BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Filsafat memang sedikit membingungkan. Namun dari filsafat
itulah kita dapat mengetahui esensi suatu hal. Hingga kini menjadi pertanyaan.
Filsafat masih saja menjadi kajian wajib diberbagai ajang pendidikan. Di
Universitas Negeri maupun swasta. Dalam islam juga ada filsafat Islam, filsafat
yang mengupas tentang keberadaan Islam itu sendiri.
Salah satu pengembangnya adalah ilmu akhlak, bagaimana
keterkaitan filsafat dengan ilmu akhlak. Dimana ilmu akhlak membahasa tentang
manusia dan filsafatpun membahas tentang segala yang ada. Artinya manusiapun
dibahas oleh filsafat. Contoh para filosof muslim, diantaranya Ibn Sina dan Al-Ghazali,
mereka memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana pemikirannya tentang
jiwa.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan filsafat
Akhlak ?
2. Bagaimana Kedudukan Filsfat Akhlak?
3. Bagaimana Isu-Isu Filsafat Akhlak ?
4. Apa Pengertian Ilmu Akhlak ?
5. Bagaimana hubungan filsafat dan Ilmu
Akhlak?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Filsafat Akhlak
1. Pengertian Filsafat
Dilihat
dari arti praktisnya filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran.
berfilsafat adalah berpikir. Langeveld, dalam bukunya “Pengantar pada pemikira
filsafat” (1959) menyatakan, bahwa filsafat adalah perbincangan mengenai suatu
hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai ke akar-akarnya. Apabila
dirumuskan kembali, filsafat adalah suatu wacana, atau perbincangan mengenai segala
hal secara sistematis sampai konsekuensi terakhir dengan tujuan menemukan
hakekatnya.[1]
2. Pengertian Akhlak
Secara linguistic, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu akhlaqa,
yukhliqu, dan ikhlaqan serta sesuai pula dengan timbangan (wazan) tsulasi majid
af’ala, yuf’ilu if’alan yang mempunyai makna al-sajiyah (Perangai),
ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-’adat (kebiasaan,kelaziman),
al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).
Secara Istilah, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan
perencanaan pemikiran dan pertimbangan.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa, akhlak itu adalah suatu
perbuatan manusia baik itu budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, dan segala
sesuatu yang telah menjadi tabi’at dalam kehidupan tanpa memerlukan perencanaan
dan pertimbangan yang matang terlebih dahulu.
Berbicara masalah akhlak yang Islami, bahwa fokus akhlak Islami
yang sejati adalah kemuliaan dan keagungan diri. Artinya, kemuliaan diri banyak
sekali memenuhi halaman akhlak Islami dan kemuliaan diri banyak menekankan pada
manusia untuk menghidupkan akhlak insani dan mendorongnya agar berlaku etis.
Ibn
Miskawaih (w. 412 H/1030 M) dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan
terdahulu, secara singkat mengakatan, bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam
dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran
dan pertimbangan.[2]
3. Akhlak Sebagai Filsafat
Di antara obyek pemikiran filsafat
yang erat kaitannya dengan Ilmu Akhlak adalah tentang manusia. Para filosof
muslim seperti Ibn Sina (9980-1037M.) dan Al-ghazali ( 1059-1111 M) memiliki
pemikiran tentang manusia seperti terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.
Ibn
Sina misalnya menyatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri
dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap
kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Pada
permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir.
Pancaindera yang lima dan daya-daya batin dari jiwa biatanglah yang seperti
indera bersam, estimasi dan rekoleksi yang menolong jiwa manusia untuk
memperoloh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya.[3]
Pemikiran
filsafat tentang yang dikemukakan Ibn Sina tersebut memberi petunjuk bahwa
dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat
dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep Ilmu Akhlak.
Pemikiraan
tentang manusia dapat pula kita jumpai pada Ibn Khaldun. Dalam melihat manusia
Ibn Khaldun mendasarkan diri pada asumsi-asumsi kemanusiaan yang sebelumnya
lewat pengetahuan yang ia peroleh dalam ajaran Islam. Ia melihat manusia
sebagai makhluk berpikir. Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu
pengetahua dan ternologi. Manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga
menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup.
Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.[4]
Tatapi
kesempurnaan manusia tidak lahir begitu saja, melainkan malalui suatu proses
tertentu. Khaldun menghubungkan kejadian manusia (sempurna) dalam perkembangan
dan pertumbuhan alam semesta. Dalam pemikirannya tersebut tampak bahwa manusia
adalah makhluk budaya yang kesempurnaanya baru akan terwujud jika ia
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini menunjukan tentang perlunya
pembinaan manusia, termasuk dalam pembinaan akhlaknya.
B.
Kedudukan Filsafat Akhlak
Tidak syak lagi, bahwa akhlak dan pembinaan jiwa
adalah sangat penting. Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagian
dunia dan akherat adalah akhlak mulia, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk
dan berusaha menyandang sifat-sifat terpuji. Dalam Islam, Akhlak merupakan
permaslahan terpenting setelah Tauhid dan Nubuwwah. Melalaikan Akhlak acapkali
memberangus dasar-dasar keyakinan seseorang. Dalam sebagian ayat, Al-qur’an
menerangkan adanya sejumlah kebiasaan dan sifat buruk yang menjadi kendala
besar untuk beriman kepada Tuhan. dalam kaitannya dengan kaum Nasrani Najran,
rasulullah saww berkata: bukan karena mereka itu tidak tahu akan kebenaran
Islam, tetapi hanya karemna kesuakaan mereka pada minuman keras dan daging
babi. Disini tampak jelas hubungan erat antaera akhlak dan akidah . Berapa
banyak akhlak yang baik yang dapat menunjukkan pelakunya kepada kebenaran, juga
tidak sedikit akhlak yang buruk yang menyesatkannya pelakunya dari hidayah.
Akhlak dalam Islam adalah ilmu yang sangat
mulia. Al-qur’an menyatakan bahwa pembinaan akhlak dan menyucian jiwa merupakan
salah satu tujuan diutusnya para rasul dan nabi . Nabi Muhammmad saww dalam
sebuah hadis yang amat populer menegaskan bahwa tujuan kenabiannnya adalah
untuk menyempurnakan kemulian-kemulaian akhlak.
Menurut Islam, akhlak adalah salah satu
ajaran fundamental disamping akidah dan syariat (hukum-hukum fikih). Ia adalah
jalan hidup (way of life) dan arah gerak yang lurus menuju kesempurnmaan
sejati. Ia yang membimbing manusia untuk selalu berhubungan dnegan Tuhan. oleh
sebab ini, para ulama dan pemikir islam mencurahkan perhatian mereka secara
lebih khusus kepada akhlak. Di dalam setiap masyarakat muslim selalu ada
ulama-ulama yang membina anggota-anggotanya dengan menerapkan ritual-ritual
yang membuat akhlak tetap hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka
menuangkan ajaran dan arahan itu dalam karya-karya seperti: rasail
ikhwanussh-shafa wa khillanul wafa’, as-sa’adah wal is’ad fil sirah insaniyah,
tahdzibul akhlaq wa tathirul a’raq, ihya ulumud-din, al-muraqobat fi
a’malis-sunnah, jamius-sa’adat, dan lain sebagainnya.
Kendati demikian, kajian-kajian yang
berkaitan dengan akhlak kurang berkembang dibandingkan dengan kajian-kajian di
bidang teologi, fikih atau di bidang-bidang ilmu keislaman lainnya. Berbagai
faktor dan kendala sosial, psikologis, teologis, sebagaiamana yang dilaporkan
Ghazali tentang situasi jamannya , turut mengisolir total
pembahasan-pembahasn/studi-studi akhlak dari kaum muslimin.
Yang pasti, sedikit sekali upaya-upaya yang
curahkan pada studi-studi yang berkaitan dengan Filsasafat akhlak, sehingga
jarang sekali ditemukan pandangan-pandangan ulama dan pemikir akhlak Islam.
Padahal secara logis, persoalan-persoalan Filsafat Akhlak, sebagai disiplin
ilmu yang membahas dasar-dasar ilmu akhlak, mesti ditelaah tebih dahulu sebelum
masuk pada tema-tema Ilmu Akhlak.
Sebaliknya di negara-negara Barat. meski
nilai-nilai aklak di sana rapuh dan redup, namun banyak karya-karya yang
ditulis berkenaan dengan akhlak, khususnya Filsafat akhlak yang merebut panyak
peminat dari kalangan akademis. banyak kajian-kajian penting dan luas yang
telah mereka lakukan, walaupun ada banyak kerancuan dalam meneliti beberapa
masalah falsafat akhlak. Munculnya aliran-aliran akhlak yang beragam menegaskan
bahwa pemikir-pemikir akhlak di sana masih belum menemukan landasan yang kuat
dalam memecahkan permasalahn-permasalahn di bidang ini.
