MAKALAH ASAS-ASAS PENULISAN KARYA ILMIAH
BAB
I
PENDAHULUAN
Karya ilmiah merupakan
hasil tulisan yang menuruti suatu aturan tertentu. Aturan tersebut
biasanya merupakan suatu persyaratan tata tulis yang telah dibakukan oleh masyarakat
akademik. Secara umum, proses penulisan karya ilmiah dilakukan dalam tiga
tahapan, yaitu: tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap perbaikan.
Sebagai hasil penelitian
atau kegiatan ilmiah setiap karangan ilmiah mengandung komponen adanya masalah
yang menjadi topik karangan ilmiah itu. Adanya tujuan penelitian, metode
penelitian, teori yang dianut, objek penelitian, instrumen yang digunakan, dan
adanya hasil penelitian yang diperoleh. Setelah kaidah ditemukan dan
dirumuskan, kegiatan penelitian harus diwujudkan dalam bentuk laporan. Hal ini
dimaksudkan karena sasaran akhir penelitian adalah mengkomunikasikan hasil
penelitian pada khalayak terkait. Oleh karena itu, menulis laporan
merupakan tahap akhir yang penting dalam penelitian, karena menulis laporan
merupakan proses komunikasi yang membutuhkan adanya pengertian yang sama antara
penulis dan pembaca.
BAB
II
PEMBAHASAN
ASAS-ASAS KARYA ILMIAH
A.
Pengertian
Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan
karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara
sistematis, objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung
oleh fakta, teori atau bukti-bukti empirik. Karya ilmiah merupakan karya tulis
yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan
oleh seorang penulis atau peneliti.[1]
Berdasarkan uraian di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karya ilmiah adalah laporan tertulis dan
dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah
dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika
keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.[2]
B.
Penggunaan
Ragam Ilmiah
Penulisan karya ilmiah
hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tepat, formal dan lugas. Kejelasan dan
ketepatan isi dapat diwujudkan dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas,
tepat, tidak berbelit-belit dan struktur paragraf yang runtut.
Kelugasan dan
keformalan gaya bahasa diwujudkan dengan menggunakan kalimat pasif, kata-kata
yang tidak emotif dan tidak berbunga-bunga. Hindarilah penggunaan kata seperti saya atau kita. Jika terpaksa menyebutkan kegiatan yang dilakukan oleh
penulis sendiri istilah yang dipakai bukan kami
atau saya, melainkan penulis atau peneliti. Namun, istilah penulis
atau peneliti hendaknya digunakan
seminimal mungkin.
Skripsi yang mengikuti
paradigma positivistik wajib ditulis dengan ragam bahasa ilmiah, tidak
menggunakan ragam bahasa sastra, orasi, daerah, pasar, populer dan sejenisnya.
Dalam ragam bahasa ilmiah positivistik berlaku ketentuan-ketentuan antara lain:
baku, logis, terukur, tepat, denotatif, efektif, terjalin kesinambungan urutan
serta bahasa yang baik dan benar.[3]
C.
Asas-asas
Penyusunan Gagasan dalam Karya Ilmiah
1.
Kejelasan (clarity)
Karangan ilmiah harus
konkret dan jelas. Kejelasan itu tidak
saja berarti mudah dipahami, mudah dibaca, tetapi juga harus tidak memberi
ruang untuk disalahtafsirkan, tidak
boleh bersifat sama-samar, kabur dan tidak boleh ada di wilayah abu-abu.
(Bahasa Jawa: ‘kedah gamblang
wijang-wijang’). Kejelasan di dalam karangan ilmiah itu ditopang oleh
hal-hal berikut:
a.
Pemakaian bentuk kebahasaan yang lebih
dikenal daripada bentuk kebahasan yang masih harus dicari-cari dulu maknanya,
bahkan oleh penulisnya.
b.
Pemakaian kata-kata yang pendek,
ringkas, tajam, lugas, daripada kata-kata yang berbelit, panjang, rancu dan
boros (verbose).
c.
Pemakaian kata-kata dalam bahasa sendiri
daripada kata-kata dalam bahasa asing.
Kata-kata asing dapat
digunakan hanya kalau memang istilah itu
sangat teknis sifatnya sehingga tidak (belum) ada istilah/kata yang pas dalam
bahasa indonesia.
2.
Ketepatan (accuracy)
Karangan ilmiah
menjujung tinggi keakuratan. Hasil penelitian ilmiah dan cara penyajian hasil
penelitian itu haruslah tepat/akurat. Supaya karangan ilmiah menjadi
sungguh-sungguh akurat, penulis/peneliti harus sangat cermat, teliti, tidak
bleh sembrono, atau ‘main-main dengan
ilmu’.
Dalam penyampaiannya di
dalam karangan ilmiah itu harus terwadahi butir-butir gagasan dengan kecocokan
sepenuhnya seperti yang dimaksudkan oleh
peneliti/penulisnya. Kualifikasi demikian itulah yang dimaksud dengan istilah ‘efektif-‘sangkil’.
3.
Keringkasan (brevity)
Karangan ilmiah
haruslah ringkas. Ringkas tidak sama dengan pendek. Karangan yang tebalnya 500
halaman dapat dikatakan ringkas sejauh di dalamnya tidak terdapat bentuk-bentuk
kebahasaan yang bertele-tele, kalimat-kalimat yang bertumpukan (running-on sentences), dan sarat dengan
kemubaziran dan kerancuan.
Jadi, karya ilmiah itu
tidak boleh menghamburkan kata-kata, tidak boleh mengulang-ulang ide yang telah
diungkapakan, dan tidak berputar-putar dalam mengungkapkan maksud atau gagasan.
Karangan ilmiah harus dibangun dari ide yang kaya dengan bahasa yang hemat dan
sederhana. Jadi bukan sebaliknya, ide yang miskin namun dengan bahasa
berbunga-bunga.
Karangan ilmiah harus
ditulis dengan hati dan diteliti kembali, dibenahi dan diedit kembali dengan
pikiran. Jadi, peganglah prinsip ’writing
with heart, editing with brain’ di
dalam praktik menulis karangan ilmiah.[4]
D.
Teknik
Mengatur Perwajahan Karangan
Yang dimaksud dengan
perwajahan adalah tata letak (lay out) unsur-unsur
skripsi serta aturan penulisan unsur-unsur tersebut, yang berkaitan dengan segi
keindahan dan estetika naskah. Tata letak dan penulisan unsur-unsur skripsi,
tesis, atau disertasi harus diusahakan sabaik-baiknya agar skripsi, tesis, atau
disertasi tersebut tampak rapi dan menarik. Dalam pembicaraan tentang
perwajahan, dikemukakan secara ringkas mengenai masalah kertas pola ukuran dan
penomoran.
1.
Kertas Pola Ukuran
Supaya tiap halaman
ketikan rapi, sebaiknya digunakan kertas pola ukuran. Kertas pola ukuran
tersebut dipasang setiap kali mengganti halaman dan kertas pola ukuran itu
harus ditaati agar hasil ketikan tampak rapi. Jika menggunakan komputer,
program-program tertentu harus dikuasai terlebih dahulu agar format yang
dikehendaki terwujud.
Pada umumnya garis pembatas pada kertas
pola ukuran tersebut diatur dengan ukuran sebagai berikut:
a.
Pias (margin) atas 4 cm,
b.
Pias bawah 3 cm,
c.
Pias kiri 4 cm, dan
d.
Pias kanan 3 cm.
2.
Penomoran
a. Angka yang
digunakan
Angka untuk nomor yang lazim
digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi, atau karangan ilmiah umumnya adalah
angka Romawi kecil, angka Romawi besar, dan angka Arab. Angka Romawi kecil (i,
ii, iii, iv, v) dipakai untuk menomori halaman judul, halaman yang bertajuk
prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, dan daftar
lain (jika ada). Angka Romawi besar (I, II, III, IV, V) digunakan untuk
menomori tajuk bab pendahuluan, tajuk bab analisis, tajuk bab simpulan, misalnya
BAB I PENDAHULUAN. Angka Arab (1, 2, 3, 4, dan seterusnya) digunakan untuk
menomori halaman-halaman naskah mulai bab pendahuluan sampai dengan halaman
terakhir dan untuk menomori nama-nama tabel, grafik, histogram, bagan, dan
skema.
b. Letak
Penomoran
Halaman judul, daftar
isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar lampiran, menggunakan angka Romawi
kecil yang diletakkan pada bagian bawah, tepat di tengah-tengah (simetris).
Halaman yang bertajuk bab pendahuluan, bab analisis, bab simpulan, daftar
pustaka/rujukan, indeks, dan lampiran, menggunakan angka Arab yang diletakkan
pada bagian bawah, tepat di tengah-tengah (simetris). Halaman-halaman naskah
lanjutan menggunakan angka Arab yang diletakkan pada bagian kanan atas.
c. Penomoran
Subbab
Subbab dan subsubbab dinomori
dengan angka Arab sistem digital. Angka terakhir dalam digital ini tidak diberi
titik (seperti 1.1, 1.2, 2.1, 1.1.2, 2.2.3, 3.2.1, dan seterusnya). Dalam
hubungan ini, angka digital tidak lebih dari tiga angka (maksimal, misalnya
1.1.1, 1.4.3, 1.1.2, 3.2.2, 3.3.3, 4.4.1), sedangkan penomoran selanjutnya
menggunakan a, b, c, kemudian 1), 2), 3), selanjutnya a), b), c), dan
seterusnya.[5]
Artikel berbentuk feature dapat lebih dinikmati, kalau
artikel tersebut diberi ilustrasi. Lebih-lebih bila isinya mengenai sesuatu
keilmuan atau petunjuk teknis. Informasi akan menjenuhkan bila diungkapkan
dengan kata, karena bertele-tele, lebih baik disajikan berupa gambar ilustrasi.
Ilustrasi memang gambar, tetapi
tidak hanya gambar tangan yang dibuat dengan pensil, ballpen atau tinta
Cina saja, melainkan dapat juga berupa foto jepretan lensa, gambar pandangan
pancungan, peta, denah, bagan dan diagram.[6]
E.
Aspek
Penalaran dalam Karya Ilmiah
Suatu karangan sesederhana apapun
akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam
pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan
ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:
1.
Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian
yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian
dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan
misalnya, antara latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah
juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, pembahasan, dan harus
berkaitan juga dengan kesimpulan.
2.
Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan
tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian (dari hal yang paling
mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu karangan ilmiah harus
mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan
dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka
analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas
secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas
pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.
3.
Aspek Argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang
menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan
kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan
ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan),
pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat
argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.
4.
Aspek Teknik Penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang
dipakai, apakah digunakan secara konsisten. Karangan ilmiah harus disusun
dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal.
Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat
multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.
5.
Aspek Bahasa
Yaitu bagaimana penggunaan bahasa
dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku? Karangan ilmiah disusun dengan
bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru
akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan
ilmiah akademis.[7]
F.
Penalaran
Deduktif dan Induktif
1.
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif
dapat diartikan sebagai suatu proses berpikir di mana orang memulai dari
pernyataan yang umum menuju pernyataan yang khusus (spesifik) dengan
menggunakan aturan-aturan logika yang dapat diterima.
Penalaran ini merupakan suatu sistem yang digunakan untuk mengorganisir
fakta-fakta yang telah diketahui guna membuat suatu kesimpulan. Proses ini
dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang berisi
premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Contoh:
a. Semua
manusia pasti mati (premis mayor)
b. Scorates
adalah seorang manusia (premis minor)
c. Scorates
pasti mati (kesimpulan)[8]
Penarikan kesimpulan
dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Dikatakan penarikan kesimpulan
secara langsung bila ditarik dari satu premis, sedangkan bila ditarik dari dua
premis disebut secara tidak langsung.
a. Menarik
Kesimpulan secara Langsung
1)
Konversi
Konversi merupakan penarikan
kesimpulan secara langsung dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)
Subjek premis menjadi predikat
kesimpulan.
b)
Predikat premis menjadi subjek
kesimpulan.
c)
Kualitas premis sama dengan kualitas
kesimpulan.
d)
Term yang tidak tersebar dalam premis
juga tidak tersebar dalam kesimpulan.
Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis) dan
sebagian P adalah S (kesimpulan).
Contoh:
Semua
kursi untuk tempat duduk. (premis)
Sebagian
tempat duduk adalah kursi. (kesimpulan
Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tak satupun S adalah P (premis)
dan tak satupun P adalah S (kesimpulan).
Contoh:
Tak
satupun gajah adalah serangga. (premis)
Tak
satupun serangga adalah gajah. (kesimpulan)
Pada proposisi khusus afirmatif,
polanya adalah sebagian S adalah P (premis) dan sebagian P adalah S
(kesimpulan).
Contoh:
Sebagian
pegawai adalah orang yang jujur. (premis)
Sebagian
orang yang jujur adalah pegawai. (kesimpulan)
Pada konversi, penarikan kesimpulan
tidak dapat dilakukan dengan proposisi khusus
negatif.
2)
Oversi
Oversi merupakan cara penarikan
kesimpulan secara langsung dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)
Subjek premis sama dengan subjek
kesimpulan.
b)
Predikat kesimpulan kontradiktori dengan
predikat premis.
c)
Kualitas kesimpulan kebalikan dari
kualitas premis.
d) Kuantitas
kesimpulan sama dengan kuantitas premis.
Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis) dan
tidak satupun S adalah tak P (kesimpulan).
Contoh:
Semua
rudal adalah senjata berbahaya.
Tak
satupun rudal yang bukan senjata berbahaya.
Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tidak satupun S adalah P (premis)
dan semua S adalah tak P (kesimpulan).
Contoh:
Tidak
satupun mahasiswa laki-laki lulus ujian.
Semua
yang lulus bukan mahasiswa laki-laki.
Pada proposisi khusus afirmatif, polanya adalah sebagian S tidaklah P (premis) dan
sebagian S tidaklah P (kesimpulan).
Contoh:
Beberapa
peserta demonstrasi adalah mahasiswa.
Beberapa
peserta demonstrasi adalah bukan mahasiswa.
Pada proposisi khusus negatif, polanya adalah sebagian S tidaklah P (premis) dan
sebagian S adalah P (kesimpulan).
Contoh:
Sebagian
mobil adalah bukan barang impor.
Sebagian
mobil adalah barang impor.
3)
Kontraporsisi
Kontraporsisi merupakan jenis
pengambilan kesimpulan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)
Subjek kesimpulan adalah kontradiktori
predikat premis.
b)
Predikat kesimpulan adalah subjek
premis.
c)
Kualitas kesimpulan tidak sama dengan
kualitas premis.
d) Tidak
ada term yang tersebar.
Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis), tidak
satupun S adalah tak P (kesimpulan) dan tidak satupun tak P adalah S
(kesimpulan).
Contoh:
Semua
gajah adalah berbelalai.
Tidak
satupun gajah adalah tak berbelalai.
Tidak
satupun (yang) tak berbelalai adalah gajah.
Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tidak satupun S adalah P (premis),
semua S adalah tak P (kesimpulan) dan sebagian tak P adalah S (kesimpulan).
Contoh:
Tak
seorangpun pejabat miskin.
Semua
pejabat tak miskin.
Sebagian
yang tak miskin adalah pejabat.
Pada proposisi khusus negatif, polanya adalah sebagian S tidaklah P (premis),
sebagian S adalah P (kesimpulan) dan sebagian tak P adalah S (kesimpulan).
Contoh:
Sebagian
jembatan bukan besi.
Sebagian
jembatan tak besi.
Sebagian
yang tak besi adalah jembatan.
b. Menarik
Kesimpulan secara Tidak Langsung
1)
Silogisme
Kategorial
Silogisme kategorial terdiri atas
dua proposisi sebagai premis dan satu proposisi sebagai kesimpulan. Premis yang
bersifat umum disebut premis mayor,
sedangkan yang bersifat khusus disebut premis
minor. Adapun dalam kesimpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek
kesimpulan disebut term minor,
sedangkan predikat kesimpulan disebut term
mayor.
Contoh:
Semua
binatang berjenis jantan dan betina (premis mayor)
Sapi
adalah binatang (premis minor)
Jadi,
sapi berjenis jantan dan betina (kesimpulan)
2)
Silogisme
Hipotesis
Silogisme hipotesis merupakan
bentuk silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional
hipotesis. Pada silogisme hipotesis ini, bila premis mayornya membenarkan
anteseden, maka kesimpulannya akan membenarkan konsekuen. Bila premis minornya
menolak anteseden, maka kesimpulannya akan menolak konsekuen.
Contoh:
Jika
kertas dibakar, kertas akan hangus.
Kertas
dibakar.
Jadi,
kertas hangus.
Jika
kertas dibakar, kertas akan hangus.
Kertas
tidak dibakar.
Jadi,
kertas tidak akan hangus.
3)
Silogisme
Alternatif
Silogisme alternatif ditandai
dengan premis mayor alternatif. Jika premis minornya membenarkan salah satu
alternatif, kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia
seorang guru atau pengusaha.
Dia
seorang guru.
Jadi,
dia bukan seorang pengusaha.
Dia
seorang guru atau pengusaha.
Dia
bukan seorang guru.
Jadi,
dia seorang pengusaha.
4)
Entimen
Biasanya, silogisme jarang
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya, dalam penarikan kesimpulan
tidak mengeksplisitkan premis mayor. Hal ini dikarenakan oleh telah
diketahuinya sifat dalam premis mayor tersebut. Dengan demikian, yang
dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Contoh
Semua
peserta upacara ikut berbaris.
Raehani
adalah peserta upacara.
Jadi,
Raehani ikut berbaris.
Dalam berkomunikasi sehari-hari,
contoh silogisme di atas lebih banyak diungkapkan dalam entimen demikian: “Raehani ikut berbaris karena peserta
upacara.” atau “Karena sebagai
peserta upacara, Raehani ikut berbaris.”
2.
Penalaran Induktif
Penalaran induktif
merupakan penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan khusus (premis)
untuk menghasilkan kesimpulan yang umum. Beberapa bentuk penalaran induktif
adalah sebagai berikut:
a.
Generalisasi
Generalisasi merupakan
proses penalaran yang betumpu pada beberapa pernyataan yang mempunyai sifat
tertentu untuk menghasilkan kesimpulan umum.
Contoh:
Jika
dipanaskan, kawat memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jadi,
jika dipanaskan, benda logam memuai.
b.
Analogi
Analogi merupakan
proses penalaran dengan cara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang
sama atau yang memiliki kemiripan dalam hal-hal tertentu. Apa yang berlaku pada
hal yang satu akan berlaku juga pada hal yang lain karena dua hal tersebut
memiliki kemiripan.
Misalnya seorang pernah
membeli jeruk. Waktu itu, dia harus memilih dengan saksama untuk mendapatkan
jeruk yang manis, bahkan harus mencicipinya pula. Akhirnya memang mendapatkan
jeruk yang manis dan dicermatilah karakter jeruk itu dari segi fisiknya. Kulit
jeruk agak kekuningan, teraba agak tipis dan sedikit lembek. Pada saat yang
lain dia membeli jeruk lagi. Kali ini tidak harus memilih jeruk dengan susah
payah. Dia dapat menetapkan jeruk di hadapannya itu manis atau masam hanya
dengan menggunakan rujukan karakter jeruk yang pernah dibelinya. Cara demikian
berbentuk analogi.
c.
Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah
bentuk penalaran dengan cara mengaitkan gejala-gejala yang saling berhubungan
dalam hukum kausalitas. Penalaran dalam bentuk hubungan kausal ini dapat
bertolak dari sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab.
Misalnya, bila kita
bakar kayu tentu akan muncul asap (sebab-akibat). Bila dari kejauhan kita tahu
ada asap membumbung ke angkasa, maka kita bisa menyimpulkan bahwa di bawahnya
terdapat api (akibat-sebab).[9]
BAB
III
KESIMPULAN
1.
Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan
dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah
dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika
keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
2.
Penulisan karya ilmiah hendaknya
menggunakan bahasa yang jelas, tepat, formal dan lugas dengan menggunakan kata
dan istilah yang jelas dan tepat, kalimat yang tidak berbelit-belit dan
struktur paragraf yang runtut.
3.
Asas-asas penyusunan gagasan dalam karya
ilmiah meliputi kejelasan, ketepatan dan keringkasan.
4.
Yang dimaksud dengan perwajahan adalah
tata letak (lay out) yang berkaitan
dengan segi keindahan dan estetika naskah. Dalam hal ini dikemukakan secara
ringkas mengenai masalah kertas pola ukuran dan penomoran.
5.
Aspek-aspek penalaran dalam karya ilmiah
meliputi aspek keterikatan, urutan, argumentasi, teknik penyusunan dan aspek
bahasa.
6.
Penalaran deduktif merupakan proses
berfikir dari pernyataan yang umum menuju pernyataan yang khusus. Sedangkan
penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif yaitu dari hal
yang khusus menuju ke hal yang umum.
DAFTAR
PUSTAKA
Dalman.
Menulis Karya Ilmiah. Jakarta:
Rajawali Pers, 2012.
Fauzi,
Asep. “Penulisan Karya Ilmiah”. (http://asep-fauzi.blogspot.com/2011/12/makalah-tentang-penulisan-karya-ilmiah.html, diakses
tanggal 20 November 2014).
Hartono.
Bagaimana Menulis Tesis. Malang: UMM
Press, 2009.
Mujianto,
Gigit. Bahasa Indonesia. Malang: UMM
Press, 2010.
Nurita.
“Konsep Penalaran Ilmiah dalam
Penulisan Ilmiah”. (http://nurii-thaa.blogspot.com/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-penulisan.html, diakses
tanggal 18 November 2014).
Rahardi,
Kunjana. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga, 2009.
Revisi,
Tim. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
Kediri: Stain Press, 2009.
Soeseno,
Slamet. Teknik Penulisan Imliah Populer.
Jakarta: Gramedia, 1984.
[1] Dalman, Menulis Karya Ilmiah (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 5.
[2] Ibid., 9.
[3] Tim Revisi, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Kediri: Stain Press, 2009), 16-17.
[4] Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi
(Jakarta: Erlangga, 2009), 144-145.
[5] Asep Fauzi, “Penulisan Karya
Ilmiah”, http://asep-fauzi.blogspot.com/2011/12/makalah-tentang-penulisan-karya-ilmiah.html, diakses tanggal 20 November
2014.
[6] Slamet Soeseno, Teknik Penulisan Imliah Populer
(Jakarta: Gramedia, 1984), 90.
[7]
Nurita, “Konsep Penalaran Ilmiah dalam Penulisan
Ilmiah”, http://nurii-thaa.blogspot.com/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-penulisan.html,
diakses tanggal 18 November 2014.
[8] Hartono, Bagaimana Menulis Tesis (Malang: UMM Press, 2009), 3-4.
[9] Gigit Mujianto, Bahasa Indonesia (Malang: UMM Press,
2010), 26-31.