Selasa, 17 Mei 2022

Filsafat Keilmuan Barat Modern

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam sejarah perkembangan filsafat sejak zaman pra-Yunani kuno hingga abad XX sekarang ini, telah banyak aliran filsafat bermunculan. Setiap aliran filsafat memiliki kekhasan masing-masing sesuai dengan metode yang dijalankan dalam rangka memperoleh kebenaran.

Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance (kelahiran kembali). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali, seni dan filsafat mencari inspirasi darisana.

Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan terdapat perbedaan pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Sebaliknya, aliran empirisme meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.

 

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:

1.      Jelaskan pengertian dari aliran Averoisme ?

2.      Jelaskan pengertian dari aliran Rasionalisme ?

3.      Jelaskan pengertian dari aliran Emprisme ?

 

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Averroisme

.Averroisme merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan penafsiran filsafat Aristoteles yang dikembangkan Ibnu Rusyd oleh pemikir-pemikir Barat-Latin.[1] Pada mulanya istilah ini dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap pendukungnya. Tak seorang pun yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme. Barulah setelah masa Johannes Jandun (1328) yang pertama kali menegaskan dirinya secara terbuka sebagai pengikut Averroisme dan diikuti oleh Urban dari Bologna (1334) serta Paul dari Venesia (1429), para pendukung pemikiran Ibnu Rusyd lainnya mulai berani secara terang-terangan menyatakan pendirian mereka.[2]

Tokoh yang terkenal sebagai pelopor Averroisme adalah Siger de Brabant (1235-1282) dan diikuti oleh murid-muridnya seperti Boethius de Decie, Berner van Nijvel dan Antonius van Parma.[3] Para mahasiswa tersebut mempelajari, meneliti dan menelaah karya-karya ulasan Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles. Landasan rasionalitas yang dikembangkan Ibnu Rusyd ternyata sangat menarik perhatian mereka. Timbul kesadaran di kalangan sarjana-sarjana Barat untuk mengoptimalkan penggunaan akal dan meninggalkan paham-paham yang bertentangan dengan semangat rasional.

Ajaran-ajaran mereka yang terilhami oleh pemikiran Ibnu Rusyd antara lain adalah pandangan mereka tentang pembuktian keberadaan Tuhan dengan teori gerak. Sama dengan Ibnu Rusyd, mereka memandang bahwa segala sesuatu di dunia ini mesti ada yang menggerakkannya. Karena tidak mungkin ada rentetan gerak yang tiada hentinya itu tanpa ada penggeraknya, maka sampailah mereka pada kesimpulan adanya penggerak utama. Itulah yang dalam bahasa Ibnu Rusyd disebut al-Muharrik al-Awwal (Tuhan) atau Prima Causa menurut Aristoteles. Berdasarkan pandangan ini, mereka juga mengikuti Ibnu Rusyd dalam pandangan mereka tentang teori kausalitas. Meskipun Tuhan adalah penyebab segala sesuatu, Tuhan hanyalah menciptakan akal pertama saja, sedangkan secara seterusnya diciptakan oleh akal-akal berikutnya. Inilah yang dimaksud Ibnu Rusyd dengan hukum-hukum alam terhadap penciptaan Tuhan. Jadi, sebagaimana Ibnu Rusyd, mereka memahami bahwa penciptaan Tuhan terhadap segala sesuatu bukanlah secara langsung, tetapi melalui hukum-hukum alam yang tetap yang telah diciptakan-Nya terhadap segala ciptaan-Nya tersebut

Pada tahun 1270, paham Averroisme yang diajarkan Siger van Brabant dan murid-muridnya diharamkan oleh gereja. Para penguasa Kristen ketika itu menganggap ajaran Ibnu Rusyd berbahaya bagi akidah orang Kristen. Lalu, pada tahun 1277 pandangan-pandangan Averroisme secara resmi dilarang di Paris melalui sebuah undang-undang yang dikeluarkan gereja. Siger van Brabant sendiri akhirnya dihukum mati oleh gereja tujuh tahun kemudian. Pada tahun-tahun berikutnya, Paus semakin meningkatkan aksinya menentang universitas yang mengajarkan pemikiran Aristoteles dan Ibnu Rusyd. Banyak tokoh-tokoh Averroisme dihukum dan buku-buku karangan Ibnu Rusyd dibakar. Namun demikian, larangan dan kutukan gereja terhadap Averroisme tidak membuat surut perkembangan gerakan intelektual ini, sebaliknya malah semakin menyebar ke berbagai wilayah lainnya di Eropa.[4]

