MAKALAH KOMUNIKASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam melakukan komunikasi dengan baik maka seseorang
harus memperhatikan apa-apa saja yang harus di lakukan oleh seoramg komunikan,
terutama memperhatikan prinsip-prinsip dalam berkomunikasi. Semakin
berkembangnya zaman dari tahun ke tahun minta orang untuk mempelajari
komunikasi semakin banyak, bukan saja dikalangan Mahasiswa, tetapi juga
dikalangan masyarakat lainnya, apakah itu lewat seminar, diskusi dan pelatihan.
Komunikasi memang merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam kehidupan
manusia, bahkan di tengah suasana mayarakat.
Dalam hidup masyarakat, orang yang tidak pernah
berkomunikasi dengan orang lain niscayaakan terisolasi dari masyarakatnya. Maka
dari itu dalam makalah kami membahas tentang prinsip-prinsip komunikasi.
Sehinnga menghasilkan komunikasi yang baik dan dapat memberikan kreasi dalam
kehidupan. Karena komunikasi ini merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia
seperti hal nya bernafas. Sepanjang hidup maka ia perlu berkomunikasi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa-apa saja prinsip-prinsip dalam komunikasi ?
2.
Bagaimana prinsip-prinsip komunikasi dalam islam ?
3.
Apa saja prinsip komunikasinya serta aplikasinya dalam pembelajaran ?
C. Tujuan Masalah
1.
Kita dapat mengetahui apa-apa saja prinsip-prinsip dalam konunikasi.
2.
Kita dapat mengetahui bagaimana prinsip-prinsip komunikasi dalam islam.
3.
Kita dapat mengetahui apa-apa saja prinsip-prinsip komunikasi serta
aplikkasinya dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-Prinsip Komunikasi
1. Komunikasi adalah Proses Simbolik
Lambnag atau simbol adalah suatu yang digunakan untuk
menunjukkan suatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang
meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal, dan objek yang maknanya
disepakati bersama. Misalnya memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan
penghormatan atau kecintaan terhadap negara. Kemampuan manusia menggunakan
lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara
manusia dan objek.[1]
Lambnag adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara
tanda dengan objek dapat juga dipersentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon
dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua
atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang di persentasekannya. Representasi
ini ditandai dengan kemiripan. Misalnya patung Soekarno adalah ikon Soekarno,
dan foto anda di KTP adalah ikon anda.
Berbeda dengan lambang dan ikon, indeks adalah tanda
dengan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah
sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga gejala (symptom).
Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan
eksitensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan yang akan turun, sedangkan
asap merupakan indeks api. Lambang mempunyai beberapa sifat seperti berikut:
Lambang bersifat sembarang, manasuka, atau
sewenag-wenang, apa saja bisa dijadikan lambang, tergantung pada kesepakatan
bersama. Kata-kata lisan atau tulisan, isyarat anggota tubuh dan makan dan cara
makan, tempat tinggal, jabatan, olahraga hobi, peristiwa, hewan, tumbuhan,
gedung, alat (artefak), angka, bunyi dan waktu.
Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, kitalah yang
memberi makna pada lambang. Makna sebenarnya ada dalam kepala kita, bukan
terletak pada lambang itu sendiri. Walaupun ada orang yang mengatakan bahwa
kata-kata mempunyai makna, yang dimaksud sebenarnya bahwa kata-kata itu
mendorong orang untuk memberi makna (yang telah disetujui bersama) terhadap
kata-kata itu. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada hubungan yang alami
antara lambang dengan referent (objek yang dirujukkan). Misalnya anda dapat
mengatakan bahwa anda tentara karena memakai baju tentara, meskipun anda bukan
tentara.
Lambang itu bervariasi, dari suatu budaya ke budaya lain,
dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke waktu yang lain.
Begitu juga makna yang diberikan pada lambang tersebut. Misalnya, orang
Indonesia menggunakan kata buku, orang Jepang hon, orang Inggris book,
orang Jerman buch, orang Belanda boek, dan orang Arab kitab.
Makna yang diberikan pada satu lambang boleh jadi berubah dalam perjalanan
waktu, meskipun perubahan itu berjalan lambat. Misalnya, panggilan Bung pada
revolusi lazim digunakan dan berkonotasi positif karena menunjukkan
kesederajatan kini tidak populer lagi., kecuali digunakan oleh penyaji acara
olahraga ketika bicara dengan narasumbernya di studio TV.
