BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Bahasa Arab merupakan salah satu
mata pelajaran wajib yang dipelajari oleh siswa di madrasah, mulai jenjang
dasar hingga jenjang menengah, yaitu mulai jenjang Madrasah Ibtidaiyyah (MI),
Madrasah Tsanawiyyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Posisi mata pelajaran
Bahasa Arab dalam kurikulum madrasah semacam ini di satu sisi menunjukkan
betapa pentingnya kedudukan Bahasa Arab dalam pendidikan di madrasah karena
menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib dikuasai oleh siswa yang menempuh
studi di madrasah. Namun di sisi lain, berbagai permasalahan timbul seiring
dengan berlangsungnya proses pembelajaran Bahasa Arab di madrasah.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian
Desain materi pembelajaran ?
2.
Bagaimana Pengenbangan
materi pembelajaran ?
3.
Bagaimana Desain
materi ajar istima’, kalam, kiroah ?
4. Aplikasi Pembelajaran dengan desain materi b. arab ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Desain Pembelajaran
Kata desain berasal dari bahasa
Inggris yaitu design, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan kerangka,
bentuk, rancangan, motif, pola, model, menata, memaksudkan dan konstruksi.
Dalam bahasa Arab, desain diartikan dengan tashmim yaitu teknik mengatur
sesuatu (pembelajaran) dengan cara yang sesuai dengan ketentuan kurikulum yang
menjadi dasar pembelajaran.[1]
Pengertian desain menurut para ahli
di antaranya[2],
Gagne, Briggs, & Wager
Mereka mengembangkan konsep desain
pembelajaran dengan menyatakan bahwa desain pembelajaran membantu proses
belajar seseorang, di mana proses tersebut memiliki tahapan segera dan jangka
panjang. Menurut mereka proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi
belajar : internal dan eksternal. Kondisi internal : kemampuan dan kesiapan
diri pebelajar. Sedangkan kondisi eksternal : pengaturan lingkungan yang
didesain. Penyiapan kondisi eksternal inilah yang menurut mereka sebagai desain
pembelajaran yang disusun secara sistematis, dan menerapkan konsep pendekatan
system agar berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang. Dan mereka percaya
bahwa proses belajar yang terjadi secara internal dapat ditumbuhkan jika faktor
eksternal dapat didesain dengan efektif.
Reiser
Menurutnya, desain pembelajaran berbentuk rangkaian prosedur
sebagai suatu sistem untuk pengembangan program pendidikan dan pelatihan dengan
konsisten dan teruji. Desain pembelajaran juga sebagai proses yang rumit tapi
kreatif, aktif dan berulang-ulang. Defenisi ini bermakna sistem, pelatihan
yaitu pendidikan di organisasi, serta proses yang teruji dan dapat dikaji ulang
penerapannya.
Pengertian mengenai
desain pembelajaran di atas memberikan makna bahwa desain merupakan suatu
kegiatan yang menuntut profesionalisme dan kompetensi, sebab tidak mungkin
seseorang dapat mendesain pembelajaran dengan baik dan benar jika tidak
memiliki pendidikan dan pengalaman yang sesuai. Dengan begitu, mendesain
membutuhkan ilmu, pengalaman, dan pengamatan yang cukup terhadap gejala dan
karakteristik masalah.
Dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Arab, desain ini dapat
diartikan merancang, menata, atau membuat kerangka pembelajaran bahasa Arab
agar dapat berjalan sesuai dengan
a. Hakikat
pembelajaran bahasa, yaitu proses menjadikan siswa aktif dan kreatif dalam
belajar bahasa Arab dengan waktu yang relatif singkat namun dengan hasil
belajar yang tuntas dan bermakna.
b. Memiliki
kompetensi keterampilan berbahasa Arab dan berpengetahuan bahasa Arab.
Disebabkan hal di atas, sangat
dituntut para guru memahami dan memiliki kompetensi profesional di bidang
keguruan yaitu menyiapkan rancangan pembelajaran bahasa Arab secara efektif dan
efesien agar proses belajar siswa dapat memahami, memiliki dan menguasai
sejumlah kompetensi, baik kompetensi intelektual, personal maupun sosial serta
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan peraturan perundangan dan harapan
tujuan pemdidikan nasional dan masyarakat.
Untuk merealisasikan dan menjawab
tuntutan di atas, para guru harus melakukan
hal
a.
