Rabu, 15 Juni 2022

Makalah Fungsi dan Teori Dalam Bimbingan

 



Fungsi Dan Teori Dalam Bimbingan 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Konseling merupakan sebuah penemuan abad ke 20  yang muncul berdasarkan atas tuntutan kompleksitas kehidupan masyarakat. Dalam proses perjalanan hidup, individu dapat mengalami peristiwa dan situasi yang menimbulkan masalah yang tidak mungkin dapat diatasinya. Alternatif yang pada umumnya digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi individu adalah membicarakannya dengan keluarga, teman, guru dan ahli agama. Namun, tidak semua orang yang dijadikan tempat berbagi dan diminta bantuan untuk mengatasi masalah individu dapat membantu menyelesaikannya sesuai dengan keinginan individu. Berdasarkan kondisi tersebut konseling merupakan pilihan yang efektif untuk mengatasi masalah individu.

Di Indonesia, perkembangan profesi konselor sekolah atau guru bimbingan dan konseling telah diawali sejak tahun 1960-an. Bimbingan konseling masuk ke dalam kuriulum sekolah sejak tahun 1965 yang mencantumkan, bahwa pelayanan bimbingan dan konseling merupakan layanan yang tidak terpisahkan dari keseluruhan system pendidikan di sekolah.

Sejak konseling mulai diperkenalkan sebagai sebuah layanan dan pekerjaan, terdapat banyak sekali definisi dan konsep dasar konseling yang telah dikemukakan oleh para ahli. Menurut Burks dan Stefflre (1976), konseling merupakan hubungan professional antara konselor terlatih dan konseli. Konseling didesain untuk menolong konseli untuk memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupaan, dan untuk membantu mencapai tujuan penetuan diri (self determination).

Dalam pemberian bimbingan konseling diperlukan dasar - dasar yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pemberian bimbingan. Prinsip-prinsip yang digunakan untuk mengambil langkah dengan memperhatikan masalah dari berbagai prespektif atau sudut pandang tertentu yang biasa disebut dengan teori-teori bimbingan konseling. Oleh karena itu,dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mengenai teori-teori konseling

 

B.     Rumusan masalah

1.      Apakah pengertian, sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling?

2.      Apa saja macam – macam teori dalam bidang konseling?

C.    Tujuan penulisan

1.      Agar kita mengetahui pengertian, sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling

2.      Agar kita mengetahui Apa saja macam – macam teori dalam bidang konseling

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    pengertian, sifat dan fungsi teori dalam Bimbingan Konseling

Teori konseling ialah konseptualisasi atau kerangka acuan berpikir tentang bagaimana  proses konseling berlangsung.Teori juga dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan sebagai kerangka untuk pelaksanaan penelitian; sejumlah proposisi yang terintegrasi secara sintaktik (mengikuti aturan tertentu) dan digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati dan pada umumnya diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data untuk menjelaskan suatu fenomena.[1]

Teori yang baik adalah teori yang memiliki sifat jelas, komprehensif, parsimious atau dapat menjelaskan data secara sederhana dan jelas, serta dapat menghasilkan penelitian yang bermanfaat.

Teori memiliki beberapa fungsi, yaitu memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik, menjadikan hal-hal yang bersifat kompleks menjadi sederhana, menyusun pengalaman-pengalaman sebelumnya, mensistematikkan penemuan-penemuan, melahirkan hipotesis-hipotesis, membuat prediksi, dan memberi penjelasan.

 

B.     Macam-macam teori dalam bidang konseling

Teori dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan sebagai kerangka untuk pelaksanaan penelitian; sejumlah proposisi yang terintegrasi secara sintaktik (mengikuti aturan tertentu) dan digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati dan pada umumnya diartikan sebagai suatu pernyataan prinsip-prinsip umum yang didukung oleh data untuk menjelaskan suatu fenomena.

Pendekatan Konseling (counceling Aproach) disebut juga teori konseling, merupakan dasar bagi suatu praktek konseling. Pendekatan itu dirasakan penting karena jika dapat dipahami berbagai pendekatan atau teori-teori konseling, akan memudahkan dalam menentukan arah proses konseling. Akan tetapi untuk kondisi Indonesia memilih satu pendekatan teori secara fanatic dan kaku adalah kurang bijaksana. Hal ini disebabkan satu teori konseling biasanya dilator belakangi oleh paham filsafat tertentu yang mungkin saja tidak sesuai dengan filsafat di Indonesia.

