BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangan filsafat sejak zaman
pra-Yunani kuno hingga abad XX sekarang ini, telah banyak aliran filsafat
bermunculan. Setiap aliran filsafat memiliki kekhasan masing-masing sesuai
dengan metode yang dijalankan dalam rangka memperoleh kebenaran.
Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos
(seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman
modern ada periode yang disebut Renaissance (kelahiran kembali). Kebudayaan
klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali, seni dan
filsafat mencari inspirasi darisana.
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan
tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa,
tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan terdapat perbedaan pendapat. Aliran
rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran pasti
berasal dari rasio (akal). Sebaliknya, aliran empirisme meyakini
pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Jelaskan pengertian
dari aliran Averoisme ?
2.
Jelaskan pengertian
dari aliran Rasionalisme ?
3.
Jelaskan pengertian
dari aliran Emprisme ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Averroisme
.Averroisme merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan penafsiran
filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd oleh pemikir-pemikir
Barat-Latin.[1] Pada mulanya istilah ini
dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap pendukungnya. Tak seorang pun
yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme.
Barulah setelah masa Johannes Jandun (1328) yang pertama kali menegaskan dirinya
secara terbuka sebagai pengikut Averroisme dan diikuti oleh Urban dari Bologna
(1334) serta Paul dari Venesia (1429), para pendukung pemikiran Ibnu Rusyd
lainnya mulai berani secara terang-terangan menyatakan pendirian mereka.[2]
Tokoh yang terkenal sebagai pelopor Averroisme adalah Siger de Brabant
(1235-1282) dan diikuti oleh murid-muridnya seperti Boethius de Decie, Berner
van Nijvel dan Antonius van Parma.[3]
Para mahasiswa tersebut mempelajari, meneliti dan menelaah karya-karya ulasan
Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles. Landasan rasionalitas yang
dikembangkan Ibnu Rusyd ternyata sangat menarik perhatian mereka. Timbul
kesadaran di kalangan sarjana-sarjana Barat untuk mengoptimalkan penggunaan
akal dan meninggalkan paham-paham yang bertentangan dengan semangat rasional.
Ajaran-ajaran mereka yang terilhami oleh pemikiran Ibnu Rusyd antara lain
adalah pandangan mereka tentang pembuktian keberadaan Tuhan dengan teori gerak.
Sama dengan Ibnu Rusyd, mereka memandang bahwa segala sesuatu di dunia ini
mesti ada yang menggerakkannya. Karena tidak mungkin ada rentetan gerak yang
tiada hentinya itu tanpa ada penggeraknya, maka sampailah mereka pada
kesimpulan adanya penggerak utama. Itulah yang dalam bahasa Ibnu Rusyd disebut
al-Muharrik al-Awwal (Tuhan) atau Prima Causa menurut Aristoteles. Berdasarkan
pandangan ini, mereka juga mengikuti Ibnu Rusyd dalam pandangan mereka tentang
teori kausalitas. Meskipun Tuhan adalah penyebab segala sesuatu, Tuhan hanyalah
menciptakan akal pertama saja, sedangkan secara seterusnya diciptakan oleh
akal-akal berikutnya. Inilah yang dimaksud Ibnu Rusyd dengan hukum-hukum alam
terhadap penciptaan Tuhan. Jadi, sebagaimana Ibnu Rusyd, mereka memahami bahwa
penciptaan Tuhan terhadap segala sesuatu bukanlah secara langsung, tetapi melalui
hukum-hukum alam yang tetap yang telah diciptakan-Nya terhadap segala
ciptaan-Nya tersebut
Pada tahun 1270, paham Averroisme yang diajarkan Siger van Brabant dan
murid-muridnya diharamkan oleh gereja. Para penguasa Kristen ketika itu
menganggap ajaran Ibnu Rusyd berbahaya bagi akidah orang Kristen. Lalu, pada
tahun 1277 pandangan-pandangan Averroisme secara resmi dilarang di Paris
melalui sebuah undang-undang yang dikeluarkan gereja. Siger van Brabant sendiri