Melihat kepada keadaan di atas, maka di lakukan usaha-usaha untuk mempertahankan dominasi mutlak gereja dan menolak gerakan Averroisme yang dilakukan oleh tokoh-tokoh gereja. Meskipun dalam beberapa sisi mereka dapat menerima prinsip-prinsip Aristotelian yang dikembangkan Ibnu Rusyd, dalam beberapa hal mereka menolak prinsip-prinsip Aristotelian dan “menasranikannya” seperti yang dilakukan oleh Arbertus the Great dan muridnya Thomas Aquinas. Keduanya adalah anggota ordo Dominican, sebuah ordo imam Katolik yang didirikan oleh St. Dominicus (m. 1221).[5]

Gerakan Averroisme yang ditandai oleh semangat rasional inilah yang yang melahirkan renaisans di Eropa. Tokoh-tokoh Averroisme meyakini kebenaran pandangan Ibnu Rusyd tentang keharmonisan antara akal dan wahyu, filsafat dan agama, menimbulkan kesadaran bagi mereka untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai warisan dari peradaban Yunani dan Islam.

B.  Rasionalisme

Secara etimologis, rasionalisme berasal dari kata bahasa inggris rationalism, kata ini berakar dari kata dalam bahasa Latin, yaitu ratio yang berarti akal‖. Secara terminologis, rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal merupakan alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Menurut Descartes, rasio atau akal merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada yang benar hanyalah tindakan akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distinctes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Ide terang benderang ini pemberian Tuhan sebelum orang dilahirkan (Idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar.

Disebut aliran rasionalisme, karena aliran ini mengaggap sumber kebenaran hanyalah rasio. Adapun pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan. Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas, dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan kata dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan.1

Sejarah rasionalisme sudah tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles), dan juga beberapa tokoh sesudah itu. Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes. Tokoh besar rasionalisme lainnya yaitu Baruch Spinoza dan Leibniz.

Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes. Kata modern disini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan berlawanan dengan corak filsafat pada Abad Pertengahan Kristen. Corak utama filsafat modern yang dimaksud disini ialah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno. Gagasan itu, disertai oleh argumen yang kuat, diajukan oleh Descartes. Oleh karena itu, gerakan pemikiran Descartes sering juga disebut bercorak renaisans.[6]

1.       Tokoh-tokoh Rasionalisme dan Pemikirannya

a.      Baruch De Spinoza

Di masa kecilnya, spinoza sudah menunjukan kecerdasannya, dia tidak hanya belajar matematika dan ilmu-ilmu alam, tetapi juga bahasa Latin, Yunani, Belanda, Spanyol, Prancis, Yahudi, Jerman, dan Italia. Spinoza tidak puas dengan ajaran-ajaran kuno dalam agamanya dan lambat laun dia memihak cara berpikir modern yang banyak dipengaruhi oleh Descartes.

Ketika dia mendiskusikan masalah-masalah agama secara tebuka, gagasan- gagasannya mengejutkan teman-teman dan para tokoh agama saat itu. Misalnya dia berpendapat bahwa malaikat itu fiksi atau imajinasi belaka, dan Allah bersifat material. Gagasannya ini benar-benar menggoyangkan kemapanan dogma agama, baik dikalangan Yahudi maupun Kristen. Para tokoh Yahudi saat itu menjadi gelisah dengan ajaran-ajaran Spinoza. Dengan berbagai cara, termasuk suap, mereka berusaha memaksanya untuk kembai keortodoksi agama, tetapi gagal.[7]

Spinoza menemukan konsep substansi yang dia definisikan sebagai sesuatu yang ada pada dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Dalam hal substansi, Spinoza tidak setuju dengan Descartes. Spinoza berpendapat bahwa ada satu dan hanya ada satu substansi itu adalah Allah. Itulah sebabnya pendiriaan spinoza disebut panteisme, yaitu pandangan bahwa alam semesta identik dengan Allah, atau Allah disamakan dengan segala sesuatu yang ada, Jadi ia menentang baik Yahudi maupun Kristen.[8]

