Jumat, 17 Juni 2022

MAKALAH KOMUNIKASI

MAKALAH KOMUNIKASI 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam melakukan komunikasi dengan baik maka seseorang harus memperhatikan apa-apa saja yang harus di lakukan oleh seoramg komunikan, terutama memperhatikan prinsip-prinsip dalam berkomunikasi. Semakin berkembangnya zaman dari tahun ke tahun minta orang untuk mempelajari komunikasi semakin banyak, bukan saja dikalangan Mahasiswa, tetapi juga dikalangan masyarakat lainnya, apakah itu lewat seminar, diskusi dan pelatihan. Komunikasi memang merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia, bahkan di tengah suasana mayarakat.

Dalam hidup masyarakat, orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain niscayaakan terisolasi dari masyarakatnya. Maka dari itu dalam makalah kami membahas tentang prinsip-prinsip komunikasi. Sehinnga menghasilkan komunikasi yang baik dan dapat memberikan kreasi dalam kehidupan. Karena komunikasi ini merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti hal nya bernafas. Sepanjang hidup maka ia perlu berkomunikasi.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa-apa saja prinsip-prinsip dalam komunikasi ?

2.      Bagaimana prinsip-prinsip komunikasi dalam islam ?

3.      Apa saja prinsip komunikasinya serta aplikasinya dalam pembelajaran ?

C.    Tujuan Masalah

1.      Kita dapat mengetahui apa-apa saja prinsip-prinsip dalam konunikasi.

2.      Kita dapat mengetahui bagaimana prinsip-prinsip komunikasi dalam islam.

3.      Kita dapat mengetahui apa-apa saja prinsip-prinsip komunikasi serta aplikkasinya dalam pembelajaran.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Prinsip-Prinsip Komunikasi

1.      Komunikasi adalah Proses Simbolik

Lambnag atau simbol adalah suatu yang digunakan untuk menunjukkan suatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama. Misalnya memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan penghormatan atau kecintaan terhadap negara. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek.[1]

Lambnag adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek dapat juga dipersentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang di persentasekannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan. Misalnya patung Soekarno adalah ikon Soekarno, dan foto anda di KTP adalah ikon anda.

Berbeda dengan lambang dan ikon, indeks adalah tanda dengan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga gejala (symptom). Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksitensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan yang akan turun, sedangkan asap merupakan indeks api. Lambang mempunyai beberapa sifat seperti berikut:

Lambang bersifat sembarang, manasuka, atau sewenag-wenang, apa saja bisa dijadikan lambang, tergantung pada kesepakatan bersama. Kata-kata lisan atau tulisan, isyarat anggota tubuh dan makan dan cara makan, tempat tinggal, jabatan, olahraga hobi, peristiwa, hewan, tumbuhan, gedung, alat (artefak), angka, bunyi dan waktu.

 

Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, kitalah yang memberi makna pada lambang. Makna sebenarnya ada dalam kepala kita, bukan terletak pada lambang itu sendiri. Walaupun ada orang yang mengatakan bahwa kata-kata mempunyai makna, yang dimaksud sebenarnya bahwa kata-kata itu mendorong orang untuk memberi makna (yang telah disetujui bersama) terhadap kata-kata itu. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada hubungan yang alami antara lambang dengan referent (objek yang dirujukkan). Misalnya anda dapat mengatakan bahwa anda tentara karena memakai baju tentara, meskipun anda bukan tentara.

Lambang itu bervariasi, dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke waktu yang lain. Begitu juga makna yang diberikan pada lambang tersebut. Misalnya, orang Indonesia menggunakan kata buku, orang Jepang hon, orang Inggris book, orang Jerman buch, orang Belanda boek, dan orang Arab kitab. Makna yang diberikan pada satu lambang boleh jadi berubah dalam perjalanan waktu, meskipun perubahan itu berjalan lambat. Misalnya, panggilan Bung pada revolusi lazim digunakan dan berkonotasi positif karena menunjukkan kesederajatan kini tidak populer lagi., kecuali digunakan oleh penyaji acara olahraga ketika bicara dengan narasumbernya di studio TV.

2.      Setia Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi

Kita mungkin tidak dapat berkomunikasi (we cannot comunication). Tidak  berarti bahwa semua adalah perilaku komunikasi. Alih-alih komunikasi terjadi bila seorang memberi makna pada perilaku orang lain atas perilakunya sendiri.

