metode pendekatan matematika
BAB 1
PENDAHULUAN
Didalam proses belajar
mengajar tercakup komponen,pendekatan,dan berbagai metode pengajaran yang
dikembangkan dalam proses tersebut.Tujuan utama diselenggarakannya proses
proses keberhasilan siswa dalam belajar dalam rangka pndidikan baik dalam suatu
mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya.Jika guru terlibat didalamnya
dengan segala macam metode yang dikembangkan maka yang berperan sebagai
pengajar berfungsi sebagai pemimpin belajar atau fasilitator belajar ,sedangkan
siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar.usaha-usah guru dalam
proses tersebut utamanya adalah membelajarkan siswa agar tujuan khusus
maupun umum proses belajar itu tercapai.
Usaha-usaha guru dalam
mengatur dan menggunakan berbagai variable pengajaran merupakan bagian penting
dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan.karena itu pemilihan
metode,strategi dan pendekatan dalam situasi kelas yang bersangkutan sangat
penting.upaya pengembangan strategi mengajar tersebut berlandas pada pengertian
bahwa mengajar merupakan suatu upaya memberikan bimbingan kepada siswa untuk
melakukan kegatan belajar atau dengan kata lain membelajarkan siswa seperti
yang disebutkan diatas.
BAB II
PEMBAHASAN
METODE DAN PENDEKATAN
MATEMATIKA
Pendidikan merupakan
sarana terpenuhinya proses belajar manusia. Tanpa pendidikan manusia tidak
mampu mengembangkan fitrahnya sebagai insan pedagogik yang perlu didik dan
mendidik. Namun, suatu pendidikan akan mempunyai mutu yang tinggi apabila guru
mempunyai mutu yang tinggi pula, sedangkan mutu guru sangat ditentukan oleh
pemahamannya tentang metode yang diterapkan dalam pembelajaran materi
matematika.[1]
Pengembangan pendidikan
matematika merupakan suatu proses penyusunan pendidikan matematika itu sendiri.
Proses ini dimulai dari pengembangan kebijakan pendidikan matematika,
prinsip-prinsip pengembangan, pendekatan dan model pengembangan pendidikan
matematika serta pengaturan pelaksanaan pendidikan matematika. Dalam pembahasan
ini, kami hanya akan membahas mengenai prinsip, pendekatan, dan model
pengembangan pendidikan matematika.
Dalam pengembangan
pendidikan matematika didasarkan pada prinsip-prinsip yang mengakomodir proses
penyusunan pendidikan matematika atau pengembangan pendidikan matematika itu
sendiri. Dalam dunia pendidikan pendidikan matematika sangatlah menentukan
keberhasilan maupun ketidak berhasilan suatu pendidikan, karena pendidikan
matematika merupakan acuan dasar dalam proses belajar mengajar. Sedangkan dalam
pengembangan pendidikan matematika tersebut harus didasari oleh prinsip-prinsip
yang sesuai dan seimbang.[2]
Selain prinsip,
pendekatan juga sangat penting dalam pengembangan pendidikan matematika.
Pendekatan menjadi bagian dari proses penyusunan pendidikan matematika. Namun,
pendekatan mana paling sesuai dan baik bukan menjadi soal. Karena, dalam
pengembangan pendidikan matematika pendekatan tersebut disesuaikan dengan
kondisi lingkungan sekolah. Pendekatan yang satu dengan yang lainnya boleh jadi
tidak sesuai diterapkan dalam pengembangan pendidikan matematika di suatu
sekolah. Namun, ia akan sangat diperlukan bila diterapkan di sekolah lain.[3]
Bersamaan dengan
prinsip dan pendekatan, pendidikan matematika juga memiliki model pengembangan
yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Model pengembangan
pendidikan matematika yang berlaku di Indonesia bersifat desentralisasi yang
dikembangkan dari bawah yaitu dari pihak guru atau sekolah. Guru atau sekolah
dapat menilai model pengembangan pendidikan matematika mana didasarkan pada
pertimbangan bahwa guru adalah Perencana maupun pelaksana daripada pendidikan
matematika tersebut serta guru atau sekolah yang dekat dan mengetahui kebutuhan
proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.[4]
A. Model-Model Pembelajaran
Metode Mengajar“Cara
mengajar yg dpt digunakan untuk semua bahan
pelajaran” Misalnya:
Metode: ceramah, penemuan, ekspositori, diskusi, tanya jawab, pemecahan masalah,
dsb. Teknik Mengajar“Cara mengajar yg memerlukan keahlian khusus atau bakat
khusus”
Beberapa model pembelajaran
matematika antara lain :
1.
Model pembelajaran
dengan pendekatan induktif dan deduktif.
Kedua pendekatan ini
merupakan pendekatan yang ditinjau dari interaksi antara siswa dengan bahan
ajar. Kedua pendekatan ini saling bertentangan. Pendekatan deduktif merupakan
suatu penalaran dari umum ke khusus, sedangkan pendekatan induktif suatu
penalaran dari khusus ke umum.
a. Pendekatan deduktif berdasarkan penalaran deduktif.
b. Penalaran deduktif = cara berpikir menarik kesimpulan dari hal yang umum
menjadi kasus yang khusus.
c. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berpikir silogisme;
terdiri dari 2 macam pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi)
d. Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis): Premis Mayor
dan Premis Minor.
e. Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam premi
itu.[5]
Definisi
Kuadrat suatu bilangan adalah ialah bilangan yang diperoleh dengan
mengalikan Suatu bilangan
dengan dirinya sendiri
Contoh
Kuadrat dari 4 adalah
42 = 4 x 4 = 16
Kuadrat dari 5 adalah
52 = 5 x 5 = 25
Dalam pendekatan
induktif penyajian bahan ajar dimulai dari contoh-contoh kongkrit yang mudah
dipahami siswa. Berdasarkan contoh-contoh tersebut siswa dibimbing menyusun
suatu kesimpulan. Menurut Purwanto, kebenaran kesimpulan yang disusun secara
indutif ini ditentukan tepat tidaknya (atau representative tidaknya) contoh
yang dipilih. Biasanya makin banyak contoh makin besar pula tingkat kebenaran
kesimpulannya.
a. Pengetahuan dapat diperoleh dengan akal atau percobaan, Untuk
mendapatkan pengetahuan dengan akal digunakan pendekatan deduktif, Untuk
mendapatkan pengetahuan dengan percobaan digunakan pendekatan induktif, Pada hakikatnya,
matematika merupakan suatu ilmu yang didasarkan atas akal (rasio) yg
berhubungan dengan benda-benda pikiran yang abstrak
b. Karena matematika adalah ilmu deduktif, seharusnya mengajarkannya menggunakan
pendekatan deduktif pula.
c. Pendekatan deduktif dilakukan dalam program pengajaran matematika tradisional,
sebelum program pengajaran matematika modern yang sekarang banyak digunakan.[6]
d. Pada era sekarang pengajaran matematika banyak digunakan macam-macam pendekatan,
tetapi pendekatan itu merupakan pula pendekatan deduktif dan induktif
Contoh :
4 │ 8 arttinya 4 adalah pembagi 8
Karena ada bilangan bulat 2 sehingga
8 = 2 x 4
6 │ 36 arttinya 6 adalah pembagi 36
Karena ada bilangan bulat 6 sehingga
36 = 6 x 6
Dari kedua contoh di atas, Kesimpulannya
Suatu bilangan bulat a dikatakan membagi bilangan bulat b atau a │ b Jika
dan hanya jika ada bilangan bulat K sehingga b = K .a[7]
2.
