Senin, 13 Juni 2022

Pengertian Unsur dan Fungsi Komunikasi

 


unsur fungsi dan pengertian komunikasi 

BAB I

PENDAHULUAN



 

A.    Latar Belakang

Ada dugaan kuat bahasa nonverbal muncul sebelum bahasa verbal. Konon, hewan perimata (kera, monyet, gorila, dan sejenisnya) berevolusi sejak kira-kira 70juta tahun lalu, salah satu spesies berkembang menjadi mahluk yang mirip manusia (hominid). Komunikasi Verbal termasuk penggunaan kata-kata atau tulisan. Bahasa yang digunakan seseorang biasanya mengisyaratkan arti khusus yang kadang hanya dimengerti oleh komunitas tempat individu berbeda. Sehingga dengan bahasa yang diucapkan atau dituliskan. kita dapat menebak seseorang berasal dari komunitas mana.

Bentuk awal komunikasi mendahului evolusi bagian otak (neocortex) yang berperan dalam penciptaaan manusia. Jadi komunikasi nonverbal lebih tua dari pada komunikasi verbal. Kita lebih awal melakukannya, karena usia kira-kira 18 bulan, kita bergantung kepada sentuhan, senyuman, pandangan mata, dan sebagainnya.

Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak, isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata. penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainnya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanaan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

B.     Rumusan Masalah

a.       Apa pengertian, unsur, dan fungsi dari Komunikasi Verbal?

b.      Apa pengertian, kakteristik, bentuk-bentuk, dan fungsi dari Komunikasi Nonverbal?

 

 

C.    Tujuan

Adapun tujuan makalah ini dibuat adalah untuk membantu memberikan penjelasan kepada pembaca tentang Komunikasi Verbal dan Nonverbal dan menjadi pengetahuan bagi teman-teman yang membaca sebagai meteri pembelajaran.

 

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Komunikasi Verbal

a.       Pengertian Komunikasi Verbal

Melalui bahasa nasional, orang bisa berhubungan tanpa memandang agama dan warna kulit. Demikian juga dengan halnya bahasa inggris yang diterima sebagai bahasa di dunia, memungkinkan orang bisa kemana-mana tanpa banyak menemukan kesulitan.

Sebagai alat pengikat dan perekat dalam hidup bermasyarakat, bahasa dapat membantu kita menyusun struktur pengetahuan menjadi logis dan mudah diterima oleh orang lain. Sebab bagaimana sebuah ide, jika tidak disusun dengan bahasa yang lebih sistematis sesuai dengan aturan yang telah diterima maka ide yang baik akan menjadi kacau.[1]

Potter dan Perry (1987) menyatakan bahwa komunikasi verbal termasuk penggunaan kata-kata atau tulisan. Bahasa yang digunakan seseorang biasanya mengisyaratkan arti khusus yang kadang hanya dimengerti oleh komunitas tempat individu berbeda. Sehingga dengan bahasa yang diucapkan atau dituliskan. kita dapat menebak seseorang berasal dari komunitas mana.

Contoh: komunikasi verbal melalui lisan dapat dilakukan dengan menggunakan media, seperti seseorang yang bercakap-cakap melalui telepon. Sedangkan komunikasi verbal melalui tulisan dilakukan dengan secara tidak langsung antara komunikator dengan komunikan. Proses penyampaian informasi dilakukan dengan menggunakan berupa media surat, lukisan, gambar, grafik dan lain-lain.

 

b.      Unsur Komunikasi Verbal

Lebih lanjut Potter dan Perry (1987) mengidentifikasi bahwa komunikasi verbal sangat dipengaruhi beberapa faktor yaitu denotative dan connotative meaning (kemaknaan), vocabulary (perbendaharaan kata), pacing (kecepatan), intonation (nada suara), clarity dan brevity (kejelasan dan keringkasan), dan timing and relevance (waktu dan relevasi).

 Kemaknaan dari kata, kalimat, atau bahasa yang digunakan seseorang menjadi hal yang sangat relevan untuk dikaji dan dimengerti oleh orang yang sedang melakukan proses komunikasi verbal. Sebab bisa jadi satu kata akan mengandung beribu makna. Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu:

a)      Bahasa

Pada dasarnya bahasa adalah suatu sistem lamabang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, lambing bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal melalui lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektroni. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antar warganya satu sama lain.

Bahasa memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Ketiga fungsi itu adalah:

1.      Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita.

