Selasa, 07 Juni 2022

Free Download Makalah Karakteristik Perkembangan Moralitas Dan Keagamaan Remaja Serta Implikasi dalam Pendidikan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Karakteristik Perkembangan Moralitas Dan Keagamaan Remaja Serta Implikasi dalam Pendidikan.

A.    Pengertian Moralitas.

Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Moral dapat juga diartikan sebagai ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, ahalak, kewajiban, dan sebagainya. Jadi moralitas dapat didefenisikan dengan berbagai cara. Namun, secara umun moralitas dapat dikatakan sebagai kapasitas untuk membedakan yang benar dan yang salah, bertindak atas perbedaan tersebut, dan mendapatkan penghargaan diri ketika melanggar standar tersebut. Dalam defenisi ini, individu yang matang secara moral tidak membiarkan masyarakat untuk mendikte mereka karena mereka tidak mengharapkan hadiah atau hukuman yang berwujud ketika memenuhi atau tidak memenuhi standar moral. Mereka menginternalisasi prinsip moral yang mereka pelajari dan memenuhi gagasan nya, walaupun tidak ada tokoh otoritas yang hadir untuk menyaksikan atau mendorong mereka.

Moralitas memiliki tiga komponen, yaitu komponen afektif, kognitif, dan perilaku. Komponen afiktif atau emosional terdiri dari berbagai jenis perasaan (seperti perasaan bersalah atau malu, perhatian terhadap perasaan orang lain, dan sebagainya) yang meliputi tindakan benar dan salah yang memotivasi pemikiran dan tindakan. Komponen kognitif merupakan pusat dimana seesorang melakukan konseptualisasi benar dan salah dan membuat keputusan tentang bagaimana seseorang berperilaku. Komponen perilaku mencerminkan bagaimana seseorang sesungguhnya berperilaku ketika mengalami godaan untuk berbohong, curang, atau melanggar aturan moral lainnya.

Komponen afektif moralitas (moral affect) merupakan berbagai jenis perasaan yang menyertai pelaksanaan prinsip etika. Islam mengajarkan pentingnya rasa malu Untuk melakukan perbuatan yang tidak baik sebagai  sesuatu yang penting.

Komponen kognitif moralitas (moral reasoning) merupakan pikiran yang ditunjukkan seseorang ketika memutuskan berbagai tindakan yang benar atau yang salah.

Komponen perilaku moralitas (moral behavior) merupakan tindakan moral seseorang dalam situasi dimana mereka harus melanggarnya.

Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksi nya dengan orang lain. Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan.[1]

B.     Perilaku-perilaku Dasar Moral.

Pada umunya orang tua mengharapkan anak-anaknya untuk tumbuh menjadin seseorang yang memiliki moralitas yang kuat dalam berhubungan dengan orang lain. Bergbagai jawaban timbul ketika dinyatakan prinsip moral apa yang diinginkan orang tua, namun secara umum jawaban-jawaban tersebut dapat digolongkan pada perkembangnya prinsip perilaku prososial, tumbuhnya kontrol diri dalam menghindari menyakiti orang lain, disertai internalisasi atau komitmen pribadi untuk memenuhi aturan yang ada.

C.    Tingkat Moralitas Konvensional (Conventional Morality)

Invidu yang berbeda pada tahap ini melakukan penalaran berdasarkan pandangan dan penghargaan kelompok sosial mereka. Aturan norma dan sosial dipatuhi untuk mendapatkan persetujuan orang lain atau untuk memelihara aturan sosial. Moralitas mempertahankan aturan sosial (Social Order Maintaning) pada tahaphukum dan aturan (law and order) seseorang dapat melihat sistem sosial secara keseluruhan. Aturan dalam masyarakat merupakan dasar baik atau buruk, melaksanakan penghargaan terhadap otoritas adalah hal yang penting. Alasannya mematuhi peraturan bukan merupakan ketakutan terhadap hukuman atau kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa hukum dan aturan harus dipatuhi untuk mempertahankan hukum yang berlaku dan membayar utang nya pada masyarakat.

 

D.    Tingkat Moralitas Pascakonvensional (Post Conventional Morality)

Tingkat ini disebut juga moralitas yang berprinsip (principled morality) karena berfokus pada prinsip-prinsip etika. Orang apada tahap ini menyadari bahwa individu merupakan sesuatunyang berbedabdari masyarakat’secara umum perspektif seseorang harus dipertimbangkan sebelum memikirkan masyarakat secara umum. Baik atau buruk didefenisiakn pada keadilan yang lebih besar, bukan pada aturan masyarakat yang tertulis atau kewenangan tokoh otoritas. Kebenaran moral dan hukum yang berlaku didalam masyarakat tidak selalu sama.[2]

 

E.     Karakteristik Perkembangan Moral.

Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional formal, yakni :

·         Mulai mampu berpikir abstrak

Mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikiran remaja terhadap sesuatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi. Tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka.

Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena di anggapnya sebagai sesuatu yang bernilai walau belum mampu mempertanggungjawabkan nya secara pribadi.

 

F.     Hakikat Perkembangan Keagamaan Remaja.

Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan dengan hakekat dan nasib manusia, memainkan peranan penting dalam menentukan konsepsinya tentang apa dan siapa dia. agama sseperti yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan, sikap-sikap dan praktek-praktek yang kita anut, pada umumnya berpusat sekitar pemujaan.

Dari sudut pandangan individu yang beragama adalah sesuatu yang menjadi urusan terakhir baginya. Artinya bagi kebanyakan orang agama merupakan jawaban terhadap kehausannya akan kepastian, jaminan, dan keyakinan tempat mereka melekatkan dirinya dan untuk menopangharapannya. Dari sudut pandangan soial seesorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna dengan orang lain, ,encapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orrang lain dalam ketaatan yang umum terhadapnya. Penemuan lain menunjukkan bahwa sekaligus pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepecayaan keagamaan mereka, namun pada akhirnya kembali lagi pada kepercayaan tersebut. Banyak orang pada usia 20 dan awal 30 tahun tatkala mereka sudah menjadi orang tua, kembali melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaiakan. Bagi remaja agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan tingkah lakunya.

Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya. Dibanding dengan masa anal-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada wal masa anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Perkembangan pemahaman remaja terhadapkeyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.[3]

 

G.    Implikasi Masalah Remaja dengan Pendidikan.

Pemahaman dan pemecahan masalah yang ditimbulakan remaja harus dilakukan secara interdispliner dan antar lembaga. Meskipun demikian pendekatan dan pemecahan nyadari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efetif dan strategis karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik khususunya para guru banyak mempunyai kesemptan berkominukasi dan bergaul. Diantara usaha pembinaan yang perlu diperhatiakan sekurang-kurangnya untuk mengirangi kemungkianan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khususnya :

1.      Hendaknya seseorang guru mengadakan program dan perlakuan khusus bagi siswa remaja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran atonomi, fsiologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat menyelenggarakan penjelasannya dengan penuh semangat. Tujuan dari usaha tersebut adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.

2.      Memperhitungkan segala spek-aspek selengkap mungkij dengan datavatau secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ) bakat khusus (apitudes) disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersangkutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan progran studi. Upayab tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasavdan perilaku kognutif.

3.      Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan menyelaraskan sistem nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap sisw remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembunaanya. Tujuannya adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertaian debgan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.

4.      Seseorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bnertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi kognatif, efektif dan berpribadian seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan/tinddakan yang tepatakan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.[4]

H.  Aspek-aspek Psikologis dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

            1. Perilaku Mengajar

Seferti telah dikemukakan di atas, guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Guru pun dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa. Disamping itu, guru diharapkan mampu menciptakan interaksi belajar mengajar yang sedemikian rupa, sehingga siswa mewujudkan kualitas perilaku belajarnya secara efektif. Guru pun dituntut untuk mampu menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif, karena kondusivitas  Tanpa situasi yang kondusif, proses belajar mengajar tidak akan bisa diwujudkaan.

Guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas belajar para peserta didik dalam bentuk kegiatan belajar yang sedemikian rupa, dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, pelajar yang erfektif, dan pekerja yang produktif. Dalam hubungan ini, guru memegang penting dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang sebaik-baiknya. Tugas guru dalam mengajar, tidak hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan, tetapi lebih meningkat sebagai perancang pengajaran manajer pengajaran, pengevaluasi hasil belajar, dan sebagai direktur belajar.[5]

Untuk mewujudkan perilaku mengajar secara tepat, karakteristik pengajar yang diharapkan antara lain adalah :

1.      Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkan.

2.      Memiliki kecakapan untuk memperhatikan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat pula.

3.      Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.

4.      Memiliki pemikirasn yang imajinatif dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta didik.

5.      Memiliki kualifikasi yang memadai dakam bidangnya baik ini maupun metode.

Memiliki sikap terbuka, luwes dan eksperimental dalam metode dan teknik.



[1] Aliah B. Purwakania  Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (jakarta : PT RajaGrafindo,2008), Hal 261-274.

[2] Ibid, Hal 261-274.

[3] Drs. Tohirin, Ms. M.Pd. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Rajawali Pers,2011),hal 48.

[4] Ibid, hal 76.

[5] Nana Syaodin Sukmadinata, Landasan Psikologi proses pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004), hal 20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...