Selasa, 24 Mei 2022

Guru Sebagai Inovator

 

BAB I

PENDAHULUAN

Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 “adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Dalam setiap langkah kehidupan, manusia tidak terlepas dari masalah karena masalah adalah bagian dari manusia yang hidup. Begitu pula halnya dengan peserta didik. Seringkali peserta didik mengalami kesulitan-kesulitan, seperti kesulitan belajar, kesulitan memecahkan masalah pribadi, kesulitan memecahkan masalah sosial, kesulitan mengambil keputusan, kesulitan menemukan jati diri, dan sebagainya. Kesulitan tersebut pasti akan mempengaruhi proses pembelajaran dan menentukan hasil dalam pencapaian tujuan. Untuk itu seorang guru harus bertindak sebagai konsultan yang siap memberikan nasihat kepada peserta didik.

Setiap guru harus berperan sebagai penasihat ketika peserta didik memerlukannya, kapan dan dimanapun guru berada. Hal ini dikarenakan guru adalah sebagai pen-transfer nilai-nilai dan norma yang harus menunjukkan identitasnya sebagai guru. Peran guru sebagai penasihat ini sangat diperlukan sekali, apalagi ketika di sekolah tidak ada guru Bimbingan dan Konseling.

Di beberapa tempat dan kesempatan guru tidak hanya berperan sebagai penasihat bagi peserta didiknya. Akan tetapi, guru juga dianggap sebagai orang yang serba tahu yang dapat memecahkan berbagai permasalahan terutama yang berhubungan dengan pendidikan. Oleh karena itu, guru harus memahami betul masalah-masalah pendidikan, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, dan sebagainya.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

GURU SEBAGAI INOVATOR

 

A.      Guru Sebagai Inovator

Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan.[1]

Guru harus menjembatani jurang ini bagi peserta didik, jika tidak, maka hal itu dapat mengambil bagian dalam proses belajar yang berakibat tidak menggunakan potensi yang dimilikinya. Tugas guru adalah memahami bagaimana keadaan jurang pemisah ini, dan bagaimana menjembataninya secara efektif. Jadi yang menjadi dasar adalah pikiran-pikiran tersebut, dan cara yang digunakan untuk mengekspresikan dibentuk oleh corak waktu ketika cara-cara tadi dipergunakan. Bahasa memang merupakan alat untuk berpikir, melalui pengamatan yang dilakukan dan menyusun kata-kata serta menyimpan dalam otak, terjadilah pemahaman sebagai hasil belajar. Hal tersebut selalu mengalami perubahan dalam setiap generasi, dan perubahan yang dilakukan melalui pendidikan akan memberikan hasil yang positif. 

Prinsip modernisasi tidak hanya diwujudkan dalam bentuk buku-buku sebagai alat utama pendidikan, melainkan dalam semua semua pengalaman manusia. Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik (Mulyasa,2005;44). Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.[2]

Pada kenyataannya, semua pikiran manusia harus dikemukakan kembali di setiap generasi oleh para guru dengan berbagai perbedaan yang dimiliki secara individual. Sekurang-kurangnya menjadi baru bagi peserta didik, dan bagi para pendengar.   [3]

Peran guru sebagai inovator adalah pembaharu pengetahuan bagi peserta didiknya. Dimana inovasi dalam pendidikan merupakan suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada) sebelumnya dan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan (Suryosubroto,1990;127). Kualitatif disini berarti bahwa inovasi itu memungkunkan adanya reorganisasi atas pengaturan kembali dari unsur-unsur pendidikan, jadi bukan semata-mata penambahan dari unsur-unsur komponen yang ada sebelumnya. Tujuan inovasi adalah efistensi, relevansi, dan efektivitas mengenai jumlah anak didik sebanyak-banyaknya  dengan hasil pendidikan yang sebesar-besarnya dengan menggunakan sumber tenaga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah sekecil-kecilnya.

George Freedman dalam buku Edukasi dan Profesi mendefinisikan inovasi sebagai proses pengimplementasian ide-ide baru dengan mengubah konsep kreatif menjadi suatu kenyataan. Sedangkan Peter Drucker, inovasi sebagai alat spesifik yang memanfaatkan perubahan sebagai suatu peluang untuk bisnis atau jasa yang berbeda. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.[4]

Guru sebagai penerjemah sekaligus agen pengalaman, agen pengetahuan dan agen perubahan  bagi peserta didik. Sebagai agen guru harus kreatif, rasa ingin tahu yang besar, selalu bersemangat,  pantang menyerah, dan toleran terhadap perubahan. Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.

Unsur yang hebat dari manusia adalah kemampuannya untuk belajar dari pengalaman orang lain. Kita menyadari bahwa manusia normal dapat menerima pendidikan, dengan emiliki kesempatan yang cukup, ia dapat mengambil bagian dari pengalaman yang bertahun-tahun, proses velajar serta prestasi manusia dan mewujudkan yang terbaik dalam suatu kepribadian yang unik dalam jangka waktu tertentu. Manusia tidak tebatas pada pengalaman pribadinya, melainkan dapat mewujudkan pengalaman dari semua waktu dan dari setiap kebudayaan. Dengan demikian, ia dapat berdiri bebas pada saat terbaiknya, dan guru yang tidak sensitif adalah buta akan arti kompetensi profeional. Kemampuan manusia yang unik ini harus dikembangkan sehingga memberikan arti penting terhadap kinerja guru.[5]

Guru dituntut untuk membuat inovasi dalam pembelajaran, Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.

Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. (Ardiansyah;2012) . Beberapa bentuk inovasi yang sempat, diantaranya:[6]

1.        Pembuatan Yel-yel

Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka. Tujuann yel-yel ini adalah: menumbuhkan semangat belajar siswa, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.[7]

Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.

Pembuatan yel ini dibagi dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.

Di bawah ini, contoh-contoh yel yang telah dibuat dan dilakukan ketika akan dimulai proses pembelajaran. Contoh Yel-yel kelas:

 

KELASKU….KELASKU….KELASKU
YANG TERBAIKK… OK ! ALLOHU AKBAR !
AKU ANAK SHOLEH !!!!!!! ……………..
DEDEED….DEDEED…..DEDEED……….ALLOHU AKBAR !

 

2.        Pemberian Reward

Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah (baca : SD) amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, para guru nampaknya jangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.Tujuan pemberian reward adalah mendorong siswa agar lebih giat belajar, memberi apresiasi atas usaha mereka dan menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi[8]

Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Penulis membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri. Penghargaan dapat berupa ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. 

Penghargaan berupa ucapan dapat dilakukan dengan direncanakan terlebih daluhu atau bersifat spontan saja. Yang terpenting bahwa setiap siswa yang menunjukkan suatu usaha, maka layak dihargai. Pemberian pujian bagi siswa yang berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran, seperti kata-kata YESS ! (sambil mengancungkan jempol tangan), Excelent (dua jari membentuk huruf V), Thankyou Very Much (kedua tangan diacungkan ke atas) dll.[9]

Penghargaan berupa tulisan dapat dilakukan setiap hari, ketika siswa mengerjakan tugas atau PR. Penghargaan ini diberikan dengan cara guru menuliskan di buku catatan atau tugas siswa, berupa kata pujian, terutama bagi siswa yang berhasil mendapat nilai bagus (80-100). Kalimat pujian tersebut diantaranya “ selamat, you are the best student “ , “ Alhamdulillah, kamu anak pintar “ , “ pacu terus prestasimu “ ,

Penghargaan berupa barang/benda berupa benda yang sudah ada maupun yang telah dimodifikasi/disiapkan. Misalnya berupa bintang, terbuat dari kertas karton/asturo berukuran kecil bagi siswa yang mendapat nilai tinggi (80-100) baik latihan soal, tugas maupun PR. Kalung medali pelajaran, terbuat dari gabus yang menyerupai sebuah medali dengan menggunakan tali warna. Medali dibuat khusus untuk setiap mata pelajaran, dan diberikan kepada siswa setiap selesai ulangan harian. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan harian berhak menerima medali. Sewaktu-waktu tidak ada salahnya apabila guru memberikan penghargaan berupa uang jajan, walaupun dengan nilai nominal yang relatif kecil.

