BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia hidup berbeda dengan hewan, karena manusia mampu
dengan sempurna menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, dan senantiasa
berupaya menciptakan dunia kehidupan dan mengatasi realitasnya sendiri. Manusia
dalam hidupnya mempunyai peran sejarah dan menciptakan sejarah baru, dengan
kata lain manusia disamping makhluk sejarah, juga dikuasai sejarah, ia tidak
hanya berada dalam dunianya sendiri, tetapi hidup bersama dan berdialog dengan
kehidupan, karena memang manusia memahami wawasan kesejarahan sebagai wujud
kemampuannya belajar dari penglaman. Sementara hewan dengan hanya mengandalkan instink,
maka hidupnya lebih banyak bergantung dengan alam, berorientasi pada kekinian,
tidak punya kemampuan untuk masa depan mereka.
B. Rumusan Masalah
1.
mengapa manusia harus mendapat pendidikan ?
2.
apa saja hal-hal yang mengharuskan anak dididik ?
C. Tujuan
1.
agar mengetahui apa penyebab keharusan anak dididik.
2.
untuk mengetahui hal-hal yang membuat anak didik harus
mendapat pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kemungkinan Dan
Keharusan Pendidikan
Menurut Redja
Mudyahardjo (2013), pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan,
dan kebiasaan sekelompok orang yang di transfer dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pandangan pendidikan
tentang manusia sebagai animal education adalah pandangan pendidikan
tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang secara biologis, fisik tidak jauh
beda dengan hewan. Tetapi dapat membedakan dirinya dengan hewan dengan usaha
yang bersifat pendidikan.
Menurut Langeveld
(sukardjo, 2009) memandang manusia sebagai animal education, yang
mengandung makna bahwa manusia makhluk yang sangat perlu untuk dididdik.
Sedangkan pandangan menurut Immanual kant (sukardjo, 2009) bahwa manusia
hanya dapat menjadi manusia jika dirinya memperoleh pendidikan.
B. Kemungkinan
Pendidikan
Menurut Febrian
Fristianda (2013), manusia sejak lahir sangat membutuhkan bantuan orang lain,
khususnya kedua orang tuanya. Manusia dan binatang memiliki perilaku yang
didasarkan atas insting. Dimana insting pada binatang berlaku selama hidupnya,
sedangkan insting pada manusia akan diganti oleh kemampuan akal budinya. Hal
inilah yang memungkinkan manusia dapat dididk dan mendidik. Fakta biologis
menunjukkan bahwa anak manusia ketika baru dikahirkan dalam keadaan tidak
berdaya tetapi mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang, penyebab hal ini
yaitu:
1.
Kemampuan anak bersifat fleksibel.
2.
Anak manusia
mempunyai otak yang besar dan berpermukaan luas.
3.
Mempunyai pusat syaraf yang berfungsi untuk menerima pengaruh
dari luar dirinya sehingga dapat terjadi proses belajar.
Menurut dasar psiko-sosial.
1. Anak manusia ketika dilahirkan membawa
bermacam-macam kemampuan potensial, yang membutuhkan stimulasi dari lingkungan.
2. Manusia merupakan makhluk sosial. Dimana kehidupan
secara bersama sangat diperlukan oleh manusia dan dalam kehidupan bersama ini
ada proses saling mempengaruhi.
Pendidikan hanya akan menyentuh manusiawi yang memiliki ciri-ciri berikut:
1. Manusia dapat menguasai hawa nafsunya.
2. Manusia memiliki kesadaran intelektual dan
seni. Manusia dapat mengembangkan pengembangan dan teknologi sehingga
menjadikan dia sebagai makhluk yang berbudaya.
3. Manusia memiliki kesadaran sendiri.
4. Manusia memiliki bahasa, simbolis baik secara
tertulis maupun lisan.
5. Manusia dapat menyadari nilai-nilai (etika
maupun estetika). Manusia mata hati (hati nurani).
6. Manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan Yang
Maha Esa. Sebagai pencipta alam semesta.
Ciri-ciri tersebut sama sekali tidak dimiliki oleh hewan. Dengan ciri-ciri
itulah manusia dapat dididik dan dapat memperbaiki perilakunya. Hanya manusia
lah yang dapat dididik dan memungknkan dapat menerima pendidikan.