Buku-buku karya Spinoza banyak yang dilarang sebagai subversif. Namun setelah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, buku-buku itu malah termahsyur di luar negeri. Beberapa karyanya yaitu Renati Descartes Principiorum Philosophilae (Prinsip Filsafat Descartes, 1663), Tractatus de intellectus emendatione (Traktat tentang Perbaikan Pemahaman, 1667), Tractatus Theologico-Politicus (Traktat Politis-teologis, 1670), dan yang paling penting Ethica more geometrico demonstrata (Etika dibuktikan secara geometris, 1677).[9]

b.      Gottfried wilhelm Leibniz

Gottfried Wilhelm Leibniz lahir pada tanggal 1 Juli 1646, di Leipzig, Jerman. Pada usia 20 tahun Leibniz sudah meraih gelar doktor. Leibniz hampir mengetahui segalanya, karena ia mengeluti banyak bidang dan menemukan banyak hal, yaitu dalam bidang matematika, fisika, astronomi, hukum, ekonomi, pertambangan, pengairan, pertanian, dan minatnya yang terdalam adalah filsafat.

Leibniz menjalin kontak dengan beberapa tokoh penting, bahkan ia pernah mengunjungi Spinoza di negeri Belanda. Spinoza menunjukkannya manuskrip dari bukunya, Eticha. Meskipun tak pernah mengakui secara terang-terangan, lantaran tak mau dicap subversif, sesungguhnya leibniz banyak menimba inspirasi dari   pemikiran   Spinoza.   Penuntun   filsafat   Leibniz   ialah   prinsip   akal   yang mencukupi‖, yang secara sederhana dapat dirumuskan, sesuatu harus mempunyai

alasan‖. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya.[10]

Dalam menemukan hubungan antara satu substansi dengan substansi lainnya, Descartes yang seorang dualisme saja, menemui kesulitan dalam menemukan hubungan antara jiwa dan tubuh, bagaimana dengan Leibniz yang seorang pluralis?, terlebih lagi ia menyatakan bahwa diantara monad-monad tidak ada interaksi,  karena  ia  menyatakan  bahwa  monad  itu  tidak  mempunyai  jendela, tempat sesuatu keluar atau masuk‖. Leibniz menjawab bahwa Allah pada saat penciptaan  monad,  mengadakan  pre-established  harmony  yaitu  suatu  harmoni atau keselarasan yang ditetapkan sebelumnya.[11]

 

c.       Blaise Pascal

Blaise Pascal lahir pada tanggal 19 Juli 1623 di Clermont-Ferrand Prancis. Ia dididik ayahnya secara ketat dalam pendidikan, ia meminati fisika dan matematika. Dibanding dengan para rasionalis pada zamannya, Pascal punya kecenderungan yang menyimpang. Pemikiran Blaise Pascal jelas bersifat reaksioner. Pascal yang –seperti Descartes- menyukai ilmu alam dan matematika ini mengkritik Descartes yang mau menerapkan prinsip ilmu pasti dalam berfilsafat atau upaya untuk mengetahui segala sesuatu, termasuk untuk menjelaskan Tuhan. Menurut Pascal, keseluruhan realitas tidak bisa dijelaskan hanya dengan rasio. Jika itu dilakukan, akibatnya adalah terjadinya banyak hal yang bertentangan, misalnya: problem hubungan jiwa dengan badan sebagaimana dialami oleh Descartes.

Menurut Pascal, hati (le coeur) lebih penting dari rasio. Dengan rasio, kita hanya mampu memahami kebenaran-kebenaran matematis dan ilmu alam. Namun dengan hati, kita mampu memahami kebenaran-kebenaran yang melampaui semua kebenaran itu, umpamanya pengetahuan tentang Tuhan. Keyakinan ini diungkapkan Pascal dalam satu kalimatnya yang terkenal: Le ceour a ses raisons que la raison ne connait point artinya Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh akal‖. Orang mengalami hal ini dalam banyak perkara. Kata

