Selasa, 07 Juni 2022

Free Download Makalah Karakteristik Perkembangan Moralitas Dan Keagamaan Remaja Serta Implikasi dalam Pendidikan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Karakteristik Perkembangan Moralitas Dan Keagamaan Remaja Serta Implikasi dalam Pendidikan.

A.    Pengertian Moralitas.

Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Moral dapat juga diartikan sebagai ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, ahalak, kewajiban, dan sebagainya. Jadi moralitas dapat didefenisikan dengan berbagai cara. Namun, secara umun moralitas dapat dikatakan sebagai kapasitas untuk membedakan yang benar dan yang salah, bertindak atas perbedaan tersebut, dan mendapatkan penghargaan diri ketika melanggar standar tersebut. Dalam defenisi ini, individu yang matang secara moral tidak membiarkan masyarakat untuk mendikte mereka karena mereka tidak mengharapkan hadiah atau hukuman yang berwujud ketika memenuhi atau tidak memenuhi standar moral. Mereka menginternalisasi prinsip moral yang mereka pelajari dan memenuhi gagasan nya, walaupun tidak ada tokoh otoritas yang hadir untuk menyaksikan atau mendorong mereka.

Moralitas memiliki tiga komponen, yaitu komponen afektif, kognitif, dan perilaku. Komponen afiktif atau emosional terdiri dari berbagai jenis perasaan (seperti perasaan bersalah atau malu, perhatian terhadap perasaan orang lain, dan sebagainya) yang meliputi tindakan benar dan salah yang memotivasi pemikiran dan tindakan. Komponen kognitif merupakan pusat dimana seesorang melakukan konseptualisasi benar dan salah dan membuat keputusan tentang bagaimana seseorang berperilaku. Komponen perilaku mencerminkan bagaimana seseorang sesungguhnya berperilaku ketika mengalami godaan untuk berbohong, curang, atau melanggar aturan moral lainnya.

Komponen afektif moralitas (moral affect) merupakan berbagai jenis perasaan yang menyertai pelaksanaan prinsip etika. Islam mengajarkan pentingnya rasa malu Untuk melakukan perbuatan yang tidak baik sebagai  sesuatu yang penting.

Komponen kognitif moralitas (moral reasoning) merupakan pikiran yang ditunjukkan seseorang ketika memutuskan berbagai tindakan yang benar atau yang salah.

Komponen perilaku moralitas (moral behavior) merupakan tindakan moral seseorang dalam situasi dimana mereka harus melanggarnya.

Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksi nya dengan orang lain. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.[1]

B.     Perilaku-perilaku Dasar Moral.

Pada umunya orang tua mengharapkan anak-anaknya untuk tumbuh menjadin seseorang yang memiliki moralitas yang kuat dalam berhubungan dengan orang lain. Bergbagai jawaban timbul ketika dinyatakan prinsip moral apa yang diinginkan orang tua, namun secara umum jawaban-jawaban tersebut dapat digolongkan pada perkembangnya prinsip perilaku prososial, tumbuhnya kontrol diri dalam menghindari menyakiti orang lain, disertai internalisasi atau komitmen pribadi untuk memenuhi aturan yang ada.

C.    Tingkat Moralitas Konvensional (Conventional Morality)

Invidu yang berbeda pada tahap ini melakukan penalaran berdasarkan pandangan dan penghargaan kelompok sosial mereka. Aturan norma dan sosial dipatuhi untuk mendapatkan persetujuan orang lain atau untuk memelihara aturan sosial. Moralitas mempertahankan aturan sosial (Social Order Maintaning) pada tahaphukum dan aturan (law and order) seseorang dapat melihat sistem sosial secara keseluruhan. Aturan dalam masyarakat merupakan dasar baik atau buruk, melaksanakan penghargaan terhadap otoritas adalah hal yang penting. Alasannya mematuhi peraturan bukan merupakan ketakutan terhadap hukuman atau kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa hukum dan aturan harus dipatuhi untuk mempertahankan hukum yang berlaku dan membayar utang nya pada masyarakat.

 

D.    Tingkat Moralitas Pascakonvensional (Post Conventional Morality)

Tingkat ini disebut juga moralitas yang berprinsip (principled morality) karena berfokus pada prinsip-prinsip etika. Orang apada tahap ini menyadari bahwa individu merupakan sesuatunyang berbedabdari masyarakat’secara umum perspektif seseorang harus dipertimbangkan sebelum memikirkan masyarakat secara umum. Baik atau buruk didefenisiakn pada keadilan yang lebih besar, bukan pada aturan masyarakat yang tertulis atau kewenangan tokoh otoritas. Kebenaran moral dan hukum yang berlaku didalam masyarakat tidak selalu sama.[2]

 

E.     Karakteristik Perkembangan Moral.

Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal, yakni :

·         Mulai mampu berpikir abstrak

Mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikiran remaja terhadap sesuatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi. Tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka.

Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena di anggapnya sebagai sesuatu yang bernilai walau belum mampu mempertanggungjawabkan nya secara pribadi.

 

F.     Hakikat Perkembangan Keagamaan Remaja.

Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan dengan hakekat dan nasib manusia, memainkan peranan penting dalam menentukan konsepsinya tentang apa dan siapa dia. agama sseperti yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan, sikap-sikap dan praktek-praktek yang kita anut, pada umumnya berpusat sekitar pemujaan.

