Senin, 13 Juni 2022

Filsafat Akhlak

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Filsafat memang sedikit membingungkan. Namun dari filsafat itulah kita dapat mengetahui esensi suatu hal. Hingga kini menjadi pertanyaan. Filsafat masih saja menjadi kajian wajib diberbagai ajang pendidikan. Di Universitas Negeri maupun swasta. Dalam islam juga ada filsafat Islam, filsafat yang mengupas tentang keberadaan Islam itu sendiri.

Salah satu pengembangnya adalah ilmu akhlak, bagaimana keterkaitan filsafat dengan ilmu akhlak. Dimana ilmu akhlak membahasa tentang manusia dan filsafatpun membahas tentang segala yang ada. Artinya manusiapun dibahas oleh filsafat. Contoh para filosof muslim, diantaranya Ibn Sina dan Al-Ghazali, mereka memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana pemikirannya tentang jiwa.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat Akhlak ?

2.      Bagaimana Kedudukan Filsfat Akhlak?

3.      Bagaimana Isu-Isu Filsafat Akhlak ?

4.      Apa Pengertian Ilmu Akhlak ?

5.      Bagaimana hubungan filsafat dan Ilmu Akhlak?

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Filsafat Akhlak

1.      Pengertian Filsafat

Dilihat dari arti praktisnya filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. berfilsafat adalah berpikir. Langeveld, dalam bukunya “Pengantar pada pemikira filsafat” (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah perbincangan mengenai suatu hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekuensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya.[1]

2.      Pengertian Akhlak

Secara linguistic, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaqa, yukhliqu, dan ikhlaqan serta sesuai pula dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang mempunyai makna al-sajiyah (Perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-’adat (kebiasaan,kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).

Secara Istilah, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan perencanaan pemikiran dan pertimbangan.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa, akhlak itu adalah suatu perbuatan manusia baik itu budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, dan segala sesuatu yang telah menjadi tabi’at dalam kehidupan tanpa memerlukan perencanaan dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu.

Berbicara masalah akhlak yang Islami, bahwa fokus akhlak Islami yang sejati adalah kemuliaan dan keagungan diri. Artinya, kemuliaan diri banyak sekali memenuhi halaman akhlak Islami dan kemuliaan diri banyak menekankan pada manusia untuk menghidupkan akhlak insani dan mendorongnya agar berlaku etis.

Ibn Miskawaih (w. 412 H/1030 M) dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu, secara singkat mengakatan, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[2]

3.      Akhlak Sebagai Filsafat

Di antara obyek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan Ilmu Akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (9980-1037M.) dan Al-ghazali ( 1059-1111 M) memiliki pemikiran tentang manusia seperti terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya menyatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindera yang lima dan daya-daya batin dari jiwa biatanglah yang seperti indera bersam, estimasi dan rekoleksi yang menolong jiwa manusia untuk memperoloh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya.[3]

Pemikiran filsafat tentang yang dikemukakan Ibn Sina tersebut memberi petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep Ilmu Akhlak.

Pemikiraan tentang manusia dapat pula kita jumpai pada Ibn Khaldun. Dalam melihat manusia Ibn Khaldun mendasarkan diri pada asumsi-asumsi kemanusiaan yang sebelumnya lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Ia melihat manusia sebagai makhluk berpikir. Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu pengetahua dan ternologi. Manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.[4]

Tatapi kesempurnaan manusia tidak lahir begitu saja, melainkan malalui suatu proses tertentu. Khaldun menghubungkan kejadian manusia (sempurna) dalam perkembangan dan pertumbuhan alam semesta. Dalam pemikirannya tersebut tampak bahwa manusia adalah makhluk budaya yang kesempurnaanya baru akan terwujud jika ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya pembinaan manusia, termasuk dalam pembinaan akhlaknya.

