BAB II
PEMBAHASAN
Karakteristik Perkembangan Moralitas Dan Keagamaan Remaja
Serta Implikasi dalam Pendidikan.
A.
Pengertian Moralitas.
Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan,
peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Moral dapat juga diartikan
sebagai ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, ahalak, kewajiban,
dan sebagainya. Jadi moralitas dapat didefenisikan dengan berbagai cara. Namun,
secara umun moralitas dapat dikatakan sebagai kapasitas untuk membedakan yang
benar dan yang salah, bertindak atas perbedaan tersebut, dan mendapatkan
penghargaan diri ketika melanggar standar tersebut. Dalam defenisi ini,
individu yang matang secara moral tidak membiarkan masyarakat untuk mendikte
mereka karena mereka tidak mengharapkan hadiah atau hukuman yang berwujud
ketika memenuhi atau tidak memenuhi standar moral. Mereka menginternalisasi
prinsip moral yang mereka pelajari dan memenuhi gagasan nya, walaupun tidak ada
tokoh otoritas yang hadir untuk menyaksikan atau mendorong mereka.
Moralitas memiliki tiga komponen, yaitu komponen afektif, kognitif, dan
perilaku. Komponen afiktif atau emosional terdiri dari berbagai jenis perasaan
(seperti perasaan bersalah atau malu, perhatian terhadap perasaan orang lain,
dan sebagainya) yang meliputi tindakan benar dan salah yang memotivasi
pemikiran dan tindakan. Komponen kognitif merupakan pusat dimana seesorang
melakukan konseptualisasi benar dan salah dan membuat keputusan tentang
bagaimana seseorang berperilaku. Komponen perilaku mencerminkan bagaimana
seseorang sesungguhnya berperilaku ketika mengalami godaan untuk berbohong,
curang, atau melanggar aturan moral lainnya.
Komponen afektif moralitas (moral
affect) merupakan berbagai jenis perasaan yang menyertai pelaksanaan
prinsip etika. Islam mengajarkan pentingnya rasa malu Untuk melakukan perbuatan
yang tidak baik sebagai sesuatu yang
penting.
Komponen kognitif moralitas (moral
reasoning) merupakan pikiran yang ditunjukkan seseorang ketika memutuskan
berbagai tindakan yang benar atau yang salah.
Komponen perilaku moralitas (moral
behavior) merupakan tindakan moral seseorang dalam situasi dimana mereka
harus melanggarnya.
Perkembangan
moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai
apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksi nya dengan orang
lain. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.[1]
B.
Perilaku-perilaku Dasar Moral.
Pada umunya orang tua mengharapkan anak-anaknya untuk tumbuh menjadin
seseorang yang memiliki moralitas yang kuat dalam berhubungan dengan orang
lain. Bergbagai jawaban timbul ketika dinyatakan prinsip moral apa yang
diinginkan orang tua, namun secara umum jawaban-jawaban tersebut dapat
digolongkan pada perkembangnya prinsip perilaku prososial, tumbuhnya kontrol
diri dalam menghindari menyakiti orang lain, disertai internalisasi atau
komitmen pribadi untuk memenuhi aturan yang ada.
C.
Tingkat Moralitas Konvensional (Conventional Morality)
Invidu yang berbeda pada tahap ini melakukan penalaran berdasarkan
pandangan dan penghargaan kelompok sosial mereka. Aturan norma dan sosial
dipatuhi untuk mendapatkan persetujuan orang lain atau untuk memelihara aturan
sosial. Moralitas mempertahankan aturan sosial (Social Order Maintaning) pada tahaphukum dan aturan (law and order) seseorang dapat melihat
sistem sosial secara keseluruhan. Aturan dalam masyarakat merupakan dasar baik
atau buruk, melaksanakan penghargaan terhadap otoritas adalah hal yang penting.
Alasannya mematuhi peraturan bukan merupakan ketakutan terhadap hukuman atau
kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa hukum dan aturan harus dipatuhi
untuk mempertahankan hukum yang berlaku dan membayar utang nya pada masyarakat.
D.
Tingkat Moralitas Pascakonvensional (Post Conventional Morality)
Tingkat ini disebut juga moralitas yang berprinsip (principled morality) karena berfokus pada prinsip-prinsip etika.
Orang apada tahap ini menyadari bahwa individu merupakan sesuatunyang
berbedabdari masyarakat’secara umum perspektif seseorang harus dipertimbangkan
sebelum memikirkan masyarakat secara umum. Baik atau buruk didefenisiakn pada
keadilan yang lebih besar, bukan pada aturan masyarakat yang tertulis atau
kewenangan tokoh otoritas. Kebenaran moral dan hukum yang berlaku didalam
masyarakat tidak selalu sama.[2]
E.
Karakteristik Perkembangan Moral.
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa
sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir
operasional formal, yakni :
·
Mulai mampu
berpikir abstrak
Mulai mampu
memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikiran remaja
terhadap sesuatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan
situasi. Tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka.
Perkembangan
pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban
mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena di anggapnya sebagai
sesuatu yang bernilai walau belum mampu mempertanggungjawabkan nya secara
pribadi.
F.