Bagi siswa terkadang bukan besar kecilnya uang tetapi kebanggaan mendapatkannya dari guru yang dicintainya.[10]

Penghargaan khusus bersifat spontan dan insidental, di mana siswa yang berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan dari guru dimungkinkan untuk istirahat atau pulang terlebih dahulu.[11]

3.        Pemberian sanksi

Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik). Tujuan pemberian sanksi adalah terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan, penanaman disiplin kepada anak dan mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.[12]

4.        Kotak Soal

Dibuat dari bekas wadah susu atau makanan lain, yang berbentuk segi empat, kemudian dibungkus kertas kado, dengan warna yang menarik ditempel di dinding kelas sejumlah mata pelajaran, sehingga setiap mapel memiliki kotak soal tersendiri. Tujuannya yaitu : mendorong siswa agar senang mempelajari soal sesuai keinginannya setiap saat, memberi kesempatan memanfaatkan waktu luang untuk mempelajari soal-soal.

Soal dibuat dengan berbagai bentuk, seperti soal cerita, kuis, siapa aku, tanya jawab, dll. Di tulis di kertas asturo atau kertas lain dengan bentuk yang menarik.

5.        Pokjar (Kelompok Belajar)

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya. Tujuannya yaitu Matih kerjasama antara siswa, menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu.Terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya . Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.[13]

Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 75 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, Mamah….. Mamah……….. inilah bintang kelompokku………”.[14]

6.        Perpustakaan Kelas

Penanaman kebiasaan membaca harus selalu ditumbuhkan. Kehadiran perpustakaan kelas merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Berbagai buku yang bersifat ringan dan dapat menggugah kreativitas siswa bisa dijadikan referensi. Majalah Bobo, Annida, Anak Sholeh, buku cerita, kisah sahabat dan petualangan hewan merupakan pilihan bagi mereka. Tujuannya yaitu menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, karena membaca adalah kunci pengetahuan, memanfaatkan waktu luang secara baik. Adapun sumber bukunya dapat diperoleh dari sumbangan siswa sendiri yakni membawa buku bacaan bekas dari rumah, membeli atau sumbangan.

7.        Mading Kelas

Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita. Tujuannya yaitu menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi, membiasakan siswa untuk menulis, segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam karya tulis dan menumbuhkan semangat belajar dan membaca. Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.[15]

8.        Setting Kelas

Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Oleh karena itu bagaimana menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan mereka. Setting kelas dapat dilakukan oleh guru dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster dll. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Bunyi poster misalnya, “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU IBADAH, BERPRESTASI ITU INDAH.” Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.[16]

9.        Mencatat dengan Peta Pikiran

Hasil temuan mutakhir menunjukan bahwa otak manusia memiliki kehebatan yang luar biasa, ada otak kiri dan otak kanan. Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang penuh dengan imajinasi, siswa diajarkan cara menulis dengan menggunakan peta pikiran. Tujuannya yaitu mempermudah mengingat/menghapal materi pelajaran, menulis sambil menggambar disertai warna akan lebih menarik dan tidak jenuh dan mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas anak. Guru harus menyusun terlebih dahulu materinya yang sesuai. Siswa diberi kebebasan untuk mewarnai, menggambar dan membuatnya sendiri.

10.    Penggunaan Alat Peraga

Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana. Tujuannya yaitu memperjelas materi yang disampaikan, karena siswa melihat secara langsung, menarik siswa sehingga penbelajaran lebih hidup dan dinamis, dan sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.[17]


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Social Changes akibat perkembangan teknologi dan globalisasi yang begitu cepat menuntut adanya perubahan dalam segala bidang. Perubahan masyarakat ini justru tidak diikuti oleh perubahan-perubahan dalam teknologi pendidikan. Hal ini menyebabkan kesenjangan antara sekolah dan masyarakat. Masyarakat sudah makin modern, mereka sudah jauh mengenal berbagai kecanggihan teknologi. Sedangkan sekolah masih tetap menggunakan cara-cara lama dan media-media yang tidak representatif untuk digunakan saat ini. Akibatnya peserta didik setelah lulus dari satuan pendidikan masih harus menyesuaikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dengan perkembangan masyarakat.

Guru sebagai bagian dari komponen pendidikan dituntut untuk menjembatani kesenjangan ini. Guru harus bertindak sebagai pembaharu yang dapat memperkecil perbedaan antara pelaksanaan pendidikan dan kemajuan masyarakat. Untuk itu guru harus selalu belajar dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya agar dapat menciptakan hal-hal guna peningkatan mutu pendidikan sehingga sejalan dengan perkembangan masyarakat.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aqib, Zainal. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya: Cendekia. 2002.

 

Anwar, Qomari dan Syaiful Sagala. Profesi Jabatan: Kependiclikan clan Guru Sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta: UHAMKA Press. 2004.

 

Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2002.

 

Makmun, Syamsudin Abin. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

 

Nata, Abuddin. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo. 2001.

 

Pranarka, A.M.W. Tinjauan Kritikal Terhadap Upaya Membangun Sistem Pendidikan Nasional Kita,” dalam Conny R. Semiawan dan Soedijarto. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Meqjelang Abad XXI. Jakarta: PT. Grasindo. 1991.

 

Prof. DR. Nana Sudjana, 2004, Proses Belajar Mengajar, Bandung: CV Algesindo

 



[1] Zainal Aqib, Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya: Cendekia. 2002., hal 12

[2] Ibid., hal 18

[3] Qomari Anwar dan Syaiful Sagala. Profesi Jabatan: Kependiclikan clan Guru Sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta: UHAMKA Press. 2004, hal 11

[4] Ibid., hal 18

[5] Ibid., hal 19

[6] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2002., hal 22

[7] Ibid., hal 24

[8] Qomari Anwar dan Syaiful Sagala., Op,Cit, hal 22

[9] Syamsudin Abin Makmun, 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya., hal 12

[10] Ibid., hal 16

[11] Ibid., hal 19

[12] Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo. 2001., hal 12

[13] Ibid., hal 18

[14] A.M.W Pranarka, Tinjauan Kritikal Terhadap Upaya Membangun Sistem Pendidikan Nasional Kita,” dalam Conny R. Semiawan dan Soedijarto. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Meqjelang Abad XXI. Jakarta: PT. Grasindo. 1991, hal 22

[15] Ibid., hal 24

[16] Prof. DR. Nana Sudjana, 2004, Proses Belajar Mengajar, Bandung: CV Algesindo., hal 11

[17] Zainal Aqib., Op,Cit, hal 26

Senin, 23 Mei 2022

Guru Sebagai Agen Budaya dan Moral

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Menurut pandangan tradisional, guru adalah seorang yang berdiridi depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, menurut guru-guru Amerika Serikat, guru adalah semua petugas yang terlibat dalam tugas kependidikan. Menurut Blnadi Sutadipura guru adalah orang yang layak digugu dan ditiru

Pendidik (Guru) merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan. Dipundaknya terdapat tanggung jawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik. Mereka adalah manusia dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Menurud Ahmad Tafsir, pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik, mereka harus harus dapat mengupayakan perkembangan peserta didik, baik kognitif, efektif, maupun potensi psikomotor. Potensi-potensi ini sedemikian rupa dikembangkan secara seimbang sampai mencapai tngkat yang optimal.

Didalam meningkatkan perkembangan peserta didik, guru harus berperan secara efektif dan efesien. Selain itu guru juga harus memperhatikan mutu belajar siswa, karena apabila mutu belajar siswa kurang baik maka tujuan dari pendidikan tidak akan tercapai sesuai apa yang dituju, didalam meningkatkan mutu belajar siswa peranan guru sangat penting, karena apabila seorang guru tidak memiliki kecakapan dalam mengajar, maka PBM pun tidak akan sesuai apa yang diharapkan oleh pendidikan.


 

BAB II

PEMBAHASAN

GURU SEBAGAI AGEN BUDAYA DAN MORAL

 

A.      Guru Sebagai Agen Budaya

Guru sebagai agen kebudayaan juga harus banyak dibekali mata pelajaran geografi, kewilayahan, dan bahasa asing. Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, suku, dan seterusnya, tidak dipahami oleh para guru mata pelajaran apa saja? Bagaimana mungkin kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan medium menghadapi tantangan global kalau hanya untuk menunjukkan letak Bunaken atau Raja Ampat saja, 80% guru tidak tahu apalagi siswanya? Belum lagi menjelaskan keunikan budaya-budaya lokal lainnya.[1]

Bagaimana mungkin para guru akan menjadi agen kebudayaan jika mereka juga tidak menguasai ilmu kependidikan yang khas pula? Sampai seberapa jauh para dosen universitas eks IKIP sanggup mengembangkan psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan dan seterusnya, di samping administrasi pendidikan dan kurikulum (misalnya)? Kalau hal-hal yang saya sebutkan tadi tidak dikembangkan, nama kementerian ini tidak dapat dihidupkan rohnya.

