ANALISIS
MATERI PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS RENDAH MI/SD
PENDAHULUAN
Penyebaran wabah COVID-19 yang begitu cepat dan
masif mengemparkan dunia yang menyebabkan puluhan juta orang terinfeksi dan menyebar di ratusan negara di dunia. Penyebaran COVID-19
telah mempengaruhi berbagai
bidang diseluruh dunia, khususnya bidang pendidikan di Indonesia (Fauzy & Nurfauziah,
2021). Penyebaran Covid-19 menyebabkan kegiatan
pembelajaran di Indonesia
mengalami perubahan dalam proses pelaksanaannya. Agar dunia pendidikan bisa berjalan dengan baik pemerintah memberikan aturan system pelaksanaan pembelajaran yaitu psysical distanting ditengah pandemi
covid-19 dengan belajar
dilaksanakan di rumah.
Pembelajaran yang dilakukan secara daring
dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media untuk pelaksanaan pembelajaran. Pemanfaatan teknologi harus menjadi acuan bagi guru untuk mampu menghadirkan
proses pembelajaran yang efektif sehingga memberikan ruang gerak bagi siswa
untuk mampu bereksplorasi, memudahkan
interaksi serta kolaborasi antar siswa maupun siswa dengan guru utamanya dalam pembelajaran matematika untuk siswa sekolah dasar. Akan tetapi dengan adanya perubahan sistem pembelajaran
dari tatap muka menjadi sistem pembelajaran daring yang dilakukan secara
tiba-tiba akibat adanya penyebaran virus covid-19 mengakibatkan tidak jarang membuat guru (pendidik), peserta
didik, maupun orangtua menjadi
terkejut. Adanya perubahan ini mengharuskan pendidik merespon dengan sikap dan tindakan untuk mau belajar hal-hal baru. Tentunya dengan adanya perubahan proses
pelaksanaan sistem Pendidikan, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kesiapan
baik guru maupun siswa dalam menjalankan
proses pembelajaran diluar kebiasaan yang dilakukan sebelum adanya pandemic.
Hal ini menjadi hal yang sangat
penting untuk diperhatikan mengingat pembelajaran matematika yang yang memiliki
objek kajian abstrak.
Pembelajaran daring ialah sebuah pembelajaran
yang dilakukan secara jarak jauh berbantuan media internet dan perangkat bantu lainnya seperti telepon seluler,
laptop dan computer (Putria et al 2019, p. 208). Artinya, bahwa
pelaksanaan pembelajaran daring memakai unsur teknologi sebagai sarana dan
internet sebagai system (Fitriyani et al 2020).. Menurut (Falah et al 2021,) mengatakan bahwa pembelajaran daring
merupakaan proses pembelajaran yang
menggunakan media berbasis elektronik. Media yang dapat digunakan bisa berupa komputer
atau smartphone. Sedangkan
(Permana Putry et al 2021). Pembelajaran daring adalah proses pembelajaran memanfaatkan jaringan internet
sehingga terjadinya interaksi
dalam pembelajaran. Pembelajaran daring dapat disimpulkan adalah sistem pembelajaran yang memanfaatkan teknologi
dan jaringan internet untuk
berkomunikasiataupun berinteraksi dengan siswa meskipun terpisahkan jarak dan tempat. Penggunaan internet sebagai media
untuk pembelajaran secara daring tidak memberikan dampak baik bagi semua peserta didik. Hal ini dikarenakan
terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kesuksesan siswa dalam melaksanakan
pembelajaran secara daring yaitu lingkungan dan karakteristik siswa yaitu semangat
serta antusias siswa dalam mengikuti proses belajar. Dalam pelaksanaan
pembelajaran daring tidak bisa semaksimal pembelajaran dikelas, terutama pada pelajaran matematika. Akan tetapi menurut
Setyorini(Sulistiani, , 2020) menjelaskan
keuntungan dari pembelajaran daring adalah waktu tidak
terbatas, masih banyak
waktu luang dan menghemat biaya transportasi.
Matematika merupakan ilmu yang wajib dipelajari untuk semua
jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan
tinggi. Pembelajaran matematika pada sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki
keterampilan dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam
kehidupan sehari-hari. (Puadi, 2017) menjelaskan diantara
tujuan pendidikan matematika adalah pengetahuan dan keterampilan. Untuk pengetahuan,
diharapkan siswa memiliki pengertian dan
pengetahuan matematika baik untuk menghadapi
studi lebih lanjut, maupun untuk pemakaian praktis dalam mata pelajaran
lain, dan dalam kehidupan sehari- hari, serta siswa memahami
hubungan bagian bagian matematika. Untuk keterampilan sendiri
siswa diharapkan: 1) memiliki keterampilan menyelesaikan soal-soal matematika, baik yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, bidang studi lain, maupun dalam
matematika sendiri. 2) siswa terampil menggunakan pengetahuan matematika guna
menunjang mata pelajaran lain. 3)
Siswa memiliki kemampuan membuat analisis, sintesa, dan membuat kesimpulan.