Mendesain
perangkat pembelajaran yang terdiri dari : membuat kalender akademik dengan
menghitung minggu-minggu efektif, dan tidak efektif, menyusun deskripsi materi
ajar, menyusun program tahunan (prota) dan program semesteran (prosem),
menyusun silabus, dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai
dengan standar kelulusan dan dan standar kompetensi.
b. Mendesain materi ajar, dengan cara
merancang kegiatan proses pembelajaran bahasa Arab untuk mencapai kompetensi
yang diharapkan.
c.
Melakukan
analisis pembelajaran untuk melihat persoalan-persoalan yang dihadapi guru
dalam proses pembelajaran serta memberikan solusi yang tepat dari persoalan
yang dihadapi dan sebagai upaya perbaikan dari pembelajaran yang sedang
berjalan.
Mendesain pembelajaran dan materi
ajar merupakan hal yang berbeda. Akan tetapi hal tersebut dapat dilakukan
sekaligus, karena pembelajaran yang sudah didesain dengan baik dan benar tetapi
materi ajarnya tidak didesain sesuai dengan pembelajarannya, ,maka tidak dapat
mencapai kompetensi yang diharapkan.
B.
Pengembangan
Materi Pembelajaran
1.
Prinsip-prinsip
Pengembangan Materi
Prinsip-prinsip
yang dijadikan dasar dalam penentuan materi pembelajaran adalah
kesesuaian/relevansi, konsistensi, ilmiah, mengandung nilai etik dan kecukupan
(adequacy)
1.
Relevansi
Materi
pembelajaran hendaknya dengan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang
diharapkan dikuasai peserta didik berupa manfaat fakta maka materi pembelajaran
yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis
materi yang lain.
2.
Konsistensi
Jika kompetensi
dasar yang harus dimiliki peserta didik ada 4 macam maka materi yang harus
diajarkan juga meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus
dimiliki oleh peserta didik adalah operasi aljabar bilangan untuk akar
(matematika kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan,
perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan merasionalkan bentuk akar.
3.
Mengandung
Segi-segi Etik
Materi yang
akan dikembangkan hendaknya mengedepankan perkembangan moral peserta didik
sesuai dengan norma-norma agama dan kebudayaan masyarakat.
4.
Ilmiah
Ilmiah disini
diartikan bahwa materi pembelajaran itu bersumber dari buku sumber yang baku,
dan pribadi guru yang propesional. Buku sumber yang baku umumnya disusun oleh
para ahli dalam bidangnya dan disusun berdasarkan GBPP yang berlaku.
5.
Sisimatik dan
Logik
Materi disusun
secara berurutan dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologi para
siswa. Dengan demikian diharapkan isi materi dapat dengan mudah diserap dan
dimengerti oleh para siswa dan dapat terus diamati serta dievaluasi
keberhasilannya.
6.
Adequacy
(Kecukupan)
Materi yang
diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik sesuai
kompetensi dasar yang diajarkan.
Dalam pengembangan materi pembelajaran
seorang pendidik/guru harus mampu mengidentifikasi materi pembelajaran dengan
mempertimbangkan hal-hal di bawah ini :
1.
Potensi peserta
didik.
2.
Relevansi
dengan karakteristik daerah.
3.
Tingkat
perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik.
4.
Kebermanfaatan
bagi peserta didik.
5.
Struktur keilmuan.
6.
Aktualitas,
kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran.
7.
Relevansi
dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan.
8.
Alokasi waktu.
Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pengembangan materi pembelajaran
merupakan keniscayaan yang harus dilakukan secara continue atau kesinambungan
dengan selalu memperhatikan aspek konsep, fakta, prinsip, proses, nilai, dan
keterampilan.
C.
Desain Pengembangan Materi ajar
Istima’, Kalam, Kiroah dan Kitabah
Disini ada beberapa prinsip dalam
pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab dimana hal ini nanti akan juga agar
lebih memudahkan dalam proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas.
Diantaranya adalah PrinsipIPrioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian
materi pengajaran, yaitu; pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap
sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga,
menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum
mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.[3]
1. Mendengar
dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Prinsip ini berangkat dari
asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan
perkembangan bahasa yang alami pada manusia, yaitu setiap anak akan mengawali
perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal
itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina,
kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan
menulis.