 Jadi walalupun kita bicara satu patah kata pun kapada orang lain, tapi kita tersenyum atau cemberut itu menunjukkan komunikasi yang disebut feetback atas informasi yang telah diberikan kepada orang lain. Misalnya tersenyum ditafsirkan bahagia, cemberut ditafsirkan ngambek, dan ketika kita berdiam diri sekalipun seperti mengundurkan diri dari komunikasi lalu kita menyendiri, sebebnarnya kita mengkomunikasikan banyak pesan. Orang lain mungkin akan menafsirkan kita sebagai malu, segan, ragu-ragu- tidak setuju, tidak peduli, marah atau mungkin sebagai malas atau bodoh.

 

3.      Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi Hubungan

Dimensi isi disandi secara verbal sementara dimensi hubungan disandi nonverbal. Sedangkan dimensi hubungan yaitu bagaimana cara mengatakannya dan bagaimana cara mengisyaratkan bagimana hubungan peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Contohnya adalah kalimat “Aku benci kamu” yang diucapkan dengan nada menggoda mungkin itu justru berarti sebaliknya. Seorang gadis yang mengatakan “Ih jahat kamu”, kepada seorang pria seraya mencubit pemuda, sebenarnya tidak memasukkan kata jahat itu dalam arti sebenarnya, melainkan mungkin sebaliknya. Sebagai tanda gemas campur senang kepada pemuda.

Tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara berbeda. Dalam komunikasi massa, dimensi ini merujuk kepada unsur-unsur lain termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu pesan juga akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda dan dengan penyampaian orang yang berbeda pula.[2]

Pengaruh pesannya juga akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda. Cerita yang penuh dengan kekerasan sensualitas yang disajikan Televisi menimbulkan pengaruh lebih berat, misalnya dalam bentuk peniruan anak-anak atau remaja, bila dibandingkan dengan penyajian cerita yang sama lewat majalah atau radio, karena televisi memiliki sifat audio visual, sedangkan majalah memiliki visual saja, dan radio hanya memiliki sifat audio saja.

4.      Komunikasi Berlangsung dalam Tingkat Kesenjangan

Komunikasi dilakukan dalam bentuk kesenjangan, dari komunikasi yang tidak senganja sama sekali (misalnya ketika anda melamun sementara orang memperhatikan anda) hingga komunikasi yang benar-benar direncanakan dan disadari (ketika anda menyampaikan suatu pidato). Kesenjangan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun ia sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain. Dalam berkomunikasi, kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus dari pada situasi rutin. Misalnya, ketika anda diuji secara langsung oleh dosen anda atau ketika anda berdialog dengan orang asing yang berbahasa Inggris di bandingkan ketika anda bersenda gurau dengan keluarga anda. Kadang-kadang komunikasi yang disengaja dibuat tampak tidak disengaja. Jadi niat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk berkomunikasi. Dalam berrkomunikasi antara orang-orang berbeda budaya ketidak sengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk diperhatikan. Banyak kesalahpahaman antar budaya sebenarnya disebabkan oleh perilaku seorang yang tidak sengaja dipersepsi., ditafsirkan dan direspon oleh orang dari budaya lain.

5.      Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang dan Waktu

Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik/ruang, waktu, sosial dan psikologis. Misalnya, seorang tamu hanya diterima penghuni dihalaman rumah menunjukkan tingkat penerima yang berbeda bila dibandingkan dengan penerima tamu di teras, ruang tamu, kamar tidur, ruang tengah. Waktu juga mempengaruhi makna pada suatu pesan, misalnya dering telpon pada malam hari atau dini hari akan dipersepsikan lain bila dibandingkan dengan dering telpon di siang hari. Kehadiran orang lain sebagai konteks sosial juga akan mempengaruhi orang-orang berkomunikasi, misalnya dua orang yang berkonflik atau canggung jika ada disituasi berdua tida ada orang, namun dengan adanya orang ketiga, keadaan akan lebih bisa mencair. 

6.      Komunikasi Melibatkan Ptediksi Peserta Komunikasi

Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan atau tatakrama. Artinya, orang yang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prediksi ini tidak slalu didasari, dan sering berlangsung cepat.