4) Siswa memiliki keterampilan menggunakan alat-alat ukur, alat- alat hitung, dan tabel-tabel.
Selama masa pandemic covid-19 siswa diwajibkan belajar dirumah
masing-masing dan dibimbing orang tua
tidak terkecuali pembelajaran matematika, selama proses pembelajaran daring
siswa menggunakan aplikasi whatsaap
dan zoom. Berdasarkan hasil obesrvasi yang dilakukan peneliti menemukan
beberapa faktor yang menjadi
penghambat dalam proses pembelajaran matematika khususnya matematika kelas rendah diantaranya tidak semua siswa memilki
handphone dan jaringan akses internet yang kurang memadai. Faktor tersebut menjadi penyebab utama
pembelajaran daring tidak terlaksana dengan baik sehingga siswa kesulitan memahami materi, kesulitan mengakses
materi dan kesulitan dalam pengumpulan tugas. Pada pengematan yang lain peneliti juga menemukan beberapa
permasalahan seperti masih terdapat beberapa siswa kesulitan belajar
matematika, yaitu seperti
sulit dalam hal berhitung, penggunaan rumus, serta sulit dalam menyelesaikan soal matematika. Hal ini berkaitan
dengan ketidakmampuan dalam belajar siswa seperti gangguan belajar (dyscalculia) yaitu gangguan belajar matematika. Siswa yang
mengalami gangguan belajar matematika
dapat mengalami permasalahan dalam pemahaman konsep matematika, seperti konsep
bilangan angka, berhitung dan
kurangnya pemahaman sebuah angka, dan mempunyai permasalahan belajar dalam berhitung. Kesulitan belajar adalah
gangguan pada anak yang terkait dengan tugas
umum ataupun khusus yang
menyebabkan anak kesulitan belajar dengan hasil yang menunjukkan prestasi belajar yang rendah (Hasibuan, 2018). Proses pembelajaran yang
dilakukan secara daring guru menggunakan fasilitas yang sangat terbatas
disebabkan jaringan yang kurang bagus, Guru hanya menggunakan aplikasi
whatshaap dalam mengirim tugas kepada peserta didik (Astini 2020).
Guru merupakan komponen penting untuk membantu
siswa mencapai tujuan pembelajaran, oleh karena itu guru harus memahami penerapan metode pembelajaran yang
tepat dapat membantu proses pembelajaran berlangsung
dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode yang dipilih
guru haruslah sesuai dengan kesulitan
yang dihadapi siswa. Peran guru harus mampu membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa pada
saat pembelajaran matematika. Sebagai motivator, guru harus membangun
motivasi siswa untuk berusaha belajar
keras, apabila dari awal pembelajaran siswa tidak termotivasi mengakibatkan siswa malas dan
materi yang disampaikan kurang jelas. Untuk dapat memenuhi kebutuhan
siswa dalam belajar
matematika, guru perlu mengupayakan adanya situasi dan kondisi yang menyenangkan.
Suasana belajar dapat membangun pemahaman serta ketertarikan dalam belajar
matematika sehingga meningkatkan hasil belajar siswa dan ntuk membelajarkan matematika di sekolah guru harus menguasai
konsep matematika dengan benar dan mampu menyajikan secara menarik serta bervariasi. Berdasarkan uraian di atas penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis kesulitan belajar matematika siswa kelas rendah dimasa pandemic coid-19.
Analisis dalam tulisan ini fakus pada pembelajaran matematika yang dilaksanakan selama masa pandemi.
Dipilihnya pembelajaran matematika karena dalam pembelajaran matematika membutuhkan penjelasan yang detail dari guru mengenai
langkah-langkah dalam menyelesaikan tugas
atau soal-soal yang diberikan. Tanpa adanya pertemua tatap muka peneliti
beranggapan penyelesaian masalah pembelajaran matematika tidak dapat dipahami murid secara maksimal.
PANDEMI MENYEBABKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
KELAS RENDAH SEMAKIN SULIT
Selama masa
pandemic covid-19, pembelajaran di sekolah dasar kabupaten Buton dilakukan
secara daring dan guru menggunakan
aplikasi whatsaap dan bentuk dalam suatu group belajar yang didalamnya tergabung semua peserta didik. Berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan
peneliti, menemukan kendala yang dialami siswa maupun guru dan sangat
berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini terjadi karena peralihan kegiatan belajar
mengajar yang mendadakdari pembelajaran ofline ke pembelajaran online atau daring. Dalam mengantisipasi
permasalahan Sehingga guru seharusnya melakukan persiapan yang maksimal
dalam menyusun dan menyajikan materi pembelajaran.