Dari sudut pandangan individu yang beragama adalah sesuatu yang menjadi urusan terakhir baginya. Artinya bagi kebanyakan orang agama merupakan jawaban terhadap kehausannya akan kepastian, jaminan, dan keyakinan tempat mereka melekatkan dirinya dan untuk menopangharapannya. Dari sudut pandangan soial seesorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna dengan orang lain, ,encapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orrang lain dalam ketaatan yang umum terhadapnya. Penemuan lain menunjukkan bahwa sekaligus pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepecayaan keagamaan mereka, namun pada akhirnya kembali lagi pada kepercayaan tersebut. Banyak orang pada usia 20 dan awal 30 tahun tatkala mereka sudah menjadi orang tua, kembali melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaiakan. Bagi remaja agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan tingkah lakunya.

Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya. Dibanding dengan masa anal-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada wal masa anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Perkembangan pemahaman remaja terhadapkeyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.[3]

 

G.    Implikasi Masalah Remaja dengan Pendidikan.

Pemahaman dan pemecahan masalah yang ditimbulakan remaja harus dilakukan secara interdispliner dan antar lembaga. Meskipun demikian pendekatan dan pemecahan nyadari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efetif dan strategis karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik khususunya para guru banyak mempunyai kesemptan berkominukasi dan bergaul. Diantara usaha pembinaan yang perlu diperhatiakan sekurang-kurangnya untuk mengirangi kemungkianan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khususnya :

1.      Hendaknya seseorang guru mengadakan program dan perlakuan khusus bagi siswa remaja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran atonomi, fsiologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan penjelasannya dengan penuh semangat. Tujuan dari usaha tersebut adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.

2.      Memperhitungkan segala spek-aspek selengkap mungkij dengan datavatau secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ) bakat khusus (apitudes) disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersangkutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan progran studi. Upayab tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasavdan perilaku kognutif.

3.      Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan menyelaraskan sistem nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap sisw remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembunaanya. Tujuannya adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertaian debgan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.

4.      Seseorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bnertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi kognatif, efektif dan berpribadian seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan/tinddakan yang tepatakan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.[4]

H.  Aspek-aspek Psikologis dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

            1. Perilaku Mengajar

Seferti telah dikemukakan di atas, guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Guru pun dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa. Disamping itu, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi belajar mengajar yang sedemikian rupa, sehingga siswa mewujudkan kualitas perilaku belajarnya secara efektif. Guru pun dituntut untuk mampu menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif, karena kondusivitas  Tanpa situasi yang kondusif, proses belajar mengajar tidak akan bisa diwujudkaan.

Guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas belajar para peserta didik dalam bentuk kegiatan belajar yang sedemikian rupa, dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang erfektif, dan pekerja yang produktif. Dalam hubungan ini, guru memegang penting dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang sebaik-baiknya. Tugas guru dalam mengajar, tidak hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan, tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran manajer pengajaran, pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai direktur belajar.[5]

Untuk mewujudkan perilaku mengajar secara tepat, karakteristik pengajar yang diharapkan antara lain adalah :

1.      Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkan.

2.      Memiliki kecakapan untuk memperhatikan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat pula.

3.      Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.

4.      Memiliki pemikirasn yang imajinatif dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta didik.

5.      Memiliki kualifikasi yang memadai dakam bidangnya baik ini maupun metode.

Memiliki sikap terbuka, luwes dan eksperimental dalam metode dan teknik.



[1] Aliah B. Purwakania  Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (jakarta : PT RajaGrafindo,2008), Hal 261-274.

[2] Ibid, Hal 261-274.

[3] Drs. Tohirin, Ms. M.Pd. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Rajawali Pers,2011),hal 48.

[4] Ibid, hal 76.

[5] Nana Syaodin Sukmadinata, Landasan Psikologi proses pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004), hal 20.

Senin, 06 Juni 2022

Teori-Teori Pembelajaran Matematika

 

TEORI TEORI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

 

Pendahuluan

Penguasaan teori belajar merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan pengajaran matematika. Oleh karena itu, seorang guru maupun calon guru perlu memperoleh wawasan tentang teori belajar dan dapat menerapkannya dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Teori belajar ialah teori yang bercerita tentang kesiapan siswa untuk belajar sesuatu. Atau uraian tentang kesiapdidikan siswa untuk menerima sesuatu ( Ruseffendi et al., 1990, pp. 15). Jadi pada prinsipnya teori belajar itu berisi tentang apa yang terjadi dan apa yang diharapkan terjadi pada mental anak yang dapat dilakukan pada usia (tahap perkembangan mental) tertentu. Maksudnya kesiapan anak untuk bisa dapat belajar.

Secara umum BBM 3 ini menjelaskan tentang teori belajar. Teori-teori belajar yang akan dibahas dalam modul ini adalah teori belajar aliran psikologi tingkah laku (behaviorisme) dan aliran psikologi kognitif

Untuk dapat memahami materi pada.BBM 3 ini tidak ada persyaratan khusus yang harus dikusai, namun untuk memudahkan Anda dalam mempelajarinya sebaiknya Anda telah memahami karakteristik anak sekolah dasar dan hakikat pendidikan matematika. Selain itu pengalaman Anda dalam mengajar matematika di SD akan sangat membantu Anda mempermudah pemahaman materi dalam BBM ini sehingga akan menambah wawasan dalam pembelajaran matematika di SD

Setelah mempelajari BBM ini, secara khusus Anda diharapkan dapat : ( Hamalik, et al., 2003, pp. 55).