Misalnya, anda tidak dapat menyapa orang tua atau dosen anda dengan “Kamu” atau “Elu”, tahu apa yang harus dikatakan “Terimakasih” ketika anda menerima hadiah dari orang lain atau ketika anda menyenggol oranglain tanpa disengaja “Maaf”, atau aturan jam berapa anda harus menelpon atau menemui seseorang atau berapa lama toleransi keterlambatan anda ketika anda bertemu dengan seseoramg. Intinya hingga derajat tertentu ada keteraturan pada perilakun komunikasi manusia. Perilaku manusia, minimal secara parsial dapat diramalkan. Maksudnya jika perilaku manusia itu bersifat acak, selalu tanpa diduga, maka hidup kita akan sulit.

 

           

7.      Komunikasi itu Bersifat Sistematik

Setiap individu adalah system yang hidup (A living system). Organ-organ dalam tubuh kita saling berhubungan. Kerusakan mata dapat membuat kepala kita pusing. Bahkan unsur diri kita yang bersifat jasmani juga berhubungan dengan unsur kita yang bersifat rohani. Misalnya, kemarahan membuat jantung berdetak lebih cepat dan berkeringat.

Komunikasi juga menyangkut sistem dari unsur-unsurnya. Setidaknya dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi itu sistem internal dan eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seseorang ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia serap selalu sosialnya dalam berbagai lingkungan sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga pendidikan dan lain-lain). Sistem internal ini mengandung semua unsur yang membentuk manusia yang unik. Kita hanya dapat menduganya lewat kata-kata yang ia ucapkan dan perilaku yang ia tunjukkan. Jumlah sistem internal ini adalah sebanyak individu yang ada.Sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar inividu, terrmasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik, kegaduhan disekitarnya, penata ruangan, cahaya dan temperatur ruangan. Lingkungan dan objek mempengaruhi kita berperilaku.

8.      Semakin Mirip Latar Sosial-Budaya Semakin Efektiflah Komunikasi

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi). Misalnya, penjual yang sedang datang ke rumah untuk mempromosikan barang dianggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah membeli barang yang ia tawarkan. Sesuai yang diharapkan penjual itu, dan tuan rumah pun merasa puas dengan barang yang dibelinya.[3]

Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yang sama, diberi makan yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi akan mendorong seseorang untuk saling tertarik pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka jadi lebih efektif. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang berkomuniksi lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami bahasa yang sama.

9.      Komunikasi Bersifat Nonsekuensial

Meskipun terdapat banyak model komunikasi linier atau satu arah, sebenarnya dalam bentuk komunikasi dasarnya (komunikasi tatap muka) bersifat dua arah (sifat sirkuler). Ketika seseorang berbicara kepada seseorang atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat kuliah, sebenarnya komunikasi itu bersifat dua arah, karena orag-orang yang kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi “pembicara” atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.

Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk melalui proses komunikasi, unsur-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak berpola secara kaku. Pada dasarnya, susunan itu tidak ada pada satu tatanan yang bersifat linier, serkuler, helikul atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh jadi beroperasi dalam susunan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagian, dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.

10.  Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis dan Transaksional

Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dan perilakunya). Ada orang yang perubahannya sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu, tetapi perubahan akhirnya (secara kumulatif) cukup besar. Namun ada juga orang yang berubah secara tiba-tiba, melalui cuci otak atau kontroversi agama.

 Misalnya, dari seorang Nasionalis menjadi Komunis, atau dari Hindu menjadi Kristen atau Muslim. Implisit dalam proses komunikasi transaksi ini adalah proses penyandian (econding) dan penyandian balik (deconding). Kedua proses itu, meskipun secra teoritis dapat dipisahkan, meskipun terjadi secara serempak, bukan bergantian. Keserempakan inilah yang menandai adanya transaksi komunikasi.

Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan bahwa mengalami perubahan sebagai hasil adanya komunikasi. Pernahkan anda terlita dalam perdebatan sengit sehingga semakin keras anda katakan betapa marahnya anda, semakin marah pula anda. Jadi, perspektif transaksional memberi penekanan pada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi. Para pesertanya juga bergantung, dan komunikasi mereka hanya dapat dianalisis berdasarkan konteks peristiwanya.

11.  Komunikaksi bersifat Irreversible

Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini setidaknya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab yang tadi, efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya. Apalagi penyampaian itu dilakukan untuk pertama kalinya.

Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyampaikan berita yang tanpa disengaja mencerminkan nama baik seseorang, maka nama baik seseorang itu akan sulit dikembalikan lagi keposisi semula, meskipun surat kabar, majalah, radio atau televisi telah minta maaf dan menuntut hak tanggung jawab sumber berita secara lengkap.