Hasil pengamatan yang diapatkan peneliti, dalam
penyampaian materi dan menyajikan materi pelajaran dengan guru membagikan rangkuman materi yang akan dipelajari
siswa melalui grup wahtsapp, selanjutnya guru
meminta siswa untuk mempelajari materi tersebut secara mandiri dengan bantuan
berbagai sumber. Selanjutnya guru
membuka sesi diskusi dengan meminta siswa menyampaikan hal-hal yang belum
dimengerti siswa. Berdasarkan hasil
observasi dan wawancara pada guru dan siswa kelas rendah sekolah dasar
berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran matematika dimasa pandemi seperti saat ini, siswa mengalami
kesulitan belajar dalam memahami materi pembelajaran matematika dan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran matematika yang dilakukan secara daring. Berikut adalah
beberapa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa pada saat pembelajaran matematika di masa pandemi :
1. Kesulitan dalam
mengakses materi pelajaran matematika
Berdasarkan hasil angket yang dapat kesulitan yang paling menonjol
untuk ditampilkan adalah lemahnya sinyal internet pada saat mereka mengikuti pembelajaran daring. 65% responden
mengatakan sinyalnya sedang, 25%
responden merasa sinyalnya masih kurang dan 10% responden yang menganggap sinyal internetnya kuat. Sesuai dengan
pendapat (Anugrahana, 2020) hambatan dalam pembelajaran daring adalah keterbatasan koneksi internet,
beberapa siswa tidak mempunyai HP dan jaringan internet yang tidak baik. Instrument yang dibagikan kepada
responden yakni siswa dan guru dapat disimpulkan bahwa jaringan internet menjadi kendala utama pada
pelajaran daring karena lokasi tempat tinggal siswa yang jauh dari jangkauan jaringan internet sehingga siswa
menagalami kesulitan dalam mengakses materi pelajaran. Tanpa adanya jaringan intrnet yang baik,
pembelajaran yang dilakukan tidak akan berjalan maksimal. Selain itu penggunaan kuota jaringan internet yang
cepat habis menjadi salah satu penyebab samping kemampuan finansial orang tua siswa yang masih ada
dibawah rata-rata tidak mampu selalu menyediakan kuota dan siswa hanya kebanyakan menggunakan kuota bantuan
dari pemerintah karena sekolah tidak menyediakan bantuan kuota belajar. Kesulitan lain adalah kondisi handphone yang
tidak mendukung dan kemampuan penguasaan teknologi menjadi
penyebab kesulitan siswa dalam
mengakses materi pelajaran
matematika.

2. Kesulitan dalam
memahami materi pelajaran
matematika
Pada butir angket ini terlihat kesulitan siswa
dalam memahami materi pelajaran matematika dimasa pandemic covid-19. Menurut data dapat diketahui bahwa 86 % siswa
merasa sangat kesulitan dan 13% menjawab
merasa kesulitan. Sedangkan hanya 1% siswa menjawab tidak merasa kesulitan
memahami materi pelajaran. Sesuai
dengan pendapat (Rezeki & Muanifah, n.d.) siswa kesulitan dalam memecahkan
masalah , penanman konsep, serta
keterampilan berhitung. Beberapa kesulitan yang dialami siswa yang ditemukan adalah materi pelajaran matematika
menggunakan rumus dan tidak ada pendampingan guru selama proses pembelajaran sehingga siswa kesulitan
memahami materi dan mengerjakan soal-soal yang diberikan guru. Acuan mereka disini adalah hanya menghafal
rumus, sehingga mereka kesulitan saat menjawab pertnyaan. Terbatasnya ruang interaksi guru dan siswa
selama pembelajaran daring menjadi penyebab kesulitan siswa karena siswa kelas rendah disekolah dasar
masih sangat membutuhkan pendampingan berbeda dengan siswa kelas tinggi ataupun tingkatan diatasnya
yang bisa mandiri untuk belajar. Solusi yang bias dilakukan dalam mengatasi permasalahn ini adalah guru
harus berupaya dengan baik untuk menyajikan materi yang menarik, kreatif, dan menyenangkan sehingga siswa
bersemangat belajar meskipun mandiri.
Selain itu guru harus memaksimalkan fasilitas
teknologi yang sudah ada, sehingga
pembelajaran daring dapat
dilakukan maksimal.