1.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Thorndike dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

2.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Pavlov dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

3.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Baruda dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

4.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Skiner dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

5.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Ausubel dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

6.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Gagne dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

7.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Piaget dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

8.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Bruner dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

9.        Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Brownell dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

10.     Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Dieness dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

11.     Menjelaskan tentang teori belajar yang dikemukakan Van Hiele dan dapat menerapkannya dalam pengajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD).

 

 


 

ALIRAN PSIKOLOGI TINGKAH LAKU

(Teori Belajar Thorndike, Pavlov, Baruda, Skiner, Ausubel dan Gagne)

 

A.     TEORI BELAJAR THORNDIKE

Bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal – hal yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, persaan atau gerakan ( tindakan ). Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan atau tingkah laku akibat kegitan belajar itu dapat berujud kongkrit yaitu dapat diamati. (Edward Thonrdike., 1949)

Teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut juga Koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil atau hukum yang dikemukakan Thorndike, yang mengakibatkan munculnya stimulus respon ini, yaitu hukum kesiapan (law of readiness), hukum latihan (law of exsercise) dan hukum akibat (law of effect).

 

1.       Hukum Kesiapan ( law of readiness )

Hukum ini menerangkan bagaimana kesiapan seseorang siswa dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang siswa yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. ( Hardiyana., 2010, pp. 35).

Seorang siswa yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak dan kemudian bertindak, sedangkan tindakannya itu mengakibatkan ketidakpuasan bagi dirinya, akan selalu menghindarkan dirinya dari tindakan-tindakan yang melahirkan ketidakpuasan tersebut.

Dari ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa seorang siswa akan lebih berhasil belajarnya, jika ia telah siap untuk melakukan kegiatan belajar.

 

2.       Hukum Latihan. ( law of ecexcise )

Menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi akibatnya hubungan akan semakin kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan, maka makin lemahlah hubungan yang terjadi.

Hukum latihan pada dasarnya mengungkapkan bahwa stimulus dan respon memiliki hubungan satu sama lain secara kuat, jika proses pengulangan sering terjadi, dan makin banyak kegiatan ini dilakukan maka hubungan yang terjadi akan bersirfat otomatis. Seorang siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang sering ditemuinya akan segera melakukan tanggapan secara cepat sesuai dengan pengalamannya pada waktu sebelumnya. ( Hernawati et al., 2011, pp. 75).

Kenyataan menunjukkan bahwa pengulangan yang akan memberikan dampak positif adalah pengulangan yang frekuensinya teratur, bentuk pengulangannya tidak membosankan dan kegiatannya disajikan dengan cara yang menarik.

Sebagai contoh untuk mengajarkan konsep pemetaan pada siswa, guru menguji apakah siswa sudah benar-benar menguasai konsep pemetaan. Untuk itu guru menanyakan apakah semua relasi yang diperlihatkannya itu termasuk pemetaan atau tidak. Jika tidak, siswa diminta untuk menjelaskan alasan atau sebab-sebab kriteria pemetaan tidak dipenuhi. Penguatan konsep lewat cara ini dilakukan dengan pengulangan. Namun tidak berarti bahwa pengulangan dilakukan dengan bentuk pernyataan dan informasi yang sama, melainkan dalam bentuk informasi yang dimodifikasi, sehingga siswa tidak merasa bosan.

 

3.       Hukum Akibat.( law of effect )

Thorndike mengemukakan bahwa suatu tindakan akan menimbulkan pengaruh bagi tindakan yang serupa. Ini memberikan gambaran bahwa jika suatu tindakan yang dilakukan seorang siswa menimbulkan hal-hal yang mengakibatkan bagi dirinya, tindakan tersebut cenderung akan diulanginya. Sebaliknya tiap-tiap tindakan yang mengakibatkan kekecewaan atau hal-hal yang tidak menyenangkan, cenderung akan dihindarinya. Dilihat dari ciri-cirinya ini hukum akibat lebih mendekati ganjaran dan hukuman.

Dari hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan dari siswa, dan cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya itu. Guru memberi senyuman wajar terhadap jawaban siswa, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri siswa. Katakan “Bagus”, “Hebat”, “Kau sangat teliti”, dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi siswa yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran. Stimulus ini termasuk reinforcement.

Sebaliknya guru juga harus tanggap terhadap respon siswa yang salah. Jika kekeliruan siswa dibiarkan tanpa penjelasan yang benar dari guru, ada kemungkinan siswa akan menganggap benar dan kemudian mengulanginya. Siswa yang menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah, namun hasil kerjanya itu tidak diperiksa oleh gurunya, ada kemungkinan beranggapan bahwa jawaban yang dia berikan adalah benar. Anggapan ini akan mengakibatkan jawaban yang tetap salah di saat siswa mengikuti tes.

Demikian pula siswa yang telah mengikuti ulangan dan mendapat nilai jelek, perlu diberitahukan kekeliruan yang dilakukannya pada saat siswa diberi tes berulang, namun hasilnya tetap buruk. Ada kemungkinan konsep yang dipegangnya itu dianggap sebagai jawaban yang benar. Penguatan seperti ini akan sangat merugikan siswa. oleh karena itu perlu dihilangkan.

