasi berikutnya. Dan jarang dari buku atau kitab para ulam-ulam yang membahas tentang karya-karya beliau. Karena keterbatasan kemampuan, penulis belum bisa memaparkan karya-karya beliau tapi ada ajaran beliau yang menjadi pembicaraan kaum sufi adalah:

” Anak Adam!

Dirimu, diriku! Dirimu hanya satu,

Kalau ia binasa, binasalah engkau.

Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu.

Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina.

Dan tiap-tiap bencana yang bukan neraka adalah mudah”.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. Pada umur 14 tahun Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman,dasar pendirian yang paling utama adalah Zuhud terhadap kehidupan dunia, sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan dunia.

Prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. Merasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah.

Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakt khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Rosihan, dan Solihin, Mukhtar, M.Ag, Kamus Tasawuf. Remaja Rosdakarya, Bandung 2002.

Mustofa, Ahmad. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia Bandung. cet IV.

Wisdom Of Hasan Al-Basri Nasehat-Nasehat Penerang Hati. PT Serambi Ilmu Semesta Jakarta 2008.



[1] Anwar, Rosihan, dan Solihin, Mukhtar, M.Ag, Kamus Tasawuf. (Remaja Rosdakarya, Bandung 2002), hlm. 90

 

[2] Ibid. hlm.90

[3] Mustofa, Ahmad. Akhlak Tasawuf. (Pustaka Setia Bandung. cet IV ), hlm. 214

 

[4] Wisdom Of Hasan Al-Basri Nasehat-Nasehat (Penerang Hati. PT Serambi Ilmu Semesta Jakarta 2008), hlm. 87

 

Senin, 27 Juni 2022

ibn rusydi

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Ibn Rusyd lebih dikenal dan dihargai di Eropa Tengah daripada di Timur dikarenakan beberapa sebab. Pertama, tulisan-tulisannya yang banyak jumlahnya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diedarkan serta dilestarikan, sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa Arab dibakar atau dilarang diterbitkan lantaran mengandung semangat  filsafat. Kedua, Eropa pada zaman Renaissance dengan mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana dianut oleh Ibn Rusyd. Sebaliknya, di kawasan Timur, ilmu dan flsafat tergantikan oleh gerakan-gerakan mistik dan keagamaan. Sebenarnya dia sendiri terpengaruh oleh adanya pertentangan ilmu dan filsafat dengan agama.

Maka Dalam Makalah Ini kami sebagai Pemakalah akan membahasa bagaimana dialog antara filsuf muslim dengan filsuf barat.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Biografi Ibn Rusyd ?

2.      Apa Saja Isi Dialgog antara Ibn Rusyd dengan Al-Ghazali


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Sekilas Biografi Ibn Rusyd

Nama lengkapnya Ibn Rusyd ialah Muhamad Ibn Muhamad Ibn Rusyd,[1] terlahir di Cordova pada 520 H/1126 M. Keluarganya terkenal alim dalam  fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia.[2]Latar belakang keagamaan inilah yang memberinya kesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam  studi-studi keislaman. al-Qur’an, Hadith, Ilmu Fiqh, Bahasa dan Sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari gurunya masing-masing, di samping teologi Islam, dan ilmu-ilmu lain, seperti matematika, astronomi, logika, fisika, kedokteran serta filsafat.

Memiliki banyak guru dari ilmuwan terkemuka, Ibn Rusyd belajar Hadith dari Abu al-Qasim, Abu Marwan Ibn Massarat dan Abu Abdullah Marzi; belajar fiqh dari Hafidz Abu Muhamad Ibn Rizqi; belajar ilmu ketabiban dari Abu Ja’far. Lingkungan keilmuwan dan keluarganya sejalan dengan kecerdasan dan ketekunannya, memberi peluang baginya untuk menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan di bidang sastra, hukum, teologi, filsafat dan ketabiban.[3]

Ibn Rusyd hidup dalam suasana politik yang sedang berkecamuk, yaitu pada saat pemerintahan Almurafiah yang digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy pada tahun 543 H/1148 M yang setahun kemudian menaklukkan Cordova.[4] Golongan al-Muhadiah yang dipimpin Ibn Turmat menyatakan diri sebagai gerakan al-Mahdi. Gerakan itu berusaha mengikuti jejak golongan Fatimiah yang berhasil mendirikan kekaisaran di Mesir yang diwarnai semangat berfilsafat, penafsiran astronomi dan astrologi, dengan tiga orang pewarisnya Abd al-Mu’min, Abu Ya’qub dan Abu Yusuf yang kepada mereka Ibn Rusyd pernah mengabdi karena semangat berilmu dan berfilsafat yang cukup terkenal.[5]

Latar belakang keluarga yang berkecimpung di bidang ilmu, ditambah dengan proses belajar dan lingkungan masyarakat yang gandrung kepada berbagai ilmu itu, sudah barang tentu mewarnai dan mendorang Ibn Rusyd menjadi seorang ilmuwan yang menyebabkan ia dipercayai menduduki jabatan yang sesuai dengan keahliannya. Keilmuan yang tinggi dan prestasi yang memuaskan dapat mengilhami untuk menulis berbagai buku dalam berbagai bidang ilmu baik tulisan asli maupun ringkasan dan ulasan dari buku-buku yang ditulis oleh ilmuan sebelumnya.

Semasa hidupnya Ibn Rusyd pernah memegang jabatan penting, diantaranya pada tahun 1169 M/560 H diangkat menjadi hakim di Sevilla dan kemudian di Cordova pada tahun 1171 M/ 567 H. Ketika menjabat hakim, Ibn Rusyd d menulis banyak buku, terutama tentang filsafat. Melancong menuju Maroko memenuhi tugas dokter pribadi Khalifah Abu Ya’kub pada tahun 1182 M. Kembali ke Cordova, Ibn Rusyd memangku jabatan hakim Agung.[6]

Sebagai ilmuwan, Ibn Rusyd mempunyai kompetensi dalam bidang hukum Islam, kedokteran, dan filsafat. Keahliannya dalam ilmu fiqh  membawanya dalam kedudukan sebagai hakim di beberapa kota sebagaimana yang disebutkan di atas. Kualifikasi keilmuan kedokteran mengantar Ibn Rusyd menempati jabatan dokter istana. Sedangkan, dalam bidang filsafat menjadikannya sebagai orang yang dekat dengan khalifah dan mempunyai pengaruh yang besar di kalangan istana. Khalifah Abu Ya’kub al-Mansur memerintahkan Ibn Rusyd menulis tentang pemikiran filsafat Aristoteles.[7]

Kedudukan yang tinggi dan terhormat sebagaimana yang diungkapkan di atas, ternyata membawa risiko yang besar bagi diri Ibn Rusyd. Beberapa ulama dan fuqaha membencinya. Ia dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam.[8] Khalifah pun terpaksa  mengasingkan Ibn Rusyd dikurung disuatu kampung Yahudi bernama Alisanah.[9]

Setelah beberapa orang terkemuka dari kota Sevilla dapat meyakinkan Khalifah tentang kebersihan diri Ibn Rusyd dari tuduhan dan fitnahan tersebut, baru dapat dibebaskan. Akan tetapi tidak lama kemudian fitnahan dan tuduhan dilemparkan lagi pada diri Ibn Rusyd sebagai akibatnya pada kali ini ia diasingkan ke negeri Maghribi (Maroko). Buku-buku karangannya semua dibakar, terutama buku-buku filsafat, kecuali buku-buku kedokteran, astronomi dan matematika. Akhirnya Ibn Rusyd wafat tanggal 10 Desember 1198 M bertepatan dengan tanggal 9 Shafar th. 595 H dalam usia 72 tahun dan dimakamkan di Maroko.[10] Tiga bulan kemudian jenazahnya dipindahkan di Cordova. Keranda dan sisasisa bukunya diangkut kiri kanan punggung seekor keledai. Ahli tasawuf terkenal Muhyiddin Ibn al-Arabi (w.1240) menghadiri pemakamannya kembali Ibn Rusyd dan menyelamatkan buku-bukunya.[11]