akhirnya dihukum mati oleh gereja tujuh tahun kemudian. Pada tahun-tahun
berikutnya, Paus semakin meningkatkan aksinya menentang universitas yang
mengajarkan pemikiran Aristoteles dan Ibnu Rusyd. Banyak tokoh-tokoh Averroisme
dihukum dan buku-buku karangan Ibnu Rusyd dibakar. Namun demikian, larangan dan
kutukan gereja terhadap Averroisme tidak membuat surut perkembangan gerakan
intelektual ini, sebaliknya malah semakin menyebar ke berbagai wilayah lainnya
di Eropa.[4]
Melihat kepada keadaan di atas, maka di lakukan usaha-usaha untuk
mempertahankan dominasi mutlak gereja dan menolak gerakan Averroisme yang
dilakukan oleh tokoh-tokoh gereja. Meskipun dalam beberapa sisi mereka dapat
menerima prinsip-prinsip Aristotelian yang dikembangkan Ibnu Rusyd, dalam
beberapa hal mereka menolak prinsip-prinsip Aristotelian dan “menasranikannya”
seperti yang dilakukan oleh Arbertus the Great dan muridnya Thomas Aquinas.
Keduanya adalah anggota ordo Dominican, sebuah ordo imam Katolik yang didirikan
oleh St. Dominicus (m. 1221).[5]
Gerakan Averroisme yang ditandai oleh semangat rasional inilah yang yang
melahirkan renaisans di Eropa. Tokoh-tokoh Averroisme meyakini kebenaran
pandangan Ibnu Rusyd tentang keharmonisan antara akal dan wahyu, filsafat dan
agama, menimbulkan kesadaran bagi mereka untuk mempelajari filsafat dan ilmu
pengetahuan sebagai warisan dari peradaban Yunani dan Islam.
B.
Rasionalisme
Secara etimologis, rasionalisme berasal dari
kata bahasa inggris rationalism, kata ini berakar dari kata dalam bahasa Latin, yaitu ratio yang
berarti ―akal‖. Secara
terminologis, rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal
merupakan alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. suatu pengetahuan
diperoleh dengan cara berfikir. Menurut Descartes, rasio atau akal merupakan
sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada yang benar
hanyalah tindakan akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distinctes (pikiran yang terang benderang dan
terpilah-pilah). Ide terang benderang ini pemberian Tuhan sebelum orang dilahirkan
(Idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak
benar.
Disebut aliran rasionalisme, karena aliran ini
mengaggap sumber kebenaran hanyalah rasio. Adapun pengetahuan indra dianggap
sering menyesatkan. Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari
otoritas, dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Dalam bidang
filsafat, rasionalisme adalah lawan kata dari empirisme dan sering berguna
dalam menyusun teori pengetahuan.1
Sejarah rasionalisme sudah tua sekali. Thales
telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas
sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato,
Aristoteles), dan juga beberapa tokoh sesudah itu. Pada zaman modern filsafat,
tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes. Tokoh besar rasionalisme lainnya
yaitu Baruch Spinoza dan Leibniz.
Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya
dimulai oleh filsafat Descartes. Kata modern disini hanya digunakan untuk
menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan
berlawanan dengan corak filsafat pada Abad Pertengahan Kristen. Corak utama
filsafat modern yang dimaksud disini ialah dianutnya kembali rasionalisme
seperti pada masa Yunani Kuno. Gagasan itu, disertai oleh argumen yang kuat,
diajukan oleh Descartes. Oleh karena itu, gerakan pemikiran Descartes sering
juga disebut bercorak renaisans.[6]
1. Tokoh-tokoh Rasionalisme dan Pemikirannya
a. Baruch De Spinoza
Di masa kecilnya, spinoza sudah menunjukan
kecerdasannya, dia tidak hanya belajar matematika dan ilmu-ilmu alam, tetapi
juga bahasa Latin, Yunani, Belanda, Spanyol, Prancis, Yahudi, Jerman, dan
Italia. Spinoza tidak puas dengan ajaran-ajaran kuno dalam agamanya dan lambat
laun dia memihak cara berpikir modern yang banyak dipengaruhi oleh Descartes.