C.
Isu-Isu Filsafat Akhlak
Melengkapi pengenalan kita akan batas-batas
dan cakupan pembahsan filsafat akhlak, di sini kita perlu mengisyaratkan
isu-isu terpenting yang dibahas di dalamnya;
1.
Bagaimana proses kemunculan
konsep-konsep moral? Bagaimana mental manusia menagkap konsep-konsep itu?
bagaimana membedakan penggunaan istilah-istilah seperti; benar, salah, harus,
tidak boleh, tugas, tanggung jawab dalam studi moral dari penggunaannya dalam
studi-studi non-moral? Apakah pengertian dari konsep-konsep yang digunakan
dalam studi-studi akhlak seperti; intusi, kehendak bebas (free will), ingin,
motifasi, tanggungjawab, akal? Apakah esensi dan fungsi hukum-hukum yang terkandung
dalam istilah-istilah dan konsep-konsep moral?
2.
Apakah dasar-dasar kemunculan
hukum dan pesan moral? Apakah hukum-hukum moral itu bersumber dari alam
natural? Ataukah dari akal budi manusia? Ataukah dari kontrak sosial? Ataukah
dari kehendak dan perundang-undangan Tuhan? apakah pembuktian atas validitas
keharusan-keharusan dan hukum-hukum moral mesti bertumpu pada satu keharusan
prinsipal ilahi?
3.
Isu deklaratifitas dan
imperatifitas statemen-statemen moral merupakan bagian terpenting dalam
pembahsan Filsafat Akhlak. Kendati statemen-statemen moral bisa dituangkan ke
dalam bentuk deklaratif seperti; “Keadilan adalah baik”, juga ke dalam bentuk
imperatif seperti; “harus berbuat adil!”, permasalahannya menjadi demikian
serius tatkala kajian di sini mempertanyakan manakah yang prinsipiil di antara
dua bentuk statemen moral tersebut?
4.
Apakah posisi dan peran niat
atau maksud pelaku dalam tindakan-tindakan moral? Apakah statemen “kejujuran
itu baik” sudah bisa dinilai kebenarannya hanya karena kesesuaiannya dengan
fakta di luar? Ataukah perlu dilampirkan pula motifasi subjektif di dalam
penilaian tersebut? Lebih cermat lagi, apakah hukum-hukum moral itu dilandasai
oleh nilai baik buruknya tindakan saja, ataukah juga oleh baik buruknya si
pelaku?
5.
Apakah unsur “keharusan” adalah
bagian dari karakter dasar pesan-pesan dan hukum-hukum moral? Jika demikian,
lalu bagaimana kaitan unsur keharusan itu dengan kepemilihan bebas manusia yang
merupakan unsur lain dalam karakter dasar pesan dan hukum moral?
6.
Apakah hubungan antara tindakan
moral dan ganjaran/balasan? Apakah mesti ada ganjaran baik di balik tindakan
yang baik dan ganjaran buruk di balik tindakan yang bhbruak? Jika demikian,
apakah pelaku mesti concern terhadap ganjaran di saat ia melakukan tindakannya,
atau malah perhatiannya inilah yang menempatkan dirinya dalam kerangka
transaksi/kontraksi, sehingga berdampak negatif pada moralitas tindakannya?
7.
Permaslahan Filsafat Akhlak
yang tidak kurang pentingnya adalah apakah dasar-dasar suatu hukum moral? Atas
dasar apa statemen-statemen moral itu dirumuskan dan dinyatakan? Bagaimana
menjelaskan arti harus dalam hukum moral? Apakah metode pembuktian atas
hokum-hukum moral? Mengapa harus bersikap jujur, harus berbuat adil, tidak
boleh menganiaya? Apakah standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan? Apakah
kepuasan subjektif? Ataukah kepuasan kolektif? Apakah klaim Durkheim itu benar
bahwa maysarakat adalah hakim yang memutuskan baik buruknya suatu tindakan?
Ataukah sama sekali standar itu tidak ada kaitannya dengan kepuasan kolektif
dan selera subjektif, tetapi brkaitan erat dnegan kesempurnaan hakiki dan
kebahagian abadi manusia?