2.      Untuk membina hubungan yang baik diantara sesame manusia.

3.      Untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.

Menurut para ahli, ada tiga teori yang membicarakan sehingga orang bisa memiliki keputusan berbahasa:

1.      Teori Operant Conditioning yang dkembangkan oleh seorang ahli psikologi oleh seorang ahli psilkologi behavioristik yang bernama B. F. Skiner (1957).

 Teori ini menekankan unsur rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response) atau lebih dikenal dengan istilah S. R. teori ini menyatakan bahwa jika satu organisme dirangsang oleh stimuli dari luar, orang cenderung akan memberi reaksi. Anka-anak mengetahui bahasa karena ia diajarkan oleh orang tuanya atau meniru apa yang diucapkan oleh orang lain.

2.      Teori Kognitif yang dikembangkan oleh Noam Chomsky. Menurutnya kemempuan berbahasa yang ada pada manusia adalah pembawaan biologis yang dibawa lahir.

3.      Teori Mediating theory atau teori penengah. Dikembangkan oleh Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap rangsangan (stimuli) yang diterima dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi dalam dirinya.[2]

b)      Kata

Kata merupakan inti lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambang yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, seperti orang, barang, kejadian, atau keadaan.

 Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran.

c.       Fungsi Komunikasi Verbal

Secara garis besar fungsi komunikasi verbal ada dua funsgi terhadap masyarakat dan fungsi terhadap individu. Menurut Lasswell dan Wright ada empat fungsi sosial, yaitu:

1.      Pengawasan lingkungan.

2.      Korelasi antar bagian dalam masyarakat terhadap lingkungannya.

3.      Sosialisasi.

4.      Hiburan.

Kemudian menurut Lazarsfeld dan Merton fungsi sosial komunikasi verbal adalah:

1.      Memberikan status.

2.      Memperkokoh norma-norma sosial.

Meskipun komunikasi melalui media massa itu fungsional, tetapi dapat berubah menjadi disfungsional. Sedangkan, fungsi terhadap individu ada tujuh:

1.      Pengawasan atas pencarian informasi.

2.      Mengembangkan konsep diri.

3.      Fasilitas dalam hubungan sosial.

4.      Subsitusi dalam hubungan sosial.

5.      Membantu melegakan emosi.

6.      Pelarian dari ketegangan dan keterasingan.

7.      Sebagai bagian dari kehidupan rutin atau ritualisasi.

Menurut Samovar (Ilya Sunarwadi, Komunikasi Antar Budaya), bahwa dalam suatu peristiwa komunikasi, perilaku nonverbal digunakan secara bersama-sama dengan bahasa verbal.[3]

 

B.     Komunikasi Nonverbal

1.      Pengertian Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak, isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata.

 penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainnya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanaan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Para ahli dibidang komunikasi nonverbal biasanya menggunkan defenisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi nonverbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya bahasa isyaratdan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.[4]

2.      Karakteristik Komunikasi Nonverbal

Salah satu cara mendefenisikan komunikasi nonverbal adalah berdasarkan katagori sebagai berikut teori pemilihan umum dalam karakteriristik komunikasi kelompok apapun fungsi yang disandangnya, baik primer maupun sekunder nonverbal, isyarat badaniah (gerstural), bergambar (pictorial) karakteristik perasaan-perasaan (emosi kita) melalui pesan-pesan nonverbal.

Komunikasi nonverbal merupakan salah satu bentuk media komunikasi yang berupa mengemas pesan nonverbal dengan cara yang tepat sesuai dengan karakteristik. Beberapa karakteristik dari  komunikasi nonverbal, yaitu:

1)      Kita selalu berkomunikasi.

2)      Arti tergantung kepada konteks.

3)      Komunikasi nonverbal lebih dapat dipercaya.

4)      Cara untama menyatakan perasaan dan sikap

 

3.      Bentuk-bentuk Komunikasi Nonverbal

1)      Komunikasi Visual

Komunikasi visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar-gambar, grafik-grafik, lambang-lambang, atau simbol-simbol.

Dengan menggunakan gambar-gambar yang relevan, dan penggunaan warna yang tepat, serta bentuk yang unik akan membantu mendapat perhatian pendengar. Dibandingkan dengan hanya mengucapkan kata-kata saja, penggunaan komunikasi visual ini akan lebih cepat dalam pemerosesan informasi kepada pendengar.[5]

2)      Komunikasi Sentuhan

Ilmu yang mempelajari tantang sentuhan dalam komunikasi nonverbal sering disebut Haptik. Sebagai contoh: bersalaman, pukulan, mengelus-ngelus, sentuhan di punggung dan lain sebagainnya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu maksud atau tujuan tertentu dari orang menyentuhnya.

3)      Komunikasi Gerakan Tubuh

Kinesik atau gerakan tubuh merupakan bentuk komunikasi nonverbal seperti, melakukan kontak mata, ekspresi wajah,, isyarat dan sikap tubuh. Gerak tubuh digunakan untuk menggantikan suatu kata yang diucapkan.

 Dengan gerakan tubuh, seseorang dapat mengetahui informasi yang disampaikan tanpa harus mengucapkan suatu kata. Seperti menggunakan kepala berarti setuju. Contoh:  isyarat tangan dan kepala.

 

4)      Komunikasi Lingkungan

Lingkungan dapat memiliki pesan tertentu bagi orang yang melihat atau merasakannya. Contoh: jarak, ruang, temperatur dan warna. Ketika seseorang menyebutkan bahwa “jaraknya sangat dekat”, “ruangan ini bersih”, “lingkungannya dingin” dan lain-lain, berarti seseorang tersebut menyatakan demikian karena atas dasar pengelihatan dan perasaan kepada lingungan tersebut.

5)      Komunikasi Penciuman

Komunikasi penciuman merupakan salah satu bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan atau infomasi melalui aroma yang dapat dihirup oleh indra penciuman.

Misalnya aroma masakan, seseorang tidak akan memahami bahwa masakan tersebut termasuk masakan apa bila ia hanya menciumnya sekali.

6)      Komunikasi Pemanpilan

Seseorang yang memakai pakain rapi atau dapat dikatakan penampilan yang menarik, sehingga mencerminkan kepribadiannya. Hai ini merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. Tetapi orang akan menerima pesan berupa tanggapan yang negative apabila penampilannya buruk (pakaian tidak rapi, kotor dan lain-lain).

7)      Komunikasi Citarasa

Komunikasi citarasa merupakan salah satu bentuk komunikasi, dimana penyampain sesuatu pesan atau informasi melalui citarasa dari suatu makanan dan minuman. Seseorang tidak akan mengatakan bahwa suatu makanan atau minuman memiki rasa enak, manis, lezat dan lain-lain, apabila makanan tersebut telah memakan atau meminumnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa citarasa dari makanan atau minuman tadi menyampaikan suatu maksud atau makna.

 

4.      Fungsi Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal dapat menjalankan fungsi penting, periset nonverbal mengindentifikasi enam fungsi utama (Ekman, 1965, Knapp,1978).

1)      Untuk menekankan

Kita menggunakan komunikasi nonverbal untuk menonjolkan atau menekankan bagian dari pesan verbal. Misalnya saja, mungkin tersenyum untuk menekankan kata atau ungkapan tertentu, atau memukulkan tangan ke dinding untuk menekankan suatu hal tertentu.

2)      Untuk melengkapi atau Complement

Untuk memperkuat warna atau sikap umum yang dikomunikasikan oleh pesan verbal. Jadi,  anda mungkin menagis ketika menceritakan kisah sedih atau menggeleng-gelengkan kepala ketika menceritakan ketidak jujuran seseorang.

3)      Untuk menunjukan kontradiksi

Kita secara sengaja mempertentangkan pesan verbal kita dengan gerakan nonverbal. Contohnya anda dapat menyilangkan jari anda atau mengedipkan mata untuk menunjukkann bahwa apa yang anda katakan tidak benar

4)      Untuk mengatur

Gerak-gerik nonverbal dapat mengendalikan atau mengisyaratkan keinginan anda untuk mengatur arus pesan verbal. Mengerutkan bibir, mencondongkan badan kedepan atau membuat gerak tangan untuk menunjukkan bahwa anda ingin mengatakan sesuatu. merupakan contoh-contoh dari fungsi mangatur ini. Anda mungkin juga mengangkat tangan atau menyuarakan jeda contoh menggunakn kata “emm” untuk memperlihatkan bahwa anda belum selesai bicara.

 

5)      Untuk mengulagi

Kita dapat mengulangi atau merumuskan ulang makna dari pesan verbal. Misalnya, anda dapat menyertai pertanyaan verbal “apa salah?” dengan mengangkat alis mata anda atau anda dapat menggerakkan kepala atau tangan untuk mengulangi pesan verbal “ayo kita pulang”.

6)      Untuk menggantikan

Komunikasi nonverbal juga dapat menggartikan pesan verbal. Misalnya, “sip” dengan tangan anda tanpa berkata apa-apa. Anda dapat menganggukan kepala untuk mengatakan “iya” atau menggelengkan kepala untuk mengatakan “tidak”.[6]

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Komunikasi Verbal adalah penggunaan kata-kata atau tulisan. Bahasa yang digunakan seseorang biasanya mengisyaratkan arti khusus yang kadang hanya dimengerti oleh komunitas tempat individu berbeda. Sehingga dengan bahasa yang diucapkan atau dituliskan.

Unsur komunikasi verbal yaitu bahasa dan kata. Bahasa adalah suatu sistem lambang yang memungkikan orang berbagi makna. Lambang komunikasi yang digunakan adalah lisan, tertulis pada kertas ataupun elektronik. Kata adalah lambang yang melambangkan entah orang, barang, kejadian atau keadaan.Fungsi komunikasi verbal yaitu pencarian informasi, sosialisasi, membantu melegakan emosi, dan hiburan.

Komunikasi Nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak, isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata. Karakteristik komunikasi nonverbal yaitu kita selalu berkomunikasi, arti bengatung kepada konteks, komunikasi nonverbal lebih dapat dipercaya, cara utama untuk menyatakan perasaan dan sikap.

Bentuk-bentuk komunikasi ada tujuh, yaitu komunikasi visual, sentuhan, gerak tubuh, lingkungan, penciuman, penampilan dan citarasa. Fungsi komunikasi yaitu untuk menekankan, melengkapi, menujukkan kontradiksi, mengatur, mengulangi dan menggantikan.

B.     Saran

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca terutama kepada mahasiswa yang ingin mempelajari atau mengetahui tentang Komunikasi Verbal dan Komunikasi Nonverbal. Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca menyadari pentingnya Kebudayaan dan Kepribadian dalam kehidupan kita.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hafied Cangara. 2010, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Rajawali.

Hardiman F Budi. 2009, Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta: Kanisius.

Abdillah Hanan. 2013, Memahami Komunikasi Antar Manusia, Surabaya: Usaha Nasional.

Mulyana Deddy. 2011, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

 



[1] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu komunikasi. (Jakarta: Rajawali pers,2010) Hlm.100-101

[2] Hardiman, F. Budi. Menuju Masyarakat Komunikatif. (Yogyakarta: Kanisius,2009) Hlm. 54

[3] Hardjana , Agus M. Komunikasi Intrapersonal dan interpersonal. (Yogyakarta: Kanisius,2003) Hlm.87

[4] Abdillah hanan, Memahami Komunikasi Antar Manusia, (Surabaya: Usaha Nasional,2013) Hlm.217

[5] Mulyana, Deddy,Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Raja Rosdakarya,2011) Hlm.67

[6] hafied cangara, pengantar ilmu komunikasi, (Jakarta: raja grafindo,2010) Hlm.103

Filsafat Akhlak

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Filsafat memang sedikit membingungkan. Namun dari filsafat itulah kita dapat mengetahui esensi suatu hal. Hingga kini menjadi pertanyaan. Filsafat masih saja menjadi kajian wajib diberbagai ajang pendidikan. Di Universitas Negeri maupun swasta. Dalam islam juga ada filsafat Islam, filsafat yang mengupas tentang keberadaan Islam itu sendiri.

Salah satu pengembangnya adalah ilmu akhlak, bagaimana keterkaitan filsafat dengan ilmu akhlak. Dimana ilmu akhlak membahasa tentang manusia dan filsafatpun membahas tentang segala yang ada. Artinya manusiapun dibahas oleh filsafat. Contoh para filosof muslim, diantaranya Ibn Sina dan Al-Ghazali, mereka memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana pemikirannya tentang jiwa.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat Akhlak ?