Untuk mengatasi hal tersebut maka pendekatan yang dilakukan dalam konseling bukanlah pendekatan atau teori tunggal (single theory). Akan tetapi memilih bagian-bagian dari bebrapa pendekatan yang relevan, kemudian secara sintesis-analitik diterapkan kepada kasus yang dihadapi. Pendekatan seperti itu dinamakan Creative-Synthesis-Analytic (CSA). Allen E.Ivey (1980) menyebut pendekatan ini dengan nama Electic Approach yaitu memilih secara selektif bagian-bagian teori yang berbeda sesuai kebutuhan konselor.

Adapun macam-macam teori bimbingan konseling itu amatlah banyak, antara lain[2]

1.      Teori Psikoanalisis (Freudian)

a.       Pengertian Psychonalysis Teraphy

Terapi Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisa ialah Sigmund Freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadiaan. Konsep-konsep psikoanalisa banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling.a mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidak sadaran. Sedangkan alam kesadarannya dapat di umpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut. Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkannya alam ketidak sadaran manusia.

Pendekatan psikoanalisis menganggap bahwa tingkah laku abnormal di sebabkan oleh faktor-faktor intropsikis (konflik tidak sadar, represi, mekanisme defensif) yang menggangu penyesuaian diri. menurut Freud, esensi pribadi seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Freud beranggapan bahwa gangguan jiwa pada orang dewasa, pada umumnya berasal dari pengalaman pada masa kanak-kanak. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan psychonalysis teraphy adalah teknik atau metode pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini.

2.      Teori Psikologi Individu ( Adlerian)

a.       Konsep dasar

Psikologi individu sering disebut terapi adlerian karena pencipta awalnya adalah Alfred Adler, salah satu kolega freud yang awalnya termasuk lingkaran gerakan psikoanalisis,namun keluar karena tidak menyetujui beberapa bagian teori tersebut. Kerja dan riset Adler mempengaruhi banyak psikolog dan terafis besar yang kemudian mengikuti jejaknya seperti Albert Ellis, victor Frankl, Rudolf Dreikurs, Rollo Maydan wiliam Glaser.

Psikologi individu melihat pribadi secara menyeluruh dan berfokus pada keunikannya. Pandangan adler tentang manusia menawarkan sebuah focus alternative yang positif dan menyegarkan bagi teori psikoanalisis Freud. Diinti teorinya terdapat sebuah keyakinan kalau manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengatasi kelemahan yang disadarinya, untuk kemudian mengembangkan potensinya sendiri menuju aktualisasi diri. Apalagi jika ditaruh di dalam lingkungan positif, pertumbuhan tersebut pasti akan terjadi.

Kalau begitu, apakah yang menahan seseorang untuk bergerak secara cepat dan mudah menuju realisasi diri? Menurut Adler, jawabnya ialah perasaan inferior. Seseorang biasanya mengalami perasaan tersebut lewat tiga sumber yaitu:

1)      ketergantungan biologis dan ketergantungan umumnya layaknya bayi;

2)      gambar diri yang dianggap kecil ketika dibandingkan dengan sesuatu yang agung, mulia atau besar; dan

3)       inferioritas organ tubuh ( bahasa awamnya lemah, minder, dan cacat). Namun, dorongan dalam diri sendiri umumnya memampukan subjek, mengkompensasikan perasaan-perasan ini untuk berjuang meraih superioritas  dan kesempurnaan. 

Teori adlerian kadang disebut perspektif sosioteologis ketika membahas perjuangan konstan individu menjcapai tujuan mereka. Adler juga menekankan pentingnya pengembangan minat sosial klien untuk kemudian mendidik lembali mereka agar mampu hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai pribadi yang sanggup memberikan sesuatu bagi masyarakat, jadi bukan Cuma menerima dan menuntut.

