BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan seumur hidup tidak diartikan sebagai
pendidikan orang dewasa, tetapi pendidikan seumur hidup mencakup dan memadukan
semua tahap pendidikan, (pendidikan dasar, menengah, dan sebagainya).
Pendidikan seumur hidup mencakup pola-pola pendidikan formal maupun non formal,
baik kegiatan belajar terencana maupun kegiatan-kegiatan incidental.
Masyarakat juga memainkan suatu peranan yang penting
dalam sistem pendidikan seumur hidup. Mulai sejak anak mulai berinteraksi dengan
masyarakat dan terus berlanjut fungsi edukatifnya dalam keseluruhan hidup, baik
dalam bidang profesional maupun umum. Lembaga-lembaga pendidikan seperti
sekolah, universitas, dan pusat-pusat latihan tertentu mempunyai peranan
penting, tetapi itu semua hanya sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan
seumur hidup.
Pendidikan seumur hidup ditandai oleh adanya
kelentutran dan peragaman dalam isi bahan belajar, alat-alat dan tehnik-tehnik
belajar, serta waktu belajar. Pendidikan sekolah merupakan sekelompok paket
belajar ataupun program belajar yang menyediakan jalur belajar dan pengamanan
belajar, yang memungkinkan siswa dapat menggunakan hasil belajarnya untuk
belajar sendiri (self-learning) dan membina dirinya sendiri (self direction).
Tujuan pendidikan sekolah tidak hanya menguasai
bahan pelajaran, tetapi dapat menggunakan apa yang telah dipelajari itu untuk
mampu belajar sendiri dan membina diri kapanpun dan dimanapun juga, dalam
rangka mencapai tugas pendidikan seumur hidup mencapai kualitas hidup pribadi,
sosial, dan professional seoptimal mungkin.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh
manusia untuk mengembangkan potensi dalam dirinya agar menjadi seseorang yang
berkarakter. Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan
yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang
berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah arti dari pendidikan seumur hidup?
2.
Apa teori tentang pendidikan seumur hidup?
3.
Bagaimana pandangan islam tentang pendidikan seumur
hidup?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui arti dari pendidikan seumur hidup
2.
Untuk mengetahui teori tentang pendidikan seumur
hidup
3.
Untuk mengetahui pandangan islam tentang pendidikan
seumur hidup
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Arti Pendidikan Seumur Hidup
Dasar filosofis pendidikan seumur hidup secara
sengaja mempertanyakan konsepsi
tradisional sekolah yang telah dideskripsikan. Seperti yang telah ditekankan
oleh Dave (1973) pertumbuhan kejiwaan, perkembangan kepribadian, pertumbuhan
sosial, ekonomi dan kebudayaan, seluruhnya berlangsung terus menerus seumur
hidup. Pendidikan seumur hidup bertumpu pada kepercayaan bahwa belajar juga terjadi
seumur hidup, walaupun dengan cara yang berbeda dan melalui proses yang tidak
sama.
Menurut Stephens (1967) belajar dan mengajar adalah
peristiwa wajar yang terjadi pada makhluk manusia secara terus menerus
berlangsung dengan cara yang spontan, bahkan tanpa didasari melakukannya.
Justru itu, disarankan bahkan belajar harus didukung dan dibantu dari buaian
sampai dewasa. Dan pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu
harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorganisisr untuk “instruction”,
studi dan “learning” di setiap kesempatan sepanjang hidup mereka.[1]
Pendidikan seumur hidup adalah suatu tujuan atau ide
yang memuat prinsip-prinsip mengorganisir persekolahan untuk membantu proses
belajar seumur hidup dan untuk mempengaruhinya sesuai dengan tujuan dan ide
khusus. Salah satu tujuan pendidikan seumur hidup memodipikasi persekolahan
untuk membentuk dan mempengaruhi jenis belajar yang terjadi seumur hidup.[2]
Sebenarnya ide pendidikan seumur hidup telah lama
dalam sejarah pendidikan, tetapi baru popular sejak terbitnya buku Paul
Langrend An Introduction to Life Long Education (sesudah Perang Dunia II).
Kemudian diambil alih oleh International Commision on the Development of
Education (UNESCO).
Istilah pendidikan seumur hidup (Lefi Long Integrated Education) tidak
dapat diganti dengan istilah-istilah lain sebab isi dan luasnya (scope- nya) tidak persis sama, seperti
istilah out of School education,
continuing education, adult education, further education, recurrent education.[3]
B. Teori Tentang Pendidikan Seumur Hidup
1.
Dasar Hukum
Asas pendidikan seumur hidup itu merumuskansuatu
asas bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu, yang bermula sejak
seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Proses pendidikan ini mencakup
bentuk-bentuk belajar secara formal maupun informal baik yang berlangsung dalam
keluarga, disekolah, dalam pekerjaan dan dalam kehidupan masyarakat.
Untuk Indonesia sendiri, konsepsi pendidikan seumur
hidup baru mulai dimasyarakatkan melalui kebijaksanaan Negara (TAP MPR No.
IV/MPR/1973 jo. TAP No. IV/MPR/1978 tentang GBHN) yang menetapkan
prinsip-prinsip pembangunan nasional berikut ini :
a.
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka
pembangunan manusia Indonessia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat
Indonesia (arah pembangunan jangka panjang).
b.
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan
dalam keluarga (rumah tangga), sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu,
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan
pemerintah (Bab IV GBHN bagian pendidikan).[4]
Beranjak dari
ketetapan mendasar tersebut, maka dalam kebijakannya pemerintah menetapkan
prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.
Pembangunan bangsa dan watak bangsa dimulai dengan
membangun subjek manusia Indonesia seutuhnya, sebagai perwujudan manusia
Pancasial. Tipe kepribadian ideal ini menjadi cita-cita pembangunan bangsa dan
watak bangsa yang menjadi tanggung jawab seluruh lembaga Negara untuk
mewujudkannya.
b.
Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya secara
khusus merupakan tanggung jawab lembaga dan usaha pendidikan nasional untuk
mewujudkan melalui lembaga-lembaga pendidikan. Karena itu konsepsi manusia
Indonesia seutuhnya ini merupakan konsepsi dasar tujuan pendidikan nasional
Indonesia.[5]
2.
Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Perspektif
a.
Tinjauan Ideologis
Pendidikan seumur hidup atau long life education akan memungkinkan seseorang mengembangkan
potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya semua manusia
dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan
pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).
b.
Tinjauan Ekonomis
Pendidikan merupakan cara paling efektif untuk
keliuar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan.
Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkinkan seseorang untuk :
1)
Meningkatkan produktivitasnya
2)
Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang
dimilikinya
3)
Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat
dan menyenangkan
4)
Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik
anak-anaknya secara tepat sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi sangat
penting dan besar artinya
c.
Tinjauan Sosiologis
Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang
ditemukan masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya
pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, anak-anak mereka yang
kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah dan tidak bersekolah sama
sekali. Dengan demikian, pendidikan seumur hidup kepada orang tua akan
merupakan solusi dari masalah tersebut.
d.
Tinjauan Filosofis
Negara-negara demokrasi menginginkan seluruh
rakyatnya menyadari pentingnya hak memilih danmemahami fungsi pemerintah,
DPR,DPD dan sebagainya. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu
diberikan kepada setiap orang. Hal ini menjadi tugas pendidikan seumur hidup.
e.
Tinjauan Teknologis
Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya
dunia dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan
berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang, tidak terkecuali para
pendidik, sarjana, pemimpin, dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui
pengetahuan dan keterampilannya, seperti apa yang terjadi di negara-negara
maju.
Bila hal ini tidak dilakukan, maka kita akan
senantiasa tertinggal sebab bagaimanapun orang tidak bisa menutup diri terhadap
segala kemajuan yang mealandanya.[6]
f.
Tinjauan psikologis dan Paedagogis
Bagaimanapun diakui bahwa perkembangan iptek yang
sangat pesat punya dampak dan pengaruh besar terhadap berbagai konsep, teknik
dan metode pendidikan. Disamping itu perkembangan tersebut juga semakin luas, dalam,
dan kompleks, yang menyebabkanilmu pengetahuan tidak mungkin lagi diajarkan
seluruhnya kepada anak didik di sekolah.
Oleh karena itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang
utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi
yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan
skill kepada anak didik secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam
masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenan dengan itulah, perlu
diciptakan satu kondisi yang merupakan aplikasi asas pendidikan seumur hidup (long life education).
Demikian keadaan pendidikan seumur hidup yang
dilihat dari berbagai aspek dan pandangan. Sebab pokok dalam pendidikan seumur
hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik,
terorganisasi untuk belajar di setiap kesempatan di sepanjang hidup mereka.
Semua itu dengan tujuan untuk menyembuhkan kemunduran pendidikan sebelumnya,
untuk memperoleh skill yang baru, untuk meningkatkan keahlian mereka dalam
upaya pengertian tentang dunia yang mereka tempati, untuk pengembangan
kepribadiandan tujuan-tujuan lainnya.
Dalam kerangka ini, pendidikan pada dasarnya di
pandang sebagai pelayanan untuk membantu mengembangkan personal sepanjang
hidup, dalam istilah yang lebih luas yaitu development.
Konseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan
individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi
masyarakat.
C. Pandangan Islam Tentang Pendidikan Seumur Hidup
Dalam agama islam belajar merupakan suatu kewajiban
bagi setiap muslim. Setiap manusia membawa berbagai potensi dasar semenjak
dalam kandungan. Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa
pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus (kontinu) dari bayi sampai
meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum
dalam hadis Nabi Muhammad Saw. yang menganjurkan belajar mulai dari buaian
sampai liang lahat (kubur). Dari hadis tersebut jelas bahwa menuntut ilmu
adalah sebuah keharusan yang harus dituntut setiap individu sepanjang hayatnya
dari sejak ia dalam buaian hingga ia meninggal, baik laki-laki, perempuan,
anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Islam mengajarkan menuntut ilmu
itu berlangsung seumur hidup dan tidak ada batasan waktu dalam mencarinya.
“Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim”. (H.R Thabrani).[7]
Dan bahkan wahyu yang pertama kali turun kepada
Rasulullah merupakan uswah pertama dalam menuntut ilmu, wahyu pertama beliau
terima adalah perintah untuk menjadi orang yang berilmu melalui membaca (iqra’),[8] hal
ini menunjukkan bahwa islam mengajak dan memerintahkan kita untuk menjadi orang
yang berilmu, yang salah satu jalannya adalah dengan terus belajar, sabda
Rasulullah : “Barang siapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan
(agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. Dan beliau Saw.
juga bersabda : “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar”.
Pendidikan sepanjang hayat dalam islam yang lebih
utama ialah menuntut ilmu. Dengan ilmu manusia dapat lebih bijaksana dalam
menjalani hidupnya dan dengan ilmu pula manusia ditinggikan derajanya oleh
Allah Swt. sebagaimana firman-Nya berikut ini :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
“Dan
apabila dikatakan :”Berdirilah kamu”, maka berdirilah niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S Al-Mujadallah : 11).
Rasulullah Saw bersabda :
“Tuntutlah
ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan
bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu”. (H.R Ath-Thabrani)
“Barang
siapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jaln
kesurga”. (H.R Muslim)
Menuntut ilmu merupakan
ibadah yang mulia bagi seorang muslim karena termasuk jihad di jalan Allah Swt.
Seorang muslim yang berjihad di jalan Allah Swt. maka Allah akan mencintainya
dan ganjaran surge baginya. [9]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Pendidikan seumur hidup adalah suatu tujuan atau ide
yang memuat prinsip-prinsip mengorganisir persekolahan untuk membantu proses
belajar seumur hidup dan untuk mempengaruhinya sesuai dengan tujuan dan ide
khusus.
2.
Teori Tentang Pendidikan Seumur Hidup
a.
Dasar Hukum
b.
Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Perspektif
3.
Setiap manusia membawa berbagai potensi dasar
semenjak dalam kandungan. Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas
bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus (kontinu) dari bayi
sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang
tercantum dalam hadis Nabi Muhammad Saw. yang menganjurkan belajar mulai dari
buaian sampai liang lahat (kubur).
DAFTAR
PUSTAKA
A.J
Cropley, Pendidikan Seumur Hidup : Suatu
Analisis Psikologi, Surabaya : Usaha Nasional, 2003
Burhanuddin
Salam, Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar
Ilmu Mendidik), Jakarta : Rineka Cipta, 2011
Fuad Ikhsan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003
Hasbullah,
Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Edisi
Revisi), Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2011
Wawan
Wahyudin, Pendidikan Sepanjang hayat
Menurut Prespektif Islam, Jurnal : 2016
[1] A.J Cropley, Pendidikan Seumur Hidup : Suatu Analisis
Psikologi, (Surabaya : Usaha Nasional, 2003), hlm. 31
[2] Ibid, hlm. 54
[3] Fuad
Ikhsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta
: PT Rineka Cipta, 2003), hlm. 41
[4] Hasbullah,
Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Edisi
Revisi), (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2011), hlm. 64-65
[5] Burhanuddin
Salam, Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar
Ilmu Mendidik), (Jakarta : Rineka Cipta, 2011), hlm. 205-206.
[6] Habullah,
Op.Cit, hlm. 67-69
[7] Fuad,
Op.Cit, hlm. 40
[8] Lihat Q.S Al-Alaq
[96] : 1-5
[9] Wawan Wahyudin, Pendidikan Sepanjang hayat Menurut
Prespektif Islam, (Jurnal : 2016), hlm 203-204.