2. Mengajarkan
kalimat sebelum mengajarkan bahasa. Dalam mengajarkan struktur kalimat,
sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat nahwu, baru kemudian
masalah struktur kata sharaf. Dalam mengajarkan kalimat jumlah sebaiknya
seorang guru memberikan hafalan teks atau bacaan yang mengandung kalimat
sederhana dan susunannya benar. Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa
Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan
mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya
panjang hendaknya di penggal – penggal).
3. Dalam
tahap awal pembelajaran, siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan kosa kata
yang lebih akrab dalam sehari-hari. Hal ini bertujuan agar kata-kata tersebut
dapat dipergunakan secara langsung dalam percakapannya. Sehingga memudahkan
siswa untuk mengingatnya. Siswa terlebih dahulu di hadapkan dengan bahasa yang
di kenal sehari hari sebelum diperkenalkan dengan bahasa sesuai dengan penutur
aslinya., agar memudahkan siswa pada tahap berikutnya. Karena siswa sudah
terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahasa yang akrab dengan kesehariannya,
maka akan mempermudah guru pada tahap perkanalan bahasa sesuai dengan penutur
aslinya. Dengan demikian proses pengenalan bahasa pada anak akan berjalan
dengan sistematis.[4]
Berangkat dari beberapa prinsip
diatas maka Secara umum, memang pembelajaran bahasa, termasuk Bahasa Arab,
ditujukan untuk melatih empat keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan
menyimak (istima’), keterampilan berbicara (kalam), keterampilan
membaca (qira’ah), dan keterampilan menulis (kitabah).
Masing-masing keterampilan tersebut memiliki karakteristik dan juga target
pembelajaran yang berbeda, namun dalam proses pembelajaran, akan sulit
memisahkan antara satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, karena empat
keterampilan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran
bahasa. Dengan kata lain, tidak mungkin melatihkan satu keterampilan tertentu
tanpa melatihkan keterampilan yang lain, sekalipun keterampilan tersebut bukan
keterampilan yang akan dilatihkan. Sekalipun demikian, hal ini tidak perlu
menimbulkan kebingungan bagi guru yang akan menyelenggarakan pembelajaran
Bahasa Arab, karena situasi tersebut merupakan suatu situasi dan juga proses
yang alamiah, bahwa pada saat orang sedang berbahasa (ataupun belajar
berbahasa), maka seluruh aspek kebahasaan akan berperan dan saling menunjang
dalam aktivitas tersebut, antara satu keterampilan dengan keterampilan yang
lain.[5][3]
Berpijak pada
perbedaan tujuan akhir dari latihan keterampilan berbahasa Arab, maka proses
pembelajaran yang berlangsung di kelas tentu memiliki fokusnya masing-masing,
sesuai dengan jenis keterampilan yang akan dilatihkan. Sehubungan dengan
pemanfaatan permainan dalam pembelajaran Bahasa Arab, berikut ini ditampilkan
beberapa bentuk permainan yang dapat dijadikan alternatif oleh guru dalam
memotivasi siswa dalam belajar.[6]
D.
Aplikasi Desain Materi Ajar Istima’,
Kalam, Kiroah dan Kitabah
1.
Permainan Untuk Latihan Keterampilan
Menyimak (Istima’)
Keterampilan menyimak (istima’)
merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa yang menggunakan kemampuan
indera pendengaran sebagai penopangnya. Latihan pengenalan ini sangat penting
dilakukan karena sistem tata bunyi bahasa Arab banyak memiliki perbedaan dengan
bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang telah dikenal oleh siswa.
Sekalipun
latihan menyimak (istima’) bertujuan melatih kemampuan siswa dalam
mendengar, namun dalam praktiknya selalu diikuti dengan latihan pengucapan
(peniruan) dan juga latihan pemahaman. Bahkan latihan yang disebut terakhir
inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan akhir latihan keterampilan menyimak (istima’).
Ini berarti bahwa setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab melalui
ujaran-ujaran yang didengarnya, siswa kemudian dilatih untuk mengucapkan dan
memahami makna yang terkandung dalam ujaran tersebut. Dengan semikian,
pembelajaran keterampilan menyimak (istima’) sekaligus melatih dasar-dasark
kemampuan reseptif dan produktif.