12.  Komunikasi Bukan Panasea untuk Menyampaikan Berbagai Masalah

Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau mungkin yang berkaitan dengan masalah struktural. Agar komunikasi efektif, kendala struktural ini juga harus diatasi.

 Misalnya, meskipun pemerintah bersusah payah menjalankan komunkikasi yang efektif denga warga Aceh dan warga Papua, tidak mungkin usaha itu tidak berhasil bila pemerintah memberlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengankutnya ke pusat.[4]

 

B.     Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Islam

1.      Memulai Pembicaraan dengan Salam

Komunikator sangat di anjurkan untuk memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam yaitu ucapan “assalamu alaikum”. Keadaan ini digambarkan rasul dalam hadisnya yang mempunyai arti: “Ucapkansalamsebelumkalam”.[5]

2.      Berbicara dengan lemah lembut

Komunikator dalam dalam komunikasi islam ditekankan agar berbicara secara lemah lembut dan tutur kata yang baik, sekalipun dengan orang yang secara terang-terangan memusuhinya.

3.      Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik

4.      Berlaku adil

Dalam surah Al-An’am ayat 152 dijelaskan untuk  berlaku adil yaitu:

ولاتقربومال اليتيم الاباالتي هي احسن حتئ يبلغ اشده واوفواالكيل والميزان بالقسط لانكلف نفسا الاوسعها واذاقلتم فاعدلواولوكان ذاقربئ وبعهداللهاوفوا ذالكم وصكم به تعلكم تذكرون

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa dan sempurnakan lah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan bebean kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun ia  adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada mu agar kamu ingat. (Q.S Al-An’am: 152)

5.      Berdiskusi dengan cara yang baik

6.      Prinsip ikhlas dan kejujuran

Suatu pesan tidak akan berdampak positifkepada komunikan jika diterima dengan hati yang tidak ikhlas. Ikhlas adalah kerja hati. Jika tidak ikhlas menyampaikan atau menerima pesan artinya tidak sucinya keinginan untuk menyampaikan atau menerima pesan.

7.      Prinsip kebersihan

Islam sangat menekankan prinsip kebersihan terutama dalam menyampaikan pesan.[6]

 

 

 

C.    Prinsip-Prinsip Komunikasi dan Aplikasi dalam Pembelajaran

Dalam melakukan komunikasi laizim dikenal prinsip “5W+1H”, penerapan “5W+1H” ini mudah dipahami dalam melakukan komunikasi. Karena dalam berkomunikasi dapat kita tafsirkan dari kewajiban komunikator maupun kewajiban komunikan itu sendiri dalam melakukan komunikasi.[7]

Adapun prinsip komunikasi dan aplikasinya dalam proses pembelajaran adalah:

1.      Prinsip Komunikasi dalam Metode Ceramah

Metode ceramah atau kuliah adalah sebuah metode pengajaran oleh guru secara monolog dan hubungan satu arah. Jika dicermati, metode ini memiliki kelemahan seperti membuat siswa pasif, karena perhatian berpusat pada guru. Serta menghambat daya kritis siswa karema segala informasi yang disampaikan oleh guru biasanya ditelam mentah-mentah tanpa dibedakan apakah informasi itu benar atau salah, dipahami sepenuhnya atau tidak. Dengan demikian, sulit bagi siswa untuk mengembangkan segala kreatifitas ranah ciptanya secara optimal.

2.      Prinsip Komunikasi dalam Diskusi

Diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisi pertukaran pendapat yang dulakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari kebenaran. Jika dilihat dari teknik pelaksanaannya diskusi dapat digolongkan menjadi dua:

 

a.       Debat, didalam debat terdapat dua kelompok berbeda pendapat yang mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pendengar menjadi faktor penentu kemenangan.agar debat tidak berkepanjangan perlu diatur secara rapi mengenai mekanisme pelaksanaan dan waktunya.

b.      Diskusi, diskusi pada dasarnya merupakan musyawarah, mencari titik pertemuan pendapat tentang suatu masalah. Jika ditinjau dari pelaksanaannya diskusi dibagi menjadi beraneka bentuk, diantaranya Diskusi kelas, Diskusi kelompok. Metode diskusi berfungsi untuk merangsang siswa berfikir mengenai persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan satu cara saja, tetapi memerlukan wawasan yang mampu untuk mencari jalan terbaik.