Ernest Renan, seorang peneliti sarjana Perancis telah berusaha mencari buku-buku karangan Ibn Rusyd di pelbagai perpustakaan di Eropa. Di perpustakaan Eskurial di Madrid, ia telah menemukan suatu daftar buku-buku karya Ibn Sina, al-Farabi dan Ibn Rusyd. Dalam daftar tersebut ia menemukan karya Ibn Rusyd sebanyak 78 judul, baik dalam bidang filsafat, kedokteran, fiqh maupun teologi.[12] Dengan rincian dapat diklasifikasikan sebagai berikut, (a). 28  judul dalam ilmu filsafat; (b). 20 judul dalam ilmu kedokteran; (c). 8 judul dalam ilmu hukum Islam (fiqh); (d). 5 judul dalam ilmu kalam (teologi); (e). 4 judul dalam ilmu perbintangan (astronomi); (f). 2 judul dalam ilmu sastra Arab; (g). 11 judul dalam perbagai ilmu pengetahuan lain.

Buku–buku tersebut hampir semuanya dalam bahasa latin dan Ibrani yang merupakan terjemahan dari buku-buku asli yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian buku-buku asli telah hilang, kecuali sepuluh buah dalam ilmu filsafat, tiga buah dalam ilmu kedokteran, tiga buah dalam ilmu hukum dan dua buah dalam ilmu kalam. Di antara buku-buku Ibn Rusyd yang terkenal dan sampai kini menjadi rujukan adalah Bida>yat alMujtahid wa Nihayah al-Muqtasi{ d  (fiqh), Fash al-Maqal fi > ma > bayna al-Hi{ kmah wa Shari>’ah min al-Ittishal (kalam), Mana>hij al-Adillah fi al-Aqa>id al-Millah (kalam) Tah{afut al-Tahafut (filsafat) dan al-Kulliyat (kedokteran).

B.     ‘Meluruskan’  Takfi>r al-Ghazali

Imam al-Ghazali mengkafirkan para filsuf dalam tiga masalah (1)keqadiman alam, (2) Allah tidak mengetahui hal-hal yang kecil-kecil (juziyat) dan (3) pengingkaran kebangkitan dan pengumpulan jasad hari kiamat.[13]

1.      Keqadiman Alam

Mengenai masalah alam qadim, antara kaum teologi dan kaum filosof, memang terdapat perbedaan tentang arti الأحداث dan قديم. Bagi kaum teolog  “al-ih{da>s” mengandung arti menciptakan dari tiada.

Sementara itu, menurut kaum filsuf kata itu berarti menciptakan dari “ada”. Adam (tiada), kata Ibn Rusyd tidak bisa dirubah menjadi wujud (ada). Yang terjadi adalah wujud berubah menjadi wujud dalam bentuk lain.[14][15]

Demikian juga kaum teolog, qadi>m mengandung arti sesuatu yang berwujud tanpa sebab. Bagi kaum filsuf qadim tidak mesti mengandung arti hanya sesuatu yang berwujud tanpa sebab, tetapi boleh juga berarti “sesuatu yang berwujud dengan sebab”. Dengan kata lain, sungguh pun disebabkan ia boleh bersifat qadi>m, yaitu tidak mempunyai permulaan dalam wujud Qadim. Dengan demikian, adalah sifat bagi sesuatu yang dalam kejadian kekal, kejadian terus menerus yaitu kejadian yang tidak bermula dan tak berakhir.[16]

Dalam pemikiran al-Ghazali, sewaktu Tuhan menciptakan alam, yang ada hanya Tuhan. Tidak ada sesuatu yang lain selain Tuhan. Terhadap pemikiran al–Ghazali tersebut Ibn Rusyd mengajukan bantahannya, bahwa sewaktu Tuhan menciptakan alam sudah ada sesuatu di samping Tuhan. Dari sesuatu yang telah ada dan diciptakan Tuhan, itulah Tuhan menciptakan alam. Untuk memperkuat bantahannya Ibn Rusyd mengemukakan beberapa ayat dalam al-Qur’an QS. Hud: 7, “Dan Dialah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari dan tahtaNya (pada waktu itu) berada di atas air, agar Ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”.