Hati di sini tidak boleh dipahami sebagai pusat emosi, melainkan pusat aktivitas jiwa manusia terdalam yanng mampu menangkap sesuatu secara intuitif dan spontan; hati adalah inti eksistensi. Kata Pascal: Kita mengenal kebenaran tidak hanya lewat akal, melainkan juga lewat hati‖. Kesadaran diri yang paling dalam dengan demikian tidak terletak pada rasio, melainkan pada hati yang sanggup menerima kenyataan Ilahi. Dalam konfrontasi dengan Descartes, hal ini bisa kita rumuskan dengan cara lain: bukan cogito ergo sum‖ (―Aku berpikir, maka aku ada), melainkan credo ergo sum (Aku percaya, maka aku ada).[12]

Kalau    kau    percaya    (akan    adanya    Allah),    kalau    kau    menang,    kau memenangkan segalanya, kalau kau kalah (ternyata Allah tak ada), kau tak kehilangan apa pun. Jadi, percayalah jika kau dapat‖. Ini menunjukkan bahwa untuk beragama dibutuhkan Le Coeur, hati; dibutuhkan keyakinan akan eksistensi tuhan.  Dengan  argumen  pertaruhan  (le  pari)  ini  Pascal  ingin  menunjukkan bahwa soal kepercayaan kepada Tuhan merupakan hal yang tidak menyangkut rasio saja melainkan keseluruhan eksistensi manusia (kehendak, emosi, daya pertimbangan, dsb).[13]

 

d.      Nicolas Malerbranche

Nicolas Malerbrance adalah orang Prancis, ia berusaha mendamaikan filsafat baru yang dirintis oleh Descartes dengan tradisi pemikiran Kristiani. Nicolas Malerbranche mengikuti ajaran Descartes bahwa manusia memiliki dua substansi yaitu pemikiran(jiwa) dan keluasan(tubuh). Akan tetapi untuk hubungan antara jiwa dan tubuh ia memiliki pendiriannya sendiri, yaitu jiwa tidak dapat mempengaruhi tubuh, demikian pula sebaliknya.

e.       Chritian Wolff

Wolff menyadur menyadur filsafat Leibniz serta menyusunnya menjadi satu sistem. Disamping itu, dalam penyusunan tersebut ia banyak menggunakan unsur skolastik. Karena Wolff inilah rasionalisme di jerman pada masanya merajalela di semua universitas.[14]

 

C.  Empirisme

Dalam ilmu pengetahuan yang paling berguna, pasti dan benar itu deperoleh orang melalui inderanya. Empirislah yang memegang peranan amat penting bagi pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendapat di atas itu disebut empirisme..

1.      Pengertian Empirisme

Beberapa pemahaman tentang pengertian empirisme cukup beragam, namun intinya adalah pengalaman.

Di antara pemahaman tersebut antara lain:

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman. Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.[15]

 Empirisme adalah faham filsafat yang mengajarkan bahwa benar adalah yang logis dan ada bukti empiris. Menurut Empirisme yang benar adalah anak panah bergerak sebab secara empiris dapat dibutktikan bahwa anak panah itu bergerak. Coba saja perut anda menghadang anak panah itu perut anda akan tembus, benda yang tembus sesuatu haruslah benda yang bergerak.

Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal. [16]Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan.

2.      Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:

a.       Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.

b.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.

c.        Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.

d.       Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).

e.        Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.

f.        Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.[17]

3.      Beberapa Jenis Empirisme

a.      Empirio-Kritisisme

Disebut juga Machisme. Sebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.

b.      Empirisme Logis

Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut:

1)      Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.

2)      Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika

3)      Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.[18]

c.       Empiris Radikal

Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untuk keraguan. Dalam situasi semacam ini, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.[19]

Metode filsafat ini butuh dukungan metode filsafat lainnya supaya ia lebih berkembang secara ilmiah. Karena ada kelemahan-kelemahan yang hanya bisa ditutupi oleh metode filsafat lainnya. Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini dapat digambarkan dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.