Dari hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa jika terdapat asosiasi yang kuat antara pertanyaan dan jawaban, maka bahan yang disajikan akan tertanam lebih lama dalam ingatan siswa. selain itu banyaknya pengulangan akan sangat menentukan lamanya konsep diingat siswa. Makin sering pengulangan dilakukan akan semakin kuat konsep tertanam dalam ingatan siswa.

 

B.      TEORI BELAJAR PAVLOV

Pavlov adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Rusia. Ia terkenal dengan teori belajar klasiknya dan seorang penganut aliran tingkah laku (Behaviorisme) yaitu aliran yang berpendapat, bahwa hasil belajar manusia itu didasarkan kepada pengamatan tingkah laku manusia yang terlihat melalui stimulus respons dan belajar bersyarat (Conditioning Learning). Menurut aliran ini tingkah laku manusia termasuk organisme pasif yang bisa dikendalikan. Tingkah laku manusia bisa dikendalikan dengan cara memberi ganjaran dan hukuman.

Pavlov mengadakan penelitian terhadap perilaku anjing yaitu mempelajari proses pencernaan pada anjing, lalu mengamati anjing bila melihat makanan maka akan keluar air liurnya. Dalam penelitiannya anjing dikurung dalam suatu kandang selanjutnya setiap akan memberi makan, Pavlov membunyikan bel. Ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan bel pada jangka waktu tertentu anjing itu mengeluarkan air liurnya. Akhirnya dicoba dibunyikan bel itu tetapi tanpa diberi makanan. Ternyata anjing itu tetap mengeluarkan air liurnya. Dalam percobaan itu makanan atau bunyi bel jadi perangsang atau stimulus bagi keluarnya air liur anjing atau yang menimbulkan selera anjing untuk makan. Makanan disebut stimulus tak bersyarat, karena terjadinya secara wajar, sedangkan bunyi bel disebut stimulus bersyarat. ( Hudojo et al., 1988, pp. 66).

Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan (conditioning) dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, misalnya agar siswa mengerjakan soal PR dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

 

C.     TEORI BELAJAR ALBERT BARUDA

Albert Baruda merupakan tokoh Aliran Tingkah Laku. Ia terkenal dengan belajar menirunya. Baruda menyangkal pendapat Skinner yang mengatakan bahwa respon yang diberikan siswa yang disertai penguatan itu selalu esensial. Hal tersebut berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya dan penelitian teman-temannya.

Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru bicara sopan santun dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematik maka siswa akan menirunya. Demikian pula jika contoh-contoh yang dilihatnya kurang baik ia pun akan menirunya.

 

D.     TEORI BELAJAR MENURUT SKINNER

Dalam bagian ini akan diuraikan teori belajar menurut Skinner. Burrhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar.

Terdapat perbedaan antara ganjaran dan penguatan. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subyektif, sedangkan penguatan merupakan suatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.

Teori Skinner menyatakan penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku siswa dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Dalam hal ini penguatan yang diberikan kepada siswa memperkuat tindakan siswa, sehingga siswa semakin sering melakukannya.Contoh penguatan positif diantaranya adalah pujian yang diberikan kepada siswa, sikap guru yang menunjukkan rasa gembira pada saat siswa bisa menjawab dengan benar. ( Hurclok et al., 1997).

Penguatan positif akan berbekas pada diri siswa. Mereka yang mendapat pujian setelah berhasil menyeleaikan tugas atau menjawab pertanyaan dengan benar biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh semangat. Penguatan yang berbentuk hadiah atau pujian akan memotivasi siswa untuk rajin belajar dan mempertahankan prestasinya. Penguatan yang seperti ini sebaiknya segera diberikan dan jangan ditunda- tunda.

Penguatan negatif adalah bentuk stimulus yang lahir akibat dari fespon sisw yang kurang atau tidak diharapkan. Penguatan negative diberikan agar respon yang tidak diharapkan atau tidak menunjang pada pelajaran tidak diulangi siswa. Penguatan negatif itu dapat berupa teguran, peringatan atau sangsi. Namun untuk mengubah tingkah laku siswa dari negatif menjadi positif guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan (memprediksi) dalam mengendalikan tingkah laku siswa.Di dalam kelas guru mempunyai tugas untuk mengarahkan siswa dalam aktivitas

belajar, karena pada saat tersebut kontrol berada pada guru, yang berwenang memberikan instruksi ataupun larangan pada siswanya. ( Kelly et al., 2006, pp. 90).

 

E.      TEORI AUSUBEL

Ausubel terkenal dengan teori belajar bermaknanya. Menurut Ausubel (Hudoyo, 1998:62) bahan pelajaran yang dipelajari haruslah “bermakana” artinya bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian faktor intelektual, emosional siswa tersebut terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Ausubel membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menemukan, konsep dicari/ditemukan oleh siswa. Sedangkan pada belejar menerima siswa hanya menerima konsep atau materi dari guru, dengan demikian siswa tinggal menghapalkannya. Selain itu Ausubel    juga    membedakan   antara    brelajar    menghafal    dengan   belajar bermakna. Pada belajar menghafal, siswa menghafalkan materi yang sudah diperolehnya tetapi pada belajar bermakna, materi yang telah diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya lebih bisa dimengerti. Ausubel   menentang   pendapat   yang mengatakan bahwa metode penemuan dianggap sebagai suatu metode mengajar yang baik karena bermakna, dan sebaliknya metode ceramah adalah metode yang kurang baik karena merupakan belajar menerima. Menurutnya baik metode penemuan maupun metode ceramah bisa menjadi belajar menerima atau belajar

bermakna, tergantung dari situasinya.