Ayat tersebut, menurut Ibn Rusyd menjelaskan bahwa sewaktu Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada sesuatu di samping Tuhan, yaitu air. Pandanagan ini dikuatkan dalam QS. Fusilat: 11, “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa keduanya menjawab: kami datang dengan suka hati”.

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit telah ada uap disamping Tuhan. Dalam memberi komentar ayat yang terakhir ini Ibn Rusyd mengatakan ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa langit diciptakan dari sesuatu. Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum bumi dan langit diciptakan, telah ada benda lain, yaitu air dan uap, jadi bukan diciptakan dari tiada, oleh karena itu alam ini dalam arti unsurnya kekal dari zaman lampau yaitu qadim.

Pendapat kaum teolog tidak sesuai dengan arti lahir ayat mereka dalam hal ini sebenarnya memakai ta’wi>l. Di sini terjadi perbedaan penafsiran ayat. Kaum filsuf, termasuk Ibn Rusyd, mengambil arti lafdzi. Sedangkan bagi kaum teolog, termasuk al-Ghazali, mengambil bentuk pengertian dalam arti ta’wil.

2.      Tuhan Tidak Mengetahui Perincian (Juz’iyat)

Allah mengetahui segala sesuatu yang di langit dan yang di bumi, baik sebesar zarrah sekalipun adalah suatu hal yang telah digariskan dengan jelas dalam al-Qur’an, sehingga telah merupakan konsensus dalam kalangan umat Islam. Hanya bagaimana Tuhan mengetahui hal-hal yang parsial (juz’iyat) terdapat perbedaan jawaban yang diberikan.[17]

Terhadap tuduhan al-Ghazali, bahwa Tuhan tidak mengetahui princian yang ada dalam alam ini, Ibn Rusyd mengatakan bahwa alGhazali salah paham, karena tidak pernah kaum filosof mengatakan  yang demikian.[18] Menurut Ibn Rusyd Tuhan mengetahui sesuatu dengan dzatNya. Pengetahuan Tuhan tidak bersifat juz’i maupun bersifat kulli. Pengetahuan Tuhan tidak mungkin sama dengan manusia,[19]karena pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari wujud, sedangkan pengetahuan manusia adalah akibat.[20]

Selanjutnya pengetahuan manusia bersifat baru dan pengetahuan Tuhan bersifat qadim, yaitu semenjak awal Tuhan mengetahui segala hal-hal yang terjadi di alam, sungguh betapun kecilnya.[21] Jadi, bagi Ibn Rusyd bahwa Tuhan tidak mengetahui peristiwa-peristiwa kecil. Tuhan tidak mengetahui perincian itu dengan ilmu baru, di mana syarat ilmu baru itu dengan kebaharuan peristiwa dan perincian tersebut, karena Tuhan menjadi sebab (illat) bagi perincian tersebut, bukan menjadi akibat (musabbab) dari padanya seperti  halnya dengan ilmu baru. Ilmu Tuhan bersifat qadim tidak berubah, karena perubahan peristiwa. Ini dimaksudkan untuk menjaga kesucian Tuhan Yang Maha Mengetahui segala-galanya.

3.      Kebangkitan Jasmani Tidak Ada

Dalam kitab Tah{afut al-Fala>sifah, al-Ghazali menunjukkan kepada filosof yang mengatakan bahwa di akhirat nanti manusia akan dibangkitkan kembali dalam wujud rohani, tidak dalam wujud jasmani. Atas dasar kepercayaan ini, mereka dan para penganut pendapat tersebut dianggap kafir oleh al-Ghazali, karena dalam al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa manusia akan mengalami berbagai kenikmatan jasmani nanti di surga.

Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tidak menyebutkan masalah pembangkitan jasmani.[22] Semua agama menurut Ibn Rusyd mengakui adanya hidup kedua di akhirat meskipun ada perbedaan pendapat mengenai bentuknya.24 Namun, perlu disadari maksud pokok dari syari’at adalah menghimbau manusia untuk selalu melakukan perbuatan terpuji dan meninggalkan perbuatan jahat sehingga ajaran yang dibawa oleh agama harus sesuai dengan tanggapan dan pemikiran orang awam.

Karena itu, kebangkitan di akhirat  dalam wujud jasmani. Ibn Rusyd dalam kitabnya Tah{afut al-Tah{afut mengemukakan firman Allah yang maksudnya perumpamaan surga bagi orang-orang muttaqin di sisi Allah, sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Demikian pula sabda Nabi Muhammad, “Di dalammya (surga) terdapat apa yang tidak pernah mata melihat dan telinga mendengar  serta tidak pernah terlintas dalam kalbu manusia”. Ibn Rusyd berpendapat bahwa dalam surga, manusia tidak dalam wujud jasad, dan apa yang diajarkan al-Qur’an tentang surga dan isinya harus dipahami secara metafora. Ahli tafsir,  Ibn Abbas mengatakan bahwa tidak akan dijumpai di akhirat hal-hal yang bersih keduniaan kecuali nama saja, hidup di akhirat lebih tinggi dari hidup di dunia.[23]

Ibn Rusyd mengkritik al-Ghazali, karena dalam beberapa tulisannya terjadi kontradiksi. Tulisannya dalam buku Tah{afut alFalas> ifah bertentangan dengan apa yang ia tulis dalam bukunya mengenai tasawuf. Dalam buku Tah{afut al-Fala>sifah, al-Ghazali mengatakan tidak ada orang Islam yang berpendapat adanya pembangkitan jasmani. Sedangkan dalam buku tentang tasawuf al-Ghazali menerangkan bahwa dalam pendapat kaum sufi yang ada nanti ialah pembangkitan rohani, bukan pembangkitan jasmani, tak dapat dikafirkan. Apalagi al-Ghazali mendasarkan pengkafirannya pada ijma’ ulama.[24]

Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pertentangan antara Ibn Rusyd dengan al-Ghazali berkisar sekitar interprestasi tentang ajaran-ajaran dasar Islam, bukan tentang terima atau tolaknya ajaran-ajaran dasar itu sendiri. Ibn Rusyd maupun al-Ghazali tetap mengakui Tuhan sebagai pencipta alam. Hanya yang menjadi permasalahan ialah, apakah semenjak azali Tuhan menciptakan sehingga alam dengan demikian menjadi qadim, ataukah Tuhan menciptakan tidak semenjak azali sehingga alam bersifat baru.

Ibn Rusyd berpendapat Tuhan menciptakan semenjak qida>m. Sebaliknya, al-Ghazali tidak semenjak qida>m. Kedua pihak mengakui adanya hari perhitungan dan yang di permasalahkan adalah apakah yang menghadapi perhitungan itu roh atau tubuh, ataukah hanya roh manusia saja. Menurut Ibn Rusyd hanya roh, sedangkan menurut al-Ghazali tubuh dan roh. Kedua golongan sama-sama mengakui bahwa Tuhan mengetahui perincian (juz’iyat) dan yang dipersoalkan kaum filsuf cara Tuhan mengetahui yang juz’iyat itu. Kedua filsuf hanya terlibat dalam perbedaan ijtihad, dan perbedaan ijtihad itu lumrah dalam Islam, tidak membawa kepada kekafiran. Bahkan, Nabi Muhammad bersabda, “Jika seorang benar dalam ijtihadnya mendapat dua pahala, dan jika salah, mendapat satu”

4.      Pengaruh Pemikiran Filsafat Ibn Rusyd di Eropa

Ibn Rusyd lebih dikenal dan berpengaruh besar di Eropa sebagai intelek yang menjembatani orang-orang Barat dalam mempelajari kembali filsafat Yunani secara orisinil setelah lama terkubur di abad pertengahan. Aufklarung (renaissanse) setelah lama terjadi kemandekan dan pergulatan. Dalam konteks ini, Ibn Rusyd sebagai komentator terbesar karya Aristoteles banyak berperan.

