BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam proses belajar mengajar,
kehadiran alat/media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan
tersebut, ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan
menghadirkan media sebagai perantara. Namun, meskipun begitu pentingnya
alat/media bagi tercapainya tujuan pendidikan, masih banyak dijumpai
lembaga-lembaga pendidikan yang kurang mementingkan suatu alat/media tersebut.
Terbukti banyak ditemukan kasus
pendidik yang tidak mempergunakan media sesuai dengan bahan yang diajarkan
contoh dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, peserta didik mengalami
banyak kesulitan dalam menyerap dan memahami pelajaran yang disampaikan,
pendidik kesulitan menyampaikan bahan pelajaran, banyak peserta didik yang
merasa bosan terhadap pelajaran pendidikan agama Islam. Hal ini dapat
diidentifikasikan sebagai masalah kurangnya pemahaman pendidik dalam
pengaplikasian media dalam pembelajaran tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa saja macam-macam media dalam
pembelajaran PAI?
2. Apa saja prinsip penggunaan media
dalam pembelajaran PAI?
3. Bagaimana aplikasi media dalam
pembelajaran PAI?
C.
Tujuan
Pembahasan
1. Untuk mengetahui macam-macam media
dalam pembelajaran PAI?
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip
penggunaan media dalam pembelajaran PAI?
3. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi
media dalam pembelajaran PAI?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Media
dalam Pembelajaran PAI
Proses pembelajaran adalah proses
komunikasi antara guru dan siswa melalui bahasa verbal sebagai media utama
penyampaian materi pembelajaran. Dalam kondisi semacam ini, proses pembelajaran
sangat tergantung kepada guru sebagai sumber belajar.
Namun demikian, pada kenyataannya
tidak semua bahan pelajaran dapat disajikan oleh guru secara langsung. Untuk
mempelajari bagaimana kehidupan makhluk hidup di dasar laut, tidak mungkin guru
membimbing siswa langsung menyelam ke dasar lautan, atau membelah dada manusia
hanya untuk mempelajari cara kerja organ tubuh manusia. Akan tetapi guru dapat
menggunakan berbagai macam alat bantu dalam menyampaikan pengejaran. Alat bantu
belajar inilah yang dimaksud dengan media atau alat peraga pembelajaran.[1][1]
Terkait
dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, maka media yang digunakan juga
bermacam-macam. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat
diterima dengan mudah oleh umatnya tidak lain dengan menggunakan media yang
tepat berupa media contoh/teladan perbuatan-perbuatan baik Nabi sendiri (Uswatun
Khasanah). Istilah “Uswatun Khasanah” dalam dunia pendidikan
dapat diidentifikasikan dengan istilah “demonstrasi” yaitu memberikan
contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media ini
selalu digunakan Nabi dalam mengajarkan ajaran-ajaran agama kepada umatnya,
misalnya dalam mempraktekkan sholat dan lain-lain.
Selanjutnya,
melalui suri tauladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik, maka guru
agama akan dapat menumbuh-kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap
anak didik.
Oleh sebab
itu, media Pendidikan Agama Islam dapat diartikan semua aktifitas yang ada
hubungannya dengan materi pendidikan agama Islam, baik yang berupa alat yang
dapat diperagakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh
guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.[2][2]
B.
Macam-macam
Media dalam Pembelajaran PAI
Media pembelajaran pendidikan agama
Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh sumber atau penyalurnya
yaitu pendidik, kepada sasaran atau penerima pesan, yakni peserta didik yang
belajar pendidikan agama Islam.[3][3]
Tujuan penggunaan media pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut adalah
supaya proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berlangsung dengan
baik. Dari jenisnya, media pembelajaran pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yakni media yang bersifat materi (benda) dan media yang
bersifat non materi (bukan benda).
1. Media yang Bersifat Materi
Media
pembelajaran yang bersifat materi ialah media yang berupa benda mati yang dapat
mendukung proses kegiatan belajar-mengajar yang disebut juga
dengan media peraga,
seperti ruang kelas, perlengkapan belajar, dan lain sebagainya. Media ini
mempunyai cakupan yang sangat luas, di antaranya adalah:
a. Media Audio
Media audio ialah media atau bahan
yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara)
yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses
belajar. Media audio berkaitan dengan indra pendengar, dimana pesan yang
disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif, baik verbal ( kedalam
kata-kata atau bahasa lisan ) maupun non verbal.