2.      Bagaimana Kedudukan Filsfat Akhlak?

3.      Bagaimana Isu-Isu Filsafat Akhlak ?

4.      Apa Pengertian Ilmu Akhlak ?

5.      Bagaimana hubungan filsafat dan Ilmu Akhlak?

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Filsafat Akhlak

1.      Pengertian Filsafat

Dilihat dari arti praktisnya filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. berfilsafat adalah berpikir. Langeveld, dalam bukunya “Pengantar pada pemikira filsafat” (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah perbincangan mengenai suatu hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekuensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya.[1]

2.      Pengertian Akhlak

Secara linguistic, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaqa, yukhliqu, dan ikhlaqan serta sesuai pula dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang mempunyai makna al-sajiyah (Perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-’adat (kebiasaan,kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).

Secara Istilah, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan perencanaan pemikiran dan pertimbangan.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa, akhlak itu adalah suatu perbuatan manusia baik itu budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, dan segala sesuatu yang telah menjadi tabi’at dalam kehidupan tanpa memerlukan perencanaan dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu.

Berbicara masalah akhlak yang Islami, bahwa fokus akhlak Islami yang sejati adalah kemuliaan dan keagungan diri. Artinya, kemuliaan diri banyak sekali memenuhi halaman akhlak Islami dan kemuliaan diri banyak menekankan pada manusia untuk menghidupkan akhlak insani dan mendorongnya agar berlaku etis.

Ibn Miskawaih (w. 412 H/1030 M) dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu, secara singkat mengakatan, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[2]

3.      Akhlak Sebagai Filsafat

Di antara obyek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan Ilmu Akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (9980-1037M.) dan Al-ghazali ( 1059-1111 M) memiliki pemikiran tentang manusia seperti terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya menyatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindera yang lima dan daya-daya batin dari jiwa biatanglah yang seperti indera bersam, estimasi dan rekoleksi yang menolong jiwa manusia untuk memperoloh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya.[3]

Pemikiran filsafat tentang yang dikemukakan Ibn Sina tersebut memberi petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep Ilmu Akhlak.

Pemikiraan tentang manusia dapat pula kita jumpai pada Ibn Khaldun. Dalam melihat manusia Ibn Khaldun mendasarkan diri pada asumsi-asumsi kemanusiaan yang sebelumnya lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Ia melihat manusia sebagai makhluk berpikir. Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu pengetahua dan ternologi. Manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.[4]

Tatapi kesempurnaan manusia tidak lahir begitu saja, melainkan malalui suatu proses tertentu. Khaldun menghubungkan kejadian manusia (sempurna) dalam perkembangan dan pertumbuhan alam semesta. Dalam pemikirannya tersebut tampak bahwa manusia adalah makhluk budaya yang kesempurnaanya baru akan terwujud jika ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya pembinaan manusia, termasuk dalam pembinaan akhlaknya.

 

B.     Kedudukan Filsafat Akhlak

Tidak syak lagi, bahwa akhlak dan pembinaan jiwa adalah sangat penting. Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagian dunia dan akherat adalah akhlak mulia, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan berusaha menyandang sifat-sifat terpuji. Dalam Islam, Akhlak merupakan permaslahan terpenting setelah Tauhid dan Nubuwwah. Melalaikan Akhlak acapkali memberangus dasar-dasar keyakinan seseorang. Dalam sebagian ayat, Al-qur’an menerangkan adanya sejumlah kebiasaan dan sifat buruk yang menjadi kendala besar untuk beriman kepada Tuhan. dalam kaitannya dengan kaum Nasrani Najran, rasulullah saww berkata: bukan karena mereka itu tidak tahu akan kebenaran Islam, tetapi hanya karemna kesuakaan mereka pada minuman keras dan daging babi. Disini tampak jelas hubungan erat antaera akhlak dan akidah . Berapa banyak akhlak yang baik yang dapat menunjukkan pelakunya kepada kebenaran, juga tidak sedikit akhlak yang buruk yang menyesatkannya pelakunya dari hidayah.

Akhlak dalam Islam adalah ilmu yang sangat mulia. Al-qur’an menyatakan bahwa pembinaan akhlak dan menyucian jiwa merupakan salah satu tujuan diutusnya para rasul dan nabi . Nabi Muhammmad saww dalam sebuah hadis yang amat populer menegaskan bahwa tujuan kenabiannnya adalah untuk menyempurnakan kemulian-kemulaian akhlak.