C. Keharusan
Pendidikan
Menurut Langeveld
(sukardjo, 2009), anak didik adalah anak atau orang yang belum dewasa atau
belum memperoleh kedewasaan atau seseorang yang masih menjadi tanggung jawab
seorang pendidik tertentu. Anak didik adalah anak yang memiliki sifat
ketergantungan kepada pendidiknya untuk dapat menyelenggarakan dan melanjutjan
hidupnya secara jasmani maupun rohani. Manusia adalah sujek pendidikan
sekaligus objek pendidikan. Sebagai subjek pendidikan, manusia(dewasa)
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan secara moral, berkewajiban
atas perkembangan pribadi anak-anak mereka. Sebagai objek pendidikan,
manusia(anak) merupakan sasaran pembinaan dalam melaksanakan pendidikan yang
pada hakikatnya ia memiliki pribadi yang sama seperti manusia namun karena
kodratnya belum berkembang.
Menurut Gita
Wulandari(2012), terdapat dua dasra keharusan manusia dididik yaitu menurut
dasar biologis dan menurut dasar psiko-sosio-antropologis.
Keharusan manusia dididik menurut biologis:
1.
hidup dan
kehidupannya, dan berdiri sendiri. Kelemahan yang dimiliki oleh anak adalah
kelemahan rohani dan jasmaniahnya, misalnya dia tidak kuat dengan gangguan
cuaca, keadaan tubuh yang basah, panas atau dingin. Begitu juga rohaniannya,
dia tidak mampu membedakan keadaan yang berbahay ataupun menyenangkan,
kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin lama makin hilang karena berkat
bantuan dan bimbingan pendidik atau yang biasanya disebut pendidikan. Berbeda
dengan binatang yang begitu lahir sudah dilengkapi kelengkapan fisiknya dan
dapat berbuat sesuatu untuk mempertahankan hidupnya. Misalbya, anak harimau
begitu lahir sudah dilengkapi dengan bulu yang dapat melindungi tubuhnya dari
kedinginan. Begitu lahir setelah dibersihkan oleh induknya anak harimau tersebut
sudah bisa bergerak untuk mencari susu induknya, walaupun belum memiliki
kemampuan melihat secara normal. Hal tersebut tidak demikian pada manusia.
Manusia perlu mendapat bantuan orang lain untuk sampai kepada masa dewasa.masa
pendidikan manusia memerlukan waktu yang lama karena disamping manusia harus
mempertahankan hidupnya dalam arti lahir, ia juga harus memiliki bekal yang
berkaitan dengan moral, memiliki pengetahuan, dan keterampilan lainnya yang
diperlukanuntuk hidup.
2.
Anak manusia perlu
masa belajar yang panjang sebagai bekal menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
secara konstruktif. Untuk sampai pada kedewasaan yang merupakan tujuan
pendidikan dalam arti khusus, memerlukan waktu lama. Untuk mengarungi kehidupan
dewasa, manusia perlu dipersiapkan, lebih-lebih pada masyarakat modern. Bekal
tersebut dapat diperoleh dengan pendidikan, dimana orang tua atau generasi tua
tuaakan mewariskan pengetahuan, nilai-nilai, serta keterampilan kepada
anak-anaknya atau pada generasi berikutnya.
Menurut dasar psiko-sosio-antropologis
1. Untuk menghadapi yang diliputi tantangan,
manusia harus memiliki berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Potensi
untuk inisudah ada, tinggal pengembangannya/.
2. Kemampuan manusia menyesuaikandiri dengan
lingkungan sosial bukan bawaan, tetapi
hanya dapat diperoleh melalui pendidikan.
3. Kebudayaan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan
hasil karya dari orang-orang terdidik.
D. Batas-batas
Pendidikan
Ira Safaghira (2012), dalam menentukan batas-batas pendidikan,
manusia akan menemui beberapa pertanyaan tentang kapan pendidikan dimulai dan
kapan berakhirnya. Dan kita juga pernah menemukan satu istilah dalam bahasa
inggris yang mengatakan “ long live education” yang artinya pendidikan seumur hidup. Dari
pernyataan-pernyataan tersebut tergambarkan jelas bahwa pendidikan akan dimulai
segera setelah anak lahir dan akan terus berlangsung sampai meninggal dunia.