2. Setia Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi
Kita mungkin tidak dapat berkomunikasi (we cannot
comunication). Tidak berarti bahwa semua
adalah perilaku komunikasi. Alih-alih komunikasi terjadi bila seorang memberi
makna pada perilaku orang lain atas perilakunya sendiri.
Jadi walalupun
kita bicara satu patah kata pun kapada orang lain, tapi kita tersenyum atau
cemberut itu menunjukkan komunikasi yang disebut feetback atas informasi yang
telah diberikan kepada orang lain. Misalnya tersenyum ditafsirkan bahagia,
cemberut ditafsirkan ngambek, dan ketika kita berdiam diri sekalipun seperti
mengundurkan diri dari komunikasi lalu kita menyendiri, sebebnarnya kita
mengkomunikasikan banyak pesan. Orang lain mungkin akan menafsirkan kita
sebagai malu, segan, ragu-ragu- tidak setuju, tidak peduli, marah atau mungkin
sebagai malas atau bodoh.
3. Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi
Hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal sementara dimensi
hubungan disandi nonverbal. Sedangkan dimensi hubungan yaitu bagaimana cara
mengatakannya dan bagaimana cara mengisyaratkan bagimana hubungan peserta
komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Contohnya adalah
kalimat “Aku benci kamu” yang diucapkan dengan nada menggoda mungkin itu justru
berarti sebaliknya. Seorang gadis yang mengatakan “Ih jahat kamu”, kepada
seorang pria seraya mencubit pemuda, sebenarnya tidak memasukkan kata jahat itu
dalam arti sebenarnya, melainkan mungkin sebaliknya. Sebagai tanda gemas campur
senang kepada pemuda.
Tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa
ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara berbeda. Dalam komunikasi
massa, dimensi ini merujuk kepada unsur-unsur lain termasuk juga jenis saluran
yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu pesan juga
akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda dan dengan penyampaian
orang yang berbeda pula.[2]
Pengaruh pesannya juga akan berbeda bila disajikan dengan
media yang berbeda. Cerita yang penuh dengan kekerasan sensualitas yang
disajikan Televisi menimbulkan pengaruh lebih berat, misalnya dalam bentuk
peniruan anak-anak atau remaja, bila dibandingkan dengan penyajian cerita yang
sama lewat majalah atau radio, karena televisi memiliki sifat audio visual,
sedangkan majalah memiliki visual saja, dan radio hanya memiliki sifat audio
saja.
4. Komunikasi Berlangsung dalam Tingkat
Kesenjangan
Komunikasi dilakukan dalam bentuk kesenjangan, dari
komunikasi yang tidak senganja sama sekali (misalnya ketika anda melamun
sementara orang memperhatikan anda) hingga komunikasi yang benar-benar
direncanakan dan disadari (ketika anda menyampaikan suatu pidato). Kesenjangan
bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun ia sama sekali tidak
bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain. Dalam berkomunikasi, kesadaran
kita lebih tinggi dalam situasi khusus dari pada situasi rutin. Misalnya, ketika
anda diuji secara langsung oleh dosen anda atau ketika anda berdialog dengan
orang asing yang berbahasa Inggris di bandingkan ketika anda bersenda gurau
dengan keluarga anda. Kadang-kadang komunikasi yang disengaja dibuat tampak
tidak disengaja. Jadi niat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi
seseorang untuk berkomunikasi. Dalam berrkomunikasi antara orang-orang berbeda
budaya ketidak sengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk
diperhatikan. Banyak kesalahpahaman antar budaya sebenarnya disebabkan oleh
perilaku seorang yang tidak sengaja dipersepsi., ditafsirkan dan direspon oleh
orang dari budaya lain.
5. Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang dan
Waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik/ruang,
waktu, sosial dan psikologis. Misalnya, seorang tamu hanya diterima penghuni
dihalaman rumah menunjukkan tingkat penerima yang berbeda bila dibandingkan
dengan penerima tamu di teras, ruang tamu, kamar tidur, ruang tengah. Waktu
juga mempengaruhi makna pada suatu pesan, misalnya dering telpon pada malam
hari atau dini hari akan dipersepsikan lain bila dibandingkan dengan dering
telpon di siang hari. Kehadiran orang lain sebagai konteks sosial juga akan
mempengaruhi orang-orang berkomunikasi, misalnya dua orang yang berkonflik atau
canggung jika ada disituasi berdua tida ada orang, namun dengan adanya orang
ketiga, keadaan akan lebih bisa mencair.