Hubungan media audio ini dengan
tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam sangat erat. Dari sisi kognitif
media audio ini dapat dipergunakan untuk mengajarkan berbagai aturan dan
prinsip. Dari segi afektif media audio ini dapat menciptakan suasana
pembelajaran dan segi psikomotor, media audio ini untuk mengajarkan media
ketrampilan verbal. Sebagai media yang bersifat auditif, maka media ini
berhubungan erat dengan radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam, atau
mungkin laboratorium bahasa.[4][4]
Beberapa kelebihan yang dapat
diambil dengan menggunakan media ini diantaranya:
1) Dengan menggunakan alat perekam,
program audio dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan pendengar/pemakai.
2) Media audio dapat melatih siswa
untuk mengembangkan daya imajinasi yang abstrak.
3) Media audio dapat merangsnag
partisipasi aktif para pendengar. Misalnya sambil mendengar siaran, siswa dapat
melakukan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang terhadap pencapaian tujuan.
4) Program audio dapat menggugah rasa
ingin tahu siswa tentang sesuatu, sehingga dapat merangsang kreatifitas.
5) Media audio dapat menanamkan
nilai-nilai dan sikap positif terhadap para pendengar yang sulit dicapai dengan
media lain.
Disamping beberapa kelebihan, media
ini juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
1) Sifat komunikasi satu arah (one
way communication). Dengan demikian, sulit bagi pendengar untuk
mendiskusikan hal-hal yang sulit dipahami.
2) Media audio yang lebih banyak
menggunakan suara atau bahasa verbal, hanya mungkin dapat dipahami oleh
pendengar yang mempunyai tingkat penguasaan kata dan bahasa yang baik.
3) Media audio hanya akan mampu
melayani secara baik untuk mereka yang sudah mampu berpikir abstrak.
4) Penyajian materi melalui media audio
dapat menimbulkan verbalisme bagi pendengar.
5) Media audio yang menggunakan program
siaran radio, biasanya dilaksanakan serempak dan terpusat, sehingga sulit untuk
melakukan pengontrolan.[5][5]
b. Media Cetak
Dalam proses pembelajaran, media
cetak merupakan media yang paling banyak dan paling sering digunakan. Media ini
berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pemberi ke penerima pesan (dari guru
kepada siswa). Secara sederhana, media cetak dapat diartikan sebagai media yang
mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf,
gambar-gambar, dan simbol-simbol yang mengandung arti.
Hubungan media cetak ini untuk
tujuan kognitif dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi yang bersifat
nyata. Untuk tujuan afektif media cetak ini dapat menunjang suatu materi dalam
hubungannya dengan perubahan sikap dan tingkah laku. Untuk tujuan psikomotor
media cetak ini dapat menunjukkan posisi sesuatu yang sedang terjadi dan
mengajarkan berbagai langkah dan prinsip dalam proses pembelajaran.[6][6]
Macam-macam media cetak diantaranya: gambar/foto, diagram, bagan, poster,
grafik, buku.
1) Gambar/foto
Gambar atau foto merupakan salah
satu media cetak paling umum digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini
disebabkan karena gambar atau foto memiliki beberapa kelebihan, yakni sifatnya
konkret, lebih realistis dibandingkan dengan media verbal; dapat memperjelas
suatu masalah dalam bidang apa saja; murah harganya dan tidak memerlukan
peralatan khusus dalam menyampaikannya. Namun demikian, di samping kelebihan,
gambar dan foto memiliki kelemahan di antaranya yakni hanya menekankan persepsi
indera mata dan ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.
2) Diagram
Diagram adalah gambar yang sederhana
yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol untuk menunjukkan hubungan
antara komponen atau menggambarkan suatu proses tertentu. Dengan menggunakan
diagram pesan yang bersifat kompleks akan lebih sederhana, sehingga pesan dapat
lebih mudah ditangkap dan dipahami.
3) Bagan
Bagan atau sering disebut chart
adalah media cetak yang didesain untuk menyajikan ringkasan visual secara jelas
dari suatu proses yang penting. Agar pesan yang disampaikan melalui bagan dapat
dimengerti dan mudah dipahami, maka biasanya dalam bagan disertai dengan media
lainnya, seperti gambar, foto, atau lambang-lambang verbal lainnya. suatu bagan
dianggap baik jika berbentuk sederhana, tidak rumit dan berbelit-belit.
4) Poster
Poster adalah media yang digunakan
untuk menyampaikan suatu informasi, saran, atau ide tertentu, sehingga dapat
merangsang keinginan yang melihatnya untuk melaksanakan isi pesan tersebut.
Misalnya poster tentang keluarga berencana, poster tentang kebersihan, dan lain
sebaiknya. Suatu poster yang baik harus mudah diingat, mudah dibaca, dan mudah
untuk ditempelkan dimana saja.