8.
Apakah hukum-hukum moral disa
diverifikasi? Jika demikian, apakah verifikasi itu berlaku pada seluruh
hukum-hukum moral, baik yang bersifat fundamental (basic judgement) ataupun
yang bersifat turunan (derivative judgement)? Apakah benar hukum-hukum
fundamental akhlak tidak perlu verifikasi dan pembuktian, sebagaiman dalam
klaim Intusionisme? Adakah perbedaan di antara pembuktian dalam akhlak dan
pembuktian di luar akhlak? Apakah jenis pembuktian dalam akhlak? Apakah berupa
demonstrasi, dialektika atau selainnya?
9.
Apakah setiap masyarakat mesti menganut sistem
nilai yang khas bagi dirinya, ataukah semauanya hanya punya satu sistem nilai
dan satu rangkaian hukum moral? Apakah moralitas masyarakat feodal mesti
berbeda dengan moralitas maysarakat borjuis? Apakah hukum-hukum moral sebuah
komunitas itu stabil atau berubah-ubah seiring dengan jatuh bangun riwayat
perjalanannya? Artinya, apakah nilai-nilai noral iru absolut ataukah relatif?
10. Salah satu pembahsan terpenting dalam Filsafat Akhlak adalah relasi
Akhlak dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya seperti: sains, hukum, agama,
dan kontrak-kontrak sosial. Apakah akhak terpisah dari agama? Mungkinkah sistem
nilai itu tegak kokoh tanpa agama? Apakah relasi antara sains dan akhlak?
Bisakah niali-nilai dan hukum-hukum akhlak dibetot dari data-data sains? Apakah
keduanya sama sekali berbeda, sehingga tidak ada satu hukum moral pun yang bisa
diverifikasi oleh seribu satu pembuktian ilmiah? Apakah relasi antara akhlak
dengan hukum positif dan perundang-undangan, kontrak-kontrak sosial dan
konsensus-konsensus politik? Adakah kesamaan dan perbedaan di antara mereka?
D.
Pengertian Ilmu Akhlak
Banyak definisi yang ditawarkan untuk
ilmu Akhlak. Sebagian ulama menekankan unsur pengetahuan, dan menyatakan bahwa
ilmu Akhlak adalah pengenalan terhadap kemulaiaan akhlak dan kebejatannya.
Muhaqqiq Thusi mengatakan bahwa ilmu Akhlak yaitu pengetahuan tentang bagaimana
jiwa manusia menyandang suatu karakter yang memuliakan seluruh tindakan yang
dilakukan atas dasar kehendak
Sebelum
kita berbicara lebih jauh lagi, hendaklah kita mengetahui dahulu mengenai yang
dimaksud filsafat. Pada asal katanya filsafat berasal dari kata Philosophia
yang berarti cinta kepada kebenaran, juga ada yang berasal dari bahasa
Arab yaitu falsafah. I.R Poedjawijatna, filsafat ialah ilmu yang berusaha
mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Berpikir
filsafat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain harus sistematis, harus
konsepsional, harus koheren, harus rasional, harus sinoptik(menyeluruh) harus
mengarah kepada pandangan dunia. Jadi dalam berpikir filsafat yang dibahas
ialah hakikat segala sesuatu, dan sifatnya menyeluruh juga radikal.
Diantara
obyek filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia.
Para filosof muslim seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Ghazali memiliki
pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.
Ibn
Sina misalnya mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan
mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali
ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sungguhpun
jiwa manusia tak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan dengan demikian tak
berhajat pada berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan
wujudnya, badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindra
dan daya-daya jiwa yang lain yang menolong jiwa untuk memperoleh konsep dan ide
dari alam sekelilingnya. Jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia
berpisah dengan badan, maka selamanya ia berada dalam kesenangan, jika ia
berpisah ia tidak sempurna, karena ketika bersatu dengan badan ia dipengaruhi
hawa nafsu badan, maka ia akan menyesal selamanya. Uraian di atas memberikan
petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan atau sumber yang dapat
dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah konsep akhlak.
Al-Ghazali
membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: kaum awam, yang
cara berfikirnya sederhana sekali. Kaum pilihan (khavas; elect) yang akalnya
tajam dan berpikir secara mendalam. Kaum ahli debat (ahl al-jadl).
Pembagian ini didasarkan pada berbeda-bedanya sifat-sifat mereka.