4.      Tokoh-Tokoh Empirisme

Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke (1632-1704) Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776).[20]

Pada pembahasan ini akan kita fokuskan pada pemikiran Hume yang dianggap merupakan pemikiran puncak dari aliran empirisme.

a.      Pemikiran David Hume (1711-1776)

Ia menganalisis pengertian substansi, seluruh pengetahuan itu tak lain dari jumlah pengalaman kita. Dalam budi kita tak ada suatu idea yang tidak sesuai dengan impression yang disebabkan “hal” di luar kita. Adapun yang bersentuhan dengan indera kita itu sifat-sifat atau gejala-gejala dari hal tersebut. Yang menyebabkan kita mempunyai pengertian sesuatu yang tetap–substansi–itu tidak lain dari perulangan pengalaman yang demikian acapkalinya. Subtansi itu hanya anggapan, khayal, yang sebenarnya tak ada.

Manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal yaitu kesan-kesan (impressions) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas).

Perbedaan kedua-keduanya terletak pada tingkat kekuatan dan garisnya menuju jiwa dan jalan masuk kesadaran. Persepsi yang termasuk denagn kekuatan besar dan kasar disebut impression (kesan) dan semua sensasim nafsu emosi termasuk kategori ini begitu mereka masuk kedalam jiwa. Idea adalah gambaran kabur (faint image) tentang persepsi yang masuk kedalam pemikiran.

Selanjutnya David Hume menyatakan sebagaimana dinukil Prof.Dr. Ahmad Tafsir sebagai berikut:

“Setelah saya pikirkan secara teliti ternyata persepsi itu dapat dibagi menjadi dua macam yaitu pesepsi yang sederhana (simple) dan persepsi yang ruwet (complex). Seluruh kesan dan idea kita saling berhubunan. Dalam penyelidikan saya ternyata hanya idea yang kompleks yang tidak memiliki kesan (impression) yang berhubungan dengan idea itu. Banyak juga kesan yang kompleks yang tidak direkam dalam idea kita. Saya tidak bisa menggambarkan suatu kota yang belum pernah saya lihat. Akan tetapi saya pernah melihat kota Paris namun saya harus mengatakan saya tidak sanggup membentuk idea tentang kota Paris yang lengkap dengan gedung-gedung, jalan dan lain lengkap dengan ukuran masing-masing. Mengapa? Karena tidak semua kesan (impression) direkam dalam idea.”[21]

Pemikirannya tentang eksistensi Tuhan adalah ketika kita percaya kepada Tuhan sebagai pengatur alam ini kita berhadapan dengan dilema, kita berpikir tentang Tuhan menurut pengalaman masing-masing sedangkan itu hanya setumpuk persepsi dan koleksi emosi saja. Kemudian, bagaimana kita dapat mengatakan Tuhan itu Maha sempurna dan Maha Kuasa, sedangkan di alam terjadi kejahatan dan berbagai bencana. Seharusnya alam ini juga sempurna sesuai denga penciptanya tetapi ternyata tidak. Tuhan juga sumber kejahatan, terbatas dan memiliki sifat mencintai dan membenci. Penelitiannya tentang dunia tidak mampu membuktikan Tuhan kecuali Tuhan itu tidak sempurna.

Lebih lanjut Hume berkomentar, tidak ada bukti yang dapat dipahami untuk membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa Ia menyelenggrakan dunia. Juga tidak ada bukti bahwa jiwa tidak dapat mati. Dalam praktik, orang-orang yang beragama selalu mengikuti kepercayaan yang dianggap pasti sedang akal tidak dapat membuktikannya. Menurutnya banyak sekali keyakinan agama yang merupakan hasil khayalan, tidak berlaku umum dan tidak berguna bagi hidup. Agama berasal dasri penghargaan dan ketakutan manusia terhadap tujuan hidupnya. Itulah yang menyebabkan manusia mengangkat berbagai dewa untuk disembah.

Mukjizat adalah ajaran agama yang juga diserang oleh David Hume. Dia memberikan lima alasan untuk menolak mukjizat, yaitu:

1)      Sepanjang sejarah mukjizat tidak pernah diakui oleh sejumlah ilmuan dan kaum terpelajar.

2)      Sebagian manusia memang memiliki kecenderungan untuk percaya kepada peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Namun keyakinan ini tidak mendukung kebenaran mukjizat.

3)      Kajian peradaban membuktikan bahwa mukjizat hanya cocok terutama bagi masyarakat terbelakang sedangkan bagi masyarakat yang telah maju justru menolaknya. Semakin kita percaya kepada ilmu semakin tidak mampu kita ditipu oleh takhayul (the more we believe in science the less we are likely to be deceived by superstition).