Beberapa
permainan bahasa yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak
(istima’) antara lain adalah permainan Apa Ini Apa Itu?; Lakukan
Perintah; dan Teka-Teki. Adapun prosedur dari beberapa permainan tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Apa Ini Apa Itu?
Tujuan :Melatih siswa menangkap makna kosa kata baru berdasarkan
konteks.
Prosedur :
a. Berikan
waktu beberapa menit untuk menulis deskripsi singkat suatu objek yang nanti
harus ditebak oleh siswa yang lain. Objek tersebut mempunyai kategori yang
spesifik, misalnya binatang, makanan, pakaian, ruang kelas, kamar tidur, dsb.
b. Deskripsi
tersebut terdiri atas empat kalimat, diawali dari yang paling umum menuju ke
detil, sehingga dapat ditebak.
c. Siswa
diminta menebak objek secepat mungkin, begitu suatu kalimat deskriptor
diperdengarkan. Siswa yang dapat menebak dengan benar setelah kalimat pertama
diperdengarkan memperoleh skor. Siswa yang memperoleh skor terbanyak adalah
pemenangnya.[7][5]
2.
Lakukan Perintah
Tujuan :Melatih siswa memahami instruksi
lisan.
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan sejumlah perintah berantai.
b. Setiap
siswa diberi tugas menyiapkan perintah berantai dengan di beri contoh lebih
dulu oleh guru.
c. Guru
membacakan perintah berantai yang telah disiapkan (dua kali).
d. Guru
meminta seorang siswa melakukan perintah tersebut.
e. Jika
seorang siswa dapat mengerjakan perintah tersebut dengan benar, ia berhak
mengeluarkan perintah yang telah di siapkan yang telah di siapkan untuk
dikerjakan oleh siswa yang lainnya.
f. Jika
siswa yang di tunjuk tidak dapat mengerjakan dengan benar secara keselruhan,
guru menawarkan kepada siswa lainnya
g. Jika
sejumlah siswa sudah maju, namun belum ada yang mengerjakan dengan benar
perintah terdebut di perdengarkan lagi sehingga mereka dapat menemukan
kekeliruannya.
3. Teka-Teki
Tujuan : Melatih siswa memahami pesan lisan
sederhana.
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan sejumlah teka-teki beserta jawabannya.
b. Guru
memperdengarkan salah satu taka-teki yag telah disiapkan, baik menggunakan
kaset maupun secara lisan.
c. Bagi
siswa yang mengetahui jawabannya diminta menganggkat tangan dan mengemukakan
jawabannya.[8]
C. Permainan Untuk
Latihan Keterampilan Berbicara (Kalam)
Keterampilan berbicara (kalam)
merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa yang ingin dicapai dalam
pembelajaran bahasa modern termasuk bahasa Arab. Berbicara merupakan sarana
utama untuk membina saling pengertian dan komunikasi timbal balik dengan
menggunakan bahasa sebagai medianya.[9]
Pembelajaran keterampilan berbicara
(kalam) di kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yaitu antara
pembicara dan pendengarnya secara timbal balik. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa latihan keterampilan berbicara (kalam) terlebih dahulu
harus didasari dengan kemampuan mendengarkan, kemampuan mengucapkan, dan
penguasaan relatif kosa kata serta ungkapan yang memungkinkan siswa dapat
mengkomunikasikan maksud, gagasan atau fikirannya.Diantaranya :
1. Berbicara Spontan
Tujuan : Melatih siswa berbicara secara spontan dalam bahasa Arab
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan sejumlah lipatan kertas kecil. Pada tiap kertas ditulis suatu topik
tertentu sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan usia siswa.
b. Salah
satu siswa diminta mengambil satu lipatan kertas secara acak dan membaca topik
yang tertulis dalam lipatan kertas tersebut.
c. Siswa
diminta langsung memulai berbicara tentang topik tersebut (tanpa diberi
kesempatan untuk menyiapkan lebih dulu apa yang akan dibicarakannya).
d. Kesempatan
berbicara tersebut diberi alokasi waktu selama 3 – 5 menit.
e. Agar
lebih memotivasi siswa, pembicaraan mereka dapat direkam. Keuntungan perekaman
ini adalah siswa dapat memutar dan menyimak kembali pembicaraannya. Dengan
demikian, siswa dapat berlatih mengenali kemampuan dan sekaligus mengoreksi
pembicaraan mereka.[10][8]
2.