Ketika seseorang datang untuk menjalani terapi, diasumsikan ia tengah mengalami ketidakkongruenan dan ketidaknyamanan di dalam :kerja, persahabatan, atau cinta. Proses konseling kemudian dilihat sebagai cara terapis dank lien bekerja sama untuk membantu klien mengembangkan kesadaran, sikap dan perilaku yang lebih sehat sehingga sanggup berfungsi lebih penuh di masyarakat. Pengembangan minat social dianggap variable paling mencolok dari kesehatan mental seseorang.

b.      Proses Konseling  

Proses konseling Adlerian melibatkan empat tahap:

1)      Membangun relasi

Di sesi pertama konselor menetapkan sebuah relasi dengan klien lewat interview subjektif/objektif yang di dalamnya klien dibantu merasa nyaman, diterima, dihargai dan diperhatikan. Melalui komponen objektif interview, klien diharapkan mengerti apa yang dibutuhkan secara spesifik dari proses konseling. Klien di minta mendiskusikan bagaimana hal-hal tertentu berlangsung di setiap wilayah tugas hidupnya.

2)      Mendiagnostik

Tahap diagnostic meliputi interview gaya hidup, prosedur asesmen formal yang melihat hal-hal seperti konstelasi keluarga, persepsi orang tua, rekoleksi tentang periode awal hidupnya, dan mimpi yang terus berulang.

3)      Fase interpretasi

Yaitu waktu ketika konselor dank lien mengembangkan pemahaman dari interview gaya hidupnya tentang kekeliruan dasar klien dengan menganalisis dan mendiskusikan keyakinan, tujuan dan gerakan yang dikembangkan klien pada awal kehidupan, dan menjamin pola dan sikap pikiran, emosi dan perilaku.[3]

3.      Teori Person Centered (Rogerian)

a.       Konsep teori Person Centerd

Menurut Rogers, konstruk inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau perwujudan diri. Dikatakan bahwa konsep diri atau struktur diri dapat dipandang sebagai konfigurasi konsepsi yang terorganisasikan tentang diri yang membawa kesadaran.

Teori kepribadian Rogers yang disebut sebagai “the self theory”  yaitu:

1)      Tiap individu berada di dalam dunia pengalaman yang terus menerus berubah, dan dirinya menjadi pusat.

2)      Individu mereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan apa yang dialami dan ditanggapinya.

3)      Individu memiliki satu kecendrungan atau dorongan utama yang selalu diperjuangkannya, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan memperluas pengalamannya.

4)      Individu mereaksi terhadap gejala kehidupan dengan cara keseluruhan yang teratur.

5)       Tingkah laku atau tindakan itu pada dasarnya adalah suatu usaha mahluk hidup yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan yang dialami dan dirasakan.

6)      Emosi yang menyertai tindakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sesungguhnya merupakan suatu yang memperkuat usaha individu mencari sesuatu ataupun memuaskan kebutuhannya untuk memelihara dan mengembangkan dirinya.

7)       Cara yang terbaik untuk memahami tingkah laku seseorang ialah dengan jalan memandang dari segi pandangan individu-individu itu sendiri.

b.      Tujuan konseling[4]

Terapi terpusat pada klien yang dikembangkan oleh cars R. Rogers pada 1942 bertujuan untuk membina kepribadian klien secara Integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan memcahkan masalah sendiri.

Kepribadian yang Integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai antara gambaran tentang diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang berdiri sendiri adalah yang mampu menentukan pilihan sendiri atas dasar tanggungjawab dan kemampuan. Tidak tergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya (kekuatan dan kelemahan diri), dan kemudian keadaan diri tersebut harus ia terima.

Untuk mencapai tujuan itu diperlukan beberapa syarat yakni:

1)      kemampuan dan keterampilan teknik konselor;

2)      kesiapan klien untuk untuk menerima bimbingan;

3)      taraf intelegensi klien memadai.

 

c.       Proses Konseling

Pendekatan yang berpusat pada klien menggunakan sedikit tekhnik, akan tetapi menekankan sikap konselor. Tehknik dasar adalah mencakup, mendengar, dan menyimak secara aktif, refleksi, klariflkasi, “being here” bagi klien. Konseling berpusat pada klien tidak menggunakan tes diagnostik, interpretasi, studi kasus, dan kuesioner untuk memperoleh informasi. Tekhnik-tekhnik itu dilaksanakan dengan jalan wawancara, terapi permainan, dan terapi kelompok, baik langsung atau tidak langsung. Keberhasilan terapi tergantung kepada faktor-faktor tingkat gangguan psikis, struktur biologis klien, lingkungan hidup klien, dan ikatan emosional.[5]

4.      Behavior

Setiap dari kita memiliki pola-pola perilaku unik, dan sebagian besar dari kita bersikap dengan cara tertentu bahkan kenapa orang lain berperilaku tertentu. Meskipun kita memiliki hanya bukti anekdot dan bukannya buku ilmiah, namun kita dapat mengembangkan, seperti dilakukan banyak orang pada umumnya, teori kepribadian kita sendiri mengenai perilaku.