5) Grafik
Grafik adalah media cetak yang
berupa garis atau gambar yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan atau
berkembangan sesuatu berdasarkan data secara kuantitatif. Melalui grafik, siswa
dapat menangkap gambaran secara lebih mudah tentang data-data statistik.[7][7]
c. Media Elektronik
Media ini diciptakan untuk
menyampaikan informasi pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara umum, baik di
kalangan pendidikan maupun masyarakat secara luas. Beberapa media elektronik
yang di maksud antara lain:
1) Slide dan film strip
Merupakan gambar yang diproyeksikan
dan dapat dilihat, serta dapat dioprasikan secara mudah. Media ini berfungsi
untuk memeudahkan penyajian seperangkat materi tertentu, membangkitkan minat
anak dan menjangkau semua bidang pelajaran , termasuk pendidikan agama Islam.
2) Film
Media ini mempunyai nilai tertentu,
seperti dapat melengkapi berbagai pengalaman yang dimiliki peserta didik, dapat
memancing inspirasi baru, menarik perhatian, serta dapat memperlihatkan
perlakuan objek yang sebenarnya.
3) Televisi
Penggunaan media ini dapat dilakukan
dengan alternatif dari melihat siaran televisi. Dengan menggunakan media ini
materi pembelajaran yang diberikan dapat bersifat langsung dan nyata,
jangkauannya luas, dan memungkinkan penyajian aneka ragam peristiwa.
4) Radio
Radio selain sebagai media audio
juga merupakan media elektronik. Melalui media ini peserta didik dapat
mendengarkan siaran dari berbagai penjuru dan berbagai peristiwa. Media ini
dapat memberikan berbagai berita yang sesuai dengan pembelajaran, menarik
minat, jangkauannya luas, dapat mendorong timbulnya kreatifitas dan mempunyai
nilai-nilai yang rekreatif.[8][8]
5) Komputer
Komputer merupakan jenis media
elektronik yang mampu menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai dengan
kebutuhan. Teknologi komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam
melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu.
Perkembangan teknologi komputer saat
ini telah membentik suatu jaringan (network) yang dapat memberi
kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas.
Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang
untuk memperoelh informasi dan ilmu pengetahuan
yang aktual dalam berbagai bidang studi. Diskusi dan interaksi keilmuan
dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.[9][9]
2. Media yang Bersifat Non-Materi
Media pendidikan yang bersifat non
materi memiliki sifat yang abstrak dan hanya dapat diwujudkan melalui perbuatan
dan tingkah laku seorang pendidik terhadap anak didiknya. Diantara media yang
termasuk dalam kategori ini adalah: keteladanan, perintah, tingkah laku,
ganjaran dan hukuman.
a. Keteladanan
Pada umumnya, manusia memerlukan
figure (sosok) identifikasi yang dapat membimbing manusia ke arah kebenaran.
Untuk memenuhi keinginan tersebut, Allah mengutus Muhammad menjadi tauladan
bagi manusia dan wajib diikuti oleh umatnya. Untuk menjadi sosok yang
ditauladani, Allah memerintahkan manusia termasuk pendidik selaku khalifah fi
al-ardh untuk mengerjakan perintah Allah dan Rasul-Nya sebelum mengajarkannya
kepada orang yang akan dipimpin.
b. Perintah dan Larangan
Seorang muslim diberi oleh Allah
tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan “Amar ma’ruf nahi munkar”. Amar
ma’ruf nahi munkar merupakan media dalam pendidikan. Perintah adalah suatu
keharusan untuk berbuat atau melaksanakan sesuatu. Suatu perintah akan mudah
ditaati oleh peserta didik jika pendidik sendiri menaati peraturan tersebut,
atau apa yang dilakukan si pendidik sudah dimiliki atau menjadi pedoman pula
bagi hidup si pendidik.
Sementara larangan dikeluarkan
apabila si peserta didik melakukan sesuatu yang tidak baik atau membahayakan dirinya.
Larangan sebenarnya sama dengan perintah. Kalau perintah merupakan suatu
keharusan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, maka larangan adalah keharusan
untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan.
c. Ganjaran dan Hukuman
Ganjaran dalam konteks ini adalah
memberikan sesuatu yang menyenangkan (penghargaan) dan dijadikan sebuah hadiah
bagi peserta didik yang berprestasi, baik dalam belajar maupun sikap prilaku.
Selain ganjaran, hukuman juga
merupakan media pendidikan. Dalam Islam hukuman disebut dengan iqab. Sejak
dahulu, hukuman dianggap sebagai media yang istimewa kedudukannya, sehingga
hukuman itu diterapkan tidak hanya dibidang pengadilan saja, tetapi juga
diterapkan pada semua bidang, termasuk bidang pendidikan.[10][10]
C.