3. Ketepatan dalam
menyelesaikan tugas
Pada butir angket ini terlihat ketepatan siswa
dalam menyelesaikan atau mengumpulkan tugas yang diberikan guru. Responden yang memberikan jawaban sangat tepat
waktu ada 10% dan tepat waktu ada 13,7% jika
ditotalkan menjadi 23,7%. Sedangkan
responden menjawab tidak tepat waktu 76%. Artinya bahwa lebih banyak siswa yang tidak tepat waktu dalam
mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru. Factor yang menyebabkan adalah masih banyak siswa yang tidak memiliki
handphone ataupun masih terdapat siswa yang tidak
mengetahui penggunakan teknologi. Sedangkan masalah lain adalah susahnya siswa
memehami tugas yang diberikan guru
yang

dikrimkan menggunakan aplikasi. (Utomo et al.,
2021) berpendapat tidak semua siswa sarana (HP) yang mendukung dalam kegiatan belajarnya. Solusi yang
bisa diberikan guru dalam menyelesaikan adalah memberikan keringan
kepada siswa ya ng memiliki keterbasan sarana dan prasarana dengan
memberikan tugas secara ofline sehingga
siswa tersebut bisa mengerjakan tugas.
4. Kesiapan guru dalam mengajar
Pada butir angket ini terlihat kesipan guru
dalam mengajar matematiika dikelas rendah. Berdasarkan angket yang dibagikan, responden mememinta harapan kepada guru
untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi terkhusus adalah materi pelajaran
matematika. Siswa mengharapkan guru dapat menggunakan aplikasi atau media yang lebih
beragam. 26%, 60% meminta adanya video pembelajaran dan 14% mengharapkan ditambahkan animasi pembelajaran. Menurut
(Prabowo et al, 2020) Faktor yang mempengaruhi
kesiapan guru dilapangan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring adalah
guru merasa belum percaya diri dalam
mengekspresikan berbagai emosi dalam media virtual. Dapat diperhatikan bahwa siswa menganggap guru tidak terlalu
siap dan hanya mengandalkan whatsaap.
![]() |
Hakikat pendidikan di jenjang sekolah dasar berguna untuk mengembangkan bakat setiap peserta didik. Tujuan operasional di jenjang sekolah dasar adalah memberikan bekal dasar kemampuan menulis, membaca, dan menghitung pada peserta didik. Esensi pendidikan yang dialami manusia pada masa ini lebih ditekankan pada fakta dan objek realitas di alam semesta.
Upaya untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan
dasar tersebut mesti didukung dengan
penguasaan bermacam disiplin ilmu. Dalam pembelajaran di tingkat sekolah
dasar saat ini,
sebagian mata pelajaran yang dulunya diberikan secara parsial, kini
mata pelajaran tersebut diberikan secara terpadu. Menurut
Mulyadin, pembelajaran
terpadu dipilih karena memiliki ciri khas yang menarik untuk pengembangan
pembelajaran peserta didik.3
Pembelajaran tematik merupakan mata pelajaran
terpadu dengan cara mengaitkan beberapa mata pelajaran menjadi satu tema tertentu sehingga dapat mendorong
pengalaman bermakna kepada siswa.4 Dengan adanya pembelajaran
tematik, diharapkan mampu memberikan pengetahuan yang mudah dipahami oleh siswa secara optimal.5
Menurut Sutirjo dan Mamik Sri Istuti, pembelajaran tematik adalah sebuah usaha
untuk mengintegrasikan ke-empat
aspek, yakni keterampilan, pengetahuan, sikap, dan pemikiran yang
kreatif dengan
menggunakan tema.6
Narti, dkk. mengungkapkan bahwa “Thematic is defined as a learning that designed based on a particular theme”.7 Trianto
juga menjelaskan pembelajaran tematik
yaitu pembelajaran yang dirancang
berdasarkan tema. Maksudnya yaitu dengan
mengaitkan beberapa pelajaran menjadi satu tema tertentu.
Sedangkan menurut Majid,
pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated
instruction) yang memungkinkan siswa baik
secara individu maupun
kelompok untuk secara aktif
menggali dan menemukan konsep dan pengetahuan secara holistik dan bermakna.9
Pembelajaran tematik mendorong siswa untuk aktif
mencari, melakukan, dan memperoleh pengalaman dalam kegiatan pembelajaran
secara kontekstual.
Pembelajaran
tematik di sekolah
dasar dibedakan berdasarkan kelas rendah dan kelas tinggi. Sesuai
dengan kurikulum 2013 yang
diterapkan di SD dan MI, tidak semua
mata pelajaran diintegrasikan ke dalam pembelajaran tematik
terpadu ini.11 Oleh sebab itu, secara garis besar tingkatan kelas
di sekolah dasar
terbagi menjadi 2 bagian,
yaitu (1) kelas rendah, yang
terdiri dari kelas
I, II, dan III dan (2) kelas tinggi, yang terdiri dari kelas IV,
V, dan VI.