Riset dan publikasi penting pendekatan klasik dari teori ini dilakukan oleh  watson, Thordike dan teoritis awal lainnya, namun pada B.F. Skinner pendekatan behavioral dikembangkan. Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain,belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.

Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati.

a.       Tujuan Konseling

Tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu klien membuang respon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang baru yang lebih sehat. Terapi ini berbeda dengan terapi lain, dan pendekatan ini ditandai:

1)      Fokusnya pada perilaku yang tampak dan spesifik

2)      Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatmen (perlakuan)

3)      Formulasi prosedur treatment khusus sesuai dengan masalah khusus

4)      Penilaian objektif mengenai hasil konseling

b.      Proses Konseling

1)      Konselor harus memahami dan menerima klien

2)      Keduanya harus bekerja sama, klien harus mampu berpartisipasi dalam kegiatan konseling, ia harus memiliki motivasi untuk berubah.

3)      Konselor memberikan bantuan dalam arah yang diinginkan klien

Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respons pun akan tetap dikuatkan.

5.      Gestalt

Pandangan Gestalt tentang manusia berakar pada filsafat eksistensial dan fenomenologi. Ia menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tanggung jawab pribadi, kesatuan pribadi, dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran. Terapi di arahkan bukan pada analisis, melainkan pada integrasi yang berjalan selangkah demi selangkah dalam terapi sampai klien menjadi cukup kuat untuk menunjang pertumbuhan pribadinya sendiri.

Perls memandang manusia dalam keterlibatannya untuk mencapai keseimbangan, bilamana kehidupannya terganggu oleh kebutuhan dunia, gangguan ini akan menimbulkan ketegangan dan diperlukan keseimbangan untuk mengurangi dan menghilangkan ketegangan tersebut. Dalam keadaan sehat seseorang akan mampu menerima dan bereaksi terhadap keadaan dunia. Tetapi kalau keadaannya menjadi tidak seimbang, maka akan timbul ketakutan dan menghindar untuk mengetahui menyadari. Jadi aktivitas yang menandai ciri-ciri seimbang dan sehat tidak ada maka perlu penyadaran ulang agar keseimbangan tercapai. Untuk itu diperlukan teknik agar seseorang membukakan diri secara langsung terhadap pengalaman yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan tindakan sekarang ini.

Pandangan teori dan terapi Gestalt terhadap manusia, sama halnya dengan pandangan eksistensialistik-humanistik, ialah positif bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu dan manusia adalah makhluk yang mampu mengurus diri sendiri. Manusia dilihat sebagai keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUPAN

 

A.   Kesimpulan

Ada banyak teori bimbingan konseling, pemakaian satu teori secara mutlak tidak lah satu keharusan tergantung kepada permasalahan yang di hadapi oleh klien. Masalah yang sama juga bias dipecahkan menggunakan teori pendekatan yang berbeda sesuai dengan kondisi di lapangan yang bias saja dipengaruhi soial budaya dari pada klien. Contoh pada sekolah klien nya tentulah peserta didik. Sama-sama memiliki gangguan belajar maka tetapi karena factor penyebabnya beragam maka penanganan dari konselingnya juga harus berbeda.

Teori teori yang terkenal di dunia antara lain, teori Pskikoanalisis, teori pskikologi individu, teori behavior, teori Client centered, teori Gestalt dan lain sebagainya.

B.   Saran

Sebagai penyusun merasa masih ada kakurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh sebab itu, saya mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar penulis dapat memperbaiki makalah selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Mohammda dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja.2005. Jakarta: Bumi Aksara

Sarwono, Sarlito Wirawan. Teori-Teori Psikologi Sosial. 2011. Jakarta: PT Raja grafindo   persada



[1] Mohammda ali dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja. (Jakarta: Bumi Aksara, 2005) hlm. 187

[2] Ibid., hlm 189

[3] Ibid., hlm 205

[4] Sarlito Wirawan sarwono. Teori-Teori Psikologi Sosial. (Jakarta: PT Raja grafindo persada, 2011). Hlm 69

[5] Ibid., hlm 70

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...