Ketika dia mendiskusikan masalah-masalah agama
secara tebuka, gagasan- gagasannya mengejutkan teman-teman dan para tokoh agama
saat itu. Misalnya dia berpendapat bahwa malaikat itu fiksi atau imajinasi
belaka, dan Allah bersifat material. Gagasannya ini benar-benar menggoyangkan
kemapanan dogma agama, baik dikalangan Yahudi maupun Kristen. Para tokoh Yahudi
saat itu menjadi gelisah dengan ajaran-ajaran Spinoza. Dengan berbagai cara,
termasuk suap, mereka berusaha memaksanya untuk kembai keortodoksi agama,
tetapi gagal.[7]
Spinoza
menemukan konsep substansi yang dia definisikan sebagai sesuatu yang ada pada
dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Dalam hal substansi,
Spinoza tidak setuju dengan Descartes. Spinoza berpendapat bahwa ada satu dan
hanya ada satu substansi itu adalah Allah. Itulah sebabnya pendiriaan spinoza
disebut panteisme, yaitu pandangan bahwa alam semesta identik dengan Allah,
atau Allah disamakan dengan segala sesuatu yang ada, Jadi ia menentang baik
Yahudi maupun Kristen.[8]
Buku-buku karya Spinoza banyak yang dilarang sebagai subversif.
Namun setelah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, buku-buku itu malah
termahsyur di luar negeri. Beberapa karyanya yaitu Renati Descartes Principiorum Philosophilae (Prinsip Filsafat
Descartes, 1663), Tractatus de
intellectus emendatione (Traktat tentang Perbaikan Pemahaman, 1667), Tractatus Theologico-Politicus (Traktat
Politis-teologis, 1670), dan yang paling penting Ethica more geometrico demonstrata (Etika dibuktikan secara
geometris, 1677).[9]
b.
Gottfried
wilhelm Leibniz
Gottfried Wilhelm Leibniz lahir pada tanggal 1
Juli 1646, di Leipzig, Jerman. Pada usia 20 tahun Leibniz sudah meraih gelar
doktor. Leibniz hampir mengetahui segalanya, karena ia mengeluti banyak bidang
dan menemukan banyak hal, yaitu dalam bidang matematika, fisika, astronomi,
hukum, ekonomi, pertambangan, pengairan, pertanian, dan minatnya yang terdalam
adalah filsafat.
Leibniz menjalin kontak dengan beberapa tokoh
penting, bahkan ia pernah mengunjungi Spinoza di negeri Belanda. Spinoza
menunjukkannya manuskrip dari bukunya, Eticha.
Meskipun tak pernah mengakui secara terang-terangan, lantaran tak mau dicap
subversif, sesungguhnya leibniz banyak menimba inspirasi dari
pemikiran Spinoza. Penuntun filsafat Leibniz
ialah ―prinsip akal yang
mencukupi‖, yang secara sederhana dapat dirumuskan, ―sesuatu harus mempunyai
alasan‖.
Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya.[10]
Dalam menemukan hubungan antara satu substansi
dengan substansi lainnya, Descartes yang seorang dualisme saja, menemui
kesulitan dalam menemukan hubungan antara jiwa dan tubuh, bagaimana dengan
Leibniz yang seorang pluralis?, terlebih lagi ia menyatakan bahwa diantara
monad-monad tidak ada interaksi,
karena
ia
menyatakan bahwa ―monad itu
tidak mempunyai
jendela, tempat sesuatu keluar atau masuk‖.