Swpanjang ia mampu menerima pengaruh. Oleh karena itu pendidikan akan
berlangsung seumur hidup. Namun dalam mengalami proses pendidikan, manusia akan
mendapat pendidikan, dimana akan terdapat pem,batasan nyata dari proses
pendidikan dalam jangka waktu tertentu.
Pendidikan dimulai dengan pemeliharaan yang akan menjadi persiapan kearah
pendidikan nyata yaitu pada minggu dan bulan pertama anak dilahirkan.
Pendidikan dalam bentuk pemeliharaan adalah bersifat murni, sebab pada
pendidikan murni diperlukan adanya kesadaran mental pada si terdidik. Dari segi
psikologis usia 3-4 tahun dikenal sebagai masa berkembang atau masa krisi. Dari
segi pendidikan justru pada masa itu terbuka peluang ketidakpatuhan yang
sekaligus landasan untuk menegakkan kepatuhan yang sesungguhnya. Disini pulalah
mulai terbuka penyelenggaraan pendidikan, artinya sentuhan-sentuhan pendidikan
untuk menumbuh kembangkan motivasi anak dalam perilakunya ke arah tujuan
pendidikan.
Batas-batas pengaruh pendidikan yaitu:
1.
Menurut Teori Empirisme
Empirisme (empiri= pengalaman), teori ini
tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi yang dibawa lahir manusia. Dengan
kata lain bahwa manusia itu lahir dalam keadaan suci, tidak membawa apa-apa.
Karena itu, aliran ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar
pengaruhnya pada faktor lingkungan.
2.
Menurut Teori Nativisme
Aliran nativisme berasal dari kata natus (lahir),
nativis(pembawaan) yang ajaramnnya memandang manusia (anak manusia) sejak lahir
telah membawa sesuatu kekuata yang disebut potensi(dasar). Aliran nativisme ini
bertolak dari leibnitzian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak,
sehungga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh
terhadap perkembangan anak dalam proses pembelajaran. Dengan jata lain abhwa
aliran nativisme berpandangan segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor
yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu semata-mata
dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar dasar turunan, misalnya: kakalu ayahnya
pintar,maka kemungkinan besar anaknya juga pintar.
Tokoh utama dari aliran anativisme adalah Arthur
Schopenhaur (jerman 1788-1860). Tokoh lain J.j . Rosseau seprang
ahli filsafat dan pendidikan dari perancis. Kedua tokoh ini berpendapat betapa
pentingnya inti privasi atau jati diri manusia. Meskipun dalam keadaan
sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orangtuanya
(secara fisik) dan anak juga mewarisi
bakat-bakat yang ada pada orangtuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan
satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Masih banyak faktor yang
dapat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan.
3.
Menurut teori
naturalisme
Dari segi
bahasa naturalisme berasal dari dua kata yaitu natural yang berarti alami, dan
isme yang berarti paham. Sehungga, aliran naturalisme ini dapat juga disebut
sebagai paham alami. Maksudnya, bahwa setiap manusia yang terlahit ke bumi ini
pada dasarnya memiliki kecenderungan atau pembawaan yang baik, dan tak ada
seorang pun yang terlahir dengan pembawaan yang buruk. Adapun menurut J,j,
Rosseau (perancis,1712-1778), dengan aliran naturalismanya, ia berpendapat
dalam bukunya bahwa “semua adalah baik pada waktu baru datang dari sang
pencipta, tetapi semua menjadi buruk ditangan mansuia”. Sedangkan menurut Schopenhauer
(jerman, 1788-1860), berpendapat bahwa “semua nak yang lahir mempunyai
pembawaan yang baik, tidak ada seorangpun yang lahir dengan pembawaan buruk”.