 Demikian juga dengan metode diskusi. Dari sisi kelebihan metode diskusi membuat suasana kelas menjadi hidup, meningkatkan daya pikir dan kepribadian siswa seperti toleransi, demokrasi, berpikir kritis, sistematis dan objektif. Selain itu, metode diskusi juga dapat membantu siswa mengambil keputusan yang lebih baik yang bertujuan untuk menampung pendapat orang banyak.[8]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Komunikasi mempunyai beberapa prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, dan prinsip-prinsip ini mempunyai peran penting untuk seseorang yang melakukan komunikasi baik secara individu maupun denagn orang lain. Adapun prinsip-prinsip komunikasi itu ialah, komunikasi adalah proses simbolik setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi, komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesenjangan, komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu, komunikasi melibatkan pradiksi peserta komunikasi, komunikasi itu bersifat sistematik, semakin mirip latar belakang sosial-budaya semakin efektiflah komunikasi. Komunikasi bersifat Nonsekuensial, Dinamis, Prosesual, Transaksional, Irreversible, Komuniksi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Adapun prinsip-prinsip komunikasi dalam islam ialah, memulai pembicaraan dengan salam, berbicara dengan lemah lembut, menggunakan hikmah dan nasehat yang baik, prinsip ikhlas dan kejujuran, prinsip kebersihan. Sedangkan prinsip komunikasi dan aplikasinya dalam pembelajaran ialah, prinsip komunikasi dalam metode ceramah dan prinsip komunikasi dalam diskusi.

 

B.     Saran

Semoga dengan makalah yang kami susun dengan kerja sama ini, dapat menui hasil yang baik untuk kita maupun pembaca sekalian., apalagi kita sebagai mahasiswa komunikasi itu sendiri, dan saran kami semoga teman-teman sekalian bisa menjadi seorang komunikasi yang baik dengan memperhatikan prinsip-prinsip seorang komunikasi dalam melakukan proses komunikasi.

Saya mohon maaf jika penulisan makalah ini masih kurang penyajiannya, karena manusia tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah semata.

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Dedy Mulyana. 2008, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya

Harjani Hepni. 2005, Komunikasi Isla m, Jakarta: Prenada Media Group

May Rudi. 2005, Komunikasi dan Hubungan Internassional Masyarakat, Bandung: Refika    Aditama

Muhibbin Syah. 2004, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya

Syukur Kholil. 2007, Komunikasi Islam, Bandung: Cita Pustaka Media

www. Gudang Materi.com/2017/14/prinsip-prinsip komunikasi. Html-1


 



[1]Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 92

[2]Ibid, hlm. 105-109

[3]Op.Cit, hlm. 113-115

[4]Www. Gudang Materi.com/2017/14/prinsip-prinsip komunikasi. Html-1

[5]Syukur Kholil, Komunikasi Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2007), hlm. 8-10

 

[6]Hurjani Hepni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Pernada Media Group, 2005), hlm. 226

[7]May Rudi, komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 6

[8]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 204

ILMU SOSIAL DASAR - ELITE DAN MASA

 

Tugas Ilmu Sosial Dasar

ELITE DAN MASSA

PEMBAHASAN

A.    Elite

1.      Pengertian Elite

Dalam pengertian yang  umum elite itu menunjuk sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti khusus elite dapat diartikan sebagai sekelompok orang terkemuka  di bidang-bidang tertentu dan khusunya golongan kecil yang memegang kekuasaan.

Sedangkan dalam arti umumnya, elite adalah suatu minoritas pribadi-pribadi yang diangkat untuk melayani suatu kolektivitas dengan cara yang bernilai social.

 

2.      Fungsi Elite

Dalam suatu kehidupan sosial yang teratur, baik dalam konteks luas maupun yang lebih sempit, dalam kelompok heterogen maupun homogeny selalu ada kecenderungan untuk menyisihkan satu golongan tersendiri sebagai satu golongan yang penting, memiliki kekuasaan dan mendapatkan kedudukan  yang terkemuka jika dibandingkan dengan massa. Penentuan golongan minoritas ini didasarkan pada penghargaan masyarakat terhadap peranan yang dilancarkan dalam masa kini serta andilnya dalam  meletakkan dasar-dasar  kehidupan yang akan datang.[1]

Golongan minoritas yang berada pada posisi atas yang secara fungsional dapat berkuasa dan menentukan dalam studi social dikenal dengan elite.