Leibniz menjawab bahwa Allah pada saat penciptaan monad, mengadakan ―pre-established harmony‖ yaitu suatu
harmoni atau keselarasan yang ditetapkan
sebelumnya.[11]
c. Blaise Pascal
Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juli 1623
di Clermont-Ferrand Prancis. Ia dididik
ayahnya secara ketat dalam pendidikan, ia meminati fisika dan matematika.
Dibanding dengan para rasionalis pada zamannya, Pascal punya kecenderungan yang
menyimpang. Pemikiran Blaise Pascal jelas bersifat reaksioner. Pascal yang –seperti
Descartes- menyukai ilmu alam dan matematika
ini mengkritik Descartes yang mau menerapkan prinsip ilmu pasti dalam
berfilsafat atau upaya untuk mengetahui segala sesuatu, termasuk untuk
menjelaskan Tuhan. Menurut Pascal, keseluruhan realitas tidak bisa dijelaskan
hanya dengan rasio. Jika itu dilakukan, akibatnya adalah terjadinya banyak hal
yang bertentangan, misalnya: problem hubungan jiwa dengan badan sebagaimana
dialami oleh Descartes.
Menurut Pascal, hati (le coeur) lebih penting
dari rasio. Dengan rasio, kita hanya mampu memahami kebenaran-kebenaran
matematis dan ilmu alam. Namun dengan hati, kita mampu memahami
kebenaran-kebenaran yang melampaui semua kebenaran itu, umpamanya pengetahuan
tentang Tuhan. Keyakinan ini diungkapkan Pascal
dalam
satu kalimatnya yang
terkenal:
―Le ceour a ses raisons que
la raison ne connait point‖
artinya ―Hati mempunyai
alasan-alasan yang tidak
dimengerti oleh akal‖. Orang
mengalami hal ini dalam banyak perkara. Kata
―Hati‖
di sini tidak boleh dipahami sebagai pusat emosi, melainkan pusat aktivitas jiwa manusia terdalam yanng mampu menangkap
sesuatu secara intuitif dan spontan; hati adalah inti eksistensi. Kata Pascal: ―Kita mengenal kebenaran tidak hanya lewat
akal, melainkan juga lewat hati‖. Kesadaran diri yang paling dalam dengan
demikian tidak terletak pada rasio, melainkan pada hati yang sanggup menerima
kenyataan Ilahi. Dalam konfrontasi dengan Descartes, hal ini bisa kita rumuskan
dengan cara lain: bukan ―cogito ergo sum‖ (―Aku
berpikir, maka aku ada‖), melainkan ―credo ergo sum‖ (―Aku percaya, maka aku
ada‖).[12]
Kalau kau
percaya
(akan
adanya Allah), kalau
kau menang, kau
memenangkan segalanya, kalau kau kalah (ternyata Allah tak ada), kau tak
kehilangan apa pun. Jadi, percayalah jika kau dapat‖. Ini menunjukkan bahwa untuk beragama dibutuhkan Le Coeur,
hati; dibutuhkan keyakinan akan eksistensi tuhan. Dengan
argumen ―pertaruhan‖ (le pari)
ini
Pascal ingin
menunjukkan bahwa soal kepercayaan kepada
Tuhan merupakan hal yang tidak menyangkut rasio saja melainkan keseluruhan
eksistensi manusia (kehendak, emosi, daya pertimbangan, dsb).[13]
d. Nicolas Malerbranche
Nicolas Malerbrance adalah orang Prancis, ia
berusaha mendamaikan filsafat baru yang dirintis oleh Descartes dengan tradisi
pemikiran Kristiani. Nicolas Malerbranche mengikuti ajaran Descartes bahwa
manusia memiliki dua substansi yaitu pemikiran(jiwa) dan keluasan(tubuh). Akan
tetapi untuk hubungan antara jiwa dan tubuh ia memiliki pendiriannya sendiri,
yaitu jiwa tidak dapat mempengaruhi tubuh, demikian pula sebaliknya.
e. Chritian Wolff
Wolff menyadur menyadur filsafat Leibniz serta
menyusunnya menjadi satu sistem. Disamping itu, dalam penyusunan tersebut ia
banyak menggunakan unsur skolastik. Karena Wolff inilah rasionalisme di jerman
pada masanya merajalela di semua universitas.[14]
C.