Aliran ini juga disebut aliran negativisme, karena pendidik hanya wajib
membiarkan pertumbuhan anak didik dengan sendirinya atau diserahkan kembali ke
lingkungannya. Dengan kata lain, anak tidak memerlukan pendidikan tetapi yang
perlu dilakukan oleh seorang pendidik terhap anak didknya adalah menyerahkannya
ke alam, agar pembawaan yangbaik itu tidakmenjadi rusak melalui proses kegiatan
pendidikan itu. Pada intinya paham naturalisme ingin menjauhkan anak didik dari
segala keburukan yang ada di sekitarnya. Dan membiarkan kebaikan yang telah
tertanam dalam diri setiap anak didik tumbuh dan berkembang secara alamiah.
Dengan demikian ,, segala [pembawaan, kemampuan dan kecenderungan anak didik
dapat berkembang dengan bebas dan hebat. Karena setiap anak memiliki potensi
tang unggul yangakan tumbuh menjadi prestasi cemerlang dimasa yang akan datang.
4.
Menurut Teori Konvergensi
Aliran konvergensi berasal dari kata konvergen, artinya
bersifat menuju satu titik pertemuan. Aliran ini berpandangan bahwa
perkembangan insividu itu baik dasar (bakat, keturunan) maupun lingkungan,
keduanya memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan atau disposisi
telah ada pada masing-masing individu, yang kemudian karena pengaruh lingkungan
yang sesuai dengan kebutuhan untuk perkembangannya, maka kemungkinan itu lalu
menjadi kenyataan. Akan tetapi bakat tanpa pengaruh lingkungan yang sesuai dengan
kebutuhan perkembangan tersebut tidak cukup, misalnya tiap anak manusia yang
normal mempunyai bakat untuk untuk berdiri di atas kedua kakinya, akan tetapi
bakat sebagai kemungkinan initidak akan menjadi kenyataan, jika anak tersebut
tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Perintis aliran konvergensi
adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa jermn
yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan didunia di sertai pembawaan baik
atau p3mbawaan buruk. Bakat yang dibawa anak sejak kelahirannya tidak
berkembang baik tanpa adanya ddukungan lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan bakat itu. Jadi seorang anak yang maemiliki otak yang cerdas,
namun tidak didukung oleh pendidikyang mengarahkannya, maka kecerdasan anak
tersebut tidak berkembang. Ini berarti bahwa dalam proses belajar peserta didik
tetap memerlukan bantuan seorang pendidik untuk mendapatkan keberhasilan
pembelajaran.
E. Menurut
Teori Ki Hajar Dewantara
Tutwuri
handayani, merupakan konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara,
Pahlawan Nasional Pendidikan. Dimana hari kelahirannya dijadikan hari
Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei, dan beliau adalah pendiri Perguruan
Taman siswa. Tutwuri handayani berasal dari bahasa jawa: “tut wuri” berarti
mengikuti dari belakang, “handayani” mendorong, memotivasi, atau membangkitkan
semangat. Dari arti katanya dapat ditafsirkan, bahwa tut wuri handayani
mengakui adanya pembawaan, bakat, ataupun potensi yang dimiliki anak yang
dibawa sejak lahir. Dengan kata “tut wuri” pendidik diharapkan dapat melihat,
menemukan, dan memahami bakat atau potensi yang muncul dan terlihat pada anak
didik, untuk selanjutnya mengembangkan pertumbuhan yang sewajarnya dari
potensi-potensi tersebut.
Di bandingkan dengan keempat aliran yang telah dijelaskan, konsep
tut wuri handayani, lebih dekat pada aliran konvergensi dari William Stern,
yang berpendapat bahwa perkembangan anak ditentukan oleh bagaimana interaksi
antara pembawaan atau potensi-potensi yang dimiliki anak dengan lingkungan atau
bimbingan (pendidikan) yang mempengaruhi anak dalam perkembangannya. Dengan
kata lain watak atau karakter anak yang menjadi kepribadiannya, dan ada yang
ditentukan oleh lingkungannya, tergantung pada yang lebih dominan dalam
interaksi antara keduanya. Tut wuri handayani tidak bisa
dipisahkan dari konsep pendidikan Ing ngarso sung tulodo, dan ing
madya mangun karso.Ing ngarso sung tulodo berarti apabila pendidik berada
didepan, ia harus memberi contoh yang baik terhadap anak didiknya. Ing ngarso =
didepan, sung – asung = memberi, tulodo = contoh. Ing madya mangun karso
berarti apabila pendidik berada di ”tengah-tengah” bersama anak didiknya, ia
harus mendorong kemauan anak, membangkitkan kreativitas dan hasrat untuk
berinisiatif dan berbuat. Ing madya = ditengah-tengah, mangun = membangun,
karso = kehendak atau kemauan. Ditambah dengan tut wuri handayani seperti telah
dijelaskan, maka ketiganya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan satu sama
lainnya.