Pengaruh besar Ibn Rusyd tidak lepas dari metode dan pendekatan yang dipakai dalam pemikiran filosofisnya. Ibn Rusyd yang datang di tengah-tengah penguasaan dogma agama dan pertentangan besar agama (wahyu) dan filsafat (akal) merekonsiliasikan antara agama dan wahyu atau mempertemukan pertentangan tersebut dengan mengemukakan argument-argumen yang dapat diterima akal dan kaum agamawan. Persamaan tujuan dalam pencarian kebenaran menjadi senjata dalam menemukan benang merah pertentangan agama dan filsafat. Sebagai seorang Muslim, Ibn Rusyd dalam filsafatnya mengetengahkan justifikasi al-Quran (agama) terhadap filsafat yang sebelumnya ditolak. Lewat penyatuan akal dan wahyu ini lah pengaruh Ibn Rusyd terus membesar.

Menurut Ibrahim Madkur, ada beberapa alasan yang menyebabkan perhatian Barat terhadap filsafat Ibn Rusyd demikian besar. Ketertarikan Frederick II sebagai pecinta ilmu pengetahuan dan filsafat terhadap komentar-komentar Ibn Rusyd akan filsafat Aristoteles dan bagaimana dia dapat menjaga kemurniannya setelah tercampur dengan Platonisme. Ketertarikan ini mendorongnya untuk menerjemahkan dan menyebarluaskan pemikiran Ibn Rusyd di Eropa. Banyak pula orang Yahudi penganut filsafat Ibn Rusyd juga menerjemahkan pemikiran-pemikirannya. Sebagai komentator besar Arestoteles, banyak para pengkaji filsafat membaca karya Ibn Rusyd demi mendapatkan orisinialitas pemikiran Aristoteles.[25]

Pengaruh besar Ibn Rusyd di Eropa ditandai dengan lahirnya gerakan Averroisme yang menghidupkan dan mengembangkan pemikiran filosofis Ibn Rusyd. Meskipun apa yang mereka kembangkan pada akhirnya jauh berbeda dengan pemikiran asli Ibn Rusyd. Hal ini tidak lebih dikarenakan perbedaan latar belakang saja yang mempengaruhi pemikiran. Kelahiran aliran ini telah membuktikan pengaruh besar Ibn Rusyd di Eropa. Meskipun banyak juga yang menentang pemikiran Ibn Rusyd, seperti Thomas Aquinas, Raymond Lull, Albert the Great dan lainnya. Bahkan para gerejawan berusaha membendung pengaruh pemikiran rasional Averroisme dengan berbagai cara. Salah satu ancaman yang paling tragis adalah ancaman pembunuhan dan penjara.[26]


BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Pengkafiran al-Ghazali terhadap filsuf yang dianggap menyimpang dari tauhid, direspons dengan baik oleh Ibn Rusyd. Melalui buku Taha{ fut alTaha{ fut, Ibn Rusyd meluruskannya. Dalam pandangan Ibn Rusyd, al-Ghazali tampaknya salah paham dengan pemikiran filsuf, terutama terkait keqadiman alam, Tuhan tidak mengetahui yang parsial dan kebangkitan jasmani tidak ada.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aal-Ghazali. Tahafut al-Fala>sifah, tahqiq Sulaiman Dunia. Kairo: Dar al. 1985

Bakker Sy, JMW. Sejarah Filsafat dalam Islam.Yogyakarta: Kanisius, 1978

Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1986

Hanafi, A. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1969

Jama’ah, Muhammad Lutfi. Ta>ri>kh al-Fala>sifah al-Islam. Mesir: Matba’ah al-Ma’arif, 1927

Ma’arif, 1966 al-Ahwany, Ahmad. Segi-segi Pemikiran Filsafat dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984

Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang,

Rusyd, Ibn. Tah{a>fut al-Tah{a>fut, tahqiq Sulaiman Dunia. Kairo: Dar al Ma’arif, 1964

Syarif, M.M. Alam Pikiran Islam terj. Bandung: Penerbit Diponegoro, 1979

Syarif, M.M. Para Filosof Muslim. Bandung: Penerbit Mizan, 1985

Zaki, Ibrahim dkk. Da>irat al-Ma’arif al-Islamiyah. Kairo: Maktaba’ah alSaqafiah, 1962


 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Dialog Filsuf Muslim dengan Filsuf Barat " dengan sebaik-baiknya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang telah memuliakan derajat kaum perempuan sejajar dengan kaum laki-laki (kesetaraan gender).

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam. Dengan kerendahan hati semoga apa yang tertulis dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik yang kontruktif sangat diharapkan dari para sahabat dan sahabati demi terciptanya suatu pembangunan peradaban Islam.

 

     Februari 2020

Padangsidimpuan

 

 


 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR................................................................        i

DAFTAR ISI................................................................................        ii

 

PENDAHULUAN.......................................................................        1

A.    Latar Belakang......................................................................        1

B.     Rumusan Masalah.................................................................        1

                    

PEMBAHASAN II

A.     Biografi Ibn Rusdy .............................................................        2

B.     Isi Dialgo Ibn Rusdy daan Al-Ghazali..................................        5

 

BAB III PENUTUP.....................................................................       

A.    Kesimpulan ...........................................................................        11

 

DAFTAR PUSTAKA


 

 

 

DIALOG FILSUF MUSLIM DAN FILSUF BARAT

 

D

I

S

U

S

U

N

 

OLEH

Wiranto Siregar                          1720100006

Karina Wahyu Sembiring          1720100076

 

DOSEN PENGAMPU

Dr. Sehat Sultoni, M.A

 

 

 

 

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

PADANG SIDIMPUAN

2020

 



[1] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam  (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hlm. 47

[2] Syarif, Para,  hlm. 199

[3] Ibrahim Zaki, dkk Dairotul Ma’arif al-Islamiyah  (Kairo: Maktaba’ah as-Saqafiah, 1962), hlm. 98

[4] Syarif, Para, hlm. 197

[5] Ibid., hlm. 200

[6] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 154

[7] Syarif, Para, hlm. 200

[8] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, hlm 154

[9] A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1969), hlm. 178

[10] Muhammad Lutfy Jama’ah, Tarikh Falasifah al-Islam (Mesir: Matba’ah al-

Ma’arif, 1927), hlm. 114

[11] JMW. Bakker Sy,Sejarah Filsafat dalam Islam (Yogyakarta: Kanisius, 1978), hlm. 73-74

[12] Jama’ah, Tarikh,  hlm. 147

[13] Ahmad Fuad al-Ahwany, “Segi-Segi Pemikiran Filsafat Dalam Islam”, Dalam Ahmad Daudy (ed.) (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 66

[14] Ibn Rusyd, Tahafut at-Tahafut, Tahqiq Sulaiman Dunia, Kairo, Dar al Ma’arif,

[15] , hlm. 362

[16] Harun Nasution, Filsafat dan mistisisme dalam Islam ....hlm. 53

[17] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam .....hlm. 176

[18] Harun Nasution, Filsafat dan mistisisme dalam Islam ....hlm. 53

[19] Ibrahim Zaki, dkk. Dairotul Ma’arif al-Islamiyah, ...hlm. 171

[20] Ibn Rusyd, Tahafut at-Tahafut, Tahqiq Sulaiman Dunia ...hlm. 711

[21] Harun Nasution, Filsafat dan mistisisme dalam Islam ....hlm. 53

[22] Ibn Rusyd, Tahafut at-Tahafut, Tahqiq Sulaiman Dunia ...hlm. 864 24 Ibid., hlm. 866

[23] Ibid., hlm. 870

[24] Ibid., hlm. 873-874

[25] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya  (Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 255

[26] Ibid., hlm. 257-259

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...