Usia siswa pada
kelompok kelas rendah
yaitu 6 sampai
9 tahun. Sedangkan rentang usia siswa kelas
tinggi kisaran 10 sampai 12 tahun.
Pada usia tersebut, siswa tergolong ke dalam rentangan anak usia dini. Pertumbuhan dan perkembangan anak
usia 6-12 tahun sangatlah
pesat.12 Seluruh potensi anak
pada usia tersebut
hendaknya didorong dengan baik agar mampu berkembang secara
optimal.
Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di kelas rendah dan
sekaligus menjadi fokus pada penelitian kali ini adalah
matematika. Mata pelajaran matematika kerap kali dinilai
menjadi mata pelajaran yang menyulitkan.14
Menurut sebagian peserta didik, matematika dianggap
sebagai momok dikarenakan materinya yang sangat menyeramkan, sehingga banyak
dari mereka yang kurang antusias
untuk mempelajarinya.
Matematika memiliki akar kata mathema yang berarti pengetahuan, serta mathanein berarti belajar.16 Matematika merupakan
ilmu yang mengkaji objek abstrak dan mengutamakan penalaran deduktif.17 Matematika merupakan sebuah
instrumen yang digunakan untuk
mengembangkan kualitas berfikir siswa dalam kehidupan sehari-hari, jadi mata pelajaran ini sangatlah penting
untuk dibekalkan kepada
siswa sejak dini.
Penelitian yang dilakukan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) pada tahun 2003, Indonesia menduduki
peringkat ke-34 dari 45 negara dalam program matematika (Data
UNESCO). Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian tahun
2006 oleh Programme of International Student
Assessment (PISA) yang menyatakan bahwa Indonesia Kembali menduduki peringkat 61 dari 65 negara di kategori literatur matematika.
Pembelajaran matematika berguna untuk
mengembangkan kemampuan siswa dalam berhitung, mengukur, dan menggunakan rumus
matematika ke dalam kehidupan sehari-hari.20 Bidang studi matematika di sekolah dasar saat ini
mencakup tiga cabang, yaitu aritmatika, geometri, dan aljabar. Menurut Suyanto,
konsep matematika untuk anak usia dini secara umum meliputi: (1) menghitung;
(2) memilih, mengurutkan, membandingkan; (3) mengukur; (4) problem
solving, seperti perkalian dan pembagian.
Pembelajaran
matematika berperan penting
dalam kehidupan sehari-hari. Matematika saat ini cukup mendapat perhatian
khusus dikarenakan masih
banyaknya siswa yang belum dapat memahami
konsep dasar matematika dengan baik
sehingga mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran ini. Dalam pembelajaran di kelas, siswa lebih banyak mendengarkan guru yang
masih menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional yang didominasi oleh ceramah23 sehingga membuat siswa
mempelajari matematika dengan metode
yang kurang berarti.
Agar dapat membantu
siswa dalam memahami
konsep dasar operasi hitung
matematika, seorang pendidik
haruslah mengenal
kesalahan dan kesulitan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal matematika tersebut. Adapun
beberapa kesalahan siswa
diantaranya adalah pemahaman simbol, nilai tempat, perhitungan, dan
proses yang masih keliru
serta tulisan yang tidak dapat terbaca.
Salah satu konsep dasar dalam matematika yang harus dikuasai siswa SD/MI
adalah perkalian. Namun,
hingga saat ini
masih banyak siswa yang
merasa kesulitan saat mempelajari materi ini. Hal ini dikarenakan kurangnya
pemahaman mengenai konsep
dasar dalam perkalian.
Latar belakang diadakannya penelitian ini
dikarenakan kurangnya pemahaman siswa sekolah dasar mengenai materi perkalian.
Melalui penelitian ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan pemahaman seputar perkalian agar
dapat berguna dan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian serupa yang membahas mengenai
perkalian yaitu milik Ejen Jenal Mutaqin yang berjudul “Analisis Learning Trajectory Matematis dalam
Konsep Perkalian Bilangan Cacah di Kelas
Rendah Sekolah Dasar”. Hasil penelitan menunjukkan bahwa: (1) beberapa siswa masih kesulitan dalam
mengerjakan soal perkalian, dan (2) beberapa siswa masih kebingungan dalam
memahami konsep perkalian.
Metode
Yang Tepat Untuk Menganalisis Materi Matematika
Penulis menggunakan metode
penelitian eksperimen. Metode ini dilakukan
dengan percobaan guna
mengetahui pengaruh treatment atau perlakuan
terhadap hasil yang diperoleh. Metode eksperimen juga merupakan metode
kuantitatif. Metode kuantitatif disebut sebagai metode positivistik karena
berlandaskan pada filsafat positivisme. Disebut dengan metode kuantitatif karena data penelitian berkaitan dengan angka dan analisis menggunakan statistik. 27
Dikarenakan
kondisi pandemi Covid-19
saat ini, peneliti
tidak dapat melakukan tindakan
kelas di salah
satu sekolah dasar.
Peneliti hanya mengambil 15 sampel siswa
kelas rendah (I, II, dan III) sekolah dasar yang beralamatkan di sekitar rumah
peneliti di Desa
Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15-20 Juni 2021 dengan cara mendatangi tiap-tiap
rumah siswa.
Teknik pengumpulan data yang digunakan
yaitu observasi dan kuisioner.
Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan teknik analisis
kuantitatif sederhana. Pendekatan ini dipilih guna mendapatkan hasil
gambaran yang jelas
terkait fakta-fakta dari
setiap data. Instrumen penelitian berupa test yang telah dipersiapkan oleh peneliti.
Test atau kuisioner
merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden, dalam hal
ini respondennya yaitu siswa kelas rendah sekolah dasar.
Test berupa soal
konsep dasar perkalian untuk jenjang sekolah dasar. Test yang diberikan terdiri
dari 10 butir soal yang berupa
pemahaman, penalaran, dan penerapan konsep dasar perkalian untuk tingkat kelas
rendah sekolah dasar. Sumber data didapatkan
dari hasil tes yang telah dikerjakan oleh siswa.
Setelah data terkumpul, maka data tersebut
dianalisis. Analisis
diarahkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Analisis data bersifat induktif
dan didasarkan pada fakta-fakta yang ditemukan di lapangan untuk
selanjutnya dikontruksikan menjadi hipotesis
atau teori. Analisis data dilakukan dengan
menghitung skor atau nilai yang diperoleh
siswa kemudian dijabarkan sesuai dengan
klasifikasi nilai siswa
dan persentase perolehan nilai masing-masing
siswa.
materi yang esensial dan wajib dikuasai oleh siswa, terutama
di jenjang sekolah dasar.
Pada umumnya, siswa hanya menghafal informasi yang diperolehnya sehingga konsep dasar perkalian tersebut kurang begitu kuat tertanam.28
Menurut Sutawidjaja, perkalian merupakan
penjumlahan berganda dengan melibatkan suku-suku yang sama.29 Lambang dari operasi hitung perkalian adalah
“×”. Prinsip perkalian hampir sama dengan penjumlahan, karena perkalian merupakan
penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Oleh karenanya, sebelum
siswa diajarkan materi
perkalian, siswa harus terlebih dulu menguasai materi penjumlahan.
Sesuai uraian diatas, perkalian merupakan
penjumlahan berulang dengan suku-suku yang sama. Sebagai contoh yaitu
2+2+2+2+2. Disini, terdapat lima suku yang sama yaitu 2. Penjumlahan diatas dapat disajikan pula dalam bentuk
perkalian yaitu dengan
menuliskan “5 x 2” atau dibaca dengan 5 dikali 2. Konsep yang dapat kita terima yaitu,
misal bilangannya diinisialkan dengan “a” dan “b”,
maka “a x b” adalah
penjumlahan berulang yang mempunyai
“a” suku, dan tiap-tiap suku sama dengan “b”, dapat
ditulis dengan rumus:
Kesulitan yang dialami siswa dalam konsep
perkalian ini dikarenakan metode guru dalam mengajar yang masih menggunakan teknik menghafal, dan tanpa
melibatkan alat penunjang untuk mempelajarinya. Sehingga keterlibatan siswa
dalam memecahkan masalah secara langsung menjadi kurang dan nantinya
berakibat pada kemampuan matematis siswa
yang tidak berkembang dengan baik.
Oleh karena itu, penelitian ini dianggap penting
oleh penulis dengan harapan dapat menambah wawasan siswa dalam
mempelajari konsep dasar perkalian. Subjek penelitian ini adalah 15 siswa kelas rendah di Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) yang saat ini tengah
menduduki kelas rendah
(I, II, dan III) jenjang
sekolah dasar. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan,
peneliti mempersiapkan instrumen penelitian berupa soal tes mengenai konsep
dasar perkalian. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu dengan memanfaatkan fitur google form dalam pembuatan angket soal untuk selanjutnya dibagikan
kepada siswa. Google form dibagikan
setelah siswa selesai memperhatikan materi yang dijelaskan oleh penulis.
Setiap siswa wajib untuk mengerjakan soal tes tersebut guna mengetahui sejauh
mana pemahamannya mengenai materi konsep dasar
perkalian.
Berdasarkan tes tersebut, peneliti kemudian
menganalisis
hasilnya menggunakan
analisis kuantitatif sederhana.31 Data disajikan dalam bentuk nilai tes siswa dan dikategorikan
berdasarkan tabel klasifikasi nilai siswa.
Berdasarkan
tabel di atas
maka dapat disimpulkan bahwa, siswa yang
mendapatkan nilai di rentang 90-100 sebanyak 26,7%, siswa yang mendapatkan nilai di rentang
80-89 sebanyak 13,3%,
siswa yang mendapatkan
nilai di rentang 70-79 sebanyak 6,7%, siswa yang mendapatkan nilai
di rentang 60-69
sebanyak 20,0%, dan siswa yang mendapatkan nilai di rentang 0-59
sebayak 33,3%.
Hasil nilai siswa tersebut juga dapat dilihat
ke dalam bentuk tabel rata-rata perolehan nilai setiap tingkatan kelas, seperti
yang terlihat pada tabel di bawah ini.
|
Kelas |
Jumlah
Siswa |
Rata-Rata |
|
I |
5 |
54% |
|
II |
5 |
70% |
|
III |
5 |
78% |
|
Total
Rata-Rata Nilai 15 Siswa |
67,33% |
|
Berdasarkan
tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa rata-
rata nilai siswa kelas I sebesar 54%, rata-rata nilai siswa kelas II sebesar
70%, dan rata-rata siswa kelas III sebesar 78%. Sehingga, diperoleh rata-rata
total dari seluruh
jumlah siswa sebesar
67,33%. Data tersebut juga dapat dilihat
dari diagram batang
di bawah ini.
![]() |
Berdasarkan penelitian di atas, dapat
disimpulkan bahwa pemahaman siswa akan
konsep dasar perkalian masih sangat rendah. Beberapa siswa masih kebingungan dalam menyelesaikan soal konsep
perkalian. Beberapa siswa lainnya juga masih terbalik dalam menuliskan
konsep perkalian dalam bentuk gambar.
Sebelum diadakannya penelitian ini, peneliti
menemukan sebuah fakta di lapangan
bahwa siswa kelas
rendah kurang memahami bagaimana bentuk konsep
perkalian yang benar. Namun, setelah diadakannya penelitian ini, siswa menjadi
memahami konsep perkalian yang benar dan sesuai dengan aturan
matematika.
Penulis merasa penelitian
ini penting karena untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa akan konsep dasar
perkalian. Mengingat perkalian merupakan hal dasar dalam matematika dan
kedepannya pasti akan dibutuhkan dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Selain menganalisis kemampuan siswa
akan konsep dasar perkalian, penulis
juga membimbing siswa
dalam memahami konsep dasar perkalian. Hal ini
diharapkan dapat membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi tersebut.
Kesimpulan
Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran
yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran
tertentu menjadi satu tema khusus yang sama. Materi perkalian merupakan materi
yang esensial dan wajib
dikuasai oleh siswa, terutama di jenjang sekolah dasar. Namun, hingga
saat ini masih banyak siswa yang belum memahami
dengan baik mengenai materi tersebut.
Penelitian ini dilakukan
oleh penulis guna mengetahui sejauh mana pemahaman siswa dalam memahami
konsep dasar perkalian terutama di kelas rendah jenjang sekolah dasar.
Penelitian diatas dapat mengungkapkan beberapa
permasalahan yang timbul mengenai konsep dasar perkalian, diantaranya:
(1) penanaman konsep dasar operasi hitung perkalian tidak dilakukan sejak
dini; (2) keterampilan memahami konsep dasar perkalian
siswa masih kurang;
(3) prestasi dan dorongan
siswa dalam belajar
pada operasi perkalian rendah.
Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat
dijabarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika dikelas rendah sekolah dasar, yaitu : (1) Kesulitan
dalam mengakses materi pelajaran, (2) kesulitan dalam memahami materi pelajaran (3) Ketepatan dalam menyelesaikan
tugas (4) Kesipan guru dalam mengajar. Pada kesempatan ini penulis menyarankan pada peneliti lain untuk dapat mengeksplor
lebih jauh terkait kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa sekolah dasar baik dalam
pembelajaran daring atau pembelajaran lainnya
pada masa pandemic
covid-19.
DAFTAR PUSTAKA
Anugrahana, A. (2020).
Hambatan, Solusi Dan Harapan: Pembelajaran DaringSelama Masa Pandemi
Covid-19 Oleh Guru Sekolah Dasar.
Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(3), 282–289. Https://Doi.Org/10.24246/J.Js.2020.V10.I3.P282-289
Astini, Sari, N. K.
(2020). Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Pembelajaran Tingkat Sekolah Dasar Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal
Lembaga Penjaminan Mutu Stkip Agama Hindu Amlapura, 11(2), 13–25.
Falah, H., Agustiani, N., & Nurcahyono, N.
A. (2021). Analisis Kesulitan Belajar Matematika Siswa Smp Berdasarkan Motivasi Pada Pembelajaran
Daring. Jurnal Peka (Pendidikan
Matematika), 5(1), 8–17. Https://Doi.Org/10.37150/Jp.V5i1.1253
Fauzy, A., & Nurfauziah, P. (2021). Kesulitan
Pembelajaran Daring Matematika Pada Masa Pandemi Covid-
19 Di Smp Muslimin Cililin.
Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 5(1),
551–561. Https://Doi.Org/10.31004/Cendekia.V5i1.514
Fitriyani, Y., Fauzi, I., & Sari, M. Z.
(2020). Motivasi Belajar Mahasiswa Pada Pembelajaran Daring Selama Pandemik Covid-19. Profesi
Pendidikan Dasar, 7(1), 121–132.
Https://Doi.Org/10.23917/Ppd.V7i1.10973
Hasibuan, E. K. (2018). Analisis
Kesulitan Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Di Smp Negeri 12 Bandung. Axiom :
Jurnal Pendidikan Dan Matematika, 7(1),
18–30. Https://Doi.Org/10.30821/Axiom.V7i1.1766
Permana Putry, K., Panjaitan, E., Pendidikan
Matematika Stkip Budidaya Binjai, M., &
Stkip Budidaya Binjai, D.
(2021). Efektivitas Pembelajaran Matematika Secara Daring Di Masa Pandemi
Covid-19 Terhadap Kemampuan Berpikir
Kreatif Matematik Siswa Sekolah Dasar. In Jurnal
Serunai Matematika (Vol. 13, Issue 1).
Prabowo, A. S., Conia, P. D. D., Afiati, E.,
& Handoyo, A. W. (2020). Kesiapan Guru Dalam Melaksanakan Pembelajaran Daring. Jurnal Penelitian Bimbingan
Dan Konseling, 5(2), 9–12.
Puadi, E. F. W. (2017). Analisis Peningkatan
Kemampuan Koneksi Matematis Mahasiswa Ptik Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. 5.
Putria, H., Maula, L. H., & Uswatun, D. A. (2020).
Analisis Proses Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) Masa Pandemi Covid- 19 Pada Guru Sekolah
Dasar. Jurnal Basicedu, 4(4), 861–870.
Https://Doi.Org/10.31004/Basicedu.V4i4.460
Rezeki, Y. D.,
& Muanifah, M. T. (N.D.).
Covid-19 Siswa Kelas Iv Sd
Negeri 2 Bumirejo.
Sulistiani, I. R. (2020). This Work Is Licensed
Under Creative Commons Attribution Non Commercial 4.0 International License Available
Online On: Http://Riset.Unisma.Ac.Id/Index.Php/Fai/Index. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Islam, 2, 40–49.
Utomo,
K. D., Soegeng, A. Y., & ... (2021). Pemecahan Masalah Kesulitan Belajar
Siswa Pada Masa Pandemi Covid-19.
Ananda,
Rizki, dan Fadhilaturrahmi. “Analisis Kemampuan Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Pembelajaran Tematik di SD.” Jurnal Basicedu: Research & Learning
in Elementary Education 2, no.
2, 2018.
Desyandri,
Desyandri, Muhammadi Muhammadi, Mansurdin Mansurdin, dan Rijal Fahmi.
“Development of Integrated Thematic Teaching Material
Used Discovery Learning
Model in Grade V Elementary School.” Jurnal Konseling dan Pendidikan IICET Indonesian Institute for
Counseling, Education, and Theraphy 7, no. 1, 2019.
Husna, Asmaul. “The
Training Use Of Jarimatika Method
To Inculcate The Easy
Way Of Calculating Skill Of Elementary School Students in RW.
01 Kibing Area.”
Minda Baharu E-ISSN 2614-5944 1, 2017
Jarmita, Nida. “Kesulitan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika di Kelas Awal Sekolah
Dasar.” PIONIR: Jurnal
Pendidikan 4, no. 2, 2015.
Kawuryan, Sekar Purbarini. “Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah
dan Pembelajarannya,” n.d.
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132313274/pengabdian/Karak
teristik+Dan+Cara+Belajar+Siswa+SD+Kelas+Rendah.pdf.