 

F.      TEORI GAGNE

Menurut Gagne, dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan.

Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya. Keterampilan berupa kemampuan memberikan jawaban dengan tepat dan cepat, misalnya melakukan pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurung, menjumlahkan pecahan, melukis sumbu sebuah ruas garis. Konsep ide abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan non contoh. Misalkan, konsep bujursangkar, bilangan prima, himpunan, dan vektor. Aturan ialah objek paling abstrak yang berupa sifat atau teorema.

Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi 8 tipe, yaitu belajar isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahanmasalah. Kedelapan tipe belajar itu terurut menurut kesukarannya dari belajar isyarat sampai ke belajar pemecahan masalah. ( Montolalu et al., 1994).

Belajar isyarat ialah belajar yang tingkatnya paling rendah, karena tidak ada niat atau spontanitas. Contohnya menyenangi atau menghindari pelajaran karena akibat perilaku gurunya. Stimulus-respon merupakan kondisi belajar yang ada niat diniati dan responnya jasmaniah. Misalnya siswa meniru tulisan guru di papan tulis. Rangkaian gerak adalah perbuatan jasmaniah, terurut dari dua kegiatan atau lebih dalam rangka stimulus-respon. Rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih dalam rangka stimulus-respon. Contohnya adalah mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan guru secara lisan. Belajar membedakan adalah belajar memisah- misah rangkaian yang bervariasi. Pembentukan konsep disebut juga tipe belajar pengelompokkan, yaitu belajar melihat sifat bersama benda-benda konkrit atau peristiwa untuk dijadikan suatu kelompok. Dalam hal tertentu tipe belajar yang mengharapkan siswa untuk mampu memeberikan respon terhadap stimulus dengan segala macam perbuatan. Kemampuan disini terutama adalah kemampuan menggunakannya. Misalnya pemahaman terhadap rumus kuadratis dan menggunakannya dalam menyelesaikan persamaan kuadrat. Belajar pemecahan masalah adalah tipe belajar yang paling tinggi karena lebih kompleks dalam pembentukan aturan.

 

Dalam pemecahan masalah, biasanya ada lima langkah yang harus dilakukan, yaitu :

a.        Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas;

b.        Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional;

c.        Menyusun    hipotesis-hipotesis     alternatif    dan    prosedur    kerja    yang diperkirakan baik;

d.        Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya;

e.        Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.

Lebih jauh Gagne mengemukakan bahwa hasil belajar harus didasarkan pada pengamatan tingkah laku, melalui stimulus-respon dan  belajar bersyarat. Alasannya adalah bahwa manusia itu organisme pasif yang bisa dikontrol melalui imbalan dan hukuman. ( Sadiman et al., 2006).

 

G.     TEORI BELAJAR JEAN PIAGET

Ahli teori belajar yang sangat berpengaruh adalah Jean Piaget. Dia adalah ahli psikologi bangsa Swiss yang meyakini bahwa perkembangan mental setiap pribadi anak melewati empat tahap, yaitu :

1.       Tahap Sensori Motor, dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun,

2.       Tahap Pra Operasi, dari sekitar umur 2 tahun sampai dengan sekitar umur 7 tahun,

3.       Tahap Operasi Kongkrit, dari sekitar umur 7 tahun sampai dengan sekitar umur 11 tahun,

4.       Tahap Operasi Formal, dari sekitar umur 11 tahun dan seterusnya.

Sebaran umur pada setiap tahap tersebut adalah rata-rata (sekitar) dan mungkin pula terdapat perbedaan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya, antara individu yang satu dengan individu lainnya.

 

         Tahap Sensori Motor (Sensory Motoric Stage)

Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang dari pandangannya, asal perpindahan terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya mulai matang. Ia mulai mampu untuk melambangkan objek fisik ke dalam simbol misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan. ( Suherman et al., 2006).

         Tahap Pra Operasi (Pre Operational Stage)

Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Istilah operasi yang digunakan oleh Piaget di sini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek (classifying), menata letak benda-benda menurut urutan tertentu (seriation), dan membilang (counting). Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat obyek-obyek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakannya berbeda pula.

 

apakah kedua cairan tersebut sama banyak. Anak pada tahap perkembangan pra operasi akan menjawab kedua cairan itu berbeda.

 

 

A                                                            C

Dipindahkan menjadi

 

 

 

 

B                          Dipindahkan menjadi     D

 

 

 

Banyak cairan bejana C dan D tidak sama

Gambar 3

 

a)        Dua utas tali sama panjang diletakkan di atas meja, kemudian rentangannya diubah. Hasilnya, anak-anak akan mengatakan bahwa kedua tali tersebut menjadi berbeda panjangnya.

 

c

         a                       diubah menjadi

d

        b                       diubah menjadi

Gambar 3.4

 

Anak berpendapat panjang tali a sama dengan panjang tali b, tetapi panjang tali c tidak sama panjang dengan tali d.

b)       Apabila anak dihadapkan pada suatu daerah bidang datar (terbuat dari kertas berwarna-warni) yang menyatakan luas, kemudian kertas itu dipotong-potong dikumpulkan kembali dengan susunan yang berbeda seperti tampak pada gambar di sampingnya. Anak tersebut mengatakan bahwa luas gambar sebelah kanan lebih besar dari asalnya. ( Sumarni et al., 2006, pp. 44).