 

B.     Kedudukan Filsafat Akhlak

Tidak syak lagi, bahwa akhlak dan pembinaan jiwa adalah sangat penting. Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagian dunia dan akherat adalah akhlak mulia, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan berusaha menyandang sifat-sifat terpuji. Dalam Islam, Akhlak merupakan permaslahan terpenting setelah Tauhid dan Nubuwwah. Melalaikan Akhlak acapkali memberangus dasar-dasar keyakinan seseorang. Dalam sebagian ayat, Al-qur’an menerangkan adanya sejumlah kebiasaan dan sifat buruk yang menjadi kendala besar untuk beriman kepada Tuhan. dalam kaitannya dengan kaum Nasrani Najran, rasulullah saww berkata: bukan karena mereka itu tidak tahu akan kebenaran Islam, tetapi hanya karemna kesuakaan mereka pada minuman keras dan daging babi. Disini tampak jelas hubungan erat antaera akhlak dan akidah . Berapa banyak akhlak yang baik yang dapat menunjukkan pelakunya kepada kebenaran, juga tidak sedikit akhlak yang buruk yang menyesatkannya pelakunya dari hidayah.

Akhlak dalam Islam adalah ilmu yang sangat mulia. Al-qur’an menyatakan bahwa pembinaan akhlak dan menyucian jiwa merupakan salah satu tujuan diutusnya para rasul dan nabi . Nabi Muhammmad saww dalam sebuah hadis yang amat populer menegaskan bahwa tujuan kenabiannnya adalah untuk menyempurnakan kemulian-kemulaian akhlak.

Menurut Islam, akhlak adalah salah satu ajaran fundamental disamping akidah dan syariat (hukum-hukum fikih). Ia adalah jalan hidup (way of life) dan arah gerak yang lurus menuju kesempurnmaan sejati. Ia yang membimbing manusia untuk selalu berhubungan dnegan Tuhan. oleh sebab ini, para ulama dan pemikir islam mencurahkan perhatian mereka secara lebih khusus kepada akhlak. Di dalam setiap masyarakat muslim selalu ada ulama-ulama yang membina anggota-anggotanya dengan menerapkan ritual-ritual yang membuat akhlak tetap hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka menuangkan ajaran dan arahan itu dalam karya-karya seperti: rasail ikhwanussh-shafa wa khillanul wafa’, as-sa’adah wal is’ad fil sirah insaniyah, tahdzibul akhlaq wa tathirul a’raq, ihya ulumud-din, al-muraqobat fi a’malis-sunnah, jamius-sa’adat, dan lain sebagainnya.

Kendati demikian, kajian-kajian yang berkaitan dengan akhlak kurang berkembang dibandingkan dengan kajian-kajian di bidang teologi, fikih atau di bidang-bidang ilmu keislaman lainnya. Berbagai faktor dan kendala sosial, psikologis, teologis, sebagaiamana yang dilaporkan Ghazali tentang situasi jamannya , turut mengisolir total pembahasan-pembahasn/studi-studi akhlak dari kaum muslimin.

Yang pasti, sedikit sekali upaya-upaya yang curahkan pada studi-studi yang berkaitan dengan Filsasafat akhlak, sehingga jarang sekali ditemukan pandangan-pandangan ulama dan pemikir akhlak Islam. Padahal secara logis, persoalan-persoalan Filsafat Akhlak, sebagai disiplin ilmu yang membahas dasar-dasar ilmu akhlak, mesti ditelaah tebih dahulu sebelum masuk pada tema-tema Ilmu Akhlak.

Sebaliknya di negara-negara Barat. meski nilai-nilai aklak di sana rapuh dan redup, namun banyak karya-karya yang ditulis berkenaan dengan akhlak, khususnya Filsafat akhlak yang merebut panyak peminat dari kalangan akademis. banyak kajian-kajian penting dan luas yang telah mereka lakukan, walaupun ada banyak kerancuan dalam meneliti beberapa masalah falsafat akhlak. Munculnya aliran-aliran akhlak yang beragam menegaskan bahwa pemikir-pemikir akhlak di sana masih belum menemukan landasan yang kuat dalam memecahkan permasalahn-permasalahn di bidang ini.

 

C.    Isu-Isu Filsafat Akhlak

Melengkapi pengenalan kita akan batas-batas dan cakupan pembahsan filsafat akhlak, di sini kita perlu mengisyaratkan isu-isu terpenting yang dibahas di dalamnya;

1.      Bagaimana proses kemunculan konsep-konsep moral? Bagaimana mental manusia menagkap konsep-konsep itu? bagaimana membedakan penggunaan istilah-istilah seperti; benar, salah, harus, tidak boleh, tugas, tanggung jawab dalam studi moral dari penggunaannya dalam studi-studi non-moral? Apakah pengertian dari konsep-konsep yang digunakan dalam studi-studi akhlak seperti; intusi, kehendak bebas (free will), ingin, motifasi, tanggungjawab, akal? Apakah esensi dan fungsi hukum-hukum yang terkandung dalam istilah-istilah dan konsep-konsep moral?