Jadi,
pendidikan menurut konsep Ki Hajar Dewantara merupakan hasil
interaksi antara pembawaan dan potensi dengan bakat yang dimiliki anak, dimana
dalam proses interaksi tersebut pendidik memiliki peran aktif, tidak
menyerahkan begitu saja kepada anak didik, dan sebaliknya pendidik tidak boleh
dominan menguasai anak.
F. Konsep-Konsep
Dasar Pendidikan
Definisi
Pendidikan
Menurut
Mohammad Ali (2007), terdapat beberapa definisi pendidikan menurut berbagai
ahli yaitu sebagai berikut.
a. Menurut Notoatmojdo (2003)
Pendidikan
adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik
individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan oleh pelaku pendidikan.
b. Mudyaharjo (2008)
Pendidikan
adalah usaha dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah,
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang berlangsung di sekolah
dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar
dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang
akan datang.
c. Faud Ihsan (2010)
Pendidikan
adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi
pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di
dalam masyarakat dan kebudayaan.
d. Mudyahardjo (2001)
Pendidikan
ialah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan
sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran yang
diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.
e. Dictionary of Psychology (1972)
Pendidikan
berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah dan
madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam
menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya.
f. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991)
Pendidikan
ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
g. Menurut Tap MPR No. V/MPR/1973
Pendidikan
pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
h. Menurut UU RI No. 2 Tahun 2003
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Jadi,
secara umum pendidikan adalah tuntunan, pimpinan, bimbingan yang dilakukan
secara sadar atau sengaja oleh seorang atau sekelompok orang. Dimana tuntunan,
pimpinan, dan bimbingan tersebut dilakukan dengan maksud membantu perkembangan
si terdidik ke arah tujuan tertentu. Pendidikan tidak hanya mencakup
pengembangan intelektualitas saja, akan tetapi lebih ditekankan pada proses
pembinaan kepribadian anak didik secara menyeluruh sehingga anak menjadi lebih
dewasa.
G. Unsur-Unsur
Pendidikan
Menurut
Sukardjo (2009), unsur-unsur pendidikan yaitu sebagai berikut.
1.
Orang yang membimbing (pendidik)
Pendidik
ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran
peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan
yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab
itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin
program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat atau organisasi.
2. Subjek
yang dibimbing (peserta didik)
Peserta
didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut
demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau
pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang
memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri)
secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai
sepanjang hidupnya.
3. Interaksi
antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
Interaksi
edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik
dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan
pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan
memanipulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan.
4. Ke
arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
Tujuan
pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak.
Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga
sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa
tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat
tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.
5. Pengaruh
yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
Dalam
sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan
disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti
maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi
pengendalian dan persatuan bangsa.
6. Cara
yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
Alat
dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat
jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektivitasnya. Alat dan metode
diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja
untuk mencapai tujuan pendidikan.
7. Tempat
peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan
pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan
masyarakat.
H. Jenis,
Jenjang, dan Faktor Pengaruh Pendidikan
Menurut
Eka Meliyakin (2013), jenis, jenjang, dan faktor pengaruh pendidikan yaitu
sebagai berikut.