6. Komunikasi Melibatkan Ptediksi Peserta
Komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek
perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh
aturan atau tatakrama. Artinya, orang yang memilih strategi tertentu berdasarkan
bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prediksi ini tidak slalu
didasari, dan sering berlangsung cepat.
Misalnya, anda tidak dapat menyapa orang tua atau dosen
anda dengan “Kamu” atau “Elu”, tahu apa yang harus dikatakan “Terimakasih”
ketika anda menerima hadiah dari orang lain atau ketika anda menyenggol
oranglain tanpa disengaja “Maaf”, atau aturan jam berapa anda harus menelpon
atau menemui seseorang atau berapa lama toleransi keterlambatan anda ketika
anda bertemu dengan seseoramg. Intinya hingga derajat tertentu ada keteraturan
pada perilakun komunikasi manusia. Perilaku manusia, minimal secara parsial
dapat diramalkan. Maksudnya jika perilaku manusia itu bersifat acak, selalu
tanpa diduga, maka hidup kita akan sulit.
7. Komunikasi itu Bersifat Sistematik
Setiap individu adalah system yang hidup (A living
system). Organ-organ dalam tubuh kita saling berhubungan. Kerusakan mata dapat
membuat kepala kita pusing. Bahkan unsur diri kita yang bersifat jasmani juga
berhubungan dengan unsur kita yang bersifat rohani. Misalnya, kemarahan membuat
jantung berdetak lebih cepat dan berkeringat.
Komunikasi juga menyangkut sistem dari unsur-unsurnya.
Setidaknya dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi itu sistem
internal dan eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa
oleh seseorang ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia serap selalu
sosialnya dalam berbagai lingkungan sosialnya (keluarga, masyarakat setempat,
kelompok suku, kelompok agama, lembaga pendidikan dan lain-lain). Sistem
internal ini mengandung semua unsur yang membentuk manusia yang unik. Kita
hanya dapat menduganya lewat kata-kata yang ia ucapkan dan perilaku yang ia
tunjukkan. Jumlah sistem internal ini adalah sebanyak individu yang ada.Sistem
eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar inividu, terrmasuk
kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik, kegaduhan disekitarnya,
penata ruangan, cahaya dan temperatur ruangan. Lingkungan dan objek
mempengaruhi kita berperilaku.
8. Semakin Mirip Latar Sosial-Budaya Semakin
Efektiflah Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya
sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi).
Misalnya, penjual yang sedang datang ke rumah untuk mempromosikan barang
dianggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah membeli
barang yang ia tawarkan. Sesuai yang diharapkan penjual itu, dan tuan rumah pun
merasa puas dengan barang yang dibelinya.[3]
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang
persis sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga
yang sama, diberi makan yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun
kesamaan dalam hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat
pendidikan dan tingkat ekonomi akan mendorong seseorang untuk saling tertarik
pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka jadi lebih efektif.
Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang berkomuniksi lebih mudah
mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami
bahasa yang sama.
9. Komunikasi Bersifat Nonsekuensial
Meskipun terdapat banyak model komunikasi linier atau
satu arah, sebenarnya dalam bentuk komunikasi dasarnya (komunikasi tatap muka)
bersifat dua arah (sifat sirkuler). Ketika seseorang berbicara kepada seseorang
atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat kuliah, sebenarnya komunikasi
itu bersifat dua arah, karena orag-orang yang kita anggap sebagai pendengar
atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi “pembicara” atau pemberi pesan pada
saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.
Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk melalui proses
komunikasi, unsur-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak berpola secara kaku.
Pada dasarnya, susunan itu tidak ada pada satu tatanan yang bersifat linier,
serkuler, helikul atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh
jadi beroperasi dalam susunan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagian,
dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih
sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.
10. Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis dan
Transaksional
Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan
transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar
berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dan perilakunya). Ada orang yang
perubahannya sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu, tetapi perubahan
akhirnya (secara kumulatif) cukup besar. Namun ada juga orang yang berubah
secara tiba-tiba, melalui cuci otak atau kontroversi agama.
Misalnya, dari
seorang Nasionalis menjadi Komunis, atau dari Hindu menjadi Kristen atau
Muslim. Implisit dalam proses komunikasi transaksi ini adalah proses penyandian
(econding) dan penyandian balik (deconding). Kedua proses itu, meskipun secra
teoritis dapat dipisahkan, meskipun terjadi secara serempak, bukan bergantian.
Keserempakan inilah yang menandai adanya transaksi komunikasi.
Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan
bahwa mengalami perubahan sebagai hasil adanya komunikasi. Pernahkan anda
terlita dalam perdebatan sengit sehingga semakin keras anda katakan betapa
marahnya anda, semakin marah pula anda. Jadi, perspektif transaksional memberi
penekanan pada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling
mempengaruhi. Para pesertanya juga bergantung, dan komunikasi mereka hanya
dapat dianalisis berdasarkan konteks peristiwanya.
11. Komunikaksi bersifat Irreversible
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi
sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini setidaknya menyadarkan kita
bahwa kita harus berhati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab
yang tadi, efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya
meralatnya. Apalagi penyampaian itu dilakukan untuk pertama kalinya.
Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyampaikan
berita yang tanpa disengaja mencerminkan nama baik seseorang, maka nama baik
seseorang itu akan sulit dikembalikan lagi keposisi semula, meskipun surat
kabar, majalah, radio atau televisi telah minta maaf dan menuntut hak tanggung
jawab sumber berita secara lengkap.
12. Komunikasi Bukan Panasea untuk Menyampaikan
Berbagai Masalah
Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan
oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk
menyelesaikan persoalan atau mungkin yang berkaitan dengan masalah struktural.
Agar komunikasi efektif, kendala struktural ini juga harus diatasi.
Misalnya, meskipun
pemerintah bersusah payah menjalankan komunkikasi yang efektif denga warga Aceh
dan warga Papua, tidak mungkin usaha itu tidak berhasil bila pemerintah
memberlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan
merampas kekayaan alam mereka dan mengankutnya ke pusat.[4]
B. Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Islam
1.
Memulai Pembicaraan dengan Salam
Komunikator sangat di anjurkan untuk memulai
pembicaraan dengan mengucapkan salam yaitu ucapan “assalamu alaikum”. Keadaan
ini digambarkan rasul dalam hadisnya yang mempunyai arti: “Ucapkansalamsebelumkalam”.[5]
2.
Berbicara dengan lemah lembut
Komunikator dalam dalam komunikasi islam
ditekankan agar berbicara secara lemah lembut dan tutur kata yang baik,
sekalipun dengan orang yang secara terang-terangan memusuhinya.
3.
Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik
4.
Berlaku adil
Dalam surah Al-An’am ayat 152 dijelaskan
untuk berlaku adil yaitu:
ولاتقربومال اليتيم الاباالتي هي احسن حتئ يبلغ
اشده واوفواالكيل والميزان بالقسط لانكلف نفسا الاوسعها واذاقلتم فاعدلواولوكان
ذاقربئ وبعهداللهاوفوا ذالكم وصكم به تعلكم تذكرون
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim,
kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa dan
sempurnakan lah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan bebean
kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya dan apabila kamu berkata,
maka hendaklah kamu berlaku adil, sekalipun ia
adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu
diperintahkan Allah kepada mu agar kamu ingat. (Q.S Al-An’am: 152)
5.
Berdiskusi dengan cara yang baik
6.
Prinsip ikhlas dan kejujuran
Suatu pesan tidak akan berdampak positifkepada
komunikan jika diterima dengan hati yang tidak ikhlas. Ikhlas adalah kerja
hati. Jika tidak ikhlas menyampaikan atau menerima pesan artinya tidak sucinya
keinginan untuk menyampaikan atau menerima pesan.
7.
Prinsip kebersihan
Islam sangat menekankan prinsip kebersihan
terutama dalam menyampaikan pesan.[6]
C. Prinsip-Prinsip Komunikasi dan Aplikasi dalam
Pembelajaran
Dalam melakukan komunikasi laizim dikenal prinsip
“5W+1H”, penerapan “5W+1H” ini mudah dipahami dalam melakukan komunikasi.
Karena dalam berkomunikasi dapat kita tafsirkan dari kewajiban komunikator
maupun kewajiban komunikan itu sendiri dalam melakukan komunikasi.[7]
Adapun prinsip komunikasi dan aplikasinya dalam proses
pembelajaran adalah:
1. Prinsip Komunikasi dalam Metode Ceramah
Metode ceramah atau kuliah adalah sebuah metode pengajaran oleh guru secara
monolog dan hubungan satu arah. Jika dicermati, metode ini memiliki kelemahan
seperti membuat siswa pasif, karena perhatian berpusat pada guru. Serta
menghambat daya kritis siswa karema segala informasi yang disampaikan oleh guru
biasanya ditelam mentah-mentah tanpa dibedakan apakah informasi itu benar atau
salah, dipahami sepenuhnya atau tidak. Dengan demikian, sulit bagi siswa untuk
mengembangkan segala kreatifitas ranah ciptanya secara optimal.