2.      Apakah dasar-dasar kemunculan hukum dan pesan moral? Apakah hukum-hukum moral itu bersumber dari alam natural? Ataukah dari akal budi manusia? Ataukah dari kontrak sosial? Ataukah dari kehendak dan perundang-undangan Tuhan? apakah pembuktian atas validitas keharusan-keharusan dan hukum-hukum moral mesti bertumpu pada satu keharusan prinsipal ilahi?

3.      Isu deklaratifitas dan imperatifitas statemen-statemen moral merupakan bagian terpenting dalam pembahsan Filsafat Akhlak. Kendati statemen-statemen moral bisa dituangkan ke dalam bentuk deklaratif seperti; “Keadilan adalah baik”, juga ke dalam bentuk imperatif seperti; “harus berbuat adil!”, permasalahannya menjadi demikian serius tatkala kajian di sini mempertanyakan manakah yang prinsipiil di antara dua bentuk statemen moral tersebut?

4.      Apakah posisi dan peran niat atau maksud pelaku dalam tindakan-tindakan moral? Apakah statemen “kejujuran itu baik” sudah bisa dinilai kebenarannya hanya karena kesesuaiannya dengan fakta di luar? Ataukah perlu dilampirkan pula motifasi subjektif di dalam penilaian tersebut? Lebih cermat lagi, apakah hukum-hukum moral itu dilandasai oleh nilai baik buruknya tindakan saja, ataukah juga oleh baik buruknya si pelaku?

5.      Apakah unsur “keharusan” adalah bagian dari karakter dasar pesan-pesan dan hukum-hukum moral? Jika demikian, lalu bagaimana kaitan unsur keharusan itu dengan kepemilihan bebas manusia yang merupakan unsur lain dalam karakter dasar pesan dan hukum moral?

6.      Apakah hubungan antara tindakan moral dan ganjaran/balasan? Apakah mesti ada ganjaran baik di balik tindakan yang baik dan ganjaran buruk di balik tindakan yang bhbruak? Jika demikian, apakah pelaku mesti concern terhadap ganjaran di saat ia melakukan tindakannya, atau malah perhatiannya inilah yang menempatkan dirinya dalam kerangka transaksi/kontraksi, sehingga berdampak negatif pada moralitas tindakannya?

7.      Permaslahan Filsafat Akhlak yang tidak kurang pentingnya adalah apakah dasar-dasar suatu hukum moral? Atas dasar apa statemen-statemen moral itu dirumuskan dan dinyatakan? Bagaimana menjelaskan arti harus dalam hukum moral? Apakah metode pembuktian atas hokum-hukum moral? Mengapa harus bersikap jujur, harus berbuat adil, tidak boleh menganiaya? Apakah standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan? Apakah kepuasan subjektif? Ataukah kepuasan kolektif? Apakah klaim Durkheim itu benar bahwa maysarakat adalah hakim yang memutuskan baik buruknya suatu tindakan? Ataukah sama sekali standar itu tidak ada kaitannya dengan kepuasan kolektif dan selera subjektif, tetapi brkaitan erat dnegan kesempurnaan hakiki dan kebahagian abadi manusia?

8.      Apakah hukum-hukum moral disa diverifikasi? Jika demikian, apakah verifikasi itu berlaku pada seluruh hukum-hukum moral, baik yang bersifat fundamental (basic judgement) ataupun yang bersifat turunan (derivative judgement)? Apakah benar hukum-hukum fundamental akhlak tidak perlu verifikasi dan pembuktian, sebagaiman dalam klaim Intusionisme? Adakah perbedaan di antara pembuktian dalam akhlak dan pembuktian di luar akhlak? Apakah jenis pembuktian dalam akhlak? Apakah berupa demonstrasi, dialektika atau selainnya?