 

 

 

 

 

 

 

diubah menjadi

 

 

Gambar 3.5

 

Dari contoh-contoh di atas, tampak bahwa anak masih berada pada tahap pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan banyak, kekekalan materi, kekekalan volum, kekekalan panjang, dan kekekalan luas. Selain dari itu, ciri-ciri anak pada tahap ini belum memahami operasi yang sifatnya reversible, belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara bersamaan, belum memahami operasi transformasi ( Piaget et al., 1972, pp. 39).  

 

         Tahap Operasi Konkrit (Concrete Operation Stage)

Anak-anak yang berada pada tahap ini umumnya sudah berada di Sekolah Dasar, sehingga sudah semestinya guru-guru SD / calon guru-guru SD mengetahui benar kondisi anak pada tahap ini dan kemampuan apa yang belum dimilikinya.

Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasi dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.

adan enam jenis konsep kekekalan yang berkembang selama anak berada pada tahap operasi konkrit, yaitu : (Anderson, ., 1970, pp. 126-127)

a)     kekekalan banyak (6-7 tahun)

b)       kekekalan materi (7-8 tahun)

c)        kekekalan panjang (7-8 tahun)

d)       kekekalan luas (8-9 tahun)

e)        kekekalan berat (9-10 tahun)

f)        kekekalan volum (11-12 tahun)

Kemampuan mengurutkan objek (serasi) yang dipahami oleh anak pada tahap ini berkembang sesuai dengan pemahaman konsep kekekalan. Kemampuan mengurutkan objek berdasarkan panjang dipahami pada usia sekitar 7 tahun, mengurutkan objek yang besarnya sama tetapi beratnya berlainan dicapai pada umur sekitar 9 tahun, dan mengurutkan benda menurut volumnya dicapainya pada sekitar 12 tahun.

 

         Tahap Operasi Formal (Formal Operation Stage)

Anak sudah mulai mampu berpikir secara abstrak, dia dapat menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi dunia real, dan tidak terlalu bergantung pada benda-benda kongkrit.

Piaget menekankan bahwa proses belajar merupakan suatu proses asimilasi dan akomodasi informasi ke dalam struktur mental. Asimilasi adalah proses terpadunya informasi dan pengalaman baru ke dalam struktur mental. Akomodasi adalah hasil perubahan pikiran sebagai suatu akibat adanya informasi dan pengalaman baru. Mereka secara aktif mencoba menerima ide baru itu dalam kaitannya dengan pengalaman baru, mereka secara aktif mencoba menerima ide baru itu dalam kaitannya dengan pengalaman dan ide-ide lama yang sudah ada. Suatu istilah umum untuk teori belajar Jean Piaget adalah constructivism, karena keyakinannya bahwa para siswa pasti mengkonstruksi pikiran mereka sendiri dan bukan menjadi penerima informasi yang bersifat pasif. Sebagai contoh dalam operasi penjumlahan, anak memahami 5 + 3 = 8 dengan memanipulasi benda-benda kongkret yang telah dia kenal. Misalnya dia mempunyai 5 buah jeruk, kakanya memberikan 3 buah jeruk lagi kepada dia. Dia kumpulkan jeruk-jeruk tersebut kemudian membilang banyaknya buah jeruk yang dia miliki saat ini. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, dia mampu menyatakan bahwa sekarang jeruknya ada 8 buah. Sekarang dia dapat memisahkan antara konsep banyaknya jeruk, yaitu 8 buah, yang terdapat pada suatu kumpulan dengan cara-cara jeruk tadi ditata atau diatur, yaitu 5 dan 3 buah. Oleh sebab itu, sekarang dia dapat mengkonstruksikan bahwa 8 sama dengan 5 + 3. Dengan perkataan lain, anak pada tahap operasi kongkret sebagai dasar untuk berpikir abstrak.

\

H.     TEORI BRUNER

Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur- struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan.

Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih dipahami dan diingat anak.

Brunner, melalui teorinya itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.

Nampaklah, bahwa Bruner sangat menyarankan keaktifan anak dalam proses belajar secara penuh. Lebih disukai lagi bila proses ini berlangsung di tempat yang khusus, yang dilengkapi dengan objek-objek untuk dimanipulasi anak, misalnya laboratorium.

 

1.       Dalil Penyusunan (Konstruksi)

Dalil ini menyatakan bahwa jika anak ingin mempunyai kemampuan dalam hal menguasai konsep, teorema, definisi dan semacamnya, anak harus dilatih untuk melakukan penyusunan presentasinya. Untuk melekatkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran, anak-anak harus menguasai konsep dengan mencoba dan melakukannya sendiri. Dengan demikian, jika anak aktif dan terlibat dalam kegiatan mempelajari konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan representasi konsep tersebut, maka anak akan lebih memahaminya.

Apabila dalam proses perumusan dan penyusunan ide-ide tersebut anak disertai dengan bantuan benda-benda konkret, maka mereka akan lebih mudah mengingat ide-ide yang dipelajari itu. Siswa akan lebih mudah menerapkan ide dalam situasi riil secara tepat. Dalam tahap ini anak memperoleh penguatan yang diakibatkan interaksinya dengan benda-benda konkret yang dimanipulasinya. Memori seperti ini bukan sebagai akibat pengatan. Dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya, dalam tahap awal pemahaman konsep diperlukan aktivitas-aktivitas konkret yang mengantar anak kepada pengertian konsep.