2. Prinsip Komunikasi dalam Diskusi
Diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisi pertukaran pendapat yang
dulakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari
kebenaran. Jika dilihat dari teknik pelaksanaannya diskusi dapat digolongkan
menjadi dua:
a. Debat, didalam debat terdapat dua kelompok
berbeda pendapat yang mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pendengar
menjadi faktor penentu kemenangan.agar debat tidak berkepanjangan perlu diatur
secara rapi mengenai mekanisme pelaksanaan dan waktunya.
b. Diskusi, diskusi pada dasarnya merupakan
musyawarah, mencari titik pertemuan pendapat tentang suatu masalah. Jika
ditinjau dari pelaksanaannya diskusi dibagi menjadi beraneka bentuk,
diantaranya Diskusi kelas, Diskusi kelompok. Metode diskusi berfungsi untuk
merangsang siswa berfikir mengenai persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan
satu cara saja, tetapi memerlukan wawasan yang mampu untuk mencari jalan
terbaik.
Demikian juga dengan metode diskusi.
Dari sisi kelebihan metode diskusi membuat suasana kelas menjadi hidup,
meningkatkan daya pikir dan kepribadian siswa seperti toleransi, demokrasi,
berpikir kritis, sistematis dan objektif. Selain itu, metode diskusi juga dapat
membantu siswa mengambil keputusan yang lebih baik yang bertujuan untuk menampung
pendapat orang banyak.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi mempunyai beberapa prinsip-prinsip
yang harus diperhatikan, dan prinsip-prinsip ini mempunyai peran penting untuk
seseorang yang melakukan komunikasi baik secara individu maupun denagn orang
lain. Adapun prinsip-prinsip komunikasi itu ialah, komunikasi adalah proses
simbolik setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi, komunikasi mempunyai
dimensi isi dan dimensi hubungan. Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat
kesenjangan, komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu, komunikasi melibatkan
pradiksi peserta komunikasi, komunikasi itu bersifat sistematik, semakin mirip
latar belakang sosial-budaya semakin efektiflah komunikasi. Komunikasi bersifat
Nonsekuensial, Dinamis, Prosesual, Transaksional, Irreversible, Komuniksi bukan
panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Adapun prinsip-prinsip komunikasi dalam islam
ialah, memulai pembicaraan dengan salam, berbicara dengan lemah lembut,
menggunakan hikmah dan nasehat yang baik, prinsip ikhlas dan kejujuran, prinsip
kebersihan. Sedangkan prinsip komunikasi dan aplikasinya dalam pembelajaran
ialah, prinsip komunikasi dalam metode ceramah dan prinsip komunikasi dalam
diskusi.
B. Saran
Semoga dengan makalah yang kami susun dengan kerja sama
ini, dapat menui hasil yang baik untuk kita maupun pembaca sekalian., apalagi
kita sebagai mahasiswa komunikasi itu sendiri, dan saran kami semoga
teman-teman sekalian bisa menjadi seorang komunikasi yang baik dengan
memperhatikan prinsip-prinsip seorang komunikasi dalam melakukan proses
komunikasi.
Saya mohon maaf jika penulisan makalah ini
masih kurang penyajiannya, karena manusia tidak ada yang sempurna, kesempurnaan
hanya milik Allah semata.
DAFTAR PUSTAKA
Dedy Mulyana. 2008, Ilmu Komunikasi Suatu
Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya
Harjani Hepni. 2005, Komunikasi Isla m, Jakarta:
Prenada Media Group
May Rudi. 2005, Komunikasi dan Hubungan
Internassional Masyarakat, Bandung: Refika Aditama
Muhibbin Syah. 2004, Psikologi Pendidikan
dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya
Syukur Kholil. 2007, Komunikasi Islam,
Bandung: Cita Pustaka Media
www. Gudang Materi.com/2017/14/prinsip-prinsip
komunikasi. Html-1
[1]Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 92
[2]Ibid, hlm. 105-109
[3]Op.Cit, hlm. 113-115
[4]Www. Gudang Materi.com/2017/14/prinsip-prinsip
komunikasi. Html-1
[5]Syukur Kholil, Komunikasi Islam, (Bandung:
Cita Pustaka Media, 2007), hlm. 8-10
[6]Hurjani Hepni, Komunikasi Islam, (Jakarta:
Pernada Media Group, 2005), hlm. 226
[7]May Rudi, komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional,
(Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 6
[8]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 204