Hakikat Perkembangan Keagamaan Remaja.
Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan
dengan hakekat dan nasib manusia, memainkan peranan penting dalam menentukan
konsepsinya tentang apa dan siapa dia. agama sseperti yang kita temukan dalam
kehidupan sehari-hari terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan,
sikap-sikap dan praktek-praktek yang kita anut, pada umumnya berpusat sekitar
pemujaan.
Dari sudut pandangan individu yang beragama adalah sesuatu yang menjadi
urusan terakhir baginya. Artinya bagi kebanyakan orang agama merupakan jawaban
terhadap kehausannya akan kepastian, jaminan, dan keyakinan tempat mereka
melekatkan dirinya dan untuk menopangharapannya. Dari sudut pandangan soial
seesorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna
dengan orang lain, ,encapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orrang lain
dalam ketaatan yang umum terhadapnya. Penemuan lain menunjukkan bahwa sekaligus
pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepecayaan keagamaan mereka,
namun pada akhirnya kembali lagi pada kepercayaan tersebut. Banyak orang pada
usia 20 dan awal 30 tahun tatkala mereka sudah menjadi orang tua, kembali
melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaiakan. Bagi remaja agama
memiliki arti yang sama pentingnya dengan tingkah lakunya.
Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan
mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan
perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi
dirinya. Dibanding dengan masa anal-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah
mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada wal masa anak-anak ketika
mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Perkembangan pemahaman remaja
terhadapkeyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.[3]
G.
Implikasi Masalah Remaja dengan Pendidikan.
Pemahaman dan pemecahan masalah yang ditimbulakan remaja harus dilakukan
secara interdispliner dan antar lembaga. Meskipun demikian pendekatan dan
pemecahan nyadari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efetif dan
strategis karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik
khususunya para guru banyak mempunyai kesemptan berkominukasi dan bergaul.
Diantara usaha pembinaan yang perlu diperhatiakan sekurang-kurangnya untuk mengirangi
kemungkianan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja dalam rangka
kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru
khususnya :
1.
Hendaknya seseorang
guru mengadakan program dan perlakuan khusus bagi siswa remaja pria dan siswa
remaja wanita (misalnya dalam pelajaran atonomi, fsiologi dan pendidikan
olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan
penjelasannya dengan penuh semangat. Tujuan dari usaha tersebut adalah untuk
memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan
perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.
2.
Memperhitungkan
segala spek-aspek selengkap mungkij dengan datavatau secermat mungkin yang
menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ) bakat khusus (apitudes) disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa
yang bersangkutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan
progran studi. Upayab tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi
masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasavdan
perilaku kognutif.
3.
Seharusnya seorang
guru bisa mengaktifkan dan mengaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk
saling mendekatkan menyelaraskan sistem nilai yang dikembangkan dan cara
pendekatan terhadap sisw remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang
diberikan dalam pembunaanya. Tujuannya adalah untuk memahami dan mengurangi
masalah-masalah yang mungkin timbul bertaian debgan perkembangan perilaku
social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.
4.
Seseorang guru atau
pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul
bnertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi kognatif, efektif dan berpribadian
seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab,
belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan/tinddakan yang tepatakan
sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.[4]
H. Aspek-aspek
Psikologis dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Perilaku Mengajar
Seferti telah dikemukakan di
atas, guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses
pembelajaran. Guru pun dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara
tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa.
Disamping itu, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi belajar mengajar
yang sedemikian rupa, sehingga siswa mewujudkan kualitas perilaku belajarnya
secara efektif. Guru pun dituntut untuk mampu menciptakan situasi belajar
mengajar yang kondusif, karena kondusivitas
Tanpa situasi yang kondusif, proses belajar mengajar tidak akan bisa
diwujudkaan.
Guru dituntut untuk mampu
meningkatkan kualitas belajar para peserta didik dalam bentuk kegiatan belajar
yang sedemikian rupa, dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang
erfektif, dan pekerja yang produktif. Dalam hubungan ini, guru memegang penting
dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang sebaik-baiknya. Tugas guru
dalam mengajar, tidak hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan,
tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran manajer pengajaran,
pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai direktur belajar.[5]
Untuk mewujudkan perilaku
mengajar secara tepat, karakteristik pengajar yang diharapkan antara lain
adalah :
1.
Memiliki minat yang
besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkan.
2.
Memiliki kecakapan
untuk memperhatikan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat
kontak dengan kelompok secara tepat pula.
3.
Memiliki kesabaran,
keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
4.
Memiliki pemikirasn
yang imajinatif dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta
didik.
5.
Memiliki
kualifikasi yang memadai dakam bidangnya baik ini maupun metode.
Memiliki sikap terbuka, luwes
dan eksperimental dalam metode dan teknik.
[1] Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (jakarta
: PT RajaGrafindo,2008), Hal 261-274.
[2] Ibid, Hal 261-274.
[3] Drs. Tohirin, Ms. M.Pd.
Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Rajawali
Pers,2011),hal 48.
[4] Ibid, hal 76.
[5] Nana Syaodin Sukmadinata,
Landasan Psikologi proses pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004), hal
20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar