MAKALAH CARA BEKERJA ILMU
BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu memiliki
kedudukan mendasar karena hampir disetiap aktivitas manusia dikendalikan oleh
ilmu. Ilmu semakin berkembang mengikuti pertambahan kebutuhan manusia disegala
aspek, oleh karena itu berkembanglah disiplin-disiplin ilmu, yakni ilmu alam,
ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu agama. Ilmu alam lahir untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan fisik, material dan mekanis-teknis dari manusia terhadap
alam. Ilmu sosial berkembang memenuhi kebutuhan dasar manusia yang bersifat non
material, sedangkan ilmu agama dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan moral dan
spiritual-religius manusia
Ketiga disiplin
ilmu tersebut memiliki kekhasan epistemologis masing-masing. Kekhasan ini
tergambar dalam cara kerja ilmu-ilmu tersebut yang berbeda satu sama lain.
Semestinya ketiga disiplin ilmu ini dapat berkembang secara seimbang, namun
pada kenyataannya terkadang masyarakat memandang sebelah mata salah satunya.
Hal ini kurang tepat, sebab pada kenyataannya ketiga disiplin ilmu ini
sama-sama penting dan saling melengkapi satu sama lain.
BAB II
PEMBAHASAN
CARA BEKERJA ILMU
A. Susunan Ilmu Pengetahuan
Sebelum membahas menganai cara kerja ilmu
sosial-humaniora, ilmu alam dan ilmu agama, penulis akan sedikit memaparkan
mengenai metode keilmuan secara umum. Gaston Bachelard menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan adalah suatu produk pemikiran manusia yang sekaligus menyesuaikan
antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Dengan kata lain, ilmu
penegtahuan mengandung dua aspek, yaitu subjektif dan objektif.[1]
Dapat dikatan sebagai ilmu pengetahuan apabila mencakup
enam unsur, yaitu[2]:
1.
Adanya masalah (problem); Disebut masalah yang ilmiah
jika masalah tersebut dihadapi dengan sikap dan metode ilmiah dan berhubungan
dengan masalah dan solusi ilmiah lain secara sistematis.
2.
Adanya sikap, dalam arti sikap ilmiah.
3.
Menggunakan metode ilmiah.
4.
Adanya aktivitas atau riset ilmiah.
5.
Adanya kesimpulan, yaitu pemahaman yang dicapai sebagai
hasil pemecahan masalah.
6.
Adanya pengaruh. Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal
yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban.
Pengaruh yang dimaksud mencakup dua hal
yakni pengaruhnya terhadap ilmu terapan dan terhadap masayarakat dan peradaban.
Ilmu pengatahuan dikembangkan melalui metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan
prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, langkah dan cara
teknis untuk memperoleh pengetahuan atau mengembangkan pengetahuan yang ada.
Metode ilmiah tersebut terangkum dalam enam tahap berikut[3]:
1.
Perumusan masalah: dirumuskan secara tepat dan jelas
dalam bentuk pertanyaan agar ilmuwan memiliki jalan untuk mngetahui fakta-fakta
apa saja yang harus dikumpulkan.
2.
Pengamatan dan pengumpulan data atau observasi:
penyelidikan dalam tahap ini memiliki corak empiris dan induktif yang
diarahakan pada pengumpulan data.
3.
Pengamatan dan klasifikasi data: ditekankan pada
penyusunan fakta-fakta dalam kelompok, jenis dan kelas tertentu berdasarkan
sifat yang sama.
4.
Perumusan pengetahuan (definisi): ilmuwan mengadakan
analisis dan sintesis sacara induktif. Melalui analisis dan sintesis ilmuwan
mengadakan generalisasi (kesimpulan umum). Dalam tahap ini teori telah
terbentuk.
5.
Tahap ramalan (prediksi): teori yang sudah terbentuk
diturunkan dalam bentuk hipotesis
6.
Pengujian hipotesis atau verivikasi: jika fakta tidak
mendukung hipotesis, maka hipotesis harus diubah, dibongkar dan diganti dengan
hipotesis lain dan semua kegiatan ilmiah harus dimulai lagi dari permulaan.
Data empiris penentu benar tidaknya hipotesis.
B. Cara Kerja Ilmu-ilmu Alam
Dalam sejarah perkembangan ilmu,
ilmu-ilmu alam berkembang lebih awal dan pesat. Sebelum filsafat muncul, ilmu fisika, metematika, kimia dan astronomi
telah lam menjadi perbincangan. Hal ini wajar jika dilihat dari segi kedektan
hubungan manusia dengan dunia yang sifatnya fisikal dan material yang mudah
diamati dan memberikan manfaat yang bersifat praktis dan langsung bisa
dirasakan. Ilmu alam sangat penting bagi kehidupan manusia terutama untuk
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material dan praktis manusia. Dilihat dari sifat
objeknya, cara kerja ilmu alam bisa
dirangkum dalam prinsip-prinsip seperti berikut ini[4]:
1.
Gejala Alam Bersifat Fisik-Statis
Ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejal
alam. Ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yaitu gejala yang bersifat
fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberapa variabel dalam jumlah
yang relatif kecil yang dapat diukur secara tepat.[5] Dari gejala yang sifatnya fisikal, terukur dan
teramati, gejala-gejala alam memiliki sifat statis dari waktu ke waktu. Karena
statis jumlah variabel dari gejala alam
sebagai objek yang diamati juga relatif lebih sederhana dan sedikit.
2.
Objek Penelitian Bisa Berulang
Ilmu alam membatasi diri dengan hanya
membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Karena sifat gejala alam
fisikal-statis, objek penelitian dalam ilmu alam tidak mengalami perubahan atau
tetap. Dengan begitu, ahli ilmu alam dapat mengulang kejadian yang sama setiap
waktu dan mengamati kejadian tertentu secara langsung. Dan dari pengamatannya
pun akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum dan tidak akan mengubah
karakteristik obyek yang ditelaah.
3.
Pengamatan Relatif Mudah dan Simpel
Pengamatan dalam ilmu alam relatif
lebih mudah karena dapat dilakukan secara langsung dan dapat diulang. Pengamatn
yang dimaksud disini lebih luas dari pengamatan langsung menggunakan panca
indera yang lingkup kemampuannya terbatas. Banyak gejala alam yang dapat
teramati hanya dengan menggunakan alat bantu, misalnya mikroskop dll. .Jika
seseorang menemukan gejala alam yang baru, maka ia perlu memberitahukan tentang
lingkungan, peralatan, serta cara pengamatan yang digunakan sehingga
memungkinkan orang lain mengamati kembali.[6]
4.
Peneliti Lebih Sebagai Penonton
Prinsip pengamatan dalam ilmu alam
adalaha prinsip objektif, artinya kebenaran disimpulkan berdasarkan objek yang
diamati. Pengamat tidak terlibat atau tidak berpengaruh terhadap objek yang
diamati. Ilmuawan alam adalah penonton alam, dia hanya mengamati alam dan
kemudian memperlihatkan kepada orang lain hasil pengamatannya tanpa sedikit pun
melibatkan subjektivitasnya dan tidak terlibat pula secara emosional.
Ahli ilmu alam menyelidiki proses alam
dan menyusun hukum yang bersifat umum mengenai suatu proses. Dia juga tidak
bermaksud untuk mengubah alam atau harus setuju dan tidak setuju. Ahli ilmu
alamhanya berharap bahwa pengetahuan mengenai gejala fisik dari alam akan
memungkinkan manusia untuk memanfaatkan proses tersebut.
5.
Daya Prediktif yang Relatif Lebih Mudah Dipahami
Ilmu-ilmu alam tidak hanya sebata
mengumpulkan gejala dan merumuskan teori, melainkan gejala yang diketahui dan rumusan teori tersebut
digunakan untuk memprediksikan kejadian yang mungkin akan timbul dari gejala
tersebut. ilmu yang hanya saggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya
akan berupa ilmu yang pasif. Untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar
tidak hanya sanggup menguraikan gejala yang telah diketahui tetapi sanggup meramalkan
gejala alam lain yang belum dikenal, sebagai konsekuesi logis dari pola
penalaran yang digunakan. Gejala ramalan ini juga harus dalam
bentuk operasional sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen.
C. Cara Kerja Ilmu-ilmu Sosial-Humaniora
Ilmu Sosisal-Humaniora perkembangannya
tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena, objek penelitiannya tidak sekedar
sebatas fisik dan material tetapi lebih dibalik fisik dan bersifat lebih
kompleks.dibandingkan dengan ilmu alam, ilmu sosial-humaniora nilai manfaatnya
tidka bis dirasakan secara langsung. Ilmu sosial-humaniora ini dikembangkan
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup manusia yang sifatnya abstrak dan
psikologis. Dilihat dari objeknya, ilmu sosia-humaniora dapat dirangkum dalam
prinsip-prinsip seperti berikut:
1.
Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Nonfisik, Hidup dan
Dinamis
Berbeda dengan ilmu-ilmu alam,
gejala-gejala yang diamati dalam ilmu sosial humaniora bersifat hidup dan
bergerak secara dinamis. Gejala sosial juga mempunyai karakteristik fisik namun
diperlukan gejala-gejala penjelasan yang lebih dalam untuk mampu menerangkan
gejala tersebut, misalnya aspek sosiologis, psikologis atau biologis dan lain
sebagainya. Ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku individu maupun sebagai
anggota dari suatu kelompok. Objek studi ilmu sosial-humaniora adalah manusia
adalah manusia yang lebih spesifik lagi pada aspek sebelah dalam (inner world). Ilmu sosial lebih
menekankan pada apa yang berada dibalik manusia secara fisik.[7] Etos ilmu pengetahuan sosial adalah
mencari kebenaran objektif. Objektif dalam ilmu sosial diartikan dengan
memandang kenyataan sebagaimana adanya (das
sein) dengan menggunakan metodologi serta teori sosial berdasarkan realitas
objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan[8].
2.
Objek Penelitian Tidak bisa Berulang
Ahli ilmu sosial tidak mungkin melihat,
mendengar, meraba, atau mengecap gejala yang sudah terjadi di masa lalu. Hakiki
dari gejala ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan secara langsung dan
berulang. Kalau pun mungkin dapat dilakukan secara langsung, namun terdapat
beberapa kesulitan untuk melakukan hal tersebut secara keseluruhan. Kejadian sosial
sering kali bersifat spesifik dalam konteks histori tertentu. Ilmu
sosial-humaniora hanya memaknai, memahami dan menafsirkan gejala-gejalanya,
bukan menemukan dan menrangkan secara pasti. Kesimpulan yang didapat dalam
suatu penelitian ilmu sosial juga akan berbeda-beda. Karena obyek yang diteliti
antara satu dengan yang lain adalah berbeda dan hanya berlaku secara
perorangan.
3.
Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks
Gejala-gejala sosial-humaniora bergerak
bahkan cenderung berubah, bisa dibayangkan ilmuwan dalam mengamati lebih sulit
dan kompleks. Sebab yang diamati adalah apa yang ada dibalik penampakan fisik
yang berupa bentuk-bentuk hubungan sosial. Manusia memiliki free will dan
kesadaran, karena itulah ia bukan benda yang ditentukan menurut hukum-hukum
yang berlaku sebagaimana benda mati yang tak memiliki kesadaran apalagi
kebebasan berkehendak. Oleh karena iu, jelas bahwa pengamatan dalam ilmu-ilmu
sosial-humaniora jauh lebih kompleks.
Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta
misal kondisi yang terdapat dalam masyarakat. Untuk itu mereka mempalajari
faktor-faktor dan ciri-cirinya, namun ahli ilmu sosial tidak hanya berhenti
sampai disisni. Dia akan cenderung untuk mengembangakn pemikiran mnegenai pola
masyarakat yang lebih didambakan. Obyek penelaahan ilmu sosial sangat intim
berhubungan dengan manusia yang penuh tujuan tertentu, makhluk yang selalu
mencari nilai dalam aspek-aspek kehidupannya, ilmu sosial menghadapi masalah
unik yang tidak terdapat dalam ilmu
alam.
4.
Subjek Peneliti juga Sebagai
Bagian Integral dari Objek yang Diamati
Ahli ilmu sosial bukanlah sebagi penonton yang menyaksikan
suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan bagian integral dari
kehidupan yang ditelaahnya. Kterlibatannya secara emosional terhadap
nilai-nilai tertentu menyebabkan seorang ahli ilmu sosial cenderung untuk ikut
bersetuju atau menolak suatu proses sosial tertentu. Menghilangkan
kecenderungan-kecendrungan yang bersifat pribadi untuk tetap obyektif adalah
sukar dalam penelaahan sosial. Oleh karena itu, ilmu-ilmu sosial pengamatannya
menggunakan Verstehen atau memaknai ,
mengungkapkan makna, dan tidak sekedar menjelaskan. Metode verstehen
(memahami), yaitu pemahaman secara subjektif atas makna tindakan-tindakan
sosial, dengan cara menafsirkan objeknya yang berupa dunia kehidupan sosial[9].
5.
Memiliki Daya Prediktif yang Relatif Lebih
Sulit dan Tidak Terkontrol
Suatu teori sebagai hasil penagmatan
sosial-humaniora tidak serta merta bisa dengan mudah mempreiksikan kejadian
sosial berikutnya pasti terjadi. Hal ini karena dalam ilmu sosial, pola
perilaku sosial-humaniora yang sama belum tentu akan akan mengakibatkan
kejadian yang sama. Namun bukan berarti hasil temuan dalam ilmu sosial tidak bisa
dipakai sama sekali untuk meramalka kejadian sosial lain sebagai akibatnya
dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetap bisa namun tidak semudah dalam
ilmu-ilmu alam.
Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta
misal kondisi yang terdapat dalam masyarakat. Untuk itu
mereka memepalajari faktor-faktor dan ciri-cirinya, namun ahli ilmu sosial
tidak hanya berhenti sampai disini. Dia akan cenderung untuk mengembangakn
pemikiran mengenai pola masyarakat yang lebih didambakan. Obyek penelaahan ilmu
sosial sangat intim berhubungan dengan manusia yang penuh tujuan tertentu,
makhluk yang selalu mencari nilai dalam aspek-aspek kehidupannya, ilmu sosial
menghadapi masalah unik yang tidak terdapat
dalam ilmu alam.
Ahli ilmu sosial harus mengatsi
berbagai rintangan jika mereka berharap untuk mebuat kemajuan yang berarti
dalam menerangkan, meramalkan, dan mengontrol kehidupan manusia.
D. Cara Kerja Ilmu-ilmu Agama
Ilmu agama juga merupakan suatu
disiplin ilmu yang penting bagi kehidupan manusia. Ilmu agama pun juga memiliki
ciri ilmiah yang memiliki kekhasan dibanding ilmu alam dan ilmu sosial. Ciri
tersebut tergambar dalam cara kerja ilmu-ilmu keagamaan:
1.
Gejala Keagamaan sebagai Ekspresi Keimanan dan Pemahaman
atas Teks Suci
Gejala keagamaan tampak pada
perilaku-perilaku keagamaan orang beragama dan masyarakat beragama, dan pada
karya seni dan budaya meski intinya juga ekspresi dari penghayatan keagamaan
orang beragama. Gejala keagamaan juga merupakan sesuatu yang bergerak, tidak
statis yang sekaligus mengindikasi suatu dinamika keimanan sebagai hasil dari
pengalaman dan pemahaman atau teks-teks suci keagamaan yang diyakini. Hal yang tidak ada dalam gejala
sosial-humaniora adalah aspek ekspresi keimanan religius ini. Objek kajian dalam
ilmu sosial-humaniora adalah manusia yang lebih pada aspek inner worldnya. Sama
dengan objek kajian ilmu keagamaan adalah manusia pada inner worldnya juga, namun lebih menekankan pada aspek
religiusitasnya.[10]
2.
Objek Penelitian Unik dan Tidak Bisa Diulang
Objek penelitian unik kerena menyangkut
keyakinan beragama dan juga teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama.
Dalam ilmu agama, keyakinan agama dijadikan sumber pengamatan mengapa muncul
perilaku sosial orang tertentu beragama. Sama dengan ilmu sosial-humaniora,
objek penelitian ilmu agama tak dapat diulang, karena kejadian keagamaan
tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama pada kurun waktu dan tempat
tertentu tidak mungkin bisa direkonstruksi orang sesudahnya persis kejadian
pada awalnya.
3.
Pengamatan Sulit dan
Kompleks dengan Interpretasi Teks-teks Suci Keagamaan
Pengamatan dalam ilmu agama mirip
dengan ilmu sosial-humaniora yakni sulit dan kompleks karena melihat dan
memaknai apa yang dibalik keiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia
beragama. Hal tersebut merupakan ekspresif dari keimanan mereka terhadap Tuhan
sebagai hasil pemahaman terhadap teks kitab suci. Pengamatan dalam ilmu-ilmu
keagamaan juga harus “menyelami” dan menginterpretasikan item-item dalam
teks-teks suci. Perilaku keagamaan ketika diamati jelas bermuatan multiinterpretasi
baik terhadap gejala-gejala yang ditangkap maupun dari segi penafsiran
teks-teks sucinya.
4.
Subjek Peneliti juga sebagai Bagian Integral
dari Objek yang Diamati
Prinsipnya
adalah sama seperti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, pengaamat atau peneliti dalam ilmu keagamaan
juga tidak bisa dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang
diamati apalagi yang diamati adalah perilaku sosial-humaniora manusia beragama
atau aktivitas keagamaan. Bahkan ketika mengkaji teks-teks suci keagamaan,
seorang pengamat pasti juga terlibat secara emosional dan rasional dalam
memahami dan menyimpulkan maknanya.
5.
Memiliki Daya Prediktif yang relatif Lebih
Sulit dan Tak Terkontrol
Suatu
teori sebagai hasil pengamatan terhadap aktivitas-aktivitas keagamaan tidak
serta merta bsa dengan mudah untuk meramalkan aktivitas keagamaan lainnya yang
akan terjadi. Hal ini karena dalam ilmu keagamaan, pola perilaku keagamaan yang
sama belum tentu akan menghasilkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama.
Namun bukan berarti hasil temuan dalam ilmu keagamaan tidak bisa dipakai sama
sekali untuk meramalkan kejadian yang bersifat religius lain sebagai akibatnya
dalam waktu dan tempat berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan
semudah dalm ilmu alam. Dalam ilmu keagamaan juga harus mempertimbangkan
keragaman pemahaman orang-orang beragama terhadap ajaran mereka dan hal ini
menambah daya prediktif ilmu-ilmu agama semakin sulit untuk dipastikan.
E. Interkonektif Ilmu Umum dan Ilmu Agama
Ilmu-ilmu keislaman memiliki prinsip
yang sama dengan ilmu keagamaan pada umumnya. Yang membedakan adalah teks-teks
suci yang diyakini, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Sumber-sumber studi islam
tersebut telah melahirkan banyak disiplin ilmu seperti Studi Al-Qur’an, Tafsir
Al-Qur’an dan Teori Pemahaman Hadis, Fiqih Ushul Fiqh, dll. Prinsip kerja ilmu
keislaman mengikuti sebagaiman cara kerja ilmu-ilmu keagamaan, yakni
mempertimbangkan gejala-gejala keislaman yang tercermin dalam karya keislaman
dan aktivitas keagamaan islam dari penganutnya yang merupakaan ekspresi
keberagaman islam.
Keilmuan islam yang interkonektif dan
interkomunikatif selalu melibatkan berbagai dimensi kehidupan dari manusia dan
melibatkan berbagai perspektif. Dalam keilmuan islam yang interkonektif dan
interkomunikatif menolak suatu pandangan dunia hiatm-putih dan tidak ada
wilayah “abu-abu”, menolak dikotomi ilmu agama dan ilmu umum dan menolak
perlombaan antar disiplin ilmu memperlihatkan disiplin ilmu apa yang lebih
superior dari yang lain..
Pengembangan studi islam berpijak pada
tiga hal; yakni hadharah al-nash (Normativitas Teks-teks Suci), hadharah
falsafah (Filsafat) dan hadharah al-‘ilm (ilmu alam dan sosial-humaniora).
Pemaknaan interpretatif atas nash, al-Qur’an dan al-Hadis tidak mengabaikan
perspektif-perspektif keilmuandari berbagai disiplin ilmu yang dimungkinkn ada
dan berkembang.[11]
Dengan demikian, ilmu-ilmu dikembangkan tidak dalam model singel entity atau
murni teks tanpa konteks, tidak dalam model isolated entities atau unit-unit
tertutup, yakni normativitas teks suci jalan sendiri, falsafah jalan sendiri
dan ilmu jalan sendiri tanpa jendela interkoneksi dan interkomunikasi,
melainkan dalam model interconnected entities ada saling hubung antar
ketiganya.
F. Cara Kerja Ilmu Agama
Ilmu-ilmu agama adalah juga suatu
disiplin ilmu yang penting dalam kehidupan manusi. Barangkali ia berkembang
sejak jaman dulu ketika manusia dihadapkan pada kekuatan-kekuatan adikodrati
yang dia alami dalam hidupnya. Oleh karena itu, ilmu-ilmu agama juga memiliki
cirri ilmiah, dan sudah pasti ciri ilmiahnya memiliki kekhasan dibandingkan
ilmu alam dan ilmu sosial humaniora, meski dalam tingkatan tertentu menunjukkan
suatu kesamaan. Ciri tersebut tergambar pada cara keraja ilmu agama di bawah
ini:
1.
Gejala
Keagamaan sebagai Ekspresi Keimanan dan Pemahaman atas Teks Suci
Gejala keagamaan jelas tampak pada
perilaku-perilaku keagamaan orang beragama, dan pada karya-karya seni dan
budaya meski intinya juga ekspresi dari penghayatan keagamaan orang beragama.
Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis. Dalam ilmu
keagamaan, gejala keagamaan selalu merupakan ekspresi dari keimanan dan
pemahaman dari keagamaan.
Objek kajian dalam ilmu agama tidak jauh
beda dengan objek ilmu sosial humaniora, yaitu manusia. Tetapi dalam ilmu agama
lebih spesifik lagi yang dikaji, yakni manusia beragama dan lebih fokus pada
inner worldnya yang sudah pasti yang dimaksud di sini adalah aspek keimanan
teologisnya, seperti paham ketuhanannya dan implikasinya pada perilaku sosial
kemanusiaannya, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama.
2.
Objek
Penelitian Unik dan Tak Bisa Diulang
Objek penelitian unik karena menyangkut
keyakinan keagamaan. Keyakinan keagamaan dalam ilmu agama dijadikan sumber
pengamatan mengapa muncul perilaku sosial orang tertentu beragama. Ini berarti
yang menjadi objek penelitian ilmu-ilmu agama adalah menyangkut perilaku orang
yang beragama dan juga teks-teks suci keagamaan yang diyakini orang beragama.
Sebagaimana tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama pada kurun waktu
dan tempat tertentu tidak mungkin bisa direkonstruksikan orang sesudahnya
persis kejadian pada awalnya. Jelas berbeda dengan mengamati benda-benda mati.
3.
Pengamatan
Sulit dan Kompleks dengan Interpretasi Teks-teks Suci Keagamaan
Pengamatan dalam ilmu agama sulit dan
kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan
perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan tersebut adalah
bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka
terhadap teks-teks suci yang diyakini , pengamatan dalam ilmu agama juga harus
“menyelami” dan menginterpretasikan item-item dalam teks-teks suci terkait
dengan fenomena kegiatan dan perilaku manusia beragam yang bisa ditangkap.
4.
Subjek Pengamat
juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati
Pengamat dalam ilmu agama tidak bisa
dilepaskan dan merupakan bagian integral dari objek yang diamati adalah
aktivitas-aktivitas keagamaan. Bahkan ketika mengkaji teks-teks keagamaan hasil
interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti juga terlibat secara
emosonal dan rasinal dala memahami dan menyimpulkan makna mereka.
5.
Memiliki Daya
Prediktif yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol
Sebuah teori sebagai hasil pengamatan
terhadap aktivitas-aktivitas keagamaan tidak serta merta bisa dengan mudah
meramalkan aktivitas-aktifitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini
dikarenakan dalam ilmu agama, pola-pola perilaku keagamaan yang sama belum
tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama. Meski
demikian, bukan berarti hasil temuan dalam ilmu agama tidak bisa dipakai sama
sekali untuk meramalkan kejadian-kejadian yang bersifat religius lain sebagai
akibatnya dalam waktu dan tempat yang berlainan, tetap bisa tetapi tidak
mungkin sepasti dan semudah dalam ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu agama harus
dipertimbangkan keragaman dan pemahaman orang-orang beragama terhadap ajaran
agama mereka, dan hal ini menambah daya prediktif ilmu-ilmu agama semakin sulit
untuk dipastikan.
G.
Cara Kerja Ilmu
non-Empiris
Karena non empiris berarti selain ilmu-ilmu
yang bersifat inderawi, maka dengan sendirinya itu bersumber dari rasio dan
pengetahuan intuitif. Kaum rasionalisme mulai dengan suatu pernyataan yang
sudah pasti. Aksioma dasar yang dipakai membangun system pemikirannya
diturunkan dari idea yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti
dalam pikiran manusia.[12] Misalnya dari titik A ke titik B yang
lebih dekat adalah garis lurus, bukan dengan garis menyudut. Ini adalah aksioma
dasar yang jelas, tegas dan pasti di dalam pikiran manusia, bahkan tanpa
pengalaman (empirie) sekalipun manusia mengetahui hal itu. Ilmu ini pada
akhirnya banyak disebut sebagai ilmu pasti, yang di dalamnya termasuk juga
logika.
Melakukan penyimpulan, seperti contoh di atas,
bisa ditempuh melalui induksi, deduksi, analogi dan komparasi.[13]
Induksi adalah cara penarikan kesimpulan yang
bergerak dari hal-hal yang khusus menuju kesimpulan yang umum. Induksi disebut
pula sebagai system terbuka, artinya ia bersifat probability, terbukanya
kemungkinan lain yang tidak sama dengan kesimpulan umum yang sudah dihasilkan.
Misalnya, penarikan kesimpulan bahwa gadis muslim berjilbab berdasarkan fakta
di beberapa negara muslim yang diteliti, terbuka kemungkinan terdapat juga
gadis muslim lain di luar sample penelitian tidak berjilbab.
Sebaliknya, deduksi merupakan cara menarik
kesimpulan yang bergerak dari hal-hal umum menuju hal yang khusus. Kesimpulan
yang dihasilkan merupakan keharusan sebagai akibat dari pernyataan umum yang
diajukan; jadi merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Misalnya setiap muslim
wajib mencari ilmu, sementara Fulan adalah seorang muslim. Maka keharusan
mencari ilmu tidak terelakkan bagi Fulan.
Kemudian Analogi adalah mengambil kesimpulan
dengan cara menggantikan apa yang diusahakan untuk dibuktikan dengan hal yang
serupa, namun lebih dikenal. Di sini penyimpulan dilakukan dengan cara tidak
langsung. Penyimpulan demikian biasa pula dikenal dengan qiyas. Misalnya
putusan tentang wajib zakat fitrah dengan beras bagi kebanyakan muslim Indonesia didasarkan pada adanya
keserupaan antara beras dan gandum.
Komparasi adalah mengambil kesimpulan dengan
cara menghadapkan apa yang akan dibuktikan dengan sesuatu yang mempunyai
kesamaan dengannya. Penyimpulan ini sama dengan analogi, yakni secara tidak
langsung. Hal yang hendak dibuktikan sebanding dengan hal yang sudah dikenal.
Cara ini kerap dilakukan dalam hidup, misalnya ketika memilih sesuatu barang di
antara beberapa pilihan dan lain sebagainya.
Membedakan secara tegas antara keempat metode
tersebut, cukup rumit. Dalam prakteknya, induksi berdampingan dengan deduksi,
analogi berdampingan dengan komparasi. Setiap metode ini hampir tidak dapat
diterapkan secara murni, sebab ada unsur saling mengisi dan melengkapi di
antara kesemuanya.[14]
BAB III
KESIMPULAN
Ilmu Pengetahuan adalah suatu hasil cipta sadar manusia yang
didokumentasikan secara konseptual yang saling berkaitan serta dapat bermanfaat
untuk percobaan dan pengamatan lebih lanjut.
Adapun cara kerja ilmu-alam meliputi gejala alam bersifat
fisik-statis, objek penelitian dapat berulang, pengamatan relative lebih mudah
dan simple, subjek pengamat (peneliti) lebih sebagai penonton dan memiliki daya
prediktif yang relative lebih mudah dan dikontrol. Sedangkan cara kerja
ilmu-ilmu social-humaiora antara lain, gejala social-humaniora bersifat non
fisik, hidup, dan dinamis, objek penelitian tidak bisa berulang, pengamatan
relative lebih sulit dan kompleks, subjek pengamat (peneliti) juga sebagai
bagian integral dari subjek yang diamati, dan memiliki daya prediktif yang
relative lebih sulit dan tak terkontrol. Tidak jauh berbeda dengan cara kerja
ilmu-ilmu social-humaniora, ilmu-ilmu keagamaan dan keislaman juga memiliki
cara kerja sebagai berikut gejala keagamaan sebagai ekspresi keimanan dan
pemahaman atas teks suci, objek penelitian unik dan tidak bisa diulang,
pengamatan sulit dan kompleks dengan interpretasi teks-teks keagamaan, subjek
pengamat (peneliti) juga sebagai bagian integral dari objek yang diamati, dan
memiliki daya prediktif yag relative lebih sulit dan tak terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Abdullah, M, Kerangka Dasar
Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004).
B.Van Dalen, Deobold, ”Ilmu-ilmu alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan,
dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam
Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)
Gazali, Bachri, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
2005)
J. Bahm, Archie “What is science“, dalam Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar,
Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004)
Mudlor Ahmad, Drs.,
Ilmu dan Keinginan Tahu, Bandung, Trigenda Karya, Cet. I, 1994
Mustansyir, Rizal, Filsafat Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001)
S. Rudner, Richard, “Perbedaan antara Ilmu Alam dan Ilmu Sosial:
Suatu Pembahasan”, dalam Jujun S.
Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif
(Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)
S.
Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan,
Cet. XVI, 2003
Suprapto, B, “Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, dalam dalam
Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam
Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997)
Surajiyo, Filsafat ilmu dan
Perkembangannya di Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007)
Susanto, Heri, Filsafat Ilmu
Sosial. (Yogyakarta: Gama Media.2001)
[1]Rizal Mustansyir, Filsafat
Ilmu (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. 2001), hlm.139
[2] Archie J. Bahm, “What is science“, dalam Mohammad
Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi
Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,( Yogyakarta: Belukar. 2004) hal 46.
[3] Surajiyo, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di
Indonesia ( Jakarta: Bumi Aksara. 2007) hlm.71-72.
[4] Bachri Gazali, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
2005) hlm.142.
[5] Deobold B. Van Dalen,”Ilmu-ilmu alam dan Ilmu-ilmu
Sosial: Beberapa Perbedaan, dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.134.
[6] B. Suprapto,
“Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam”, dalam dalam Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Yogyakarta:
Gramedia Pustaka. 1997) hlm.129.
[7]Bachri Gazali, Opcit. Hlm.147
[8]Heri Susanto, Filsafat
Ilmu Sosial. (Yogyakarta: Gama Media.2001). hlm.23
[9]Richard S. Rudner, “Perbedaan antara Ilmu Alam dan Ilmu Sosial:
Suatu Pembahasan”, dalam Jujun S.
Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif
(Yogyakarta: Gramedia Pustaka. 1997) hlm.144.
[10]Bachri Gazali,Opcit,. hlm.153
[11]M.Amin Abdullah, Kerangka
Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004), 20.
[12] Jujun
S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, Cet.
XI, 1994, hal 99
[13]Drs.
Mudlor Ahmad, Ilmu dan Keinginan Tahu, Bandung, Trigenda Karya, Cet. I, 1994,
hal 40-42
[14] Ibid.,
hal 44