Gambar Berilham
Tujuan : Mengembangkan kemahiran berdialog.
Prosedur :
a. Guru
dan siswa membawa guntingan gambar apa saja yang diambil dari majalah, koran,
maupun sumber-sumber yang lain.
b. Guru
memberi contoh dalam menggunakan potongan-potongan gambar yang dibawa sebagai
media dialog sebagaimana halnya seorang dalang sedang mendialogkan wayang.
c. Guru
meminta masing-masing siswa mencoba mendialogkan gambar yang mereka bawa
sebebas mungkin sesuai dengan kemampuan mereka.
d. Setelah
latihan individual dirasa cukup, guru meminta salah seorang siswa mendialogkan
gambar-gambar yang dibawa di depan kelas.[11]
D. Permainan Untuk
Latihan Keterampilan Membaca (Qira’ah)
Keterampilan membaca (qira’ah)
memiliki dua aspek. Pertama, mengubah lambang tulis menjadi lambang bunyi, dan
kedua, menangkap seluruh situasi yang dilambangkan oleh lambang-lambang tulis
dan bunyi tersebut. Adapun inti dari pembelajaran keterampilan membaca
(qira’ah) terletak pada aspek yang kedua. Meskipun demikian, ini tidak berarti
bahwa keterampilan dalam aspek yang pertama menjadi tidak penting, justru
sebaliknya, keterampilan dalam aspek yang pertama merupakan dasar dari aspek
yang kedua. Satu hal yang perlu dipahami, secara umum, tujuan akhir dari
pembelajaran keterampilan membaca (qira’ah) adalah agar siswa memiliki
keterampilan membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab, bukan hanya teks
yang sudah dipelajarinya, namun juga teks-teks baru yang ditemuinya di
kehidupan nyata.[12][10]
Berdasarkan tujuan keterampilan
membaca (qira’ah) tersebut di atas, maka permainan bahasa yang dapat digunakan
dalam pembelajaran keterampilan membaca (qira’ah) adalah seperti permainan
Cahaya Bertanya, Mengurutkan Cerita. Secara rinci prosedur dari
permainan-permainan tersebut dipaparkan sebagai berikut:
1.
Cahaya Bertanya
Tujuan : Melatih keterampilan siswa dalam membaca cepat
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan beberapa pertanyaan pada transparan/slide presentasi dan jawaban
ditulis pada selembar kartu (tiap jawaban ditulis pada 2 kartu).
b. Kelas
dibagi menjadi 2 kelompok.
c. Guru
membagikan 1 set kartu jawaban pada tiap kelompok.
d. Guru
memperlihatkan salah satu pertanyaan melalui tayangan OHP/LCD secara
cepat/sepintas.
e. Kedua
kelompok diminta berlomba secara cepat membaca pertanyaan tersebut, kemudian
menemukan jawabannya pada kartu jawaban yang mereka miliki.
f. Kelompok
yang lebih dulu menemukan jawaban dipersilakan membaca jawabannya dengan suara
keras.
g. Jika
jawaban yang dikemukakan salah, maka hak membaca dialihkan pada kelompok yang
lain.
2.
Mengurutkan Cerita
Tujuan : Melatih kerjasama siswa dalam membaca dan memahami suatu
teks.
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan beberapa teks cerita yang terdiri dari beberapa paragraf.
b. Tiap
cerita dibagi menjadi empat bagian (usahakan panjang teksnya setara).
Selanjutnya, tiap cerita tersebut ditulis pada kartu yang berbeda warna.
c. Kartu-kartu
cerita tersebut dibagikan kepada siswa.[13]
d. Setelah
berkumpul sesuai dengan warna kartu, siswa diminta untuk secara bergantian
membaca isi potongan teks dalam kartu masing-masing.
e. Setelah
semua teks terbaca, siswa diminta bekerja sama untuk mengurutkan
potongan-potongan cerita yang mereka baca.
f. Setelah
potongan teks berhasil disusun menjadi teks cerita yang utuh, siswa diminta
untuk membaca cerita tersebut secara keseluruhan.