Golongan elite sebagai minoritas sering ditampakkan dengan beberapa bentuk penampilan antara lain :

a.    Elite menduduki posisi yang penting dan cenderung merupakan poros kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

b.    Factor utama yang menentukan kedudukan mereka adalah keunggulan dan keberhasilan yang dilandasi oleh kemampuan baik yang bersifat fisik maupun pshikis, material maupun immaterial, merupakan hariditer maupun pencapaian.

c.    Dalam hal tangung jawab, mereka memiliki tanggung jawab yang lebih besar jika dibandingkan dengan masyarakat lain.

d.   Ciri-ciri lain yang merupakan konsekuensi logis dari ketiga hal diatas adalah imbalan yang lebih besar yang diperoleh atas pekerjaan dan usahanya.[2]

 

Tujuan yang akan dicapai harus terikat serta merupakan tujuan bersama kepandaian dalam menyesuaikan diri terutama bagi elite baru dapat membantunya secara efektif dalam mengarahkan masyarakatnya untuk mencapai tujuan tersebut.

Berhubungan dengan fungsi  yang harus dijalankan oleh elite dalam  memegang pimpinan, mereka harus dapat mengatur strategi yang tepat. Dalam hal ini, kita dapat  membedakan elite pemegang strategi secara garis besar, yaitu :

a.    Elite politik ( yang berkuasa dalam mencapai suatu tujuan biasa disebut sebagai elite dari segala elite )

b.    Elite ekonomi, militer, diplomatic, dan cendikiawan ( yang berjuasa pada masing-masing bisang tersebut )

c.    Elite agama, filsuf, pendidik, dan pemuka agama.

d.   Elite yang dapat memberikan kebutuhan psikologis, seperti : artis, penulis buku ( novelis, komikus ), tokoh film, dan sebagainya.

Elite dari segala elite haruslah dapat menjalankan fungsinya dengan mengajak para  elite pemegang strategi dimasing-masing bidang untuk menjalin kerja sama yang  baik. Adanya perbedaan dalam masyarakat tersebut  seluruhnya merupakan tanggung jawab para elite tersebut  untuk dapat bekerja sama  antara satu sama lain didalam tiap lembaga kehidupan masyarakat.

Di dalam suatu masyarakat, mungkin tindak-tanduk  elite merupakan contoh, dan sangat mungkin seorang elite diharapkan dapat melakukan segala fungsi yang multi dimensi walaupun kadang sulit untuk dilaksanakan.[3]

 

 

B.     Massa

1.      Pengertian Massa

         Istilah massa digunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal  menyerupai crowd, tapi yang secara  fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.

         Massa diwakili oleh orang-orang yang berperan serta dalam perilaku massal sepertinya mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, merela yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers, atau mereka yang berperan serta dalam suatu mikrasi dalam arti luas.

2.      Hal-hal yang penting dalam massa

         Terhadap beberapa hal yang penting sebagai ciri-ciri yang membedakan didalam massa:

a.       Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbgai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakmuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya, orang-orang yang sedang mengikuti suatu proses peradilan tentang pembunuhan, misalnya melalui pers.

b.      Massa merupakan kelompok yang anonim, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonim.

c.       Sedikit sekali interaksi atau bertukar pengalaman antara anggota-anggotanya. Secara fisik mereka biasanya terpisah satu sama lain serta anonym, tidak mempunyai kesempatan untuk menggerombol seperti yang biasa dilakukan oleh crowd.

d.      Very loosely organized, serta tidak bisa bertindak secara bulat atau sebagai suatu kesatuan seperti halnya crowd.

3.      Peranan Individu-individu di dalam massa

         Penting sekali kenyataan bahwa massa adalah terdiri dari individu-individu yang menyebar secara luas diberbagai kelompok-kelompok dan kebudayaan-kebudayaan setempat. Itu berarti bahwa object of interes yang menarik perhatian dari mereka yang membentuk massa adalah sesuatu yang terletak diluar kebudayaan dan kelompok-kelompok setempat, dan oleh karena itu obyek tadi tidak dibatasi atau diterangkan dalam istilah-istilah understanding atau tertib-tertib setempat.