Metode Ceramah
yang Menyenangkan
Metode ceramah yang
monoton, memanglah dirasakan sangat membosankan bagi para peserta didiknya,
apalagi bila disajikan dalam bentuk dongeng, yang berfungsi sebagai pengantar
siswanya untuk tidur di malam yang hening, bahkan kadang kala si pengajar
melenceng dari materi yang semestinya disampaikan, justru ia malah menceritakan
tentang keadaan keluarganya, sampai ke para tetangganya, seolah-olah si guru
itu curhat kepada muridnya. Hal ini serupoa dengan sebuah situs dari internet
yang menceritakan
Ini adalah contoh nyata
dari bumi belahan lain di dunia pendidikan, oleh karena itu kita sebagai calon
guru masa depan yang baik, haruslah mempersiapkan segala sesuatunya, baik itu
dari segi disiplin ilmu, pemahaman segala konsep dan teknik segala
keterampilan, hubungan sosial terhadap lingkungan, serta akhlak dari personal
kita sendiri, karena bukanlah tidak mungkin, kisah dosen tadi terjadi pada diri
kita, menjadi seorang pengajar yang membosankan, tidak menarik, bahkan sampai
dijuluki ‘monster’ oleh anak didik kita sendiri.[8]
3.
Model Pembelajaran
Dengan Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ekspositori
merupakan suatu pendekatan yang ditinjau dari interaksi guru dengan siswa.
Dalam pendekatan ini semata-mata siswa tinggal menerima apa yang disajikan oleh
guru. Jadi guru telah mempersiapkan dan merencanakan secara sistimatis sehingga
siswa dapat menerimanya dengan mudah.
Untuk itu dalam proses
pembelajaran guru perlu melakukan apersepsi, yaitu mengingatkan kembali
pengetahuan yang berkaitan dengan bahan ajar yang akan disajikan. Dalam
pembelajaran ini guru menjelaskan panjang lebar, jika perlu guru membuat gambar
maupun menggunakan media yang dianggap dapat lebih mempermudah siswa memahami
bahan ajar yang disampaikan.[9]
4.
Model Pembelajaran
Dengan Pendekatan Proses
Dalam pendekatan ini
guru menciptakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi sedemikian sehingga
siswa terlibat secara aktif dalam berbagai pengalaman. Atas bimbingan guru
siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai sendiri suatu
kegiatan. Menurut Sagala (2003), dalam pendekatan proses ini yang dapat
dilakukan siswa antara lain: mengamati gejala yang timbul, mengklasifikasikan,
mengukur besaran-besarannya, mencari hubungan konsep konsep yang ada, mengenal
adanya masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesa, melakukan percobaan,
menganalisis data dan menyimpulkan. Dalam pembelajaran PKn tidak semua
aktifitas seperti tersebut diatas dilaksanakan.
B. Macam-macam Pendekatan Pembelajaran Matematika Antara Lain :
1.
interaksi di dalam
kelas
Pada hakekatnya belajar
matematika adalah berfikir dan berbuat atau mengerjakan matematika.Di sinilah
makna dari strategi pembelajaran matematika adalah strategi pembelajaran
aktif,yang di tandai oleh dua factor.
a. interaksi antara seluruh komponen dalam proses belajar mengajar,
diantaranya antara dua komponen utama yaitu guru dan siswa
b. berfungsinya secara optimal yang meliputi indra , emosi, karsa, karya,
dan nalar. Hal itu dapat berlangsung antara lain jika proses itu melibatkan
aspek visual, audio, maupun teks.
Pembelajran yang aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk memperoleh hasil belajar ,salah satu
pendekatan umum yang dapat digunakan adalah pendekatan PAKEM ( Pembelajaran
yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenagkan). Secara ringkas PAKEM dapat
diungkapkan sebagai berikut :[10]
a.
Dari segi guru
A = Aktif , guru aktif
:
1)
Memantau kegiatan
belajar siswa
2)
Memberi umpan balik
3)
Mengajukan pertanyaan
yang menantang
4)
Mempertanyakan gagasan
siswa
K = kreatif, guru :
1)
Mengembangkan kegiatan
yang beragam
2)
Membuat alat Bantu
belajar sederhana
E = Efektif,
pembelajaran :
1) Mencapai tujuan pembelajaran
M = Menyenagkan ,
pembelajaran :
1) Tidak membuat anak takut
a) takut salah
b) takut ditertawakan
c) takut dianggap sepele
b.
Dari Segi Siswa
A = Aktif , siswa aktif
:
1)
Bertanya
2)
Mengemukan gagasan
3)
Mempertanyakan gagasan
orang lain dan gagasannya.
K = kreatif, siswa :
1) Merancang atau membuat sesuatu
2) Menulis atau mengarang
E = Efektif, siswa :
1) Menguasai keterampilan yang di perlukan
M = Menyenagkan
pembelajaran membuat siswa :
1)
Berani mencoba/berbuat
2)
Barani bertanya
3)
Berani mengemukan
pendapat
4)
Berani mempertanyakan
gagasan orang lain
c.
Beberapa teknik
penyajian bahan ajar matematika
Peningkatan
optimalisasinya komunikasi antara lain dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam
menguasai berbagai teknik dalm pembelajaran yang menyatu dalam setiap metode.
Berikut ini diuraikan beberapa teknik untuk meningkatkan efektiftifitas
pembelajaran.[11]
d.
Teknik menjelaskan
Menjelaskan merupakan
salah satu bagian penting dalam proses kegiatan belajar mengajar . karena itu
tekni ini sangat perlu dikuasai guru, namun dengan guru senantiasa membatasi
diri agar tidak terjebak ceramah murni yang menghilangkan peranan siswa kecuali
hanya mendengarkan atau bahkan hanya mendengar yang di kemukakan guru. Beberapa
hal yang penting adalah :
1)
Gunakan bahasa yang
sederhana, jelas, dan mudah dimengerti serta komunikatif
2)
Ucapan hendaknya
terdengar dengan jelas, lengkap, tertentu, dan dengan intonasi yang tepat
3)
Bahan disiapkan dengan
sistematis mengarah ke tujuan
4)
Penampilan hendaknya
menarik, diselingi, dengan gerak dan humor sehat
5)
Adakan variasi atau
selingan dengan metode lain, misalnya Tanya jawab, menggunakan alat Bantu seperti
lembar peraga (chart)[12]
e.
Teknik bertanya
Ada pepetah dalam pembelajaran : “ Questioning is the
heart of the teaching”, artinya pertanyaan adalah jantungnya pengajaran. Kalu
demikian, ppengajaran tanpa bertanya, adalah pengajaran yang gersang.
Untuk menggunakan Tanya jawab, perlu tujuan mengajukan
pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan pertanyaan.
Tujuan mengajukan pertanyaan antara lain untuk :
1)
Memotivasi siswa
2)
Menyegarkan apresiaisi
siswa
3)
Memulai diskusi
4)
Mendorong siswa agar
berfikir
5)
Mengarahkan perhatian
siswa
6)
Meggalakkan
penyelidikan
7)
Mendiagnosis /
memeriksa tanggapan siswa
8)
Menarik perhatian siswa
9)
Mengundang pertanyaan
siswa[13]
C. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Dalam menggunakan
metode penemuan terbimbing, peranan guru adalah: menyatakan persoalan, kemudian
membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah
atau dengan lembar kerja.
Siswa mengikuti
pertunjuk dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Penemuan terbimbing biasanya
dilakukan dengan bahan yang dikembangkan pembelajarannya secara induktif. Guru
harus yakin benar bahwa bahan “yang ditemukan” sungguh secara matematis dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.[14]
Seringkali peranan guru
dalam penemuan terbimbing diungkapkan dalam lembar kerja penemuan terbimbing.
Lembar kerja ini biasanya digunakan dalam memberikan bimbingan kepada siswa
menemukan konsep atau terutama prinsip (rumus, sifat). Penyusunan lembar kerja
jenis ini biasanya diawali dari guru menyiapkan secara lengkap tahap demi tahap
dalam menjelaskan adanya suatu sifat atau prinsip atau rumus.
Penjelasan ini dituang
dalam suatu tulisan secara lengkap. Kemudian dipikirkan, jika penjelasan itu
dilakukan di kelas, dan dilakukan dengan Tanya jawab, dicatat di bagian manakah
yang kiranya perlu digunakan sebagai bahan tanya jawab.[15]
Bagian yang ditanyakan
ini dapat berupa pendapat siswa tentang bahan yang lalu yang perlu digunakan
dalam pengembangan konsep,atau pendapat siswa tentang tahapan yang perlu
dipertimbangkan dalam melangkah, atau isian yang berupa bilangan atau kata
kunci dalam menuju tujuan penemuan tersebut. Bagian-bagian yang perlu
ditanyakan tadilah yang perlu dihapus dari catatan penjelasan lengkap, dan dalam
lembar kerja diungkapkan dalam bentuk tempat kosong atau titik-titik yang harus
diisi oleh siswa[16]
D. Strategi Dan Pendekatan Dalam Model Investigasi
Flenor (1974) membagi
kegiatan guru menjadi 5 (lima) tahap:
1.
Apersepsi,
2.
Investigasi,
3.
Diskusi,
4.
Penerapan, dan
5.
Pengayaan.
Pada investigasi, siswa
bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai
motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat
mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan
pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam
mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja
kelompoknya.
Kadang mereka memang
memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang
diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih
terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana
agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam hal investigasi yang
dilaksanakan secara berkelompok, Lazarowitz dan kawan-kawannya dan juga Sharan
dan para koleganya mendisain model kelompok investigasi yang memberikan
kemungkinan siswa untuk melakukan berbagai pengalaman belajar.[17]
Para siswa terlibat
dalam setiap tahap kegiatan
a.
mengidentifikasi topik
dan mengorganisasi kelompoknya dalam “kelompok peneliti”,
b.
merencanakan tugas
pembelajaran,
c.
melaksanakan
penyelidikan,
d.
menyiapkan laporan,
e.
menyampaikan laporan
akhir,
f.
mengevaluasi program.[18]
Diskusi kelompok maupun
diskusi kelas merupakan hal yang sangat penting guna memberikan pengalaman mengemukakan
dan menjelaskan segala hal yang mereka pikirkan dan membuka diri terhadap yang
dipikirkan oleh teman mereka. Pengalaman yang baik seperti ini akan memotivasi
siswa untuk belajar dan mau menyelidiki (menginvestigasi) lebih lanjut.
Pengalaman bekerjasama dalam banyak hal sangat sesuai dengan semangat gotong
royong yang telah berkembang sejak lama di bumi tercinta Indonesia ini. Hal ini
perlu selalu dikembangkan dengan melatihkannya kepada para siswa.
Dalam kerja kelompok
siswa, Malone dan Krismanto (1993) menemukan bahwa sebagian besar siswa
menginginkan mereka sendirilah yang menentukan anggota kelompok kegiatan,
dengan banyak anggota 3 − 5 orang siswa campuran putra dan putri dan dengan
berbagai tingkat kemampuan siswa.
Hal ini sesuai dengan
Sharan (1980) bahwa kelompok semacam itu memberikan efektifitas dalam
peningkatan hasil belajar siswa. Sikap dan kemauan siswa dalam menggunakan
pendekatan investigasi tidak terlepas dari kegemaran siswa akan matematika,
pemahaman siswa tentang kegunaan matematika dan keberanian siswa untuk
membentuk sendiri pengetahuan matematika mereka. Ini sesuai dengan paham yang
dikembangkan oleh para pakar dan peneliti serta penganut konstruktivisme.
Karena ituseberapa jauh keberhasilan penggunaan pendekatan investigasi juga
antara lain tergantung ketiga faktor. Karena itu maka guru juga perlu
mengetahui seberapa jauh hal di atas dimiliki siswa disamping berusaha untuk
lebih memberikan pemahaman kepada para siswa.[19]
BAB III
KESIMPULAN
1.