1. Jenis-jenis pendidikan yaitu:
a. Pendidikan Formal
Adalah
pendidikan di sekolah, dimana jalur pendidikannya terstruktur dan
berjenjang yang berlangsung dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
b. Pendidikan Informal
Adalah
pendidikan di luar sekolah yang tidak dilembagakan yang merupakanproses
pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar
atau tidak sadar, pada umumnya tidak teratur dan sistematis, sejak seseorang
lahir sampai mati, seperti di dalam keluarga, tetangga, pekerjaan, hiburan,
pasar, atau di dalam pergaulan sehari-hari.
c. Pendidikan Nonformal
Adalah
pendidikan di luar sekolah yang dilembagakan dimana semua bentuk pendidikan
yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar
kegiatan persekolahan. Dalam hal ini, tenaga pengajar, fasilitas, cara
penyampaian, dan waktu yang dipakai, serta komponen-komponen lainya disesuaikan
dengan keadaan peserta, atau peserta didik supaya mendapatkan hasil yang
memuaskan.
2. Jenjang Pendidikan yaitu:
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan
Dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat
serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti
pendidikan menengah.
b. Pendidikan Menengah
Pendidikan
Menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam
sekitar, dan dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau
pendidikan tinggi.
c. Pendidikan Tinggi
Pendidikan
Tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan serta menciptakan
ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
3. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat
Pendidikan:
a. Usia
Usia
adalah yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat ia akan berulang tahun.
Berbagai macam pendidikan atau sekolah dibatasi oleh umur. Sehingga umur
mempengaruhi seseorang dalam mengakses pendidikan.
b. Pekerjaan
Pekerjaan
adalah serangkaian tugas atau kegiatan yang harus dilaksanakan atau
diselesaikan oleh seseorang sesuai dengan jabatan atau profesi masing-masing.
Status pekerjaan yang rendah mempengaruhi tingkat pendidikan seseorang.
c. Status Ekonomi
Status
ekonomi berpengaruh terhadap status pendidikannya. Individu yang berasal dari
keluarga yang status ekonominya menengah dan tinggi lebih memiliki pendidikan
yang tinggi pula.
d. Sosial Budaya dimungkinkan
Lingkungan
sosial budaya mengandung dua unsur yaitu yang berarti interaksi antara manusia
dan unsur budaya yaitu bentuk kelakuan yang sama terdapat di keluarga. Manusia
mempelajari kelakuannya dari orang lain di lingkungan sosialnya. Budaya ini
diterima dalam keluarga meliputi bahasa dan nilai-nilai kelakuan adaptasi
kebiasaan dan sebagainya yang nantinya berpengaruh pada pendidikan seseorang.
e. Lingkungan
Lingkungan
adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan adalah
input kedalam diri seseorang sehingga sistem adaptasi yang melibatkan baik
faktor internal maupun faktor eksternal. Seseorang yang hidup dalam lingkungan
berpendidikan tinggi akan cenderung untuk mengikuti lingkunganya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.
Manusia dapat dididik karena sejak lahir seorang anak sudah
memiliki kemampuan yang fleksibel, membawa bermacam-macam kemampuan potensial,
dan yang paling utama yaitu karena manusia adalah makhluk sosial.
2.
Manusia harus dididik karena manusia dilahirkan dalam keadaan tidak
berdaya.
3.
Konsep dasar pendidikan akan mengenalkan apa saja bagian-bagaian
dari pendidikan. Pendidikan dibutuhkan untuk mempengaruhi perkembangan individu
tetapi pengaruhnya tidak bersifat dominan karena ada faktor lain yang berperan,
diantaranya pembawaan. Selain pembawaan ada faktor lain yaitu keinginan dari
individu yang bisa untuk mengalami perubahan.
B.
Saran
Adapun saran yang ingin disampaikan melalui makalah ini yaitu
sebagai berikut.
1.
Kepada guru dan orang tua sebaiknya mulai sejak dini mulai mendidik
anak maupun peserta didik, mengingat sangat pentingnya pendidikan bagi anak.
2.
Kepada pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan dan memfasilitasi
berbagai peralatan untuk sekolah-sekolah Paud di Indonesia demi tercapainya
pendidikan yang layak.
DAFTAR PUSTAKA
Hariezfadhilah. Blogspot.kemungkinan dan keharusan pendidikan. Com
2018/10
http://sofwan07.wordpress. Hak dan kewajiban peserta didik.com.2018/10
sadulloh. Uyoh. 2010. Pedagogik(ilmu mendidik). Bandung:alfabeta