Pemikiran
Al Ghazali ini memberi petunjuk adanya perbedaan cara dan pendekatan dalam
menghadapi orang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang
demikian akan membantu dalam merumuskan metode, cara, dan pendekatan yang tepat
dalam mengajarkan akhlak.
Gambaran
tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis itu akan memberika
masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara
membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya.
Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam
menciptakan kehidupan yang aman dan damai.
Selain
itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari
pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan cara berhubungan dengan
Tuhan dan makhluk lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik
terhadap Tuhan, tehadap manusia, alam dan makhluk Tuhan lainnya.
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar
atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau
dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat material
(contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh:
landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi,
adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma,
postulat dan premis tersembunyi.[5]
Ilmu pengetahuan antara lain dapat dipahami dari dua
sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek
pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi
pendidikan.
Praktek ilmu pengetahuan adalah kegiatan seseorang
atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok
orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek ilmu
pengetahuan dapat berupa pengelolaan ilmu pengetahuan (makro maupun mikro), dan
dapat berupa kegiatan ilmu pengetahuan (bimbingan, pengajaran dan atau
latihan).Studi pendidikanadalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam
rangka memahami pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan
ilmu pengetahuan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik
tolak dalam rangka praktek ilmu pengetahuan dan atau studi
pendidikan.
E.
Hubungan ILmu Akhlak dan Filsafat
Akhlak.
Pengertiann Ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
berusaha menyelidiki segala sesuattu yang ada dan yang mungkin ada dengan
menggunakan pikian. Filsafat memiliki bidang-bidang kajiannya
mencakup berbagai disiplin ilmu antara lain:
a. Metafisika: penyelidikan di balik alam
nyata
b. Kosmologo: penyelidikan tentang
alam(filsafat alam)
c. Logika: pembahasan tentang cara
berfikir cepat dan tepat
d. Etika: pembahasan tentang tingkah laku
manusia
e. Theodica: pembahasan tentang ke-Tuhanan
f. Antopolog:pembahasan tentang manusia
Dengan demikian, jelaslah bahwa etika/akhlak tiu termasuk
salah atu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada pada mulanya
merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang yang
akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri dan terlepas dari filsafat.
Demikian juga etika/akhlak, dalam proses perkembanganya , sekalipun masih
diakui sebagian dalam ilmu pembahasan filsafat, kini telah menjadi ilmu yang
mempunyai identitas sendiri.
Selain itu filsafat juga membahas
Tuhan, alam dan makhluknya. Daripembhasan ini akan dapat diketahui dan
dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk
serta alam lainnya. Dengan demikian akan duwujudkan akhlak yang baik terhadap
Tuhan , terhadap manusia, dan makhluk Tuhan lainnya. Jadi kesimplannya hubungan
antara ilmu akhlak dengan ilmu Filsafat adalah di dalam ilmu filsafat dibahas
hal-hal yang berhubungan denganetika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan
bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Dan setelah
mempelajari ilmu-ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat ialah berpikir ke akar-akarnya untuk menemukan
hakekat kebenaran, sedangkan Akhlak ialah kebiasaan seseorang atau perilahu
seseorang yang dilakukan tanpa mempertimbangannya terlebih dahulu.
Filsafat dan ilmu Akhlak memang sangat erak hubungannya,
karena filsafat membahas tentang manusia, dan manusia mempunyai jiwa yang
menimbulkan perilaku. Perilaku tersebut disebut akhlak. Pemikiran filsafat
tentang manusia dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu Akhlak.
DAFTAR
PUSTAKA
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta:
RajaGrafindo persada, Cet I, 1996
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm
Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III
M. Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi
Manusia Menurut Islam,( Jakarta: Grafiti Pers, Cet. II, 1987)
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar
Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya. 2005)
Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar
filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I, 2006
[1]
Sutardjo A. wirahimrardja, pengantar filsafat, Bandung: Refika Aditama, Cet I,
2006, hlm. 9-10
[2] Abuddin
Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo persada, Cet I, 1996, hlm. 2
[3] Harun
Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalm Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III,
hlm.38.
[4] M.
Dawan Rajardjo (Ed.), Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,( Jakarta:
Grafiti Pers, Cet. II, 1987), hlm. 151.
[5] Prof. Dr.
Umar Tirtarahardja, dkk.. Pengantar Pendidikan. (Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
2005)