g. Permainan
dilanjutkan pada kelompok lain yang memiliki warna kartu berbeda.[14]
E. Permainan Untuk Latihan
Keterampilan Menulis (Kitabah)
Sebagaimana halnya keterampilan
memabaca (qira’ah), keterampilan menulis (kitabah) juga mempunyai
dua aspek, namun dalam konteks yang berbeda. Aspek pertama dalam keterampilan
menulis (kitabah) adalah keterampilan membentuk huruf dan menguasai
ejaan, sedangkan aspek yang kedua adalah keterampilan mengungkapkan pikiran dan
perasaan melalui tulisan. Adapun inti dari keterampilan menulis (kitabah)
terletak pada aspek yang kedua. Oleh karena itu, latihan keterampilan menulis (kitabah)
juga harus disesuaikan dengan kedua aspek tersebut, yaitu dimulai dengan
melatih keterampilan siswa dalam membentuk huruf-huruf Arab, dan selanjutnya
melatih keterampilan siswa dalam mengungkapkan gagasan mereka melalui tulisan,
dengan tahapan-tahapan yang logis.[15][13]
Untuk latihan keterampilan menulis (kitabah)
ini, mengemukakan bahwa permainan bahasa yang dapat digunakan untuk melatih
keterampilan menulis (kitabah) siswa antara lain adalah permainan
Bertanya Dan Menjawab; Mencipta Kalimat; Mengisi Huruf Yang Hilang; Mengisi
Pesan Gambar; dan Satu Kata Modal. Adapun prosedur dari masing-masing permainan
tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Bertanya dan Menjawab
Tujuan : Mengembangkan keterampilan menulis pertanyaan.
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan kartu kosong berukuran 3×7 cm sejumlah siswa, kemudian kelas dibagi
menjadi 2 kelompok atau kelipatannya (2, 4, 6, dst.) dengan 5 anggota tiap
kelompok.
b. Guru
membagikan kartu pada tiap anggota kelompok.
c. Tiap
anggota kelompok diminta membuat satu pertanyaan mengenai teks pelajaran yang
sedang dipelajari. Dengan demikian, tiap kelompok membuat 5 pertanyaan.
d. Setelah
selesai, kartu pertanyaan dari tiap kelompok tersebut diberikan kepada kelompok
lain secara silang, dan harus dipastikan bahwa tiap anggota kelompok memperoleh
satu pertanyaan.
e. Tiap
anggota kelompok diminta untuk membuat/menulis jawaban dari pertanyaan yang
diperolehnya.
f. Guru
mengajak siswa membahas setiap pertanyaan dan jawaban dengan diawali dari
pembacaaan oleh pemegang kartu. Setelah itu, siswa pemegang kartu diminta untuk
menulis pertanyaan dan jawabannya di papan tulis.[16][14]
2.
Mencipta Kalimat
Tujuan : Mengembangkan keterampilan membuat
kalimat.
Prosedur :
a. Guru
menyiapkan kertas untuk seluruh siswa yang berisi tulisan suatu kosa kata yang
ditulis secara vertikal dalam dalam dua lajur. Satu lajur ditulis dengan urutan
ejaan yang benar, dan lajur yang lain ditulis dengan urutan ejaan terbalik.
b. Guru
membagikan kertas yang telah disiapkan pada siswa.
c. Siswa
diminta membuat kalimat yang dimulai dengan huruf di sebelah kanan dan diakhiri
dengan huruf di sebelah kiri.
d. Setelah
selesai, siswa diminta membacakan kalimat yang berhasil mereka buat secara
bergantian.
e. Jika
memungkinkan, usahakan semua siswa mendapat kesempatan untuk membacakan
kalimatnya.
f. Siswa
yang berhasil membuat kalimat terpanjang, dialah pemenangnya.
3. Mengisi Huruf Yang Hilang
Tujuan : Melatih keterampilan menulis huruf.
Prosedur :
·
Guru menulis satu kalimat lengkap berulang-ulang ke bawah pada selembar kertas.
Pada tiap kalimat (selain kalimat pertama) ada huruf tertentu yang dihilangkan,
yaitu huruf yang akan dilatihkan Setelah siap, kertas tersebut digandakan
sejumlah siswa.
·
Kertas berisi tulisan tersebut kemudian dibagikan kepada siswa.
·
Guru meminta beberapa siswa membaca kalimat pertama secara bergantian.
·
Semua siswa diminta melengkapi huruf yang hilang dengan memperhatikan contoh
pada kalimat pertama.