          Obyek yang massa interes dibayangkan sebgai penarikan perhatian orang-orang dari kebudayaan dan lingkungan hidup setempat mereka dan mengalihkannya kepada semesta yang lebih luas ke arah yang tidak dibatasi atau dilingkupi oleh tertib, peraturan-peraturan atau harapan-harapan dalam pengertian yang demikian ini massa bisa dipandang sebagai tersusun oleh individu-individu yang terlepas serta terpisah, yang menghadapi onyek-obyek atau area penghidupan yang menarik perhatian, tapi yang juga membingungkan dan sulit untuk dimegerti dan diatur.

          Sebagai konsekuensi, sebelum obyek-obyek tadi, anggota-anggota daripada tindakan-tindakannya. Lebih lanjut, mereka berada dalam situsi tidak mampu berkomunikasi satu sama lain kecuali dalam cra-cara terbatas dan tidak sempurna. Anggota-anggota dari massa dipaksa bertindak secara terpisah sebagai individu-individu.

4.      Mayarakat dan Massa

         Dari karakterisai yang singkat ini bisa dilihat bahwa massa merupakan gambaran kosong dari suatu masyarakat atau persekutuan. Ia tidak mempunyai organisasi social, tidak ada lembaga kebiasaan, dan tradisi, tidak memiliki serangkaian aturan-aturan atau ritual, tidak terdapat sentiment-sentimen kelompok yang terorganisir, tidak ada struktur status peranan, serta tidak mempunyai kepemimpinan yang mantap.

         Ia semata-mata terdiri dari suatu himpunan individu-individi yang terpisah, terlepas , anonym dan dengan begitu homogen sepanjang perilaku massa dilibatkan. Lebih lanjut ia bisa dilihat, bahwa perilaku massa hanya orang karena ia tidak diciptakan melalui aturan atau harapan yang pristabilishet, maka ia merupakan sesuatu yang spontan, orisinil serta elementer.

         Dalam hal ini massa banayak kemiripannya dengan crowd. Dalam hal yang lain, terdapat suatu perbedaan yang penting. Telah disebutkan bahwa massa tidak menggerombol atau berinteraksi sebaagi dilakukan crowd. Melainkan individu-individu yang terpisahkan satu dari yang lain dan tidak kenal satu samalain.

         Kenyataan ini berarti bahwa individu di dalam massa, lebih cenderung bertindak artas kesadaran diri yang tiba-tiba daripada kesadaran diri yang sudah digariskan. Ia cenderung bertindak atau merespon obyek-obyek yang menarik perhatian atas dasar implus-implus yang dibangkitkan olehnya daripada merespon sugesti-sugesti atau stimulasi yang ditimbulkan berdasarkan suatu hubungan yang erat.

 

5.      Hakikat dan perilaku Massa

         Secara paradoksial, bentuk perilaku massa terletak pada garis aktifitas individual dan bukan pada tindakan bersama. Aktifitas-aktifitas individual ini terutama berada dalam bentuk-bentuk seleksi, seperti,  obat gigi baru, buku-buku , permainan,  landasan partai, new fashion,  filsafat, dan lain sebagainya.

 

6.      Peran Elita terhadap Massa

         Elite sebagai minoritas yang memiliki kualifikasi tertentu yang eksistensinya sebagai kelompok penentu dan berperan dalam masyarakat diakui secara legal oleh masyarakat pendukungnya.

 Fungsi social elit sebagai berikut:

1)   Elite penentu dapat dilihat dari sebagai suatu lembaga kolektif  yang merupakan pencerminan kehendak-kehendak masyarakatnya.

2)   Sebagai lembaga politik, elite penentu mempunyai peranan memajukan kehidupan masyarakatnhya  dengan memberikan kerangkan  pemikiran konsepsional sehingga massa dapat dengan tepat menanggapi permasalahan yang dihadapinya.[4]

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Drs.Ahmadi Abu,2009.Ilmu Sosial Dasar,Elite dan Massa,PT RINEKA CIPTA,hlm.209

  Ibid,hlm.138

Keller Suzana,Penguasa dan Kelompok Elite,Rajawali,Jakarta,1984,hlm.3

Ibid,hlm.213-217

 

 

 

 



[1] Drs.Abu Ahmadi,2009.Ilmu Sosial Dasar,Elite dan Massa,PT RINEKA CIPTA,hlm.209

[2] Ibid,hlm.138

[3] Suzana Keller,Penguasa dan Kelompok Elite,Rajawali,Jakarta,1984,hlm.3

[4] Ibid,hlm.213-217

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...