Metode mengajar yang
bervariasi perlu dimiliki oleh pendidik dan dipraktikkan pada saat mengajar.
2.
Pengajaran dengan
metode yang efektif dan menyenangkan, akan menghasilkan tujuan pembelajaran
yang optimal.
3.
pendekatan PAKEM (
pembelajaran kreatif efektif dan menyenagnkan ) salah satu pendekatan umum yang
digunakan untuk memperoleh haisil belajar yang maksimal. Karena belajar sama
artinya dengan proses aktif membangun makna / pemahaman dari informasi dan
pengalaman oleh si pembelajar. Pada saat manusia dilahirkan sebenarnya telah
ada dua modal kreatifitas yang dimiliki yatiu rasa ingin tahu dan imajinasi.
4.
Kedua pendekatan ini
merupakan pendekatan yang ditinjau dari interaksi antara siswa dengan bahan
ajar. Kedua pendekatan ini saling bertentangan. Pendekatan deduktif merupakan
suatu penalaran dari umum ke khusus,
Sedangkan pendekatan
induktif suatu penalaran dari khusus ke umum. Dalam pendekatan induktif
penyajian bahan ajar dimulai dari contoh-contoh kongkrit yang mudah dipahami
siswa. Berdasarkan contoh-contoh tersebut siswa dibimbing menyusun suatu
kesimpulan. kebenaran kesimpulan yang disusun secara indutif ini ditentukan
tepat tidaknya (atau representative tidaknya) contoh yang dipilih. Biasanya
makin banyak contoh makin besar pula tingkat kebenaran kesimpulannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Wina
Sanjaya, M.Pd, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
(Jakarta: Kencana, 2008
Drs. H.
Khaeruddin, MA dan Drs. Mahfud Junaedi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
(Jogjakarta: Nuansa Aksara,2007
Eka purjiyanta,
IPA FISIKA SMP KELAS VII, (JAKARTA: Erlangga, 2006)
Marthen
Kanginan, Sains Fisika SMP Kelas VII, (jakarta: Erlangga, 2004).
Masnur Muslich,
KTSP Dasar Pengembangan dan Pemahaman. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),
Muhammad Joko
Susilo, KTSP Manajemen pelaksanaan dan kesiapan sekoloh menyongsongnya. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2006
Suparman, Tarpan, S.Pd., M.Pd .2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Karawang: Universitas Singaperbangsa Karawang
[1]
Suparman,
Tarpan, S.Pd., M.Pd .2012. Kurikulum dan
Pembelajaran. Karawang: Universitas Singaperbangsa Karawang., hal, 12
[2]
Ibid., hal., 13
[3]
Ibid., hal., 16
[4]
Dr. Wina Sanjaya, M.Pd, Pembelajaran dalam
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Kencana, 2008., hal 22
[5]
Ibid., hal 24
[6]
Drs. H. Khaeruddin, MA dan Drs. Mahfud Junaedi,
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. (Jogjakarta: Nuansa Aksara,2007., hal, 28
[7]
Ibid., hal 30
[8]
Eka purjiyanta, IPA FISIKA SMP KELAS VII,
(JAKARTA: Erlangga, 2006)., hal, 12
[9]
Ibid., hal 18
[10]
Marthen Kanginan, Sains Fisika SMP Kelas VII,
(jakarta: Erlangga, 2004)., hal, 11
[11]
Ibid., hal 17
[12]Masnur Muslich, KTSP Dasar Pengembangan dan
Pemahaman. (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal, 13
[13]
Ibid., hal 17
[14]
Ibid., hal 20
[15]
Drs. H. Khaeruddin, MA dan Drs. Mahfud Junaedi., Op.,Cit., hal,
32
[16]
Muhammad Joko Susilo, KTSP Manajemen
pelaksanaan dan kesiapan sekoloh menyongsongnya. (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006., hal 12
[17]
Ibid., hal 17
[18]
Ibid., hal 19
[19]
Masnur Muslich., Op.,Cit., hal
19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar