Kamis, 26 Mei 2022

Teori Teori Tentang Pendidikan

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Empirisme merupakan  aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Pengalaman yang diperoleh dalam perkembangan manusia.

Nativs (dari bahasa latin) memiliki arti terlahir. Dengan tokohnya seoraang filsuf  Jerman Schopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang lahir kedunia sudah memiliki  pembawaan atau bakatnya yang  akan berkembang menurut arahnya masing-masing.

Naturalisme artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Hampir senada dengan aliran nativisme , maka aliran ini (naturalisme) berpendapat bahwa pada hakikatnya semua anak (manusia) sejak dilahirkan adalah baik.

B.   Rumusan Masalah

1.      Apa saja yang termasuk dalam teori-teori tentang peran pendidikan?

2.      Apakah perbedaan anatar Empirisme, Nativisme, Naturalisme dan Konvergensi?

3.      Bagaimana pendapat filosof terhadap teori-teori tentang peran pendidikan?

 

C.     Tujuan Masalah

Tujuan dari pembahasan tersebut adalah untuk mengetahui seberapa penting pendahuluan atau isi makalah.

1.     Mengetahui tentang konsep dasar dan teori-teori tentang peran pendidikan

2.     Mengetahui perbedaan antara empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Bahwa teori-teori tentang peran pendidikan berasal dari berbagai ilmu seperti sosiologi, psikologi, dan filsafat. Oleh karena itu, di didikan ditemukan berbagai amacam aliran. Adanya beragam aliran ini disebabkan ilmu pendidikan berhubung dengan manusia yang terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Disisi lain perkembangan manusia itu sendiri menjadi obyek study para ahli, sehingga pendidikan tak pernah luput dari pemikiran para ilmuan.

B.     Saran

Sebaiknya dengan dibuatnya makalah ini akan bisa menambah ilmu dan pengetahuan yang lebih baik kedepannya. Karena teori-teori tentang peran pendidikan adalah sebuah pembelajaran yang penting untuk kita ketahui. Untuk dapat mempelajari tersebut kita harus lebih memahami apa saja yang harus dilakukan ketika pembuatan makalah mengenai teori-teori tentang peran pendidikan.

 

Rabu, 25 Mei 2022

Pengertian Desain Pembelajaran

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

      Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh siswa di madrasah, mulai jenjang dasar hingga jenjang menengah, yaitu mulai jenjang Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Posisi mata pelajaran Bahasa Arab dalam kurikulum madrasah semacam ini di satu sisi menunjukkan betapa pentingnya kedudukan Bahasa Arab dalam pendidikan di madrasah karena menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib dikuasai oleh siswa yang menempuh studi di madrasah. Namun di sisi lain, berbagai permasalahan timbul seiring dengan berlangsungnya proses pembelajaran Bahasa Arab di madrasah.

 

B. Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Desain materi pembelajaran ?

2.      Bagaimana Pengenbangan materi pembelajaran ?

3.      Bagaimana Desain materi ajar istima’, kalam, kiroah ?

4.      Aplikasi Pembelajaran dengan desain materi b. arab ?

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.        Pengertian Desain Pembelajaran

Kata desain berasal dari bahasa Inggris yaitu design, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan kerangka, bentuk, rancangan, motif, pola, model, menata, memaksudkan dan konstruksi. Dalam bahasa Arab, desain diartikan dengan tashmim yaitu teknik mengatur sesuatu (pembelajaran) dengan cara yang sesuai dengan ketentuan kurikulum yang menjadi dasar pembelajaran.[1]

Pengertian desain menurut para ahli di antaranya[2],

Gagne, Briggs, & Wager

Mereka mengembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, di mana proses tersebut memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Menurut mereka proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar : internal dan eksternal. Kondisi internal : kemampuan dan kesiapan diri pebelajar. Sedangkan kondisi eksternal : pengaturan lingkungan yang didesain. Penyiapan kondisi eksternal inilah yang menurut mereka sebagai desain pembelajaran yang disusun secara sistematis, dan menerapkan konsep pendekatan system agar berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang. Dan mereka percaya bahwa proses belajar yang terjadi secara internal dapat ditumbuhkan jika faktor eksternal dapat didesain dengan efektif.