Soal kebudayaan bukan hanya soal kesenian, keindahan, atau pariwisata saja, namun termasuk kompleksitas pola pikir dan pola tingkah laku yang mengarah kepada hasil karya dari pendayagunaan seluruh akal budi. Kebudayaan dalam bahasa Sansekerta adalah buddhayah yang berarti akal budi. Guru sebagai agen kebudayaan semakin mustahil jika guru juga akan dituntut kuantitas mengajarnya yakni 27 jam per minggu, belum lagi tugas-tugas administratif lainnya seperti menjadi bendahara BOS dan aktivitas non-akademis lainnya.[2]

Kini wajar jika konsep “pendidikan” dan “pengajaran” makin kabur saja. Pendidikan tentu saja tidak hanya berhenti pada tataran sekolah formal namun juga nonformal maupun informal. Sekolah formal hanya beberapa jam, selebihnya siswa banyak bergaul di masyarakat dan keluarga.[3]

Karena itu, jika niat mengganti nama kementerian itu kian mantap, maka apa yang saya paparkan di atas semestinya menjadi perhatian serius kementerian ini. Di sela-sela kritik yang tajam dari masyarakat, wakil menteri bidang kebudayaan harus mampu menjawab tantangan ini.

Guru sebagai agen kebudayaan juga hanya dapat diwujudkan jika para calon guru juga diajarkan hal-hal tentang pengetahuan umum yang memadai. Kebudayaan adalah persoalan yang maha kompleks. Guru fisika atau IPA, juga mesti paham soal-soal humaniora, demikian pula sebaliknya. Keangkuhan intelektual harus dihapuskan sebagaimana pernah dialami pada masa lalu di Inggris.

 

B.       Guru Sebagai Agen Moral

Guru bertindak sebagai agen moral masyarakat karena fungsinya mendidik masyarakat agar melek huruf, pandai berhitung, dan memiliki berbagai keterampilan kognitif lainnya. Keterampilan- keterampilan itu di pandang sebagai bagian dari proses pendidikan moral, karena masyarakat yang telah pandai membaca  dan pengetahuan akan berusaha menghindarkan dirinya dari tindakan – tindakan kriminal, dan penyimpangan dari ukuran masyarakat. Guru juga merupakan gambaran sekaligus berperan sebagai agen politik. Guru menyampaikan sikap kultur dan tindakan politik masyarakat kepada generasi muda. Kemauan- kemauan politik masyarakat, disampaikan dalam proses pengajaran dalam kelas.[4]

 

C.      Guru Sebagai Agen Budaya Dan Moral

Guru di dalam sekolah tidak hanya mentransferkan pengetahuan kepada siswa-siswa. Guru juga sebagai pelopor untuk menciptakan orang-orang berbudaya, berbudi, dan ben-noral. Pada zaman dahulu bangsa-bangsa lain seperti; Belanda, Amerika, Arab, Jepang, Africa, Spanyol, Portugis, dan lain-lain mengenal bangsa Indonesia memiliki budaya dan moral yang tinggi, memiliki adat istiadat dan berpegang teguh dengan adat istiadatnya, ramah, dan sopan. Nilai-nilai ini selalu dikembangkan menjadi khasanah keindonesiaan.[5]

Daerah-daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ciri khas budaya sendiri, mulai dari masyarakat Aceh paling ujung sampai masyarakat Irian Jaya ujung timur, memiliki budaya yang kental, sehinggabanyak bangsa lain berdecak kaguni dengan i'uilai-nilai ash budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Di samping itu memiliki ,thin yang elok, indah dan mempesona. Pakaian ulos masayakat batak, balti kurung masyarakat minang, kebaya bagi masyarakat jawa, baju hodo masyarakat sulawesi, dan lain-lain memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakatnya rukun, damai, suka tolong menolong, jujur, pemimpinnya adil. Namun demikian catatan di atas hampirmenjadi kenangan untuk anak cucu kita. Arus perubahan sangat deras akibat perkembangan kemajuan teknologi di dunia yang berimbas pada nilai-nilai budaya dan moral, sehingga terjadinya pergesaran budaya asli ke budaya nyata.

Pergeseran nilai-nilai budaya sudah tidak terelakkan lagi, sang guru tidak mampu bekerja sendiri dalam mengembangkan nilai budaya dan moral, teori-teori yang diajar di sekolah bertentangan denganpraktik di lapangan. Guru menganjurkan anak muridnya untuk berbuat baik, dan menjauhi perbuatan yang terlarang. Kenyataan di lapangan (lingkungan luar sekolah) sangat banyak mempengaruhi sikap, perilaku para siswa. Konflik dalam kebudayaan menurut Kneller contoh pantang, orang dirangsang dengan gaga berpakalan, bergaul bebas, reklame, film-film di televisi, gambar pomo di media cetak, untuk mencari kepuasaan, kenikmatan lantaran masa depan yang tidak pasti[6].

Kasus-kasus yang melanda bangsa Indonesia saat ini, seperti korupsi, menipulasi, pemerkosaan, narkoba mencorengkan nilai-nilai moral yang diajar di bangku sekolah, hal ini dilakukan tidak saja oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, akan tetapi juga orang-orang yang berpendidikan. Orang mencuri bukan lagi untuk mencari sesuap nasi, tetapi aktomya adalah orang-orang akademisi, para pengayom masyarakat, dan orang-orang kaya (kleptomania) sudah merupakan kehobian dan penyakit.

George F. Kneller perilaku budaya dan moral yang menyimpang seperti disebut Durkem-anomi, atau keadaan tanpa norma, yaitu bila norma-norma resmi tidak lagi membimbing realita hidup dalam kebudayaan tersebut.[7]


 

BAB III

KESIMPULAN

 

Guru sebagai agen kebudayaan juga harus banyak dibekali mata pelajaran geografi, kewilayahan, dan bahasa asing. Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, suku, dan seterusnya, tidak dipahami oleh para guru mata pelajaran apa saja? Bagaimana mungkin kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan medium menghadapi tantangan global kalau hanya untuk menunjukkan letak Bunaken atau Raja Ampat saja, 80% guru tidak tahu apalagi siswanya? Belum lagi menjelaskan keunikan budaya-budaya lokal lainnya.

Daerah-daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki ciri khas budaya sendiri, mulai dari masyarakat Aceh paling ujung sampai masyarakat Irian Jaya ujung timur, memiliki budaya yang kental, sehinggabanyak bangsa lain berdecak kaguni dengan i'uilai-nilai ash budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Di samping itu memiliki ,thin yang elok, indah dan mempesona. Pakaian ulos masayakat batak, balti kurung masyarakat minang, kebaya bagi masyarakat jawa, baju hodo masyarakat sulawesi, dan lain-lain memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakatnya rukun, damai, suka tolong menolong, jujur, pemimpinnya adil. Namun demikian catatan di atas hampirmenjadi kenangan untuk anak cucu kita. Arus perubahan sangat deras akibat perkembangan kemajuan teknologi di dunia yang berimbas pada nilai-nilai budaya dan moral, sehingga terjadinya pergesaran budaya asli ke budaya nyata

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djamarah Bahri Syaiful, guru dan anak didik dalam interaksi edukatif,  Jakarta : PT. Rineka cipta, 2005

 

Hamalik Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, Jakarta :  PT. Bumi Aksara, 2008

 

Nurdin Syafruddin & Usman Basyiruddin M, Guru Profesional , Jakarta : Ciputat Pres,  2003

 

Sardiman, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta :  PT. rajawali persada, 2008

 

Sholeh Ni’am Asrorun, Membangun profesionalitas guru, Jakarta : eLSAS Jakarta, 2006

 

Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta :  Ar-Ruzz, 2006

 



[1] Djamarah Bahri Syaiful, guru dan anak didik dalam interaksi edukatif,  Jakarta : PT. Rineka cipta, 2005., hal 22

[2] Hamalik Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, Jakarta :  PT. Bumi Aksara, 2008., hal 12

[3] Ibid., hal 16

[4] Nurdin Syafruddin & Usman Basyiruddin M, Guru Profesional , Jakarta : Ciputat Pres,  2003., hal 19

[5] Sardiman, Interaksi dan motivasi belajar mengajar, Jakarta :  PT. rajawali persada, 2008., hal 22

[6] Sholeh Ni’am Asrorun, Membangun profesionalitas guru, Jakarta : eLSAS Jakarta, 2006., hal 12

[7] Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta :  Ar-Ruzz, 2006., hal 18

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...