Prinsip-prinsip
Penggunaan Media dalam Pembelajaran PAI
Apabila
umat Islam mau mempelajari pelaksanaan pendidikan Islam sejak zaman silam
sampai sekarang, tentunya para pendidik itu telah mempergunakan media
pendidikan Islam yang bermacam-macam, walaupun diakui media yang digunakan ada
kekurangannya. Oleh karena itu, media pendidikan ini harus searah dengan
Al-Qur’an dan as-sunnah, tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan
as-sunnah. Prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar dalam pengembangan atau
penggalian kesejahteraan manusia di dunia yaitu:[11][11]
Sabda Rasul yang artinya;
“Mudahkanlah, jangan engkau persuli,
berilah kabar-kabar yang menggembirakan dan jangan sekali-kali engkau
memberikan kabar-kabar yang menyusahkan sehingga mereka lari menjauhkan diri
darimu, saling ta’atlah kamu dan jangan berselisih yang dapat merenggangkan
kamu”. ( Al-Hadits ).
Dari
hadits di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam menyelenggarakan kegiatan
untuk kesejahteraan hidup manusia, yang termasuk didalamnya penyelenggaraan
media pendidikan Islam harus mendasarkan kepada dua prinsip, yaitu:
1. Memudahkan dan tidak mempersulit.
2. Menggembirakan dan tidak
menyusahkan.
D.
Aplikasi
Media dalam Pembelajaran PAI
Sebelum pendidik mengajarkan pokok
bahasan pembelajaran terlebih dahulu harus menyiapkan dan memperhitungkan alat
bantu/media apa saja yang dapat dipakai dari berbagai kegiatan pembelajaran
yang mungkin dilakukannya sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan.
Dalam menerapkan media pembelajaran pendidikan agama Islam harus dilakukan cara
yang tepat dan praktis yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga
dalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Selain
hal tersebut pemilihan metode mengajar yang sesuai dengan media pembelajaran
juga sangat penting karena akan berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran yang diterapkan
oleh guru pendidikan agama Islam harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Demikian juga halnya dengan penyesuaian antara media pembelajaran yang dipakai
dengan kebutuhan peserta didik yang banyak dan bermacam-macam, namun secara
garis besarnya pemilihan media pembelajaran tersebut harus sesuai dengan
kebutuhan kebanyakan peserta didik.
Berikut adalah penerapan media
pembelajaran sesuai mata pelajaran pendidikan agama Islam:
1. Media pembelajaran al-Qur’an dan
Hadis
Pembelajaran al-Qur'an dan Hadis
menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara
tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan
sehari-hari. Media pembelajaran al-Qur’an dan hadis dapat menggunakan media
audio, yaitu misalnya dengan menggunakan media tape recorder, peserta didik
mendengarkan rekaman yang berisi ayat-ayat al-Qur’an atau hadis-hadis Nabi,
sehingga peserta didik dapat mengetahui, menulis, dan melafalkan bacaan-bacaan
yang didengarkannya.
2. Media pembelajaran akhlak
Media pembelajaran akhlak mencakup
nilai suatu perbuatan, sifat-sifat terpuji dan tercela menurut ajaran agama
Islam, membicarakan berbagai hal yang langsung ikut mempengaruhi pembentukan
sifat-sifat pada diri seseorang, maka ada beberapa media pembelajaran yang
dapat membantu pencapaian pembelajaran akhlak, antara lain:
a. Melalui bahan bacaan atau bahan
cetak.
Melalui bahan ini peserta didik akan
memperoleh pengalaman dengan membaca. Yang termasuk media ini buku teks akhlak,
buku teks agama pelengkap, bahan bacaan umum seperti, majalah, koran dan
sebagainya.
b. Melalui alat-alat audio visual
(AVA).
Melaui media ini peserta didik akan
memperoleh pengalaman secara langsung dan mendekati kenyataan, misalnya dengan
alat dua atau tiga dimensi, maupun dengan alat-alat teknologi modern seperti
televisi, internet, dan lain sebagainya.
c. Melalui contoh-contoh kelakuan.
Melalui profil pendidik yang baik,
dalam menyampaikan bahan pembelajaran diharapkan peserta didik bisa meniru
tingkah laku pendidik, misalnya mimik, berbagai gerakan badan dan anggota
badan, dramatisasi, suara dan perilaku sehari-hari.
d. Melalui media masyarakat dan alam
sekitar.