Menurut Islam, akhlak adalah salah satu ajaran fundamental disamping akidah dan syariat (hukum-hukum fikih). Ia adalah jalan hidup (way of life) dan arah gerak yang lurus menuju kesempurnmaan sejati. Ia yang membimbing manusia untuk selalu berhubungan dnegan Tuhan. oleh sebab ini, para ulama dan pemikir islam mencurahkan perhatian mereka secara lebih khusus kepada akhlak. Di dalam setiap masyarakat muslim selalu ada ulama-ulama yang membina anggota-anggotanya dengan menerapkan ritual-ritual yang membuat akhlak tetap hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka menuangkan ajaran dan arahan itu dalam karya-karya seperti: rasail ikhwanussh-shafa wa khillanul wafa’, as-sa’adah wal is’ad fil sirah insaniyah, tahdzibul akhlaq wa tathirul a’raq, ihya ulumud-din, al-muraqobat fi a’malis-sunnah, jamius-sa’adat, dan lain sebagainnya.

Kendati demikian, kajian-kajian yang berkaitan dengan akhlak kurang berkembang dibandingkan dengan kajian-kajian di bidang teologi, fikih atau di bidang-bidang ilmu keislaman lainnya. Berbagai faktor dan kendala sosial, psikologis, teologis, sebagaiamana yang dilaporkan Ghazali tentang situasi jamannya , turut mengisolir total pembahasan-pembahasn/studi-studi akhlak dari kaum muslimin.

Yang pasti, sedikit sekali upaya-upaya yang curahkan pada studi-studi yang berkaitan dengan Filsasafat akhlak, sehingga jarang sekali ditemukan pandangan-pandangan ulama dan pemikir akhlak Islam. Padahal secara logis, persoalan-persoalan Filsafat Akhlak, sebagai disiplin ilmu yang membahas dasar-dasar ilmu akhlak, mesti ditelaah tebih dahulu sebelum masuk pada tema-tema Ilmu Akhlak.

Sebaliknya di negara-negara Barat. meski nilai-nilai aklak di sana rapuh dan redup, namun banyak karya-karya yang ditulis berkenaan dengan akhlak, khususnya Filsafat akhlak yang merebut panyak peminat dari kalangan akademis. banyak kajian-kajian penting dan luas yang telah mereka lakukan, walaupun ada banyak kerancuan dalam meneliti beberapa masalah falsafat akhlak. Munculnya aliran-aliran akhlak yang beragam menegaskan bahwa pemikir-pemikir akhlak di sana masih belum menemukan landasan yang kuat dalam memecahkan permasalahn-permasalahn di bidang ini.

 

C.    Isu-Isu Filsafat Akhlak

Melengkapi pengenalan kita akan batas-batas dan cakupan pembahsan filsafat akhlak, di sini kita perlu mengisyaratkan isu-isu terpenting yang dibahas di dalamnya;

1.      Bagaimana proses kemunculan konsep-konsep moral? Bagaimana mental manusia menagkap konsep-konsep itu? bagaimana membedakan penggunaan istilah-istilah seperti; benar, salah, harus, tidak boleh, tugas, tanggung jawab dalam studi moral dari penggunaannya dalam studi-studi non-moral? Apakah pengertian dari konsep-konsep yang digunakan dalam studi-studi akhlak seperti; intusi, kehendak bebas (free will), ingin, motifasi, tanggungjawab, akal? Apakah esensi dan fungsi hukum-hukum yang terkandung dalam istilah-istilah dan konsep-konsep moral?

2.      Apakah dasar-dasar kemunculan hukum dan pesan moral? Apakah hukum-hukum moral itu bersumber dari alam natural? Ataukah dari akal budi manusia? Ataukah dari kontrak sosial? Ataukah dari kehendak dan perundang-undangan Tuhan? apakah pembuktian atas validitas keharusan-keharusan dan hukum-hukum moral mesti bertumpu pada satu keharusan prinsipal ilahi?

3.      Isu deklaratifitas dan imperatifitas statemen-statemen moral merupakan bagian terpenting dalam pembahsan Filsafat Akhlak. Kendati statemen-statemen moral bisa dituangkan ke dalam bentuk deklaratif seperti; “Keadilan adalah baik”, juga ke dalam bentuk imperatif seperti; “harus berbuat adil!”, permasalahannya menjadi demikian serius tatkala kajian di sini mempertanyakan manakah yang prinsipiil di antara dua bentuk statemen moral tersebut?

4.      Apakah posisi dan peran niat atau maksud pelaku dalam tindakan-tindakan moral? Apakah statemen “kejujuran itu baik” sudah bisa dinilai kebenarannya hanya karena kesesuaiannya dengan fakta di luar? Ataukah perlu dilampirkan pula motifasi subjektif di dalam penilaian tersebut? Lebih cermat lagi, apakah hukum-hukum moral itu dilandasai oleh nilai baik buruknya tindakan saja, ataukah juga oleh baik buruknya si pelaku?

5.      Apakah unsur “keharusan” adalah bagian dari karakter dasar pesan-pesan dan hukum-hukum moral? Jika demikian, lalu bagaimana kaitan unsur keharusan itu dengan kepemilihan bebas manusia yang merupakan unsur lain dalam karakter dasar pesan dan hukum moral?

6.      Apakah hubungan antara tindakan moral dan ganjaran/balasan? Apakah mesti ada ganjaran baik di balik tindakan yang baik dan ganjaran buruk di balik tindakan yang bhbruak? Jika demikian, apakah pelaku mesti concern terhadap ganjaran di saat ia melakukan tindakannya, atau malah perhatiannya inilah yang menempatkan dirinya dalam kerangka transaksi/kontraksi, sehingga berdampak negatif pada moralitas tindakannya?

7.      Permaslahan Filsafat Akhlak yang tidak kurang pentingnya adalah apakah dasar-dasar suatu hukum moral? Atas dasar apa statemen-statemen moral itu dirumuskan dan dinyatakan? Bagaimana menjelaskan arti harus dalam hukum moral? Apakah metode pembuktian atas hokum-hukum moral? Mengapa harus bersikap jujur, harus berbuat adil, tidak boleh menganiaya? Apakah standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan? Apakah kepuasan subjektif? Ataukah kepuasan kolektif? Apakah klaim Durkheim itu benar bahwa maysarakat adalah hakim yang memutuskan baik buruknya suatu tindakan? Ataukah sama sekali standar itu tidak ada kaitannya dengan kepuasan kolektif dan selera subjektif, tetapi brkaitan erat dnegan kesempurnaan hakiki dan kebahagian abadi manusia?

8.      Apakah hukum-hukum moral disa diverifikasi? Jika demikian, apakah verifikasi itu berlaku pada seluruh hukum-hukum moral, baik yang bersifat fundamental (basic judgement) ataupun yang bersifat turunan (derivative judgement)? Apakah benar hukum-hukum fundamental akhlak tidak perlu verifikasi dan pembuktian, sebagaiman dalam klaim Intusionisme? Adakah perbedaan di antara pembuktian dalam akhlak dan pembuktian di luar akhlak? Apakah jenis pembuktian dalam akhlak? Apakah berupa demonstrasi, dialektika atau selainnya?

9.       Apakah setiap masyarakat mesti menganut sistem nilai yang khas bagi dirinya, ataukah semauanya hanya punya satu sistem nilai dan satu rangkaian hukum moral? Apakah moralitas masyarakat feodal mesti berbeda dengan moralitas maysarakat borjuis? Apakah hukum-hukum moral sebuah komunitas itu stabil atau berubah-ubah seiring dengan jatuh bangun riwayat perjalanannya? Artinya, apakah nilai-nilai noral iru absolut ataukah relatif?

10.  Salah satu pembahsan terpenting dalam Filsafat Akhlak adalah relasi Akhlak dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya seperti: sains, hukum, agama, dan kontrak-kontrak sosial. Apakah akhak terpisah dari agama? Mungkinkah sistem nilai itu tegak kokoh tanpa agama? Apakah relasi antara sains dan akhlak? Bisakah niali-nilai dan hukum-hukum akhlak dibetot dari data-data sains? Apakah keduanya sama sekali berbeda, sehingga tidak ada satu hukum moral pun yang bisa diverifikasi oleh seribu satu pembuktian ilmiah? Apakah relasi antara akhlak dengan hukum positif dan perundang-undangan, kontrak-kontrak sosial dan konsensus-konsensus politik? Adakah kesamaan dan perbedaan di antara mereka?