Anak yang mempelajari konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan berulang, akan lebih memahami konsep tersebut. Jika anak tersebut mencoba sendiri menggunakan garis bilangan untuk memperlihatkan proses perkalian tersebut. Sebagai contoh untuk memperlihatkan perkalian, kita ambil 3 x 5, ini berarti pada garis bilangan meloncat 3 kali dengan loncatan sejauh 5 satuan, hasil loncatan tersebut kita periksa, ternyata hasilnya 15. Dengan mengulangi hasil percobaan seperti ini, anak akan benar-benar memahami dengan pengertian yang dalam, bahwa perkalian pada dasarnya merupakan penjumlahan berulang

 

2.       Dalil Notasi

Dalil notasi mengungkapkan bahwa pada permulaan penyajian suatu konsep ditanamkan pada anak , seharusnya menggunakan notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Sebagai contoh pada permulaan konsep fungsi diperkenalkan pada anak SD kelas – kelas akhir,notasi yang sesuai menyatakan fungsi = 2 + 3, untuk tingkat yang lebih tinggi misalanya SLTP notasi yang digunakan y = 2x + 3, baru setelah anak memasuki SMA atau mahasiswa di perguruan tinggi f (x) dikenalkan. Dari contoh tersebut nampak notasi yang diberikan tahap demi tahap ini sifatnya berurutan dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Penyajian seperti ini dalam matematika merupakan pendekatan spiral. Dalam pendekatan spiral setiap ide

– ide matematika disajikan secara sistematis dengan menggunakan notasi – notasi yang bertingkat. Pada awal notasi ini sederhana,diikuti notasi yang berikutnya yang lebih kompleks. Notasi yang terakhir, yang mungkin belum dikenal sebelumnya oleh anak, umumnya merupakan notasi yang akan banyak digunakan dan diperlukan dalam pembangunan konsep matematika lanjutan.

 

3.       Dalil Pengkontrasan dan Keanekaragaman

Dalil ini menyatakan bahwa dalam mengubah dari representasi kongkrit menuju representasi yang lebih abstrak suatu konsep dalam matematika, dilakukan dengan kegiatan pengontrasan dan keanekaragaman. Artinya agar suatu konsep yang akan dikenalkan pada anak mudah dimengerti bila konsep tersebut disajikan dengan cara mengkontraskan dengan konsep – konsep lainnya dan konsep tersebut disajikan secara beraneka ragam contoh. Jadi anak dapat memahami dengan mudah karakteristik dari konsep yang diberikan tersebut.

Untuk menyampaikan suatu konsep dengan cara mengkontraskan dapat dilakukan dengan contoh dan bukan contoh. Sebagai contoh untuk menyampaikan konsep bilangan ganjil pada anak diberikan padanya bermacam – macam bilangan seperti bilangan ganjil,bilangan genap, bilangan prima dan bilangan lainnya selain bilangan ganjil. Kemudian siswa diminta menunjukkun bilangan – bilangan mana yang termasuk contoh bilangan ganjil dan bilangan – bilangan mana yang termasuk bukan bilangan ganjil. Dengan contoh soal yang beraneka ragam kita dapat menanamkan suatu konsep dengan lebih baik daripada hanya contoh – contoh soal yang sejenis saja. Dengan keanekaragaman contoh yang diberikan siswa dapat mengenal lebih jelas karakteristik konsep yang diberikan kepadanya. Misalnya untuk memperjelas bilangan prima anak perlu diberi contoh yang banyak, yang sifatnya beranekaragam. Perlu diberikan contoh – contoh bilangan ganjil yang termasuk bilangan prima dengan yang bukan bilangan prima. Pada anak harus diperlihatkan bahwa tidak semua bilangan ganjil termasuk bilangan prima, sebab bilangan prima tidak habis dibagi oleh bilangan lain selain oleh bilangan itu sendiri dan satu.

Untuk menjelaskan segitiga siku-siku, perlu diberi contoh yang gambar-gambarnya tidak selalu tegak dengan sisi miringnya dalam kedudukan miring,tapi perlu juga diberikan gambar dengan sisi miring dalam keadaan mendatar atau membujur. Dengan cara ini anak terlatih dalam memeriksa, apakah segitiga yang diberikan kepadanya tergolong segitiga siku

– siku atau tidak.Perhatikan gambar 3.6 di bawah ini

 

      

 

4.       Dalil Pengaitan

Dalil pengaitan menyatakan bahwa dalam matematika itu setiap konsep berkaitan dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi,namun juga dari segi rumus yang digunakan. Materi yang satu mungkin merupakan prasyarat bagi yang lainnya, atau suatu konsep tertentu diperlukan untuk menjelaskan konsep lainnya. Misalnya bila guru akan menyajikan konsep perkalian, siswa terlebih dahulu memliki konsep penjumlahan.

Guru harus dapat menjelaskan kaitan-kaiatan tersebut kepada anak.Hal ini penting agar siswa dalam belajar matematika lebih berhasil. Dengan melihat kaitan – kaitan itu diharapkan siswa tidak beranggapan bahwa cabang

– cabang dalam matematika itu berdiri sendiri melainkan saling keterkaitan satu sama lainnya.