·
Setelah semua siswa selesai, guru mengajak mereka untuk mengoreksi pekerjaan
mereka dengan menunjukkan cara melengkapi kalimat tersebut di papan tulis. Pada
kesempatan ini, guru mengajarkan bagaimana teknik penulisan huruf yang benar.[17]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian serta pembahasan
terhadap pembelajaran bahasa arab berbasis yang ada, maka dari sini dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh para guru untuk meningkatkan minat
dan motivasi siswa dalam belajar bahasa Arab adalah dengan memanfaatkan
berbagai macam permainan kebahasaan.
2.
Dalam memanfaatkan permainan kebahasaan tersebut, para guru perlu memperhatikan
karakteristik materi pelajaran agar dapat menentukan permainan kebahasaan yang
tepat.
3.
Pemanfaatan permainan kebahasaan dikelompokkan menjadi empat bagian sesuai dengan
empat aspek pembelajaran bahasa Arab, yaitu permainan kebahasaan untuk
menunjang pembelajaran keterampilan mendengar (istima’), permainan
kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan berbicara (kalam),
permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan membaca (qiroah),
dan permainan kebahasaan untuk menunjang pembelajaran keterampilan menulis (kitabah).
DAFTAR PUSTAKA
Abdulmajid, S. 1981. Ta’limu
al-Lughah al-Hayyah wa Ta’limuha. Maktabah Lubnan.
Arsyad, Azhar. 1999. Bahasa Arab
dan Metode Pengajarannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Asrori, Imam, 2009. Aneka
Permainan, Penyegar Pembelajaran Bahasa Arab. Surabaya: Hilal Pustaka.
Effendi, Ahmad Fuad. 2009. Metodologi
Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat.
Handoko, M. dan Riyanto, T.. 2006. Seratus
Permainan Penyegar Pertemuan. Yogyakarta : Kanisius.
Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M. 1980.
Permainan, Simulasi, Main Peran dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta : P3G
Depdikbud.
Tedjasaputra, Mayke S. 2001. Bermain,
Mainan, dan Permainan. Jakarta: Grasindo.
Zaenuddin, Radliyah, Metodologi
Dan Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: Pustaka
Rihlah Group.
Abdul Halim Hanafi dan Amrina, Desain Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta
: Diadit Media Press, 2013 ), hlm 54
Dewi
Salma Prawiradilaga, Prinsip Disain Pembelajaran ( Jakarta : Kencana Prenada Media Group,
2007), hlm 15-16
.
Abdulmajid, S..Ta’limu al-Lughah al-Hayyah wa Ta’limuha.( Maktabah
Lubnan1981), h 76.
.
Arsyad, Azhar. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar 1999), h 176.
.
Asrori, Imam,.Aneka Permainan, Penyegar Pembelajaran Bahasa Arab.
(Surabaya: Hilal Pustaka 2009), h 122.
.
Ibid Asrori, Imam., h 124
.
Handoko, M. dan Riyanto, T... Seratus Permainan Penyegar Pertemuan.
(Yogyakarta : Kanisius 2006), h 89.
.
Handoko, M. dan Riyanto, T... Seratus Permainan Penyegar Pertemuan.
(Yogyakarta : Kanisius 2006), h 90.
.
Effendi, Ahmad Fuad..Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. (Malang: Misykat
2009), h 130
.
Handoko M dan Riyanto.,seratus permainan penyegar pertemuan (Yogyakarta Kanisius : 2006), h 95.
.
Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M..Permainan, Simulasi, Main Peran dalam
Pengajaran Bahasa. (Jakarta : P3G Depdikbud 1980), h 192
.Tedjasaputra, Mayke S..Bermain, Mainan, dan Permainan. (Jakarta:
Grasindo2001), h 211
.Tedjasaputra, Mayke S..Bermain, Mainan, dan Permainan. (Jakarta:
Grasindo 2001), h 211
.
Hidayat, Z.A. dan Tatang, S.M. 1980. Permainan, Simulasi, Main Peran dalam
Pengajaran Bahasa. Jakarta : P3G Depdikbud.
.Zaenuddin, Radliyah, Metodologi Dan Strategi Alternative Pembelajaran Bahasa
Arab, (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group 2007), h 154
.Zaenuddin, Radliyah, Metodologi Dan Strategi Alternative Pembelajaran
Bahasa Arab, (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group 2007), h 158