 

D.    Pengertian Ilmu Akhlak

Banyak definisi yang ditawarkan untuk ilmu Akhlak. Sebagian ulama menekankan unsur pengetahuan, dan menyatakan bahwa ilmu Akhlak adalah pengenalan terhadap kemulaiaan akhlak dan kebejatannya. Muhaqqiq Thusi mengatakan bahwa ilmu Akhlak yaitu pengetahuan tentang bagaimana jiwa manusia menyandang suatu karakter yang memuliakan seluruh tindakan yang dilakukan atas dasar kehendak

Sebelum kita berbicara lebih jauh lagi, hendaklah kita mengetahui dahulu mengenai yang dimaksud filsafat. Pada asal katanya filsafat berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta kepada kebenaran, juga ada  yang berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah. I.R Poedjawijatna, filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.

Berpikir filsafat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain harus sistematis, harus konsepsional, harus koheren, harus rasional, harus sinoptik(menyeluruh) harus mengarah kepada pandangan dunia. Jadi dalam berpikir filsafat yang dibahas ialah hakikat segala sesuatu, dan sifatnya menyeluruh juga radikal.

Diantara obyek filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Ghazali memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sungguhpun jiwa manusia tak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan wujudnya, badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindra dan daya-daya jiwa yang lain yang menolong jiwa untuk memperoleh konsep dan ide dari alam sekelilingnya. Jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka selamanya ia berada dalam kesenangan, jika ia berpisah ia tidak sempurna, karena ketika bersatu dengan badan ia dipengaruhi hawa nafsu badan, maka ia akan menyesal selamanya. Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan atau sumber yang dapat dikembangkan  lebih lanjut menjadi sebuah konsep akhlak.

Al-Ghazali membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Kaum pilihan (khavas; elect) yang akalnya tajam dan berpikir secara mendalam. Kaum ahli debat (ahl al-jadl). Pembagian ini didasarkan pada berbeda-bedanya sifat-sifat mereka.

Pemikiran Al Ghazali ini memberi petunjuk adanya perbedaan cara dan pendekatan dalam menghadapi orang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang demikian akan membantu dalam merumuskan metode, cara, dan pendekatan yang tepat dalam mengajarkan akhlak.

Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis itu akan memberika masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.

Selain itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan cara berhubungan dengan Tuhan dan makhluk lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, tehadap manusia, alam dan makhluk Tuhan lainnya.

Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar  atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak  atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,  adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.[5]

Ilmu pengetahuan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.

Praktek ilmu pengetahuan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek ilmu pengetahuan dapat berupa pengelolaan ilmu pengetahuan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan ilmu pengetahuan (bimbingan, pengajaran dan atau latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan ilmu pengetahuan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak  dalam rangka praktek ilmu pengetahuan dan atau  studi pendidikan.

 

E.     Hubungan ILmu Akhlak dan Filsafat Akhlak.

Pengertiann Ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuattu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan  pikian. Filsafat memiliki bidang-bidang kajiannya mencakup berbagai disiplin ilmu antara lain:

a.       Metafisika: penyelidikan di balik alam nyata

b.      Kosmologo: penyelidikan tentang alam(filsafat alam)

c.       Logika: pembahasan tentang cara berfikir cepat dan  tepat

d.      Etika: pembahasan tentang tingkah laku manusia

e.       Theodica: pembahasan tentang ke-Tuhanan

f.       Antopolog:pembahasan tentang manusia

Dengan demikian, jelaslah bahwa etika/akhlak tiu termasuk salah atu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang yang akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika/akhlak, dalam proses perkembanganya , sekalipun masih diakui sebagian dalam ilmu pembahasan filsafat, kini telah menjadi ilmu yang mempunyai identitas sendiri.

Selain itu filsafat juga membahas Tuhan, alam dan makhluknya. Daripembhasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian akan duwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan , terhadap manusia, dan makhluk Tuhan lainnya. Jadi kesimplannya hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat adalah di dalam ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan denganetika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Dan setelah mempelajari ilmu-ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.
BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Filsafat ialah berpikir ke akar-akarnya untuk menemukan hakekat kebenaran, sedangkan Akhlak ialah kebiasaan seseorang atau perilahu seseorang yang dilakukan tanpa mempertimbangannya terlebih dahulu.

Filsafat dan ilmu Akhlak memang sangat erak hubungannya, karena filsafat membahas tentang manusia, dan manusia mempunyai jiwa yang menimbulkan perilaku. Perilaku tersebut disebut akhlak. Pemikiran filsafat tentang manusia dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu Akhlak.




DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III

M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987)

Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006



[1] Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006, hlm. 9-10

[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996, hlm. 2

[3] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III, hlm.38.

[4] M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987), hlm. 151.

 

[5] Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

 

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...