Empirisme
Dalam ilmu pengetahuan yang paling berguna, pasti dan benar itu deperoleh
orang melalui inderanya. Empirislah yang memegang peranan amat penting bagi
pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendapat di atas itu disebut
empirisme..
1.
Pengertian Empirisme
Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup beragam, namun
intinya adalah pengalaman.
Di antara pemahaman tersebut antara lain:
Empirisme adalah suatu aliran dalam
filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman
manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah
pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan
tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata
ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang
berarti pengalaman. Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan
akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan
bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada
pengalaman yang menggunakan indera.[15]
Empirisme
adalah faham filsafat yang mengajarkan
bahwa benar adalah yang logis dan ada bukti empiris. Menurut Empirisme yang benar adalah anak panah bergerak sebab secara empiris dapat
dibutktikan bahwa anak panah itu bergerak. Coba saja perut anda menghadang anak
panah itu perut anda akan tembus, benda yang tembus sesuatu haruslah benda yang
bergerak.
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai
Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari
dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk
dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya
sumber pengetahuan, dan bukan akal. [16]Menurut
aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup
semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai
untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat
namun lebih dapat diandalkan.
2.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
a.
Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk
dengan menggabungkan apa yang dialami.
b.
Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal
atau rasio.
c.
Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
d.
Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak
langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan
matematika).
e.
Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas
tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal
budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f.
Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan.[17]
3.
Beberapa Jenis Empirisme
a.
Empirio-Kritisisme
Disebut juga Machisme. Sebuah aliran filsafat yang bersifat
subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran
ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi,
keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai
gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah
elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini
dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara
sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran
ini juga anti metafisik.
b.
Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem
filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan
berikut:
1)
Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip
kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
2)
Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada
proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data
indera yang ada seketika
3)
Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada
dasarnya tidak mengandung makna.[18]
c.
Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai
pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu,
dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah
kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam
filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan
empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti
(Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat
diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut
dan dengan begitu tak ada dasar untuk keraguan. Dalam situasi semacam ini, kita
tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku
yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang
pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda,
dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.[19]
Metode filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih berkembang
secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh
metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini
dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan
masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian
hipotesis dan penarikan kesimpulan.
4.
Tokoh-Tokoh Empirisme
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobes
(1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John
Locke (1632-1704) Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776).[20]
Pada pembahasan ini akan kita fokuskan pada pemikiran Hume yang dianggap
merupakan pemikiran puncak dari aliran empirisme.
a.
Pemikiran David Hume (1711-1776)
Ia menganalisis pengertian substansi, seluruh pengetahuan itu tak lain dari
jumlah pengalaman kita. Dalam budi kita tak ada suatu idea yang tidak sesuai
dengan impression yang disebabkan “hal” di luar kita. Adapun
yang bersentuhan dengan indera kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal
tersebut. Yang menyebabkan kita mempunyai pengertian sesuatu yang
tetap–substansi–itu tidak lain dari perulangan pengalaman yang demikian
acapkalinya. Subtansi itu hanya anggapan, khayal, yang sebenarnya tak ada.
Manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan
adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal yaitu kesan-kesan (impressions)
dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas).
Perbedaan kedua-keduanya terletak pada tingkat kekuatan dan garisnya menuju
jiwa dan jalan masuk kesadaran. Persepsi yang termasuk denagn kekuatan besar
dan kasar disebut impression (kesan) dan semua sensasim nafsu
emosi termasuk kategori ini begitu mereka masuk kedalam jiwa. Idea adalah
gambaran kabur (faint image) tentang persepsi yang masuk kedalam
pemikiran.
Selanjutnya David Hume menyatakan sebagaimana dinukil Prof.Dr. Ahmad Tafsir
sebagai berikut:
“Setelah saya pikirkan secara teliti ternyata persepsi itu dapat dibagi
menjadi dua macam yaitu pesepsi yang sederhana (simple) dan
persepsi yang ruwet (complex). Seluruh kesan dan idea kita saling
berhubunan. Dalam penyelidikan saya ternyata hanya idea yang kompleks yang
tidak memiliki kesan (impression) yang berhubungan dengan idea itu.
Banyak juga kesan yang kompleks yang tidak direkam dalam idea kita. Saya tidak
bisa menggambarkan suatu kota yang belum pernah saya lihat. Akan tetapi saya
pernah melihat kota Paris namun saya harus mengatakan saya tidak sanggup
membentuk idea tentang kota Paris yang lengkap dengan gedung-gedung, jalan dan
lain lengkap dengan ukuran masing-masing. Mengapa? Karena tidak semua kesan (impression)
direkam dalam idea.”[21]
Pemikirannya tentang eksistensi Tuhan adalah ketika kita percaya kepada
Tuhan sebagai pengatur alam ini kita berhadapan dengan dilema, kita berpikir
tentang Tuhan menurut pengalaman masing-masing sedangkan itu hanya setumpuk
persepsi dan koleksi emosi saja. Kemudian, bagaimana kita dapat mengatakan
Tuhan itu Maha sempurna dan Maha Kuasa, sedangkan di alam terjadi kejahatan dan
berbagai bencana. Seharusnya alam ini juga sempurna sesuai denga penciptanya
tetapi ternyata tidak. Tuhan juga sumber kejahatan, terbatas dan memiliki sifat
mencintai dan membenci. Penelitiannya tentang dunia tidak mampu membuktikan
Tuhan kecuali Tuhan itu tidak sempurna.
Lebih lanjut Hume berkomentar, tidak ada bukti yang dapat dipahami untuk
membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa Ia menyelenggrakan dunia. Juga tidak ada
bukti bahwa jiwa tidak dapat mati. Dalam praktik, orang-orang yang beragama
selalu mengikuti kepercayaan yang dianggap pasti sedang akal tidak dapat
membuktikannya. Menurutnya banyak sekali keyakinan agama yang merupakan hasil
khayalan, tidak berlaku umum dan tidak berguna bagi hidup. Agama berasal dasri
penghargaan dan ketakutan manusia terhadap tujuan hidupnya. Itulah yang
menyebabkan manusia mengangkat berbagai dewa untuk disembah.
Mukjizat adalah ajaran agama yang juga diserang oleh David Hume. Dia
memberikan lima alasan untuk menolak mukjizat, yaitu:
1)
Sepanjang sejarah mukjizat tidak pernah diakui oleh sejumlah ilmuan dan
kaum terpelajar.
2)
Sebagian manusia memang memiliki kecenderungan untuk percaya kepada
peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Namun keyakinan ini tidak mendukung
kebenaran mukjizat.
3)
Kajian peradaban membuktikan bahwa mukjizat hanya cocok terutama bagi
masyarakat terbelakang sedangkan bagi masyarakat yang telah maju justru
menolaknya. Semakin kita percaya kepada ilmu semakin tidak mampu kita ditipu
oleh takhayul (the more we believe in science the less we are likely to be
deceived by superstition).
4)
Semua agama wahyu memonopoli kebenaran mukjizat.
5)
Data sejarah yang dapat dipecaya menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa di
dunia ini jelas, seperti kita bisa mengetahui tanggal terbunuhnya Julius
Caesar.