Untuk memperoleh suatu pemahaman dan
pengalaman yang komprehensif, pendidik dapat membawa anak ke luar kelas untuk
memperoleh pengalaman langsung dan masyarakat maupun alam sekitar.[12][12]
3. Media pembelajaran Fiqih
Media pembelajaran sebagai alat bantu
penghubung (media komunikasi) dalam proses interaksi belajar mengajar untuk
meningkatkan efektifitas hasil belajar harus disesuaikan dengan orientasi dan
tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran fiqih, media yang sering digunakan
adalah media bahan cetakan seperti buku bacaan, koran, majalah, dan sebagainya.
Kemudian media suara yang didengar, sebenarnya masih ada media yang bias
memperjelas pemahaman peserta didik, misalnya untuk memehami jenis dan bentuk
transaksi ekonomi tertentu biasa digunakan media video yang menceritakan
berbagai macam transaksi ekonomi. Bahkan bisa digunakan media yang bersumber
dari lingkungan, misalnya bank, pegadaian, pasar modal dan sebagainya.
4. Media pembelajaran sejarah
kebudayaan Islam
Hendaknya pendidik menyiapkan bermacam-macam
alat peraga dan menggunakannya demi pemahaman anak didik. Dalam menguraikan
peristiwa hijrah Nabi misalnya pendidik dapat menggunakan slide atau film yang
tersedia, memperdengarkan rekaman tentang drama yang sering diputar dari
pemancar radio pada hari-hari besar seperti Maulid, Hijrah Nabi ataupun Isra’
Mi’raj.[13][13]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Media
Pendidikan Agama Islam dapat diartikan semua aktifitas yang ada hubungannya
dengan materi pendidikan agama Islam, baik yang berupa alat yang dapat
diperagakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru
agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.
Tujuan
penggunaan media pembelajaran pendidikan agama Islam tersebut adalah supaya proses
pembelajaran pendidikan agama Islam dapat berlangsung dengan baik. Media
pembelajaran pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis,
yakni media yang bersifat materi dan media yang bersifat non-materi.
Penyelenggaraan media pendidikan Islam harus mendasarkan kepada dua prinsip,
yaitu: (1) Memudahkan dan tidak mempersulit, dan (2) Menggembirakan dan tidak
menyusahkan.
Dalam menerapkan media pembelajaran
pendidikan agama Islam harus dilakukan cara yang tepat dan praktis yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik, sehingga dalam proses belajar mengajar dapat
berjalan dengan efektif dan efisien. Selain hal tersebut pemilihan metode
mengajar yang sesuai dengan media pembelajaran juga sangat penting karena akan
berdampak pada tercapainya tujuan pembelajaran.
[1]Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain
Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011), h. 199.
[2]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam
(Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h. 107.
[3]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), h. 199.
[4]Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media
Pembelajaran ( Jakarta: Ciputat Pers. 2002 ), h. 101.
[5]Wina Sanjaya, Perencanaan, h. 216-217.
[6]Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003), h. 105.
[7]Wina Sanjaya, Perencanaan, h. 214-215.
[8]Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang
Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009), h. 299-300.
[9]Sudjarwo S, Teknologi Pendidikan
(Jakarta: Erlangga, 1988), h. 76.
[10]Abuddin Nata, Perspektif, h. 286.
[11]Ibid., h. 283.
[12]Chabib Thoha, dkk., Metodologi
Pembelajaran Agama (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 133 – 134
[13]Chabib Thoha, dkk., Metodologi, h.
222-223.
[1][1]Wina Sanjaya, Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011), h. 199.
[2][2]Ramayulis, Ilmu
Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2002), h. 107.
[3][3]Azhar Arsyad, Media
Pembelajaran (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), h. 199.
[4][4]Asnawir dan Basyiruddin
Usman, Media Pembelajaran ( Jakarta: Ciputat Pers. 2002 ), h. 101.
[5][5]Wina Sanjaya, Perencanaan,
h. 216-217.
[6][6]Mukhtar, Desain
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: CV Misaka Galiza, 2003), h.
105.
[7][7]Wina Sanjaya, Perencanaan,
h. 214-215.
[8][8]Abuddin Nata, Perspektif
Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009), h. 299-300.
[9][9]Sudjarwo S, Teknologi
Pendidikan (Jakarta: Erlangga, 1988), h. 76.
[10][10]Abuddin Nata, Perspektif,
h. 286.
[11][11]Ibid., h. 283.
[12][12]Chabib Thoha, dkk., Metodologi
Pembelajaran Agama (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 133 – 134
[13][13]Chabib Thoha, dkk., Metodologi,
h. 222-223.