4)      Semua agama wahyu memonopoli kebenaran mukjizat.

5)      Data sejarah yang dapat dipecaya menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia ini jelas, seperti kita bisa mengetahui tanggal terbunuhnya Julius Caesar.

Apa relevansi filsafat yang amat ekstrem dan memang sudah sering dikritik itu? Bahwa kita tidak dapat mempunyai dan memang sudah pasti dan tidak dapat memahami apa-apa. Jadi, sebaiknya kita hidup bagi sesaat saja. Paham seperti Allah, tanggung jawab dan nilai adalah tanpa arti. Empirisme mempersiapkan nihilisme.


 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah problematika dan kehidupannya. Dengan demikian, telah banyak aliran filsafat yang bermunculan yang memiliki kekhasan masing-masing sesuai dengan metode yang dijalankan dalam rangka memperoleh kebenaran.

Di antara filsafat yang bermunculan adalah rasionalisme, empirisme, dan kritisisme. Rasionalisme mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh dnegan cara berpikir dengan kaidah-kaidah logika. Sementara empirisme meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan, baik yang batin, maupun yang inderawi. Sedangkan kritisisme yang digagas oleh Immanuel Kant beranggapan bahwa pengetahuan itu diperoleh dari apa yang disebut akal murni yang diikuti dengan etika dan estetika.

 

B.     Saran

dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar dapat mengambil manfaat tentang berbagai macam aliran filsafat yang muncul dalam sejarahnya, diantaranya aliran filsafat rasionalisme, empirisme, dan kritisisme.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

                                                                    

Adian, Donny Gahral, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume Sampai Thomas Kuhn, Jakarta: Teraju,  2002.

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013

Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum: Dari Metologi Sampe Teofilosofi, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016

Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), Jakarta: Erlangga, 2011.

Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung, Mizan, 1995.

http://ferryroen.wordpress.com/2011/09/23/teori-filsafat-empirisme/ di akses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 13.09 WIB

http://id.wikipedia.org/wiki/Empirisme diakses pada tanggal di akses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 14.09 WIB

http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme/ diakses pada tanggal di akses pada tanggal 15 Mei 2022 pukul 16.09 WIB

http://zian-martadinata.blogspot.com/2010/10/filsafat-rasionalismeempirismekritisme.html di akses pada tanggal 14 Mei 2022 pukul 13.09 WIB

Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika, Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003.

Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika, Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003

Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar paradigm Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Belukan, 2004.

Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd. Bandung: Remaja Rosdakarya.2006.



[1] Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung, Mizan, 1995, h. 116

[2]  Muhammad Iqbal, Ibnu Rusyd., h. 96

[3]  Ibid., h. 97

 

[4] Ibid., h. 99

 

[5]  Ibid.,

 

[6] Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum: Dari Metologi Sampe Teofilosofi, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016), hal. 247

 

[7] 8Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), (Jakarta: Erlangga, 2011), hal. 37-39

[8]Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika, (Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003), hal. 102

[9]Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampa Nietzsche), hal. 40-42

[10] Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 46-50

[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 138-144

 

[12]Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 50-52

[13] Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche), hal. 53-54

[14] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filasafat dan Etika, (Jakarta: Kencana Prenamedia Group, 2003), hal. 102-103

 

[16] http://zian-martadinata.blogspot.com/2010/10/filsafat-rasionalismeempirismekritisme.html diakses pada tanggal 04 Oktober 2011 pukul 13.12 WIB

[17] http://masdiloreng.wordpress.com/2009/03/22/empiriseme/ diakses pada tanggal 04 Oktober 2011, pukul 13.03

[18] http://ferryroen.wordpress.com/2011/09/23/teori-filsafat-empirisme/ di akses pada tanggal 04 Oktober 20011pukul 13.09 WIB

 

[19] Adian, Donny Gahral, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume Sampai Thomas Kuhn, (Jakarta: Teraju,  2002).

[20] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu, hal 52.

 

[21] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm 31.

 

 

 Silahkah di download file higgsdomino  Link download 64 bit https://www.mediafire.com/file/ncws8zo286b86mg/Higgs+Games+Island_64bit_2.49.zi...