Apa relevansi filsafat yang amat ekstrem dan memang sudah sering dikritik
itu? Bahwa kita tidak dapat mempunyai dan memang sudah pasti dan tidak dapat
memahami apa-apa. Jadi, sebaiknya kita hidup bagi sesaat saja. Paham seperti
Allah, tanggung jawab dan nilai adalah tanpa arti. Empirisme mempersiapkan
nihilisme.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat diakui sebagai induk
ilmu pengetahuan (the mother of sciences)
yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari
masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah
problematika dan kehidupannya. Dengan demikian, telah banyak aliran filsafat
yang bermunculan yang memiliki kekhasan masing-masing sesuai dengan metode yang
dijalankan dalam rangka memperoleh kebenaran.
Di antara filsafat yang
bermunculan adalah rasionalisme, empirisme, dan kritisisme. Rasionalisme
mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh dnegan cara berpikir dengan
kaidah-kaidah logika. Sementara empirisme meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan,
baik yang batin, maupun yang inderawi. Sedangkan
kritisisme yang digagas oleh Immanuel Kant beranggapan bahwa pengetahuan itu
diperoleh dari apa yang disebut akal murni yang diikuti dengan etika dan
estetika.
B.
Saran
dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan
agar dapat mengambil manfaat tentang berbagai macam aliran filsafat yang muncul
dalam sejarahnya, diantaranya aliran filsafat rasionalisme, empirisme, dan
kritisisme.
DAFTAR
PUSTAKA
Adian, Donny Gahral, Menyoal
Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume Sampai Thomas Kuhn, Jakarta:
Teraju, 2002.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2013
Atang Abdul Hakim dan
Beni Ahmad Saebani,
Filsafat Umum: Dari Metologi Sampe Teofilosofi, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016
Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia
Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), Jakarta: Erlangga, 2011.
Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung, Mizan, 1995.
http://ferryroen.wordpress.com/2011/09/23/teori-filsafat-empirisme/ di akses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 13.09 WIB
http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme/ diakses pada tanggal di
akses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 16.09 WIB
http://zian-martadinata.blogspot.com/2010/10/filsafat-rasionalismeempirismekritisme.html
di akses pada tanggal 14 Mei 2022 pukul 13.09 WIB
Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika,
Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003.
Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika,
Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian
Atas Asumsi Dasar paradigm Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta :
Belukan, 2004.
Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd.
Bandung: Remaja Rosdakarya.2006.
[1] Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung, Mizan, 1995, h. 116
[2] Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd., h. 96
[3] Ibid., h. 97
[4] Ibid., h. 99
[5] Ibid.,
[6]
Atang Abdul Hakim dan Beni
Ahmad Saebani, Filsafat Umum:
Dari Metologi Sampe
Teofilosofi, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016),
hal. 247
[7] 8Budi
Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang
Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), (Jakarta:
Erlangga, 2011), hal. 37-39
[8]Juhaya
S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan
Etika, (Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003), hal. 102
[9]Budi
Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang
Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampa Nietzsche), hal. 40-42
[10]
Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang
Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 46-50
[11]
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan
Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013),
hal. 138-144
[12]Budi
Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang
Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 50-52
[13]
Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang
Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 53-54
[14]
Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat
dan Etika, (Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003), hal. 102-103
[16]
http://zian-martadinata.blogspot.com/2010/10/filsafat-rasionalismeempirismekritisme.html
diakses pada tanggal 04 Oktober 2011 pukul 13.12 WIB
[17] http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme/ diakses pada tanggal 04 Oktober 2011, pukul 13.03
[18] http://ferryroen.wordpress.com/2011/09/23/teori-filsafat-empirisme/ di akses pada tanggal 04 Oktober 20011pukul 13.09 WIB
[19] Adian, Donny Gahral, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan
dari David Hume Sampai Thomas Kuhn, (Jakarta: Teraju, 2002).
[20] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hal 52.