9.       Apakah setiap masyarakat mesti menganut sistem nilai yang khas bagi dirinya, ataukah semauanya hanya punya satu sistem nilai dan satu rangkaian hukum moral? Apakah moralitas masyarakat feodal mesti berbeda dengan moralitas maysarakat borjuis? Apakah hukum-hukum moral sebuah komunitas itu stabil atau berubah-ubah seiring dengan jatuh bangun riwayat perjalanannya? Artinya, apakah nilai-nilai noral iru absolut ataukah relatif?

10.  Salah satu pembahsan terpenting dalam Filsafat Akhlak adalah relasi Akhlak dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya seperti: sains, hukum, agama, dan kontrak-kontrak sosial. Apakah akhak terpisah dari agama? Mungkinkah sistem nilai itu tegak kokoh tanpa agama? Apakah relasi antara sains dan akhlak? Bisakah niali-nilai dan hukum-hukum akhlak dibetot dari data-data sains? Apakah keduanya sama sekali berbeda, sehingga tidak ada satu hukum moral pun yang bisa diverifikasi oleh seribu satu pembuktian ilmiah? Apakah relasi antara akhlak dengan hukum positif dan perundang-undangan, kontrak-kontrak sosial dan konsensus-konsensus politik? Adakah kesamaan dan perbedaan di antara mereka?

 

D.    Pengertian Ilmu Akhlak

Banyak definisi yang ditawarkan untuk ilmu Akhlak. Sebagian ulama menekankan unsur pengetahuan, dan menyatakan bahwa ilmu Akhlak adalah pengenalan terhadap kemulaiaan akhlak dan kebejatannya. Muhaqqiq Thusi mengatakan bahwa ilmu Akhlak yaitu pengetahuan tentang bagaimana jiwa manusia menyandang suatu karakter yang memuliakan seluruh tindakan yang dilakukan atas dasar kehendak

Sebelum kita berbicara lebih jauh lagi, hendaklah kita mengetahui dahulu mengenai yang dimaksud filsafat. Pada asal katanya filsafat berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta kepada kebenaran, juga ada  yang berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah. I.R Poedjawijatna, filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.

Berpikir filsafat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain harus sistematis, harus konsepsional, harus koheren, harus rasional, harus sinoptik(menyeluruh) harus mengarah kepada pandangan dunia. Jadi dalam berpikir filsafat yang dibahas ialah hakikat segala sesuatu, dan sifatnya menyeluruh juga radikal.

Diantara obyek filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Ghazali memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.

Ibn Sina misalnya mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sungguhpun jiwa manusia tak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan wujudnya, badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindra dan daya-daya jiwa yang lain yang menolong jiwa untuk memperoleh konsep dan ide dari alam sekelilingnya. Jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka selamanya ia berada dalam kesenangan, jika ia berpisah ia tidak sempurna, karena ketika bersatu dengan badan ia dipengaruhi hawa nafsu badan, maka ia akan menyesal selamanya. Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan atau sumber yang dapat dikembangkan  lebih lanjut menjadi sebuah konsep akhlak.

Al-Ghazali membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Kaum pilihan (khavas; elect) yang akalnya tajam dan berpikir secara mendalam. Kaum ahli debat (ahl al-jadl). Pembagian ini didasarkan pada berbeda-bedanya sifat-sifat mereka.

Pemikiran Al Ghazali ini memberi petunjuk adanya perbedaan cara dan pendekatan dalam menghadapi orang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang demikian akan membantu dalam merumuskan metode, cara, dan pendekatan yang tepat dalam mengajarkan akhlak.

Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis itu akan memberika masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.

Selain itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan cara berhubungan dengan Tuhan dan makhluk lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, tehadap manusia, alam dan makhluk Tuhan lainnya.

Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar  atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak  atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,  adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.[5]

Ilmu pengetahuan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.

Praktek ilmu pengetahuan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek ilmu pengetahuan dapat berupa pengelolaan ilmu pengetahuan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan ilmu pengetahuan (bimbingan, pengajaran dan atau latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan ilmu pengetahuan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak  dalam rangka praktek ilmu pengetahuan dan atau  studi pendidikan.

 

E.     Hubungan ILmu Akhlak dan Filsafat Akhlak.

Pengertiann Ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuattu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan  pikian. Filsafat memiliki bidang-bidang kajiannya mencakup berbagai disiplin ilmu antara lain:

a.       Metafisika: penyelidikan di balik alam nyata

b.      Kosmologo: penyelidikan tentang alam(filsafat alam)

c.       Logika: pembahasan tentang cara berfikir cepat dan  tepat

d.      Etika: pembahasan tentang tingkah laku manusia

e.       Theodica: pembahasan tentang ke-Tuhanan

f.       Antopolog:pembahasan tentang manusia

Dengan demikian, jelaslah bahwa etika/akhlak tiu termasuk salah atu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang yang akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika/akhlak, dalam proses perkembanganya , sekalipun masih diakui sebagian dalam ilmu pembahasan filsafat, kini telah menjadi ilmu yang mempunyai identitas sendiri.

Selain itu filsafat juga membahas Tuhan, alam dan makhluknya. Daripembhasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian akan duwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan , terhadap manusia, dan makhluk Tuhan lainnya. Jadi kesimplannya hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat adalah di dalam ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan denganetika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Dan setelah mempelajari ilmu-ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.
BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Filsafat ialah berpikir ke akar-akarnya untuk menemukan hakekat kebenaran, sedangkan Akhlak ialah kebiasaan seseorang atau perilahu seseorang yang dilakukan tanpa mempertimbangannya terlebih dahulu.

Filsafat dan ilmu Akhlak memang sangat erak hubungannya, karena filsafat membahas tentang manusia, dan manusia mempunyai jiwa yang menimbulkan perilaku. Perilaku tersebut disebut akhlak. Pemikiran filsafat tentang manusia dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu Akhlak.




DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III

M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987)

Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006



[1] Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006, hlm. 9-10

[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996, hlm. 2

[3] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III, hlm.38.

[4] M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987), hlm. 151.

 

[5] Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)

 

Jumat, 10 Juni 2022

KONSEP DASAR DARI BESARAN

 

BAB I

PENDAHULAN

A.    Latar Belakang

Tanpa kita sadari setiap hari kita menggunakan alat ukur sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan maupun mempermudah aktivitas kita. Alat ukur yang di gunakan dalam  kehidupan sehari-hari yang sering kita temui adalah alat ukur dari besaran pokok. Berbagai macam alat ukur dari besaran pokok inilah yang mempermudah kita mengetahui beberapa hasil dari pengukuran yang didapat. Namun yang sering kita temui dan kita gunakan, dari 7 besaran pokok yang ditetapkan dalam satuan internasioanal berupa panjang, suhu, massa, waktu, intensitas cahaya, dan jumlah zat.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Besaran?

2.      Apa pengertian Satuan?

3.      Apa pengertian Pengukuran?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian Besaran

2.      Untuk mengetahui pengertian Satuan

3.      Untuk mengetahui pengertian Pengukuran

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Besaran

Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur, serta dapat dinyatakan dengan angka dan memiliki satuan. Besaran berdasarkan cara memperolehnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:

1.      Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran. Karena diperoleh dari pengukuran maka harus ada alat ukurnya. Sebagai contoh adalah massa. Massa merupakan besara   n fisika karena massa dapat diukur dengan menggunakan neraca.

2.      Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan. Dalam hal ini tidak diperlukan alat ukur tetapi alat hitung sebagai misal kalkulator. Contoh besaran non fisika adalah Jumlah.

Besaran Fisika sendiri dibagi menjadi 2, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

a)      Besaran Pokok adalah besaran yang ditentukan lebih dulu berdasarkan kesepatan para ahli fisika. Besaran pokok yang paling umum ada 7 macam. Selain itu, terdapat dua besaran tambahan yang tidak memiliki dimensi, yakni sudut datar dan sudut ruang (tiga dimensi).

Besaran

Satuan

Lambang Satuan

Panjang

Meter

m

Massa

Kilogram

kg

Waktu

Sekon

s

Suhu

Kelvin

K

Kuat Arus

Ampere

A

Intensitas Cahaya

Candela

cd

Jumlah Zat

Mol

mol

*tabel besaran pokok

Besaran Tambahan

Satuan

Lambang Satuan

Sudut Datar

Radian

rad

Sudut Ruang

Steradian

sr

tabel besaran tambahan

b)      besaran turunan

besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Besaran ini ada banyak macamnya.

Besaran Turunan

Nama Satuan

Lambang Satuan

Kecepatan

meter/sekon

m/s

Massa jenis

kilogram/meter3

kg/m3

Luas

meter2

m2

Volume

meter3

m3

Gaya

newton

N

energi

Newton.meter = joule

N.m = j

*tabel besaran turunan dan satuannya

Selain itu, berdasarkan ada tidaknya arah, besaran juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu besaran skalar dan besaran vector.

1.      Besaran skalar yaitu  besaran  yang  mempunyai  besar  dan  satuan  saja  tanpa memiliki arah. Contoh : pangjang, massa, waktu

2.      Besaran vektor yaitu  besaran  yang  memiliki  besar  (nilai),  satuan  dan  arah. 
Contoh : kecepatan, gaya, perpindahan,dll. 

B.     Pengertian Satuan

Satuan  adalah  suatu  pembanding  dalam  pengukuran atau membandingkan besaran dengan yang lain yang dipakai oleh patokan. Satuan merupakan salah satu komponen besaran yang menjadi standar dari suatu besaran. Adanya berbagai macam satuan untuk besaran yang sama akan menimbulkan kesulitan. Kalian harus melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu untuk memecahkan persoalan yang ada. Dengan adanya kesulitan tersebut, para ahli sepakat untuk menggunakan satu sistem satuan, yaitu menggunakan satuan standar Sistem Internasional, disebut Systeme Internationale d’Unites (SI).

Satuan Internasional adalah satuan yang diakui penggunaannya secara internasional serta memiliki standar yang sudah baku. Satuan ini dibuat untuk menghindari kesalahpahaman yang timbul dalam bidang ilmiah karena adanya perbedaan satuan yang digunakan. Pada awalnya, Sistem Internasional disebut sebagai Metre – Kilogram – Second (MKS). Selanjutnya pada Konferensi Berat dan Pengukuran Tahun 1948, tiga satuan yaitu newton (N), joule (J), dan watt (W) ditambahkan ke dalam SI. Akan tetapi, pada tahun 1960, tujuh Satuan Internasional dari besaran pokok telah ditetapkan yaitu meter, kilogram, sekon, ampere, kelvin, mol, dan kandela.

Sistem MKS menggantikan sistem metrik, yaitu suatu sistem satuan desimal yang mengacu pada meter, gram yang didefinisikan sebagai massa satu sentimeter kubik air, dan detik. Sistem itu juga disebut sistem Centimeter – Gram – Second (CGS).

Satuan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu satuan tidak baku dan satuan baku. Standar satuan tidak baku tidak sama di setiap tempat, misalnya jengkal dan hasta. Sementara itu, standar satuan baku telah ditetapkan sama di setiap tempat.

No

Besaran

MKS

CGS

1

Panjang

m

Cm

2

Massa

kg

gram, ons, pounds

3

Waktu

detik

menit, jam, hari

4

Gaya

newton

Dyne

5

Energi

joule

kalori, erg

6

Suhu

kelvin

Celcius, Fahrenheit, Reamur

Sistem Satuan Internasional (SI) : Sistem satuan yang berlaku secara internasional (mendunia). Sistem Satuan Internasional (SI) di bagi menjadi dua, yaitu:

a)      Sistem MKS : (Meter, kilogram, sekon, atau detik).

b)      Sistem CGS : (Sentimeter, gram, sekon, atau detik).

 

C.    Pengertian Pengukuran

Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala alam seperti gerak, kalor, cahaya, bunyi , listrik, dan magnet. Proses pengamatan gejala alam tersebut bermula dari pengamatan yang dilakukan oleh indera kita. Akan tetapi pengamatan tersebut harus disertai dengan data kuantitatif yang dapat diperoleh dari hasil pengukuran.

Pada proses pengukuran, alat ukur merupakan bagian terpenting dari sebuah pengamatan. Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak pernah luput dari kegiatan pengukuran. Kita membeli minyak goreng, gula, beras, daging, mengukur tinggi badan, menimbang berat, mengukur suhu tubuh merupakan bentuk aktivitas pengukuran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengukuran merupakan bagian dari kehidupan manusia. Melalui hasil pengukuran kita bisa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Pengukuran agar memberikan hasil yang baik maka haruslah menggunakan alat ukur yang memenuhi syarat.

Suatu alat ukur dikatakan baik bila memenuhi syarat yaitu valid (sahih)danreliable (dipercaya). Disamping ke dua syarat di atas, ketelitian alat ukur juga harus diperhatikan. Semakin teliti alat ukur yang digunakan, maka semakin baik kualitas alat ukur tersebut.

Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan suatu besaran dengan suatu besaran yang sudah distandar. Pengukuran panjang dilakukan dengan menggunakan mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup. Pengukuran berat menggunakan neraca dengan berbagai ketelitian, mengukur kuat arus listrik menggunakan ampermeter, mengukur waktu dengan stopwatch, mengukur suhu dengan termometer, dan lain sebagainya. Mistar, jangka sorong, mikrometer sekrup, neraca, amper meter, termometer merupakan alat ukur yang sudah distandar. Penggunaan alat ukur yang sudah distandar, maka siapapun yang melakukan pengukuran, dimanapun pengukuran itu dilakukan, dan kapanpun pengukuran itu dilaksanakan akan memberikan hasil yang relatif sama.

1.      Instrumen Pengukuran

Instumen pengukuran adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran. Hasil akhir dari proses pengukuran sangat tergantung pada kemampuan alat ukur yang digunakan. Kemampuan alat ukur dapat diketahui dari berbagai kriteria yang ditetapkan, diantaranya adalah:

a.       accuracy, adalah kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil ukur yang mendekati hasil sebenarnya.

b.      Presisi, adalah kemampuan alat ukur untuk memberikan hasil yang sama dari pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama.

c.       Sensitivitas, adalah tingkat kepekaan alat ukur terhadap perubahan besaraan yang akan diukur.

d.      Kesalahan ( error ), adalah penyimpangan hasil ukur terhadap nilai yang sebenarnya

Idealnya sebuah alat ukur memiliki accuracy, presisi dan sensitivitasyang baik sehingga tingkat kesalahannya relatif kecil dan data yang dihasilkan akan akurat.

2.      Pengukuran Besaran Pokok

a.       Pengukuran Besaran Panjang

Pengukuran besaran panjang bisa dilakukan dengan menggunakan mistar, jangka sorong, atau mikrometer sekrup. Alat ukur tersebut memiliki nilai ketelitian yang berbeda-beda. Nilai ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur.

1)      Mistar

Mistar merupakan alat ukur panjang yang paling sederhana dan sudah lumrah dikenal orang. Ada dua jenis mistar yang sering digunakan, yaitu stik meter dan mistar metrik. Stik meter memiliki panjang 1 meter dan memiliki skala desimeter, sentimeter, dan milimeter. Mistar metrik memiliki panjang 30 sentimeter. Mistar memiliki skala pengukuran terkecil 1 milimeter, sesuai dengan jarak garis terkecil antara dua garis yang saling berdekatan. Ketelitiannya adalah 0,5 milimeter, atau setengah dari skala terkecil.

*gambar mistar

 

 

Ketika kita akan mengukur panjang suatu objek dengan menggunakan sebuah mistar kita letakan ujung mistar yang menunjukan nilai nol ke ujung objek yang akan diukur, kemudian baca panjang skala yang terdekat dengan ujung objek yang diukur tersebut. Angka tersebut menunjukan panjang objek yang kita ukur Untuk pengukuran dengan menggunakan mistar atau penggaris, kita harus membaca skala pada alat secara benar, yaitu posisi mata tepat di atas tanda yang akan dibaca. Posisi yang salah akan menyebabkan kesalahan baca atau kesalahan paralaks.

2)      Meteran lipat (pita pengukur)

a)      Digunakan untuk megukur suatu obyek yang tidak bisa dilakukan dengan mistar, misalnya karena ukurannya terlalu panjang atau bentuknya tidak lurus.

b)      Mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 1 mm.

3)      Jangka sorong

a)      Digunakan untuk mengetahui panjang bagian luar maupun bagian benda dengan sangat akurat / teliti

b)      Mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 0,1 mm

Jangka sorong seperti pada gambar di atas adalah jangka sorong yang skalanya mudah dibaca. Tetapi jangka sorong yang ada di laboratorium sekolah mempunyai cara pembacaan skala yang berbeda, dimana ada skala utama dan skala vernier/nonius.

Cara membaca skala:

Hasil pembacaan =  4,74 cm atau 47,4 mm

4)      Mikrometer Sekrup

a)      Digunakan untuk mengetahui ukuran panjang yang sangat kecil

b)      Mempunyai tingkat ketelitian sampai dengan 0,01 mm

 

 

b.      Alat Ukur Massa

Neraca  yang digunakan di laboratorium fisika pada umumnya berbeda neraca yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa contoh neraca berbagai bentuk.

Dan di bawah ini adalah contoh neraca yang sering ditemukan di laboratarium

Ada empat macam prinsip kerja neraca, yaitu:

1.      Prinsip kesetimbangan gaya gravitasi, contoh neraca sama lenga

2.      Prinsip kesetimbangan momen gaya, contoh neraca dacin

3.      Prinsip kesetimbangan gaya elastis, contoh neraca pegas untuk menimbang bahan-bahan ku

4.      Prinsip inersia (kelembaman), contoh neraca inersia

 

c.       Alat Ukur Waktu

Sebenarnya ada banyak alat ukur waktu yang tersedia, seperti jam tangan, jam dinding, jam bandul dan sebagainya. Namun yang sering digunakan di laboratorium adalah stopwatch.

Ada banyak jenis stopwatch dengan berbagai ketelitian, mulai dari 1 detik, 1/10 detik, sampai 1/100 detik. Ada juga stopwatch digital dengan ketelitian yang sangat tinggi, misalnya fasilitas stopwatch di handphone.

d.      Alat Ukur Suhu (temperatur)

Alat ukur suhu adalah termometer, dan ada banyak jenis termomter. Dilihat dari jenis skala ada tiga macam termomometer, yaitu Celcius, Fahrenheit, dan Reamur. Ditinjau dari bahan termometrik yang digunakan juga ada tiga jenis termometer, yaitu termometer gas, zat cair, dan zat padat (termokopel dan hambatan platina).

e.       Alat Ukur Massa jenis

Massa jenis termasuk besaran turunan yaitu sama dengan massa dibagai volume benda. Oleh karena itu, untuk menentukan massa jenis sebuah benda kita perlu dua alat ukur, yaitu  alat ukur massa (neraca) dan alat ukur volume (penggaris untuk benda yang teratur bentuknya atau gelas ukur).

Cara lain untuk mengukur volume benda adalah dengan memasukkan benda langsung ke dalam gelas ukur.

 

 

 

 

Contoh:

Mula-mula air pada gelas ukur menunjuk skala pada 12,4 ml. Setelah sebuah benda dimasukkan pada gelas ukur, air menunjuk pada skala 20,2 ml. Jadi volume benda tersebut adalah 20,2 ml – 12,4 ml  atau 7,8 ml

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur, serta dapat dinyatakan dengan angka dan memiliki satuan. Besaran berdasarkan cara memperolehnya dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:

1.      Besaran Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari pengukuran.

2.      Besaran non Fisika yaitu besaran yang diperoleh dari penghitungan..

Besaran Fisika sendiri dibagi menjadi 2, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

Satuan  adalah  suatu  pembanding  dalam  pengukuran atau membandingkan besaran dengan yang lain yang dipakai oleh patokan. Satuan merupakan salah satu komponen besaran yang menjadi standar dari suatu besaran.

Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan suatu besaran dengan suatu besaran yang sudah distandar. Pengukuran panjang dilakukan dengan menggunakan mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup. Pengukuran berat menggunakan neraca dengan berbagai ketelitian, mengukur kuat arus listrik menggunakan ampermeter, mengukur waktu dengan stopwatch, mengukur suhu dengan termometer, dan lain sebagainya.

B.     Saran

Semoga setelah membaca makalah ini para pembaca lebih memahami lagi apa itu besaran, satuan, dan pengukuran. Dan makalah ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu kami meminta kritik dan saran nya yang bersifat relevan.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdiknas. (2005). Ilmu Pengetahuan Alam-Fisika. Jakarta: Dirjen Dikdasmen

Slamet, A., dkk. (2008). Praktikum IPA. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

Soejoto dan Sustini, E. (1993). Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Dirjen Dikti

Depdiknas.

Tim Seqip. (2003). Buku IPA Guru Kelas VI. Dirjen Dikdasmen Depdiknas, Jakarta

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...