Reiser

Menurutnya, desain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur sebagai suatu sistem untuk pengembangan program pendidikan dan pelatihan dengan konsisten dan teruji. Desain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tapi kreatif, aktif dan berulang-ulang. Defenisi ini bermakna sistem, pelatihan yaitu pendidikan di organisasi, serta proses yang teruji dan dapat dikaji ulang penerapannya.   

   Pengertian mengenai desain pembelajaran di atas memberikan makna bahwa desain merupakan suatu kegiatan yang menuntut profesionalisme dan kompetensi, sebab tidak mungkin seseorang dapat mendesain pembelajaran dengan baik dan benar jika tidak memiliki pendidikan dan pengalaman yang sesuai. Dengan begitu, mendesain membutuhkan ilmu, pengalaman, dan pengamatan yang cukup terhadap gejala dan karakteristik masalah.

Dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Arab, desain ini dapat diartikan merancang, menata, atau membuat kerangka pembelajaran bahasa Arab agar dapat berjalan sesuai dengan

a.       Hakikat pembelajaran bahasa, yaitu proses menjadikan siswa aktif dan kreatif dalam belajar bahasa Arab dengan waktu yang relatif singkat namun dengan hasil belajar yang tuntas dan bermakna.

b.      Memiliki kompetensi keterampilan berbahasa Arab dan berpengetahuan bahasa Arab.

Disebabkan hal di atas, sangat dituntut para guru memahami dan memiliki kompetensi profesional di bidang keguruan yaitu menyiapkan rancangan pembelajaran bahasa Arab secara efektif dan efesien agar proses belajar siswa dapat memahami, memiliki dan menguasai sejumlah kompetensi, baik kompetensi intelektual, personal maupun sosial serta pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan peraturan perundangan dan harapan tujuan pemdidikan nasional dan masyarakat.

Untuk merealisasikan dan menjawab tuntutan di atas, para guru harus melakukan  hal

a.       Mendesain perangkat pembelajaran yang terdiri dari : membuat kalender akademik dengan menghitung minggu-minggu efektif, dan tidak efektif, menyusun deskripsi materi ajar, menyusun program tahunan (prota) dan program semesteran (prosem), menyusun silabus, dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan standar kelulusan dan dan standar kompetensi.

b.      Mendesain materi ajar, dengan cara merancang kegiatan proses pembelajaran bahasa Arab untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

c.       Melakukan analisis pembelajaran untuk melihat persoalan-persoalan yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran serta memberikan solusi yang tepat dari persoalan yang dihadapi dan sebagai upaya perbaikan dari pembelajaran yang sedang berjalan.

 

Mendesain pembelajaran dan materi ajar merupakan hal yang berbeda. Akan tetapi hal tersebut dapat dilakukan sekaligus, karena pembelajaran yang sudah didesain dengan baik dan benar tetapi materi ajarnya tidak didesain sesuai dengan pembelajarannya, ,maka tidak dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.

 

B.         Pengembangan Materi Pembelajaran

1.      Prinsip-prinsip Pengembangan Materi

Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam penentuan materi pembelajaran adalah kesesuaian/relevansi, konsistensi, ilmiah, mengandung nilai etik dan kecukupan (adequacy)

1.      Relevansi

Materi pembelajaran hendaknya dengan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa manfaat fakta maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain.

2.      Konsistensi

Jika kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik ada 4 macam maka materi yang harus diajarkan juga meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah operasi aljabar bilangan untuk akar (matematika kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian dan merasionalkan bentuk akar.

 

3.      Mengandung Segi-segi Etik

Materi yang akan dikembangkan hendaknya mengedepankan perkembangan moral peserta didik sesuai dengan norma-norma agama dan kebudayaan masyarakat.

4.      Ilmiah

Ilmiah disini diartikan bahwa materi pembelajaran itu bersumber dari buku sumber yang baku, dan pribadi guru yang propesional. Buku sumber yang baku umumnya disusun oleh para ahli dalam bidangnya dan disusun berdasarkan GBPP yang berlaku.

5.      Sisimatik dan Logik

Materi disusun secara berurutan dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologi para siswa. Dengan demikian diharapkan isi materi dapat dengan mudah diserap dan dimengerti oleh para siswa dan dapat terus diamati serta dievaluasi keberhasilannya.

6.      Adequacy (Kecukupan)

Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik sesuai kompetensi dasar yang diajarkan.

 

Dalam pengembangan materi pembelajaran seorang pendidik/guru harus mampu mengidentifikasi materi pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini :

1.      Potensi peserta didik.

2.      Relevansi dengan karakteristik daerah.

3.      Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik.

4.      Kebermanfaatan bagi peserta didik.

5.      Struktur keilmuan.

6.      Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran.

7.      Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.

8.      Alokasi waktu.

 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan materi pembelajaran merupakan keniscayaan yang harus dilakukan secara continue atau kesinambungan dengan selalu memperhatikan aspek konsep, fakta, prinsip, proses, nilai, dan keterampilan.

 

C.         Desain Pengembangan Materi ajar Istima’, Kalam, Kiroah dan Kitabah

            Disini ada beberapa prinsip dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab dimana hal ini nanti akan juga agar lebih memudahkan dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Diantaranya adalah PrinsipIPrioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran, yaitu; pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.[3]

1.      Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia, yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.

2.      Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa. Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat nahwu, baru kemudian masalah struktur kata sharaf. Dalam mengajarkan kalimat jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks atau bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal).

3.      Dalam tahap awal pembelajaran, siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan kosa kata yang lebih akrab dalam sehari-hari. Hal ini bertujuan agar kata-kata tersebut dapat dipergunakan secara langsung dalam percakapannya. Sehingga memudahkan siswa untuk mengingatnya. Siswa terlebih dahulu di hadapkan dengan bahasa yang di kenal sehari hari sebelum diperkenalkan dengan bahasa sesuai dengan penutur aslinya., agar memudahkan siswa pada tahap berikutnya. Karena siswa sudah terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahasa yang akrab dengan kesehariannya, maka akan mempermudah guru pada tahap perkanalan bahasa sesuai dengan penutur aslinya. Dengan demikian proses pengenalan bahasa pada anak akan berjalan dengan sistematis.[4]

Berangkat dari beberapa prinsip diatas maka Secara umum, memang pembelajaran bahasa, termasuk Bahasa Arab, ditujukan untuk melatih empat keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan menyimak (istima’), keterampilan berbicara (kalam), keterampilan membaca (qira’ah), dan keterampilan menulis (kitabah). Masing-masing keterampilan tersebut memiliki karakteristik dan juga target pembelajaran yang berbeda, namun dalam proses pembelajaran, akan sulit memisahkan antara satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, karena empat keterampilan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran bahasa. Dengan kata lain, tidak mungkin melatihkan satu keterampilan tertentu tanpa melatihkan keterampilan yang lain, sekalipun keterampilan tersebut bukan keterampilan yang akan dilatihkan. Sekalipun demikian, hal ini tidak perlu menimbulkan kebingungan bagi guru yang akan menyelenggarakan pembelajaran Bahasa Arab, karena situasi tersebut merupakan suatu situasi dan juga proses yang alamiah, bahwa pada saat orang sedang berbahasa (ataupun belajar berbahasa), maka seluruh aspek kebahasaan akan berperan dan saling menunjang dalam aktivitas tersebut, antara satu keterampilan dengan keterampilan yang lain.[5][3]

      Berpijak pada perbedaan tujuan akhir dari latihan keterampilan berbahasa Arab, maka proses pembelajaran yang berlangsung di kelas tentu memiliki fokusnya masing-masing, sesuai dengan jenis keterampilan yang akan dilatihkan. Sehubungan dengan pemanfaatan permainan dalam pembelajaran Bahasa Arab, berikut ini ditampilkan beberapa bentuk permainan yang dapat dijadikan alternatif oleh guru dalam memotivasi siswa dalam belajar.[6]

 

D.        Aplikasi Desain Materi Ajar Istima’, Kalam, Kiroah dan Kitabah

1.      Permainan Untuk Latihan Keterampilan Menyimak (Istima’)

      Keterampilan menyimak (istima’) merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa yang menggunakan kemampuan indera pendengaran sebagai penopangnya. Latihan pengenalan ini sangat penting dilakukan karena sistem tata bunyi bahasa Arab banyak memiliki perbedaan dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang telah dikenal oleh siswa.

      Sekalipun latihan menyimak (istima’) bertujuan melatih kemampuan siswa dalam mendengar, namun dalam praktiknya selalu diikuti dengan latihan pengucapan (peniruan) dan juga latihan pemahaman. Bahkan latihan yang disebut terakhir inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan akhir latihan keterampilan menyimak (istima’). Ini berarti bahwa setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab melalui ujaran-ujaran yang didengarnya, siswa kemudian dilatih untuk mengucapkan dan memahami makna yang terkandung dalam ujaran tersebut. Dengan semikian, pembelajaran keterampilan menyimak (istima’) sekaligus melatih dasar-dasark kemampuan reseptif dan produktif.

Beberapa permainan bahasa yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak (istima’) antara lain adalah permainan Apa Ini Apa Itu?; Lakukan Perintah; dan Teka-Teki. Adapun prosedur dari beberapa permainan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Apa Ini Apa Itu?

Tujuan :Melatih siswa menangkap makna kosa kata baru berdasarkan konteks.

Prosedur :

a.       Berikan waktu beberapa menit untuk menulis deskripsi singkat suatu objek yang nanti harus ditebak oleh siswa yang lain. Objek tersebut mempunyai kategori yang spesifik, misalnya binatang, makanan, pakaian, ruang kelas, kamar tidur, dsb.

b.      Deskripsi tersebut terdiri atas empat kalimat, diawali dari yang paling umum menuju ke detil, sehingga dapat ditebak.

c.       Siswa diminta menebak objek secepat mungkin, begitu suatu kalimat deskriptor diperdengarkan. Siswa yang dapat menebak dengan benar setelah kalimat pertama diperdengarkan memperoleh skor. Siswa yang memperoleh skor terbanyak adalah pemenangnya.[7][5]

2.      Lakukan Perintah

Tujuan :Melatih siswa memahami instruksi lisan.

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan sejumlah perintah berantai.

b.      Setiap siswa diberi tugas menyiapkan perintah berantai dengan di beri contoh lebih dulu oleh guru.

c.       Guru membacakan perintah berantai yang telah disiapkan (dua kali).

d.      Guru meminta seorang siswa melakukan perintah tersebut.

e.       Jika seorang siswa dapat mengerjakan perintah tersebut dengan benar, ia berhak mengeluarkan perintah yang telah di siapkan yang telah di siapkan untuk dikerjakan oleh siswa yang lainnya.

f.       Jika siswa yang di tunjuk tidak dapat mengerjakan dengan benar secara keselruhan, guru menawarkan kepada siswa lainnya

g.      Jika sejumlah siswa sudah maju, namun belum ada yang mengerjakan dengan benar perintah terdebut di perdengarkan lagi sehingga mereka dapat menemukan kekeliruannya.

3. Teka-Teki

Tujuan : Melatih siswa memahami pesan lisan sederhana.

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan sejumlah teka-teki beserta jawabannya.

b.      Guru memperdengarkan salah satu taka-teki yag telah disiapkan, baik menggunakan kaset maupun secara lisan.

c.       Bagi siswa yang mengetahui jawabannya diminta menganggkat tangan dan mengemukakan jawabannya.[8]

 

C.    Permainan Untuk Latihan Keterampilan Berbicara (Kalam)

            Keterampilan berbicara (kalam) merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa modern termasuk bahasa Arab. Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian dan komunikasi timbal balik dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.[9]

            Pembelajaran keterampilan berbicara (kalam) di kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yaitu antara pembicara dan pendengarnya secara timbal balik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa latihan keterampilan berbicara (kalam) terlebih dahulu harus didasari dengan kemampuan mendengarkan, kemampuan mengucapkan, dan penguasaan relatif kosa kata serta ungkapan yang memungkinkan siswa dapat mengkomunikasikan maksud, gagasan atau fikirannya.Diantaranya :

1. Berbicara Spontan

Tujuan : Melatih siswa berbicara secara spontan dalam bahasa Arab

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan sejumlah lipatan kertas kecil. Pada tiap kertas ditulis suatu topik tertentu sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan usia siswa.

b.      Salah satu siswa diminta mengambil satu lipatan kertas secara acak dan membaca topik yang tertulis dalam lipatan kertas tersebut.

c.       Siswa diminta langsung memulai berbicara tentang topik tersebut (tanpa diberi kesempatan untuk menyiapkan lebih dulu apa yang akan dibicarakannya).

d.      Kesempatan berbicara tersebut diberi alokasi waktu selama 3 – 5 menit.

e.       Agar lebih memotivasi siswa, pembicaraan mereka dapat direkam. Keuntungan perekaman ini adalah siswa dapat memutar dan menyimak kembali pembicaraannya. Dengan demikian, siswa dapat berlatih mengenali kemampuan dan sekaligus mengoreksi pembicaraan mereka.[10][8]

2.      Gambar Berilham

Tujuan : Mengembangkan kemahiran berdialog.

Prosedur :

a.       Guru dan siswa membawa guntingan gambar apa saja yang diambil dari majalah, koran, maupun sumber-sumber yang lain.

b.      Guru memberi contoh dalam menggunakan potongan-potongan gambar yang dibawa sebagai media dialog sebagaimana halnya seorang dalang sedang mendialogkan wayang.

c.       Guru meminta masing-masing siswa mencoba mendialogkan gambar yang mereka bawa sebebas mungkin sesuai dengan kemampuan mereka.

d.      Setelah latihan individual dirasa cukup, guru meminta salah seorang siswa mendialogkan gambar-gambar yang dibawa di depan kelas.[11]

 

D.    Permainan Untuk Latihan Keterampilan Membaca (Qira’ah)

            Keterampilan membaca (qira’ah) memiliki dua aspek. Pertama, mengubah lambang tulis menjadi lambang bunyi, dan kedua, menangkap seluruh situasi yang dilambangkan oleh lambang-lambang tulis dan bunyi tersebut. Adapun inti dari pembelajaran keterampilan membaca (qira’ah) terletak pada aspek yang kedua. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa keterampilan dalam aspek yang pertama menjadi tidak penting, justru sebaliknya, keterampilan dalam aspek yang pertama merupakan dasar dari aspek yang kedua. Satu hal yang perlu dipahami, secara umum, tujuan akhir dari pembelajaran keterampilan membaca (qira’ah) adalah agar siswa memiliki keterampilan membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab, bukan hanya teks yang sudah dipelajarinya, namun juga teks-teks baru yang ditemuinya di kehidupan nyata.[12][10]

            Berdasarkan tujuan keterampilan membaca (qira’ah) tersebut di atas, maka permainan bahasa yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan membaca (qira’ah) adalah seperti permainan Cahaya Bertanya, Mengurutkan Cerita. Secara rinci prosedur dari permainan-permainan tersebut dipaparkan sebagai berikut:

1.      Cahaya Bertanya

Tujuan : Melatih keterampilan siswa dalam membaca cepat

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan beberapa pertanyaan pada transparan/slide presentasi dan jawaban ditulis pada selembar kartu (tiap jawaban ditulis pada 2 kartu).

b.      Kelas dibagi menjadi 2 kelompok.

c.       Guru membagikan 1 set kartu jawaban pada tiap kelompok.

d.      Guru memperlihatkan salah satu pertanyaan melalui tayangan OHP/LCD secara cepat/sepintas.

e.       Kedua kelompok diminta berlomba secara cepat membaca pertanyaan tersebut, kemudian menemukan jawabannya pada kartu jawaban yang mereka miliki.

f.       Kelompok yang lebih dulu menemukan jawaban dipersilakan membaca jawabannya dengan suara keras.

g.      Jika jawaban yang dikemukakan salah, maka hak membaca dialihkan pada kelompok yang lain.

2.      Mengurutkan Cerita

Tujuan : Melatih kerjasama siswa dalam membaca dan memahami suatu teks.

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan beberapa teks cerita yang terdiri dari beberapa paragraf.

b.      Tiap cerita dibagi menjadi empat bagian (usahakan panjang teksnya setara). Selanjutnya, tiap cerita tersebut ditulis pada kartu yang berbeda warna.

c.       Kartu-kartu cerita tersebut dibagikan kepada siswa.[13]

d.      Setelah berkumpul sesuai dengan warna kartu, siswa diminta untuk secara bergantian membaca isi potongan teks dalam kartu masing-masing.

e.       Setelah semua teks terbaca, siswa diminta bekerja sama untuk mengurutkan potongan-potongan cerita yang mereka baca.

f.       Setelah potongan teks berhasil disusun menjadi teks cerita yang utuh, siswa diminta untuk membaca cerita tersebut secara keseluruhan.

g.      Permainan dilanjutkan pada kelompok lain yang memiliki warna kartu berbeda.[14]

 

E. Permainan Untuk Latihan Keterampilan Menulis (Kitabah)

            Sebagaimana halnya keterampilan memabaca (qira’ah), keterampilan menulis (kitabah) juga mempunyai dua aspek, namun dalam konteks yang berbeda. Aspek pertama dalam keterampilan menulis (kitabah) adalah keterampilan membentuk huruf dan menguasai ejaan, sedangkan aspek yang kedua adalah keterampilan mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Adapun inti dari keterampilan menulis (kitabah) terletak pada aspek yang kedua. Oleh karena itu, latihan keterampilan menulis (kitabah) juga harus disesuaikan dengan kedua aspek tersebut, yaitu dimulai dengan melatih keterampilan siswa dalam membentuk huruf-huruf Arab, dan selanjutnya melatih keterampilan siswa dalam mengungkapkan gagasan mereka melalui tulisan, dengan tahapan-tahapan yang logis.[15][13]

            Untuk latihan keterampilan menulis (kitabah) ini, mengemukakan bahwa permainan bahasa yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan menulis (kitabah) siswa antara lain adalah permainan Bertanya Dan Menjawab; Mencipta Kalimat; Mengisi Huruf Yang Hilang; Mengisi Pesan Gambar; dan Satu Kata Modal. Adapun prosedur dari masing-masing permainan tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Bertanya dan Menjawab

Tujuan : Mengembangkan keterampilan menulis pertanyaan.

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan kartu kosong berukuran 3×7 cm sejumlah siswa, kemudian kelas dibagi menjadi 2 kelompok atau kelipatannya (2, 4, 6, dst.) dengan 5 anggota tiap kelompok.

b.      Guru membagikan kartu pada tiap anggota kelompok.

c.       Tiap anggota kelompok diminta membuat satu pertanyaan mengenai teks pelajaran yang sedang dipelajari. Dengan demikian, tiap kelompok membuat 5 pertanyaan.

d.      Setelah selesai, kartu pertanyaan dari tiap kelompok tersebut diberikan kepada kelompok lain secara silang, dan harus dipastikan bahwa tiap anggota kelompok memperoleh satu pertanyaan.

e.       Tiap anggota kelompok diminta untuk membuat/menulis jawaban dari pertanyaan yang diperolehnya.

f.       Guru mengajak siswa membahas setiap pertanyaan dan jawaban dengan diawali dari pembacaaan oleh pemegang kartu. Setelah itu, siswa pemegang kartu diminta untuk menulis pertanyaan dan jawabannya di papan tulis.[16][14]

 

2.    Mencipta Kalimat

Tujuan : Mengembangkan keterampilan membuat kalimat.

Prosedur :

a.       Guru menyiapkan kertas untuk seluruh siswa yang berisi tulisan suatu kosa kata yang ditulis secara vertikal dalam dalam dua lajur. Satu lajur ditulis dengan urutan ejaan yang benar, dan lajur yang lain ditulis dengan urutan ejaan terbalik.

b.      Guru membagikan kertas yang telah disiapkan pada siswa.

c.       Siswa diminta membuat kalimat yang dimulai dengan huruf di sebelah kanan dan diakhiri dengan huruf di sebelah kiri.

d.      Setelah selesai, siswa diminta membacakan kalimat yang berhasil mereka buat secara bergantian.

e.       Jika memungkinkan, usahakan semua siswa mendapat kesempatan untuk membacakan kalimatnya.

f.       Siswa yang berhasil membuat kalimat terpanjang, dialah pemenangnya.

 

3.       Mengisi Huruf Yang Hilang

Tujuan : Melatih keterampilan menulis huruf.

Prosedur :

·         Guru menulis satu kalimat lengkap berulang-ulang ke bawah pada selembar kertas. Pada tiap kalimat (selain kalimat pertama) ada huruf tertentu yang dihilangkan, yaitu huruf yang akan dilatihkan Setelah siap, kertas tersebut digandakan sejumlah siswa.

·         Kertas berisi tulisan tersebut kemudian dibagikan kepada siswa.

·         Guru meminta beberapa siswa membaca kalimat pertama secara bergantian.

·         Semua siswa diminta melengkapi huruf yang hilang dengan memperhatikan contoh pada kalimat pertama.

·         Setelah semua siswa selesai, guru mengajak mereka untuk mengoreksi pekerjaan mereka dengan menunjukkan cara melengkapi kalimat tersebut di papan tulis. Pada kesempatan ini, guru mengajarkan bagaimana teknik penulisan huruf yang benar.[17]

 


 

BAB III

 PENUTUP

A.    Kesimpulan

            Berdasarkan kajian serta pembahasan terhadap pembelajaran bahasa arab berbasis yang ada, maka dari sini dapat disimpulkan bahwa :

1.      Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh para guru untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar bahasa Arab adalah dengan memanfaatkan berbagai macam permainan kebahasaan.

2.      Dalam memanfaatkan permainan kebahasaan tersebut, para guru perlu memperhatikan karakteristik materi pelajaran agar dapat menentukan permainan kebahasaan yang tepat.

3.      Pemanfaatan permainan kebahasaan dikelompokkan menjadi empat bagian sesuai dengan empat aspek pembelajaran bahasa Arab, yaitu permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan mendengar (istima’), permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan berbicara (kalam), permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan membaca (qiroah), dan permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan menulis (kitabah).

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Abdulmajid, S. 1981. Ta’limu al-Lughah al-Hayyah wa Ta’limuha. Maktabah Lubnan.

Arsyad, Azhar. 1999. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Asrori, Imam, 2009. Aneka Permainan, Penyegar Pembelajaran Bahasa Arab. Surabaya: Hilal Pustaka.

Effendi, Ahmad Fuad. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat.

Handoko, M. dan Riyanto, T.. 2006. Seratus Permainan Penyegar Pertemuan. Yogyakarta : Kanisius.

Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M. 1980. Permainan, Simulasi, Main Peran dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta : P3G Depdikbud.

Tedjasaputra, Mayke S. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: Grasindo.

Zaenuddin, Radliyah, Metodologi Dan Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.

 


 



[1] Abdul Halim Hanafi dan Amrina, Desain Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta : Diadit Media Press, 2013 ), hlm 54

[2] Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disain Pembelajaran  ( Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm 15-16

[3] . Abdulmajid, S..Ta’limu al-Lughah al-Hayyah wa Ta’limuha.( Maktabah Lubnan1981), h 76.

[4] . Arsyad, Azhar. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 1999), h 176.

[5][3] . Asrori, Imam,.Aneka Permainan, Penyegar Pembelajaran Bahasa Arab. (Surabaya: Hilal Pustaka 2009), h 122.

[6][4] . Ibid Asrori, Imam., h 124

[7][5] . Handoko, M. dan Riyanto, T... Seratus Permainan Penyegar Pertemuan. (Yogyakarta : Kanisius 2006), h 89.

 

[8][6] . Handoko, M. dan Riyanto, T... Seratus Permainan Penyegar Pertemuan. (Yogyakarta : Kanisius 2006), h 90.

 

[9][7] . Effendi, Ahmad Fuad..Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. (Malang: Misykat 2009), h 130

[10][8] . Ibid., h 133

[11][9] . Handoko M dan Riyanto.,seratus permainan penyegar pertemuan  (Yogyakarta Kanisius : 2006), h 95.

[12][10] . Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M..Permainan, Simulasi, Main Peran dalam Pengajaran Bahasa. (Jakarta : P3G Depdikbud 1980), h 192

 

[13][11] .Tedjasaputra, Mayke S..Bermain, Mainan, dan Permainan. (Jakarta: Grasindo2001), h 211

[14][12] .Tedjasaputra, Mayke S..Bermain, Mainan, dan Permainan. (Jakarta: Grasindo 2001), h 211

[15][13] . Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M. 1980. Permainan, Simulasi, Main Peran dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta : P3G Depdikbud.

[16][14] .Zaenuddin, Radliyah, Metodologi Dan Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group 2007), h 154

 

[17][15] .Zaenuddin, Radliyah, Metodologi Dan Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group 2007), h 158

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...