 

I.          TEORI BELAJAR WILLIAM BROWNELL

Teori belajar William Brownell didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus-menerus untuk waktu yang lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan benda-benda tertentu ketika mereka mempelajari konsep matematika. Sebagai contoh, pada saat anak-anak baru pertama kali diperkenalkan dengan konsep membilang, mereka akan lebih mudah memahami konsep itu jika mereka menggunakan benda kongkret yang mereka kenal, seperti mangga, kelereng, bola, atau sedotan. Dengan kata lain, teori belajar William Brownell ini mendukung penggunaan benda-benda kongkret untuk dimanipulasikan sehingga anak-anak dapat memahami makna dari konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari. Teori belajar William Brownell ini dikenal dengan nama Meaning Theory. (Gatot, Muhsetyo  et al., 2010)

 

J.         TEORI GESTALT

 

Tokoh aliran ini adalah John Dewey. Ia mengemukakan bahwa pelaksanaan Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

(a)      Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian

(b)     Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan intelektual siwa, dan

(c)      Mengatur suasana kelas agar siswa siap belajar.

Dari ketiga hal di atas, dalam menyajikan pelajaran guru jangan memberikan konsep yang harus diterima begitu saja, melainkan harus lebih mementingkan pemahaman terhadap proses terbentuknya konsep tersebut daripada hasil akhir. Untuk hal ini guru bertindak sebagai pembimbing dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses melalui metode induktif.

Pendekatan dan metode yang digunakan tersebut haruslah disesuaikan pula dengan kesiapan intelektual siswa. siswa SMP masih ada pada tahap operasi konkret, artinya jika ia akan memahami konsep abstrak matematika harus dibantu dengan menggunakan benda kongkrit. Oleh karena itu dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran mulailah dengan menyajikan contoh- contoh kongkret yang beraneka ragam, kemudian mengarah pada konsep abstrak tersebut. Dengan cara seperti ini diharapkan proses pembelajaran bisa berjalan secara bermakna.

Kita ketahui bahwa faktor eksternal bisa mempengaruhi pelaksanaan dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, sebelum, selama, dan sesudah mengajar guru harus pandai-pandai (berusaha) untuk menciptakan kondisi agar siswa siap untuk belajar dengan perasaan senang, tidak merasa terpaksa.

 

K.     TEORI DIENES

Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dasar teorinya bertumpu pada teori Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada anak- anak, sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika.

Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai pelajaran tentang struktur, klasifikasi tentang struktur,relasi-relasi dalam struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur- struktur. Ia meyakini bahwa setiap konsep atau prinsip dalam matematika  akan dapat dipahami secara penuh konsep tersebut,apabila disajikan dalam bentuk kongkrit dengan berbagai macam sajian. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.

Dienes membagi 6 tahapan secara berurutan dalam menyajikan konsep matematika, yaitu sebagai berikut.

 

1.       Tahap Bermain Bebas

2.       Tahap Permainan

L.      TEOREMA VAN HIELE

Perlu Anda ketahui bahwa teori belajar yang telah dirumuskan di muka adalah teori belajar yang dijadikan landasan proses pembelajaran matematika. Namun pada bagian ini akan dikemukakan ahli pendidikan, khusus dalam bidang geometri, yaitu teori belajar Van Hiele.

Van Hiele adalah seorang guru matematika bangsa Belanda yang mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri Menurut Van Hiele, ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan. Jika ketiga unsur ditata secara terpadu, akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak kepada tahapan berfikir yang lebih tinggi

Van Hiele menyatakan bahwa terdapat 5 tahap belajar anak dalam belajar geometri, yaitu : tahap pengenalan, tahap analisis, tahap pengurutan, tahap deduksi dan tahap akurasi yang akan diuraikan sebagai berikut.

 

1.      Tahap Pengenalan (Visualisasi)
2.      Tahap analisis
3.      Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
4.      Tahap Deduksi
5.      Tahap Akurasi

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budingsih Asri C, (2005). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Yogyakarta. Dahar, Ratna Willis, (1989). Teori-teori Belajar, Erlangga, Jakarta.

Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.

Hardiyana, Penggunaan Alat Peraga Manipulatif untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika pada Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah, Skripsi Sarjana (Bandung: FIP, 2010).

Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf

http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012

Hudojo, H, Mengajar Belajar Matematika (Jakarta: Depdikbud, 1988).

Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.

Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga

Kelly, Catherine A. Using Manipulative in Mathematical Problem Solving : A Performance Based Analysis, 2006

Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/

Montolalu. Bermain dan Permainan Anak.( Jakarta: Universitas Terbuka, 2005). Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (Bandung:\ Trigenda Karya, 1994).

Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/

Ruseffendi E. T. (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA, Tarsito, Bandung.

Sadiman, Arif S., dkk. Media Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Pers), 2006).

Sudono Suherman, Erman, dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Bandung : Jica Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Pendidikan Indinesia, 2006)

Sumarni, Siti. Psikologi Belajar. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006),

Suparno, Paul. (1997). Filsafat Konstruksivisme dalam Pendidikan, Kanisius, Yogyakarta.

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002)

Tim MKBM, Jurusan Matematika (2001). Strategi Pembelajaran Kontemporer, Jica UPI.

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Bandung: Prenada Media Group, 2008)

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...